IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
saran buat acara gewanshow
Tue Jul 13, 2010 1:10 pm by Anonymous
buat kak Abeth yang handle ni acara please adakan acara satu jam khusus TVXQ~~ Surprised and lo bisa jam siarnya ditambah~~ gomawoooo flower Very Happy

Comments: 1
Social bookmarking
Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY on your social bookmarking website

Share | 
 

 Kumpulan Cerita Wayang

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: Kumpulan Cerita Wayang   Tue Jul 13, 2010 1:00 pm

DRUPADI


SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.
Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”
Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang—dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu….
Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. ”Budak!” seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. ”Hayo, layani aku, budak!” Suara tertawa—kasar dan aneh karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.
Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. ”Apa boleh buat, Bima,” kata kesatria tengah Pandawa ini, ”merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu—perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya.”
”Baiklah, baiklah,” sahut Bima. ”Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku” (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). ”Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku” (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), ”lalu akan kuminum darahnya, kuminum!”
Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek—bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak—tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini.
Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi?
Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.
Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.
”Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?”
Kali ini Resi Bhisma—yang termasyhur arif dan ikhlas itu—menjawab, ”Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri.”
Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.[center]


Terakhir diubah oleh mahaputra99 tanggal Tue Jul 13, 2010 1:09 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: Re: Kumpulan Cerita Wayang   Tue Jul 13, 2010 1:04 pm

Mata Malam


PAGI ini seluruh keluarga Pandawa berduka. Tadi malam salah satu putra terbaik, Gatutkaca anak Bima tewas di medan perang. Tungku pembakaran jasadnya masih mengepulkan asap, membubung tinggi ke angkasa. Baranya bahkan belum padam. Wewangian merebak dan semua menundukkan kepala. Mungkin aku satu-satunya yang tidak menangis karena bagiku tak ada yang perlu ditangisi. Dia mati dengan hebat, bertempur dengan ksatria yang sama sekali bukan tandingannya, Karna Adipati Awangga, sulung Pandawa yang dibuang ibunya dan memilih bergabung dengan Kurawa. Aku tahu semua alasannya, jadi mengapa kini semua berlomba mengucurkan air mata. Satu-satunya yang berhak menangis adalah Pergiwa, istri Gatutkaca. Dia tidak pernah tahu untuk apa suaminya mati. Dan jika ada orang kedua yang pantas meratapi kematiannya, maka itu adalah aku karena aku yang melahirkannya.
Aku tidak akan lupa anakku lahir menderita. Tali pusatnya tidak terpotong oleh senjata apa pun. Semua keris dan panah terhebat Arjuna, bahkan senjata Cakra Kresna seakan-akan tak memiliki tuah apa-apa. Hanya ada satu senjata yang mampu, pusaka Wijayandanu yang dikuasai Karna. Saat itu Kresna, kiblat Pandawa, berkata, sesungguhnya Wijayandanu adalah hak Arjuna. Merebutnya dari tangan Karna bukanlah sebuah kesalahan. Kakak beradik itu segera terlibat pertarungan sengit. Arjuna hanya berhasil merebut sarung pusaka. Peristiwa itu membuatku percaya bahwa ada garis yang telah ditentukan untuk pilihan-pilihan manusia karena sarung pusaka yang sama sekali tidak tajam itu mampu mengakhiri penderitaan anakku, memotong tali pusarnya dan segera lenyap sesudahnya. Aku tak peduli, hanya melihat ia menjadi bocah kecil, lengkap dengan senyum kanak-kanaknya.
Nasib yang membawanya ke jalan yang lain, sama sekali bukan pilihanku tapi apa daya. Ia terpilih menjadi pembela dewa-dewa di kahyangan. Pracona dan Sekipu, raksasa-raksasa buas itu menyerang kahyangan membuat dewa kalang kabut. Anakku terpilih untuk menghadapi mereka. Permainan apa lagi ini?
Sebagai bayi, anakku memang istimewa. Tubuhnya kukuh mewarisi kekuatan bapaknya. Dan kudengar, saat bertarung dengan raksasa-raksasa itu, taring-taring tajam mereka tak berarti bagi tubuh Gatutkaca.
Aku tidak mau melawan bayi. Jadikan tubuhnya sebanding dengan kami.
Raksasa-raksasa itu meminta dan dewa yang menentukan. Sekali lagi anakku tak punya pilihan. Tubuh mungilnya dilemparkan ke lautan api Candradimuka. Sekian puluh pusaka kahyangan menyertainya, melebur dalam tubuh. Beberapa saat kemudian ia muncul dari kobaran api. Sesosok pemuda usia belasan yang kemudian membantai Pracona, raja raksasa penyerang kahyangan.
Arimbi istriku, sayang sekali kau tidak menyaksikan kehebatan anakmu. Sebagai ayah, kebanggaanku tak terkira.
Bima mengantarkan anakku sekembali dari kahyangan dengan bangga. Sesosok bayi dipisahkan dari susuanku dan pulang sebagai seorang remaja yang tak pintar berkata-kata. Kebanggaan apa yang aku miliki? Tak tahukah mereka bahwa aku masih ingin menggendong dan meninabobokan sebelum tidur dengan lagu anak-anak, mengajari berjalan dan menyuapi dengan riang. Kini anakku pulang dengan sorot mata yang asing. Aku tak akan kuat lagi membimbing tangannya dan bahkan tubuhnya pun telah setinggi ayahnya. Kumisnya melintang, dadanya bidang lengkap dengan bulu lebatnya. Namun ayahnya tidak pernah mau tahu kalau matanya tetap mata seorang bocah. Dia bahkan tak mengenaliku sebelum ayahnya mengatakan bahwa aku ibunya. Neraka meledak di kepalaku saat ia bertanya apa itu seorang ibu.
Waktu berjalan cepat dan ia segera menjadi ksatria paling setia di keluarga Pandawa. Semua orang menyayangi, merasa lebih berhak atas hidupnya dan selama itu pula aku hanya bisa menjadi penonton. Anakku menjadi milik semua orang, milik sekian ratus ribu prajurit yang merasa bangga dipimpin olehnya. Ia milik Pandawa yang telah memiliki rencana besar akan masa depannya. Betul. Jika dia ada di Amarta. Namun saat dia pulang dan berkumpul dengan saudara-saudaranya? Antareja dan Antasena dengan keriangan mereka bercanda di halaman, memanjat pohon beringin yang ditanam Trembaka, ayahku, sementara Gatutkaca hanya mengawasi dari kejauhan. Dalam tubuh kekarnya, aku merasakan jiwa kecil yang memberontak karena ia tidak pernah mengalami masa-masa indah sebagaimana saudara-saudaranya. Ia tidak pernah bergulat di kubangan, naik rakit batang pisang di kali kotor, menangkap capung atau sekadar kejar-kejaran. Dalam hidupnya tak ada sejarah layang-layang daun gadung, topeng tempurung atau sekedar perang-perangan. Ia hanya mengenal perang yang sesungguhnya, yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya.
Aku pernah menanyainya suatu kali. Anakku, apakah kau ingin memanjat pohon beringin itu? Yang ditanam oleh kakekmu? Mereka tidak mengajakku. Tapi kau boleh. Tak ada jawaban. Kau ingin menangkap capung?
Terlalu mudah bagiku.
Anakku mungkin memiliki pohon dan capung sendiri. Ya, di balik dada anakku yang bidang terdapat sayap pemberian dewa. Ia tak perlu memanjat untuk berkenalan dengan angkasa. Ia bebas pergi ke mana saja. Seperti burung elang, ia adalah penguasa di udara, tapi ia tetap tidak bisa bermain di sana. Segalanya terlewat begitu saja tanpa pernah tahu siapa yang telah merampasnya. Ia tidak pernah tahu barus bagaimana, di mana dan seperti apa. Tak tersediakah sekejap waktu untuk mengenalkannya pada apa itu senang, apa itu indah, apa itu duka? Biarlah ia tidak bergulat di kubangan. Ia tidak harus bermain layang-layang. Aku hanya ingin anakku menjadi seorang manusia.
Satu-satunya peristiwa yang membuatku bangga adalah saat dia jatuh cinta. Saat itulah aku melihatnya sebagai manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dalam sebuah perjalanan ia berjumpa Pergiwa, putri Arjuna. Hatinya berbunga. Belum lagi mengerti apa yang sesungguhnya sedang ia alami, kekecewaan menderanya dengan kejam saat tahu bahwa gadis itu telah dijodohkan dengan Lesmana anak Duryudana Raja Hastina. Pergiwa telah merampas hatinya dan ia tak tahu harus berbuat apa selain terbang setinggi mungkin, menukik ke bukit cadas dan menghantamkan tubuhnya di bebatuan. Bukan tubuhnya yang hancur melainkan batu-batu yang pecah dan longsor ke bawah, mendebam bergemuruh menggempakan bumi.
Aku berterima kasih pada Kresna yang telah mengajarinya menjadi seorang laki-laki, mencuri pujaan hatinya, menikahi Pergiwa, dan dengan segera memberiku seorang cucu yang mewarisi kegagahannya, Sasikirana. Dua tahun berikutnya adalah masa terindah dalam hidupku. Setelah itu aku tidak boleh berharap terlalu banyak karena ia telah kembali pada kesediakalaannya. Hari-harinya adalah pertempuran, isi kepalanya adalah segala persoalan tentang bagaimana memikirkan taktik perang, memadamkan pemberontakan, memimpin pasukan ke negara seberang untuk memperluas jajahan.
Tubuh dan pikirannya sedang dibangun oleh Kresna -siapa lagi kalau bukan dia- demi menyambut Baratayuda, perang besar di Kurusetra. Kurawa dipenuhi orang-orang kuat berilmu tinggi dan Pandawa harus mempersiapkan segalanya mulai sekarang atau tidak sama sekali. Semua orang, bahkan aku percaya bahwa taktik Kresna adalah yang terbaik.
Hidup anakku diatur oleh Kresna. Bahkan peristiwa Tunggarana, sebuah tanah perbatasan antara Pringgandani dan Trajutrisna yang diperebutkan oleh Boma dan Gatutkaca, menurutku adalah perbuatan Kresna juga. Tanah gersang yang tidak seberapa luas itu mendadak melambung nilainya menjadi sebuah pertaruhan harga diri, sebuah persaingan antara Boma dan Gatutkaca. Keduanya merasa berhak atas Tunggarana dan rupanya kata-kata tak pernah cukup. Tak ada lain, pertarungan menjadi jawaban. Orang-orang beranggapan Boma akan menang karena ia adalah anak Kresna. Tetapi kenyataan berbicara lain. Gatutkaca menang dan Boma tersingkir. Bagiku bukan Gatutkaca yang menyingkirkannya melainkan Kresna sendiri. Kresna hanya ingin tahu sampai di mana kemampuan anakku sehingga harus dicarikan lawan yang seimbang. Boma sangat pantas untuk itu. Mengenai hubungan bapak anak itu, sedikit pun aku tidak percaya bahwa Kresna akan mengakui Boma sebagai darah dagingnya, karena sesungguhnya ia tak lebih dari aib seorang raksasa yang dengan licik telah memperkosa istrinya. Aku semakin yakin akan hal itu karena setelah peristiwa tewasnya Samba anak Kresna yang lain oleh Boma, pada akhirnya tangan Kresna sendiri yang mengakhiri hidup Boma dengan senjata Cakra.
Selanjutnya Pringgandani menjadi ujung tombak Amarta. Semua rakyat kami adalah ksatria-ksatria raksasa yang akan dengan mudah menyerahkan hidupnya untuk kemuliaan pemimpin-pemimpin mereka. Mereka percaya telah ditakdirkan memiliki derajat lebih rendah dibanding manusia sehingga satu-satunya cara untuk menegaskan keberadaan adalah dengan mengabdi pada manusia, pada Pandawa. Dengan begitu, aku sama sekali tak heran jika kami selalu berada di garis terdepan pada setiap pertempuran. Tak terhitung lagi korban, tak terasa lagi pedihnya kehilangan karena semua telah menjadi keseharian. Tak terkecuali perang ini, Baratayuda, perang yang bagiku hanya demi menagih janji beberapa gelintir orang. Nyatanya, Kurusetra menjadi ladang pembantaian dan seperti pemulung beruntung, ajal memungut segalanya.
Tadi malam Kresna menyelinap ke peraduan Gatutkaca. Telingaku terlalu tajam untuk melewatkan percakapan mereka.
Anakku, seberapa besar kau mencintai Pandawa?
Sebesar hormatku padamu.
Jika kuminta nyawamu malam ini?
Kau lebih tahu harga yang pantas untuk itu.
Kemenangan Pandawa.
Tunjukkan jalanku.
Aku segera tahu bahwa pasukan Awangga yang dipimpin Karna menyerang pada malam hari. Meski kami jelah sepakat untuk berperang hanya pada siang hari, mulai matahari timbul dan berhenti pada saat tenggelam, rupanya perang adalah perang yang sejak dulu hanya mementingkan tujuan, menghancurkan musuh dengan cara apa pun. Maka malam itu, Kurusetra segera merona oleh ribuan obor. Keringat dan darah belum lagi kering, tapi seburuk-buruk kenistaan seorang ksatria adalah menolak tantangan. Pasukan Pringgandani segera bersiap, mengasah taring masing-masing, memburu musuh Pandawa.
Mengapa harus anakku? Wijayandanu di tangan Karna adalah senjata pemusnah terhebat. Jangankan manusia, dewa pun tak akan sanggup. Sebuah rahasia yang samar-samar kudengar, senjata itu akan membunuh Arjuna, adik iparku yang paling disayang oleh Kunti ibu mertuaku. Tapi Kresna memiliki rencana lain. Harus ada yang dikorbankan sebelum Karna bertemu dengan Arjuna. Nyatalah bahwa sebenarnya tak ada lagi kesempatan bagi Gatutkaca. Ia hanya sekeping mata uang pembeli kemenangan Pandawa. Karna sama sekali bukan tandingannya. Dan aku tahu, saat bintang-bintang berjatuhan dari langit, Wijayandanu telah menemukan sarungnya, tenggelam di tubuh Gatutkaca. Anakku telah mengepakkan sayap kecilnya, terbang di sela-sela bintang, memungutinya seperti kerang. Tubuhnya digulung mendung, seperti Antareja dan Antasena yang bergelut di kubangan. Ia menukik ke bumi, tapi kali ini tanpa bayangan Pergiwa yang dulu membuatnya bertindak serupa. Tubuhnya membelah malam, menghantam kereta kuda Karna. Aku melihat senyum terakhirnya.
Pagi ini aku menyelinap ke benteng Kurawa untuk menemui Karna. Kuceritakan padanya tentang Gatutkaca, anakku yang malang. Mengapa seorang Karna begitu lantang tertawa setelah menghabisi nyawa seorang bocah yang sama sekali bukan tandingannya. Ia tersenyum.
Kami hanya sedang bermain.
Kutatap matanya lekat. Aku tahu bahwa aku telah memaafkannya. Aku segera memeluknya karena mata itu, ternyata adalah mata Gatutkaca juga. Mata bayi yang hanyut di sungai air mata ibunya. Kunti, mertuaku.


Terakhir diubah oleh mahaputra99 tanggal Tue Jul 13, 2010 1:11 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: Re: Kumpulan Cerita Wayang   Tue Jul 13, 2010 1:05 pm

Luka Hati Seorang Dorna Terbalaskan


Tubuhnya yang cacat berawal ketika mengunjungi bekas sahabat karibnya Sucitra yang ketika itu telah menjadi raja negara Pancala bernama Drupada. Dahulu ketika keduanya masih menjadi siswa Resi Baratwadya mereka sangat bersahabat, berperibahasa makan sepiring bersama minum semangkuk bersama. Bahkan ketika Sucitra kempali ke negeranya berjanji akan memberikan sebagian tanah negara kepada Dorna. Karena itu harapannya bila nanti bertemu dengan Sucitra, ia pasti akan disambut dengan penuh keramah tamahan sehingga akan merupakan pertemuan nostalgia yang sangat indah mengenang masa lalu.

Tetapi apa yang terjadi, lain harapan yang diangankan lain pula yang dialami. Begitu ia masuk keraton menyapa sahabatnya dengan kata-kata penuh kerinduan, lain pula budi perangai Drupada yang diperlihatkan dingin, muram dan berucap ketus: “Hei, siapa engkau … beraninya mengaku kau sahabat karibku. Sejak kapan aku bersahabat dengan kau. Tidak mungkin seorang raja agung seperti aku bersahabat dengan seorang pengemis seperti engkau. Cisss, dasar gelandangan tak tahu diri,” ujarnya sambil memblengoskan muka.

Dorna terperangah tak menyangka akan disambut dengan sikap dan kata-kata yang menyakitkan. Tapi ia masih mencoba mengingatkan, hanya kata-katanya berbeda dengan yang tadi: “Oh, maaf beribu maaf tuan. Hamba memang orang dari dusun tak tahu sopan santun. Sikap hamba tadi karena hamba mengira tuan masih seperti tuan yang dahulu ketika kita sama-sama menuntut ilmu dan, …” “Cukup,” bentak Drupada memutus pembicaraan Dorna. “Itu pengakuan yang tidak akan pernah terjadi dan hanya dibuat-buat agar aku mau mengakui bahwa kaubenar sahabatku. Aku memang pernah berguru ilmu, tetapi tidak pernah seperguruan dengan orang serendahmu,” kilahnya.

Seterusnya Drupada menuduh Dorna sengaja hendak mempermalukan dirinya di hadapan para mantri Bopati yang hadir saat itu. Sementara patih Gandamanah, body guard sang raja yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku Dorna, telah melanggar kesopanan menjadi naik pitam. Tak ayal lagi diseretnya pendeta muda itu keluar Keraton dan dihajar habis-habisan hingga tak sadarkan diri, lalu dibuang ke tengah hutan belantara.

Akibat penganiayaan berat tubuhnya menjadi cacat, hidungnya benkung, mata picak sebelah, tangan sengkong bekas diplintir hingga patah tulangnya. Dalam keadaan tubuh rusak ia memaksakan diri berjalan sambil merasakan sakitnya lahir dan batin.

Akhirnya tibalah ia di sebuah negara yang tidak lain adalah negara Astinapura. Nasib baik telah menanti berkat ilmunya tinggi. Ia diangkat oleh Arya Bisma menjadi guru besar jurusan ilmu perang menggunakan senjata dan strategi perang. Sedang mahasiswanya terdiri dari keluarga kerajaan yaitu Kurawa dan Pandawa.

Bertahun-tahun sudah dia membina kedua golongan keturunan Barata dan melahirkan manusia-manusia berjiwa ksatria. Sekalipun demikian luka hatinya oleh Drupada menjadi obsesi yang tak terlupakan. Peribahasa luka di badan masih dapat disembuhkan, luka di hati sulit dihilangkan. Ia ingin membalas tetapi tanpa harus melukai fisik orang itu. Ia hanya ingin mempermalukan sahabatnya itu, seperti pernah ia ipermalukan di hadapan para Mentri Bopati Pancala. Karena itu ia ingin menangkap Drupada tapi tidak oleh tangannya sendiri, melainkan oleh murid-muridnya. Untuk itu ia harus meningkatkan ilmu perang murid-muridnya untuk menghadapi balatentara Pancala.

Demikianlah suatu hari ia memanggil murid-muridnya untuk dicoba keterampilan menggunakan senjata panah. Sasarannya seekor burung yang hinggap di dahan pohon. Caranya iatur secara adil dimulai dari Yudhistira. Sebelum diperkenankan melepas senjata sang guru bertanya dahulu: “Kau harus awas terhadap burung itu, coba lihat, selain burung apa kau lihat menurut ciptaanmu?” Yudhistira: “Selain burung saya lihat batang pohon, wujud bapak guru dan keempat saudara saya.” Sang resi mengulangi pertanyaan yang sama dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Resi jengkel mendengar jawaban yang itu-itu juga, lalu katanya: “Sudah, jemparing tak usah dilepas, tak bakal kena, ayo minggir.” tukasnya ketus. Giliran Duryudana, sang guru bertanya dengan pertanyaan yang sama yang dijawa oleh Duryudana: “Selain burung saya lihat daun bergumpluk banyak sekali, kemudian dahan dan ranting, kemudian euu, kemudiannn euuu…..” “Sudah, sudah, sama bodohnya, ayo minggir.” katanya jengkel. Demikian para Kurawa dan Pandawa telah mendapat giliran, tetapi semua jawaban tidak satu pun yang memuaskan sang guru.

Terakhir giliran Arjuna lalu ditanya: “Apa yang kau lihat disana” “Burung,” jawab Arjuna. “Selain burung apalagi yang kau lihat?” “Saya tidak melihat apa-apa selain badan burung,” jawabnya. Mendadak wajah sang resi berseri, tapi ia bertanya lagi: “Coba lihat apa warna bulunya dan sebutkan satu persatu warnanya.” Tetapi Arjuna hanya menjawab: “Yang kelihatan hanya kepalanya.” Seketika sang guru memerintahkan: “Lepaskan anak panah itu.” Dan melesatlah anak panah suaranya bersuling tepat mengenai sasarannya hingga burung itu jatuh ke bumi, disambut tampik sorak para siswa tanda gembira atas keberhasilan Arjuna.

Demikianlah di hadapan murid-muridnya ia mengharap rasa solider mau menangkap Drupada tanpa dilukai. Duryudana ketua kelompok Kurawa unjuk muda ingin mendapat nama sebagai murid yang paling menyayangi guru lalu berkata: “Bapak guru, luka hatimu adalah luka hati di hatiku. Karena itu akulah yang akan menyeret si Drupada itu ke hadapanmu,” katanya pongah. Maka tanpa minta restu dahulu, berangkatlah ia dengan kelompokKurawa menuju negara Pancala. Tetapi apa hasilnya, mereka hanya pulang dengan tangan hampa bahkan babak belur dihajar tentara Pancala dan langsung pulang keasramanya karena malu unjuk muka. Giliran Pandawa mohon restu menangkap Drupada. Dorna berpesan: “Anakku Pandawa, meski hatiku sakit tangkaplah ia tanpa kau lukai. Balaslah kejahatan dengan keadilan dan balaslah kebaikan dengan kebajikan, camkan itu.” pesannya.

Berangkatlah para Pandawa menuju Pancala. Selang berapa lama Arjuna berhasil menangkap Drupada dalam keadaan utuh dan membawanya ke hadapan Dorna. Drupada duduk termenung menanggung malu tak berani bertatap mata dengan Dorna. Ia telah merasa sakit sebelum dianiaya. Terbayang kembali dalam ingatannya ketika Dorna datang menemui tapi tak diakui, bahkan dihina dan ia menjadi tawanan untuk menerima peembalasan bahkan mungkin nyawa melayang. Ia terkejut Dorna menyapa: “Selamat datang paduka raja agung negara Pancala. Hamba mohon maaf belum bisa menerima paduka dengan selayaknya. Maklumlah hamba hanya seorang pengemis hina tak berharga.” ujarnya menirukan kata-kata penghinaan Drupada kepadanya dulu. “Oh, kakang Dorna, aku terima salah telah membuat kakang sakit lahir dan batin. Tetapi juga waktu itu kakang tidak menghargai aku sebagai raja. kakang masih menyamakan aku sebagai orang biasa berteriak-teriak memanggil namaku dibawah sorotan puluhan mata para sentana praja dan mentri bopati, sehingga aku merasa dipermalukan,”

Drupada coba memberi alasan. Dorna tertunduk mendengar alasan yang benar dan tak menyalahi. Tapi kemudian ia menjawab: “Hamba merasa bersalah tak tahu sopan santun sehingga mempermalukan paduka di hadapan para mentri bopati walau di saat itu juga hamba sudah memohon maaf itu tidak berarti sedikit pun bagi paduka. Malah lebih dari itu paduka tega membiarkan hamba diseret dan dianiaya oleh pengawal paduka. Padahal kita pernah bersahabat bagai kakak adik,” ujarnya dengan nada sendu. “Yah, aku memang bersalah, kini terserah mati hidupku ada ditangan kakang,” katanya pasrah. “Jangan samakan diri paduka dengan hamba. Mana mungkin orang kecil seperti hamba berani berbuat keji, walaupun paduka telah mengiris-iris hati hamba dengan pisau kebencian hingga terasa pedih tak terperikan, tetapi rasa kemanusian hamba tak mengizinkan membalas dengan cara seperti pernah paduka laukan terhadap diri hamba.

Sebab bagaimanapun paduka adalah bekas sahabat karib hamba ketika sama-sama menjadi siswa resi Baratwaja. itu pun kalau paduka masih mengakui kita bekas teman akrab,” ujarnya. “Lalu apa maksud kakang sekarang aku telah menjadi tawananmu,” tanyanya. “Hamba akan menagih janji yang pernah paduka ikrarkan ketika di perguruan, bahwa paduka akan menganugerahkan separuh tanah dari kerajaan Pancalareja kepada hamba. Itulah yang harus paduka tetapi sekarang juga,” tukasnya dengan nada serius. Seketika terdengar suara orang banyak mengatakan rasa puas dengan keputusan Dorna. Sementara lainnya mengatakan, bahwa Drupada beruntung tidak dianiaya seperti dahuli dialami Dorna.

Mendengar umpatan itu Drupada yang rasa ke-aku-akuannya sangat tinggi merasa sangat malu. Dalam hatinya ia berkata, ternyata Dorna lebih kejam dari dugaan semula. Biar tak disakiti tapi dipermalukan di hadapan orang banyak hancurlah keagungannya. Belum lagi ia harus menyerahkan sebagian tanah kerajaan yang kesemuanya tak dapat dinilai dengan harta benda. Dalam hatinya ia berjanji akan membalas sakit hatinya kepada Dorna. Begitulah nafsu itu bagaikan hawa tiada tepinya, maka saling mendendam pun tiada habisnya.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: Re: Kumpulan Cerita Wayang   Tue Jul 13, 2010 1:05 pm

Darah yang Bercahaya



Kematian Dursasana yang mengenaskan segera tersebar ke segala penjuru pertempuran. Dengan rasa ngeri diceritakan bagaimana Bima tidak lagi bertindak seperti manusia. Ia menghancurkan wajah Dursasana yang buruk rupa, menggocohnya sampai menjadi bubur, menyobek perutnya dengan pisau, mengeluarkan ususnya, dan menghirup darah sebanyak-banyaknya. Demikianlah diceritakan dalam Kakawin Bharata-Yuddha:


Pada waktu itu berbicaralah Bhima dengan suara yang lantang dan tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya.

”Wahai kelompok pahlawan semuanya dan khususnya dewa-dewa yang menjelma di dunia ini! Lihatlah Bhima ini yang sedang akan memenuhi janjinya di tengah medan pertempuran. Darah Dussasana inilah yang akan saya minum. Lihatlah!

”Dan untuk dewi Draupadi inilah hari yang terakhir untuk mengurai rambutnya. Terima ini dengan ikhlas hati, wahai Dussasana dan rasakan pahalamu untuk membuat kejahatan yang terus menerus. Bah, bahwa kau ini tetap meronta-ronta dan tidak tinggal diam, wahai kamu anjing yang tidak sopan, pada waktu ini kamu akan dibunuh. Apa yang kau pikir dalam hatimu? Akan kau lanjutkan perbuatanmu yang jahat itu? Buktinya, kamu berusaha untuk bangkit lagi!”

Demikianlah ucapan Bhima yang pendek tegas. Setelah Bhima meringkus Dussasana dengan tangannya dan dapat memegang perutnya, perut inilah yang disudet. Pada ketika itu Dussasana telah tidak sadarkan akan dirinya lagi; kemudian dada yang telah disudet itu dibuka lebih lebar lagi. Kelihatannya seolah-olah Dussasana yang tetap hatinya dan gagah berani itu tetap dengan dendamnya mencoba untuk menerjang dan menggigit. Ketika Bhima minum darahnya itu, Dussasana secara mata gelap memukul-mukul ke kiri dan ke kanan, meronta-ronta dan mencoba memegang Bhima, padahal badannya telah berkejatan.

Sangat mengerikan kelihatannya, ketika Bhima minum darah dan dengan ketetapan hati menarik usus Dussasana dari perutnya. Kelihatannya seolah-olah ia akan menunjukkan bagaimana ia pada suatu ketika dapat memuaskan apa yang dikehendakinya. Rambutnya dapat disamakan dengan mega merah, matanya dapat disamakan dengan matahari yang dengan sinarnya yang berkilauan, sedangkan suara yang keluar dari tenggorokan dapat disamakan dengan petir dan suara yang keluar dari mulutnya sebagai tanda kepuasan dapat disamakan dengan halilintar.

Mukanya yang penuh dengan darah itu dapat disamakan dengan mega merah yang kena sinar matahari. Bhima yang berjalan dengan angkuhnya itu dapat diumpamakan sebagai gunung yang menjolak ke atas. Dengan segera ia melempar-lemparkan mayat Dussasana ke atas, disertai oleh kata-kata seperti guruh yang berkumpul. ”Inilah pembantumu, bah!” Demikianlah ucapan Bhima dan dilemparkannya mayat Dussasana itu ke arah Suyodhana. 1)

Drupadi mendengar semuanya. Ia berada dalam tenda di belakang garis pertempuran di Kurusetra. Seorang penjaga dipanggilnya.

”Bawalah bokor ini kepada Bima,” katanya.

Bima yang wajahnya penuh darah mengerti makna bokor itu. Drupadi ingin menyanggul rambutnya sekarang juga. Maka dicarinya mayat Dursasana yang telah dilemparnya. Para prajurit menyingkir ngeri melihat cara Bima memeras darah dari mayat Dursasana. Perang memang hanya kekejaman. Benar dan salah hanya kekerasan. Apakah tidak ada cara lain untuk menjadi ksatria?

”Inilah air kutukan itu, Dewi.”

Bokor itu berisi darah, namun Drupadi melihatnya sebagai tirta amerta yang bercahaya. Ia tidak berpikir tentang dendamnya terhadap Dursasana, ia ingin melengkapkan putaran roda kehidupan. Di dalam tenda diangkatnya bokor emas itu ke atas kepalanya.

Pada senja di hari kematian Dursasana itu, orang-orang melihat cahaya berkilat menyemburat ke langit dari tenda Drupadi. Cahaya terang yang memancar-mancar. Para pengawal berlarian menuju tenda itu. Namun mereka berpapasan dengan dayang-dayang yang berwajah pucat.

”Dewi Drupadi…”

”Kenapa Dewi Drupadi?”

”Mandi darah.”

Pengawal pertama yang menyibak tenda terkejut. Drupadi bersamadi dengan seluruh tubuh bersimbah darah. Cahaya memancar dari tubuhnya, semburat ke angkasa.

lunas sudah piutangmu Dursasana
tak terlunaskan piutang pada kesucian
semua kejahatan ada bayarannya
meski kebaikan tidak minta balasan
Pada malam hari Drupadi berkumpul dengan suami dan saudaranya. Hari itu Karna juga telah gugur.

”Apa hasil perang ini,” kata Drupadi, ”putra-putra Pandawa yang perkasa seperti Irawan, Abimanyu, dan Gatotkaca telah gugur. Kita akan menang, tapi apa arti kemenangan ini selain pelampiasan dendam yang tidak terpuaskan. Orang-orang yang kita hormati telah tiada. Kemenangan ini akan kita persembahkan kepada siapa?”

Kresna bicara.

”Bharatayudha adalah suatu penebusan, Drupadi. Resi Bhisma menebus kelalaiannya kepada Dewi Amba. Mahaguru Dorna menebus rasismenya kepada Ekalaya dari Nisada. Esok pagi Salya akan menebus kebenciannya terhadap Bagaspati, mertuanya sendiri. Kita hidup dalam lingkaran karma. Kodrat tak terhindarkan, tapi tidak untuk disesali. Bahkan Salya pun tidak punya niat jahat, karena ia dulu adalah Sumantri yang mengingkari Sukasrana. Bagaimanakah caranya kita menghindari diri kita Drupadi? Tidak bisa. Bharatayudha hanyalah jalan bagi setiap orang untuk memenuhi karmanya, melengkapkan perannya, untuk membersihkan dunia. Kelak anak Utari yang bernama Parikesit akan menjadi raja, saat itu dunia bersih bagai tanpa noda, tapi tetap saja ada yang bernama malapetaka. Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu. Perang ini penuh perlambangan. Siapakah yang lebih jahat Drupadi, Dursasana yang menelanjangimu atau Bima yang menghirup darah Dursasana? Perang ini adalah sebuah pertanyaan. Apakah jalan kekerasan para ksatria bisa dibenarkan?”

Drupadi menjawab.

”Aku Drupadi, seorang perempuan, terus terang menghendaki darah Dursasana, untuk memberi pelajaran kepada penghinaan.”

”Jawabannya bisa lebih panjang Drupadi. Engkau seorang perempuan telah memberi pelajaran tentang bagaimana perempuan menghidupkan diri dengan dendam. Sama seperti dendam Amba kepada Bhisma, sama seperti dendam Gandari kepada penglihatan karena mendapat suami dalam kebutaan. Perang ini memberi peringatan, wahai Drupadi, betapa dendam bisa begitu mengerikan. Para Pandawa adalah ahli bertapa, namun di seluruh anak benua tiada pembunuh yang lebih besar daripada mereka.”

”Kresna yang bijak, ingatlah bahwa para Pandawa selalu membela kebenaran.”

”Tidak ada yang keliru, duhai Drupadi yang cerdas, bahkan mereka akan selalu dilindungi para dewa. Tapi renungkanlah kembali makna kekerasan.”

”Dunia ini penuh kekerasan, Kresna. Terutama aku, perempuan, yang selalu jadi korban.

”Maka memang menjadi pilihan, Drupadi, kita akan menghindari atau menggunakan kekerasan.”

Drupadi berdiri.

”Kresna, engkau sungguh pandai bicara. Tapi engkau belum pernah menjadi korban. Itulah masalahmu Kresna, engkau mengerti segalanya, namun engkau tidak pernah merasakannya. Aku adalah korban, dan aku menggunakan hak diriku sebagai korban untuk menjawab nasibku dengan kemarahan. Engkau mengatur segala-galanya. Kau korbankan Gatotkaca, agar Karna melepaskan Konta, sehingga Arjuna bisa menandinginya. Apakah engkau tidak pernah mendendam Kresna, engkau memutar leher Sishupala hanya karena kata-kata, engkau membunuh Salwa orang bodoh yang mengacau Dwaraka. Itukah pelajaranmu untuk dunia? Aku sudah menjadi korban, dan dari seseorang yang sudah menjadi korban, engkau memintanya berjiwa besar. Apakah itu tidak terlalu berlebihan? Biarlah Resi Bhisma atau Karna atau Yudhistira berjiwa besar, tapi aku Drupadi, seorang perempuan, menggunakan hak diriku sebagai korban untuk melakukan pembalasan.”

”Itu hanya membuktikan, wahai Drupadi, bukan hanya kejantanan menjadi korban kekerasan.”

”Kresna, Kresna, bagimu pelaku kekerasan adalah korban. Lantas harus diberi nama apa korban kekerasan itu sendiri?”

Yudhistira berdiri.

”Kresna kakakku, Drupadi istriku. Janganlah diteruskan lagi. Masih banyak yang harus kita atasi.”

Drupadi menarik nafas. Wajahnya terang dan bercahaya, dalam tatapan kagum suaminya.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: Re: Kumpulan Cerita Wayang   Tue Jul 13, 2010 1:06 pm

PUNTADEWA
Manusia tidak bermusuh



Puntadewa adalah anak sulung Prabu Pandu Dewanata, seorang Raja Astinapura. yang lahir dari Dewi Kunthi Talibrata. Dari ibu yang sama ia mempunyai dua adik laki-laki, yaitu Bimasena dan Harjuna. Sedangkan dari Dewi Madrim ibu yang lain, Puntadewa mempunyai saudara laki-laki kembar, bernama Pinten dan Tansen. Kelima anak laki-laki Pandu Dewanata lebih dikenal dengan sebutan Pandhawa Lima. Selain berayah Pandudewanata, Puntadewa dikenal juga sebagai anak Dewa pendarma, yang bernama Bathara Dharma.

Pada umumnya Puntadewa dianggap tokoh baik, berwatak putih suci, berbudi halus, sabar, berbelas kasih, setia, tidak mau mengecewakan orang lain, dan tulus ikhlas memberikan kepunyaannya kepada orang lain yang membutuhkan. Bahkan istrinya sekali pun jika diminta, akan diberikan. Karena perilaku yang teramat baik itulah, Puntadewa disebut sebagai manusia sempurna berdarah putih, atau manusia Ajatasatru, artinya manusia yang tidak mempunyai musuh.

Sebagai anak sulung, Puntadewa dipersiapkan menjadi raja. Namun sayang, Pandu Dewanata wafat ketika ke lima anak-anaknya masih kecil, sehingga untuk sementara negara Astinapura di titipkan kepada kakak Pandu yang bernama Destarasta, dengan janji bahwa nanti setelah Pandawa dewasa Kerajaan Astinapura akan diserahkan kepada Puntadewa. Namun janji tersebut tidak pernah ditepati. Buktinya, setelah Puntadewa dan ke empat adiknya dewasa, para kurawa yang didalangi Patih Sengkuni mencoba membunuh mereka dengan cara menjebaknya dalam sebuah rumah dan membakarnya hidup-hidup. Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan "Bale Sigala-gala." Setelah tragedi berlalu, diantara puing-puing reruntuhan, didapatkan enam jenasah yang hangus terbakar, dan itu diyakini bahwa mereka adalah Kunthi Puntadewa dan ke empat adiknya. Dengan demikian tahta Hastina sudah aman dari pewarisnya. Maka segeralah Duryudana, anak sulung Prabu Destarastra naik tahta menjadi Raja Hastinapura.

Beberapa tahun kemudian, ada berita bahwa Puntadewa, Kunthi dan keempat adiknya masih hidup dan bahkan saat ini mereka sedang merayakan perkawinan Puntadewa dengan Dewi Drupadi di Negara Pancala. Agar Para Pandawa tidak merebut tahta Hastina, Destarastra menyarankan kepada Duryudana untuk memanggil mereka dan memberikan tanah kepada Puntadewa sebagai pengganti bumi Hastina. Tanah tersebut berupa hutan yang bernama Wanamarta. Walaupun merasa diperlakukan tidak adil, dengan ikhlas Puntadewa dan keempat adiknya melakukan pekerjaan besar, yaitu Babad Alas Wanamarta.

Dikisahkan bahwa Alas Wanamarta sesungguhnya merupakan sebuah Kraton "lelembut"yang sangat indah bernama Indraprasta, Prabu Yudistira, adalah nama rajanya. Ia mempunyai empat adik laki-laki bernama Dandunwacana, Dananjaya dan saudara kembar Nakula, Sadewa. Di dalam Wayang Kulit Purwa, Prabu Yudistira dan ke empat adik laki-lakinya bentuknya sulit dibedakan dengan Pandawa Lima. Prabu Yudistira seperti Puntadewa, Dandunwacana hampir sama dengan Bimasena, Dananjaya mirip Harjuna, sedangkan Nakula Sadewa tidak jauh berbeda dengan Pinten dan Tansen.

Ketika Puntadewa, adik-adiknya dan didukung para kawula berkumpul di hutan untuk memulai membabat hutan Wanamarta, Prabu Yudistira dan adik-adiknya merasa terusik, mereka marah dan ingin menggagalkan babad Alas Wanamarta. Namun niat itu diketahui oleh Harjuna, karena ia mempunyai pusaka 'Lenga Jayeng Katon' yang jika dioleskan di mata dapat melihat para makhluk halus. Maka terjadilah peperangan antara Pandawa dan para penguasa Kerajaan Indraprasta.

Pada akhirnya, Prabu Yudistira dapat ditundukan. Kerajaan Indraprasta diserahkan kepada Puntadewa. Jiwa Prabu Yudistira masuk ke dalam jiwa Puntadewa, diikuti oleh jiwa Dandunwacana bersatu dengan Bimasena, Dananjaya bersatu dengan Harjuna, si kembar Nakula dan Sadewa menyatu dengan si kembar Pinten dan Tansen.

Setelah peristiwa itu, keajaiban terjadi. Alas lebat Wanamarta berubah menjadi keraton megah dan indah, dengan nama Indraprasta. Puntadewa diangkat menjadi Raja dengan gelar Prabu Yudistira. Demikian juga Bimasena disebut juga Dandunwacana, Harjuna disebut Dananjaya, dan Pinten, Tansen disebut juga Nakula, Sadewa.

Sebagai ucapan syukur atas keberhasilan mendirikan Keraton Indraprasta yang besar dan sangat indah, jauh melebihi Negara Astinapura, Prabu Yudistira mengadakan upacara sesaji yang dinamakan Sesaji Raja Suya. Pada upacara tersebut, Prabu Yudistira mengundang Raja-raja dari seribu negara, termasuk Raja Astina Prabu Duryudana. Pada Upacara Sesaji Raja Suya, nampaklah kebesaran Prabu Yudistira yang dielu-elukan raja dari seribu negara dan juga kemegahan dan keindahan negara Indraprasta. Tentu saja Prabu Duryudana menjadi iri. Di dalangi oleh Patih Sengkuni, Prabu Duryudana ingin merebut Negara Indraprasta. Maka disusunlah siasat licik. Prabu Duryudana mengundang Puntadewa untuk bermain dadu dalam sebuah acara pesta. Pada puncak permainan dadu, Puntadewa mempertaruhkan negara Indraprasta beserta isinya, dan kalah. Akibatnya Puntadewa dan adik-adiknya, juga kawula Indraprasta terusir dari keraton. Mereka dibuang ke hutan dan hidup sengsara selama 13 tahun.
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Kumpulan Cerita Wayang   Today at 6:35 pm

Kembali Ke Atas Go down
 
Kumpulan Cerita Wayang
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Anzo-sama GFX Shop!
» The Running Man (1987)
» Naruto Episodes 405-408

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY :: KHARISMANIA LIBRARY :: “ Romance “ House-
Navigasi: