IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
saran buat acara gewanshow
Tue Jul 13, 2010 1:10 pm by Anonymous
buat kak Abeth yang handle ni acara please adakan acara satu jam khusus TVXQ~~ Surprised and lo bisa jam siarnya ditambah~~ gomawoooo flower Very Happy

Comments: 1
Social bookmarking
Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY on your social bookmarking website

Share | 
 

 SENOPATI PAMUNGKAS I

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3  Next
PengirimMessage
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 1:36 pm

Upasara menyerbu ke arah Ugrawe, menyangga tubuh Ugrawe.
"Aku bukan pahlawan. Aku sekadar bergerak saja. Siapa pun bisa menjadi
lawanku." Suaranya melemah. "Aku tahu kunci ilmu silat di dunia ini. Kuncinya ada
pada Tumbal Bantala. Aku terlambat menyadari... Kamulah yang tahu kunci itu...."
Ugrawe masih berusaha bertahan, akan tetapi satu muntahan lagi tak bisa
menahan keinginannya. Badannya masih hangat, akan tetapi nyawanya telah
melayang!
Upasara menggeram.
Jaghana telah dikalahkan. Bahkan kini Gendhuk Tri sedang berusaha menahan
serbuan Naga Wolak-Walik. Ngabehi Pandu masih terus berkutat dengan Kiai Sangga
Langit.
Upasara melihat ke bawah. Seluruh pertempuran terhenti. Mereka
menyaksikan para pendekar di atas benteng yang bertarung mati-matian. Naga Murka
sudah berdiri kembali.
Upasara melirik ke arah Gayatri, tersenyum, dan sambil menghela napas
panjang menahan gejolak dalam hatinya. Apa yang bisa dilakukan? Ilmunya kalah
jauh oleh Naga Murka. Maksud untuk menolong sia-sia. Malah melibatkan beberapa
pendekar dan jatuh pula sebagai korban.
Bersiap pun terlambat.
Karena Naga Murka menyerbu ke arahnya.
Dalam sepersekian detik, dalam sepersekian kejap, Upasara jadi ingat Ngabehi
Pandu yang mendidiknya sejak lahir, persahabatannya dengan Kawung Sen, dengan
Galih Kaliki, rasa tertariknya pada Nyai Demang, lalu begitu merindukan Gayatri, Pak
Toikromo yang ingin mengambilnya menantu, Gendhuk Tri yang begitu
memperhatikan dirinya, bisikan Eyang Sepuh yang tak mau turun ke gelanggang.
Sementara itu pukulan Naga Murka sudah mendekat. Kesiuran angin sangat
tajam membabat tubuhnya. Seperti mengiris lehernya, mematikan urat-urat
tubuhnya.
Melihat untuk yang terakhir kalinya pun tak sempat!
Kosong. Sepersekian kejap yang tersisa adalah kekosongan. Hawa panas makin
menekan, mendesak ke dalam tubuh, membuatnya beku, susah bernapas.
Dewa Yang Mahakuasa, saya kembali padaMu.
Teriakan batin Upasara bagai jeritan kesakitan tapi juga sekaligus rasa syukur,
penyerahan total.
Di bawah, Raden Wijaya dan seluruh pengikutnya mengikuti jalannya
pertempuran dengan rasa was was. Kalau Ngabehi Pandu masih belum diketahui
hasilnya, Jaghana jelas sudah dikalahkan. Gendhuk Tri mengambil alih. Walau
kelihatan unggul, Ranggalawe belum diketahui, juga belum bisa memastikan
kemenangan. Sementara, kini justru serangan maut Naga Murka sedang mengincar
Upasara yang seperti tak bereaksi.
"Kakang..."
Yang terdengar keras adalah teriakan pahit Gendhuk Tri. Suaranya menyayat.
Gayatri juga mengucapkan kata itu, akan tetapi lebih lirih.
Upasara tak mendengar apa-apa. Hanya merasa getaran aneh yang
membuatnya setengah sadar dan tidak. Ketika pukulan Naga Murka meremas ulu hati,
Upasara justru tidak menghindar. Tubuhnya seperti melorot turun, seakan bagian
pinggang ke bawah tak ada tulang penyangga.
Naga Murka kecele. Pukulannya seperti mengenai karung kosong, seperti
mengenai gua melompong. Tak bisa ditarik mundur, tubuh Naga Murka tersedot ke
depan. Upasara menghindar. Kedua tangannya yang bebas bisa mengetok batok
kepala atau leher bagian belakang. Namun, sekali lagi, justru Upasara seperti tak
berusaha menghajar. Malah kakinya surut ke arah samping. Naga Murka mencelos
beberapa saat. Tapi ia adalah jagoan. Punya pengalaman segudang. Jenderal perang
yang paling tangguh. Melihat bahwa lawan tak melanjutkan serangan, Naga Murka
memutar tubuhnya, membalik. dan tendangan kaki kirinya mengarah lambung.
Saking cepatnya gerakan seketika ini tak sempat terdengar jeritan dari siapa
pun.
Keras lontaran hawa, mendekap panas. Upasara terkurung dalam tonjokan
udara membara. Dengan wajah tetap kosong dan tatapan seperti tertuju ke titik yang
maha jauh, Upasara tak menggeser tubuhnya. Hanya sikutnya tertekuk, tertarik ke
bawah. Siku jelas tak akan unggul kena benturan kaki, yang ditendangkan sekuat
tenaga.
"Celaka..."
Naga Murka merasa pahanya menjadi ngilu, kaku, tak bisa digerakkan. Kalau
tadi tendangannya seperti yang pertama, mengenai ruang kosong, kini sentuhan siku
Upasara tepat mengenai urat pahanya. Kaku seketika. Tenaganya tersumbat. Tak bisa
digerakkan. Padahal saat itu Upasara terus bergerak, kedua tangannya terjulur. Naga
Murka menyampingkan wajahnya. Dan terasa amis di bibirnya.
Separuh alisnya somplak, darah mengucur. Juga dari bagian hidung.
Naga Murka menjadi panas-dingin. Sungguh tak terduga. Upasara yang tadinya
memperlihatkan kekuatan utama dengan memainkan sepasang keris, kini mempunyai
gerak yang mengandalkan tenaga dalam yang nyaris sempurna.
Upasara melangkah menjauh, tubuhnya masih menggeliat seperti seorang
penari. Dalam keadaan semacam itu, satu gerakan saja sudah cukup untuk menghabisi
Naga Murka.
Akan tetapi Upasara Wulung berdiri kaku seperti menunggu. Mengetahui
bahaya mengancam, Naga Kembar dan Naga Wolak-Walik berusaha membebaskan
diri dari tekanan. Mereka berdua secara serentak melemparkan dua senjata andalan,
memotong dari sisi kanan dan kiri.
Kembali terjadi pemandangan yang aneh.
Bagian pinggang ke bawah seperti tak bertenaga. Tubuh Upasara memendek,
sangat pendek sekali. Dua senjata berbenturan, pada saat itu tubuh Upasara
memanjang kembali. Kembali dengan gerakan limbung, tangan Upasara mengulurkan
tinju. Gerakan pertama tidak tertuju ke arah Naga Kembar ataupun Naga Wolak-
Walik. Seperti memukul udara kosong.
Naga Wolak-Walik justru meloncat mundur. Berdiri di ujung benteng yang
lain. Salah setengah kaki saja, tubuhnya anjlok ke bawah.
Naga Murka menurunkan kakinya yang kejang. Ia tak tinggal diam, merangsek
maju. Mencoba memeluk tubuh Upasara, dan siap untuk meremukkan seluruh
tulangnya. Sebagai pegulat yang mampu mengerahkan tenaga dalamnya, Naga Murka
yakin bisa menembus tenaga kosong yang didemonstrasikan Upasara.
Upasara Wulung ternyata tidak menghindar. Tidak juga memendekkan tubuh.
Kedua tangannya terentang, dan kembali ke posisi semula, dalam sikap menyembah.
Tetapi justru dengan gerakan ini, tolakan tenaganya begitu keras, sehingga Naga
Murka terdorong. Hanya karena tubuhnya tertahan Gayatri yang diikat dan berdiri
kaku, tak sampai terguling ke bawah.
"Bok Mo Jin, kamu pengkhianat! Sejak kapan kau ajari dia jurus Jalan Budha?"
Teriakan Naga Murka menunjukkan kecemasan yang tinggi.
Mendadak pertempuran di bagian lain terhenti.
Kini seluruhnya menjadi senyap.
Kiai Sangga Langit berdiri kukuh. Di sudut bibirnya mengalir darah. Ngabehi
Pandu demikian juga. Malah kedua kakinya terhuyung-huyung. Naga Wolak-Walik
bersiap, tapi pasti. Naga Kembar mengambil posisi bertahan. Sementara itu,
Ranggalawe mengatur kuda-kuda, siap untuk melancarkan serangan. Jaghana berdiri,
disangga oleh Gendhuk Tri.
Upasara Wulung berdiri kukuh.
Tegak.
"Aku juga bisa. Aku juga bisa," teriak Galih Kaliki di bawah, sambil berputar
menirukan gerak Upasara Wulung.
Bahwa Upasara bisa membalik situasi secara mendadak memang sangat
mengejutkan. Tak terkecuali Ngabehi-Pandu yang menjadi gurunya. Ia sama sekali
tak menyangka bahwa Upasara Wulung bisa memainkan secara nyaris sempurna, apa
yang selama ini dikenal sebagai Tepukan Satu Tangan! Apa yang oleh Naga Murka
disebut sebagai jurus Jalan Budha. Apa yang bisa ditirukan dengan baik oleh Galih
Kaliki.
Tuduhan Naga Murka bukannya mengada-ada. Karena yang ditunjukkan
Upasara Wulung barusan adalah gerakan yang sulit dipahami. Gerakan yang selama
ini hanya dipelajari oleh Kiai Sangga Langit sebagai imam negara! Juga tidak terlalu
meleset kalau Ngabehi Pandu seperti mengenali. Atau bahkan Galih Kaliki bisa
menirukan geraknya dengan sempurna.
Apa yang sebenarnya terjadi, tak bisa diterangkan oleh Upasara sendiri.
Semuanya berkecamuk menjadi satu. Bisikan Ugrawe mengenai Tumbal Bantala
masih terngiang. Dan itulah gerakan yang muncul begitu saja.
Gerakan ini seperti diketahui, dipelajari oleh Upasara Wulung sambil lalu, ketika
Kawung Sen mencuri kitab itu dari perbendaharaan Ugrawe. Upasara tidak tertarik
mempelajari, karena ketika itu sadar bahwa Kitab Penolak Bumi atau Tumbal Bantala
Parwa adalah buku yang mengajarkan cara-cara menolak serangan bumi. Apa artinya
kalau jurus mengenai bumi tak diketahui? Upasara bersama Kawung Sen lebih suka
mempelajari Kartika Parwa atau Buku Bintang.
Hanya saja, Upasara baru sadar apa yang dipelajari ketika melihat Galih Kaliki
mencoba membunuh dirinya. Gerakan Galih Kaliki mengingatkan kepada sesuatu
yang bisa untuk menangkis. Dan ternyata gerakan itu kena! Bahkan ketika itu Upasara
Wulung menyadari bahwa gerakan-gerakan Galih Kaliki dengan tongkat galih pohon
asam sama dengan pukulan tangan kosong Ugrawe. Maka dalam gebrakan awal bisa
mengalahkan Ugrawe. Hanya ketika pikirannya bercabang, ketika mau memainkan
gerakan Banteng Ketaton, bisa dilukai.
Demikian juga ketika melawan Naga Murka. Jurus-jurus dalam Banteng
Ketaton yang cukup sempurna bisa cepat dikalahkan Naga Murka.
Bahwa Naga Murka menduga Kiai Sangga Langit mengajari Upasara bukannya
tanpa alasan. Kiai Sangga Langit sendiri bukan tak pernah mengatakan jurus-jurus
atau cara latihan napas itu. Setidaknya pernah menurunkan lewat Nyai Demang!
Yang tak disadari oleh siapa pun adalah bahwa sebenarnya Kiai Sangga Langit
sendiri belum melihat pemecahannya bagaimana cara memainkan jurus Jalan Budha.
Ia hanya tahu teorinya! Itu bukan semata-mata hadiah. Akan tetapi siapa tahu
Upasara bisa memecahkan rahasianya. Seperti diketahui, Upasara bisa memecahkan
cara main congklak yang merupakan inti ilmu tersebut.
Upasara, di luar dugaan, bisa menguasai itu semua. Karena memang ilmu itu
pada dasarnya mengandalkan pikiran kosong. Suwung, sunya, sepi. Dalam keadaan
pasrah tadilah tenaga itu muncul.
"Budha maha welas-asih. Hari ini, aku melihat cahaya dan petunjukmu." Kiai
Sangga Langit menunduk berusaha memberi hormat. Akan tetapi tubuhnya jatuh ke
bawah. Tak bergerak.
Ngabehi Pandu tertawa pendek. Akan tetapi sebelum tawanya selesai,
tubuhnya jatuh ke bawah juga! Dalam duel yang berjalan sekian lama, kedua-duanya
telah terluka dalam.
Upasara Wulung menjadi getir hatinya melihat gurunya jatuh. Konsentrasinya
buyar.
"Kakang, sikat mereka semua," teriak Gendhuk Tri.
Naga Murka meloncat turun sambil berteriak mengguntur, "Semua kembali ke
kapal!"
Naga Wolak-Walik mengikuti turun, disusul Naga Kembar. Dan semua
prajurit Tartar mundur secara teratur. Pertempuran di bawah kembali bergolak.
Hanya kali ini prajurit Tartar terus didepak mundur.
Perlahan-lahan mereka terus terdesak.
Di atas benteng, Upasara membebaskan ikatan Gayatri, lalu bersamaan dengan
Gendhuk Tri, Dewa Maut, Jaghana, Ranggalawe melayang turun.
Medan pertempuran telah bergeser ke utara. Prajurit Tartar makin terdesak ke
arah pelabuhan.
Upasara Wulung berlari kencang, mengangkat Ngabehi Pandu. Lalu membawa
ke tempat sepi. Menunduk. Sendirian.
Air matanya membeku.
Pundaknya berguncangan menahan duka.
"Sudah, Kakang...." Suara Gendhuk Tri seperti tak terdengar.
"Betul, Tole, Kakang tak usah berduka. Toh Ngabehi Pandu mati dalam
senyum. Sudah melihat kamu menang. Kamu memang jagoan."
Itu tak menghibur Upasara Wulung. Juga pesta kemenangan yang dirayakan
secara besar-besaran. Kini seluruh Keraton telah dikuasai secara mutlak. Pasukan
Tartar telah dibuang ke laut. Didesak hingga ke kapal-kapalnya yang segera dilarikan
ke laut. Kembali ke negeri asalnya.
Sungguh suatu akhir yang tak menggembirakan. Para prajurit kelas satu yang
berhasil menaklukkan separuh belahan bumi, yang tak terhalangi lajunya selama ini,
justru bisa dipecundangi oleh prajurit-prajurit yang tadinya tidak diperhitungkan
sama sekali. Utusan pertama untuk menaklukkan dibuat tak bermuka oleh Baginda
Raja Sri Kertanegara. Kemudian tiga jenderal perang yang paling tangguh, dengan
armada yang paling tangguh, kembali pulang dengan tangan hampa dan kekalahan.
Walaupun kepulangan kali ini dengan harta karun dari Keraton yang bisa dirampas,
akan tetapi tetap tak menghapus aib yang begitu besar. Untuk pertama kalinya Kaisar
Langit dan Dewa-Dewa Naga dibuat tak berdaya.
Luapan kegembiraan tak membuat Upasara tersenyum sedikit pun. Kembali
wajah duka membebani. Seakan kematian Ngabehi Pandu membuatnya putus
harapan. Upasara mulai mengenal kasih sayang, mulai mengenal dunia dari Ngabehi
Pandu. Akan tetapi kini, ia kehilangan. Satu demi satu orang yang dihormati, yang
menjadi bagian dari keluarga, gugur di medan pertempuran. Sejak Kawung Sen,
Jagaddhita, Mpu Raganata, dan Ngabehi Pandu.
Penghargaan resmi dari Sanggrama Wijaya berupa gelar resmi sebagai senopati
pamungkas—tidak berarti senopati terakhir, melainkan senopati yang bisa
menyelesaikan tugas dengan tuntas, tak menggoyahkan hatinya. Juga hadiah berupa
tanah luas.
Pada suatu malam Raden Wijaya memanggilnya sendirian.
Ketika itu Keraton Majapahit mulai dibangun kembali. Sebagian besar pusakapusaka
Keraton Daha yang dipindahkan telah diberi tempat tersendiri. Di tempat
seperti itulah Upasara Wulung dipanggil menghadap.
"Senopati Wulung, jasamu sangat besar. Terutama di hari-hari terakhir.
Di ruang ini ada segala pusaka yang bisa kamu ambil, kamu pilih. Apakah semua ini
masih kurang?"
"Terima kasih, Raden. Hamba merasa senjata pusaka ini akan lebih berarti di
tempat ini."
"Aku bukannya tidak tahu apa yang kauharapkan. Gayatri, putri Baginda Raja
Sri Kertanegara. Aku bukannya tidak mau memberikan, Senopati Wulung.
"Namun kamu tak bisa melawan kodrat. Menurut perhitungan para resi, para
pendeta, Gayatri dan diriku ditakdirkan seperti Dewa Uma dengan Syiwa.
"Dari Gayatri-lah kelak akan diturunkan raja-raja besar, yang tak ada
bandingannya selama beberapa keturunan.
"Begitulah perhitungan para pendeta yang bijak.
"Jika menjadi jodohmu, itu menghalangi kodrat. Mengubah sejarah
kegemilangan masa yang akan datang.
"Senopati Wulung, pilihlah putri yang lain. Gayatri tidak seorang diri. Ia
mempunyai tiga saudari. Kamu bisa memilih salah satu."
Upasara menunduk, tidak menjawab.
"Aku mendengar laporan, bahwa utusan dari Pamalayu sebentar lagi akan tiba.
Mereka membawa putri ayu, berkulit putih, memancarkan cahaya surga.
"Kamu bisa memilih salah satu, senopatiku, pahlawan perangku."
Upasara menghaturkan sembah.
"Hamba tak cukup berharga untuk itu semua, Raden...."
"Hari ini kamu masih bisa memanggilku Raden. Sebentar lagi kamu akan
memanggilku Baginda Raja. Namun, Senopati, dengarlah. Apa yang kukatakan tak
pernah kutarik pulang. Siapa pun yang kamu minta, akan kuberikan. Asal bukan
Gayatri, karena kita semua akan menyalahi kodrat!"
Apakah banyak artinya janji itu? Upasara Wulung tak tahu. Bahkan Kiai
Sangga Langit pun dulu masih mempunyai satu janji dengan dirinya. Tapi belum
sempat dipenuhi, Kiai Sangga Langit sudah meninggal dunia.
Dalam kehampaan hati, Upasara Wulung secara diam-diam meninggalkan
Keraton Majapahit. Menelusuri hutan, melalui rawa dan sungai, hingga akhirnya
kembali ke Perguruan Awan.
Melihat semua bekas yang masih bisa menggetarkan hatinya—walaupun
secara nyata seolah tak ada yang berubah.
"Eyang Sepuh yang menuntunmu ke tempat ini," kata Jaghana perlahan sambil
menyembah. Demikian juga Wilanda. Upasara Wulung menjadi jengah.
"Eyang Sepuh yang membisiki Anakmas agar berada di tempat ini. Untuk
membangun kembali perguruan ini. Di sini tinggal kami berdua."
"Paman Jaghana dan Paman Wilanda, saya memang ingin beristirahat di sini.
Akan tetapi soal membangun perguruan..."
Wilanda menghaturkan sembah.
"Anakmas, kalau bukan Anakmas yang secara langsung mendapat bisikan
Eyang Sepuh, siapa lagi yang pantas memimpin Perguruan Awan ini?"
"Jangan menyembah seperti itu, Paman."
Mendadak Jaghana dan Wilanda berdiri dan tertawa terbahak-bahak. Keras
membahana.
Lalu keduanya bersujud.
"Eyang Sepuh, sungkem pangabekti. Eyang masih selalu bersama kami."
Upasara baru sadar. Bahwa dengan meminta tidak saling menyembah berarti
dirinya masuk ke dalam peraturan Perguruan Awan. Di mana di sini memang tidak
ada aturan untuk saling menghormati secara formal.
Upasara tak bisa menerangkan lebih jauh. Tetapi juga tak bisa menolak. Karena
memang hanya di tempat inilah hatinya merasa tenteram. Tak timbul keinginan
melihat Keraton Majapahit dan mendatangi upacara besar-besaran, tak ingin melihat
keraton lama di mana di dindingnya pernah dipahatkan kalimat janji dengan Gayatri.
Sejak saat itu Upasara Wulung berdiam di Perguruan Awan. Mulai
menghabiskan waktu dengan Jaghana dan Wilanda. Hidup dari buah-buahan, dari
menanam dan merawat tumbuhan yang ada. Kadang kala melatih pernapasan secara
bersama-sama.
Selama ini yang sering datang adalah Gendhuk Tri serta Dewa Maut— malah
kadang berdiam lama. Juga Galih Kaliki dan Nyai Demang. Biasanya mereka
berkumpul bersama, berbicara lama sekali. Dari sore hingga sore hari lagi. Berlatih
bersama.
Namun dari luar, hutan itu seperti tak tersentuh manusia. Mereka terlalu kecil
dibandingkan dengan alam yang gagah perkasa. Di mana ujung dedaunan mencapai
langit, dan akarnya terhunjam dalam ke tanah.
Satu-satunya tanda bahwa hutan itu berpenghuni manusia ialah bila suatu
ketika ada angin lirih, seperti terdengar tembang, senandung tanpa kata-kata,
memberi gambaran ombak yang bergulung ke pantai berlumut....
Utusan Asmara
LANGIT di Keraton Majapahit membersitkan campuran warna merah kekuningkuningan.
Saat menjelang terbenamnya matahari, suasana sangat sepi. Mereka yang
bekerja sepenuh hari beristirahat. Tak ada anak-anak yang bermain, baik di
perumahan penduduk maupun di dalam Keraton.
Sore hari saat candikala, saat matahari membiaskan sinar merah-kuning,
adalah saat untuk hening. Saat pergantian siang dengan malam yang ditandai dengan
firasat alam. Berbeda dengan pergantian hari yang biasa, candikala dianggap
mempunyai makna bisa mendatangkan bahaya. Karena, menurut kepercayaan itu
adalah saat Batara Kala, dewa yang bertubuh raksasa, sedang mencari mangsa. Siapa
saja yang masih berada di luar rumah akan ditelan.
Tapi suasana yang tengah dirasakan Baginda Raja Sanggrama Wijaya bukan
hanya karena cahaya surya yang sebenarnya sangat indah itu.
Yang membuat Baginda Raja gundah adalah masih adanya batu-batu yang
terasa mengganggu kesempurnaan kekuasaannya. Batu kecil, karena batu-batu besar
telah berhasil disingkirkan. Dengan prajuritnya yang setia, Baginda Raja berhasil
membebaskan kekuasaan dari Baginda Jayakatwang. Batu besar yang lebih perkasa,
yaitu pasukan Tartar yang pernah dan masih menguasai seluruh jagat raya, berhasil
disingkirkan. Bersama dengan para senopati yang pilihan, pendekar-pendekar Tartar
bisa dibubarkan, didesak ke pinggir laut dan pulang ke kandangnya.
Sejak itu, desa Tarik diubah menjadi pusat kegiatan. Keraton Majapahit mulai
didirikan. Benteng yang kuat, gapura yang indah dan kokoh bisa didirikan.
Pembagian kekuasaan untuk para pembantu utama sudah dipersiapkan. Sebagai raja
yang baru, Baginda Raja sudah menyusun sejumlah pangkat dan kebesaran yang siap
untuk dianugerahkan.
Sampai di sini tak ada masalah yang berarti.
Kecuali tentang satu orang. Yaitu Upasara Wulung, ksatria Pingitan didikan
zaman Baginda Raja Kertanegara, yang diangkat menjadi senopati. Diangkat sebagai
salah satu panglimanya ketika mengusir lawan dalam pertempuran antara mati dan
hidup. Itulah sebabnya Baginda Raja memberi sebutan sebagai senopati pamungkas,
senopati terakhir. Tetapi bisa juga berarti senopati yang menyelesaikan tugas.
Sebagai seorang yang berdarah ksatria dan berasal dari lapisan tengah sebelum
naik takhta, Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengenal balas budi. Semua senopati,
prajurit yang berjasa, diberi ganjaran atau hadiah yang sesuai dengan jasa
pengabdiannya. Bahkan prajurit dalam pangkat yang paling rendah pun menerima.
Kecuali satu orang.
Yaitu Upasara Wulung. Yang setelah pertempuran besar-besaran lebih suka
kembali ke Perguruan Awan. Dan sejak masuk kembali ke daerah hutan itu, tak
pernah muncul lagi. Dua kali Baginda Raja mengirimkan utusan resmi. Akan tetapi
jangan kata mendengar jawaban, bertemu dengan orangnya atau bayangannya saja tak
bisa.
"Tak mungkin bocah itu tak tahu datangnya utusan resmi," kata Baginda Raja
pelan kepada Gayatri, salah seorang permaisurinya.
"Ia tahu, dan ia menunjukkan sikap menolak kepada utusanku. Bocah Pingitan
itu lupa bahwa yang ditentang sekarang ini adalah perintah seorang raja yang bisa
membalik dunia seperti membalik telapak tangan.
"Aku memanggilmu karena kamu tahu bocah itu."
Gayatri menunduk, memandang lantai Keraton.
Hatinya masih berdesir. Masih tersisa kenangan ketika bersama dengan
Upasara Wulung menyelinap ke dalam Keraton Daha. Dan saat Upasara Wulung
bertarung antara mati dan hidup untuk membebaskannya. Lebih dari itu,
diketahuinya bahwa ksatria itu menaruh hati padanya. Hanya karena menurut
perhitungan para pendeta dirinya adalah pasangan Baginda Raja, seperti pasangan
Dewa Wisnu dan Dewi Sri, Upasara Wulung mengundurkan diri.
Sebagai permaisuri seorang raja, Gayatri sudah sejak semula menutup semua
kenangan dan ingatan pada diri Upasara Wulung. Tak ada keinginan sedikit pun
untuk membuka hari lampau, karena setiap kali tanpa sengaja nama itu disebut,
darahnya masih tetap mengalir lebih kencang.
"Bocah Pingitan itu," suara Baginda Raja sedikit meninggi ketika menyebut
sebagai bocah, dan bukan ksatria, "masih menyimpan dendam kekanak-kanakan
karena kamu.
"Aku sudah berjanji memberikan apa saja padanya, kecuali kamu. Akan tetapi
ia tetap bocah yang tak tahu bagaimana menikmati hasil perjuangannya sendiri. Ia
memilih berada di hutan seolah mau menjadi dewa.
"Ia boleh mengaku berjasa. Nyatanya memang demikian. Akan tetapi sekali ini
aku tak bisa membiarkan ia menolak panggilanku. Itu berarti menentang panggilan
seorang raja. Tak ada ampunan bagi seorang yang berani menentang raja."
Gayatri tetap menunduk.
Lurus pandangannya ke bawah.
Desir darahnya masih menggetar.
"Aku memanggilmu karena aku ingin kamu datang ke Perguruan Awan dan
mengatakan bahwa aku memanggilnya, memerintahkan ia sowan, menghadap
padaku. Bahwa aku akan memberikan pangkat tertinggi padanya sebagai mahapatih.
"Bersiaplah.
"Besok pagi-pagi sekali kamu berangkat."
Gayatri menghaturkan sembah dengan menunduk hormat.
"Aku telah mengangkat para mantri, para bupati, para senopati. Akan tetapi
tetap terbuka kemungkinan untuk menjadi mahapatih, menjadi tangan kananku.
"Akan kulihat apakah kepalanya masih keras menerima tawaranku, menerima
kedatanganmu.
"Sebelum matahari terbit besok, kamu sudah berada dalam perjalanan."
"Sendika dawuh, Gusti."
Gayatri menghaturkan sembah. Walau ia termasuk permaisuri, akan tetapi
seorang raja tetap seorang raja yang harus dihormati sebagai raja, bukan hanya sebagai
suami. Gayatri tetap menghaturkan sembah, dan menyebut sebagai Gusti, kependekan
dari Gusti Prabu.
Gayatri menunggu sampai Baginda Raja meninggalkan tempat. Baru kemudian
bergerak perlahan. Menyadari bahwa sesuatu yang besar akan terjadi dalam beberapa
hari ini. Sesuatu yang lebih menggetarkan hatinya dibandingkan ketika pertama kali
menyusup ke dalam Keraton Daha bersama Upasara Wulung. Padahal waktu itu jelas
memang menguatirkan, karena soal mati dan hidup.
Sekarang ini seharusnya ia merasa sedikit terhibur. Bukankah ia akan bertemu
dengan seorang lelaki, benar-benar seorang lelaki yang pernah mengguncangkan
jiwanya? Upasara Wulung seorang lelaki biasa, bukan seorang raja. Bukan seorang
pangeran. Bukan juga seorang bupati. Gelar kehormatan yang disandang hanyalah
senopati. Suatu gelar kehormatan yang bisa diperoleh setiap prajurit.
Akan tetapi Upasara Wulung memang sepenuhnya seorang lelaki. Gagah,
mempunyai jiwa ksatria, seorang prajurit sejati yang hanya tahu satu hal: berbakti
kepada Baginda Raja, yang berarti mencintai Keraton, yang juga berarti mencintai
tanah tumpah darahnya. Upasara begitu lugu, begitu jujur mengabdi, begitu tulus
menjalankan darma baktinya.
Ini semua yang membuatnya makin gelisah ketika akhirnya selepas tengah
malam Gayatri masuk ke dalam tandu, dipanggil para prajurit yang telah siap. Saat
itulah Gayatri mendengar sendiri dari Mpu Renteng dan Mpu Sora yang mengawal.
Bagi Gayatri, Mpu Sora dan Mpu Renteng mempunyai hubungan yang lebih erat.
Bukan karena kebetulan kedua tokoh itu adalah dua di antara sekian orang
kepercayaan Baginda Raja, akan tetapi karena Mpu Renteng dan Mpu Sora sering
mengatakan sesuatu secara berterus terang.
"Paman, katakan padaku, apa sebenarnya maksud Baginda Raja memanggil
Kangmas Upasara?"
Mpu Renteng dan Mpu Sora menyembah dengan hormat. Keduanya naik kuda
di sebelah kanan dan kiri tandu.
"Seperti yang diperintahkan Baginda."
"Apakah itu yang sesungguhnya, Paman?"
"Itulah yang sesungguhnya, Permaisuri.
"Baginda Raja saat ini kesulitan memilih siapa sesungguhnya yang berhak
menjadi mahapatih. Hamba melihat kelebihan Baginda melihat ke depan. Sekarang
ini kalau di antara kami yang diangkat, bisa menjadi bobot pertengkaran. Hamba,
Tambi, Renteng, Sasi, Nambi, tumbuh secara bersama. Agak sulit menerima tiba-tiba
salah seorang dari kami menjadi mahapatih. Kami terlalu tahu kurang dan juga
lebihnya."
"Apakah Paman akan menerima jika Kangmas Upasara yang diangkat
Baginda?"
"Kami akan menerima, karena itulah titah Baginda Raja. Akan tetapi lebih dari
itu, Upasara pantas menyandang kehormatan itu. Walau masih muda, jasanya besar
sekali. Kami semua mengakui, dan menerima."
Terdengar helaan napas dari dalam tandu.
"Kalau Baginda berkehendak memberi anugerah pangkat yang begitu tinggi,
mengapa disertai ancaman? Mengapa Baginda bisa menjadi murka?"
Kali ini ganti Mpu Sora dan Mpu Renteng menghela napas bersamaan.
Kekuatiran Baginda Raja
HELAAN napas yang bersamaan menunjukkan kecemasan yang sama. Mpu Renteng
juga berusaha menenteramkan kegelisahan batinnya. Apa yang diutarakan Mpu Sora
sepenuhnya benar. Masalah pengangkatan mahapatih Majapahit sekarang ini masalah
yang paling pelik. Upasara Wulung bisa menjadi jalan tengah yang menyelamatkan.
Akan tetapi kekuatiran yang diutarakan Permaisuri Gayatri juga ada benarnya.
Mpu Renteng dan Mpu Sora dalam hati was was karena tak bisa sepenuhnya
memperkirakan cara bertindak Baginda Raja. Pengalaman masa lampau bersama-sama
sejak melarikan diri dari Keraton Singasari ketika Raja Muda Jayakatwang menyerbu,
membuat mereka sepenuhnya hormat dan menyatu. Dalam keadaan terlunta-lunta,
berjalan sampai ke tlatah Madura, selalu bisa seperasaan. Begitu juga ketika mulai
menggempur Raja Jayakatwang di Daha.
Akan tetapi sedikit timbul keraguan ketika dalam saat-saat yang menentukan
Baginda Raja tega membiarkan beberapa prajurit yang masih menjadi tawanan.
Baginda Raja tetap memerintahkan penyerbuan. Juga ketika prajurit Tartar kemudian
digempurnya. Mpu Renteng menganggap ada sesuatu yang tak bisa diduga dalam
tindakan Baginda Raja. Biar bagaimanapun, jiwa ksatria Mpu Renteng dan Mpu Sora
tak bisa menerima begitu saja cara menyingkirkan pasukan Tartar.
"Mereka musuh kita. Harus kita musnahkan. Dengan siasat. Ini bukan
kelicikan atau sifat ksatria. Kita harus memenangkan pertempuran yang paling
menentukan ini. Kalian adalah prajurit, dan aku yang memikirkan strategi. Aku yang
bertanggung jawab kepada Dewa yang Menguasai Langit dan Bumi.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 1:37 pm

"Busuk atau tidak kulakukan, aku yang bertanggung jawab. Kalian tidak akan
pernah mengerti. Ini urusan pemerintahan. Ini urusan seorang raja!"
Itulah yang dulu didengar langsung dari Baginda Raja.
Penjelasan yang diterima saat itu. Akan tetapi setelah beberapa saat
dipertimbangkan, setelah Keraton Majapahit mulai dibangun, dan segala hasil
dinikmati, kecemasan baru mulai merambat.
Kalau hal ini dihubungkan dengan pemanggilan Upasara Wulung, Mpu
Renteng juga melihat sesuatu yang selama ini agaknya disembunyikan oleh Baginda
Raja.
Atau paling tidak, tidak diungkapkan oleh Baginda.
Yaitu tersiarnya berita di luaran bahwa selama ini Upasara Wulung dilupakan
oleh Baginda Raja. Bahwa berita pembicaraan di masyarakat itu tidak benar, Mpu
Renteng dan Mpu Sora tahu secara pasti. Bukan Baginda Raja yang melupakan, akan
tetapi Upasara sendiri yang menolak.
Namun ada juga yang dirasakan, bisa benar dan bisa tidak. Yaitu bahwa di
belakang hari Upasara Wulung bisa menjadi ganjalan yang berbahaya. Sejak
pertempuran penghabisan dulu, Upasara mengasingkan diri di Perguruan Awan.
Sepenuh waktunya dipakai untuk merenung, untuk bersemadi.
Inilah yang berbahaya. Saat ini Upasara telah mulai memperdalam ilmu yang
sangat luar biasa, yaitu Tepukan Satu Tangan. Ilmu yang masih tetap dianggap gaib,
karena selama ini tidak ada yang mengetahui secara persis. Bahkan ilmu itu yang oleh
para pendeta Tartar, para pendekar Mongolia, dianggap sebagai Jalan Budha.
Ilmu yang baru sebagian saja dilihat oleh Mpu Renteng dan Mpu Sora sewaktu
Upasara Wulung melabrak habis Naga dari Tartar yang saat itu tak tertandingi.
Ilmu yang luar biasa, karena mereka semua para jago silat seperti mengenali,
akan tetapi juga seperti tidak. Dan kalau benar saat ini Upasara Wulung sedang
memperdalam ilmunya Tepukan Satu Tangan yang bisa terdengar lebih nyaring dan
lebih bertenaga dari dua tangan, bisa dibayangkan bagaimana jika Upasara benarbenar
telah menguasai ilmu tersebut.
Upasara akan menjadi tokoh yang tak bisa diramalkan, dan sulit dicari
tandingannya. Di zaman dahulu masih ada Mpu Raganata yang perkasa, masih ada
Eyang Sepuh yang kini tak diketahui tempat dan bayangannya, akan tetapi sekarang
ini Upasara betul-betul tak menemukan lawan yang setanding.
Dalam perkiraan Mpu Renteng, kalau Baginda kuatir, itu cukup beralasan.
Karena memang sejak mendiang Baginda Raja Kertanegara, kedigdayaan adalah
sesuatu yang mempunyai makna mendalam. Baginda Raja Sri Kertanegara-lah yang
secara resmi menentukan bahwa nilai-nilai kedigdayaan, kesaktian, adalah nilai
seorang lelaki yang sesungguhnya. Hanya yang kuat dan sakti yang akan memerintah
seluruh jagat dan isinya.
Kehadiran Upasara Wulung bisa menjadi ganjalan di belakang hari. Maka,
menurut perkiraan Mpu Renteng dan Mpu Sora serta beberapa senopati, Baginda Raja
berusaha menarik Upasara Wulung ke pihak Keraton. Dengan anugerah pangkat
mahapatih, Upasara tak akan melawan di kemudian hari. Upasara Wulung,
sebaliknya, akan berbakti sepenuhnya.
Kalau ternyata Upasara Wulung menolak, bukan tidak mungkin Baginda akan
mengangkat tangan untuk melenyapkan. Sekarang adalah saat yang tepat, sebelum
Upasara Wulung tumbuh menjadi besar dan berakar.
Pastilah Baginda Raja mempunyai telik sandi atau pasukan rahasia yang
mengetahui apa yang tengah terjadi sekarang ini. Dugaan Mpu Renteng ialah prajurit
telik sandi di bawah pimpinan Mpu Nambi yang mampu menyusupkan anak buahnya
ke Perguruan Awan. Mpu Renteng bisa mengetahui sedikit-sedikit dan mendengar
bahwa sesungguhnya Upasara Wulung saat ini tengah berada dalam situasi yang
menentukan. Upasara berada dalam situasi yang sangat menentukan dalam
mempelajari Tepukan Satu Tangan. Bagian yang menentukan apakah ia bakal berhasil
menguasai ilmu tersebut atau gagal sama sekali.
Mpu Nambi mendapat laporan dari prajuritnya yang menurut cerita mendapat
kabar tersebut dari Dewa Maut. Salah seorang tokoh yang semasa jayanya jago dalam
bidang racun yang tiada tandingannya. Hanya saja kemudian seluruh tenaga
dalamnya musnah serta terganggu jiwanya.
Dewa Maut termasuk yang bisa keluar-masuk ke dalam Perguruan Awan
bersama dengan Gendhuk Tri—gadis remaja yang seluruh tubuhnya dipenuhi dengan
racun.
Mereka inilah, di samping beberapa murid Perguruan Awan, yang masih tetap
mengadakan pertemuan secara tertentu.
Sesungguhnya, ini yang dikuatirkan Baginda.
Kalau sampai Upasara berhasil menghimpun para ksatria pilihan dan kemudian
mbalela, atau memberontak kepada Baginda. Upasara bagai harimau yang tumbuh
sayap.
Bahwa Upasara akan sangat membahayakan seluruh ketenteraman Keraton,
Mpu Renteng bisa mengerti dan bisa menerima. Akan tetapi nalarnya mengatakan
bahwa sangat tidak masuk akal bahwa Upasara Wulung akan mbalela.
Akan tetapi Mpu Renteng dan Mpu Sora tak bisa mengutarakan pendapatnya,
karena Baginda tak pernah menanyai. Sungguh tak masuk akal kalau tiba-tiba saja
mereka mengutarakan pendapatnya. Ini suatu sikap kurang ajar yang tak bisa
dimaafkan, tak ada ampunan sama sekali.
Yang mencemaskan adalah bahwa Baginda lebih mempercayai Mpu Nambi
untuk memecahkan masalah di Perguruan Awan. Dan kemudian menjatuhkan
putusannya.
Seperti sekarang ini.
Mengirim utusan untuk menjemput Upasara.
Mpu Renteng bisa mengerti kalau misalnya saja Baginda memerintahkan para
senopati pilihan untuk memaksa Upasara. Lepas dari pertimbangan benar atau tidak—
akan tetapi bukankah yang diperintahkan Baginda Raja selalu benar?—ini
menunjukkan sifat ksatria.
Akan tetapi Baginda justru mengutus Permaisuri Gayatri. Seorang wanita yang
sama sekali tidak terlibat dalam percaturan Keraton. Bahkan mungkin sama sekali
tidak tahu, seperti pertanyaan yang baru saja didengar.
Hanya karena Permaisuri Gayatri dulu pernah mempunyai perasaan tertentu
terhadap Upasara, maka kini hal itu yang dipakai sebagai senjata untuk memaksa
Upasara Wulung.
Mpu Renteng sempat bertanya-tanya dalam hati ketika menerima titah dari
Baginda.
"Kawal Permaisuri."
"Sendika dawuh," jawabnya sambil menyembah bersamaan dengan Mpu Sora.
"Kupercayakan ini kepada kalian berdua. Bertindak atas namaku untuk
berbuat apa saja demi perintahku."
"Sendika dawuh, Gusti."
"Ingat. Apa pun yang terjadi, kalian berdua hanya memberikan laporan
kepadaku."
Baginda juga memerintahkan untuk membawa prajurit-prajurit pilihan.
Bahkan Dyah Palasir dan Dyah Singlar yang selama ini diandalkan untuk menjadi
pemimpin prajurit pribadi diikutsertakan.
Dyah Palasir termasuk senopati muda yang mendapat kepercayaan langsung
dari Baginda. Dari angkatan muda, Dyah Palasir-lah satu-satunya yang mendapat
pangkat sejajar dengan bupati.
Mpu Sora pun yakin bahwa tugas yang dijalankan kali ini bukan tugas
sembarangan. Ada cara halus dengan membawa Permaisuri Gayatri. Tetapi juga ada
cara tertentu yang bisa serta-merta diambil jika ada sesuatu yang dianggap perlu.
Dyah Palasir pasti telah memilih prajurit-prajurit pilihan yang paling tangguh
dan paling setia kepadanya. Ini berarti perjalanan ke Perguruan Awan bisa mengubah
sejarah Keraton.
Prajurit Telik Sandi
PERGURUAN AWAN masih seperti ketika diciptakan.
Awan dan angin masih terasa purba. Bahkan tanahnya masih selalu terkesan
basah. Tak ada yang berubah.
Perguruan Awan, atau juga disebut Nirada Manggala, sebenarnya tak jauh
berbeda dari hutan-hutan yang lain. Gerombolan pepohonan yang membentuk pagar
alam. Tak terlalu istimewa, karena di sini juga tak ada tanda-tanda yang menjadi batas
wilayahnya. Satu-satunya pertanda memasuki daerah Perguruan Awan hanyalah
sebuah alun-alun yang luas. Sebuah lapangan yang tak ditumbuhi pohon-pohon besar.
Tanah kosong itu dianggap masyarakat sekitar sebagai batas wilayah yang
dikeramatkan. Yang membuat penduduk sekitar enggan untuk memasuki, apalagi
mengusik tanaman yang ada. Sepotong daun yang mengering akan dibiarkan
membusuk dan menjadi pupuk. Irama alam sepenuhnya terjaga sempurna.
Rombongan yang dipimpin Mpu Sora dan Mpu Renteng sampai di pinggir
alun-alun. Dyah Palasir segera memerintahkan membuat pondokan sederhana yang
dibangun dari kayu-kayu yang sudah disiapkan, dengan atap ilalang yang dibawa dari
Keraton.
Tak ada pepohonan yang diusik. Tak ada tetumbuhan dan Cengkerik yang
diubah letaknya. Bahkan bentuk bangunan pondokan itu dibuat sedemikian rupa
sehingga menyatu dengan alam sekitar. Seakan bagian dari belukar menjalar.
Di pondok itu Permaisuri Gayatri bertempat tinggal. Pada jarak sepuluh
tombak, para prajurit berjaga-jaga. Ada yang khusus memasak, memasak air untuk
Permaisuri. Selebihnya menunggu.
Hanya Mpu Sora dan Mpu Renteng yang berada di sekitar pondok, dan tetap
berdiam diri. Hanya mengeluarkan jawaban kalau ditanya secara langsung.
Permaisuri tak bisa menahan diri ketika malam tiba, dan suara binatang hutan
mulai terdengar.
"Paman Sora dan Paman Renteng."
"Sembah dalem, Gusti."
"Sampai kapan kita menunggu?"
"Sampai hamba mendengar titah Permaisuri. Kalau Permaisuri menitahkan
untuk masuk ke dalam, kita semua akan masuk ke dalam hutan."
"Kalau saya meminta kita kembali ke Keraton?"
Mpu Sora dan Mpu Renteng menyembah hormat.
"Hamba menerima titah Baginda Raja untuk mengantarkan Permaisuri
menemui Senopati Pamungkas."
Jawaban yang tetap menghormat. Menempatkan diri sebagai orang bawahan.
Akan tetapi juga sekaligus suatu ketegasan bahwa mereka harus bisa menjalankan
tugas. Menemui Senopati Pamungkas.
Ini berarti berpantang pulang sebelum tugas dijalankan.
"Saya mengerti, Paman.
"Hanya saya tidak mengerti apakah Kangmas Upasara mengetahui saya berada
di sini."
"Mestinya begitu, Permaisuri."
"Kalau begitu, kenapa Kangmas tak mau menemui?"
Mpu Renteng tak bisa menjawab. Juga Mpu Sora. Bahkan kalaupun
mempunyai jawaban, barangkali sulit sekali diutarakan. Karena tugas ke Perguruan
Awan ini masih mengandung misteri yang belum terungkapkan.
Adalah sangat mungkin sekali Upasara Wulung tak mau menemui. Bukan
tidak mungkin menolak muncul, justru karena Baginda Raja mengutus Permaisuri
Gayatri untuk menemui.
Baik Mpu Sora maupun Mpu Renteng sedikit-banyak mengenal Upasara
Wulung. Senopati muda yang diangkat sebagai senopati perang dalam saat yang
menentukan. Yang kemudian memilih kembali ke tengah hutan di saat kemenangan
dirayakan. Hanya yang mempunyai hati batu alam mampu menyatukan keinginan,
mampu mendengarkan suara hatinya sendiri.
Mpu Sora tidak melihat bahwa tindakan Upasara suatu tindakan yang benar,
namun jelas menunjukkan suatu keyakinan yang utuh.
"Bagaimana kalau Kangmas Upasara tidak mau menemui saya?"
"Pasti menemui, Permaisuri. Begitulah perkiraan Baginda."
"Perkiraan Baginda," Permaisuri Gayatri meninggikan suaranya. "Apa
perkiraan Paman berdua?"
"Apa yang diperkirakan Baginda adalah perkiraan hambanya juga."
"Ya, selalu begitu jawaban Paman.
"Akan tetapi, apakah Paman yakin Kangmas Upasara berada di hutan ini?
Bagaimana kalau ia sedang pergi? Bagaimana kalau sedang sakit?"
"Kalau sedang pergi, hamba tak tahu harus mencari ke mana. Kalau sedang
sakit, hamba juga tak tahu harus mencari obat ke mana. Hamba hanya menjalankan
perintah."
"Paman, saya pun hanya menjalankan perintah. Titah Baginda Raja, penguasa
tunggal atas mati dan hidup kita sekalian. Tetapi saya ini orang bodoh, Paman.
"Bodoh sekali dan tak mengerti sedikit pun masalah Keraton. Mbakyu
Tribhuana, yang digelari mahalalila karena keunggulannya bisa mengetahui maksud
Baginda, jauh sebelum diperintah sudah mengetahui maksudnya. Mbakyu Mahadewi
yang paling dikasihi Baginda, juga bisa mengetahui. Mbakyu Jayendradewi yang
paling setia, bisa mengerti. Tetapi saya ini sama sekali tidak mengetahui apa-apa.
"Paman, katakanlah sejujurnya. Apakah maksud Baginda memanggil Kangmas
Upasara?"
"Sejauh hamba yang bodoh ini mengetahui, tak lain dan tak bukan seperti
yang disabdakan. Ingin mengangkat Senopati Pamungkas menjadi mahapatih
Majapahit. Menjadi tangan kanan Baginda.
"Semua pengikut Baginda telah mendapatkan kehormatan dan anugerah, akan
tetapi..."
"Apakah tidak ada maksud lain?"
"Tidak, Permaisuri."
"Mengapa mendadak sekali?"
Mpu Sora menggeleng lemah.
Namun hatinya sempat oleng. Hanya karena penguasaan perasaannya sudah
sampai tingkat tinggi, perubahan perasaan itu bisa disembunyikan.
Mpu Sora dan juga Mpu Renteng bukan tidak mendengar kabar dari prajurit
telik sandi, atau prajurit rahasia yang pekerjaannya menyusup dan mencari kabar dari
wilayah yang tak terduga.
Mpu Sora mendengar bahwa Upasara Wulung saat ini sedang mempelajari
bagian yang paling menentukan dari ilmu Tepukan Satu Tangan. Bagian yang konon
akan menentukan apakah si pelatih bisa menguasai ilmu tersebut, atau justru
sebaliknya. Ia bakal dihancurkan oleh ilmu tersebut, dan akan menjadi cacat seumur
hidup.
Prajurit telik sandi yang dipimpin Senopati Nambi mendapat kabar ini dari
salah seorang penghuni Perguruan Awan yang bernama Dewa Maut. Tokoh tua yang
seluruh rambutnya putih ini yang paling bisa dihubungi. Menurut cerita, dulunya
Dewa Maut adalah tokoh sakti dengan penguasaan atas semua racun Kali Brantas.
Hanya saja kemudian kehilangan ingatan, sehingga kelakuannya seperti anak kecil.
Dari Dewa Maut inilah tercium bahwa Upasara Wulung kini sampai ke tingkat yang
menentukan.
Dan justru pada saat seperti inilah, Baginda Raja memerintahkan untuk
menemui Upasara. Dengan perhitungan bahwa dalam keadaan yang genting ini,
Upasara akan terdesak. Kalau ia memilih untuk meneruskan latihannya dan tak ingin
terganggu, ia akan menerima jabatan tersebut.
Kalaupun menolak, berarti Upasara telah ditawari. Ini berarti ia akan turut menjaga
Keraton. Dan janji seorang ksatria, akan dibela sampai mati.
Kalau dihubungkan dengan titah Baginda Raja untuk mengambil tindakan
yang diperlukan, hal ini sangat masuk akal. Mpu Sora dan Mpu Renteng diberi
wewenang penuh untuk mengambil tindakan apa pun. Hal ini juga diperkuat dengan
kehadiran Dyah Palasir.
Berarti pula Upasara akan digempur saat itu juga. Sebelum kekuatan
menggalang persatuan dan ilmunya makin sulit ditandingi. Baginda tak ingin melihat
ganjalan menjadi besar. Sekarang ini memang saat yang paling menentukan.
"Paman..."
"Sembah dalem."
"Apakah benar saat ini tidak ada yang pantas mendapat anugerah pangkat
menjadi mahapatih?"
"Senopati Pamungkas yang paling pantas menerima kebesaran ini, Tuanku
Permaisuri."
Jawaban Mpu Renteng mempunyai dua arti.
Pertama, seperti yang diutarakan bahwa Upasara Wulung memang pantas
menerima jabatan agung ini. Meskipun masih sangat muda, akan tetapi telah
membuktikan diri sebagai pengabdi yang kesetiaannya tak perlu diragukan. Di
samping itu juga yang ilmu silatnya paling tinggi. Setidaknya dengan satu atau dua
jurus Tepukan Satu Tangan bisa membuyarkan lawan.
Kedua, karena sesungguhnya Upasara merupakan jalan keluar yang terbaik.
Pengangkatan Upasara akan diterima oleh berbagai pihak. Oleh semua senopati,
semua patih yang ada.
Mpu Renteng sadar bahwa Baginda Raja sekarang ini menghadapi situasi yang
barangkali lebih sulit dari ketika merebut Singasari, dari ketika mengusir pasukan
Tartar, lebih sulit dari ketika memutuskan untuk mengawini keempat putri Sri
Baginda Raja Kertanegara.
Justru karena kini menghadapi tangan dan kakinya sendiri.
Serangan Tengah Malam
BAGINDA RAJA harus memilih yang terkuat untuk menduduki kursi sebagai
mahapatih, menjadi amangkubumi. Yang berarti jabatan yang lebih tinggi dari semua
patih atau senopati terkemuka. Yang berarti juga bahwa salah seorang dari
senopatinya akan berada di atas yang lainnya. Padahal justru ketika berjuang dulu,
semuanya sama pangkat dan kedudukannya.
Untuk jabatan patih, atau juga adipati amancanegara, hal ini tidak menjadi
masalah. Keraton Majapahit dibagi atas lima wilayah, yaitu sebelah barat, timur,
selatan, utara, serta tengah. Masing-masing akan dipimpin oleh seorang patih atau
adipati amancanegara. Seperti juga wilayah utara yang kini diserahkan kepada
Ranggalawe, putra Aria Wiraraja yang gagah berani. Bahkan setelah menjadi adipati
pun tetap memakai nama Ranggalawe, nama yang disandang ketika masih berpangkat
rangga dalam keprajuritan.
Memang setelah semua mendapat jabatan dan pangkat, timbul pertanyaan
yang tak terucapkan. Siapa yang bakal diangkat Baginda sebagai mahapatih? Yang
berarti membawahkan semua adipati dan atau para patih ini?
Mpu Renteng sadar diri dan sama sekali tidak bermimpi akan menduduki
jabatan sebagai pelaksana Keraton.
Ada tiga nama yang bisa dipilih Baginda Raja. Ini menurut perhitungannya
sendiri, yang barangkali tak berbeda jauh dengan senopati atau adipati yang lain.
Pertama, pastilah Ranggalawe, yang sekarang sebetulnya lebih tepat disebut
Adipati Lawe. Senopati yang gagah berani dan mempunyai ilmu yang cukup tinggi.
Perlawanan merebut Singasari dibuktikan dengan luka dan pengorbanan yang tinggi.
Dan lagi Adipati Lawe adalah putra Aria Wiraraja dari Madura. Yang sejak lama
menunjukkan kesetiaan tanpa tanding. Yang sejak semula berpihak kepada Baginda
Raja. Bahkan prajurit dari Madura yang dikirim Aria Wiraraja-lah yang pertama kali
membuka hutan, membakar belukar. Para prajurit itulah yang pertama kali membuat
rumah dan membangun sawah. Adalah wajar jika Baginda mengangkat Adipati Lawe
sebagai mahapatih.
Kelemahan Adipati Lawe hanyalah kurang bisa mengekang perasaan. Apa
yang ingin dikemukakan langsung dikatakan. Adipati Lawe seolah masih hidup di saat
perjuangan merebut Singasari dahulu. Seakan masih hidup di medan perang, yang
menuntut penyelesaian seperti hukum-hukum perang. Namun halangan yang
terutama adalah karena adanya Mpu Sora.
Pilihan kedua, Mpu Sora. Tokoh yang bijak, mampu mengekang perasaan, dan
secara sempurna menguasai ilmu Bramara Bramana, atau ilmu Sengatan Lebah
Seorang Pendeta. Gabungan antara tenaga keras dan kearifan seorang pendeta. Ilmu
dari tlatah Madura ini hanya Mpu Sora yang mumpuni, menguasai luar dalam. Dan
Mpu Sora masih terhitung paman Adipati Lawe. Sehingga kalau mengikuti tata cara,
Mpu Sora-lah yang lebih pantas dibandingkan keponakannya.
Pilihan ketiga, Mpu Nambi. Dalam banyak hal sama seperti juga Mpu Sora.
Akan tetapi jabatan utama Mpu Nambi adalah pemimpin utama para prajurit telik
sandi. Prajurit rahasia yang mendapat tugas utama dari Baginda Raja. Sebagai
pemimpin telik sandi, tentu Mpu Nambi paling mengetahui segala rahasia Keraton,
dan paling sering serta dekat berhubungan dengan Baginda. Senopati telik sandi, yang
karena tugasnya bisa mengetahui segala hal yang terjadi di dalam dan di luar Keraton.
Bahkan diikutsertakannya Dyah Palasir menunjukkan kekuasaan ini. Dyah Palasir
dari prajurit pengawal pribadi yang garis komandonya di bawah pimpinan telik sandi.
Mpu Renteng bisa mengerti kalau untuk permasalahan ini, Permaisuri Gayatri
tak merasakan perlunya menemui Upasara Wulung. Yang bagi Baginda Raja hanya
ada dua kemungkinannya. Bergabung ke Keraton atau ditumpas.
"Paman Sora, mengapa Kangmas Upasara memilih berdiam di hutan ini?"
"Maafkan hamba, Permaisuri. Maafkan kalau hamba yang bodoh ini mencoba
lancang bercerita."
"Paman Sora, janganlah terlalu sungkan."
"Maaf, Permaisuri, bukan hamba sungkan. Akan tetapi sesungguhnya hamba
hanya tahu sedikit.
"Hutan di depan ini dinamakan Perguruan Awan. Dahulunya tempat
bertemunya para ksatria dari seluruh penjuru jagat. Di sini pada waktu tertentu yang
telah ditetapkan, para ksatria datang untuk saling menguji kesaktiannya. Menentukan
siapa yang paling sakti mandraguna, siapa yang ilmunya paling unggul."
"Kalau tidak salah, Perguruan Awan ini sendiri juga mempunyai guru dan
murid, Paman."
"Sesungguhnya, Permaisuri lebih mengetahui dari hamba.
"Perguruan Awan ini memang sebuah nama perguruan silat. Hanya saja
berbeda dari perguruan silat yang lain, di sini tak ada sebutan guru atau siswa, semua
belajar bersama. Bagi mereka yang masuk perguruan ini, hidup sebagaimana
tetumbuhan dan hewan yang ada. Hanya mengambil yang dibutuhkan."
Permaisuri Gayatri mengeluarkan seruan tertahan.
Sekelebatan pikirannya melayang ke arah Upasara. Apakah pemuda tampan
dan lugu itu juga hidup dengan cara seperti itu?
"Kalau hanya tempat berkumpul para ksatria untuk berperang tanding, kenapa
Baginda sangat memperhatikan?"
"Permaisuri lebih mengetahui dari hamba yang bodoh.
"Dulu kala ada dongengan, raja-raja baru akan didengar kabarnya dari Nirada
Manggala. Mulai zaman Ken Arok, leluhur Keraton Singasari yang mulia. Ketika itu
menurut cerita nenek moyang, ada seorang pendeta muncul dan mengatakan bahwa
akan lahir raja. Ini berarti, garis keturunan penguasa yang sekarang akan terputus
oleh penguasa yang baru. Seperti kemudian terbukti, Tuanku Permaisuri, pakuwon
yang diperintah oleh Tunggul Ametung diganti oleh keturunan Ken Arok.
"Pada saat Baginda Raja Sri Kertanegara yang bijaksana-luhur-gagah-perwira
berkuasa, ada kabar akan datang lagi Tamu dari Seberang yang akan mewartakan
lahirnya penguasa baru. Dan kenyataannya memang Raja Muda Jayakatwang
memutuskan garis keturunan Baginda Raja Sri Kertanegara yang mulia."
"Paman, bukankah Baginda Raja sekarang ini juga keturunan yang sama?
Bukankah saya ini putri Sri Baginda Kertanegara?"
"Dewa dari segala Dewa berkenan mengembalikan takhta kepada yang berhak,
Tuanku Permaisuri. Hanya selingan Raja Muda Jayakatwang menjadi pertanda bukti
apa yang dikatakan Tamu dari Seberang."
"Ah, Paman sungguh luas pengalamannya."
"Hamba tak pantas menerima sanjungan."
"Paman, guru dari Perguruan Awan yang dijuluki Eyang Sepuh tak pernah
kelihatan. Saya pernah dibisiki oleh Eyang Sepuh mengenai Tamu dari Seberang itu
adalah pasukan Tartar. Sehingga kemudian pasukan inilah yang dipakai menyerang
Keraton Singasari.
"Tapi saya sendiri tak pernah melihat beliau."
"Rasanya sampai sekarang ini belum ada yang berani mengaku bertemu Eyang
Sepuh."
"Paman, apakah kalau Kangmas Upasara menjadi guru di Perguruan Awan ini,
akhirnya juga seperti Eyang Sepuh? Kita hanya mengenai namanya? Apakah itu
termasuk ilmu sakti yang Paman katakan?"
Jawabannya adalah gerakan seketika secara bersamaan.
Mpu Sora meloncat ke belakang, melindungi Permaisuri Gayatri, sementara
Mpu Renteng meloncat ke depan. Ujung kainnya, yang disampirkan di pundak,
berubah menjadi seekor ular yang mendesis. Kelebatan warna putih di tengah
kelamnya malam.
Sungguh suatu gerakan yang indah memesona, dan sekaligus juga berbahaya.
Dalam satu tarikan napas, Mpu Renteng mengeluarkan jurus andalan dari ilmu
Bujangga Andrawina, atau Ular Naga Berpesta Pora.
Dari keadaan bersila, menunduk, tiba-tiba berubah menjadi loncatan, dan juga
menyerang. Hal yang sama dilakukan Mpu Sora yang menyadari keadaan cukup
gawat.
Gawat karena tiba-tiba saja kedua empu sakti ini menyadari tekanan angin
yang berada dalam jarak sepuluh tombak. Dan dalam seketika sudah ada dua
bayangan yang menyerang langsung.
Ini luar biasa.
Pondok mereka agak terpencil di antara para prajurit yang mengawal, akan
tetapi boleh dikatakan di tengah lapangan. Dan tanpa tanda-tanda yang
mencurigakan, ada serangan mendadak. Ini berarti para prajurit di bawah Dyah
Palasir bisa ditaklukkan, tanpa menimbulkan kecurigaan.
Berarti penyerangnya yang kini muncul dalam dua bayangan betul-betul
menguasai ilmu yang tidak sembarangan.
Mpu Sora nggragap, atau terkesiap.
Apalagi ketika mendengar Mpu Renteng mengaduh.
Nggragap-nya. Mpu Sora bukan karena Mpu Renteng bisa dikalahkan.
Meskipun termasuk senopati pilihan, akan tetapi dalam dunia persilatan, selalu ada
ilmu yang lebih sakti. Yang membuat Mpu Sora nggragap adalah karena dalam
gebrakan pertama Mpu Renteng sudah bisa ditaklukkan.
Bujangga Andrawina bukan ilmu sembarang ilmu. Tingkat Dyah Palasir pun
tak akan bisa memahami andai diajari selama satu tahun. Mpu Renteng mampu
menguasai dengan baik. Sabetan ujung kain yang disampirkan di pundak adalah
gerakan menyapu semua serangan lawan. Mementahkan gempuran. Sementara
serangan yang sesungguhnya adalah jari-jari tangan yang memagut, menggigit kuat.
Sepuluh jari Mpu Renteng akan berubah seakan menjadi lima kepala ular yang
memagut secara bersamaan.
Tapi ternyata bisa dirubuhkan dalam satu gebrakan.
Belum satu jurus.
Penghuni Perguruan Awan
MPU SORA makin menyadari bahwa dua penyerang yang menutupi wajahnya
dengan klika, atau kulit kayu, bergerak sangat cepat. Tanpa menunggu tarikan napas
berikutnya, Mpu Sora menarik kaki sedikit ke belakang, dengan dua tangan bersilang
di depan dada. Tubuhnya berputar.
Kedua penyerang seperti menunggu serangan.
Akan tetapi justru Mpu Sora tidak langsung menyerang.
Karena menyadari bahwa tugas utamanya ialah menjaga Permaisuri Gayatri.
Bagi seorang yang menjunjung tinggi pengabdian, tugas adalah nomor pertama dan
sekaligus nomor terakhir. Rasa gusar bisa diatasi dengan tetap mencoba bertahan,
bukan menggempur. Memang ini agak bertentangan dengan ilmu yang
dikembangkan dari tlatah Madura, yang mengandalkan gebrakan pertama sebagai
gempuran.
Apalagi Mpu Sora mengeluarkan jurus Bramara Bramantya atau Lebah Marah.
Sekumpulan lebah yang marah selalu berusaha mengejar lawannya sampai ke sudut
yang tak memungkinkan lagi.
Akan tetapi kali ini, Mpu Sora berputar di tempat. Dua penyerang bergerak
bersamaan. Dari sisi kiri dan sisi kanan. Mpu Sora membuka kedua tangannya dengan
sangat cepat, dan dengan sangat cepat pula menarik kembali, menutup di depan dada.
Terdengar dua benturan keras.
Mpu Sora bisa membandingkan bahwa penyerang di sebelah kiri tak sekuat di
sebelah kanan. Sengatan lima kanan dan lima kiri bisa dimentalkan, akan tetapi
dengan demikian bisa mengukur tenaga lawan. Sesuatu yang sangat penting untuk
membuat serangan berikutnya.
"Hmm. Percuma saja kita hanya disuguhi Bramara Bramantya."
Mpu Sora berusaha menahan darah yang mendidih sampai ke ubun-ubunnya.
Pada usia yang bukan muda lagi, Mpu Sora masih tetap memperlihatkan asal-usulnya.
Lahir dan dibesarkan di daerah yang keras adat- istiadatnya. Daerah di mana sapi
biasa dipacu, bukan digerakkan perlahan untuk menyeret gerobak.
Hinaan itu sangat kena, kalau maksudnya membuat gusar.
Jurus Lebah Marah diganti seenaknya menjadi Lebah Bingung. Meskipun
dalam ucapan hampir mirip, antara bramantya dengan Bramantya, akan tetapi artinya
berbeda.
Bingung lebih bisa diartikan sebagai tak bisa menguasai diri.
Akan tetapi Mpu Sora justru merasa makin berhati-hati. Lawan yang dihadapi
bukan hanya serba tak terduga, akan tetapi juga sekaligus menunjukkan pengetahuan
yang luas. Bisa langsung menduga asal-usul ilmu silatnya. Bahkan bisa mengetahui
sampai ke nama jurusnya.
Mpu Sora menunggu kesempatan. Begitu penyerang di kanan menarik napas
ketika mengucapkan kata-kata hinaan, seketika itu Mpu Sora membuka kedua
tangannya. Cepat. Bayangan di samping kanan menghindar dengan gerakan ke arah
samping, seperti bergoyang. Akan tetapi sasaran utama Mpu Sora justru kepada
penyerang dari kiri. Yang meskipun kelihatannya lebih lemah, akan tetapi posisinya
lebih berbahaya. Lebih dekat meraih ke arah Permaisuri!
Tubuh condong ke kanan, akan tetapi kaki menggaet yang kiri. Dan begitu
mengenai sasaran, Mpu Sora menarik sekerasnya. Tenaganya dipakai untuk
memantulkan tubuhnya ke atas. Sambil mengeluarkan desis nada
tinggi.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 1:38 pm

Lawan di sebelah kiri terseret, tertarik, akan tetapi dengan menggelundungkan
diri bisa segera berdiri kembali. Mpu Sora memang tidak bermaksud terus menyerang.
Ia lebih mementingkan penjagaan Permaisuri. Serangan yang dilancarkan ialah
dengan mendesis mengeluarkan suara seribu lebah secara bersamaan. Kalau ada lebah
di sekitar hutan, pasti akan segera berdatangan. Mpu Sora bisa memakai mereka
sebagai pembantu untuk menggebrak lawan. Yang kedua, desisan yang berasal dari
jurus Bramara Bekasakan atau Lebah Hantu ini bisa mengganggu konsentrasi lawan.
Bagi yang tidak biasa, suara berdesis seolah di pinggir telinga bisa menyesatkan
pemusatan pikiran.
Yang tak diduga oleh Mpu Sora ialah justru Permaisuri Gayatri yang pertama
kali terkena!
Permaisuri Gayatri yang tadi mundur, berdiri limbung.
Tubuhnya bergoyang.
Kedua tangannya berusaha menutupi daun telinga, akan tetapi tubuhnya lebih
dulu jatuh ke tanah.
Bagi Mpu Sora memang tak ada pilihan lain. Kalau ia ragu, lawan yang begitu
tangguh bisa menjatuhkan dalam waktu sekejap. Dengan mendesiskan Bramara
Bekasakan ia melukai Permaisuri Gayatri. Akan tetapi Mpu Sora bisa
memperhitungkan bahwa nanti ia dapat menyembuhkan.
Lebih baik lawan diselesaikan lebih dulu.
Daripada tak ada yang bisa dirampungkan. Lawan tetap tak bisa dikuasai, dan
Permaisuri Gayatri malah bisa dikuasai.
Dua penyerang mengeluarkan suara dingin. Kemudian maju menerjang.
"Ambil Permaisuri Rajapatni."
Perintah dari penyerang di sisi kanan dituruti oleh penyerang sebelah kiri.
Akan tetapi, mana mungkin Mpu Sora melepaskan begitu saja. Justru desisannya
meninggi, dibarengi dengan kedua tangan ke arah penyerang kiri. Kaki kiri
mengencang ke belakang.
Inilah jurus Bramara Braja atau Lebah Topan.
Dalam sekejap Mpu Sora mengeluarkan semua jurus andalannya. Termasuk
Lebah Topan yang selama ini jarang diperlihatkan. Karena jurus ini meminta
pengerahan tenaga sangat besar. Terutama dari daerah pulung ati, bagian antara perut
dan dada. Memang pengerahan kekuatan dalam dari daerah itu sangat memeras, akan
tetapi Mpu Sora tak bisa berbuat lain.
Mpu Sora berharap bahwa Mpu Renteng bisa kembali membantu. Atau
setidaknya salah satu dari prajurit Dyah Palasir.
Mpu Sora mencelos.
Sama sekali tak menduga justru penyerang dari sebelah kanan yang menerobos
masuk dan langsung membopong Permaisuri Gayatri! Penyerang sebelah kiri
meloncat untuk menghindar. Penutup wajahnya teraup dan hancur. Bisa dibayangkan
kalau sengatan Mpu Sora sempat menyentuh kulit atau tulang.
"Lain kali kita bertemu lagi. Untuk melihat ilmu Bramara Brakithi."
Mpu Sora sama sekali tak peduli dicaci ilmunya sebagai jurus Lebah Semut.
Akan tetapi keselamatan Permaisuri lebih penting. Mpu Sora membalik gerakan
tubuhnya dan langsung menerjang ke arah penyerang yang tadi di sebelah kanan.
Serangan terbuka yang tak memedulikan kalau-kalau dibokong dari penyerang
sebelah kiri yang kini berada di bokongnya, di belakangnya.
Penyerang kanan yang kini membopong Permaisuri Gayatri malah
mengangsurkan tubuh yang digendongnya. Mpu Sora menarik serangannya dan saat
itu penyerangnya menghilang dalam gelap. Begitu tubuh Mpu Sora melayang, satu
bayangan lagi menyerbu ke arahnya. Mpu Sora menangkis dan bayangan itu jatuh ke
tanah dengan suara mengaduh yang berat.
Dyah Palasir!
Ternyata Dyah Palasir yang muncul dan terkena pukulan Mpu Sora. Ambruk
ke tanah dan dalam sekejap bagian yang terkena pukulan melepuh seperti kena
sengatan ratusan lebah di satu tempat.
Mpu Sora tak mau membuang waktu. Satu tutulan berikutnya, kakinya sudah
melayang. Akan tetapi tak ada bayangan di depannya. Hanya daun-daun yang
bergerak perlahan. Mpu Sora mencoba menajamkan pendengarannya, akan tetapi
tetap tak bisa menangkap suara yang lain.
Lenyap seketika.
Seperti ketika datang.
Mpu Sora menghela napas. Lalu dengan dua kali menutul tanah, kembali ke
pondokan. Mengeluarkan ramuan bunga untuk mengobati Dyah Palasir. Mpu Sora
sendiri langsung menemui Mpu Renteng yang masih menggeletak.
Mpu Sora menunduk.
"Permaisuri..."
"Kita kejar bersama."
Mpu Sora mengurut bagian leher. Tepat sekali serangan lawan. Ke arah bagian
yang paling lemah dan tak terlindungi dalam jurus Bujangga Andrawina. Bagian yang
juga sukar ditembus karena saat itu justru Mpu Renteng sedang menerjang.
Setelah diurut, Mpu Renteng mengembalikan tenaganya.
Mpu Sora memandang ke arah kegelapan.
"Kakang Sora, mari kita jemput Permaisuri ke dalam."
"Saya kira begitu lebih baik daripada kita menunggu."
"Kedua penyerang itu sungguh luar biasa. Saya bisa ditekuk seketika dalam
gebrakan pertama. Tapi kalaupun masih bisa memberikan nyawa yang tak berharga
ini, saya akan menyertai Kakang."
Dyah Palasir setengah merangkak mendekati.
"Hamba bersalah...."
Mpu Sora menggeleng lemah.
"Upasara Wulung sudah menguasai ilmu iblis. Semua prajurit seperti kena
tenung."
Mpu Renteng memandang Dyah Palasir.
Yang dipandang darahnya berdesir.
"Upasara?"
"Kalau bukan Upasara yang menguasai ilmu Jalan Iblis, siapa lagi?"
Utusan Tanpa Tuan
MPU SORA kembali menggeleng lembut.
Tangannya bergerak perlahan.
"Palasir, siagakan semua prajuritmu. Saya akan mencari Permaisuri ke dalam."
Tanpa menunggu jawaban, Mpu Sora melesat ke dalam hutan. Diikuti oleh
Mpu Renteng. Sekejap keduanya sudah menyusup sampai ke tengah. Seakan ingin
menjelajah, ingin membalik setiap daun, mencabut akar pepohonan.
"Kakang Sora..."
Mpu Sora memperlambat langkahnya.
"Benarkah Upasara yang menculik Permaisuri?"
"Maaf, saya tak sependapat dengan ksatria yang bermulut kotor."
Mpu Renteng bisa menangkap maksud ucapan Mpu Sora. Yang menilai Dyah
Palasir bermulut kotor dengan menyebutkan ilmu Jalan Iblis. Karena selama ini yang
dikenal sedang dipelajari Upasara Wulung adalah Jalan Budha. Bisa dimengerti kalau
Mpu Sora menjadi tersinggung. Akan tetapi tadi tetap bisa menahan diri untuk tidak
memarahi atau menunjukkan sikap kurang senang.
"Kakang Sora, saya sependapat dengan Kakang.
"Kalau Upasara, ia tak perlu memakai topeng klika. Kalau ingin bertemu
Permaisuri, tak perlu menculik."
"Itulah yang saya pikirkan.
"Rasanya bukan Upasara Wulung."
"Akan tetapi ilmunya sungguh luar biasa. Seakan bisa membaca tepat serangan
saya. Dan menyerang bagian yang terlemah. Seakan benar-benar ilmu yang bisa
menangkis segala serangan."
"Teka-teki yang sulit.
"Dari mana datangnya dan dengan cara apa masih sulit ditebak. Caranya
mengetahui serangan kita—bahkan bisa mengetahui jurus saya—itu pertanyaan yang
lain lagi.
"Teka-teki karena seperti bukan ilmu yang sama sekali tidak kita kenali.
"Apalagi tadi menyebut nama Permaisuri Rajapatni."
"Kalau begitu berarti orang dalam?"
"Entahlah."
"Kalau orang dalam, apa maksudnya, Kakang? Ingin menjatuhkan nama kita di
depan Baginda Raja?"
Mpu Sora mendongak.
Memandang daun-daun yang menutupi langit.
"Saat ini saat yang subur untuk mencurigai satu sama lain. Saya berharap kita
tidak masuk ke dalam perangkap pikiran yang nista, yang menjijikkan."
"Maafkan adikmu yang picik, Kakang."
"Jangan salah terima.
"Saya hanya tak ingin kita terseret arus pertikaian yang sekarang muncul. Saya
percaya sepenuhnya padamu. Kalau tidak, saya akan bertanya-tanya, apakah mungkin
seorang Mpu Renteng bisa dikalahkan dalam satu gebrakan? Sungguh tak masuk akal,
bukan? Sebaliknya, saya pun bisa dicurigai mengapa sampai gagal menjaga
Permaisuri."
"Kakang Sora sungguh bijak."
Mereka berdua meneruskan perjalanan dengan berdiam. Akan tetapi setelah
sekian lama berputar-putar, tak menemukan satu bayangan pun.
Akhirnya mereka berdua berhenti di tengah.
Mpu Sora bersila.
Mpu Renteng bersila di sebelahnya.
"Malam ini, kami berdua, Sora dan Renteng, datang mengganggu Perguruan
Awan. Kami menyadari kekeliruan ini, tetapi kami tak bisa berbuat lain. Mohon
penghuni bersedia meluangkan waktu menerima kami."
Perlahan suaranya, namun menggeletar.
Diam-diam Mpu Renteng memuji penguasaan tenaga dalam yang sempurna.
Lama menunggu.
Mpu Renteng memuji tata cara Mpu Sora yang tidak mengulangi sapaannya.
Sekali saja sudah cukup.
Hanya binatang malam yang menyambut gema.
Selebihnya sepi.
Baru kemudian terlihat sebuah bayangan mendekat.
Mpu Renteng sedikit bercekat, karena melihat bayangan yang aneh. Baru
setelah agak dekat, Mpu Renteng mengetahui bahwa yang tadi kelihatan aneh adalah
bayangan seorang yang masih kecil, masih pendek tubuhnya, hanya rambutnya yang
terurai beriap-riap.
Bayangan itu berhenti pada jarak lima tombak.
"Maafkan kami, Putri Ayu Tri."
Bayangan itu memang bayangan Gendhuk Tri. Yang tak banyak berubah
semenjak Mpu Sora mengenal dulu. Seorang gadis yang baru tumbuh. Dengan rambut
yang kini diurai.
"Huh, siapa menyuruh Paman memanggilku dengan sebutan Putri Ayu Tri?
Aku bukan putri, dan aku tidak ayu."
Mpu Sora mendongakkan wajahnya.
Tersenyum sebagai seorang bapak kepada anaknya.
"Syukur kamu bermurah hati mau datang dan masih mengenali kami."
"Siapa bilang aku bermurah hati? Kebetulan aku lewat dan kalian berteriak
seenak perut sendiri, seolah ini bukan rumah orang.
"Siapa bilang aku mengenali kalian? Bagiku semua orang Majapahit sama saja
bentuk wajahnya."
Mpu Sora berdiri.
"Sampaikan salamku, salam kami, kepada Anakmas Upasara."
"Baik. Sudah?"
Mpu Renteng tak begitu mengenal Gendhuk Tri. Dalam hati menebak-nebak
bagaimana mungkin anak gadis yang masih begini bocah—meskipun barangkali
usianya sudah dua belas atau tiga belas tahun—bisa begitu kurang ajar sikapnya.
Akan tetapi Mpu Renteng cukup kenyang pengalaman bahwa dalam dunia
silat akan lebih banyak lagi ditemui sifat-sifat yang tidak biasa.
"Yang kedua, kami ingin minta tolong mencari tahu di mana Permaisuri
Gayatri berada."
Gendhuk Tri membuang wajah.
Sedikit-banyak Mpu Sora tahu bahwa kalimat itu membuat Gendhuk Tri tidak
suka. Mpu Sora mengetahui bahwa hubungan Gendhuk Tri dan Upasara Wulung
sangat dekat sekali. Selalu bersama-sama. Hanya tertunda sementara sewaktu Upasara
bertemu dengan Gayatri. Sejak itu Gendhuk Tri tak pernah mau melirik sedikit pun.
Mpu Sora mengetahui bahwa ini semua seperti kecemburuan kecil-kecilan, yang biasa
terjadi pada gadis seusia Gendhuk Tri. Namun Mpu Sora tak bisa menemukan kata
lain.
"Cari saja sendiri.
"Masa senopati dari Majapahit yang kondang tak bisa?"
"Karena penculiknya lari ke dalam hutan, kami ingin minta izin."
"Tak perlu izin. Karena kalian juga ikut memiliki hutan ini. Aku cuma
numpang tidur, bukan memiliki."
Mpu Sora mengangguk.
"Terima kasih kami diizinkan...."
"Siapa bilang mengizinkan. Aku bilang tidak perlu izin."
Mpu Renteng mendehem kecil.
"Mau bicara, bicara saja langsung. Tidak usah pakai dehem kecil-kecilan."
"Namaku Mpu Renteng."
"Aku tidak peduli kamu empu atau bukan."
"Aku datang menjalankan tugas Baginda untuk mengantarkan Permaisuri
Gayatri menemui Upasara Wulung."
Gendhuk Tri tertawa.
Keras.
"Lalu, kalian berdua menuduh aku menculik Gayatri? Karena aku tak suka
padanya? Kalian jelas keliru. Kalau aku tak suka pada orang, aku sungguh tak peduli.
Mau nungging mau jumpalitan, tak ada urusannya denganku.
"Cukup puas?"
"Cukup," jawab Mpu Sora. "Bagaimana kalau aku menemui Anakmas Upasara?"
"Boleh saja. Cari sendiri. Aku masih banyak urusan."
Gendhuk Tri baru mau membalikkan tubuh ketika terdengar suara-suara di
kejauhan. Mpu Sora dan Mpu Renteng memiringkan kepala ke arah datangnya suara.
"Binatang kampungan mana yang bikin ribut ini semua? Ini saat buat tidur.
Bukan bikin perkara."
Belum habis suaranya, Gendhuk Tri sudah melesat masuk ke dalam hutan.
Selendangnya berkibaran, dan meninggalkan bau yang sangat amis.
"Racun yang mengeram dalam tubuh anak itu betul-betul ganas. Pada jarak
yang begini jauh, saya hampir tak tahan."
"Kita tengok ke sana."
Mpu Sora dan Mpu Renteng menuju ke arah datangnya suara.
Ke bagian yang dekat alun-alun.
Ternyata suara-suara itu berasal dari beberapa prajurit yang mengelilingi
seorang lelaki sudah berumur. Berada di tengah lingkaran, lelaki setengah umur itu
diikat kedua tangannya.
"Bunuh saja sekarang."
Mpu Sora lebih kaget lagi karena ternyata mengenali Dyah Pamasi ada di
antara para prajurit. Ini berarti ada utusan resmi dari Keraton. Karena Dyah Pamasi,
seperti juga Dyah Palasir, resminya bertugas di Keraton. Pasti tidak begitu saja
meninggalkan Keraton. Tapi siapa yang mengutus dan apa yang terjadi?
Taktik Menjebak Harimau
APA yang disaksikan Mpu Renteng dan Mpu Sora membuat mereka bertanya-tanya
dalam hati.
Kalau sampai para prajurit pilihan yang merupakan prajurit kawal Baginda
keluar dari Keraton, dan ini tanpa diketahui Mpu Sora yang juga ditugaskan ke
Perguruan Awan, pasti termasuk tugas yang wigati, sangat penting.
Lagi pula prajurit yang dipimpin Dyah Pamasi bergerak secara terangterangan.
Mereka bahkan menyalakan obor dan membuat suara gaduh.
Lelaki yang setengah umur itu dalam pandangan Mpu Renteng adalah
penduduk biasa. Bukan seorang ksatria atau jago silat. Cara bergerak ataupun
mengatur napas tanpa pengendalian.
Akan tetapi, meskipun penduduk biasa, Dyah Pamasi merasa perlu mengawasi
dan memberi komando secara langsung.
"Kakang Sora, apakah tidak lebih baik kita meneruskan mencari Permaisuri?"
"Agaknya ada perkembangan lain yang memaksa kita menyaksikan sebentar."
"Saya tidak mengerti, Kakang."
"Saya pun belum mengerti. Tetapi kalau rombongan Pamasi sekarang muncul,
pasti sejak lama berada di sekitar tempat ini. Nyatanya mereka sama sekali tidak
begitu peduli dengan hilangnya Permaisuri. Tak mungkin Palasir tidak bercerita.
Tetapi Pamasi lebih suka mengurusi orang tua yang bisa diselesaikan oleh satu
prajurit."
Mpu Renteng mengangguk dalam.
Kakinya bergerak maju.
"Pamasi..."
Dyah Pamasi memberi sembah hormat.
"Siapa nama lelaki tua ini, dan apa salahnya sehingga seluruh prajuritmu
menangkap?"
"Kami sedang melakukan perjalanan keliling melihat suasana keamanan."
Mpu Renteng mengernyitkan alisnya. Tugas pengamanan tentunya tidak
sejauh ini meninggalkan Keraton.
"Di desa Karang Asem kami diracuni oleh seorang ini yang mengaku bernama
Toikromo. Hukuman bagi pembunuh seorang prajurit adalah..."
Mendadak terdengar pekikan nyaring.
"Apa benar orang itu bernama Toikromo?"
Itu suara Gendhuk Tri.
Tubuhnya tetap kecil. Rambutnya terurai, kain kemben sebatas dada nampak
lebih jelas dalam cahaya obor. Selendang berkibar, seperti mengisyaratkan bisa
disabetkan setiap saat.
Pamasi menggerakkan tangannya, dan seketika itu juga semua prajurit
membentuk lingkaran Supit Urang, atau Sepit Udang.
Mpu Renteng mundur dua tindak.
Ternyata semua prajurit dalam keadaan siap tempur.
"Aku tanya apakah benar ia bernama Toikromo? Apa kalian semua tuli dan
bisu sekaligus?"
Dyah Pamasi memberi hormat kepada Mpu Renteng sekilas, lalu berbalik
menghadapi Gendhuk Tri.
"Siapa kamu dan apa urusanmu campur tangan?"
Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya, bagai seorang penari melakukan
seblakan. Kibasan yang lembut, enteng. Namun Dyah Pamasi merasakan getaran yang
kuat menerpanya. Dan juga bau amis busuk yang menyengat.
"Kamu sudah datang kemari, pasti sudah tahu siapa aku. Prajurit sebodoh
kamu untuk apa dipekerjakan?"
Gendhuk Tri tersenyum mengejek sambil melangkah maju. Dua prajurit yang
berada di depan berusaha menahan dengan tombaknya. Gendhuk Tri sama sekali tak
memperhatikan. Selendangnya mengibas ke arah dua ujung tombak, melibat, dan
dengan sentakan lewat pinggang, dua tombak itu melayang. Dua prajurit itu
tersungkur.
Dyah Pamasi mencabut kerisnya.
"Aku peringatkan kamu, jangan sampai menyentuh kulitku, atau tersentuh
kulitku. Malaikat dan segala hantu pun tak bisa menolongmu."
"Jangan memaksa aku bertindak kasar."
Mpu Sora meloncat maju.
Tangannya mengibas ke arah Dyah Pamasi.
Baik Mpu Sora maupun Mpu Renteng mengetahui bahwa Gendhuk Tri tidak
main-main. Apa yang dikatakan bisa terjadi. Menyentuh kulit Gendhuk Tri, apalagi
sampai melukai, bisa berarti maut. Karena saat itu pasti Gendhuk Tri sudah bisa
melukai. Dan dengan tubuh yang menyimpan segala jenis racun, Pamasi tak akan
tertolong jiwanya.
Mpu Sora tahu bahwa Gendhuk Tri memiliki racun dalam tubuhnya.
Sedemikian kuat racun itu sehingga sampai sekarang belum ada yang bisa
menyembuhkan. Konon racun itu terserap sendiri ke dalam tubuhnya, dari beberapa
tokoh silat yang tadinya menggunakan senjata racun. Termasuk dari Dewa Maut,
yang sekarang jadi tidak mempunyai tenaga lagi.
"Pamasi, di hutan ini tak boleh berbuat gegabah.
"Ini bukan tempat yang baik untuk melaksanakan hukuman. Lebih baik kita
mencari tempat lain."
Meskipun dongkol, Pamasi menghaturkan sembah sambil mengangguk.
"Tunggu, kamu belum menjawab pertanyaanku.
"Jawab dulu, apakah benar lelaki itu Toikromo?"
"Kalau iya, kamu mau apa?"
"Aku mau kamu minta maaf padanya, melepaskan sekarang juga, meminta
maaf lagi sambil menjilat kakinya. Kalau Pak Toikromo memberimu ampunan, aku
cuma mau potong telingamu. Kalau tidak, kamu tinggal pilih. Mati perlahan, atau
yang thek-sek, langsung."
"Kamu apanya Toikromo?"
"Aku baru mengenal sekarang."
"Kamu tahu kesalahannya?"
"Apa pun kesalahannya, lepaskan sekarang."
Mpu Sora jadi merasa serbasalah. Ia menyuruh Pamasi menahan diri, akan
tetapi ternyata Gendhuk Tri merangsek maju.
Kalau ia membiarkan saja, berarti membiarkan Pamasi menanggung malu. Biar
bagaimanapun, itu tak boleh terjadi. Pamasi adalah prajurit Keraton, sama dengan
dirinya.
Kalau ia melarang Gendhuk Tri, masalahnya akan berkembang ke arah
pertarungan. Gendhuk Tri pasti tak akan mundur.
Mpu Sora sama sekali tidak gentar menghadapi Gendhuk Tri. Walau tubuhnya
dipenuhi racun yang bisa menular, mana mungkin Mpu Sora menjadi jeri?
Mendadak terbersit sesuatu dalam pikirannya.
Dyah Pamasi agaknya sengaja memamerkan cara menghukum Toikromo.
Justru untuk mengundang perhatian penghuni Perguruan Awan. Agar mereka
muncul.
Jadi ini seperti taktik memasang "jebakan harimau". Seperti kebiasaan para raja
jika ingin berburu harimau. Yang menjadi umpan adalah manusia yang dimasukkan
ke dalam sangkar jebakan. Harimau akan datang mendekat, dan saat itulah ditikam
beramai-ramai. Memang dengan demikian mengorbankan nyawa manusia—bila
terlambat, akan tetapi memang diperlukan umpan yang berarti untuk tangkapan yang
lebih berarti.
Nah, kalau Toikromo ini sebagai umpan jebakan, tak sulit menduga siapa yang
dianggap "harimau". Pasti Upasara Wulung!
Taktik ini sesuai kalau diingat bahwa yang sekarang dikerahkan adalah prajurit
pilihan dari Keraton. Dan memang saat ini Baginda Raja ingin memancing Upasara
Wulung keluar dari sarangnya!
Kalau ini benar, Mpu Sora masih tetap bertanya-tanya. Siapa yang memasang
perangkap ini? Bukankah Baginda sudah memerintahkan pendekatan melalui
Permaisuri Gayatri?
Apakah Baginda menitahkan dua perintah sekaligus, agar terjamin
pelaksanaannya?
Masuk akal, walau bisa dipertanyakan.
Yang lebih pelik lagi jika rombongan Dyah Pamasi ini tidak mendapat
perintah langsung dari Baginda. Akan tetapi dari seseorang yang pastilah mempunyai
pengaruh besar terhadap Baginda. Seseorang yang dekat itu sangat mungkin sekali
Mpu Nambi, pemimpin prajurit telik sandi. Kalau benar begitu, Mpu Nambi memang
luar biasa.
Taktiknya memasang umpan Toikromo sangat berhasil!
Nyatanya Gendhuk Tri menjadi begitu geram.
Mpu Sora sejauh ini tidak mengetahui apa hubungan lelaki penduduk desa
biasa dengan Upasara Wulung. Dan nyatanya Mpu Nambi—kalau benar dia—
mempunyai perhitungan yang matang. Mampu memilih umpan yang terbaik.
Yang tak diketahui oleh Mpu Sora ialah bahwa sesungguhnya Gendhuk Tri juga tak
pernah mengenal Toikromo! Makanya tadi bertanya lebih dulu.
Meskipun tak mengenal, Gendhuk Tri mendengar hubungan antara Toikromo
dan Upasara Wulung. Dulu sewaktu Upasara Wulung menyusup ke Keraton Singasari,
yang baru saja dikuasai Raja Muda Jayakatwang, ditolong oleh penarik pedati
bernama Toikromo. Penduduk desa yang lugu ini tertarik kepada Upasara Wulung,
dan berniat mengambil menantu. Toikromo sama sekali tak mengetahui siapa
sesungguhnya pemuda yang ikut membonceng pedatinya.
Gendhuk Tri mendengar perkawinan putri Toikromo dengan Upasara
Wulung. Malah ketika Upasara Wulung menghilang, Gendhuk Tri menduga jadi
menikah.
Maka dengan disebutnya nama Toikromo cukup mempunyai arti bagi
Gendhuk Tri. Apalagi kini dalam keadaan bahaya.
Tembang Dini Hari
GENDHUK TRI bisa mudah mengenal Toikromo walau Pamasi hanya menyebutkan
satu kali.
Sepanjang hidupnya, Gendhuk Tri tak banyak mengenal nama orang. Boleh
dikatakan ia hanya berhubungan dengan sedikit nama dan sedikit orang. Sejak kecil,
bahkan sebelum ingat benar siapa orangtuanya, ia sudah dititipkan di dalam Keraton.
Untuk dilatih menjadi penari Keraton. Ia diculik dari Keraton oleh seseorang yang
sama sekali tak dikenalnya, dan baru kemudian menjadi gurunya. Yang baru
belakangan diketahuinya sedikit adalah asal-usul gurunya, yaitu Jagaddhita, salah
seorang penari Keraton Singasari, kekasih Baginda Raja Sri Kertanegara. Demikian
juga hubungannya dengan Mpu Raganata yang perkasa, yang ternyata juga gurunya.
Sejak itu Gendhuk Tri berkelana atau belajar ilmu silat. Sampai akhirnya
merasa mempunyai seorang kakak, seorang lelaki yang dikagumi, yaitu Upasara
Wulung.
Apa yang menjadi perhatian Upasara Wulung, dengan sendirinya menjadi
perhatian Gendhuk Tri.
Hanya karena adatnya sejak kecil tak banyak mengenal tata krama, sikapnya
berbeda dari kebanyakan orang pada usianya.
"Anak Tri," kata Mpu Sora perlahan. "Kita bisa membicarakan dengan tenang.
Saya menjamin bahwa Pak Toikromo tak akan menderita sedikit pun tanpa
sepengetahuanmu."
"Aku tak peduli. Aku mau ia dilepaskan sekarang juga."
"Sebentar lagi pagi datang. Kita bisa saling bicara dengan tenang."
"Oho, kok enak ya?
"Bukankah komplotan kalian ini yang bikin perkara malam hari?"
Mpu Renteng pun merasa Gendhuk Tri sangat kurang ajar!
Mpu Sora sudah merendahkan diri dan bicara dengan bahasa halus. Akan
tetapi ditanggapi dengan sikap seadanya, tanpa sopan santun sedikit juga, nada
bicaranya tetap sengit.
Kalau Mpu Sora menahan diri, bukan karena semata-mata jiwanya lebih
dewasa. Mpu Sora mengetahui bahwa Toikromo adalah umpan yang tak boleh
dilepaskan begitu saja. Tetapi menahan dengan membabi buta bisa menimbulkan
persoalan baru, yang memperkeruh suasana yang ada.
Kalau tidak hati-hati menangani, bisa bubrah semuanya.
Sejak menginjak Perguruan Awan, terjadi berbagai peristiwa saling susul.
Serangan dua pendekar yang menutupi wajahnya karena takut dikenali. Yang
ternyata mengetahui situasi dengan baik. Sehingga bisa menculik Permaisuri. Siapa
mereka, dan apa maksud mereka, masih tetap gelap.
Hal ini juga bisa dikaitkan dengan munculnya Dyah Pamasi dan tawanannya
yang bernama Toikromo. Pasti bukan kebetulan kalau Dyah Pamasi menemukan
Toikromo yang akan meracuni prajurit. Alasan yang kurang masuk akal anak kecil
sekalipun! Yang menjadi persoalan, siapa yang mengirim mereka? Kalau tadinya Mpu
Sora menduga ini semua dari Mpu Nambi, bisa diragukan sendiri. Kenapa bukan
menyuruh senopati yang lebih tangguh? Kenapa Dyah Pamasi? Bukankah Dyah
Palasir bisa ditugaskan khusus untuk ini daripada sekadar menemaninya?
Makin diurai, makin banyak tanda tanya.
"Di jagat ini ada begitu banyak nama Toikromo. Apakah ini benar-benar
Toikromo yang ingin Anak Tri bebaskan?"
Cerdik sekali Mpu Sora membuat Gendhuk Tri ragu.
"Mana aku tahu?"
"Kalau begitu..."
"Kalau begitu bebaskan dia lebih dulu."
Gendhuk Tri bertolak pinggang.
"Kalau ternyata keliru, ya ikat lagi."
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:21 pm

Episode 5

Tangan kiri Gendhuk Tri bergerak. Selendangnya mengibas. Dyah Pamasi berdiri
menghadang. Kibasan selendang ditangkis, dan ia mencabut keris dalam waktu yang
bersamaan.
Ujung selendang memang tertangkis, arahnya berubah. Akan tetapi, kembali
bergerak maju. Menutupi keris Pamasi. Dengan satu sentakan, Gendhuk Tri berusaha
membetot. Tubuhnya melayang ke atas, berputar di udara.
Pamasi tersedot, sehingga tubuhnya ikut melayang ke atas. Karena enggan
melepaskan pegangan kerisnya, sambil melayang tangan kirinya menyodok pinggang
Gendhuk Tri. Hanya saja karena tubuh Gendhuk Tri berbeda dari wanita dewasa,
jadinya tonjokan ke arah dada.
Gendhuk Tri menangkis dengan berusaha menggenggam tangan Pamasi.
Semua terjadi di tengah udara.
Mpu Renteng menahan napas. Ia secara khusus mempelajari memainkan ujung
kain dengan penyaluran tenaga. Tak jauh berbeda dari Gendhuk Tri. Untuk ini
memerlukan latihan yang cukup lama. Maka cukup mengherankan bahwa Gendhuk
Tri yang masih bocah ini bisa memainkan tenaga yang disalurkan lewat selendang.
Kalau Mpu Renteng mengetahui Gendhuk Tri termasuk murid Mpu Raganata,
barangkali rasa kagumnya bisa berkurang.
Enteng Gendhuk Tri melayang turun, dengan ujung selendang masih melibat
keris Pamasi. Seorang prajurit yang mencoba maju terpelanting kena sabetan tangan
Gendhuk Tri.
Wajahnya tergores luka.
Sebelum matanya bisa membelalak sempurna, ajalnya sudah sampai!
Racun dari segala racun!
Seakan merambat lebih cepat daripada aliran darah.
Pamasi nggragap juga. Ia mengetahui bahwa Gendhuk Tri menyimpan racun
dalam tubuhnya, akan tetapi di luar dugaannya bahwa racunnya begitu ganas.
Sudah barang tentu kalau yang terkena goresan Dyah Pamasi, racun itu tak
akan menjalar begitu cepat. Pamasi mempunyai daya tolak dari dalam yang lebih
kuat.
Tapi ini membuat Pamasi sempat goyah.
Mengetahui kekuatan di tangan Pamasi maju-mundur, Gendhuk Tri
mengentak sekali lagi.
"Lepas!"
Gendhuk Tri menyendal lagi, dan kali ini ketika tubuhnya mencelat ke atas,
keris itu benar-benar terlepas dari tangan Pamasi. Pamasi mengikuti tarikan dan
sekali lagi ikut melambung. Keris memang terlepas, akan tetapi ketika turun bisa
disambar kembali dengan sentuhan sikunya.
Begitu turun di tanah, Pamasi berdiri di depan Toikromo.
"Kamu punya racun sehingga aku tak berani menyentuh. Tapi kamu juga tak
berani menyentuhku."
"Kamu kira aku takut maju?"
Mpu Sora menahan napas.
Kalau sama-sama nekat, pertumpahan darah tak bisa dicegah. Tapi terlambat
untuk bertindak.
"Gendhuk, ke mana saja kamu main?"
Terdengar suara yang lembut, dingin, dan enak di telinga. Gendhuk Tri
tertawa.
"Ini ada permainan menarik, Pak Gundul.
"Ayolah kemari, daripada mengeram terus."
Yang dipanggil Pak Gundul memang benar-benar gundul, bertubuh gemuk
bulat. Tak sehelai rambut pun tumbuh. Pakaian yang dikenakan juga asal menempel
saja.
Mpu Sora dan Mpu Renteng memberi hormat dengan membungkukkan
badannya.
"Maaf, Kisanak Jaghana...."
"Saya yang seharusnya minta maaf. Maaf, saya tidak tahu kalau ada tamu
begini banyak. Gendhuk Tri, kemarilah sebentar."
"Tidak mau."
"Kalau aku yang meminta juga tidak mau?"
Sesosok bayangan tinggi besar datang. Gagah dengan rambut yang diikat kain
secara serampangan. Di tangannya tergenggam tongkat yang mengilat.
Mpu Sora mengangguk hormat.
Berarti dugaannya benar. Toikromo adalah umpan yang tepat untuk menjebak
keluarnya harimau. Kini boleh dikatakan sudah kelihatan ekor
dan kakinya.
Yang baru muncul adalah Galih Kaliki. Dan jika Galih Kaliki, Jaghana, serta
Gendhuk Tri sudah keluar, berarti semua tokoh penting yang mengeram di dalam
Perguruan Awan sudah terpancing. Tinggal Upasara Wulung! Yang pasti akan muncul
juga kalau suasana makin panas.
Meskipun tidak setuju cara Pamasi, diam-diam Mpu Sora mengakui bahwa
cara menekan Toikromo menyebabkan isi hutan keluar.
Mpu Renteng menghitung sendiri. Dari yang diketahui, mereka yang masih
berada di dalam adalah Wilanda, yang mempunyai ilmu terbang capung. Namun
beberapa saat lalu tenaga dalamnya terluka, sehingga tidak terlalu berbahaya. Juga
Dewa Maut, yang untuk sementara muncul atau tidak, tak akan mengubah situasi.
Juga Nyai Demang yang konon banyak membuat lelaki tergila-gila padanya.
"Di mana Kakang?"
"Sebentar lagi," jawab Jaghana.
"Masih ingin nembang sambil melihat matahari?"
"Gendhuk Tri, jangan bicara sembarangan."
"Sembarangan apanya? Bagi kalian Kakang adalah guru. Tapi bagiku Kakang
adalah Kakang.
"Kalian mau apa?"
Mpu Sora dan Mpu Renteng saling pandang secara tak sengaja.
Benar! Upasara Wulung bakal muncul bersama fajar.
Angin Asing, Angin Pesisir
UNTUK sementara keadaan menjadi lega.
Mpu Sora menduga bahwa jika fajar datang dan Upasara Wulung muncul,
segala persoalan bisa selesai.
Namun di saat embun masih mengental, yang muncul bukan Upasara Wulung.
Melainkan bayangan yang bergerak sangat cepat. Berupa rombongan berkuda.
Yang berada di depan seorang lelaki gagah, berdiri di atas punggung kuda.
Dengan umbul-umbul atau panji-panji berupa bendera kecil hitam bergambar kepala
kuda. Siapa lagi kalau bukan Adipati Lawe?
Mpu Sora mengenali panji pengenal keponakannya. Apalagi caranya
menunggang kuda hitam legam dengan berdiri tegak di atas punggung. Begitu
mendekat ke lapangan, tubuh gagah di atas pelana kuda itu melayang ke atas, dan
turun di tanah tidak menimbulkan suara. Tangannya yang kukuh dilingkari gelang
hitam diukir kepala kuda bergerak sangat lugas. Menyentak tali pengikat tangan dan
kaki Toikromo. Dan kaki kirinya bergerak seperti mengatur langkah, akan tetapi
sambil menendang tiang di mana Toikromo terikat.
Kayu yang berasal dari pohon itu mencelat ke atas, dan turun tepat di atas
kepala Adipati Lawe. Yang justru mengangkat tangannya. Tidak meninju atau
melemparkan ke atas, akan tetapi menyambut bagian di bawah siku. Kayu itu
mengeluarkan suara detakan, seakan ranting kering yang terinjak.
Mpu Sora sedikit berubah wajahnya.
Adipati Lawe tak pernah berubah. Atau malah bertambah. Sikapnya selalu
menggebrak pada pemunculannya pertama. Dibandingkan dengan setengah tahun
lalu, Adipati Lawe memperlihatkan kemajuan dalam mengolah tenaga. Batang pohon
menjadi retak hanya dengan diterima sebelah tangan. Keretakan batang pohon itu
disebabkan oleh derasnya jatuh ke bawah dan membentur benda keras. Bukan karena
Adipati Lawe sengaja memecahkan.
"Bagus. Bagus. Ini tontonan yang menarik."
Galih Kaliki berteriak nyaring. Tongkat galih asem dipegang erat-erat,
sementara kepalanya mengangguk-angguk. Tangannya menjadi gatal ingin menjajal.
Bisa dimengerti kalau Galih Kaliki yang bereaksi pertama.
Dalam banyak hal Galih Kaliki mempunyai persamaan. Ia juga berbadan tinggi
besar, kukuh, adatnya keras, kurang bisa basa-basi. Lebih dari itu, dasar-dasar ilmu
silatnya juga mengandalkan tenaga luar. Makanya seperti menemukan teman yang
sangat cocok dan diharapkan.
"Sungguh bukan lelaki jantan kalau berlindung di balik sifat perempuan. Kalau
ingin memaksa Upasara keluar dari balik semak, untuk apa menyiksa lelaki tua?"
Tandas bicaranya, keras nadanya. Adipati Lawe tak pernah mengatakan merah
kalau yang dimaksudkan merah muda. Tak akan menyebut ular sebagai cacing besar.
Juga tak akan memedulikan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tidak memberi sembah
hormat lebih dulu kepada pamannya atau kepada Mpu Renteng.
Langsung ke pokok persoalan.
"He, orang pesisir yang keringatnya bau asin, jangan buka mulut sembarangan.
Sejak kapan kamu meremehkan wanita? Kamu pikir kamu dilahirkan dari kuda
jantan?"
Gendhuk Tri yang tersinggung dengan perumpamaan sifat perempuan itu.
Adipati Lawe memandang ke arah Gendhuk Tri. Tangan kanannya teracung
ke angkasa.
"Tongkring!”
Pengikut yang datang bersama kaget. Ucapan tongkring dari Adipati Lawe
tidak mempunyai arti apa-apa, pun andai dicari dalam kamus yang paling kuno.
Ucapan ini menjadi pertanda bahwa sang adipati dari pesisir sedang meluapkan segala
emosinya. Dalam keadaan murka besar, kata itu pula yang terucapkan.
Kalau para pengikutnya menduga junjungannya murka besar, juga masuk akal.
Senopati perang yang garang, bagaimana mungkin dicerca oleh seorang bocah dengan
sindiran keringatnya bau asin, dan lahir dari seekor kuda jantan.
"Aku tidak bermaksud mengatai kamu, Gendhuk Tri. Maaf."
Mpu Renteng tak menduga bahwa Adipati Lawe bisa mengucapkan maaf
secara terbuka.
Tapi Gendhuk Tri melengos.
"Mana mungkin kamu berani mengatai aku? Kamu mengatai perempuan,
bukan aku. Kalau kamu berani mengatai diriku, aku paksa kamu menggendong
kudamu."
"Aha, rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara galak. Kamu baik-baik
saja selama ini?"
"Aku baik atau buruk, apa hubungannya dengan kamu?
"Jangan kira dengan membebaskan Toikromo kamu bisa sesongaran seenak
perutmu."
Dikatakan sesongaran atau mengobral kesombongan, Adipati Lawe malah
tertawa lebih keras. Wajahnya berseri menunjukkan rasa puas.
"Kalau begitu, aku ingin bertanya bagaimana kabarnya kakangmu?"
Gendhuk Tri terhibur dan merasa senang karena Upasara Wulung disebut
sebagai "kakangmu". Berarti dirinya dianggap sangat dekat. Kakangmu, bisa berarti
kakakmu, tetapi juga bisa berarti kakak istimewamu!
"Jauh-jauh dari pesisir kamu datang hanya untuk menanyakan kabar Kakang?"
Pertanyaan itu sebenarnya juga terucapkan Mpu Sora dalam hati. Kenapa
keponakannya ini mendadak menyusul ke Perguruan Awan? Angin apa yang
mendorongnya?
Meskipun Mpu Sora tahu keponakannya ini sering kali bertindak tanpa
berpikir panjang, akan tetapi pasti bukannya tanpa alasan kuat kalau sampai ia
muncul.
Karena ini berarti ia meninggalkan Kadipaten Tuban. Wilayah pesisir utara
yang penguasaannya diserahkan ke dalam tangannya. Adipati Lawe, yang sebenarnya
tetap lebih suka menyebut dirinya Ranggalawe, adalah patih amancanegara. Patih
yang mewakili Keraton Majapahit untuk satu daerah tertentu.
Kalau sampai menyempatkan diri muncul, ini berarti kabar mengenai Baginda
Raja akan mengangkat Upasara Wulung sebagai mahapatih sudah sejak lama
menyebar. Karena diperlukan waktu untuk datang ke Perguruan Awan. Diperlukan
waktu yang lebih lama daripada kalau berangkat dari Majapahit.
Apa sebenarnya maksud kedatangannya?
Mpu Sora sempat agak was was. Putra Aria Wiraraja yang satu ini secara lugas
dialiri darah Madura. Kalau ia tidak setuju dengan pengangkatan Upasara, ia akan
menyuarakan secara terbuka. Walau itu berarti menentang Baginda Raja.
Sungguh suatu sikap yang sangat berbahaya.
"Aku sengaja datang dari pesisir yang anginnya asin untuk menemui
kakangmu. Aku bukan datang untuk pelesir.
"Kalau aku datang untuk menemui kakangmu, aku tidak suka memaksa lewat
orang lain. Suruh kakangmu itu keluar atau hutan ini kuratakan jadi sawah."
"Bagus.
"Tapi bagaimana kalau kita bermain sebentar, Lawe? Rasanya sudah lama juga
aku tidak melatih tongkat bobrok ini. Sejak pertempuran dengan orang Tartar itu kita
tak pernah bertempur betulan. Selama ini hanya main-main saja."
"Aku terima tantanganmu, Galih."
"Bagus, di mana kamu pilih tempatnya?"
"Di sini juga pantas." Jaghana membungkuk.
"Masih banyak waktu untuk gebuk-gebukan. Kita ini jelek-jelek tuan rumah."
Wajah Galih Kaliki berubah kesal.
"Jaghana, kamu ini bagaimana. Aku kan tuan rumah yang baik. Ada ksatria
datang, aku suguhi ilmu.
"Lawe, kita cari tempat lain saja."
Kalau Galih Kaliki memanggil Jaghana dengan sebutan nama langsung, itu
berbeda dengan ketika memanggil Adipati Lawe. Dengan Adipati Lawe, Galih Kaliki
kira-kira seumur. Dengan Jaghana jelas kalah tua. Akan tetapi ini tidak menunjukkan
kekurangajaran. Ini lebih menunjukkan kesejajaran tingkat.
Bagi Mpu Sora, yang sedikit-banyak mendengar keanehan tata cara Perguruan
Awan, hal ini tidak aneh.
"Lawe, anakku," kata Mpu Sora lembut. "Kalau Kisanak Jaghana ingin
menerima kita, kenapa kita ribut-ribut?"
Adipati Lawe mengangguk hormat.
Mundur dua tindak.
"Maafkan kekurangajaran anak saya dan seluruh pengiringnya."
Jaghana ganti membalas membungkuk tubuhnya.
"Kisanak Mpu Sora, jangan membuat kami merasa makin sungkan. Kamilah
sesungguhnya yang lebih pantas meminta maaf."
Gendhuk Tri tertawa mengikik.
"Wah ini baru tata cara orang tua. Soal siapa yang bersalah saja rebutan." Lalu
membalik ke arah Adipati Lawe.
"He, Adipati Pesisir, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu
mencari Kakang?"
"Aku mau bilang agar kakangmu mau menjadi mahapatih."
Mpu Sora bernapas lega.
Temyata Adipati Lawe justru mempunyai jalan pikiran yang sama.
Tapi Gendhuk Tri malah membanting kakinya ke tanah.
"Kamu tak pantas meminta Kakang mau menerima atau tidak."
Senopati Pamalayu
GANTI Adipati Lawe yang membanting kakinya ke tanah.
Telapak kakinya amblas ke dalam sebatas kemiri. Meskipun tanah di
bawahnya bukan tanah keras, akan tetapi membuat kaki amblas hingga tungkai
memperlihatkan keunggulannya.
"Aku tak mau berdebat dengan perempuan.
"Mau atau tidak, aku tetap akan memaksanya."
Gendhuk Tri memandang ke langit.
Menganggap enteng tantangan Adipati Lawe.
"Dasar perempuan, cerewetnya tak bisa hilang."
Kedua tangan Gendhuk Tri mendekat ke arah selendang.
"Mungkin benar aku cerewet.
"Tetapi aku tetap lebih jantan daripada kamu. Aku tidak membawa rombongan
begitu banyak sehingga Keraton menjadi kosong. Kalianlah yang tak pernah berubah.
Prajurit Majapahit ternyata dari dulu suka main keroyokan.
"Kamu kira kami semua ini gentar?
"Kalau ingin merasakan cakaranku, silakan maju secara keroyokan."
Mpu Sora sadar bahwa kata-kata Gendhuk Tri ditujukan kepada rombongan
yang baru datang. Berbaris secara teratur dan langsung mengambil tempat yang
kosong, mengurung pertemuan.
Dalam cahaya yang mulai terang oleh alam, Mpu Sora tidak segera mengenali
bahwa ternyata rombongan prajurit yang baru datang memang prajurit dari
Majapahit. Yang dipimpin langsung oleh Senopati Anabrang!
Mpu Renteng yang mengenali pertama tak bisa menahan rasa herannya.
Bibirnya mengeluarkan desis perlahan. Ini benar-benar ganjil.
Begitu banyak rombongan dari Keraton. Pertama rombongannya sendiri
dengan Permaisuri Gayatri. Kedua rombongan Dyah Pamasi dengan tawanan
Toikromo. Kemudian disusul Adipati Lawe dengan prajurit yang datang dari pesisir.
Dan kini rombongan yang dipimpin Senopati Anabrang.
Jelas bahwa dirinya, Dyah Pamasi, maupun Senopati Anabrang tak mungkin
bergerak tanpa perintah yang datang dari atas. Ini berarti ada tugas.
Yang menjadi pertanyaan: Siapa yang menitahkan ini semua? Apakah juga
Baginda Raja? Kalau benar begitu, kenapa tidak menyatu sejak semula?
Dugaan Mpu Renteng membuat perasaannya menjadi kebat-kebit.
Baru sekarang ini begitu banyak tugas yang sama, akan tetapi ternyata tidak
saling mengetahui. Mpu Renteng bisa melihat wajah Senopati Anabrang yang heran
dan bertanya-tanya. Berarti ia juga tidak menduga.
Senopati Anabrang bukan sembarang senopati. Begitu banyak senopati pilihan,
akan tetapi Senopati Anabrang tetap mempunyai tempat tersendiri. Ia termasuk
panglima yang terhormat, dan disegani oleh Baginda Raja.
Senopati Anabrang dengan para prajurit pilihan pada masa Baginda Raja Sri
Kertanegara sudah menaklukkan tlatah Melayu. Bahkan ketika kembali membawa
dua putri ayu sebagai tanda kemenangan.
Senopati Anabrang pula yang kemudian menghaturkan dua putri ayu ke
hadapan Baginda Raja Kertanegara, sebagai tanda pengabdiannya. Sekaligus
pengakuan bahwa Baginda Raja Kertanegara adalah penerus tradisi besar dari Keraton
Singasari.
Pengakuan ini membuat kemenangan tersendiri bagi Baginda Raja. Hingga
Senopati Anabrang dan para prajuritnya mempunyai beberapa keistimewaan.
Senopati Anabrang tidak di bawah senopati atau juga adipati yang lain. Pangkatnya
sama dengan para adipati yang lain. Sama seperti patih yang lain. Hierarki
kekuasaannya di bawah garis langsung Baginda.
Akan tetapi, rasanya tidak mungkin kalau Baginda Raja mengirim beberapa
senopati secara sendiri-sendiri. Namun sebenarnya, lebih tidak mungkin lagi Senopati
Anabrang bergerak sendiri.
Kalau begini bisa berarti rombongan yang lain pun akan muncul. Rombongan
lain dari Keraton!
Dalam hati Mpu Renteng mulai curiga. Bibit kecurigaan yang ditepis oleh
kebijakan Mpu Sora ternyata tak hilang tuntas. Masih menyelinap dugaan bahwa Mpu
Nambi-lah yang mengatur semua ini. Karena hanya Mpu Nambi-lah yang bisa
berhubungan langsung dengan Baginda. Karena Mpu Nambi yang mengepalai prajurit
telik sandi, sehingga tahu tentang segala liku-liku keamanan dan ketertiban Keraton.
Andai benar Mpu Nambi yang mengatur, apa maksudnya? Apa maksud-nya
membiarkan Keraton kosong tak terjaga?
Mpu Renteng melirik Mpu Sora yang tegak bergeming. "Saya utusan dari
Keraton Majapahit, Mahisa Anabrang minta izin pemilik Perguruan Awan untuk
beristirahat. "Sungkem dan segala puji bagi para sesepuh."
Mpu Sora, Mpu Renteng, Adipati Lawe menjawab dengan membungkukkan
tubuh.
Cara Senopati Anabrang membawakan diri sangat tepat. Ia meminta izin
kepada Perguruan Awan, akan tetapi juga tidak menanggalkan rasa hormat kepada
adipati yang lain, yang secara kepangkatan sejajar dengan dirinya.
"Aku berikan izin membuat pondokan di sini, asal kamu serahkan perempuan
yang ayu, yang kulitnya putih, pada Galih Kaliki."
Jelas Gendhuk Tri berolok-olok.
Senopati Anabrang sama sekali tidak mengenal Gendhuk Tri. Sewaktu ia
berangkat ke Melayu, Gendhuk Tri barangkali masih calon penari. Maka kalimat
Gendhuk Tri membuatnya mengertakkan geraham.
Gendhuk Tri malah mendesis.
Mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya.
Mana mungkin Gendhuk Tri mempertimbangkan bahwa sebagai senopati yang
pernah menjelajah ke tanah seberang, adat Senopati Anabrang menjadi lebih keras
karena hantaman ombak dan badai.
"Tunggu. Aku tidak mau menerima. Bagiku hanya ada satu wanita. Dan aku
sudah, hampir, memiliki."
Senopati Anabrang yang tak mengerti duduk perkaranya jadi merasa
menghadapi manusia-manusia yang tak keruan jalan pikirannya. Tak terlalu lama
meninggalkan dusun kelahirannya, ternyata terjadi perubahan yang tak
terbayangkan!
Bukan hanya Keraton yang pindah ke Kediri, pindah lagi ke Singasari, dan kini
pindah lagi ke Majapahit. Akan tetapi juga manusia-manusia yang ditemui. Perasaan
asing ini wajar mengingat Senopati Anabrang banyak menghabiskan waktunya di
tlatah seberang yang jauh berbeda adat budayanya.
Mpu Renteng sendiri merasa bahwa ada dua arah yang bertentangan.
Satu pihak adalah pihaknya sendiri. Yang mengemban tugas Keraton sehingga
nampak tegang dengan satu urusan utama.
Di pihak lain, penghuni Perguruan Awan yang membicarakan masalah
pribadi. Ribut tak menentu, atau berdiam diri seperti Jaghana.
"Tak kunyana, Perguruan Awan yang mulia dan agung kini dihuni makhluk
yang rendah akal budinya."
"Cocok!" teriak Gendhuk Tri. "Termasuk kamu yang sekarang menjadi
penghuninya."
Sret.
Senopati Anabrang mencabut pedang panjang dari pinggang kiri dan kanan.
Kilatan yang terpantul membuktikan bahwa itu bukan sembarang pedang, dan
terawat dengan sempurna.
Bret.
Gendhuk Tri meloloskan selendangnya.
Matanya mengeluarkan sorot tantangan.
"Aku mau tahu, prajurit macam apa yang membawa panji Singasari ini."
Berkelebat bayangan selendang Gendhuk Tri, langsung menggulung kedua
pedang Senopati Anabrang. Yang dengan tenang dan dingin membiarkan begitu saja.
Baru ketika Gendhuk Tri mengerahkan tenaga, Senopati Anabrang menyentak keras.
Kedua pedangnya terlepas dari genggamannya. Akan tetapi arahnya lurus ke arah
dada Gendhuk Tri.
Suara serangan yang tiada duanya.
Dalam gebrakan pertama sudah menunjukkan kelasnya bahwa Baginda Raja
Sri Kertanegara tidak keliru memilihnya sebagai utusan.
Galih Kaliki mendecak.
Gendhuk Tri memakai cara lama dengan menjatuhkan tubuhnya. Akan tetapi
dengan demikian selendangnya terseret ke belakang karena terdorong oleh ayunan
pedang. Dan ketika Gendhuk Tri berusaha menarik, pedang itu membalik. Menusuk
dari arah belakang.
Semua terjadi dalam kecepatan tarikan selendang.
Gendhuk Tri menyadari bahaya dari bagian belakang. Karena tubuhnya berada
di tanah, gerakannya menjadi leluasa.
Saat itu Galih Kaliki, kalaupun ingin menolong telah terlambat.
Jaghana yang sejak tadi mengawasi, menghela napas berat.
Gendhuk Tri menggulung tubuhnya ke arah depan. Mengeluarkan semua
kemampuannya untuk menjadikan tubuhnya bagai kapas didera angin. Sehingga
bergerak bersama dengan pedang lawan.
Akan tetapi dengan demikian tubuhnya mengarah kepada Senopati Anabrang.
Yang dengan mudah bisa menghajar. Dengan pukulan tangan kosong pun, Gendhuk
Tri bisa menderita. Tusukan dua pedang dari belakang, dan pukulan dari depan.
Gendhuk Tri mengeluarkan tangannya, memeluk.
Gawat!
Darah Telah Tumpah
APA yang dilakukan Gendhuk Tri seakan tindakan nekat.
Tetapi siapa pun yang menyadari posisinya, tak bisa berbuat lain. Gawat
dijawab dengan gawat. Maut dijawab dengan maut.
Dengan memeluk lawan, Gendhuk Tri hanya mempunyai satu pilihan. Luka
berat bersama atau bahkan mati bersama!
Karena tusukan pedang yang terayun kencang dari belakang tak mungkin
dihindari. Pun dengan memeluk kencang Senopati Anabrang, tidak berarti serangan
pedang itu buyar. Hanya ia bisa balas menghancurkan.
Ilmu silat Gendhuk Tri tergolong ilmu silat berbahaya. Walaupun kelihatan
lembut elok bagai gerakan penari, namun jurus-jurusnya mengandung keampuhan
yang dalam. Bisa dimengerti karena jurus-jurus itu diciptakan langsung oleh Mpu
Raganata almarhum. Jawara kelas dunia.
Di tangan Gendhuk Tri yang miskin pertimbangan, ilmu itu menjadi sangat
telengas.
Ini bisa dimengerti, karena Gendhuk Tri tumbuh langsung dalam berbagai
pertempuran yang sama ganasnya. Gendhuk Tri menyaksikan betapa Dewa Maut
menjadi kehilangan seluruh tenaga dalamnya dan hidup bagai orang linglung.
Gendhuk Tri melihat bagaimana gurunya, Jagaddhita, terkubur hidup-hidup di dalam
Gua Lawang Sewu. Dan banyak pertempuran berdarah yang pada saat gebrakan sudah
melangkah ke titik antara mati dan hidup.
Ditambah lagi keadaan tubuh Gendhuk Tri yang lain dari para pendekar
lainnya. Gendhuk Tri secara tidak sengaja telah mengisap berbagai jenis racun nomor
satu. Baik racun dari Dewa Maut, maupun asap tubuh Pu'un dari Banten yang
terkubur di bawah tanah Gua Lawang Sewu. Dalam keadaan seperti ini, memang
setiap gerakannya berarti maut.
Ditambah dalam keadaan yang terdesak, Gendhuk Tri benar-benar
mengesankan serangan ganas untuk mati bersama tanpa penyesalan! Inilah yang
gawat!
Senopati Anabrang, yang kenyang pengalaman menghadapi saat-saat genting,
menyadari bahwa jiwanya terancam. Ibarat kata, nyawanya sudah bertengger di
ujung bibir. Satu langkah pendek berarti lenyap dari tubuhnya.
Adalah di luar dugaannya bahwa Gendhuk Tri akan menubruknya. Sebab pada
saat selendang terdorong ke belakang oleh sepasang pedang, Gendhuk Tri bisa
melepaskan saja selendangnya. Atau menahan dengan akibat selendangnya tertembus
dan sobek. Bukan menyendal balik.
Tapi itulah justru sifat Gendhuk Tri.
Sembrono kata-kata yang keluar dari bibirnya, ganas apa yang digerakkan
tangannya, maut tak membuatnya bertekuk lutut. Bagi Gendhuk Tri, lebih baik
punggungnya ditembus dua pedang daripada melepaskan selendangnya Atau
membiarkan selendangnya tersobek! Itu pantang.
Gendhuk Tri tak mengenal istilah kalah atau menyerah.
Mati lebih bermakna baginya.
Maka begitu keadaan mendesak, Gendhuk Tri menubruk Senopati Anabrang
dengan kedua tangan siap mencengkeram.
"Tongkring!”
Teriakan Adipati Lawe menunjukkan bahwa ia pun tak menduga akan
berakhir dengan serangan yang langsung meminta korban. Bagi Adipati Lawe soal
serangan maut bukan hal yang baru. Tetapi walau ia suka mengumbar tenaga, tetap
bukan begini caranya.
Dua gebrakan pertama sudah merupakan serangan akhir.
Yang namanya Gendhuk Tri benar-benar keras kepala luar-dalam, pikirnya
bingung.
Yang segera menggeser kakinya adalah Mpu Sora dan Jaghana. Keduanya siaga
untuk bergerak pertama jika ada sesuatu yang masih bisa ditolong keluar dari
kemelut.
Senopati Anabrang menggerung keras. Tonjokan tenaga ke depan diubah ke
samping. Sekuatnya dan sekenanya. Tubuh Gendhuk Tri oleng sedikit, namun
cengkeramannya sempat menggores leher dan dada.
Darah menetes.
Sekejap sudah menjadi berwarna biru kehitam-hitaman!
Gendhuk Tri sendiri tak terbebas begitu saja. Olengan tubuhnya membuat satu
pedang hanya menggores rambut dan daun telinganya. Yang satu lagi menyobek
pundaknya.
Tanah mulai terang.
Bekisar, ayam hutan, sudah berkokok, terbang dari pohon ke pohon.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:32 pm

Jaghana meloncat menyambut tubuh Gendhuk Tri. Dalam keadaan biasa,
Gendhuk Tri akan mengibaskan tubuh Jaghana. Sekarang ini pun berusaha begitu.
Akan tetapi tenaganya seperti tak bisa diatur. Saraf-saraf bagian tubuhnya sebelah kiri
menimbulkan rasa ngilu. Dengan mengertakkan gigi pun, Gendhuk Tri tetap tak bisa
menahan rasa sakit.
Luka itu cukup dalam, memutus beberapa urat dan bisa jadi mengenai tulang
pundak. Tulang yang menentukan seorang jago silat menggerakkan tangannya. Jika
tulang itu sampai patah atau tergores, akibatnya bisa cacat seumur hidup. Paling
ringan, Gendhuk Tri tak akan bisa memainkan tangannya sebelah kiri.
Ganas dan mengenaskan.
Senopati Anabrang sendiri merasa nyeri yang menggigit pada leher dan
pundaknya yang menjadi kaku. Bahwa dalam sekejap darahnya sendiri berubah
menjadi racun yang menghanguskan kulit dan daging, membuat semangatnya lepas.
Mpu Sora segera menjilat beberapa bagian tubuh Senopati Anabrang. Sebagai
seorang yang juga menggunakan jenis pukulan sengatan mengandung racun, Mpu
Sora tak segera berani memberikan obat penawar. Ia sendiri mampu menciptakan
pukulan yang mengandung sengatan lebah. Akan tetapi racun yang dihadapi ini dari
jenis yang lain sama sekali. Salah-salah bisa berakibat lebih gawat.
Tindakan Mpu Sora tepat sekali.
Andai Mpu Sora membubuhkan atau mengoleskan obat penawar seperti yang
dilakukan kepada Dyah Palasir, barangkali Senopati Anabrang tak tertolong lagi.
Senopati Anabrang sendiri langsung duduk. Memusatkan konsentrasi untuk
menghimpun tenaga batinnya. Untuk membendung menjalarnya rasa sakit dan
ambrolnya pemusatan pikiran.
Yang terakhir itu justru paling sulit dilakukan.
Karena secara tiba-tiba menyadari bahwa begitu mudah dikalahkan oleh
seorang bocah yang bahkan tak bisa menggelung rambutnya!
Ia adalah senopati utama. Panglima yang dipercaya Baginda Raja Singosari
yang gagah perkasa. Ia adalah panglima yang menaklukkan ombak laut dengan gagah,
yang masuk ke Melayu tanpa tergores kulit kehormatannya.
Betapa nista kalau hari ini harus ambruk di tangan Gendhuk Tri!
Gendhuk Tri tidak mempunyai beban bahwa ia seorang senopati atau tokoh
yang terhormat. Akan tetapi tetap masih merasa gondok karena pundaknya bisa
disobek, sebagian rambutnya terpotong.
Suasana berubah.
Mpu Sora dan Jaghana tidak terjun ke medan pertempuran dan menolong yang
terluka, akan tetapi Galih Kaliki mencekal tongkatnya dan mengayunkan ke udara.
Ini berarti tantangan.
Dan Galih Kaliki, walau bertubuh kasar dan geraknya tak terkendalikan, masih
tetap menunjukkan seorang ksatria. Jiwa ksatria itu yang menyebabkan ia memutar
tongkat galih asam di tengah udara. Sebagai pembuka. Dan tidak langsung
menyerang.
Adipati Lawe meraup dua tombak di kiri dan di kanan.
"Aku di sini, Galih."
"Bagus."
Tongkat Galih Kaliki mengincar Adipati Lawe. Keras gerakannya, mantap
pukulannya mengarah ke batok kepala. Adipati Lawe menyabetkan kedua tombaknya
untuk menyongsong.
Traak!
Dua tombak patah dan somplak menjadi beberapa bagian. Adipati Lawe tetap
maju mendesak. Empat pukulan dilepaskan secara berturut-turut, sementara kakinya
menyapu Galih Kaliki.
"Ini juga bagus!"
Galih Kaliki memutar tongkatnya turun. Ia mengadu benturan kaki, sambil
mematahkan serangan di atas dengan tongkatnya. Diam-diam Adipati Lawe memuji
kekuatan lawan. Tulang gares-nya, tulang lututnya, seperti membentur pelat baja.
Seakan membentur punggung pedang yang sangat tebal. Ia yang mengandalkan ilmu
keras, merasa menemukan lawan yang seimbang.
Namun karena tongkat lawan selalu mengarah ubun-ubunnya, Adipati Lawe
tak bisa menjajal kerasnya tulang kaki. Ia meloncat mundur, dan mulutnya bersuit
keras. Kuda hitam kesayangannya mendekat dan Adipati Lawe mengambil rantai
yang ujungnya dibanduli bola besi bulat.
Ini baru seimbang!
"Bagus."
Bertarung jarak dekat kurang menguntungkan Adipati Lawe yang bertangan
kosong, sementara Galih Kaliki membawa tongkat. Dengan senjata rantai yang
panjang dan bisa ditarik mundur atau terulur, Adipati Lawe menemukan dirinya.
Kalau ia mundur tadi, juga berarti kalah setindak.
Memegang rantai, Adipati Lawe kembali menggertak maju. Ini memang
senjata andalannya. Rantai ini disebut sendiri sebagai benang atau kata lain dari lawe.
Dan inilah asal nama sebutannya.
"Darah telah tumpah. Prajurit Majapahit, bersiaplah."
Itu aba-aba dari Mpu Nambi!
Berarti ia datang sendiri!
Memindah Gunung, Mewarnai Langit
KEHADIRAN Mpu Nambi mengubah kesiagaan seluruh prajurit Majapahit. Kalau
tadinya serba ragu karena tak ada yang memberi perintah, sekarang jelas.
Tadinya memang sempat bingung. Prajurit yang dibawa Dyah Pamasi pun ikut
terombang-ambing. Karena Dyah Pamasi tidak meneriakkan aba-aba. Dyah Pamasi
sendiri merasa kurang sreg, kalau ia berbuat lancang, karena di situ ada Mpu Sora dan
Mpu Renteng yang lebih tinggi jabatannya.
Maka dengan kalimat pendek, seluruh prajurit Majapahit bersiaga tanpa
kecuali. Satu aba-aba tambahan, mereka akan menggempur maju. Lautan api tak bakal
membuat mereka ngeri.
Prajurit Majapahit adalah prajurit pilihan. Prajurit yang lahir dari perjuangan
dan dibesarkan dalam medan pertempuran. Hampir semua yang berada di alun-alun
sekarang ini pernah mengalami pertumpahan darah. Kebersamaan, setia kawan,
terjelma dari perjalanan hidup dan nasib yang sama. Prajurit Majapahit tergembleng
dalam tradisi senasib-sepenanggungan.
"Darah telah tumpah. Prajurit Majapahit, bersiaplah," adalah komando yang
dulu sering diteriakkan.
Apa pun persoalan yang ada di antara mereka, kalau panggilan membela nama
baik Majapahit, hanya satu yang berada dalam batin. Membela kehormatan. Mati
sebagai prajurit sejati akan dijalani dengan semangat tinggi.
Mpu Sora menunduk.
Kembali kecemasan meremas-remas di sekujur pembuluh darahnya. Belum
lama ia menduga bahwa Mpu Nambi-lah yang mengatur berbagai rombongan. Sebagai
pemimpin bagian telik sandi, hal itu tentu memungkinkan.
Akan tetapi ternyata perkiraannya meleset!
Bukan Mpu Nambi yang mengatur semua ini.
Kalau ia yang mengatur, tak perlu muncul sendiri.
Mpu Sora cukup mengenal cara kerja telik sandi. Kalau ia menggunakan
tangan lain, jangan sampai tangan sendiri bergerak. Makin tidak dikenali
tindakannya, makin berhasil. Itu kunci gerak bagian telik sandi.
Akan tetapi sekarang ini justru secara terang-terangan Mpu Nambi tampil
sendiri.
Berarti keadaan memang memaksa ia keluar.
Seekor macan hanya akan keluar dari sarangnya pada pagi hari kalau hutan
terbakar.
Ini arti kehadiran Mpu Nambi saat ini.
"Membela nama dan kehormatan Keraton adalah cara berbakti yang terbaik.
Hari ini aku, Mpu Nambi, utusan resmi Baginda Raja, ingin menemui Upasara
Wulung.
"Aku datang dengan persiapan perang.
"Kalau tak bisa diajak bicara baik-baik, jangan salahkan kenapa rumput
berwarna merah."
Pongah sikapnya, jemawa kata-katanya.
Walau bibirnya memperlihatkan senyum, akan tetapi Mpu Nambi menarik
bibirnya ke bawah. Penuh kepercayaan diri dengan cara merendahkan lawan.
Adipati Lawe, yang tengah bertempur dengan Galih Kaliki, menarik
mundur "benangnya".
Hatinya boleh panas mendengar Mpu Nambi yang ternyata lebih sesongaran
darinya, nafsu bertempurnya boleh meninggi melawan Galih Kaliki, akan tetapi
ternyata Adipati Lawe tetap berjiwa prajurit. Begitu Mpu Nambi mengambil
kepemimpinan pada saat genting, serta-merta Adipati Lawe tunduk.
Jaghana menggendong Gendhuk Tri, melangkah tenang.
"Matahari telah datang. Segala telah terang. Mana yang pohon, mana yang
manusia."
"Aku tidak mengenal bahasa langit. Katakan apa maksud Paman Jaghana."
"Matahari telah datang. Segalanya telah terang. Senopati Majapahit bisa
melihat sendiri apakah kami menyembunyikan sesuatu."
"Kalau Paman Jaghana memilih jalan kekerasan, kami dibesarkan dengan cara
itu. Paman mengalami sendiri sewaktu bersama kami."
"Pun, andai bisa memilih, kami tak akan memilih apa-apa.
"Kalau hidup hanya sementara, kenapa merasa berat melepaskan yang ada
dalam genggaman?"
Sikap Jaghana jelas.
Tantangan Mpu Nambi tak akan ditolak!
Kepungan prajurit pilihan tak membuat Jaghana gentar. Tak membuatnya
lebih bersiap diri, atau berusaha meletakkan Gendhuk Tri di tempat yang lebih aman.
Tidak memberi aba-aba kepada Galih Kaliki untuk bersiaga.
Mpu Renteng tahu bahwa tindakan Jaghana sama sekali bukan didasarkan
pada kesombongan, atau menganggap enteng lawan. Juga bukan sikap takut tidak
melihat jalan keluar yang lain.
Apa yang ditunjukkan oleh Jaghana merupakan sikap dasar Perguruan Awan.
Mereka tak akan berdebat soal siapa benar siapa salah, siapa menang siapa bakal kalah.
Mereka tak akan menghindari bahaya yang datang, walau tidak mencari.
Kalau saat itu Mpu Nambi memerintahkan penyerangan, Jaghana masih akan
tetap menggendong Gendhuk Tri. Dan berusaha mempertahankan diri.
Mendadak Gendhuk Tri bergerak. Kepalanya miring. Sayup-sayup terdengar
tembang kidungan:
Kenapa harus memindah gunung,
kalau hanya mencari tempat bermenung
kenapa harus mewarnai langit
kalau hati lagi pahit
kenapa mengaduk tanah
kalau perasaan lagi gundah
biar saja air mengalir ke muara
karena ia tahu sumbernya
biar saja asap menemui awan
mereka dilahirkan berdampingan....
Semua yang berada di lapangan mendengar kidungan yang lirih. Bukan hanya
Gendhuk Tri. Akan tetapi bagi Gendhuk Tri, itu kidungan yang biasa ditembangkan
oleh Upasara pada saat fajar.
Kalau sekarang terdengar, rasanya tidak sesuai lagi. Karena sinar matahari
sudah terasakan.
Dan yang membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya ialah karena nada suara
kidungan itu berbeda. Gendhuk Tri tahu persis bahwa itu bukan kidungan Upasara
Wulung.
Akan tetapi siapa yang bisa begitu fasih mengucapkan?
Kalau tidak dalam keadaan terluka dan susah bergerak, Gendhuk Tri sudah
akan mencaci habis.
Tapi Gendhuk Tri juga merasa bahwa Jaghana yang menggendongnya
bergetar.
"Akhirnya kamu datang juga!" teriak Mpu Nambi.
Namun sekejap kemudian teriakan kesombongannya berubah. Yang mendekat
ternyata sesosok tubuh yang wajahnya tertutup oleh klika.
"Klikamuka," terdengar Dyah Palasir mendesis.
Mpu Renteng melirik Mpu Sora. Benar, yang muncul ini adalah Klikamuka
yang menculik Permaisuri Gayatri.
Hanya kini muncul sendirian.
Mpu Sora mengenali sebagai penyerang yang muncul dari sebelah kanan. Mpu
Sora membalas lirikan Mpu Renteng. Bukan karena kini mengenali penculik
Permaisuri, melainkan karena desisan Dyah Palasir.
Ini berarti Dyah Palasir pernah mendengar, mengenal, atau mengetahui
Klikamuka. Sesuatu yang sama sekali tak terucapkan. Mpu Sora jadi ingat sewaktu
akan mengejar Klikamuka, tubuhnya bertabrakan dengan Dyah Palasir.
Kalau tadinya menduga ini terjadi tanpa sengaja, sekarang pikirannya berubah.
Bukan tidak mungkin Dyah Palasir sengaja memberi kesempatan kepada Klikamuka.
Namun tetap ruwet.
Kalau benar begitu, apa hubungan Klikamuka dengan Dyah Palasir? Atau lebih
jauh lagi dengan Keraton? Bukankah Mpu Nambi yang merupakan pimpinan telik
sandi pun masih menduga-duga siapa yang muncul?
Klikamuka muncul dari arah matahari terbit.
Wajahnya tertutup oleh sinar dari belakang.
"Aku mendengar Keraton baru dibangkitkan. Tembok bata disusun. Aku
mendengar para ksatria berbagi pangkat dan kemewahan.
"Aku mendengar di tanah itu tumbuh pohon kelapa berjajar dari pantai ke
pantai.
"Tapi apa yang kulihat hanyalah klendo."
Dengan tajam Klikamuka mengumpamakan yang hadir bukan buah kelapa,
melainkan hanya ampas kelapa yang telah diperas minyaknya!
Mpu Nambi boleh membanggakan diri karena bisa mempermainkan kalimat,
akan tetapi Klikamuka ternyata lebih cerdik.
"Kalian datang jauh-jauh dari Keraton hanya membuang keringat yang
mengotori langit. Jadi air pun membuat rumput tak berwarna hijau. Untuk apa
mencari Upasara dengan cara seperti ini?
"Untuk apa kalian merepotkan diri dengan anak muda yang merasa sakti
ketika bersembunyi? Yang merasa menjadi kura-kura ketika melindungi kepalanya?
Ini titipan dari Rajapatni."
APA yang dilakukan Klikamuka benar-benar telengas.
Dengan mengayunkan tangannya, dua buah cundhuk atau hiasan rambut
Permaisuri Rajapatni menancap di jidat salah seorang prajurit yang tak
sempat menjerit.
"Itu milik Permaisuri Rajapatni. Bagaimana bisa dibuang sembarangan?”
Belum habis kalimatnya, Klikamuka menarik tangannya. Tanpa menyentuh
prajurit yang rubuh ke tanah, cundhuk itu kembali ke tangannya. Bagian yang kena
darah merah dan titik-titik putih dibersihkan dengan telapak
tangan.
Suatu pertunjukan yang gila-gilaan. Tetapi juga mencengangkan.
Mpu Sora dan Mpu Renteng sudah menjajal kelihaian Klikamuka. Walau Mpu
Sora dan Mpu Renteng berbeda dalam menilai lawan, akan tetapi kesan yang bisa
sama ialah bahwa Klikamuka memang sangat luar biasa. Mpu Renteng bisa digebrak
satu kali dan tengkuknya kena. Mpu Sora kena terpancing dan dikenali jurus
andalannya.
Kini mendemonstrasikan tenaga dalam yang hebat. Kalau hanya melemparkan
cundhuk hingga menancap di jidat, bukanlah sesuatu yang istimewa. Akan tetapi bisa
menarik kembali tanpa menyentuh, itu baru pengendalian yang luar biasa. Menurut
cerita, ilmu yang mempergunakan udara serta angin sebagai tenaga penarik hanya
dimiliki mereka yang sudah mumpuni, yang sudah betul-betul menguasai secara
sempurna. Hingga berjalan di atas air pun bukan persoalan berarti.
Itu yang baru dipamerkan oleh Klikamuka.
Bagi Jaghana, apa yang lebih mengejutkan lagi ialah bahwa Klikamuka bisa
menghafal kidungan Tumbal Bantala Parwa, atau Kitab Penolak Bumi. Sejauh ini tak
ada yang benar-benar bisa memiliki atau mendapatkan kitab tersebut.
Upasara Wulung dulu secara tidak langsung mendapatkan dari Kawung Sen
yang mencuri dari Ugrawe. Kini keduanya sudah tidak ada, sehingga tak bisa dilacak
siapa saja yang pernah mengenal atau mempelajari kitab rahasia tersebut.
Maka cukup mengherankan bahwa Klikamuka, yang selama ini tak dikenal,
begitu muncul sudah menunjukkan bagian-bagian yang penting. Dari gaya bicara
mengenai "bukan kelapa melainkan ampas", jelas menunjukkan bahwa Klikamuka
pernah mempelajari.
Jaghana sedikit-banyak mengetahui, karena kitab itu sebetulnya merupakan
kitab babon. Atau induk segala kitab yang sekarang dipakai sebagai pedoman untuk
perkembangan ilmu silat.
Memang Tumbal Bantala Parwa bukan satu-satunya. Bahkan dari namanya
bisa diketahui bahwa sebenarnya telah ada Kitab Bumi, atau Bantala Parwa. Karena
Tumbal Bantala Parwa diciptakan secara khusus untuk melawan ajaran di dalam Kitab
Bumi yang dianggap sangat berbahaya.
Kitab ketiga adalah yang paling dikenal luas, yaitu Dwidasa Nujum Kartika
atau Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Kitab ini paling dikenal karena secara jelas
menggambarkan cara-cara menyerang, memukul, dan menjatuhkan lawan,
berdasarkan gerakan-gerakan bintang di langit. Dwidasa Nujum Kartika lebih
menarik bagi para ksatria, terutama karena berisi petunjuk-petunjuk yang langsung
bisa dilatih.
Ini berbeda dari Tumbal Bantala Parwa yang isinya justru hanya kidungan,
tembang yang tidak secara langsung berhubungan dengan gerakan atau jurus tertentu.
Tidak ada petunjuk bagaimana menggerakkan atau menahan kaki, tangan, otot, atau
mempergunakan senjata. Tidak juga cara bagaimana mengatur pernapasan, sesuatu
yang selalu ada pada semua kitab silat!
Namun Tumbal Bantala Parwa banyak dicari para ksatria dari segala penjuru
kiblat. Justru karena kitab ini konon mempunyai persamaan dengan kitab-kitab yang
ada di belahan dunia lain. Bagian-bagian tertentu dari kitab ini banyak persamaannya
dengan yang berasal dari India, yang dikenal dengan ilmu Tepukan Satu Tangan,
sementara di belahan negeri Tartar dikenal dengan ilmu Jalan Budha.
Bagaimana sebuah kitab yang berisi tembang bisa menunjukkan persamaan
dari berbagai penjuru budaya yang saling berbeda, Hindu, Budha, tak bisa diterangkan
oleh mereka yang pernah mendengar. Hanya saja ada persamaan pendapat, barangkali
pada masa yang lalu, berasal dari sebuah kitab yang sama sebagai sumber utama.
Sehingga sekalipun sudah menyebar jauh dan muncul dengan nama yang berbeda
bagai langit dengan bumi, intinya tetap sama.
Sebagai pengikut setia dan lama Perguruan Awan, Jaghana secara langsung
mendengar sendiri dari Eyang Sepuh. Ia mendengar bahwa oleh Eyang Sepuh
beberapa ilmu dari Tumbal Bantala Parwa dinamakan ilmu Tepukan Satu Tangan,
yang menghasilkan gema suara lebih keras, lebih merdu, dari tepukan dua tangan.
Hanya saja di masa masih mengajar secara langsung, Eyang Sepuh sendiri tidak
berminat untuk menurunkan apa yang dipelajari.
"Ini bukan ilmu yang bisa dipelajari setengah-setengah, atau sepertiga, atau
bahkan kurang dari satu kalimat pun. Tetapi begitu kita mempelajari sampai akhir,
kita akan menjadi tumbal. Kita harus rela mengorbankan segalanya untuk bukan apaapa.
"Tepukan Satu Tangan bisa terdengar tanpa suara, bagai cahaya tanpa dilihat,
bagai rasa tanpa dikecap, tanpa disentuh, bagai ada walau sebenarnya tak ada, tapi
ketika diadakan, menjadi dusta. Aku tidak berharap kalian semua melatihnya, karena
cukup aku sendiri yang menjadi tumbal bumi?
Itu kalimat terakhir Eyang Sepuh sebelum akhirnya lenyap tanpa bekas. Dan
sejak itu tak ada seorang pun yang berani mengaku bertemu Eyang Sepuh.
Maka aneh kalau sekarang Klikamuka bisa menghafal dengan enteng.
"Kamu kira kami takut padamu?
"Aku tahu kamu Upasara Wulung yang sedang menyembunyikan diri."
Klikamuka mengeluarkan tawa pendek.
Andai tanpa penutup wajah, barangkali tawa itu nadanya seperti Upasara
Wulung.
Kini Gendhuk Tri pun bimbang. Kalau tadi kidungan terdengar sumbang,
bukan karena Klikamuka tak bisa menembang dengan baik. Melainkan karena getaran
suaranya tertahan oleh kulit kayu.
"Apa yang dikatakan seseorang, selalu mengenai dirinya. Karena kamu biasa
bersembunyi, maka kamu juga menuduh orang lain menyembunyikan sesuatu.
"Apa untungnya mencurigai telik sandi"
Mpu Nambi maju selangkah.
Tubuhnya berdiri gagah.
"Klikamuka, sungguh aku tak mengenalmu. Dan kamu mengenaliku dengan
baik. Katakan terus terang apa maumu."
"Hmm, kalian semua tak berterus terang.
"Bagaimana memaksa aku berterus terang? Aku berdiri di tempat terang,
kalian semua bisa melihatku."
"Bagus, bagus. Aku mulai menyukai permainan ini," kata Galih Kaliki.
"Kamu tak akan mengerti.
"Karena kamu hanya mengerti satu permainan. Yaitu menyanjung Nyai
Demang. Yang memang wanita luar biasa. Banyak lelaki membuktikan kehebatan
Nyai Demang."
Cara menghina yang membuat Galih Kaliki menyambar tongkatnya.
"Berputar ke atas tidak mengarah pundak, pastilah ubun-ubun. Menyerang
ubun-ubun dengan berputar, pastilah ubun-ubun. Tongkat berat, ubun-ubun lunak.
Tenaga di ujung, pastilah ubun-ubun. Itulah cara mengolah Sekar Sinom."
Galih Kaliki melengak.
"Dewa jagat.
"Aku sendiri tak tahu bahwa ini harus begini dan bernama begini. Dari mana
kamu bisa mengetahuinya?"
Apa yang dikatakan Galih Kaliki memang senyatanya. Ia selalu jujur dalam
menghadapi orang.
"Sekar Sinom tak banyak berguna pada saat jurus pertama kamu mainkan. Inti
tenaga jurus ini adalah tenaga seperti yang dimiliki biji asam yang lepas dari kulit
buahnya. Berarti itu tenaga yang dipaksa. Kalau kamu mempergunakan pada jurus
ketiga, tenaga akan luar biasa. Kalau tidak, dan aku akan menghancurkan ubunubunmu,
tinggal membalik arah tongkatmu.
"Seharusnya justru tidak mempergunakan tongkat, karena kemampuannya
masih cethek, masih dangkal. Kamu belum bisa mempergunakan tongkat sebagai
bagian dari tangan."
Klikamuka berdehem kecil.
"Bagus, bagus. Aku perlu belajar apa lagi?"
Klikamuka menggeleng.
Tubuhnya berbalik.
"Belajar menjadi pengabdi yang baik. Tongkat atau lawe bukan tangan yang
baik."
"Tongkring?"
Adipati Lawe menjerit keras.
Ia yang merasa tersindir. Bukan karena sebutan lawe, akan tetapi dikaitkan
dengan "pengabdian yang baik". Bukankah itu sama dengan menabok mukanya dan
mengatakan ia bukan pengabdi Keraton yang baik? Yang meninggalkan kadipaten
tanpa izin untuk datang ke Perguruan Awan?
Siapa gerangan Klikamuka sebenarnya? Yang tahu seluk-beluk jurus ilmu silat,
mengenai Keraton, seperti mengenali kakinya?
Kidung Pamungkas
KLIKAMUKA menjauh, tidak memedulikan Adipati Lawe sedikit pun.
"Aku tak bisa melayani kalian satu per satu.
"Hanya ketahuilah bahwa sebentar lagi matahari tambah tinggi. Bumi
Majapahit akan makin panas karena ternyata kesetiaan kalian semua adalah kesetiaan
pamrih, kesetiaan karena mengharapkan sesuatu yang rendah.
"Untuk apa kalian semua, para senopati yang tadinya prajurit biasa, sekarang
meributkan siapa yang akan menjadi mahapatih? Kenapa lalu menjadi masalah hidup
dan mati? Sehingga kalian semua merasa bisa tegak berdiri kalau Upasara yang
diangkat? Kalian semua tak ada yang merasa dikalahkan?
"Betapa piciknya kalian semua, para senopati terkemuka.
"Betapa kelirunya kalian menganggap Upasara Wulung sebagai senopati yang
hebat. Upasara tak lebih dari sebuah upa, setitik nasi.
"Ia merasa jago dan tak tergoyahkan, meskipun seorang Toikromo yang pernah
menyelamatkan hampir saja mati terbunuh sia-sia. Meskipun seorang permaisuri yang
dicintai hilang tanpa bekas.
"Upasara Wulung tepat sekali disebut Senopati Pamungkas. Bukan senopati
yang menyelesaikan perkara, akan tetapi seorang senopati yang telah berakhir.
"Ia tak akan peduli bumi yang diinjak dan didiami menjadi bara atau lumpur,
asal ilmunya tegak menjulang langit.
"Nah, apakah kalian tidak melihat ini?"
Klikamuka berjalan. Tangannya mengambil sebatang tombak yang patah.
Dengan gerakan lunak, patahan tombak itu disambitkan ke arah pohon besar.
Amblas tak terlihat ujungnya.
Di mata Mpu Renteng, segala apa yang dilakukan oleh Klikamuka serba luar
biasa. Segala apa yang dikatakan Klikamuka serba tak terduga. Akan tetapi ia tak
membiarkan pergi begitu saja.
"Kisanak Klikamuka, antara kita berdua masih ada urusan yang belum
diselesaikan."
"Lupakan saja, kalau yang dimaksudkan Permaisuri Rajapatni. Tak ada yang
akan menangisinya. Baginda Raja juga tidak, karena masih ada tiga saudara
perempuan Rajapatni yang tak kalah ayunya. Masih ada dua permaisuri baru dari
tlatah Melayu.
"Kenapa kamu yang repot?"
"Tugas adalah tugas. Berbakti adalah bertanggung jawab."
Klikamuka tertawa.
"Tak dinyana, di antara sekian banyak kadal yang melata, ada yang masih
memiliki jiwa ksatria."
"Kembalikan Permaisuri!"
"Apa ada gunanya? Ilmu Lebah Bingung temanmu itu telah menyengsarakan."
Mpu Sora bergerak maju.
"Dosaku tak bisa dihapus. Aku telah berbuat salah. Akan tetapi kalau Kisanak
mau berbaik hati..."
"Kalau tidak, mau apa?"
Klikamuka meloncat mengambil tongkat Dyah Palasir. Dengan mengertakkan
geraham, bagian depan diremas. Bagai adonan lumpur di tangan Klikamuka.
Tanpa terasa semua prajurit mundur satu tindak.
Klikamuka membuang potongan tombak ke dekat Mpu Sora.
"Kalau tidak bisa menemukan Permaisuri Rajapatni, kamu mau bunuh diri?
Pakai kayu, jangan pakai besi."
Kini Mpu Nambi-lah yang nggragap.
Kalau tadi ia menduga Klikamuka adalah Upasara Wulung, kini dugaannya
diakui keliru jauh. Karena Klikamuka mengetahui perihal intrik-intrik Keraton.
Secara gamblang diteriakkan mengenai persaingan di antara para adipati, di antara
para patih.
Mpu Nambi merasa malu.
Justru sebagai pimpinan prajurit telik sandi, ia sama sekali tak mengetahui
sedikit pun tentang Klikamuka. Tak pernah mengetahui bahwa di dalam wilayahnya
ada seorang tokoh yang benar-benar luar biasa.
Mendadak Klikamuka berhenti.
Tubuhnya berbalik.
Gendhuk Tri berusaha lepas dari Jaghana.
Dari tengah hutan muncul dua bayangan yang segera bisa dikenali. Yang satu,
dengan cara meloncat enteng adalah Wilanda. Sedang yang di sebelahnya berjalan
mendampingi tenang, walau tidak kelihatan menggerakkan kakinya.
"Kakang!"
Gendhuk Tri tak bisa menahan dirinya.
Memang yang muncul adalah Upasara Wulung.
Mpu Nambi menggigit bibirnya. Tak lebih dari setahun, atau malah setengah
tahun, ia tak berjumpa dengan Upasara Wulung. Baru sekarang ini bisa melihat lebih
jelas.
Masih tetap biasa.
Seorang lelaki, memperlihatkan usia muda, dengan dada yang bidang tapi
kulitnya sangat lembut. Pandangan matanya tajam. Hanya rambut yang disanggul
tanpa ikat kepala memberi kesan lebih tua.
Itulah Upasara Wulung!
Tidak nampak aneh dan luar biasa. Tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa
kini ia tengah menguasai ilmu yang paling dicari-cari. Sikapnya sangat sederhana,
tidak seperti Adipati Lawe yang meloncat turun dari kuda, tidak seperti Klikamuka
yang menutupi wajahnya.
Upasara Wulung tak beda dengan Dyah Pamasi atau Dyah Palasir atau bahkan
para prajurit!
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:33 pm

"Ke mana saja kamu ini?"
Teguran Galih Kaliki lebih memperlihatkan hubungan seorang kakak dengan
adiknya. Walau secara umum diketahui Upasara Wulung menjadi pemimpin
Perguruan Awan, namun tata cara guru-murid tidak mengikat sama sekali.
"Menunggu matahari, Kakang Galih," jawab Upasara sambil memandang
sekeliling.
Lalu menunduk memberi hormat yang dalam, menyembah.
"Kehormatan besar bagi pohon dan isinya, hari ini para pembesar Majapahit
yang agung berkenan menginjakkan kakinya kemari.
"Maafkan, kami tak biasa menerima tetamu. Dan mungkin juga tak akan
terbiasa."
Diam-diam Adipati Lawe terkesan oleh sikap Upasara yang biasa-biasa. Jauh
dari bayangannya bahwa yang ditemui adalah Upasara yang menjadi aneh, menjadi
serba rahasia.
Ternyata biasa-biasa.
"Anakmas Upasara," kata Mpu Sora lembut. "Sejak kita bertemu pertama kali,
kami selalu membuatmu repot. Sungguh ini bukan cara persahabatan yang baik.
"Tetapi agaknya memang Anakmas yang ditakdirkan Dewa untuk berkorban
bagi kami semua.
"Rasanya kami tak perlu mengulang, bahwa kami secara sendiri-sendiri dan
bersama-sama mengemban dawuh Baginda Raja. Mengiringkan Anakmas menghadap
Baginda Raja."
Upasara mendongak.
"Maafkan, para senopati agung.
"Baru saja saya bersama Paman Wilanda menyaksikan matahari terbit.
Anugerah Dewa Mahaagung yang menciptakan keindahan abadi tanpa merusak yang
disinari.
"Saya tak bisa sowan.”
Mpu Nambi mengangkat tangan kanannya. Bersama dengan kibasan tangan,
mendadak semua prajurit kembali mengambil posisi mengurung. Tak ada yang
ketinggalan.
"Saya tahu saya bersalah.
"Akan tetapi saya tak ingin merusak ketenteraman yang ada. Tak ingin
mengotori kursi Keraton.
"Tadi saya berbincang dengan Paman Wilanda, bekas senopati Singasari yang
kini berdiam di tempat yang sangat membahagiakan ini.
"Paman Wilanda tak diganggu untuk kembali bertugas di Keraton, karena kini
tak mempunyai tenaga dalam dan kemampuan bersilat. Hanya bisa berlari-lari kecil.
"Saya sudah memutuskan akan mengikuti jejak Paman Wilanda."
Seluruh lapangan menjadi sunyi.
Klikamuka nampak menahan dadanya yang naik-turun.
Mpu Nambi nampak sangat tegang.
Jaghana menunduk lesu.
Agaknya kearifannya yang membuat paling cepat menangkap maksud Upasara.
Wilanda berjongkok, seperti tak kuasa menahan guncangan hatinya.
"Apa yang diharapkan dari saya selama ini adalah anggapan bahwa saya
mempunyai dan menguasai ilmu Tepukan Satu Tangan. Ada benarnya. Maka dengan
ini saya akan kembalikan semua yang ada dalam diri saya.
"Sebagian dari kitab-kitab itu ada di sini."
Upasara membuka buntalan yang dibawa Wilanda.
"Sebagian berada dalam tubuh saya.
"Keduanya akan saya serahkan kepada para senopati yang lebih mengetahui
tugas. Agar dengan demikian, di kelak kemudian hari tak ada lagi permasalahan yang
mengganjal. Agar di kelak kemudian hari tak ada alasan untuk menyesali Perguruan
Awan.
"Saya persilakan."
Sirna, Sirna Sempurna
UPASARA bersila.
Kedua kakinya ditekuk. Tubuhnya sedikit membungkuk.
Kedua tangan dirangkapkan, saling menindih, dengan telapak tangan
menengadah.
Sunyi.
Angin tak bergerak.
Dari kejauhan Klikamuka melihat pemandangan yang ganjil. Tubuhnya
menggigil tanpa terasa.
Di suatu lapangan yang luas, deretan prajurit dalam keadaan siap tempur
tengah mengepung seorang lelaki muda yang justru duduk bersila. Yang menyilakan
untuk diapa-apakan.
Awan menyingkir sempurna.
Langit bersih tanpa warna.
Upasara menunggu.
Wilanda tak berani memandang, tak berani melirik. Ia dibesarkan di
Perguruan Awan. Ia salah seorang murid Perguruan Awan, sebelum akhirnya
berbakti pada Keraton Singasari sebagai prajurit. Sewaktu berita ada Tamu dari
Seberang, Wilanda-lah yang menjadi penunjuk jalan. Ia berangkat mengiringi
Upasara Wulung yang untuk pertama kali meninggalkan ksatrian, bersama dengan
Ngabehi Pandu, gurunya.
Di sinilah terjadi perang tanding habis-habisan antara tokoh-tokoh kelas satu.
Berbagai peristiwa menyeret Wilanda hingga akhirnya diterima kembali sebagai
warga Perguruan Awan. Sampai kemudian, Upasara Wulung memilih tempat tersebut
dan dianggap sebagai pemimpin.
Sedih, pedih, dan batin Wilanda merintih.
Sejak mengasingkan diri ke dalam Perguruan Awan boleh dikatakan Wilanda
selalu bersama-sama Upasara Wulung. Nyai Demang dan Galih Kaliki kadang datang
dan pergi, begitu juga Gendhuk Tri dan Dewa Maut.
Hanya dirinya dan Jaghana yang paling sering bersama-sama. Wilanda jadi
lebih mengerti segala perasaan Upasara Wulung yang mencoba hidup sebagaimana
alam. Menanam buah-buahan, merawat tetumbuhan, menolong binatang yang
terluka, dan hanya mengambil buah untuk makan, sejauh yang diperlukan. Sejak
masuk hingga sekarang Upasara membiarkan rambut dan kukunya tumbuh, dan tak
mengganti pakaiannya.
Pada saat-saat tertentu, Upasara mengajak Wilanda dan Jaghana melatih
pernapasan bersama. Membaca Tumbal Bantala Parwa secara bersama, dan melatih
pula secara bersama. Memang begitulah cara hidup dalam Perguruan Awan.
Walau resminya Upasara Wulung adalah pemimpin, Jaghana dan Wilanda
tidak menyediakan buah-buahan khusus untuk Upasara, tidak juga perlakuan khusus
yang lain. Mereka bersama-sama seperti alam, tidak saling mengguru dan memurid.
Cara hidup seperti ini, dalam pandangan Wilanda, sama sekali tak menjadi
gangguan bagi Upasara. Bahkan Upasara bisa menikmati. Ini yang membuat Wilanda
dan Jaghana merasa tenteram. Hanya saja, kadang masih terlihat Upasara seperti
termangu sendirian.
Kadang mendongak ke arah langit, seakan mencari sesuatu yang bisa
menjawab kegelisahannya.
Selama itu, Upasara tidak pernah membuka percakapan ke arah zaman
Singasari. Tidak juga ke arah Keraton Majapahit. Dua kali Nyai Demang datang dan
bercerita bahwa Keraton Majapahit kini mulai dibangun. Banyak pesta, banyak cerita.
Upasara mendengarkan sambil tersenyum.
Hanya Nyai Demang dan Gendhuk Tri yang bisa menggoda dengan cerita
mengenai Gayatri.
Tapi Upasara tak menunjukkan tanda-tanda tertarik mendengarkan.
Waktunya, secara keseluruhan, digunakan untuk menikmati, untuk menyatu dengan
alam. Melihat kupu-kupu, mengamati Cengkerik, menyatu dengan mata air, di selasela
mencoba memahami Tumbal Bantala Parwa. Sesekali Upasara menyenandungkan
kidung, dan membicarakan bersama.
Sebulan sebelum peristiwa ini, Upasara pergi sendirian. Hal yang bisa terjadi,
karena masing-masing anggota bebas memilih tempat tinggal di sekitar Perguruan
Awan. Mereka tak punya tempat resmi, tak punya tempat bertemu secara pasti.
Wilanda secara kebetulan bertemu kembali ketika Upasara menyaksikan
matahari terbit.
"Indah sekali, Paman."
"Bagi yang bisa mengerti, Raden."
Wilanda masih memanggil seperti ketika berada di Ksatria Pingitan Singasari.
"Ah, untuk menikmati karya Dewa Penguasa Jagat, tak diperlukan bisa
mengerti atau tidak.
“Paman, rasanya saya ingin menikmati dan menyatu dengan sinar itu."
Wilanda bertanya-tanya dalam hati apa maksud Upasara Wulung ketika itu.
"Kita akan lebih menyatu jika kita tidak mempunyai beban. Selama ini kita
selalu merasa perlu mempelajari ilmu silat, ilmu surat. Kita tak bisa menikmati secara
tuntas, kita tak bisa hanyut. Kita hanya setengah-setengah merasakan saat kita tak
berlatih.
"Barangkali satu-dua hari ini tiba saatnya untuk menyatu dengan sinar itu,
sejak terbit sampai tenggelam, sampai tengah malam.
"Sinar itu selalu ada, juga di malam hari.
"Sinar matahari itu juga indah di siang hari."
Ternyata inilah maksud Upasara yang sebenarnya.
Mau melepaskan kembali ilmunya. Mau menghancurkan tenaga dalam,
kekuatan batin yang selama ini dilatih. Upasara adalah didikan Ksatria Pingitan, yang
didirikan zaman Baginda Raja Sri Kertanegara yang sengaja mendidik sejak lahir.
Mendidik ke arah olah keprajuritan. Dengan bibit sejak lahir, akan terciptalah suatu
ketika nanti prajurit yang benar-benar tangguh. Dan Upasara tergembleng selama dua
puluh tahun. Dalam perjalanannya kemudian, Upasara banyak menemukan ilmu lain.
Di antaranya sempat mempelajari Tumbal Bantala Parwa yang menggegerkan, serta
Dwidasa Nujum Kartika.
Akan tetapi justru ini yang akan dimusnahkan.
Karena ternyata menjadi gangguan bagi Upasara.
Karena di luar kemauannya, intrik Keraton menyeret dan menyebut-nyebut
namanya.
Dengan melepaskan semua ilmunya, Upasara tak ada bedanya dengan pemuda
desa yang lainnya. Tak ada bedanya dengan Toikromo! Itulah yang dipilih.
"Maaf, Senopati Anabrang," bisik Upasara lirih sambil mengulurkan telapak
tangannya.
Senopati Anabrang yang masih dipapah Mpu Sora tak bisa mengelak. Seketika
hawa panas menerobos masuk ke dalam tubuhnya.
Sungai mengalir, tak menahan air
batuan hanya bersentuhan
tidak mendorong tidak menahan
jadilah sungai
batuan hanya bersentuhan
tidak mendorong tidak menahan
tidak hanyut, walau bisa berlumut
jadilah batu
tidak mendorong tidak menahan
tidak hanyut walau bisa berlumut
lumut tak takut air
jadilah lumut!
Kidungan Upasara terdengar merdu. Enak, nyaman, menenteramkan. Senopati
Anabrang mendekat seperti terpikat. Memusatkan pikiran dan menjadi sungai tak
menahan gelombang panas yang masuk ke dalam tubuhnya, menjadi batu yang
kukuh, menjadi lumut yang tak mencurigai kekuatan tenaga dalam Upasara.
Dalam waktu tak terlalu lama, luka yang tadinya berwarna hitam kebiruan
mengering, dan berubah warnanya. Kini sudah mendekati warna cokelat tua.
Berarti racun yang berada di sekitar luka sudah terusir.
"Gendhuk Tri, mari" sini. Kakang ingin melihatmu."
Jaghana membawa Gendhuk Tri yang meronta sebisanya. Darah mengucur
dari seluruh tubuhnya.
"Tidak, Kakang.
"Aku akan mendendammu seumur hidup ditambah tujuh turunan kalau
Kakang lakukan itu padaku."
Gendhuk Tri memberontak. Pengerahan tenaga membuat lukanya robek dan
tubuhnya ambruk.
Upasara berdiri. Kedua kakinya mengangkang sedikit, seperti menunggang
kuda. Kedua tangannya ditekuk, dengan telapak menghadap ke atas, di depan
dadanya. Perlahan turun bersamaan dengan tarikan napas yang makin lama makin
dalam, makin dalam, seakan semua udara alam disedot ke dalam. Kedua tangan itu
naik kembali ke atas.
"Kakang..."
Kedua tangan itu menempel di tubuh Gendhuk Tri, yang berkelojotan dan
memuntahkan darah berwarna kebiru-biruan.
Sirna itu sempurna...
Pada Awalnya Adalah Sirna
Upasara kembali bersila.
Tak ada suara.
Klikamuka yang berada di tempat agak jauh melihat pemandangan yang sama.
Semua prajurit berada dalam keadaan siap siaga. Mengepung seorang lelaki muda,
yang bersila. Di tempat agak jauh Jaghana memangku Gendhuk Tri.
Terdengar kidungan lirih:
Pada awalnya adalah sirna
pada akhirnya juga sirna
dari sirna kembali ke sirna
sirna itu sempurna
sirna itu tak ada
sempurna itu sirna
tak ada itu sirna
sirna itu kosong
pada awalnya adalah kosong
menyongsong ke arah kosong
berakhir pada sirna
sirna itu biasa
biasa itu sempurna
sirna itu sirna
sirna...
Mpu Renteng merasakan getaran yang dahsyat menyayat. Seakan udara sekitar
dipenuhi oleh tenaga menggelegar yang tak terlihat. Barangkali kawanan burung yang
terbang di atas lapangan akan jatuh menggelepar.
Itu saat yang paling menentukan.
Upasara akan memusnahkan tenaga dalamnya!
Ilmu yang dimiliki akan dihancurkan. Kidungan itu mengantarkan kepada
tahapan sirna.
sirna
sirna
sirna
sempurna
kosong
biasa
sirna
sirna
sirna
Galih Kaliki memandang ke arah lain. Ia tak tahu harus berbuat apa. Wilanda
seperti lenyap. Tak terasa kehadirannya. Wilanda yang menyadari bahwa Upasara
mulai menghimpun kekuatannya sejak lahir. Sejak hari pertama dilahirkan, Upasara
sudah dimasukkan ke Ksatria Pingitan, suatu tempat di mana bayi-bayi dididik dalam
kanuragan, dalam soal ilmu silat dan ilmu surat. Agar di kelak kemudian hari menjadi
prajurit yang unggul. Baginda Raja Sri Kertanegara yang menancapkan tonggak
keperkasaan untuk masa yang akan datang.
Selama dua puluh tahun Upasara boleh dikatakan tak mengenal hal lain selain
ilmu silat dan ilmu surat. Tak mengenal kehidupan masyarakat biasa, tak mengenal
kehidupan masyarakat Keraton. Apalagi ia kemudian ditangani langsung oleh
Ngabehi Pandu, tokoh kampiun yang disegani.
Akan tetapi sekarang justru akan dilenyapkan.
Mpu Renteng sendiri sejak lama mendengar Kitab Penolak Bumi yang
kesohor. Akan tetapi baru sekarang ini mendengar sebagian kidungannya yang isinya
seperti tak lebih dari tembang yang nyaman dinyanyikan:
Sirna itu kembali ke tanah
tanah itu lumpur
lumpur itu air
sirna itu kembali ke air
air itu tanah
tanah itu hidup
air itu hidup
hidup itu sirna
ke mana air mengalir
jawabnya tepukan satu tangan
ke mana angin bertiup
jawabnya tepukan satu tangan
kalau hujan dari tanah ke langit
tepukan satu tangan
kalau sirna
tepukan satu tangan....
Upasara mengangkat tangan kirinya, naik, bergetar, pergelangan tangannya
berputar, telapak tangannya menghadap ke depan, bergerak lurus ke depan,
menggeletar ketika makin lama makin lurus.
Uap putih berkumpul di sekitar tubuh Upasara. Udara tiba-tiba menjadi
dingin. Tak ada awan yang menutupi sinar matahari, tetapi cahayanya serasa terang
tanah.
Seiring dengan kata "tepukan satu tangan", tangan kiri Upasara lurus ke depan.
Terdengar seruan tertahan.
Tubuh Upasara naik ke atas, berhenti di tengah udara, masih dalam keadaan
bersila!
Begitu tangan ditarik kembali, tubuhnya ambruk.
Sirna!
Mpu Sora, Mpu Renteng, dan Mpu Nambi tanpa terasa menyebut Gusti secara
bersamaan.
Apa yang mereka saksikan adalah perjalanan yang luar biasa dari seorang
ksatria yang paling disegani, yang paling diperhitungkan, menjadi manusia biasa.
Upasara tak lebih dari seorang Toikromo.
"Gusti Dewa segala Dewa, maha mengetahui apa yang terjadi pada diri
hambanya."
Mpu Sora meraupkan kedua tangan ke wajahnya. Mendekat. Memandang
Upasara secara lekat.
Biar bagaimana, Adipati Lawe dulu berada di ujung medan perang dengan
panglima Tartar. Termasuk yang berada di atas benteng melakukan pertarungan matihidup
bersama-sama.
"Adimas..."
Upasara membuka matanya.
Adipati Lawe merangkul. Akan tetapi karena tergetar oleh tenaga yang kuat,
Upasara meringis.
"Maaf, Adimas...."
Adipati Lawe mengubah rangkulannya.
"Adimas tetap lelaki jagat."
Kalimat berikutnya tak keluar, walaupun tersendat.
Jaghana menunduk.
"Biarkanlah kami semua beristirahat."
Mpu Nambi memberi aba-aba agar para prajurit seluruhnya menyingkir.
Siapa pun yang diutus ke Perguruan Awan boleh menarik napas lega.
Setidaknya pertumpahan darah yang tidak dikehendaki tak terjadi. Dengan caranya
sendiri Upasara Wulung mencari jalan keluar. Penolakan kepada tawaran Baginda
Raja dengan cara menjadi manusia biasa.
Senopati Anabrang membungkuk hormat.
Ia paling merasa tertolong jiwanya. Di sat terakhir sebelum membuang tenaga,
Upasara telah menyelamatkan. Entah, tanpa bantuan Upasara, racun dalam tubuhnya
bisa terusir atau tidak.
Mpu Nambi juga maju membungkuk hormat dan menyalami. Dan merasa
kaget sendiri karena ternyata tenaga dalam Upasara betul-betul telah musnah. Sekejap
nuraninya seperti dipelintir. Akan tetapi dengan cepat Mpu Nambi mengalihkan
pikirannya.
Jalan itu yang ditempuh Upasara! Dipilih sendiri tanpa dipaksa!
Terdengar suara Klikamuka.
"Ambil Tumbal Bantala Parwa. Hanya seorang raja yang berhak memiliki. Aku
tak butuh kidungan untuk bunuh diri."
Mpu Nambi menyembah kitab yang ditulis pada klika kayu, sebelum
memasukkan ke dalam buntalan dan menyerahkan kepada Dyah Palasir.
"Kakang Sora, Kakang Renteng, kita bersama kembali ke Keraton. Rasanya
terlalu jauh kita membuat Perguruan Awan terganggu."
"Silakan Kakang Nambi berangkat lebih dulu. Kami berdua masih perlu
mencari Permaisuri."
Mpu Nambi mengerutkan keningnya.
"Baginda bisa murka...."
"Kami berdua menanggung akibatnya," jawab Mpu Sora dan Mpu Renteng
bersama-sama.
"Kakang jangan salah terima. Saya tak akan melaporkan hal itu. Bahkan saya
akan ikut membantu."
"Terima kasih, Kakang Nambi.
"Tugas di Keraton masih banyak."
Mpu Nambi menghela napas, mengangguk, dan segera berlalu.
Mendadak Mpu Nambi berbalik.
"Upasara, kembalikan Permaisuri."
Tangannya bergerak, dan seketika seluruh prajurit menyerbu.
Kematian Kedua
Mpu Sora, Mpu Renteng, Senopati Anabrang melengak.
Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Mpu Nambi memberi aba-aba
serangan menjapit seperti kepiting. Dari semula para prajurit dalam keadaan siap
tempur. Maka begitu ada aba-aba langsung menggasak.
Situasi jadi berubah.
Dalam sekejap sabetan pedang, tusukan tombak, tukikan keris menghujani
Upasara. Reaksi Upasara masih seperti ketika mempunyai ilmu silat. Kedua tangannya
terangkat. Akan tetapi kecepatan dan kekuatan tenaganya sudah tak ada. Sehingga
dadanya kena sodok tombak dan langsung terguling. Tangan yang menangkis terlalu
lambat dibandingkan kecepatan para prajurit. Dyah Pamasi sendiri menendang keras,
sehingga tubuh Upasara terlontar ke atas.
Jaghana sama sekali tak menduga serangan yang begitu keji. Dalam situasi di
mana ia masih menggendong Gendhuk Tri yang dalam keadaan setengah hidup,
setengah mati, ia tak bisa bergerak leluasa. Ini hanya akan membuat Gendhuk Tri
menderita luka berat di dalam.
Karena dalam tubuh Gendhuk Tri masih bertarung tenaga dalam yang
diberikan oleh Upasara dengan racun yang mengeram dalam tubuhnya!
Akan tetapi melihat Upasara yang terluka dilemparkan ke angkasa, Jaghana
menjejakkan kakinya. Tubuhnya mental ke atas, satu tangan mengempit Gendhuk Tri
dan menjaga agar tidak tergetar sedikit pun, sementara tangan lain menangkap tubuh
Upasara.
Hanya saja Jaghana kewalahan. Karena tubuh Upasara yang jatuh ke tanah
seperti karung mati. Tidak memberi reaksi seperti seorang jago silat!
Jaghana memang menyaksikan sendiri Upasara yang menghancurkan tenaga
dalamnya. Akan tetapi ternyata tetap sulit menyadari bahwa kini benar-benar telah
menjadi manusia biasa. Sehingga tangan yang untuk menyangga seperti diseret ke
bawah. Jaghana tetap menyangga dan menjaga agar baik tubuh Gendhuk Tri maupun
Upasara tidak tergetar.
Jaghana mengorbankan dirinya.
Punggungnya menghantam tanah, dengan semua getaran dipendam dalam
dadanya! Menghancurkan tenaganya sendiri!
Akibatnya, begitu jatuh telentang tak bisa bergerak lagi.
Sementara Wilanda hanya bisa mengelak serbuan yang datang dengan
meloncat ke sana-kemari, tanpa bisa memberi balasan yang berarti. Satu-satunya yang
bisa bergerak bebas adalah Galih Kaliki. Hanya saja reaksinya tak bisa cepat
menangkap situasi yang begitu kejam.
Tak masuk akal bagi Galih Kaliki, bahwa Upasara yang telah mengorbankan
semua miliknya, masih diserang secara mendadak. Tak masuk akal bagi seorang yang
begitu jujur hatinya dan lugas jalan pikirannya!
Ketika menyadari, sudah terlambat. Dan ia repot digempur oleh Dyah Pamasi
dan Dyah Palasir secara bersamaan. Unggul atau tidak unggul tak bisa ditentukan
dalam sesaat.
"Tongkring!
"Hentikan semua ini!"
Adipati Lawe berteriak mengguntur. Rantai di tangannya bergerak bagai
putaran angin yang menyingkirkan semua senjata yang mengarah kepada Upasara
Wulung.
"Tongkring!
"Ajaran setan belang mana bersikap begini hina?"
Semua prajurit mundur dan menghentikan serangan.
Adipati Lawe menurunkan Upasara dan Gendhuk Tri di tanah. Untuk
sementara Jaghana masih belum bisa bergerak. Tangannya masih lurus ke atas dengan
tubuh telentang.
"Hari ini kita semua kembali!"
Pandangan mata Adipati Lawe menatap tajam ke arah Mpu Nambi.
Mpu Nambi balas menatap.
Mpu Sora menyadari bahwa pertentangan telah terobek.
Adalah suatu peraturan tidak resmi dalam keprajuritan, bahwa yang berhak
memberi komando adalah senopati yang pangkat dan derajatnya paling tinggi. Tak
bisa dibantah. Hanya satu senopati yang berhak memerintah!
Dalam hal ini pangkat dan derajat Adipati Lawe tidak di bawah Mpu Nambi.
Akan tetapi juga tidak di atasnya. Mereka sama-sama berpangkat patih. Adipati Lawe
adalah patih amancanegara, sedangkan Mpu Nambi patih di dalam. Pangkat yang
sama yang juga disandang oleh Mpu Sora, Mpu Renteng, atau Senopati Anabrang.
Mereka semua ini tanpa kecuali hanya tunduk kepada Baginda Raja, sebelum
ada yang menjabat sebagai mahapatih, atau patih amangkubumi.
Adalah suatu peraturan yang tidak resmi dalam keprajuritan, bahwa yang
berhak memberi komando pada derajat yang sama adalah yang mengambil prakarsa
pertama. Dan patih yang sederajat tidak boleh memotong garis yang telah dibuat.
Apalagi di depan para prajurit! Kalaupun mereka berselisih pendapat, Baginda Rajalah
yang berhak memutuskan mana yang diturut.
Dalam hal ini, Adipati Lawe memotong perintah Mpu Nambi!
Dalam hal begini, Mpu Nambi bisa melaporkan kepada Baginda Raja, bahwa
Adipati Lawe membangkang! Melanggar disiplin keprajuritan. Untuk ini sangsinya
cukup berat!
Nyatanya Adipati Lawe memilih cara dianggap sebagai pembangkang!
Mpu Nambi menarik napas keras.
Kalau ia memberi aba-aba penyerangan, prajurit telik sandi yang dipimpinnya
bisa bertarung dengan prajurit Kadipaten Tuban yang dipimpin Adipati Lawe.
Mpu Nambi tidak gentar.
Tetapi nalarnya mengatakan saat ini tak cukup menjamin perimbangan
kekuatan. Dalam keadaan seperti sekarang, Mpu Sora bisa memihak Adipati Lawe—
baik karena pertimbangan sebagai paman ataupun karena menganggap tindakan
Adipati Lawe tepat. Dalam hal ini Mpu Renteng juga bisa memihak Mpu Sora, karena
selama ini mereka berdua selalu bersatu pendapat.
Mpu Nambi tak merasa kehilangan muka mengalah. Karena kini sudah yakin
bahwa Upasara Wulung benar-benar sudah sirna riwayatnya. Benar-benar sudah
hancur.
Kematian pertama yang dilakukan dengan menghancurkan tenaganya, dan kini
karena serangan keras. Lebih dari itu, tak ada jawara dari Perguruan Awan yang perlu
diperhitungkan.
Gendhuk Tri yang menggetarkan dan ditakuti karena racun ganas dalam
tubuhnya, kini sedang bertarung antara hidup dan mati. Kalau tenaga dalam Upasara
Wulung berhasil mengusir racun, itu berarti Gendhuk Tri tak akan membahayakan
lagi. Kalau tenaga dalam Upasara gagal mengusir sepenuhnya, berarti lebih bahaya
lagi. Karena kini racun dalam tubuh Gendhuk Tri akan menggerogoti dirinya. Racun
itu menjadi sesuatu yang menyusahkan, bukan sebagai senjata.
Jaghana yang sakti pun, kini telah terluka.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:33 pm

Diperlukan waktu yang lama untuk mengembalikan kekuatannya agar pulih.
Diperlukan waktu lebih lama lagi, kalau misalnya ingin membalas dendam.
Tokoh lain dari Perguruan Awan yang masih gagah hanyalah Galih Kaliki.
Tetapi Mpu Nambi tidak menganggap sebagai bencana di kemudian hari. Galih Kaliki
bukan tokoh yang mampu menggerakkan para ksatria. Juga bukan tokoh yang cerdik.
Ibarat kata Galih Kaliki hanyalah seorang diri.
Penghuni lain, Dewa Maut, tidak menjadi soal benar. Keadaannya tak lebih
dari Wilanda. Sedangkan Nyai Demang, wanita montok yang genit itu, rasanya lebih
mudah dihadapi.
Dengan pertimbangan itu, Mpu Nambi menahan diri. Kalau maksudnya telah
sampai, untuk apa menanggung risiko lagi?
"Satu perintah dalam perang.
"Kembali ke sarang."
Perintah Mpu Nambi memperlihatkan bahwa ia mengurungkan niatnya bukan
karena gentar menghadapi Adipati Lawe. Akan tetapi lebih menunjukkan bahwa ia
menjunjung tinggi persatuan para prajurit. Agar tidak muncul pertentangan di antara
para senopati! Sungguh cerdik Mpu Nambi menyelamatkan diri.
Sebab kalau peristiwa ini dilaporkan ke hadapan Baginda Raja, ia memperoleh
nama baik. Biar bagaimanapun, Adipati Lawe akan disalahkan. Biar bagaimanapun,
Mpu Sora dan Mpu Renteng dianggap tidak bisa menjalankan tugas menjaga
Permaisuri!
Para prajurit berkumpul ke barisannya sendiri-sendiri.
Galih Kaliki maju ke tengah.
Tongkatnya digenggam erat.
"Jaghana, Wilanda, katakan apa yang harus kuperbuat. Apa saja yang kalian
katakan, akan kulakukan.
"Aku tak tahu harus menggempur atau tidak."
Wilanda meloncat mendekati Galih Kaliki.
"Paman Jaghana, silakan memberi petunjuk."
Ini berarti Wilanda pun siap untuk bertarung sampai mati.
Jaghana berbaring di tanah. Kedua tangannya masih kaku. Akan tetapi
suaranya terdengar lembut.
"Anakmas Upasara tidak menghendaki pertempuran."
Galih Kaliki tertawa bergelak.
"Tetapi kita yang digempur. Jadi bubur!"
"Kita kembali."
"Lho, kalau begitu enak mereka. Main serang seenaknya, lalu ditinggalkan
begitu saja. Itu tongkring!"
Adipati Lawe merasa tersulut. Apalagi ucapannya yang khas diambil alih
begitu saja.
"Aku bersedia menghadapi seorang diri. Majulah, sobat."
Taktik Sekul Seta
Galih Kaliki mengangkat tongkatnya.
"Karena menerima tantangan, Paman Jaghana tak bisa melarang."
Mpu Nambi mendehem.
"Adipati Lawe adalah senopati Majapahit. Kenapa harus turun tangan sendiri
untuk membersihkan kotoran? Bukankah ada anak-anak yang bisa melakukan?"
Dyah Pamasi dan Dyah Palasir langsung maju ke depan.
"Tukang pukul ini biarlah kami yang menghadapi."
Dyah Pamasi bahkan sudah langsung mengayunkan kedua tombak. Duaduanya
mengarah ke arah lambung. Dyah Palasir mengambil gada pusaka andalannya.
Langsung mengarah ke bagian dada. Sehingga kalau Galih Kaliki menghindar ke atas,
ataupun ke samping, gada besi yang berat siap untuk merontokkannya.
Cara menggebrak kedua senopati muda ini benar-benar cara bergerak prajurit
cepat. Begitu aba-aba Mpu Nambi terdengar, mereka tak menunggu persetujuan
Adipati Lawe.
Adipati Lawe sendiri menjadi dongkol. Namun ia tak bisa ikut maju. Tak
masuk akalnya bahwa ia turut mengeroyok lawan.
Para prajurit yang lain berjaga-jaga sambil memperhatikan. Karena
sesungguhnya ini pertarungan yang bisa disaksikan dengan saksama. Gerak-geraknya
bisa menjadi contoh. Berbeda dengan serangan kilat antara Gendhuk Tri dan Senopati
Anabrang. Juga berbeda dengan cara Upasara menghancurkan tenaga dalamnya.
Kedua peristiwa itu, walau gawat, berlalu terlalu cepat.
Sebaliknya apa yang sekarang terjadi lebih merupakan tontonan.
Apalagi Galih Kaliki juga tidak menunjukkan berkelit. Memang Galih Kaliki
lebih suka balas menyerang daripada berkelit. Tongkat galih asam diangkat tinggi.
Menyerampang dua ujung tombak dan sekaligus gada yang terayun.
Adu tenaga keras.
Meskipun terbuat dari kayu, galih asam bukan sembarang kayu. Tongkat ini
dibuat dari galih atau hati pohon asam yang sudah sangat tua, dan sudah barang tentu
diramu lagi dengan beberapa jamu atau japa-mantra. Sehingga bisa mengimbangi
kekerasan besi atau baja.
Ditambah lagi tenaga Galih Kaliki seperti terbongkar. Karena dendamnya
kepada kedua penyerang yang tadi melukai Upasara.
"Anak kecil seperti ini mau mencoba-coba."
Gregetan Galih Kaliki memutar tongkatnya dan terus melabrak. Dyah Palasir
sebaliknya juga tak mau mundur. Ayunan tongkat di atas ubun-ubunnya dilawan
sama keras, sementara Dyah Pamasi ganti menyerang. Begitu juga sebaliknya. Saat
Dyah Pamasi digertak, Dyah Palasir yang maju.
Hingga dalam sekejap lima jurus telah dilampaui.
Bagi Mpu Nambi ini bukan sekadar tontonan kalah-menang. Ada sesuatu yang
ingin diketahui. Yaitu cara-cara Kaliki memainkan tongkatnya. Selama ini asal-usul
ilmu silat Kaliki termasuk cabang yang sulit dikenali. Tidak mudah ditebak. Bahkan
nama-nama jurusnya juga tak begitu dikenali, termasuk oleh Kaliki sendiri. Namun
cerita yang terdengar adalah bahwa gebrakan-gebrakan menunjukkan persamaan
yang berasal dari ilmu Dwidasa Nujum Kartika. Hanya kalau pada aliran lain, bisa
teraba gerakan dasarnya, Galih Kaliki tidak memperlihatkan hal itu.
Seperti diketahui, cara melatih jurus-jurus dalam Dwidasa Nujum Kartika tak
terlalu asing bagi para ksatria. Puncak dari ilmu ini adalah yang pernah ditunjukkan
oleh Ugrawe, salah seorang panglima terkemuka Raja Muda Jayakatwang. Mpu
Ugrawe-lah yang mampu mengolah dan kemudian memberi nama jurusnya, Banjir
Bandang Segara Asat, yang dahsyat.
Seperti namanya jurus yang berarti Banjir Bah Laut Kering ini berintikan
membuyarkan tenaga lawan, dan menyedotnya menjadi tenaga yang dimiliki. Secara
paksa membetot sukma lawan. Membuat banjir besar di daratan dengan
mengeringkan laut. Selama lawan kalah tenaga dalam atau kalah mengatur
penyalurannya, tenaganya bisa terisap. Akan tetapi jika lawan lebih menguasai,
tenaga sendiri yang justru terisap.
Ugrawe, dalam puncak kejayaannya, mampu malang-melintang. Sebelum
akhirnya bisa dikalahkan.
Meskipun demikian, tidak berarti gagal.
Justru apa yang diperlihatkan Mpu Ugrawe adalah terobosan yang berbeda dari
yang selama ini ada.
Konon, apa yang dimainkan oleh Galih Kaliki mempunyai sumber yang dekat.
Maka sesungguhnya, bagi para senopati yang menyaksikan seperti mempelajari
apa yang disembunyikan lawan.
Perhitungan Mpu Nambi boleh dikatakan tidak meleset sedikit pun, terutama
karena Galih Kaliki membiarkan seluruh kemampuannya muncul semua. Dan dasardasar
gerakan serangan Galih Kaliki terlihat sederhana. Tujuannya selalu sama:
mengetok ubun-ubun lawan. Ke mana pun berputarnya tongkat, sasarannya tak
pernah berubah.
Sehingga bagi lawan yang bisa membaca tipe permainan Galih Kaliki, tak
terlalu sulit untuk memperdayai.
Dyah Pamasi maupun Dyah Palasir bukannya tidak melihat kekuatan dan
sekaligus kelemahan Galih Kaliki. Akan tetapi juga tak gampang untuk ganti
menindih. Justru karena meskipun begitu-begitu saja irama serangannya, tekanan
yang menindih tak pernah kendor. Bahkan makin lama makin menyempitkan ruang
gerak mereka berdua.
Galih Kaliki terus menggenjot.
Gebukannya ditangkis atau dielakkan tak membuatnya mengganti gerakan.
Bahkan beberapa ujung tombak nyaris merobek dadanya. Galih Kaliki lebih percaya
bahwa andai dadanya teriris, tongkatnya sudah lebih dulu mengenai sasaran. Dengan
batok kepala remuk, serangan lawan bisa terhenti atau buyar dengan sendirinya.
Dyah Palasir berseru keras sambil melabrak maju,
"Serang!"
Dengan sepenuh tenaga Dyah Palasir mencoba menahan ayunan tongkat ke
ubun-ubunnya, berusaha mematok. Dengan begitu dua tombak yang dipergunakan
Dyah Pamasi bisa mencapai sasarannya.
Mpu Renteng memuji taktik Palasir yang jitu.
Dengan begitu, Kaliki akan bisa ditundukkan.
Pamasi melihat bahwa kesempatan itu terbuka. Temannya menyediakan diri
untuk menahan gempuran. Maka begitu ayunan tongkat hampir menyentuh gada, ia
menyelusup maju. Dua tongkatnya sekaligus menggunting bagian dada. Sebelah kiri
lebih panjang sedikit terulur, karena memperhitungkan cara menghindar Galih
Kaliki. Yang berarti justru lehernya menjadi sasaran.
"Bagus!"
Bukannya kaget atau mengubah serangannya, Galih Kaliki alih-alih malah
berteriak bagus. Tongkatnya tetap menghantam gada dengan keras, dan dengan
cepatnya tongkat itu meluncur turun, masuk di antara dua tombak dan diputar
kencang sekali.
Mpu Sora mengeluarkan suara tertahan.
Mpu Nambi juga tak mengira bahwa Galih Kaliki bisa bermain sangat cepat.
Ketika berulang menggempur ke ubun-ubun tadi, Mpu Nambi bisa melihat
persamaannya dengan jurus Lintang Tagih, yaitu sementara tenaga di dalam tetap
dingin. Menurut perhitungan musim, Lintang Tagih terlihat di langit saat buah padi
tumbuh. Di dalam kitab aslinya, jurus ini dimainkan setelah memainkan jurus Lintang
Sapi Gumarang, atau Bintang Berbentuk Sapi, yaitu dengan menggeser kuda-kuda
menyerupai posisi Bintang Sapi Gumarang di langit, bertumpu pada arah utara, atau
bisa juga berarti saat embun menetes, saat binatang yang bisa terbang keluar dari
sarangnya.
Tapi Galih Kaliki seperti langsung memainkan jurus kedua, dan langsung
disambung dengan jurus ketiga yaitu Lintang Lumbung, dengan kekuatan utama di
kaki. Kekuatan akar yang baru tumbuh. Menghunjam masuk ke dalam tanah. Dengan
lihai Galih Kaliki memindahkan tenaga akar tumbuh itu ke tongkatnya. Sekaligus
menangkis dan balas menyerang.
Bahwa Dua Belas Jurus Nujum Bintang ini tercipta karena berhubungan
dengan alam, semua sudah maklum. Kunci untuk mengetahui dan mengatur gerakan
serta tenaganya, seperti saat-saat mana bintang terlihat di langit. Kejadiannya
berhubungan dengan apa, seperti itulah pengerahan tenaga yang dilakukan.
Seperti halnya Lintang Lumbung, bintang yang membentuk gubuk untuk
menyimpan padi yang sudah kering. Bintang itu, bila nampak di langit, pertanda
tanaman di sawah mulai mengeluarkan akarnya. Kekuatan akar menembus tanah,
berbeda dari kekuatan burung meninggalkan sarang seperti jurus Lintang Sapi
Gumarang, juga berbeda dari kekuatan biji-bijian yang sedang tumbuh. Hanya mereka
yang mampu meresapi kejadian-kejadian dalam alam semesta bisa menguasai lebih
mahir.
Yang tidak diketahui atau kurang diperhitungkan Mpu Nambi ialah bahwa
Galih Kaliki melatih jurus-jurus tadi tanpa pengertian yang mendalam. Galih Kaliki
boleh dikatakan belajar sendiri. Walau agak kagok, ilmu silat bukan semata-mata
hafalan atau pengertian. Melainkan juga latihan. Di sinilah keunggulan utama Galih
Kaliki.
Dalam keadaan terdesak, ilmu itu muncul dengan sendirinya.
Mpu Sora justru melihat bahwa Mpu Nambi agaknya sengaja menyuruh Dyah
Palasir dan Dyah Pamasi untuk maju. Karena di samping menjajal Galih Kaliki, Mpu
Nambi lebih merasa aman, andai Dyah Pamasi dan Palasir terluka atau binasa.
Ini taktik dalam telik sandi yang terkenal sebagai istilah Sekul Seta atau Nasi
Putih.
Permaisuri Rajapatni Muncul
Dalam menangani masalah yang bersifat rahasia, prajurit telik sandi selalu berhadapan
dengan taktik Sekul Seta atau Nasi Putih.
Istilah ini menunjukkan bahwa bagian telik sandi selalu diharuskan
memberikan hasil yang sempurna. Umpama kata berhasil menghidangkan nasi putih
secara utuh dalam piring. Ini berarti kalau di dalam piring itu masih terdapat nasi
warna lain, atau bahkan masih ada kulit padi, nasi berwarna lain, atau bahkan gabah
tadi, harus dibuang. Agar dengan demikian memberikan hasil yang sempurna.
Dalam arti lain, sewaktu menjalankan tugas rahasia, prajurit telik sandi akan
selalu menemukan masalah yang membuat tidak sempurna, dan harus tegas serta tega
membuang. Karena yang dibuang adalah nasi yang tidak putih, atau bahkan gabah,
yang tidak berarti.
Mpu Nambi sedang melakukan upaya ini.
Karena, menurut perkiraan Mpu Sora yang kini tak bisa mengerem jalan
pikirannya untuk mencurigai orang lain, Dyah Palasir dan Dyah Pamasi adalah
bawahan Mpu Nambi. Yang mengetahui tugas-tugas rahasia. Yang diketahui situasi
berubah, untuk menjaga "kesempurnaan nasi putih", mereka berdua harus
dilenyapkan!
Dengan cara menghadapkan kepada Galih Kaliki!
Dugaan Mpu Sora ini berdasarkan perkiraan bahwa Mpu Nambi tidak
memerlukan mereka. Dan atau mereka berdua bisa membocorkan rahasia. Mungkin
saja mengenai tugas ini, atau mengenai hilangnya Permaisuri Gayatri. Sebab Mpu Sora
masih menduga-duga ada hubungannya ketika ia menabrak salah seorang dari mereka
ketika mengejar Klikamuka!
Di lapangan pertempuran, apa yang dikuatirkan terjadi.
Dua tombak Dyah Pamasi terbetot lepas dari tangan dan meluncur ke arah
Dyah Palasir. Yang sama sekali tak mengira.
"Busuk!"
Palasir mengira bahwa Pamasi sengaja mencurangi. Mempergunakan
kesempatan untuk melepaskan tombak. Maka kini justru gadanya terayun ke samping.
Dyah Pamasi tak sempat menghindar ketika dadanya kena hantam.
"Kamu... kamu!"
Palasir sendiri terjengkang dengan tombak menancap di dadanya.
"Tongkring! Sungguh memalukan!"
Apa yang diteriakkan Adipati Lawe menampar Mpu Nambi.
Mereka berdua yang menjadi korban dari bagiannya. Bahwa mereka gugur
dalam menjalankan tugas, sudah menjadi bagian dari jiwa keprajuritannya.
Hanya saja bahwa mereka terbunuh karena saling curiga, sungguh memalukan.
Agaknya, kehidupan dalam bagian telik sandi adalah kehidupan untuk saling
mencurigai.
Setidaknya dari bukti yang bisa disaksikan.
Mpu Renteng sendiri memperhitungkan, walaupun kedua Dyah itu terdesak
dan kalut, tidak perlu berakhir setragis ini. Karena luncuran tombak tak sengaja itu
bisa tetap ditangkis oleh Palasir. Bahwa dengan kemudian posisinya agak goyah, dan
Pamasi terguncang, itu memang tak bisa lain. Akan tetapi itu belum berarti
kekalahan. Apalagi kematian.
Karena saat itu Galih Kaliki tidak segera melanjutkan serangan.
Galih Kaliki kurang mampu membaca posisinya yang unggul.
Ia mengulang menyerang dari awal lagi. Posisi itu yang diambil, sehingga
justru Galih Kaliki menyiapkan kuda-kuda dari arah utara-selatan, kembali ke posisi
seperti jurus Lintang Sapi Gumarang. Lebih ke arah berjaga daripada ke arah
bertempur.
"Memang memalukan prajurit Majapahit ini. Bukannya menyerang aku, malah
saling bunuh.
"Bagaimanapun aku tak bisa dibilang menang."
Galih Kaliki menggelengkan kepalanya.
"Ayo, siapa lagi?"
Adipati Lawe mengertakkan giginya.
"Sobat Kaliki, kamu sungguh laki-laki perkasa.
"Suatu kali nanti, aku bersumpah akan menjajal kamu."
"Untuk apa tunggu nanti?
"Sekarang atau nanti toh sama saja?"
"Aku tak mau mengambil keuntungan. Kamu baru saja bertempur, mana
mungkin sebagai lelaki gagah aku mencurangi tenagamu?"
"Bagus, bagus.
"Kuterima tantanganmu.
"Tapi aku masih belum puas membalaskan dendam adikku Upasara. Ayo, siapa
lagi yang maju?"
Terdengar erangan.
Gendhuk Tri siuman sebentar, mengerang, dan lagi-lagi memuntahkan darah
kebiru-biruan.
Galih Kaliki menjadi bingung.
"Lain kali semua utang akan kuselesaikan," jawab Mpu Nambi. "Kutunggu
kapan saja."
"Bagus. Kamu harus ingat janji itu."
Galih Kaliki mendekati Gendhuk Tri.
"Apanya yang sakit?"
Gendhuk Tri tak bereaksi.
"Wah, kalau soal racun atau sebangsa itu, mana aku tahu?
"Paman Wilanda, bagaimana sebaiknya?"
Wilanda, yang sejak tadi berdiam diri, maju ke tengah.
"Senopati Agung Nambi, kami semua masih berada di sini. Kalau ingin
membasmi Perguruan Awan, jangan tunda lain waktu."
Mpu Nambi mendongak.
"Aku kemari menjalankan tugas. Kalau ada yang tidak mengenakkan, sudah
kukatakan aku yang bertanggung jawab. Kalau hari ini aku ingin membasmi
Perguruan Awan, masih lebih banyak diperlukan tenaga untuk membalik telapak
tangan.
"Wilanda, catatlah baik-baik. Aku akan tetap mempertanggungjawabkan
semua perbuatanku.
"Hari ini aku tak mempunyai waktu lagi."
Mpu Nambi membalik, meloncat ke arah punggung kuda, dan segera
diiringkan oleh para prajuritnya, sambil membawa mayat Dyah Pamasi, Dyah Palasir,
serta klika yang berisi Tumbal Bantala Parwa.
Adipati Lawe memberi hormat kepada Jaghana yang berusaha duduk, lalu
memberi hormat kepada Mpu Sora.
"Keponakan yang kasar, mohon pamit."
Tanpa memperpanjang kalimat, Adipati Lawe mencemplak kuda hitamnya.
Para prajurit Tuban segera mengiringkan.
Sejenak Mpu Renteng menduga bahwa Adipati Lawe akan menyertai Mpu
Nambi ke Keraton. Agar Mpu Nambi tak mengarang cerita secara sepihak.
Wilanda memanggul Gendhuk Tri, sementara Galih Kaliki membopong
Upasara, dan Jaghana berusaha berjalan dengan tongkat Galih Kaliki.
Mpu Sora, Mpu Renteng, serta Senopati Anabrang hanya bisa menyaksikan
tanpa mengucapkan kata sepatah pun sampai rombongan lenyap di balik dedaunan.
"Apakah benar Kakangmas telah meninggal?"
Mpu Sora segera menunduk bersila dan menghaturkan sembah. Demikian juga
Mpu Renteng serta Senopati Anabrang.
"Apakah berita itu benar, Paman?"
Benar, yang didengar adalah suara Permaisuri Gayatri!
Bagaimana mungkin bisa muncul secara tiba-tiba?
"Benar, Permaisuri."
"Saya tidak percaya."
"Sesungguhnya hamba tidak berani berdusta. Saat ini Upasara Wulung sedang
luka parah, tanpa tenaga dalam lagi."
Mpu Sora dan Mpu Renteng tidak berani mendongak atau menanyakan apa
yang sesungguhnya terjadi. Karena tiba-tiba saja Permaisuri Gayatri sudah berada di
lapangan, seakan baru bangun dari tidurnya.
"Siapa yang membunuh?"
Mpu Sora menghaturkan sembah.
"Keinginan Upasara sendiri untuk memusnahkan tenaga dalamnya."
"Benar begitu?"
Sembah kedua senopati Majapahit lebih dari sekadar anggukan.
"Kalau begitu, memang Kakangmas tidak mau bertemu dengan saya lagi.
"Untuk apa kita menunggu di sini?"
Mpu Renteng segera memerintahkan disediakan joli untuk membawa
Permaisuri Gayatri. Yang sejak masuk di dalam, tak pernah mengucapkan sepatah
kata.
Bahkan sewaktu berhenti dalam perjalanan, tak mau menyentuh makanan,
minuman. Tak mengajak bicara.
Biarpun terbakar rasa ingin tahu, akan tetapi sebagai seorang abdi, sebagai
bawahan, Mpu Sora tak berani bertanya. Hanya menduga-duga sendiri.
Bahkan dengan rontoknya Perguruan Awan, pertikaian masih akan membuka
lebih luas. Persoalan siapa yang akan diangkat menjadi mahapatih masih tetap
merupakan teka-teki yang memprihatinkan. Di samping permusuhan antara
Perguruan Awan dan Keraton meninggalkan bekas luka yang menganga.
Sementara teka-teki Keraton dan dugaan siapa yang memainkan peranan di
samping Baginda masih merupakan pertanyaan, kemunculan Klikamuka juga belum
terjawab. Dengan pemunculan mendadak, di mana sebenarnya posisi Klikamuka?
Kiai Sumelang Gandring
BELUM setengah hari perjalanan, rombongan Mpu Sora menemukan bekas-bekas
pertempuran. Sehingga segera memerintahkan agar para prajuritnya siaga. Joli yang
memuat Permaisuri Gayatri berada di tengah, sehingga lebih aman. Mpu Renteng
sendiri mengawal dari kanan, sementara Mpu Sora dari sisi kiri joli.
Senopati Anabrang yang bergabung berada di bagian depan.
Sisa-sisa pertempuran bisa dilihat dari banyaknya bekas pohon dan ranting
yang putus. Bahkan beberapa senjata tergeletak begitu saja.
Sewaktu rombongan terus berjalan, belum sampai beberapa lama, bekas-bekas
pertempuran terlihat lagi. Kali ini lebih jelas lagi. Beberapa senjata, yang bisa dikenali
sebagian milik prajurit Majapahit tertinggal.
Mpu Renteng mendehem kecil.
"Kakang Sora, agaknya kita sedang melewati tempat yang membuat sibuk
Kakang Nambi."
"Agaknya ada tetamu yang menghadang."
Perhitungan mereka adalah bahwa belum lama berselang rombongan Mpu
Nambi yang melewati jalan tersebut. Kemudian juga disusul oleh rombongan Adipati
Lawe.
Dengan mengatakan ada "tetamu yang menghadang" Mpu Sora ingin
membuang gagasan bahwa terjadi perselisihan antara Adipati Lawe dan Mpu Nambi.
Suatu hal yang selama ini mengganggu Mpu Sora. Mengingat bahwa adat Adipati
Lawe sangat keras dan cepat bertindak, sementara Mpu Nambi juga tak pernah
memberi kesan mau mengalah dalam menjalankan tugas yang dianggap tak boleh
diganggu gugat. Hal yang paling sepele pun bisa membuat keduanya bentrok.
"Tetamu dari mana lagi?"
"Cepat atau lambat kita akan mengetahui."
Belum selesai kalimat Mpu Sora, di bagian depan barisan berhenti. Tanpa ayal
lagi Mpu Renteng meloncat ke depan. Sementara Mpu Sora berjaga-jaga di sekitar joli
yang minta diturunkan dan ditempatkan di dalam penjagaan ketat.
Sewaktu Mpu Renteng sampai di bagian depan, Senopati Anabrang sudah
turun dari kudanya. Dengan gagah menghadapi sembilan lelaki yang berdiri
menghadang. Mpu Renteng melihat bahwa kesembilan penghadang sudah mengambil
sikap bersiap. Dan dilihat selintasan, mereka semua tanpa kecuali memperlihatkan
kemampuan untuk bermain silat.
Mpu Renteng mengambil tempat di dekat Senopati Anabrang.
"Tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa sobat-sobat berdiri menghadang?"
"Berjalan, cepat atau lambat, akan sampai ke tujuan. Apa artinya sejenak untuk
menyerahkan kulit kayu yang bukan haknya?"
Jawaban ini terdengar agak ketus.
Senopati Anabrang tetap dingin.
"Maaf, ini pembicaraan model apa?
"Kalau mau mengatakan merampok, kenapa bilang panen? Saya harus
mengatakan bahwa sobat-sobat salah alamat. Kami tidak membawa harta benda yang
pantas untuk direbut. Kami membawa tombak dan keris."
Jawaban yang sekaligus berupa tantangan.
Dengan mengatakan membawa tombak dan keris berarti siap menghadapi
pertempuran.
"Aha, keris air laut apa yang mau dibanggakan?"
Senopati Anabrang maju dua tindak.
Kedua tangannya bertolak pinggang.
Ada dua hal yang membuat Senopati Anabrang tersinggung. Yang pertama
cukup beralasan. Yaitu sebutan "keris yang dibuat dari air laut". Memang selama ini
semua senjata prajurit Majapahit dibuat oleh para empu dengan air yang ada di
sekitarnya. Walau tidak betul-betul racikannya dari air laut, akan tetapi julukan
bernada ejekan sudah memasyarakat di kalangan jago silat. Air laut, karena asin dan
mengandung garam, bukan air yang bagus dipakai untuk mendinginkan baja atau
besi. Berbeda dari air pucuk gunung atau daerah pedalaman.
Tetapi yang membuat gusar Senopati Anabrang, adalah bahwa penghadang ini
meremehkan air laut. Sebagai senopati yang dalam perjalanannya hidup di laut, cara
meremehkan ini membuat Senopati Anabrang bertolak pinggang.
"Laut terlalu luas membentang dibandingkan dengan selokan. Katakan nama
dan maksud sobat semua, agar para ahli waris yang ingin memberi sesaji di belakang
hari tidak keliru dengan kuburan binatang."
"Lancang ucapanmu, para perampok budiman.
"Kami datang dengan baik-baik untuk meminta Tumbal Bantala Parwa yang
jelas-jelas kalian bawa, masih mau berlagak.
“Untuk menghadapi kalian semua, sejak berangkat kami telah mempersiapkan
diri."
Mpu Renteng maju sambil membetulkan letak kain putih yang tersampir di
pundaknya.
"Siapa bilang kami bawa kitab tak berharga itu?"
"Kami telah menunggu lama. Beberapa kali ada rombongan lewat, dan kami
memaksa untuk menyerahkan kitab milik leluhur kami, selalu dikatakan dibawa
rombongan di belakang. Nah, apakah kini kalian mau mengatakan hal yang sama?
"Apakah kami perlu menggeledah?"
Mpu Renteng menduga bahwa baik rombongan Mpu Nambi dan rombongan
Adipati Lawe sudah disatroni sembilan penghadang ini. Barangkali saja mereka tak
mau ambil peduli sehingga mengatakan dibawa rombongan di belakang. Dan mereka
menduga kali inilah rombongan yang dicari. Karena membawa joli.
"Kalau bisa menggeledah, kenapa tidak dicoba?"
Sret. Dengan gerakan yang sama kesembilan penghadang mencabut kerisnya.
Dengan gerakan yang sama pula mereka membentuk barisan. Satu di depan, dua di
belakang, tiga di dua baris terakhir. Semacam barisan yang sudah lama dilatih.
Yang membuat Mpu Renteng sedikit terkesiap ialah kenyataan bahwa
sembilan penghadang ini mempunyai gerak yang sama. Cara melangkah, cara
meletakkan kaki, dilakukan secara bersama-sama. Sehingga seakan ada satu orang
dengan delapan bayangan.
Bahkan bentuk keris yang diperlihatkan sama.
Sama-sama memantulkan cahaya.
"Sobat-sobat datang dari jauh untuk memamerkan permainan anak-anak kecil
seperti ini? Sungguh nama besar Kiai Sumelang Gandring sudah lama dipendam di
lumpur."
"Kalau mengenal nama leluhur kami, kenapa tidak menyerah saja dengan baikbaik?"
Mpu Renteng tertawa dingin.
Senopati Anabrang memuji pengamatan Mpu Renteng. Hanya dengan melihat
tangguh, yaitu melihat perkiraan bahan serta ciri-ciri bentuk keris, bisa mengenali
asal-usul kesembilan penghadang. Dari bentuk pamor atau ketajaman keris, bisa
dilihat seberapa jauh kasar atau halusnya. Ketajaman keris bukan hanya di bagian
ujung, melainkan juga di sisi kiri dan kanan, serta bilahnya. Pamor mengilat memang
menunjukkan jenis keris yang berasal dari tlatah Pajajaran. Dengan bentuk keris yang
lebih besar dari kebanyakan keris buatan Majapahit, serta lekuk yang tidak begitu
berkelok, Mpu Renteng yakin bahwa ini semua dari seorang empu yang kesohor, Kiai
Sumelang Gandring.
Nama Kiai Sumelang Gandring bisa dihubungkan dengan Mpu Gandring
karena konon memang mempunyai persamaan nama dan kemampuan yang sama
dalam membuat keris.
Hanya saja Kiai Sumelang Gandring dikabarkan mengembara ke tlatah kulon
atau wilayah barat untuk mencari tempat yang sesuai dengan pilihan hatinya. Selama
itu pula hanya tinggal cerita-cerita bahwa Kiai Sumelang Gandring terus
mengembangkan cara membuat keris pusaka serta ilmu silat. Dengan ciri utama
semua keris dari tradisi ini lurus tidak memakai lekukan, dan imbang antara sebelah
kiri dan kanan. Sogokan yang berada di tengah bagai urat nadi, kalau diukur dengan
rambut sekalipun, akan persis berada di tengah.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:34 pm

Inilah ciri utama tradisi Kiai Sumelang Gandring, yang konon menolak
sebutan empu.
"Sejak kapan kalian orang-orang gelandangan berani mengaku memiliki Kitab
Penolak Bumi? Sampai kapan pun kalian tak pernah bisa membaca kidung dan
menulis. Bagaimana leluhur kalian memiliki kitab?"
Sret-sret.
Sembilan keris bergerak bersamaan, mengiris angin.
Ini memang tak bisa main-main. Tak bisa dipandang enteng. Kalau sembilan
ksatria mampu memadukan rasa, kekuatan mereka bisa berlipat ganda. Sementara
Mpu Renteng menghitung bahwa dalam barisannya hanya ada tiga orang yang bisa
diandalkan. Dirinya sendiri, Mpu Sora yang perkasa berjaga dekat joli, serta Senopati
Anabrang.
Sret.
Kali ini malah hanya menimbulkan satu desisan angin. Kesembilan keris
menuding ke depan, sementara tangan kiri tertekuk di atas kepala, dengan kedua kaki
menekuk.
Secara bersamaan.
Mpu Renteng pernah melihat tiga bersaudara yang dikenal sebagai Tiga
Pengelana Gunung Semeru. Namun jumlah mereka hanya bertiga. Bukan sembilan
seperti sekarang ini.
Senopati Anabrang meloloskan dua pedang. Dipegang di kedua tangan.
Dengan satu tarikan, pedang sebelah kiri memberi aba-aba agar prajurit
mengundurkan diri untuk menjauh.
Mpu Renteng melepaskan kain di pundaknya, begitu melihat kesembilan
bayangan menyerbu bersamaan ke arahnya.
Nyai Demang
MPU RENTENG menggerung keras.
Ujung kainnya mengebas ke barisan terdepan dengan sabetan keras. Berusaha
menggulung langsung dengan jurus-jurus Bujangga Andrawina.
Satu yang digempur, delapan yang lain tiba-tiba melesak ikut masuk ke dalam
serangan. Dua barisan bagian belakang justru bisa lebih dulu maju mengepung. Berarti
enam penyerang bergerak secara serentak dan bersamaan.
Senopati Anabrang meloncat ke tengah.
Dua pedang di tangan kanan dan kiri bergerak cepat sekali. Menebas kanan,
menusuk kiri, mencungkil atas, menyabet ke bawah. Kesembilan penyerang nampak
bagai luwes dalam mengubah barisan. Satu saat seperti mengepung Senopati
Anabrang, akan tetapi pada saat berikutnya justru membuat repot Mpu Renteng.
Beberapa kali Senopati Anabrang bisa menerobos maju, akan tetapi bagai Jala
yang mengembang dan mengempis, sembilan penghadang mengubah bentuk dengan
gerak cepat dan bersamaan.
"Jiwandana Jiwana."
Terdengar aba-aba nyaring dan genit.
Mendadak sembilan ujung keris bergerak cepat. Berpindah dari tangan kiri ke
tangan kanan, berpindah lagi dari satu orang ke orang yang lain. Sehingga dalam
serangan yang makin merangsek tak bisa ditebak mana yang menyerang dan mana
yang memancing.
Berada di dua sisi yang berlainan tempatnya, Senopati Anabrang dan Mpu
Renteng seperti keteter atau terdesak. Bukan hanya tak bisa menerobos masuk, untuk
bisa bertahan saja sangat sulit. Bahkan dua pedang Senopati Anabrang beberapa kali
menebas angin, sementara sembilan keris seperti datang dan pergi.
"Bagus, bagus. Teruskan, teruskan."
Suara aba-aba nyaring dan genit kembali terdengar, disertai dengan tawa
cekikikan.
Mpu Sora bergerak agak maju ke depan.
Kini jelas bisa menyaksikan pertempuran, dan melihat bahwa yang memberi
aba-aba penyerangan dari jauh adalah Nyai Demang. Nada suaranya yang renyah,
gembira, dan sekaligus genit, cara mengucapkan kata "bagus" yang ditiru oleh Galih
Kaliki memang tak bisa ditiru yang lain.
Jiwandana adalah nama siasat perang yang juga berarti tembang. Sedangkan
Jiwana berarti hidup. Dengan aba-aba itu, Nyai Demang yang nampaknya menikmati
pertempuran bisa menggerakkan sembilan penyerang dengan sangat tepat.
Melihat Senopati Anabrang dan Mpu Renteng tak bisa memberikan
perlawanan berarti, Nyai Demang makin terkekeh.
"Bagus. Sekarang desak terus dengan Jiwandana Jiwagra."
Jiwagra bisa diartikan sebagai ujung lidah. Dan memang itu yang terjadi.
Mendadak barisan terdepan menyatukan keris dan menggempur keras Senopati
Anabrang yang terpaksa menggulung diri dalam dua pedang sebagai perisai.
Terdengar bunyi keras benturan keris dan pedang.
Sebelum Senopati Anabrang sadar, keris sudah berpindah seluruhnya ke
bagian lain, dan bret, giliran selendang Mpu Renteng tersobek.
Begitu Senopati Anabrang menyerang, sembilan keris telah terbagi rata
kembali di tangan sembilan penyerang.
Betul-betul luar biasa.
"Bagus, kan? Jangan sobek kainnya kalau bisa ulu hatinya."
Nyai Demang tertawa gembira.
"Aha, kenapa terlalu memikirkan besi Sombra?"
Nyai Demang melihat ke arah Mpu Sora.
"Hei, orang tua dari mana ikutan berteriak di sini?"
"Aku hanya ingin mengatakan bahwa besi Sombra akan dingin dengan
sendirinya. Apakah karena sesama wanita Nyai Demang merasa tersinggung?"
Mpu Sora sengaja keras-keras meneriakkan kalimatnya.
Mpu Renteng dan Senopati Anabrang sadar.
Bahwa sebenarnya Mpu Sora sedang memperlihatkan jalan keluar dari
serangan sembilan penghadang. Dengan meneriakkan Sombra, itu mengingatkan
nama empu pembuat keris dari Pajajaran. Sekaligus menunjukkan bahwa Mpu
Sombra adalah satu-satunya empu wanita yang mampu membuat keris pusaka. Tapi
juga sekaligus memberikan jalan terang!
Menghadapi wanita, tidak harus dengan melawan sama kerasnya. Makin
diperangi, makin terlibat ke dalam, dan tak bisa membedakan mana yang Serangan
sebetulnya dan mana serangan yang berupa tipuan. Seperti menghadapi "ujung lidah"
wanita.
Itulah yang dikatakan Mpu Sora.
Dan Nyai Demang juga bisa menangkap pesan di balik kata-kata Mpu Sora.
Bahwa sebenarnya kalau sedikit bersabar, serangan sembilan keris ini akan lebih bisa
diungguli.
Sebenarnya yang terakhir ini Senopati Anabrang maupun Mpu Renteng bisa
mengetahui. Seperti juga semua jago silat. Karena sembilan penyerang ini bergerak
bersamaan dan selalu berpindah tempat, berarti memerlukan tenaga yang lebih
banyak. Dan dalam pertarungan yang terulur panjang, mereka lebih mudah dipukul.
Apalagi, meskipun kelihatannya sekilas luar biasa geraknya, tenaga dalam mereka tak
terlalu istimewa.
"Kalau memang merasa jagoan, ayo terjun ke gelanggang."
"Nyai Demang, saya sudah tua. Sudah tidak kuat bertarung."
Bagi Mpu Sora lebih menguntungkan berada di luar pertempuran. Selain bisa
menjaga Permaisuri Gayatri, terutama juga bisa mengawasi jalannya pertempuran.
Seperti juga Nyai Demang yang bisa membaca dan menunjukkan arah pertempuran.
Karena sebelum dikomando langsung, kesembilan penyerang ini belum menunjukkan
keunggulan.
"Mulutmu bau, Sora."
"Begitulah kata orang yang hidungnya busuk."
Mpu Sora sengaja terus menimpali semua kata-kata Nyai Demang yang
terkenal pandai mengecoh.
"Jadi kamu sudah membauiku, ya? Kenapa kemarin-kemarin bilang harum dan
sekarang ini bilang busuk?"
Inilah keunggulan Nyai Demang.
Pandai bersilat lidah.
Bisa dimengerti kalau menghadapi Nyai Demang, Galih Kaliki menjadi pemuja
yang tiada habisnya. Ibarat kata disuruh menari di jalanan pun akan dilakukan.
Mpu Sora juga mengakui bahwa Nyai Demang bukan hanya pandai bersilat
lidah, akan tetapi mempunyai pengalaman yang sangat luas sekali. Nyatanya secara
aneh sekali bisa mengerti jurus-jurus dari Pajajaran. Bahkan secara langsung bisa
memberi komando.
Ini memang luar biasa.
Ditambah dengan kemontokan tubuhnya serta caranya menggoda lelaki, Nyai
Demang sebenarnya bisa sangat membahayakan!
Ini yang kurang diperhitungkan.
Sewaktu penyerbuan ke Perguruan Awan, Nyai Demang sama sekali tidak
kelihatan. Kini bisa tiba-tiba muncul dan memberi perintah jagoan dari tlatah kulon.
Apa ini tidak hebat?
Mpu Sora tak habis pikir bagaimana semua hal ini bisa terjadi.
Tetapi satu hal ia merasa yakin. Bahwa kesembilan penyerang ini sekadar
diperalat saja oleh Nyai Demang yang susah ditebak maksudnya.
Susah ditebak, karena sebenarnya kalau ia ingin membalas dendam karena
keadaan Upasara Wulung, ia bisa langsung menyerang secara membabi buta.
Ataukah sesungguhnya Nyai Demang belum tahu keadaan Upasara?
Mpu Sora bisa berpikiran lebih luas dibandingkan dengan Mpu Renteng. Ia
bisa lebih jauh memikirkan taktik-taktik yang tak nampak.
"Nyai Demang, kenapa kamu permainkan ksatria yang datang dari jauh? Untuk
apa Nyai Demang goda dengan mengatakan kami membawa Kitab Penolak Bumi?"
"Pak Tua, kamu ini cerdik. Masa kamu tidak tahu bahwa aku ingin memberi
pelajaran kepada Gayatri yang tak bisa main silat tapi bisa menyebabkan Kakang
Upasara membebaskannya. Biarlah sekali ini tubuhnya digeledah oleh sembilan orang
yang tak dikenal. Biar tahu rasa. Ia bukan wanita paling suci di dunia ini.
"Masa begini saja kamu tanya."
Mpu Sora benar-benar kaget.
Tak nyana sedikit pun bahwa sebenarnya sudah ada pertemuan antara Upasara
Wulung dan Permaisuri. Pertemuan yang diketahui oleh Nyai Demang. Bahkan
sebenarnya yang membebaskan Permaisuri Gayatri adalah Upasara Wulung! Ini
berarti Upasara Wulung bisa mengungguli Klikamuka yang sanggup meremas ujung
tombak, sanggup menarik kembali cundhuk tanpa menyentuh, mampu melemparkan
potongan tombak amblas ke dalam pohon besar!
Agaknya Upasara juga membebaskan Permaisuri secara diam-diam. Tanpa
berusaha menemui secara langsung.
Dugaan ini dikaitkan dengan kemarahan Permaisuri yang mengatakan bahwa
ternyata Upasara tidak mau menemuinya!
Aneh, dunia ini sungguh!
Mpu Sora merasa tak habis pikir. Upasara membebaskan putri yang pernah
dicintai, tapi tak mau menemui. Sementara kini, Nyai Demang justru melampiaskan
dendamnya kepada Gayatri. Dendam Nyai Demang tak jauh bedanya dengan
kecemburuan Gendhuk Tri!
Yang tak diketahui oleh Mpu Sora ialah bahwa sebenarnya dulu Upasara
pernah tertarik kepada Nyai Demang.
Jadi sesungguhnya apa yang terjadi ketika Permaisuri lenyap terculik tadi?
Tenaga Penolak Bumi
SEMENTARA itu, medan pertempuran makin seru.
Para prajurit masih berjaga-jaga karena belum ada isyarat dari Mpu Sora. Yang
terakhir ini masih tercenung, seperti juga Nyai Demang yang berdiam diri.
Sebaliknya Mpu Renteng merasa segala ganjalan dalam hatinya makin
membengkak. Sebagai senopati yang dipilih menjadi utusan raja, begitu muncul ia
terdesak.
Pertama kena sodok Klikamuka dalam gebrakan pertama.
Kini menghadapi sembilan penghadang tak dikenal, kainnya bisa dirobek.
Bukan penampilan yang baik.
Maka kini, dengan mengempos semangatnya, Mpu Renteng menggertak maju.
Kainnya berkibaran, sementara kedua tangannya meraup, memagut, dengan gerakan
kaki yang enteng, menyerang maju, mendesak.
Tanpa terasa Mpu Renteng telah memainkan jurus Bujangga Kapisa, atau jurus
Ular Merah. Tenaga panas menyambar dari kedua belah tangannya. Beberapa kali
secara sengaja tangannya memapaki keris lawan. Tangan penyerang dipatuk dengan
sentilan tinggi. Ujung jari Mpu Renteng berwarna merah.
Akan tetapi semakin Mpu Renteng merangsek maju, semakin keras ia
berbenturan. Sudah beberapa jurus dimainkan, akan tetapi tetap saja tak bisa
menerobos maju. Padahal sekali bisa mematahkan serangan, kombinasi sembilan
penyerang ini bisa dipatahkan.
Anak-cucu Kiai Sumelang Gandring bisa mengimbangi dengan barisan yang
bisa mulur-mungkret, menjulur-mengerut. Sehingga Mpu Renteng seperti ombak
yang bisa datang-pergi menurut iramanya sendiri.
Senopati Anabrang sendiri mencoba menahan diri untuk tidak terlalu
menggertak. Akan tetapi ternyata keadaannya tidak membaik. Justru sebaliknya
tekanan makin bertambah. Tekanan mengencang dan mengendor silih berganti.
Terpaksa Senopati Anabrang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk tidak
ditindih.
Mpu Renteng menjadi tidak sabar. Dengan menggerung keras, kain yang ujungnya
lepas, mengempas ke depan. Kedua tangannya terentang. Tubuhnya melayang ke
tengah barisan!
Bujangga Karakap yang merupakan bagian dari jurus paling berbahaya
dimainkan. Karakap adalah nama jenis cecak terbang atau juga disebut kendik. Hanya
kali ini Mpu Renteng memainkan dengan tenaga seperti seekor ular terbang.
Langsung ke tengah. Ke pusat lawan.
Ini berarti Mpu Renteng ingin segera menyelesaikan pertarungan. Dengan
kemenangan di tangannya karena bisa membuat barisan lawan kocar-kacir. Atau
sebaliknya ia terkurung dalam perangkap.
Gerakan tubuh Mpu Renteng menjadi sangat enteng. Melayang rendah,
menyambar sekitar.
"Jiwandana Multak!"
Teriakan Nyai Demang mendadak mengubah situasi. Sembilan bayangan
bergerak bersama meloncat jauh. Jiwandana Multak adalah siasat perang mengalir ke
luar. Ini ternyata berarti seluruh serangan berganti arah.
Menghantam Senopati Anabrang!
Sembilan bayangan berloncatan secara bersamaan, ada yang rendah, ada yang
setengah tinggi, ada yang tertinggi. Tanpa terkecuali, semuanya disertai keris
terhunus, menusuk Senopati Anabrang.
Kalau Mpu Renteng menemukan tanah kosong, sebaliknya maut menyongsong
Senopati Anabrang.
Nyai Demang sungguh luar biasa menganalisa pertempuran!
Tidak menyangka bahwa lawan bisa mengubah gempuran dalam sekejap,
Senopati Anabrang jadi bertahan. Kedua pedangnya menutup. Namun tusukan
sembilan keris dari berbagai sudut membuat tangannya pegal-pegal.
Tanpa terasa satu pedang terlepas.
Sabetan kedua, pedang kedua terlepas.
Sembilan bayangan masih terus berloncatan saling berganti tempat, sebelum
mengeluarkan teriakan tinggi dan menyerbu masuk! Bukannya Mpu Renteng, alihalih
malah Senopati Anabrang yang terkepung.
Mpu Sora berteriak dingin sambil melayang ke atas. Ia terpaksa meninggalkan
sarang penjagaannya atas Permaisuri. Mpu Renteng masih terkesima karena cara
bergerak lawan yang bolak-balik dan serba berubah.
Dalam keadaan terjepit, Senopati Anabrang tidak menjadi hilang akal.
Walaupun nggragap, Senopati Anabrang merapatkan kedua tangan, mengalirkan
tenaga untuk menahan tusukan dengan gerakan Dwara Pala atau gerakan Penjaga
Pintu. Dengan demikian, kalaupun terkena serangan, bukanlah serangan yang
membahayakan. Karena ia telah menarik seluruh tenaganya untuk berjaga. Tusukan
pertama mana yang datang, itu yang akan ditangkis lebih dulu sekuatnya. Senopati
Anabrang sadar bahwa di depannya ada sembilan keris. Satu bisa dienyahkan, akan
tetapi delapan bilah yang lain bisa amblas menyusup. Akan tetapi jurus ini juga
mengandung keampuhan. Kalau satu tertangkis, bisa membuyarkan cublesan yang
lain.
Mendadak terdengar teriakan nyaring.
Mpu Renteng hampir tak percaya apa yang dilihatnya. Mpu Sora yang turun
terpaku di tempat.
Karena sembilan penyerang yang begitu garang tiba-tiba saja seperti tertolak
dengan tenaga dahsyat. Bahkan penyerang pertama terlempar jauh.
Luar biasa.
Dalam sekejap sembilan penyerang dibikin jumpalitan. Barisan menjadi kacau.
Dua penyerang terlempar jauh.
Senopati Anabrang sendiri tak menduga bahwa tenaganya bisa membuyarkan
lawan. Ketika berupaya memainkan jurus Penjaga Pintu, Senopati Anabrang hanya
bisa memperkecil bahaya yang datang. Hanya saja ketika bahaya makin mendekat,
ada tenaga bergumpal dalam dadanya yang mendesak, menggerakkan tangannya lebih
mantap. Sehingga gerakan jurus Penjaga Pintu menjadi bertenaga. Dan begitu melihat
hasilnya, Senopati Anabrang sendiri merasa heran.
Seakan tak percaya apa yang dilakukannya.
"Anabrang, tukang bawa perempuan, sejak kapan kamu mencuri Tenaga
Penolak Bumi?"
Ini yang tak diketahui oleh Senopati Anabrang. Ia rela dimaki—apalagi hanya
oleh Nyai Demang—sebagai pembawa perempuan dari seberang. Karena memang
begitulah adanya. Ia membawa dua putri ayu dari Melayu. Akan tetapi dituduh
mencuri tenaga Penolak Bumi membuatnya beringas.
Sebagai ksatria, adalah pantangan besar untuk mempelajari secara mencuricuri
ilmu dari perguruan lain. Itu suatu tindakan yang sangat tercela. Tak ada
kehinaan yang lebih nista bagi ksatria kalau sampai ketahuan mencuri ilmu orang
lain.
"Perempuan busuk, jaga mulutmu baik-baik. Aku Senopati Anabrang tak nanti
mencuri ilmu dari perguruan lain."
"Oho, kamu kira aku ini buta? Jelas sekali kamu menggunakan tenaga Tumbal
Bantala. Cara melatih tenaga semacam itu kamu pikir bisa diperoleh di laut? Seekor
cacing akan tertawa sampai sakit perut. Kamu bisa membodohi cecurut mana pun,
tapi tentu bukan aku.
"Nah, agar hukumanmu bisa diperingan, bagaimana kalau kamu mengaku
saja?"
Senopati Anabrang mengertakkan giginya.
Tinjunya terkepal.
"Kalau ingin menjajal ilmu, majulah."
"Oh ya? Untuk apa aku menjajal ilmu curian, kalau aku bisa menemukan yang
aslinya?
"Hei, kalian yang mengaku anak-cucu Sumelang Gandring" teriak Nyai
Demang kepada sembilan penyerang yang kini mulai menyusun barisan lagi. "Kalian
sudah tahu sendiri. Sudah menemukan bukti bahwa mereka mempelajari kitab
Penolak Bumi.
"Baru saja didemonstrasikan.
"Jadi terserah kalian. Apakah tetap mau mengambil kembali atau menyerah
saja."
Di balik ucapannya, yang sepintas kedengarannya seperti menjelaskan,
terasakan api yang membakar! Menyulut ke arah pertarungan yang mati-matian.
Betapa tidak, kalau jauh-jauh mereka mencari Tumbal Bantala Parwa, dan
sekarang ditunjukkan ada bukti-bukti, masa ditinggalkan begitu saja?
Mpu Sora mendongak.
"Kisanak dari tlatah kulon, masih banyak waktu untuk menguji kebenaran.
Untuk apa memaksa diri? Kami manusia yang mempunyai nama dan tempat tinggal.
Kalau tidak sekarang, masih ada waktu lain.
"Jangan memaksa kami menggunakan keunggulan prajurit untuk menindak
yang lemah."
Dengan satu tangan memberi aba, prajurit yang ada menyiapkan serangan.
"Sora, kalian jelas orang-orang busuk. Setelah ketahuan mencuri cara melatih
pernapasan milik Upasara, kini kalian mau menutupi diri dengan ilmu keroyokan
Majapahit."
"Nyai Demang, kenapa kamu menuduhku mencuri Kitab Penolak Bumi yang
belum pernah kulihat dan kusentuh?"
"Anabrang, kamu ksatria palsu. Kau kira kamu mampu melatih sendiri cara
pernapasan seperti Tumbal Bantala? Bukankah tenaga itu hanya muncul ketika kamu
terdesak? Ketika kamu bersedia menjadi tumbal?"
"Nyai Demang, sejauh ini aku berada di seberang. Sekian lama aku tidak
menginjak bumi Jawa dari ujung barat sampai timur, dari ujung utara sampai selatan.
Bagaimana mungkin aku mempelajarinya? Apalagi mencurinya?
"Pakailah otakmu barang secuil, Nyai!"
Delapan Jurus Nujum Bintang
NYAI DEMANG termangu sejenak.
Apa yang dikatakan Senopati Anabrang masuk ke dalam benaknya. Menurut
perhitungan, agak kurang masuk akal kalau secara diam-diam Senopati Anabrang
mencuri ilmu cara mengatur tenaga dan pernapasan seperti yang tertulis dalam Kitab
Penolak Bumi.
Kemungkinan yang lain ialah mempelajari dari Dwidasa Nujum Kartika, kitab
lain yang dianggap sangat dekat hubungannya dengan Kitab Penolak Bumi.
Seperti diketahui hampir semua tokoh persilatan mengenal Dwidasa Nujum
Kartika, yang lebih dikenal sebagai Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Dalam hal ini
menjadi teka-teki, justru karena selama ini dikenal nama awal dwidasa, dua puluh,
akan tetapi yang dikenal luas hanya dua belas jurus. Hal ini sudah dianggap ada
semacam kekeliruan yang tidak mengganggu.
Namun Nyai Demang mempunyai perkiraan lain, bahwa kemungkinan
terbesar ada bagian dari kitab tersebut yang hilang. Nyai Demang pernah
memperdebatkan secara sengit dengan Upasara Wulung beberapa waktu yang lalu.
Upasara menganggap bahwa kitab Dwidasa Nujum Kartika memang hanya
terdiri atas Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Tak ada jurus yang hilang. Dinamakan
dwidasa justru karena delapan jurus sisanya sebenarnya termasuk dalam Tumbal
Bantala Parwa, yang nyatanya memang terdiri atas Delapan Jurus Penolak Bumi, atau
Delapan Kidung Penolak Bumi.
Delapan Kidung ini merupakan cara-cara mematahkan serangan yang ada
dalam Dua Belas Jurus Nujum Bintang, atau serangan sejenis dengan itu.
Ingatan Nyai Demang tergugah mengenali Delapan Jurus Nujum Bintang yang
Hilang setelah melihat cara Senopati Anabrang mematahkan serangan sembilan
penyerang. Bukan tidak mungkin bahwa selama ini Senopati Anabrang mempelajari
Delapan Jurus Nujum Bintang yang Hilang, mengingat kitab-kitab yang menjadi
sumber berawal dari masa kejayaan Baginda Raja Sri Kertanegara! Pada zaman itulah
semua kitab silat dan ilmu surat dari berbagai sumber di segenap jagat disalin.
Ini lebih masuk akal dibandingkan menuduh Senopati Anabrang mencuri
ilmu!
"Anabrang, kamu boleh berang karena aku mendakwamu mencuri. Akan
tetapi sesungguhnya yang baru saja kamu tunjukkan adalah Tenaga Penolak Bumi.
"Aku bisa keliru, akan tetapi di sini ada Sora, ada Renteng, ada sembilan murid
Sumelang Gandring yang sejak semula mempelajari kitab tersebut, karena merasa
memiliki."
Mendengar kata-kata Nyai Demang yang melunak, Senopati Anabrang jadi
berkurang marahnya. Senopati Anabrang mengakui kebenaran kata-kata Nyai
Demang, akan tetapi ia sendiri tak bisa memberi penjelasan bagaimana hal itu bisa
terjadi.
"Biar lebih jelas, aku akan mengatakan padamu. Pasang kupingmu baik-baik.
"Yang kalian hadapi ini para senopati pilihan dari Keraton Pajajaran di tlatah
kulon, yang menjadi murid langsung dari ajaran Kiai Sumelang Gandring.
"Bahkan mereka semua ini memakai nama yang nunggak semi, atau ada
kemiripannya dengan Kiai Sumelang Gandring. Mereka bersembilan ini namanya
urut: Kartika Gandring, Pusa Gandring, Manggasri Gandring, Sitra Gandring,
Manggakala Gandring, Naya Gandring, Palguna Gandring, Wisaka Gandring, serta
Jita Gandring. Tak terlalu sulit mengingatnya, karena semua dimulai dari nomor
kesatu, Kartika, hingga nomor kesembilan, Jita.
"Kalau semua muncul, tiga yang lainnya adalah Srawana Gandring, Padrawana
Gandring, serta Asuji Gandring."
Sampai di sini kesembilan Gandring membungkuk hormat kepada Nyai
Demang.
"Entah ke mana yang tiga lainnya.
"Nah, dari dua belas Gandring yang ada menunjukkan persamaan dengan Dua
Belas Jurus Nujum Bintang yang kita kenal. Berarti ada hubungan dengan kitab
Dwidasa Nujum Kartika, kalau kita mau menerima kenyataan bahwa Kitab Penolak
Bumi yang delapan jurus itu sebenarnya bagian dari keseluruhan.
"Anabrang, saya hanya ingin mengatakan bahwa hanya mereka yang merasa
berlatih langsung mengenal Tumbal Bantala Parwa. Kalau kesembilan Gandring ini
memainkan ilmu tersebut, saya tak akan menuduh mereka mencuri. Akan tetapi
kamu yang mempertunjukkan ilmu itu.
"Katakan, apakah tuduhanku mengada-ada?"
Mpu Sora menelan ludahnya.
Mpu Renteng tak bisa menahan sorot kekagumannya.
Demikian juga Senopati Anabrang. Justru karena merasa mempunyai
pengalaman luas menjelajah sampai tlatah seberang lautan, kekaguman makin tak bisa
disembunyikan. Dalam perjalanannya ke tlatah Melayu ia sempat singgah di tlatah
kulon. Serta sempat mengenal ilmu silat yang berkembang di daerah itu. Akan tetapi
pengetahuannya tidak sampai seperberapanya Nyai Demang.
Justru Nyai Demang yang kelihatan lebih menguasai.
Kekaguman Senopati Anabrang bisa dimengerti, karena tidak mengenal Nyai
Demang. Namun Mpu Sora pun mengakui kelebihan Nyai Demang. Kelebihan yang
selama ini belum ada tandingannya!
Sebagai ksatria, nama Nyai Demang bukan nama yang harum. Sepak
terjangnya bahkan jauh dari sebutan itu sejak dikabarkan main cinta dengan berbagai
jago silat. Apalagi sikap dan tindak-tanduk Nyai Demang menunjukkan perilaku yang
jauh dari susila.
Sebagai jago silat, kemampuan Nyai Demang tidak terlalu luar biasa. Masih
jauh di bawah Galih Kaliki.
Namun yang membuat Nyai Demang sangat disegani ialah karena kemampuan
berbahasa yang tiada duanya. Nyai Demang-lah yang menjadi penyalin bahasa
pasukan Tartar yang dulu datang. Dengan caranya sendiri, Nyai Demang mampu
bercakap-cakap dengan para jago silat dari negeri Tartar. Bahkan bisa membaca kitabkitab
yang mereka bawa. Nyai Demang pula yang mampu berbicara dan berhubungan
dengan para jago silat yang datang dari tlatah India. Entah sejauh mana penguasaan
bahasa tersebut, akan tetapi nyatanya hanya Nyai Demang yang bisa berbicara
langsung kepada mereka yang berasal dari budaya mancanegara.
Itulah sebabnya, kehadiran Nyai Demang dalam dunia persilatan tak bisa
disamai oleh siapa pun selama ini!
Maka kalau sekarang Nyai Demang bisa dengan jelas mengatakan siapa
sembilan penyerang yang datang, adalah hal yang masuk akal sekali. Kalau kemudian
Nyai Demang mempermainkan sembilan Gandring ini dengan mengatakan bahwa
Tumbal Bantala Parwa ada di dalam joli, akan dipercaya.
Seperti ketika menyudutkan Senopati Anabrang sekarang ini.
"Nyai Demang yang luas pandangannya, secara jujur saya akui, saya tidak
mengerti tuduhan Nyai. Saya sendiri, saya akui secara jujur, merasa mujur bisa
memorakporandakan barisan sembilan Gandring ini."
"Mustahil."
Senopati Anabrang ksatria yang jujur. Maka dengan rendah hati ia mengakui
ketidaktahuannya. Dengan merendahkan diri, Senopati Anabrang membungkukkan
tubuhnya
"Mohon Nyai Demang sudi memberi petunjuk. Kalau ternyata saya bisa
dibuktikan mencuri ilmu perguruan lain, saat ini juga saya lebih suka menjadi
makanan cacing."
Nyai Demang terbatuk.
"Susah, susah.
"Menghadapi manusia-manusia yang kosong ilmu surat, membuat saya harus
menggurui."
"Sesungguhnyalah, saya, Senopati Anabrang, mohon petunjuk Nyai Demang."
Mpu Renteng tak menduga bahwa Senopati Anabrang bisa merendahkan diri
begitu rata dengan tanah di depan Nyai Demang yang baru saja dicaci sebagai
"perempuan busuk".
Nyai Demang sendiri tergoda oleh kejujuran tulus yang diperlihatkan Senopati
Anabrang. Yang tidak sungkan-sungkan memberi hormat padanya.
"Anggap saja gurumu memberi pengajaran."
Senopati Anabrang membungkuk hormat.
"Hei, jangan kelewatan, Anabrang. Mana aku mau menerima murid segagah
kamu? Menjadi gurumu bakal rugi! Aku akan dibilang tak punya susila kalau mainmain
dengan muridnya sendiri."
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:35 pm

Mpu Sora bergidik hatinya.
Sungguh keterlaluan cara bicara Nyai Demang. Di depan banyak telinga yang
mendengar, di lapangan terbuka, seenaknya ia bicara soal asmara.
"Latihan pernapasan atau cara melatih tenaga dalam yang diajarkan dalam
kidungan Tumbal Bantala Parwa lain dengan cara mengatur pernapasan dari berbagai
kitab yang ada. Karena intinya adalah pernapasan jika terdesak. Bernapas bukan
sesuatu yang seharusnya, bukan keadaan yang wajar. Dalam Kitab Penolak Bumi,
bernapas hanya dilakukan kala keadaan sudah mendesak dan tak terhindarkan lagi.
"Cara semacam ini hanya mungkin kalau mempelajari secara langsung. Tak
mungkin kalau tidak melatihnya sendiri.
"Kecuali kalau... kalau... ah, tapi itu tak mungkin. Sangat tidak mungkin."
Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Berulang-ulang.
Mpu Renteng jadi berdebar.
"...kecuali kalau Upasara Wulung memberikan tenaga itu padamu. Dengan
risiko ia kehilangan tenaga dalamnya yang murni yang selama ini dilatihnya."
Justru itu kemungkinan satu-satunya!
Kitab Bumi
MPU SORA menahan gumpalan dalam dadanya yang mendadak bergejolak!
Ia bisa segera mengerti bahwa Senopati Anabrang secara tidak langsung
menerima tenaga dalam murni dari Upasara Wulung. Yaitu saat ia terluka oleh racun
Gendhuk Tri. Saat itulah Upasara menolongnya untuk mengusir racun tersebut.
Tenaga dalam yang disalurkan oleh Upasara sebagian untuk mengusir racun.
Akan tetapi sebagian lagi mengendap dalam tenaga murninya sendiri.
Itulah yang keluar tanpa sengaja.
Sehingga sembilan Gandring dengan barisannya bisa buyar!
Mpu Sora merasa dadanya lebih bergolak lagi. Kalau hanya sebagian dari
tenaganya yang tersalur saja sudah seperti itu, sesungguhnya Upasara betul-betul
menyimpan kekuatan yang sangat dahsyat!
Yang bisa untuk menandingi seluruh prajurit yang mengepungnya. Bahkan
bukan tidak mungkin Upasara bakal mengungguli.
Ini yang hebat.
Sangat masuk akal sekali kalau Baginda Raja menganggap permasalahannya
sangat gawat. Sehingga dikerahkan segala daya dan taktik untuk memastikan Upasara
di pihak mana. Sehingga Baginda Raja sampai tega mengirimkan Permaisuri. Atau
kemudian Mpu Nambi atau utusan yang lain memaksakan Toikromo. Berarti segenap
usaha yang paling besar dikerahkan.
Kalau dilihat kemampuan Upasara yang begitu hebat, Baginda Raja memang
tak bisa tidak harus memaksa dengan segala cara.
Dan, nyatanya lebih hebat lagi.
Upasara memilih menghancurkan dirinya sendiri.
Ini yang belum diketahui oleh Nyai Demang. Kalau sudah tahu, ia akan
bertanya-tanya seperti ini!
"Di antara gunung yang sangat tinggi, ternyata masih ada gunung yang lebih
tinggi. Di antara samudra yang sangat luas, ternyata masih ada samudra yang lebih
luas lagi.
"Sungguh, hari ini saya yang tua terbuka matanya. Dengan tulus saya
menghaturkan terima kasih atas petunjuk Nyai Demang."
"Sora... Sora!
"Kamu akan lebih mengagumiku tujuh kali lipat kalau kamu tahu bahwa yang
kukatakan hanyalah sekuku hitam dari yang kuketahui. Sebenarnya akulah yang
harus diperhitungkan rajamu yang gemar wanita itu, bukan Upasara.
"Akulah yang bisa menentukan dan mengatur semua ksatria yang sebenarnya
anak-anak kecil belaka."
Nyai Demang menghela napas.
"Sayang aku tak tertarik menjadi jagoan yang tak terkalahkan. Aku lebih suka
menikmati kesenangan duniawi. Kalau aku tidak mengobral asmara yang
memperlemah tenaga dalamku, apakah kamu pikir ada yang mampu menandingiku?"
"Nyai Demang, aku mengagumimu. Akan tetapi aku tidak menyesal
karenanya. Ini dunia yang kupilih."
Bibir Nyai Demang menyunggingkan senyuman.
"Di seluruh jagat ini siapa yang mengetahui kitab babon dari semua kitab ilmu
silat? Bahkan Upasara sendiri tak tahu secara persis.
"Akulah yang mengetahui bahwa kitab babon, induk dari segala kitab itu
adalah Bantala Parwa, atau Kitab Penolak Bumi. Kitab ini juga disebut Dwidasa
Nujum Kartika. Yang terdiri atas Dua Belas Jurus Nujum Bintang, dan Delapan Jurus
Penolak Bumi.
"Kecuali kalau ada yang bisa menunjukkan Delapan Jurus Nujum Bintang yang
dapat melengkapi Dwidasa Nujum Kartika. Tapi selama belum ada yang bisa
menemukan dan memperlihatkan, pendapatku yang paling tepat.
"Nah, apakah kalian yang mendengar ini mau membantah?"
Tak ada jawaban.
"Akulah yang paling lengkap membaca semua kitab itu. Dengan begitu akulah
yang paling dibutuhkan saat ini, oleh siapa pun yang ingin mencapai puncak tak
tertandingi.
"Nah, masih ada yang berani menyanggah?"
Senyum Nyai Demang makin lebar.
Akan tetapi mendadak berubah ketika Senopati Anabrang berkata,
"Nyai Demang, sesungguhnya tenaga ini pemberian dari Upasara Wulung,
ksatria sejati di jagat ini, Senopati Pamungkas Keraton Majapahit."
Nyai Demang terguncang.
Tubuhnya yang montok bergoyang.
Kedua tangannya memegangi kepalanya.
"Gusti..."
Tubuhnya makin keras bergoyang bagai kena gelombang. Terhuyung-huyung
Nyai Demang seperti mabuk berat. Baru setelah menghela napas beberapa kali,
wajahnya sedikit tenang.
"Siapa pun yang membuat Upasara menjadi cacat, aku tak akan pernah
mengampuni. Harap kalian ingat baik-baik."
Nyai Demang berbalik.
Sembilan Gandring mengikuti.
"Hari ini aku ada urusan gawat. Lebih baik kalian semua enyah dari depanku."
Sembilan Gandring berhenti.
Menuruti setiap kata Nyai Demang. Yang mengerahkan kemampuannya
berlari menuju Perguruan Awan. Tubuhnya tetap gesit, sehingga belum setengah hari
sudah masuk ke dalam wilayah Perguruan Awan.
Tanpa berhenti sekejap pun Nyai Demang terus masuk ke dalam.
Bagi orang luar, Perguruan Awan termasuk membingungkan. Karena hutan ini
tak ditandai dengan apa-apa yang bisa dijadikan petunjuk. Akan tetapi Nyai Demang
pernah berada di dalam dan sering keluar-masuk. Sehingga bisa mencari beberapa
lokasi yang menjadi tempat pertemuan.
Dugaan Nyai Demang tidak meleset.
Jaghana berada di sederetan pepohonan yang akar-akarnya membentuk
semacam gua. Tapi Nyai Demang kaget. Pandangannya berkunang-kunang.
Apa yang sekilas disaksikan membuat sukmanya seakan terbang!
Pertama tadi dilihatnya Jaghana sedang duduk bersila. Di sampingnya terbujur
tubuh Upasara yang tidak bergerak sedikit pun. Daya hidupnya hanya ditandai
dengan napasnya yang kedengaran begitu berat. Ada luka menganga di bagian dada.
Sementara di tempat yang tak ada satu tombak, Gendhuk Tri menggeletak. Di
sekitarnya ada bekas-bekas muntahan darah. Wilanda menjaga dengan tubuh tak
bergerak. Hanya melirik pasrah ketika melihat Nyai Demang datang.
Yang lebih luar biasa adalah Galih Kaliki.
Seumur hidupnya belum pernah melihat Galih Kaliki tidak berjingkrakan
melihat kemunculannya. Sejak pertama kali melihat Nyai Demang, Galih Kaliki
sangat kesengsem, sehingga tak ubahnya seperti anak kecil.
Namun sekarang ini pandangannya melotot.
Tanpa berubah ketika Nyai Demang mendekat.
Nyai Demang tertunduk.
Matanya membasah.
Terguguk.
Untuk pertama kali pula Nyai Demang meneteskan air mata dengan perasaan
sedikit lega.
"Sudahlah, Nyai..."
"Paman Jaghana, katakan apa yang terjadi."
"Seperti yang Nyai lihat, itulah yang terjadi. Marilah kita berdoa kepada Gusti
Dewa yang Mahaagung. Agar perkenannya yang terjadi di dunia ini."
Selesai berkata, Jaghana kembali bersemadi.
Nyai Demang memandang Wilanda.
"Paman Wilanda, apakah Upasara..."
"Anakmas sedang istirahat. Atas kemauannya sendiri. Marilah kita sama-sama
menunggu di sini, agar diberi jalan oleh Dewa dari segala Dewa yang kita muliakan."
Nyai Demang makin tak bisa menahan tangisnya.
Wanita ini, yang baru saja berkata bahwa ia menguasai dan pernah membaca
babon dari segala kitab yang diperebutkan, tetap seorang wanita yang halus
perasaannya. Yang bisa meneteskan air mata dalam jangka waktu lama. Sampai bulan
bersinar sempurna.
Sampai matahari kemudian terbit keesokan harinya.
Dan terbenam lagi.
Selama itu pula Jaghana terus bersemadi di sampingnya. Demikian juga
Wilanda. Hanya Galih Kaliki yang beberapa kali mencoba memusatkan pikirannya,
akan tetapi selalu gagal.
"Kita tak bisa membantu apa-apa."
"Kakang jangan merasa gagal."
"Nyai, siapa yang bisa dilumatkan kalau akhirnya harus seperti ini? Kita ini
kalau salah, salahnya apa? Kalau dosa, dosanya seberapa?"
Nyai Demang sadar.
Bahwa yang bisa dilakukan hanyalah menunggu. Tubuh Upasara tak
menunjukkan reaksi apa-apa ketika Nyai Demang berusaha mengirim tenaga dalam.
Hanya Gendhuk Tri yang membuka mata ketika matahari terbit lagi.
Tubuhnya lemah, bibirnya pucat.
"Bagaimana Kakang?"
Kawula Katuban Bala
NYAI DEMANG tergetar hatinya.
Senyumnya mengembang. Bukan senyuman genit menggoda seperti biasanya.
Melainkan senyuman seorang kakak, seorang ibu yang membesarkan hati anaknya.
Nyai Demang tergetar justru karena begitu sadar yang ditanyakan Gendhuk
Tri pertama kali adalah Upasara. Dalam keadaan begitu parah, Gendhuk Tri ternyata
tetap memikirkan orang lain.
Tangan Nyai Demang mengelus Gendhuk Tri.
Hubungan akrab yang selama ini tak pernah terjadi.
Karena secara diam-diam Nyai Demang kurang menyukai Gendhuk Tri, yang
dianggap sebagai anak kecil tak tahu adat, dan terus menempel Upasara. Sebaliknya
Gendhuk Tri secara terang-terangan juga menyatakan kurang suka kepada Nyai
Demang, yang dianggap sebagai wanita yang tak tahu adat, dan terus berusaha
menggoda Upasara. Keduanya sama-sama menyadari bukan sahabat yang akrab.
Namun kali ini, untuk pertama kalinya nampak saling melempar senyum.
Saling memandang dengan membagi perasaan duka. Saling menyentuhkan tangan.
Walaupun hanya terjadi dalam sekejap, namun membuat Galih Kaliki dan
Wilanda yang menyaksikan tersenyum lega dalam hati.
Sementara Gendhuk Tri kembali menutup matanya dan mengatur
pernapasannya, Nyai Demang duduk bersila. Wajahnya menunduk. Rambutnya yang
panjang lebat terurai menutupi wajahnya, berkilat karena keringat. Galih Kaliki
mendekat, ikut bersila.
Tiada doa yang sia-sia
tiada kesia-siaan tanpa dosa
tiada dosa yang sia-sia
dosa bukan doa
doa bukan sia-sia
jika dikepung gunung
saudaramu ada di kampung
jika dikepung kampung
saudaramu ada di gunung
gunung bukan kampung
kampung bisa di gunung
jika dikepung gunung
masih ada saudara
jika masih ada saudara
kenapa tidak berdoa
berdoa bukanlah dosa
doa bukan gunung
bukan kampung
bukan saudara
kenapa berdoa
kalau sia-sia
kenapa sia-sia...
Suara Nyai Demang berat mengalun, seolah terdengar dari bagian yang paling
dalam yang selama ini tersembunyi. Menekan dan menenggelamkan pikiran-pikiran
yang ada. Pikiran yang masih berkecamuk antara kebimbangan, keraguan,
dibenamkan dalam-dalam.
Inilah cara menembang kidungan Kawula Katuban Bala, kidungan kelima
dalam Kitab Penolak Bumi.
Nyai Demang berhasil mengidungkan sesuai dengan tuntutan yang tersirat
dalam lirik-lirik tembang yang tak terlalu sulit dihafalkan. Hanya saja Kitab Penolak
Bumi tidak semata-mata untuk dihafalkan, melainkan untuk diresapi. Untuk
tenggelam secara penuh.
Karena kalau dibaca selintas Tumbal Bantala Parwa seperti tidak ada apaapanya.
Isinya hanya delapan kidungan yang kata-katanya saling belit-mengait.
Hanya dengan kejernihan pikiran, seseorang bisa masuk dan menghayati arti
kidungan tersebut.
Kawula Katuban Bala, secara harfiah bisa diartikan sebuah pribadi yang
dikelilingi oleh bala, teman, harta benda, bangsawan, dan semua saudara. Dikelilingi
dengan rasa cinta dan persahabatan. Akan tetapi justru dalam lirik-liriknya kidungan
itu menunjukkan beberapa hal yang bertentangan.
Gunung tak ada di kampung, akan tetapi kampung bisa berada digunung.
Orang lain bisa menjadi saudara, akan tetapi saudara juga bisa berarti saudara, bisa
berarti doa, bisa berarti sia-sia.
Delapan kidungan yang ada dalam Tumbal Bantala Parwa memang bernadakan
suatu kekecewaan yang luar biasa dalamnya. Hampir semua liriknya dimulai dengan
penolakan lebih dulu. Dengan pengandaian yang menghancurkan susunan jalan
pikiran yang ada. Nalar yang biasa menjadi buyar.
Mengajarkan berdoa, tetapi juga sekaligus menunjukkan bahwa doa bisa
berarti sesuatu yang sia-sia. Doa sendiri juga bisa berarti dosa, namun dosa tetap
bukan doa.
Nyai Demang bisa menghafal dengan baik, dan memilih kidungan Kawula
Katuban Bala untuk menggambarkan suasana yang terjadi.
Saat itu Upasara Wulung seperti yang digambarkan dalam tembang. Ia
dikelilingi oleh orang lain, akan tetapi mereka semua terikat sebagai saudara. Bukan
hanya saudara dalam pengertian saudara seperguruan. Akan tetapi saudara yang
berarti berasal dari kelahiran yang sama. Semua yang mengelilingi adalah bala.
Dalam keadaan tanpa sadar terus-menerus, yang bisa dilakukan hanyalah
berdoa. Tetapi doa juga mempunyai batas, yang akan menjadi dosa, andai memaksa
Upasara yang telah sampai kepada janjinya! Dengan nada yang berat, Nyai Demang
memang menyesuaikan dengan tuntutan cara mengatur napas seperti buah yang
tumbuh di dalam tanah, dengan akar menembus bagian utara dan timur.
Bagi Jaghana, kidungan dalam Kitab Penolak Bumi adalah penolakan tetapi
sekaligus penyerahan. Pengingkaran akan tetapi juga sekaligus rasa pasrah.
Ini memang soal bagaimana memahami, membiarkan pikiran, rasa, mengikuti
kidungan tersebut. Kalau kemudian diterjemahkan dalam gerakan silat, kidungan ini
bisa menjadi jurus yang bisa saja dinamai jurus Kawula Katuban Bala dengan
mengatur kuda-kuda mantap seperti buah dipendam dalam tanah. Meminjam
kekuatan lawan yang mengelilingi, karena sebetulnya tenaga lawan yang asing itu
adalah tenaganya sendiri, tenaga saudara kandungnya. Bisa dibayangkan jika cara
meminjam tenaga lawan ini benar-benar dikuasai. Akan tetapi sekaligus juga
diingatkan bahwa tenaga yang dipakai ibaratnya bisa menjadi doa yang ampuh, akan
tetapi juga dosa yang memilukan karena berarti digempur dalam tarikan napas yang
sama yang dianggap sebagai saudara sehingga bisa dipinjam tenaganya.
Kitab Penolak Bumi sebenarnya kitab yang paling rumit tetapi juga sangat
sederhana.
Rumit karena penguasaan kekuatan dan cara mengatur napas serta perasaan
serba bertentangan. Antara saudara dan musuh, antara doa dan dosa, antara kampung
dan gunung.
Sangat sederhana karena segalanya mudah dijelaskan. Bisa dimengerti tanpa
salah, karena sebenarnya tidak berbelok atau perlu ditafsirkan lain. Gunung tetap
berarti gunung, dosa tetap berarti dosa, bukan kampung, bukan doa.
Semakin sederhana, semakin bisa mengikuti kata-kata yang ditembangkan
Nyai Demang, dan bisa hanyut. Galih Kaliki yang polos lebih cepat naik-turun hanyut
terbawa. Sementara Jaghana juga bisa mengikuti karena sejak semula terus berlatih.
Hanya Wilanda yang nampak tersengal-sengal. Sementara Gendhuk Tri antara sadar
dan tidak berkumak-kumik bibirnya.
Nyai Demang terus mengulang, setiap kali baris-baris selesai dibacakan.
Kemudian berganti dengan Galih Kaliki, dilanjutkan oleh Jaghana dengan suara yang
lebih berat, di samping Wilanda, kumak-kumik Gendhuk Tri, dan akhirnya balik lagi
ke Nyai Demang yang kembali mengulang.
Entah berapa ratus kali kidungan diteruskan. Sampai akhirnya semua
penghuni menembangkan secara bersama dalam hati. Menyatu dalam rasa.
Termasuk Upasara!
Di hari ketiga Upasara membuka matanya, memandang sekeliling. Nyai
Demang menghela napas.
"Kakang?"
Suara Gendhuk Tri gemetar.
Upasara nampak masih sangat lemah.
Hanya menggerakkan kelopak matanya, mungkin bermaksud tersenyum.
Akan tetapi nampak seperti seringai halus.
Wilanda mengumpulkan embun-embun di ujung daun untuk minum Upasara.
"Terima kasih, Paman."
Upasara berusaha duduk.
"Kamu sudah baik, Adik?"
Gendhuk Tri menghapus air matanya.
"Aku baik-baik saja. Kakang tidak jadi mati?"
"Daun yang kering akan jatuh sendiri ke tanah dan menjadi pupuk. Kalau daun
masih hijau dan jatuh, belum bisa menjadi pupuk yang baik. Ia hanya akan mengotori
tanah saja.
"Mbakyu Demang, kidungan Mbakyu menyejukkan udara."
"Saya akan terus nembang kalau kamu mau mendengarkan."
Upasara meringis. Tangannya berusaha memegangi dadanya yang terluka.
Akan tetapi tangannya begitu lemah tanpa kekuatan.
Undangan Bulan Purnama
GENDHUK TRI tertawa lepas.
"Kakang ini sudah lumpuh, jangan macam-macam. Mana yang gatal? Saya
yang menggaruk?"
Ketegangan cair. Tak ada yang menekan, walau suasana masih terasa betapa
keprihatinan tetap menggantung.
Kenakalan Gendhuk Tri pada hari berikutnya membuat suasana menjadi lebih
hidup. Gendhuk Tri sendiri yang mencari madu dan bila Upasara menolak, Gendhuk
Tri akan menjejalkan ke bibir.
"Ayo minum. Kalau tidak mau, saya paksa."
"Bagaimana kamu bisa memaksa?" tanya Galih Kaliki.
"Gampang saja. Madu ini saya minum dan saya paksa Kakang membuka
bibirnya. Kalau tidak, saya akan menggigit lidahnya."
"Bagus. Bagus. Itu cara bagus."
"Bagus, aku juga mau melakukan," kata Nyai Demang.
Terpaksa Upasara mengikuti perintah Gendhuk Tri. Kadang secara sengaja
Gendhuk Tri membuat wajah Upasara menjadi nyengir dan lidahnya menjulur.
"Hehehe... aku sengaja mencari madu buah maja. Pasti pahit sekali. Makin
pahit makin baik."
"Jangan kurang ajar."
"Eee, mau membela, ya? Kakangmbok mau membela? Kalau begitu
Kakangmbok yang mencari madu. Begini-begini juga saya harus mencicipi madu itu
lebih dulu."
Gendhuk Tri memang mencicipi madu yang akan diberikan kepada Upasara.
Dalam waktu lima hari, Gendhuk Tri telah mengenal berbagai jenis madu dan
rasanya. Madu jeruk, madu apel, madu maja, madu mangga, madu mawar. Bahkan
dari penciumannya saja Gendhuk Tri bisa membedakan dengan baik.
Tapi yang lebih membuat Gendhuk Tri merasa bahagia ialah bahwa kini
burung-burung hutan mau bertengger di tubuhnya. Bahkan beberapa ekor kera
bermain-main di kepalanya mencari kutu!
Berarti racun dalam tubuh Gendhuk Tri telah terusir.
Gendhuk Tri seperti menemukan keakraban dengan alam. Seperti bangkit dari
kematian masa lampau.
Walau tergolong jago silat, pada dasarnya Gendhuk Tri masih tetap seorang
anak-anak. Hatinya masih hati anak-anak dengan segala kenakalan dan keinginan
seorang anak-anak.
Hal ini merupakan penderitaan sejak racun bersarang di dalam tubuhnya.
Dirinya menjadi hantu yang ditakuti. Tak ada yang berani bersentuhan dengannya.
Bahkan binatang hutan pun tak berani mendekat. Seekor ular berbisa pun akan
menggulung diri bila didekati.
Gendhuk Tri seperti diasingkan.
Akan tetapi sejak pengobatan paksa oleh Upasara, racun dalam tubuhnya
berangsur-angsur dimuntahkan, Gendhuk Tri telah kembali normal. Dalam beberapa
hari saja, dengan melatih pernapasannya, kekuatannya menjadi normal kembali.
Galih Kaliki pun diam-diam mulai berlatih di bawah petunjuk Nyai Demang
yang bisa menghafal sekian banyak kitab yang pernah dibaca. Jaghana ikut
memberikan petunjuk cara menafsirkan. Wilanda begitu juga.
Hanya Upasara yang sama sekali tidak tertarik. Ia hanya berlatih berjalan,
merawat luka di lambung sampai dada.
"Saya percaya persaudaraan kita tak bakal ternoda karena bisa-tidaknya saya
bermain silat. Di sini saya akan tetap diterima, walau tak bisa main silat."
"Apa Kakang suka kalau sampai kakek-kakek nanti tetap memerlukan orang
lain untuk mengusir nyamuk?"
"Kalau begini, alam tidak mengajari kita mengusir nyamuk."
"Nyamuk tidak soal. Kalau harimau?"
"Itu hukum alam. Harimau tidak akan memangsa kalau tidak dalam keadaan
lapar. Dan kalau bisa membuat harimau kenyang, kenapa harus menyesal?"
"Kalau bukan harimau, bukan nyamuk, melainkan manusia jahat?"
"Ah, manusia tidak dilahirkan untuk berbuat jahat. Semua ingin berbuat baik,
ingin menjadi sempurna."
"Ya, tetapi kan ada juga yang jahat."
"Itu karena belum tahu. Kita tak bisa menghukum orang yang tidak tahu."
"Susah bicara sama Kakang. Biar Paman Jaghana saja yang menasihati."
Jaghana menundukkan kepalanya.
"Hanya yang arif yang bisa memberi nasihat. Kalau saya memberi nasihat, bisa
kualat. Entah dosa macam apa yang harus saya panggul sepanjang sisa hidup ini."
Gendhuk Tri menggelengkan kepalanya.
"Di sini memang lebih banyak manusia yang aneh. Lihat saja. Isinya manusia
yang tidak sempurna. Kakang Upasara yang cacat. Yang bahkan berjalan pun tak bisa
lurus. Ada Paman Jaghana yang biarpun langit terbalik di bawah dan bumi terbalik di
atas, akan mengatakan begitulah kenyataannya. Ada Paman Wilanda yang lebih suka
berdiam diri. Ada kuli kasar yang mengangkat tongkat ke mana-mana dan mulai lagi
tergila-gila sama Kakangmbok yang tiap hari hanya memperhatikan tubuhnya terus.
Mandi bunga mawar, madu dipakai luluran atau sebagai bedak tubuh. Heran, kalau di
hutan ini lelakinya hanya segelintir, siapa yang mau dipameri? Kakang Upasara jelas
tidak, Paman Jaghana dan Wilanda tak bakal menengok. Hanya Galih Kaliki. Toh
nyatanya kalau didekati, malah pura-pura menolak."
"Pedas lidahmu. Kamu kira kamu sendiri bukan makhluk aneh? Setiap hari
mengomel, menyalahkan ini dan itu, menyesali, tapi nyatanya tak mau pergi barang
sepuluh tombak dari sisi Upasara."
"Itu urusanku. Kakangmbok tidak usah ikut campur."
"Itu juga urusanku. Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti urusanku."
"Aku memang masih kecil. Masih pantas menjadi cucu. Tetapi untuk
menghibur, aku memanggil Kakangmbok. Biar kamu merasa sedikit di atas usiaku.
Biar kamu merasa masih muda. Makin tua seseorang, makin senang dikatakan masih
muda."
Telak ucapan Gendhuk Tri.
Nyai Demang memang memuja keindahan tubuhnya. Menjaga dan merawat
secara sempurna. Maka cukup tersinggung juga oleh sebutan bahwa sebenarnya ia
lebih pantas menjadi nenek Gendhuk Tri.
"Jangan kuatir, Kakangmbok. Kakangmbok tetap paling cantik di hutan ini.
Dan akan tetap cantik, pun andai Dewa Maut nanti muncul."
"Eh, ke mana perginya Dewa Maut?" Wilanda mencoba mengalihkan
pembicaraan.
"Kok ditanyakan. Yang menjadi kekasihnya yang lebih tahu. Mungkin sedang
cari obat awet muda. Padahal sebenarnya tidak perlu. Sungguh menyenangkan punya
kekasih yang sudah tua. Minta apa-apa bakal dituruti."
Selendang di pinggang sebelah kiri melayang.
Nyai Demang mengegos ke samping.
Tangannya ganti menampar pipi Gendhuk Tri.
Berbeda dari Nyai Demang, Gendhuk Tri kurang bisa menguasai
kemarahannya. Apalagi jika disinggung hubungannya dengan Dewa Maut. Tokoh
yang satu ini memang aneh sejak kemunculannya di dunia persilatan. Selama
hidupnya dihabiskan di atas perahu Kali Brantas. Malang melintang tiada yang
sanggup menandingi. Konon ia hidup bersama seorang lelaki, sejak patah hati dengan
putri idamannya. Baru kemudian turun ke darat setelah mendengar ada Tamu dari
Seberang. Dan kemudian kerasan karena berteman akrab dengan Padmamuka, si
wajah merah yang mengandung racun dalam tubuhnya.
Padmamuka juga tak mempunyai teman dekat karena tubuhnya yang ganjil. Jadilah
mereka berdua sahabat yang tak saling meninggalkan. Meskipun banyak kabar yang
tidak menyenangkan mengenai hubungan mereka, namun Dewa Maut dan
Padmamuka tak peduli. Sampai suatu peristiwa membuat Padmamuka terkubur dalam
Gua Lawang Sewu, dan racunnya pindah ke tubuh Gendhuk Tri. Sejak itu Dewa Maut
selalu memanggil Gendhuk Tri dengan sebutan Tole, sebutan untuk anak laki-laki
yang dulu merupakan panggilan Padmamuka. Hanya karena Dewa Maut hilang
akalnya, hal ini tidak menjadi masalah. Gendhuk Tri malah dengan senang hati
mempermainkan.
Namun persoalannya menjadi lain kalau itu dipakai sebagai bahan olok-olok
oleh Nyai Demang.
Padahal yang dikatakan Nyai Demang tak lebih menyakitkan daripada olokolok
Gendhuk Tri.
Hanya Nyai Demang bisa menguasai kemarahannya. Sementara usia Gendhuk
Tri masih dalam tahap usia semengit. Usia yang sangat peka bila dihubungkan dengan
soal perjodohan.
Maka Gendhuk Tri langsung menyerang.
"Dari dulu ilmunya tak tambah maju. Masih begitu-begitu saja."
Dua selendang Gendhuk Tri menyambar secara bersamaan. Selendang dari
arah kiri dan kanan ini disusul dengan selendang kedua. Empat selendang menyambar
atas-bawah, kiri-kanan.
Nyai Demang tertawa dingin.
"Kasihan Mpu Raganata. Beliau mempunyai murid kesasar. Kalau jadi penari
akan lebih baik. Meskipun sebagai penari tetap tak menarik hati laki-laki."
Dengan begitu keduanya terlibat dalam latihan yang sama-sama
menguntungkan. Nyai Demang bisa mengatakan apa-apa yang diketahui, sementara
Gendhuk Tri bisa berlatih keras.
"Ayo belajar baik-baik. Aku tak punya banyak waktu melayani kamu. Sebentar
lagi saat bulan purnama aku akan memenuhi undangan."
Daya Asmara

Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:35 pm

KALAU Gendhuk Tri tak terpengaruh dengan ucapan "memenuhi undangan saat
bulan purnama", Galih Kaliki jadi kelabakan.
"Undangan ke mana, Nyai?"
"Sayang kamu tak boleh ikut."
"Aku hanya bertanya."
"Tak boleh tahu."
"Kalau begitu, siapa yang mengundang?"
"Tak tahu malu!" Gendhuk Tri yang berteriak saking jengkelnya. Sebagai gadis
yang baru menanjak remaja, ia tak habis pikir bagaimana Galih Kaliki yang telah
saling mengangkat saudara dengan Upasara Wulung bisa selalu dipermainkan oleh
Nyai Demang. Kadang Gendhuk Tri sangat kasihan kepada Galih Kaliki dan ingin
menolongnya, akan tetapi selalu terjadi salah paham.
"Katakan, Nyai, katakan.
"Aku mau melakukan apa saja asal kamu mengatakan. Aku berjanji tak akan
ikut bersamamu."
"Baik. Kamu harus melatih Gendhuk kecil ini sebagai syaratnya."
"Baik, baik.
"Ke mana dan diundang siapa, Nyai?"
"Ke arah selatan diundang oleh setan."
Jelas bahwa Nyai Demang menjawab asal-asalan. Akan tetapi yang membuat
Gendhuk Tri lebih jengkel ialah karena Galih Kaliki mengangguk-angguk. Puas
seperti anak kecil dituruti permintaannya.
"Boleh bertanya lagi, Nyai?"
"Tidak."
"Nyai, aku..."
"Aku sudah bilang tidak."
"Ya, Nyai."
Karena kesal, Gendhuk Tri segera meninggalkan gelanggang. Kalau sudah
begitu, Wilanda atau Jaghana yang akan menghibur. Kadang salah satu, kadang
keduanya.
"Itulah daya asmara. Suatu kali kamu akan mengalami sendiri. Atau malah
kamu sudah merasakan sekarang ini.
"Daya asmara memang menjadikan dunia ini aneh, tak bisa dimengerti.
Sesungguhnya ini hanya salah satu godaan yang diciptakan Dewa yang Menguasai
Jagat."
"Paman Jaghana juga mengalami daya asmara?"
"Sejak kecil saya dibesarkan di daerah ini. Daya asmara yang saya miliki adalah
asmara alam. Mencintai tumbuhan dengan semua penghuni dan anginnya."
"Paman, apakah daya asmara itu yang menguasai Kakang Upasara?"
Jaghana nggragap. Sama sekali tak menduga ada pertanyaan yang membuatnya
tersudut.
"Kenapa tiba-tiba kamu tanyakan hal itu?"
"Karena Kakang Upasara seperti orang linglung. Seperti sikap Paman Galih
Kaliki."
"Di mana linglungnya?"
"Paman tahu sendiri.
"Kita semua masih mempelajari ilmu silat, masih bercakap-cakap tentang hal
itu ketika kemudian Kakang muncul lagi dan mengatakan tak ada gunanya
menambah permusuhan. Itu dikatakan setelah mendengar kabar bahwa Gayatri
diculik.
"Iya kan, Paman?"
Jaghana menunduk.
"Paman berjanji tak berdusta. Katakan, Paman."
"Saya tidak tahu apa yang terjadi di hati Upasara."
"Apakah Kakang Upasara masih mencintai Gayatri? Masih menyimpan daya
asmara?"
"Saya tidak tahu, Gendhuk. Yang saya tahu Anakmas Upasara tidak mau
menemui Permaisuri."
"Baik, baik. Kalau Kakang tidak mau menemui secara langsung, akan tetapi
membebaskan, apakah itu bukan karena daya asmara? Itu yang saya ingin tahu."
Gendhuk Tri cukup cerdas untuk memojokkan Jaghana.
"Rasanya saya makin tidak tahu.
"Kalau benar begitu, kamu juga tak perlu merasa sia-sia. Misalnya kamu
terkena daya asmara Anakmas."
"Ngawur!"
Gendhuk Tri berteriak mengguntur.
Suaranya melengking, bercampur antara kejengkelan dan rasa malu.
Tetapi Jaghana justru menyadari bahwa apa yang ditanyakan Gendhuk Tri tadi
beralasan. Daya asmara tidak mau bertemu dengan Permaisuri, senada nilainya
dengan teriakan "ngawur".
"Kita sesama penghuni Perguruan Awan saling berjanji tidak mendustai dan
menyembunyikan perasaan kita, Gendhuk."
"Saya mengatakan apa adanya, Paman."
"Betul begitu?"
"Kalau tidak, kenapa?"
Hati Gendhuk Tri mulai goyah.
"Tidak ada apa-apa.
"Bagimu dan bagi Anakmas, tak ada halangan untuk terjalinnya daya asmara."
Gendhuk Tri menunduk. Lalu memandang ke arah lain. Menyembunyikan
wajahnya yang menjadi merah. Pori-pori semua kulitnya mengembang, darahnya
mengalir secara aneh sekali. Seakan berbenturan, tidak seperti biasanya. Dadanya jadi
sesak.
"Tidak ada halangan karena tidak menyalahi kehendak alam."
"Tidak, Paman. Hati Kakang telah tertumpah kepada perempuan Keraton yang
menjadi istri keempat Baginda."
Jaghana menghela napas.
"Kamu salah mengerti."
Gendhuk Tri memandang Jaghana.
"Kamu salah mengerti tentang daya asmara, Gendhuk.
"Di dunia ini diciptakan daya asmara untuk mencintai manusia lain, untuk
mencintai alam, untuk mencintai Dewa yang Maha Berdaya Asmara.
"Itulah sebabnya daya asmara adalah daya yang membuat bahagia. Seperti
Galih Kaliki. Barangkali kamu menganggap kasihan, menganggap dipermainkan, akan
tetapi itu semua tak mengurangi kebahagiaannya. Kalau Anakmas Upasara
mempunyai daya asmara kepada Permaisuri atau sebaliknya, itu tak mengurangi
kebahagiaan keduanya. Walau tidak bersanding.
"Jangan salah terima, anak manis. Pamanmu hanya ingin menjelaskan bahwa
kalau kamu mempunyai daya asmara, kamu seharusnya bergembira. Bisa berbahagia.
"Contoh yang saya kemukakan tadi bukan betul-betul Anakmas mempunyai
daya asmara dengan Permaisuri Gayatri dan atau sebaliknya."
Dengan penuh kebapakan Jaghana menenteramkan hati Gendhuk Tri. Cara
pendekatan yang dengan jitu mendinginkan hati Gendhuk Tri yang mulai membara.
"Adalah janji kita ketika bersama di dalam Perguruan Awan, bahwa kita harus
selalu bisa jujur, mengatakan apa adanya."
"Terima kasih, Paman.
"Tetapi jangan tanyakan daya asmara saya dengan Kakang."
"Tidak, kalau kamu tidak menghendaki."
Gendhuk Tri menghela napas.
"Paman bisa menjelaskan mengenai daya asmara, apakah berarti Paman dulu
pernah mempunyai kekasih?"
"Pamanmu sudah menjawab, anak manis.
"Daya asmara adalah daya yang seharusnya membuat bahagia. Menjadikan kita
bahagia melihat kebahagiaan pada yang kita cintai. Kalau tetumbuhan dan isinya di
Perguruan Awan ini bahagia, saya juga bahagia."
Gendhuk Tri mengangguk.
"Mengenai hal itu saya tidak ragu, Paman."
"Lalu kenapa?"
"Paman selalu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Selalu berusaha
menyenangkan. Apakah kata-kata Paman ini juga untuk menyenangkan dan
menghibur belaka?"
"Anak manis, kamu tidak ingin mengatakan bahwa pamanmu yang gundul ini
berlaku tidak jujur padamu?"
"Sama sekali tidak," Gendhuk Tri cepat memotong. "Mana mungkin saya
meragukan Paman? Kakang Upasara saya ragukan, tetapi kalau Paman Jaghana, dalam
mimpi pun saya tak berani."
Jaghana menepuk pundak Gendhuk Tri.
"Paman, kira-kira ke mana Nyai Demang pergi?"
Di depan Nyai Demang, Gendhuk Tri mungkin akan menyebut Kakangmbok,
tetapi tidak ketika membicarakan.
"Itu urusannya sendiri."
"Ya, akan tetapi Kakang kelihatannya lebih banyak bicara kalau ada Nyai
Demang."
Jaghana mengakui dalam hati.
"Jangan-jangan Kakang masih menyimpan daya asmara kepada nyai genit itu."
"Ah, semua wanita bisa kamu cemburui."
"Saya tidak cemburu!"
Gendhuk Tri sekali lagi tak bisa menyembunyikan desir aneh di pembuluh
darahnya. Akan tetapi Jaghana sendiri bertanya-tanya dalam hati. Hanya tidak
diutarakan seperti Galih Kaliki atau Gendhuk Tri.
Bukan hanya karena kidungan Nyai Demang menghibur Upasara, akan tetapi
terutama karena Nyai Demang memang perlu dikuatirkan. Pemujaan-nya kepada
daya asmara yang berlebihan bisa menyeretnya ke dalam berbagai petualangan yang
membahayakan.
Apalagi kalau diketahui undangan itu berasal dari Keraton.
Sambutan Kemenangan
SEBELUM Nyai Demang datang ke Keraton, rombongan yang pertama kali datang
adalah Mpu Nambi. Yang kemudian disusul oleh Adipati Lawe.
Keduanya tidak menduga sama sekali bahwa ketika memasuki wilayah
Keraton, para prajurit Keraton berjajar di pinggir jalan masuk. Bahkan terdengar
bunyi genderang penyambutan, dan taburan bunga!
Adipati Lawe merasa risi dan jengah sendiri.
Akan tetapi tak bisa lain, selain mempercepat langkah kudanya. Dan di
halaman Keraton sambutan lebih meriah. Ada barisan penari yang membasuh kaki
Adipati Lawe dan Mpu Nambi.
"Tongkring," kata Adipati Lawe lirih.
"Apakah prajurit Keraton kurang pekerjaan sehingga setiap hari hanya latihan
menghamburkan kekayaan negara?"
Adipati Lawe tak peduli kata-katanya membuat yang mendengar merah
telinganya. Termasuk Senopati Halayudha yang selalu menyunggingkan senyuman di
bibirnya dan di seluruh sikap penampilannya.
"Maafkan, kami hanya menjalankan dawuh Baginda.
"Namun menurut pendapat saya yang masih picik ini, sambutan kemenangan
adalah wajar. Bagi Adipati Lawe, memenangkan perang atau menyelesaikan tugas di
medan laga adalah hal biasa, tetapi bagi Keraton, ini adalah tiang-tiang yang membuat
bangunan Keraton mencuat ke langit.
"Silakan beristirahat. Dalam satu-dua hari ini Baginda Raja berkenan
menerima para pahlawan yang pulang dari medan perang."
Lembut kalimatnya, merdu suaranya, akan tetapi Mpu Nambi jadi bergidik.
Pikirannya masih diliputi teka-teki ketika menuju tempat istirahat.
Sebagai pimpinan telik sandi, Mpu Nambi sangat mengetahui seluk-beluk
Keraton. Mengetahui dengan gamblang lalu lintas kekuasaan. Tahu dengan pasti di
mana posisi Senopati Halayudha.
Senopati Halayudha, walau tidak membawahkan kelompok prajurit yang bisa
digerakkan, akan tetapi sangat dekat hubungannya dengan Baginda Raja. Kalau Mpu
Nambi ingin menghadap Baginda, selalu bertemu dengan Halayudha lebih dulu.
Halayudha kemudian melapor ke Baginda Raja, dan menyampaikan berita apakah
Baginda Raja berkenan menerima saat itu atau saat yang lain.
Sejauh ini Mpu Nambi mengetahui bahwa Halayudha tak memiliki ilmu silat
yang tinggi. Salah satu ilmu andalannya ialah ilmu Bajak Perang, yang kemudian
dipakai sebagai namanya. Hala berarti bajak, dan yudha bisa diartikan perang. Mpu
Nambi tidak memperhitungkan ketinggian ilmu silat Halayudha, karena selama ini
hampir tidak pernah melihatnya berlatih atau memamerkan kelihaiannya. Bahkan
semasa penyerangan ke pasukan Tartar atau ketika menggempur Singasari, peranan
Halayudha tak terlalu menonjol.
Hanya karena posisinya selalu menjadi bayangan Baginda Raja, diam-diam
Mpu Nambi memperhitungkan dan berhati-hati.
Berbeda dari Adipati Lawe yang sama sekali tak menganggap sebagai tokoh
yang perlu diperhitungkan.
Bagi Adipati Lawe, kejantanan atau keksatriaan seseorang dinilai dari
kemampuan memainkan senjata, membuktikan ilmu silat. Senopati dinilai dari
"kerasnya tulang, uletnya kulit", bukan dari senyum dan keramahan.
Sewaktu rombongan Mpu Sora datang bersama Senopati Anabrang, sambutan
kemenangan terulang kembali. Dan dengan senyum yang tegar, Halayudha
menyambut dan kembali menceritakan bahwa ini semua kehendak Baginda, sebagai
abdi ia hanya menjalankan perintah, dan meminta mereka beristirahat, karena
Baginda Raja akan mengadakan pasewakan agung, atau pertemuan besar.
"Senopati Sora telah bekerja keras, maka biarlah saya yang mengantar
Permaisuri Agung Rajapatni. Silakan, Senopati Sora, Senopati Renteng, beristirahat
dengan tenang.
"Demikian juga Senopati Anabrang yang perkasa.
"Saya pribadi memohon maaf jika sambutan ini kurang menyenangkan. Ini
tanggung jawab saya yang tidak becus meneruskan dawuh, perintah, Baginda."
Mpu Sora mengangguk.
Bersama Mpu Renteng mereka berdua berpisah dengan Senopati Anabrang
yang mendapat tempat istirahat yang berbeda.
"Telah banyak berubah Keraton ini, Kakang."
Suara Mpu Renteng membuat Mpu Sora, yang tengah duduk bersila
menikmati air putih seperti kebiasaannya selama ini, kembali mengangguk.
'Baginda Raja ingin berbuat baik. Membalas budi dan jasa prajuritnya. Semua
mempunyai tugas dan wewenang."
'Kakang Sora, maafkan pikiran saya yang masih dangkal ini. Namun rasanya
sambutan ini agak mengada-ada."
Mungkin juga, biar Halayudha mempunyai sesuatu yang dilakukan. Mungkin
juga tidak. Zaman ini bukan lagi zaman peperangan. Yang dulu tak mengenal
sambutan kemenangan semacam ini."
"Mudah-mudahan begitu, Kakang Sora."
"Ada pikiran apa, Kakang Renteng?"
"Saya tak bisa mengurangi sifat buruk saya, selalu curiga. Saya mencium ada
bau yang kurang enak. Bau yang kelewat wangi."
"Karena kita biasa mencium bau tanah dan darah selama ini. Tetapi saya juga
merasa bahwa Keraton sekarang ditata dengan sangat apik."
"Bukan hanya itu, Kakang.
"Kenapa kita tak diizinkan membawa Permaisuri langsung ke dalam?"
Mpu Sora menggeleng.
"Sudahlah, Kakang. Kita tidak usah terlalu memikirkan hal itu. Sekarang
bukan zaman peperangan seperti dulu, sehingga kita mengurus sendiri semuanya.
Sekarang tugas sudah dibagi-bagi."
"Berarti akan lebih banyak jalan yang harus dilewati."
"Berarti makin tertib, makin baik."
"Mudah-mudahan begitu."
Pertanyaan yang sama juga tergema dalam sudut hati Senopati Anabrang.
Senopati yang pernah menjelajah samudra luas merasa bahwa mulai banyak tatanan
yang membuatnya tidak enak. Selama berada dalam tempat peristirahatan, ada yang
melayani. Prajurit-prajuritnya juga mendapat pelayanan yang sangat bagus. Ini berarti
banyak tenaga yang dipekerjakan. Berarti banyak pengeluaran, sesuatu yang dulu
tidak dikehendaki Baginda Raja Sri Kertanegara. Hanya upacara-upacara yang bersifat
keagamaan yang dirayakan. Selebihnya, semua dana yang ada disalurkan untuk
keprajuritan yang murni. Untuk latihan dan persenjataan.
Hal ini yang justru dipertontonkan oleh Adipati Lawe!
Adipati yang tak sabaran ini melatih para prajuritnya di alun-alun depan
gerbang Keraton. Dengan gagah perkasa Adipati Lawe berdiri di atas kuda hitamnya.
Memacu mengelilingi alun-alun, sesekali meloncat ke tanah, mumbul ke atas, dan
tetap hinggap kembali dengan enteng di punggung kudanya. Kadang dengan satu
kaki, kadang dengan tubuh terbalik. Tangannya yang dipakai sebagai tumpuan.
Para prajurit Tuban juga berlatih keras. Menyusun barisan menyerang,
bertahan, mengepung. Adipati Lawe sendiri yang menjadi sasaran latihan. Dikeroyok
secara beramai-ramai.
Tentu saja ini menjadi tontonan yang menyenangkan bagi masyarakat sekitar.
Sorak-sorai terdengar mulai sore hingga malam hari.
Sementara sorak-sorai kekaguman terdengar riuh, Mpu Sora justru merasa
kuatir. Menguatirkan bahwa tindakan keponakannya ini seperti memasang layar lebar
saat mengetahui bakal ada angin keras bertiup.
Halayudha sendiri sudah mengatakan bahwa Baginda akan mengadakan
pasewakan agung. Pertemuan besar ini bisa dipastikan akan membicarakan mengenai
jabatan mahapatih yang sampai saat ini masih tetap kosong, karena Upasara Wulung
menolak secara halus.
Yang dicemaskan oleh Mpu Sora ialah jika tindakan Adipati Lawe ditafsirkan
sebagai demonstrasi keperwiraan agar dipilih menjadi mahapatih!
Dalam situasi yang serba menunggu, segala apa bisa terjadi! Padahal Mpu Sora
yakin bahwa keponakannya ini tidak mempunyai ambisi dalam soal pangkat dan
derajat—terutama untuk dirinya sendiri.
Perkiraan Mpu Sora tidak terlalu meleset.
Senopati Anabrang merasa gusar. Justru karena Adipati Lawe dengan sengaja
memamerkan kemampuannya bermain dengan dua pedang. Bukan dengan rantai
senjata andalannya.
Selama ini semua mengetahui bahwa permainan sepasang pedang adalah ciri
utamanya.
"Kami mengetahui hal itu, Senopati Anabrang yang digdaya," kata Halayudha
ketika menemui. "Akan tetapi saya tak bisa melarang atau meminta jangan
memperlihatkan itu.
"Saya ini seorang abdi biasa.
"Pangkat senopati yang dianugerahkan Baginda, hanyalah pangkat
kehormatan. Bukan karena saya benar-benar seorang senopati perang. Maafkan kalau
selama menunggu ini ada peristiwa yang kurang menyenangkan.
"Saya tak bisa lain hanya menunggu dawuh Baginda. Hanya bisa menunggu.
"Namun kalau pelayanan selama istirahat ini kurang menyenangkan, itu
tanggung jawab saya. Mohon diberitahu di mana kurangnya, Senopati."
Rerasan Dua Permaisuri
SEBENARNYA di kaputren, tempat para putri, juga terasakan suasana tak menentu.
Sejak diiringkan oleh Senopati Halayudha, Permaisuri Rajapatni berdiam diri.
Sediaan bunga tujuh rupa tujuh warna untuk mandi, segala ramuan untuk tubuh dan
keramas, sama sekali tak disentuh. Permaisuri Rajapatni mandi seperti biasa, tanpa
upacara seperti layaknya.
Lalu duduk merenung di dekat ranjangnya.
Duduk bersila, dengan pandangan menunduk tak mau bertegur sapa.
Padahal sebagaimana kebiasaan, seorang—apalagi—permaisuri selalu menjaga
kondisi tubuhnya secara sempurna. Karena ia adalah permaisuri, dan sewaktu-waktu
Baginda Raja bisa datang atau memanggilnya. Seorang permaisuri pasti sudah keramas
sangat bersih, dengan bau tubuh yang harum. Sudah dalam keadaan paling prima
menerima panggilan Baginda Raja untuk berbakti. Dengan keramas dan mandi bunga
tujuh rupa tujuh warna, berarti menyiapkan diri kalau nanti memperoleh keturunan
adalah keturunan yang terbaik. Yang siapa tahu akan menggantikan takhta Keraton.
Tata cara menjaga kondisi tubuh yang sempurna, dari ujung kuku hingga
ujung rambut, sangat diajarkan sejak dini. Sejak seorang anak gadis boleh bertempat
tinggal dalam Keraton. Apalagi ini jelas-jelas permaisuri resmi.
Akan tetapi nyatanya, Permaisuri Rajapatni tidak memedulikan semua itu.
Bahkan makanan dan minuman sama sekali tak disentuhnya. Seakan siap menerima
segala kemurkaan Baginda. Dan atau disingkirkan oleh Baginda, karena tidak
melayani dengan baik.
Kabar bahwa Permaisuri Rajapatni bertapa membisu membuat Permaisuri
Tribhuana datang menjenguk. Hatinya terguncang sedikit melihat kenekatan adiknya
yang bungsu.
Apalagi ketika Gayatri sama sekali tak menoleh atau mendongak.
"Wanita bisa sedih dan bisa gembira, karena ia manusia seperti yang lainnya.
Akan tetapi seorang putri, apalagi permaisuri, tidak pantas menunjukkan perasaan
seperti itu. Itu adalah sifat wanita biasa."
Tribhuana adalah putri sulung Baginda Raja Sri Kertanegara, yang
dipermaisurikan Baginda Raja Sri Kertarajasa sewaktu masih bernama Raden
Sanggrama Wijaya.
Berbeda dari adik-adiknya, Tribhuana dikenal sangat cerdas, mengenal intrik
dan seluk-beluk Keraton, pandai berbicara sehingga digelari mahalalila. Bukan sekalidua
Baginda meminta pertimbangan masalah politis kepada Tribhuana.
Caranya bertutur kata sangat menyenangkan didengar telinga dan hati.
Lebih dari itu semua, pendekatan yang dilakukan sering tepat dan mengena.
"Wanita biasa bisa tertawa hingga kelihatan giginya. Bisa menangis hingga
sembap matanya. Bisa sedih hingga kurus, bisa gembrot karena terlalu banyak tidur
dan makan enak.
"Wanita yang begini bisa menjadi permaisuri.
"Tapi pasti bukan seorang putri yang luhur budinya, putri yang mewarisi darah
Baginda Raja Sri Kertanegara."
Disinggung nama ayahanda yang sangat dihormati, hati Gayatri yang keras jadi
luntur. Helaan napasnya menandakan menerima kedatangan Tribhuana. Menandakan
mau membuka hatinya untuk rerasan, untuk bertukar rasa.
"Nimas Ayu Gayatri adikku, kenapa kamu memilih bersedih dengan cara
membunuh diri seperti ini?
"Apakah kamu tak mau melihat mbakyumu ini lagi?
"Apakah nama agung ayah kita tak mempunyai arti lagi bagimu?"
"Mbakyu Ayu Tribhuana yang pandai bertutur kata, mengapa Mbakyu Ayu
mengganggu saya?"
"Aduh, Nimas Ayu, untuk apa aku datang kalau hanya untuk mengganggumu?
Bagiku lebih senang duduk berharap Baginda datang. Hatiku lebih berbunga
mendengar kau berduka.
"Karena dengan demikian, berkuranglah sainganku. Karena, meskipun kamu
adik kandungku, kamu juga seteru, sainganku, dalam merebut kasih sayang Baginda.
"Tetapi kita putri Singasari terakhir dan terbesar sepanjang masa. Tak pernah
memikirkan kepentingan pribadi dengan menginjak penderitaan orang lain. Pun
andai orang lain itu bukan darah bukan daging yang sama.
"Kita dilahirkan sebagai putri Singasari yang agung. Keraton yang
menyebarkan umbul-umbul ke seluruh penjuru jagat.
"Kita ditakdirkan menjadi permaisuri Majapahit yang agung. Keraton yang
sedang dibangun untuk ketenteraman jagat.
"Dari semua wanita yang ada, hanya kita berempatlah yang dipilih Dewa
Mahaagung untuk mengemban tugas mulia ini."
"Semua yang Mbakyu Ayu katakan tak satu patah pun keliru. Namun Mbakyu
Ayu tak tahu bahwa..."
Tribhuana memandang bahagia.
"Aku tahu, Nimas Ayu.
"Aku bisa mengerti kekecewaan dan keinginanmu yang terpendam. Aku tahu
ketika Baginda mengirimkanmu ke Perguruan Awan. Aku tahu apa yang kira-kira
terjadi di sana sehingga kamu membisu.
"Aku bisa mengerti dan tidak menyalahkanmu.
"Tetapi aku tak bisa membenarkanmu jika kautunjukkan perasaanmu dengan
cara wanita biasa."
Gayatri menunduk.
Duka masih memeluk.
"Mbakyu Ayu tidak mengetahui bahwa adikmu ini sudah bertemu Kangmas
Upasara. Sudah dibebaskan dari tangan seorang penculik durhaka. Akan tetapi
Kangmas Upasara tak mau bertemu denganku. Tak mau mengucapkan sepatah kata,
tak mau mendengarkan sepatah kata pun."
"Senopati Pamungkas itu memang lelaki sejati.
"Ia tahu menjaga diri. Menjaga dirimu, Nimas Ayu."
"Mbakyu Ayu..."
"Biarlah mbakyumu ini menyelesaikan kalimatnya lebih dulu.
"Upasara Wulung adalah lelaki sejati. Karena ia menang dalam
memperebutkan daya asmara darimu.
"Upasara Wulung adalah lelaki sejati. Karena ia menang dalam pertarungan
daya asmara dalam dirinya.
"Apa susahnya untuk bertemu, bercakap, dan bersenang denganmu? Tak ada
yang menghalangi. Tak ada yang mengetahui.
"Tetapi justru di saat seperti itu, lelaki sejati tak mau menodai kesucianmu. Tak
mau menyeretmu ke dalam kubangan yang hina. Ia memenangkan kesucian di atas
keserakahan dan kehendak manusia biasa.
"Upasara Wulung meluhurkan derajat kewanitaanmu.
"Nimas Ayu, terus terang mbakyumu iri padamu. Kamu memiliki tempat di
sudut hatimu bagi seorang lelaki sejati. Yang juga menyediakan sudut hatinya bagi
dirimu.
"Bukankah itu sangat membahagiakan?
"Nimas Ayu, kita ini putri Singasari dan juga permaisuri Majapahit. Ada jalan
yang telah dibuat oleh Dewa yang Maha arif jauh sebelum kita dilahirkan. Kita
tinggal menjalani dengan cara yang terbaik, sesuai dengan kodrat kita."
"Kangmas Upasara menolak menemuiku."
"Itu yang paling luhur."
"Kangmas Upasara menolak berbicara."
"Itu yang paling mulia."
"Kangmas Upasara menderita dan kini bukan apa-apa lagi."
"Itu yang paling suci."
"Kangmas Upasara telah mati!"
Suara Gayatri meninggi.
"Itu yang paling sakti.
"Karena itulah lelaki sejati. Lelananging jagat. Hanya lelaki sejati yang
menganggap daya asmara adalah sesuatu yang suci, dan harus disucikan. Penderitaan
dan kematian hanyalah salah satu bukti."
"Mbakyu Ayu, kalau Kangmas bisa membuktikan asmara suci dengan
mengorbankan diri, menghancurkan semua ilmunya, dan mungkin sekarang sudah
mati.
"Dan apa yang kulakukan sekarang ini?
"Berseri bagai matahari, bercahaya bagai bulan purnama, duduk di sisi
singgasana sebagai permaisuri Raja. Hidup enak tak kurang suatu apa.
"Apa kata sukma Kakang Upasara di alam sana?
"Putri seperti apa diri ini?
"Putri Singasari yang mendustai asmaranya sendiri."
"Nimas Ayu..."
"Gendhuk Tri masih lebih berharga dariku."
"Nimas Ayu..."
"Nyai Demang yang sangat hina masih lebih bermakna."
"Nimas Ayu...
"Dengarlah dan lihatlah. Berkacalah dari apa yang dilakukan Upasara Wulung.
Ia mengorbankan segalanya bagimu. Ia bisa menjadi mahapatih yang bisa berdekatan
denganmu. Tetapi batinnya tersiksa. Lebih dari itu ia tak ingin menyiksa batinmu,
Nimas Ayu.
"Maka itu sebabnya ia menghancurkan dirinya. Dengan harapan kamu bisa
lebih bahagia."
"Nyatanya tidak."
"Karena kamu tidak mau memenuhi keinginan Upasara."
Gayatri tertegun.
"Keinginan Upasara ialah kamu menjadi bahagia. Tapi kamu menyianyiakannya.
Sungguh sayang, Nimas Ayu."
Darma Bekti Permaisuri
BATIN Gayatri tergetar.
Semua pembuluh tubuhnya gemetar.
Apa yang dikatakan Tribhuana benar. Upasara mengorbankan semua ini agar
tidak mengganggu kebahagiaannya! Gayatri ingin menjerit bahwa sebenarnya ia tidak
seperti yang diduga Upasara.
"Nimas Ayu, apakah kalau kamu bertapa bisu seperti ini, Upasara akan sembuh
kembali? Akan hidup kembali?
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:36 pm

"Tidak, lelaki yang mengorbankan segalanya bagimu itu justru kecewa.
Menyesal dan nelangsa. Sukmanya tak tenang di alam sana."
"Mbakyu Ayu, apakah yang Mbakyu katakan benar adanya?"
"Apa yang kusembunyikan darimu?
"Di sini kita hanya berdua. Sejak kecil kita selalu bersama. Kita berempat,
termasuk Mahadewi dan Jayendradewi. Kita berempat mendapat gemblengan yang
sama dari Baginda Raja Singasari yang agung tiada tara.
"Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu?
"Kalau ada yang kuharapkan, hanyalah kita bisa berbakti sebagai permaisuri.
Karena itulah kodrat kita yang sesungguhnya. "Nimas Ayu, banyak cobaan atas diri
kita.
"Upasara hanyalah percikan buih dari gelombang yang mencoba kita, yang
menguji darah Singasari yang menurunkan kita ini.
"Masih ada gelombang pasang yang lebih mengguncang.
"Nimas Ayu sudah tahu, bahwa kepulangan Senopati Anabrang sebagai utusan
Baginda Raja Sri Kertanegara membawa dua putri ayu sebagai persembahan. Dara
Jingga dan Dara Petak.
"Dyah Dara Jingga, yang tua, sejak semula tak membuat Baginda berkenan
sehingga dinikahkan dengan Mauliwarma Dewa.
"Sedangkan Dyah Dara Petak yang berkulit putih bagai susu, diambil sebagai
permaisuri oleh Baginda Raja. Diberi gelar Permaisuri Indreswari.
Lebih dari semua itu, Indreswari mendapat anugerah sebagai stri tinuheng pura.
Artinya menjadi permaisuri yang dipertua di Keraton!
"Menjadi permaisuri utama!
"Duh, Dewa!
"Nimas Ayu, bagimu semua ini tak menjadi soal benar apa artinya.
"Tetapi sadarilah bahwa Dewa yang Maha Pencoba sedang mencoba umatnya!
"Nimas Ayu, lihatlah mbakyumu ini.
"Putri Singasari yang cantik jelita, yang mengetahui tata cara Keraton, yang
paling sulung. Nimas Ayu, apa kurangku? Kenapa Baginda Raja justru
mempermaisurikan wanita yang berkulit seperti susu?
"Apa kurangnya sebagai putri Sri Baginda Kertanegara yang mewarisi takhta
sebagai kehormatan paling tinggi kepada Raden Sanggrama Wijaya? Siapa yang
memberi kehormatan tertinggi ini? Apakah Indreswari? Bukan.
"Tetapi aku, Tribhuana!
"Hatiku merintih. Batinku menggugat.
"Aku tidak menghalangi Baginda mengambil wanita mana pun. Karena raja
adalah penguasa tunggal yang dikodratkan untuk memimpin dan menguasai. Akan
tetapi menjadikan Indreswari sebagai stri tinuheng pura, itu sama dengan
menamparku. Sama saja dengan mencampakkanku!
"Aku lebih menderita dari kamu, Nimas Ayu.
"Karena aku mengemban tugas suci sebagai putri tertua Singasari, yang
berkewajiban meneruskan pemegang takhta dari darahku sendiri.
"Nimas Ayu, aku juga bisa berbuat seperti kamu!
"Tetapi apa jadinya kalau aku berbuat seperti itu. Di mana wajah dan
kehormatanku bila bertemu Baginda Raja Singasari di alam baka nanti?
"Aku menyadari ini semua.
"Aku adalah permaisuri. Dan tugas pertama permaisuri sebagai darma bekti
utama adalah mengabdi kepada raja. Apa pun yang dikehendaki seorang raja, itulah
yang terbaik baginya.
"Aku menerima Indreswari sebagai permaisuri utama.
"Dengan senyum dan anggukan di kaki Baginda.
"Sebab inilah darma bekti yang bisa kupersembahkan. Sebab inilah yang
terbaik harus kutunjukkan."
Suara Tribhuana merendah dan menghilang.
Terdengar helaan napas panjang.
Berulang.
"Maafkan aku, Mbakyu Ayu."
Tak segera terdengar jawaban.
Udara bertiup lamban.
Helaan napas pun tertahan.
"Nimas Ayu, kita harus mengalahkan perasaan-perasaan seperti ini. Besar atau
kecil, perasaan ini tak ada artinya bagi seorang raja. Seorang raja adalah seorang
penguasa yang kiblatnya jagat. Apalah artinya perasaan-perasaan kita dibandingkan
dengan perasaan Baginda yang mendapat panggilan Dewa untuk memerintah
rakyatnya.
"Seorang raja bisa menjadi besar kalau ada yang bersedia berdarma bekti pada
kebesarannya.
"Kita harus bahagia bisa menjalankan tugas luhur ini."
"Mbakyu Ayu, sungguh aku ini manusia yang paling tak berguna. Sampah
yang dibuang pun tetap tak berarti apa-apa."
"Kebesaran Baginda adalah segalanya."
"Ya."
"Kebesaran Baginda adalah kebesaran Keraton."
"Ya."
"Kebesaran Keraton adalah kebesaran manusia."
"Ya."
"Kebesaran manusia seluruh tanah ini ditentukan Baginda."
"Ya."
"Nimas Ayu, apakah kita masih ragu mengorbankan sesuatu bagi kebesaran
dan keharuman nama Keraton?"
Gayatri menggeleng lembut.
"Nimas Ayu, keramaslah yang baik. Mandilah dengan air suci. Kamulah Dewi
Uma yang diramal para pendeta meneruskan pemegang takhta kebesaran di kelak
kemudian hari.
"Kamulah yang bakal meneruskan darah Singasari. Darah biru Singasari yang
akan menerangi jagat. Darah biru yang agung karena berani mengorbankan
kepentingan pribadi."
"Aku mengerti, Mbakyu Ayu."
"Siapkan tubuhmu, siagakan batinmu.
"Akan datang saat kemenangan, setelah kita mengalahkan keinginan kita yang
remeh. Akan datang saat terang, setelah kita mengalahkan kegelapan.
"Kalau Dewa yang Maha asih akan mempertemukan kamu dengan Upasara
suatu hari nanti, apa pun yang terjadi sekarang ini tak bisa mengubah takdir. Saat itu
kamu telah siap. Akan tetapi sekarang ini tak ada yang lain yang bisa kamu pikirkan
selain mengabdi, selain mempersembahkan darma bekti. Kepada siapa lagi kalau
bukan kepada Baginda?"
Gayatri terhibur.
Merasa bisa memandang lebih terang dan tidak kabur. Melihat lebih jauh ke
depan.
Malam itu Gayatri menjadi Permaisuri Rajapatni kembali. Bersedia keramas,
membersihkan badan hingga sangat bersih. Berdandan sebagaimana layaknya seorang
permaisuri. Tegar bersama kakaknya Mahadewi, yang selama ini dikenal sebagai
wanita sempurna dalam mengolah tubuh. Tegar bersama kakaknya Jayendradewi atau
Permaisuri Pradnyaparamita yang memancarkan cahaya luhur dan agung seorang
wanita.
Gayatri menjadi Permaisuri Rajapatni dan juga Dewi Uma yang siap menerima
Baginda Raja yang akan menjadi Dewa Syiwa.
Petuah dari Tribhuana bagai membuka mata batin yang selama ini terkunci
rapat.
Daya asmara yang masih merupakan titik bara di hatinya tak akan berkurang
maknanya kalau ia menjadi permaisuri yang tulus dan berbakti. Upasara Wulung
telah tercatat dan tergores di hatinya. Tak akan pernah bisa dicuci bersih, tak akan
pernah hilang, walau tidak terlihat di permukaan.
Apa yang dikatakan Tribhuana benar sekali.
Di antara putri-putri Singasari, hanya kepadanyalah Baginda menunjukkan
kasih sayang secara lebih. Bahkan pasti dengan sangat berat hati melepaskan pergi ke
Perguruan Awan.
Kalau mengikuti kehendak pribadi, Baginda tak akan melepaskan dirinya.
Akan tetapi seperti dikatakan Tribhuana, seorang raja berpikir seribu kali lebih jauh,
seribu kali lebih bijaksana. Bahkan permaisuri yang paling disayangi pun rela
dilepaskan.
Sejak malam itu, bagi Permaisuri Rajapatni, Baginda Raja yang memegang
kebenaran. Pikirannya menyatu, dan membuatnya bahagia.
Wajahnya bersinar kembali.
Itu yang terlihat ketika menjemput Baginda.
Senopati Halayudha memberitahu bahwa Baginda minta dijemput. Maka
Permaisuri Rajapatni datang ke kamar Baginda Raja dengan segala darma bekti yang
dimiliki. Akan diserahkan seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya untuk kebesaran
Baginda.
Sewaktu memasuki kamar pribadi yang luas, Permaisuri Rajapatni tetap
bersinar wajahnya. Tak menunjukkan rasa herannya walau di tempat itu ada ketiga
kakaknya, serta Permaisuri Indreswari. Biasanya, kalau Baginda Raja sedang
sendirian. Atau kadang langsung mengunjungi ke kaputren.
Anak Kucing Tak Bakal Jadi Harimau
BAGINDA RAJA KERTARAJASA bangkit dari pelaminan.
Sejenak disapunya dengan pandangan ringan kelima permaisurinya yang
bersila menunduk di lantai. Lalu berjalan mengitari ruangan.
Suaranya terdengar datar.
"Kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa kukumpulkan secara bersama di
ruang ini. Sementara para senopati yang justru sedang menunggu-nunggu kubiarkan
di luar.
"Aku tahu semua yang kalian pikirkan.
"Aku tahu semua yang para senopati pikirkan.
"Aku ingin memperlihatkan diri bahwa akulah sesungguhnya raja yang paling
berkuasa. Yang bisa membuat mereka semua menunggu sampai tua dan loyo. Akulah
yang berkuasa, dan tunggal. Tak bisa dipaksa dan dipermainkan siapa pun.
"Termasuk kalian semua."
Kelima permaisuri makin menunduk.
"Tak akan ada lagi yang berani membantah perintahku. Tak akan ada lagi yang
menyangsikan bahwa akulah raja yang sesungguhnya. Yang ditunjuk dan direstui
Dewa yang Maha Berkuasa.
"Tak akan ada yang ragu. Karena yang ragu akan musnah jadi debu. Apakah itu
Upasara atau bahkan permaisuriku sendiri."
Gayatri menunduk. Telinganya seperti mendengar panah berdesing.
"Apa yang dibanggakan Upasara telah musnah. Apa yang dicari semua ksatria
dan para pendeta ada di tanganku."
Baginda menunjukkan peti, dan membuka isinya.
"Inilah Kitab Bumi yang utuh. Berisi dua puluh kidungan yang selalu
diperebutkan. Aku yang menguasai. Mulai hari ini secara resmi, semua sudah berada
dalam genggamanku.
"Aku tahu selama ini terdengar banyak omongan yang tidak becus.
Yang sengaja untuk memancing kemarahanku. Salah satunya kenapa aku tidak segera
mengangkat mahapatih, yang menjadi tangan kananku.
"Mereka semua, juga kalian, tak bisa memaksaku."
Permaisuri Tribhuana merasakan bahwa justru di balik kata-kata yang gagah
itu, Baginda sedang menenggelamkan rasa gelisah.
"Aku bisa menentukan siapa saja menjadi mahapatih. Bahkan kalian
permaisuriku, kalau aku berkenan, bisa terjadi. Siapa pun tak ada yang bisa
menghalangi.

________________________________________
Episode 6

“Aku mendengar suara-suara bahwa disebut nama-nama Nambi, Sora, Lawe, Kuti, Semi, Tanca, Pangsa, Wedeng, Yuyu, dan entah siapa lagi. Dengan mata tertutup pun aku bisa memilih salah seorang di antara mereka. Atau yang lain sama sekali.
“Mereka adalah rakyat jelata. Yang tadinya hanya bisa membalik tanah menjadi sawah. Akulah yang mengangkat mereka dengan derajat dan pangkat. Memberikan kehormatan yang seumur hidup mereka tak pernah diperoleh.
“Mereka hanyalah cemeng dan bukan gogor.
“Sejak lahir sebagai cemeng besarnya tetap akan menjadi kucing. Sakti seperti apa pun, tetap seekor kucing. Tak akan bisa menjadi harimau. Hanya gogor yang bisa menjadi harimau.
“Akulah dulu gogor, anak harimau yang tetap tak bisa menjadi kucing. Inilah bedanya antara seorang raja dan bukan raja. Kelak kalian inilah yang akan melahirkan gogor, yang akan meneruskan takhta dan kebesaran Keraton ini. Bukan para senopati.” Baginda menghela napas.
“Bagaimana pendapatmu, Tribhuana?”
“Segala apa yang Baginda katakan, benar adanya.”
“Kamu yang mengerti tentang tata Keraton tentu lebih mengerti bahwa seorang raja tidak perlu menanyai permaisurinya untuk masalah seperti ini.
“Tetapi aku bisa melakukan.
“Mahadewi, apa pendapatmu?”
“Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”
“Seekor anak kucing tetap berbeda dan tak akan menjadi anak harimau. Takdir dari Dewa yang Maha Penentu sejak dulu sudah membedakan itu.
“Bagaimana pendapatmu, Jayendradewi?”
“Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”
“Siapa yang pantas menjadi mahapatih menurut pendapatmu, Gayatri?”
Gayatri menghaturkan sembah, seperti kakak-kakaknya, sebelum menjawab
pertanyaan Baginda.
“Segala yang Baginda katakan, menjadi benar adanya.”
Sejenak Baginda terdiam.
“Apa maksudmu?”
Gayatri menyembah lagi.
“Seperti hamba haturkan, segala yang Baginda katakan atau isyaratkan,
menjadi benar adanya.” Baginda tersenyum.
“Gayatri, kamu ini selalu menjadi lain. Putri Singasari yang paling jelita, tetapi
juga paling keras kepala. Entah kenapa aku justru menyayangimu— seperti aku
menyayangi yang lain.
“Aku sudah mendengar semua laporan perjalanan ke Perguruan Awan. Sampai
ke hal yang sekecil-kecilnya.
“Kenapa kamu katakan segala apa yang aku katakan akan menjadi benar?
Kenapa tidak kaukatakan bahwa yang aku katakan memang benar adanya?”
Gayatri menunduk.
Makin menunduk.
“Kalau Baginda sumber kebenaran, segala apa akan menjadi benar.”
“Ah, kamu pun menyangsikan.”
Gayatri menyembah.
“Sama sekali tidak mungkin, Baginda.”
Baginda memandang Permaisuri Indreswari.
“Apa yang akan kaukatakan, Indreswari?”
“Baginda, hamba menunggu dawuh Baginda.”
“Kamu benar, Indreswari. Meskipun secara resmi kamu telah menjadi
permaisuri utama, hari ini aku bersabda, bahwa putramu kelak yang menjadi putra
mahkota. Putusan ini berlaku sampai aku mencabut kembali.
“Halayudha, catat semua ini.”
Senopati Halayudha, yang berada di luar ruangan, menyembah hormat.
Lalu Baginda Raja melambaikan tangannya. Kembali ke peraduannya. Kelima
permaisuri melakukan sembah hormat, lalu berjongkok keluar dari ruangan. Tanpa
suara, seakan kesepuluh kaki berkain itu tak menginjak lantai.
“Halayudha!”
Yang dipanggil segera menghadap dengan berjongkok, melakukan sembah,
dan menunggu.
“Kamu selalu tahu apa yang terjadi di ruang ini. Sekarang aku ingin bertanya
kepadamu. Siapa di antara senopatiku yang pantas menduduki kursi mahapatih?”
Halayudha menyembah lagi. Tubuhnya makin dalam membungkuk.
“Kalau hamba seratus kali lebih pintar, tetap tak akan bisa menjawab
pertanyaan Baginda. Anak kucing kecil tak akan bisa menilai anak kucing yang lain.”
“Bagaimana kalau Nambi?”
Halayudha menyembah hormat.
“Tiada putusan yang lebih tepat dari yang Baginda katakan.”
“Apa alasanmu?”
“Pertama, Mpu Nambi sangat setia kepada Baginda. Kedua, jasanya di saat
peperangan tak diragukan lagi. Ketiga, Mpu Nambi adalah senopati yang juga
memimpin prajurit telik sandi. Keempat, rasanya tidak ada yang bisa menandingi
Mpu Nambi dalam melaksanakan kehendak Baginda. Kelima, Baginda telah
mengatakan sendiri. Sabda seorang raja adalah rahmat dan anugerah. Keenam…”
“Jarang aku menemui seseorang yang begitu tulus memuji orang lain.”
“Sesungguhnya hamba hanya mengatakan apa adanya, Baginda. Sama sekali
jauh dari keinginan memuji yang memang tidak hamba miliki.”
“Baik kalau begitu. Segera umumkan pasewakan agung. Aku tak ingin hal ini
tertunda lebih lama.”
“Dua hari lagi adalah hari yang sangat baik, karena saat itu bulan purnama,
saat Baginda dilahirkan untuk memimpin Keraton yang makin agung ini.”
“Baik kalau begitu.
“Ada yang mau kamu katakan?”
Halayudha seperti mau mencium lantai ketika menghaturkan sembah.
“Duh, Baginda Raja sesembahan semua makhluk hidup di sepanjang lautan
hingga ke puncak gunung, hamba hanya ingin menghaturkan bahwa Nyai Demang
telah datang.”
Baginda Raja mengangguk pelan.
Itu merupakan isyarat bagi Halayudha untuk menyembah lagi, dan merasa
kalimatnya berkenan.
“Nyai Demang bisa nembang kidungan dengan sangat baik, Baginda. Itu yang
pertama. Yang kedua, Nyai Demang tak mungkin dipercaya jika mengatakan bahwa ia
dipanggil menghadap Baginda.”
“Kamu pintar, Halayudha.”
“Mudah-mudahan pujian Baginda diperkenankan Dewa Agung sekuku
hitamnya.”
Baginda menarik napas.
“Soal kidungan Kitab Bumi tak peduli. Tapi aku ingin tahu wanita seperti apa
Nyai Demang itu. Apa benar seperti yang diceritakan orang selama ini.”
Nyai Demang di Kamar Peraduan
HALAYUDHA menyembah sekali lalu mundur dengan tetap jalan berjongkok. Tak
lama kemudian pintu terbuka kembali.
Baginda Raja melihat sesosok bayangan yang masuk, diiringi oleh Halayudha.
Dalam hati Baginda memuji cara kerja Halayudha yang sangat rapi. Ternyata
Nyai Demang telah berada di sekitar Keraton. Di depan pintu peraduan. Tanpa
menimbulkan kecurigaan, karena diberi pakaian seperti prajurit lelaki. Rambut Nyai
Demang yang ikal dan lebat baru kelihatan ketika ikat kepala dibuka. Dadanya yang
montok tertutup kemben yang padat, memperlihatkan kemontokan yang terjaga dan
terawat.
Sekilas Baginda bisa mengetahui bahwa tubuh Nyai Demang memang sangat
sempurna, dan sekaligus menggoda. Sebagai seorang yang banyak mengenal wanita,
Baginda tak bisa menutupi kekagumannya. Bahkan sampai tidak tahu Halayudha
sudah menyembah dan berlalu.
Nyai Demang menyembah sekali, lalu berdiri.
“Baginda tidak mengharapkan saya akan menunduk dan berlutut di kaki
Baginda dan kemudian diperkenankan memijati kaki sambil membersihkan kuku.
Atau wanita seperti itu yang Baginda harapkan?”
Baginda tersenyum lebar.
Setelah resmi menjadi raja, Baginda terpaksa muncul dalam berbagai
penampilan yang resmi dan sangat ketat dengan tata upacara. Bahkan menghadapi
permaisurinya sendiri, rasa hormat itu tak berkurang sedikit pun.
Sekali ini lain!
Sekali ini ada seorang wanita yang begitu menyembah, langsung berdiri
menantang.
Bukan sembarang wanita. Tapi Nyai Demang.
Yang seluruh tubuhnya penuh, padat, dan berisi. Baru sekarang Baginda
memperhatikan bahwa sesungguhnya Nyai Demang sangat menawan, kalau
dihubungkan dengan asmara badani. Mulai dari bentuk alisnya yang lebat, matanya
yang galak, hidung melengkung ke depan dan mendenguskan berahi, serta terutama
sekali sunggingan bibirnya seakan menunjukkan bahwa bibir itu tahu segalanya.
Nyai Demang bukan hanya menyadari
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:37 pm

Bagi Nyai Demang ini tontonan yang menarik Akan tetapi hati kecilnya
merasa was-was juga, Bukan karena meragukan kemampuan Mpu Sora, akan tetapi
ksatria Jepun ini memperlihatkan keteguhan yang luar biasa, Bahwa mereka hanya
berdua berani menyatroni Keraton secara langsung, itu saja sudah menunjukkan
kepercayaan diri yang besar. Yang secara perhitungan, dilandasi oleh kemampuan
mengukur kekuatan
Sementara Senopati Semi meraih tombak untuk menghadapi Kama Kalandara.
Mereka sudah berhadapan.
Kama Kalacakra nampak berdiri teguh. Dengan satu kali gerakan kilat, pedang
panjangnya lepas dari sarungnya. Dipegang dengan tangan kanan, bagian yang tajam
menghadap ke wajahnya sendiri Pandangannya lurus ke depan.
Mpu Sora seperti tak menyangka bahwa lawan sudah mengambil ancangancang
menyerang pada jarak yang masih begitu jauh.
Namun Mpu Sora segera juga mengambil posisi Kedua kakinya menekuk,
kedua tangannya bersiap dengan jari-jari mengembang.
Alun-alun menjadi sunyi
Napas pun tertahan
Agak lama,
Mendadak kemudian berubah, Didahului dengan teriakan keras, Kalacakra
menerjang maju. Berlari cepat sekali, menyerbu secara lurus dan langsung ke arah
Mpu Sora, Pedangnya yang panjang mendadak berkelebat, memotong tubuh Mpu
Sora dalam beberapa bagian.
Sederhana gerakannya, Karena bisa dilihat dengan jelas arah dan sasarannya,
Namun gerakan Kalacakra mengandung tenaga yang kental dan liat Sabetan pedang
panjang seperti menutup ke seluruh bagian.
Kaki Mpu Sora menotol, tubuhnya dibuang ke samping. Tidak ke atas, karena
pedang panjang berkilat itu seperti menguasai bagian atas. Dengan memutar ke arah
samping, Mpu Sora mencoba masuk dari sela-sela sabetan pedang panjang. Berusaha
menanamkan sengatan lebah berbisa.
Hatinya sempat berdesir merasakan kesiuran angin yang ganas.
Lolos dari serangan pertama, Kalacakra berbalik dengan gerakan patah dan
dengan segera menyabetkan pedangnya. Pedang itu menoreh langit ke kiri, ke kanan,
ke kiri, ke kanan, dalam satu gerakan Seakan pedang yang panjang dan berat itu
seperti ranting kecil yang bisa dimainkan secara leluasa, Pergelangan tangan
Kalacakra sangat luwes dan sempurna.
Mpu Sora tak menahan rasa kagumnya,
Tapi ia bukan sembarang senopati Kali ini pun telah menyiapkan diri dengan
sempurna, Dalam beberapa kejap, Mpu Sora mengeluarkan semua simpanannya. ilmu
Bramana atau jurus-jurus Lebah mengalir dengan cepat. Diiringi suara berdesing, Mpu
Sora mengeluarkan jurus Bramara Bramantya, disusul dengan Bramara Bekasakan,
lalu Bramara Braja,
Mengagumkan.
Mpu Renteng memuji kehebatan jurus Lebah yang kini dipertunjukkan lebih
leluasa dan sempurna, Tidak seperti ketika menghadapi Klikamuka, Desingan suara
dari bibir Mpu Sora, ditambah dengan gerakan menyengat yang datang dan pergi
sangat berlawanan dengan gerakan Kalacakra yang serba patah,
Akan tetapi, Mpu Renteng menyadari bahwa perlahan tapi pasti, tekanan
Kalacakra semakin berat Ruang gerak Mpu Sora semakin sempit Sementara
kemungkinan sengatannya yang diandalkan makin tipis mengenai Kalacakra yang
justru menjadi lebih ganas.
Apa yang dialami Senopati Semi kurang-lebih sama, walau cara
perlawanannya berbeda.
Sewaktu Kalandara menyerang, Semi menghadapi langsung. Bahkan boleh
dikatakan lebih dulu menggebrak Tombaknya menyodok, kena ditangkis pedang
panjang, hingga berputar. Dengan jitu Semi memindah tempat pada pegangan tangan.
Tombak tidak lepas, bisa dipergunakan dan tetap mengancam. Akan tetapi empatlima
kali benturan, Semi merasa tangannya tergetar, Dan makin lama makin terasa di
pergelangan, merambat ke arah siku!
Hebat pengaruh tenaga Kalandara.
Semi tidak lagi terus-menerus menggempur untuk adu tenaga. Akan tetapi
justru dengan begitu, Kalandara seperti menemukan kesempatan untuk terus
mendesak
Kalau Kalandara bermain dari jarak jauh masih bisa berloncatan menghindar,
sebaliknya Semi dipaksa untuk adu tenaga, kalau tidak ingin dibelah tubuhnya.
Bahwa kedua Kama bisa segera menyenangkan pertarungan, itu sudah jelas.
Akan tetapi lama-kelamaan keunggulan mereka makin terasa.
Yang tidak diketahui oleh Sora dan Semi ialah bahwa sebenarnya kedua Kama
ini pun merasa penasaran, Mereka berdua adalah unggulan utama yang sudah
menjelajah jagat Selama ini boleh dikatakan tak pernah menemukan lawan yang
berarti Dalam artian bertahan beberapa jurus, Karena ilmu silat mereka justru
mengandalkan permainan cepat Satu-dua jurus saja.
Nyatanya, kini Kalacakra tak segera bisa memenangkan pertarungan melawan
tangan kosong.
Benar-benar lawan yang luar biasa.
Kalau dua orang yang maju secara sembarangan sudah seperti ini, bisa
diperhitungkan bahwa yang lainnya bisa lebih jago. Sungguh tanah Jawa ini penuh
dengan ksatria yang tak terduga!
Sebaliknya, para senopati justru merasa cemas,
Biar bagaimanapun Sora dan Semi makin terdesak Kalau mereka nimbrung
maju, kurang pada tempatnya, akan tetapi membiarkan begitu saja juga tak tega.
Jadinya serbasalah.
Kesiuran angin dari kedua pedang panjang makin lama makin terasa merobek.
“Lho, siapa berani mencari ilmu tongkatku? Hei, tunggu dulu. Kalian pencuri
dari mana?”
Nyai Demang sadar bahwa itu suara Galih Kaliki.
Dan hanya Galih Kaliki yang bisa langsung menerjang ke tengah pertarungan
tanpa merasa risi atau kikuk.
“Sejak kapan kalian mencuri cara menggebuk ini?”
Galih Kaliki maju ke tengah pertempuran dengan tongkat dan dengan sigap
berlari kencang. Tak jauh berbeda dari gerakan kedua Kama.
Sumber itu Satu
SERBUAN Galih Kaliki mengejutkan.
Dengan memanggul tongkat galih asam, ia menyerbu begitu saja, Dan begitu
berhadapan dengan Kalacakra, langsung menyabet, Persis gerakan lawan Dua
benturan terdengar keras,
“Bagus!”
Galih Kaliki memutar tongkatnya, kali ini menggempur Kalandara. Lagi-lagi
benturan keras. Pedang panjang melawan tongkat kayu. Hanya kali ini tidak satu
benturan saja, melainkan tujuh kali benturan Sejak sabetan pertama ketika pedang
mengarah ubun-ubun, mata, hidung, mulut, leher, ubun-ubun lagi, mata lagi
“Bagus, memang mestinya begini!”
Senopati Anabrang terkesima,
Sama sekali tak menyangka bahwa Galih Kaliki bisa mengimbangi dua Kama
yang telah menyudutkan Mpu Semi dan Mpu Sora!
Tak masuk akal sama sekali!
Senopati Anabrang terkesima justru karena tak menduga bahwa Galih Kaliki
yang dianggap tak terlalu istimewa, bisa menjadi dewa penolong. Senopati Anabrang
membandingkan dengan dirinya sendiri Ia bisa dan biasa memainkan pedang, Bahkan
dua pedang sekaligus, Akan tetapi diakui bahwa keunggulan bermain pedang belum
bisa mengatasi keunggulan tenaga Kalandara maupun Kalacakra.
Senopati Anabrang tak malu mengakui.
Mpu Nambi pun tak menduga bahwa justru Galih Kaliki yang bisa
menyelamatkan kehormatan Keraton
Hanya Nyai Demang yang melihat bahwa keunggulan Galih Kaliki
dibandingkan dengan Mpu Sora dan Mpu Semi, terutama sekali karena didasarkan
kepada jenis permainan silat. Bukan hanya keunggulan!
Ini rahasia kecil yang bisa ditangkap oleh Nyai Demang,
Bisa dimengerti karena secara teori Nyai Demang menguasai berbagai jenis dan
aliran dalam dunia persilatan Tidak terbatas pada yang ada di tanah Jawa saja.
Ilmu tongkat Galih Kaliki adalah ilmu yang juga mengandalkan tenaga besar
untuk memainkan Bahkan selama ini dikenal jurus-jurusnya tidak terlalu hebat,
Bahkan terlalu sederhana karena tanpa kembangan, atau perubahan-perubahan yang
berarti Galih Kaliki selalu mengincar batok kepala, Dan tak pernah lain!
Itu juga yang dimainkan kedua Kama.
Bedanya pedang panjang seperti membelah, sedangkan tongkat galih asam
lebih mengemplang.
Sementara itu di medan pertarungan terjadi perubahan
Mpu Sora dan Mpu Semi bisa bernapas lega dan mengambil jarak Dan kedua
Kama jadi memutar tubuh menghadapi Galih Kaliki
“Kalian orang berekor di kepala, sejak kapan kalian mempelajari ilmuku?”
Sungguh pertanyaan yang angin-anginan dan kena sasaran!
Betapa tidak Kama Kalacakra dan Kama Kalandara datang untuk meminta
kitab pusaka yang dikatakan dicuri ilmunya, Dan sekarang justru dituduh mencuri.
“Karena kamu masuk ke gelanggang, berarti siap bertempur.”
“Lho, dari tadi saya ini disangka main-main?
“Saya datang ke sini untuk memaksa kalian mengatakan dari mana kalian curi
ilmu tongkat saya. Dan kenapa bisa juga dimainkan dengan pedang yang tak keruan
bentuknya itu.”
Jujur kata-kata Galih Kaliki.
Apa yang dirasakan, itulah yang dikatakan
Galih Kaliki memang termasuk yang aneh dalam dunia persilatan Terutama
karena asal-usul perguruan ilmu silatnya berbeda dari aliran yang ada. Bahkan sejak
zaman pertarungan para ksatria dalam perebutan takhta Singasari, Galih Kaliki tak
pernah diketahui asal-usulnya,
Siapa nyana justru sekarang agak tersingkap.
“Ayo maju dulu,”
Galih Kaliki bukan menunggu, meskipun seolah mempersilakan lawan mana
yang mulai Justru ia yang maju menggempur Berlari sangat kencang, menghantam ke
depan Tongkatnya digerakkan seperti pedang panjang. Karena kali ini Galih Kaliki
memegang tongkat dengan kedua tangan.
“Bagus. Kalian betul. Begini lebih bagus.”
Kalau Kalacakra begitu tegang, sebaliknya Galih Kaliki bertempur sambil terus
berbicara.
Nyai Demang nggragap setelah beberapa jurus.
Walaupun dengan sangat perkasanya Galih Kaliki berhasil mengimbangi, akan
tetapi terlihat bahwa penguasaannya kalah mahir, Ini bukan karena ilmu Galih Kaliki
kalah dibandingkan Kalacakra, Akan tetapi karena Galih Kaliki mencoba dengan
gerakan yang dimainkan Kalacakra. Dengan sendirinya ia menjadi kalah terlatih.
Kalau tadi Galih Kaliki unggul karena menyamai dasar-dasar gerakan, justru
berakibat terbalik sewaktu mengikuti cara bergerak.
Nyai Demang tak bisa tinggal diam.
“Kakang… sudah jelas sumber air itu satu. Tetapi tidak semua sungai sama
bentuknya. Jadi kenapa harus membuat sungai seperti sungai di Jepun?”
Galih Kaliki berjingkrakan saking gembiranya.
Dalam hidupnya yang luntang-lantung tidak keruan juntrungannya, Galih
Kaliki baru merasa mempunyai arah ketika bertemu Nyai Demang. Galih Kaliki sudah
langsung kesengsem, tergila-gila.
Bahkan waktu ada sayembara memperebutkan putri ayu, Galih Kaliki maju ke
depan. Tidak untuk memperebutkan putri ayu yang disayembarakan, melainkan
mencari Nyai Demang.
Tak nyana tak disangka kalau sekarang ini bakal ditegur begitu ramah dan
mesra oleh Nyai Demang!
Sewaktu meninggalkan Perguruan Awan, Galih Kaliki memang hanya
mempunyai satu tujuan. Mencari Nyai Demang yang katanya mendapat undangan
dari Keraton. Walau Nyai Demang tidak mengatakan begitu, Galih Kaliki diberitahu
Wilanda.
Begitu mendengar penjelasan Wilanda, Galih Kaliki langsung berangkat.
Hanya saja setiba di Keraton, tak ada yang mendengar kabar Nyai Demang.
Galih Kaliki mencari ke mana pun kakinya bisa melangkah. Masuk ke tengah
alun-alun karena melihat pertarungan. Dan karena merasa ada persamaan ilmu
dengan miliknya, tanpa pikir panjang ia ikut terjun ke gelanggang.
Siapa sangka bakal bertemu dengan pujaannya!
Galih Kaliki jadi bersinar-sinar wajahnya.
Tapi tetap saja sama.
“Nyai, aku tidak mengerti apa yang kaukatakan. Omong saja terus terang.”
“Sumber ilmu tongkat kayu sama dengan ilmu pedang panjang. Akan tetapi
Kakang tak usah mengikuti gerak-gerik yang sama. Kakang bisa memainkan gerakan
sendiri.”
Kalacakra tertawa terbahak.
“Majapahit, keraton yang hina. Para ksatria di tanah ini hanya bisa main
keroyokan.”
Menyakitkan kata-kata itu, walau diakui ada benarnya. Setelah Mpu Sora dan
Mpu Semi keteter, muncul Galih Kaliki, dan sekarang Nyai Demang.
Tak salah kalau dikatakan main keroyok.
Tapi dalam hal bersilat lidah, Nyai Demang bukan lawan yang bisa disudutkan
begitu saja.
“Baru saja kalian sesumbar menghadapi secara bersama atau satu demi satu.
Belum kering bibir kalian, sudah merasa jagoan karena dikeroyok.
“Baru saja kalian sesumbar memiliki kitab pusaka yang paling ampuh di kolong
langit, tidak tahunya justru sama saja dengan tongkat kayu yang dimainkan Kakang.”
Kalandara yang sejak tadi berdiam, nampak mengangguk.
Agaknya ia sendiri merasa heran.
“Apanya yang mau kalian sombongkan?
“Kenapa kalian merasa satu-satunya yang memiliki ilmu silat model tongkat
kayu? Dunia ini sungguh luas. Yang muncul di tanah Jepun turunan ilmu dari negeri
Tartar, akan tetapi yang datang ke negeri Tartar juga berasal dari tanah Hindia.
“Untuk apa dipertengkarkan?
“Kitab Bumi jelas milik kami. Tetapi kalau kalian ingin mempelajari atau ingin
mengembangkan, kami tak akan melarang. Kenapa harus dipertengkarkan? Apakah
Jalan Budha, apakah bernama Tepukan Satu Tangan, apakah Kitab Penolak Bumi, atau
Kitab Bumi, atau kitab pusaka kalian, bukannya berasal dari sumber yang sama?
Bukankah kita tak pernah tahu siapa dan negeri mana sumber utamanya?
“Saya bernama Nyai Demang, sama sekali tidak ingin meributkan hal itu. Akan
tetapi kalau kalian berdua ingin menjajal ilmu silat, akan saya layani.
“Pendeta-pendeta dari Jepun tak lebih hanyalah pendeta dengan kaki yang
menginjak tanah, membenam di lumpur sawah, bukan mega-mega yang
bergantungan di langit!
“Di tanah ini juga ada sawah, ada langit.
“Mari kita lihat, kaki siapa yang lebih berbau lumpur.”
Kalandara mendadak membungkukkan tubuhnya. Punggungnya rata dan
merupakan garis patah dengan pinggang.
Nyai Demang berhasil memperlihatkan cara membaca pikiran lawan secara
sangat luar biasa. Nyai Demang tahu bahwa ksatria Jepun sangat memegang ajaran
pendeta negeri Tartar menjadi lumpur di sawah, bukan menggantung di langit.
Perbandingan ini tidak banyak yang mengetahui.
Pedang Matahari
MAHAPATIH Nambi tidak menyangka sama sekali bahwa kedua Kama itu memberi
hormat yang dalam kepada Nyai Demang. Wanita yang selama ini tak pernah
dianggap istimewa, apalagi terhormat.
Berbeda dari semua yang ada di lapangan, Nyai Demang pernah bergaul rapat
dengan para Naga dari negeri Tartar. Dari sanalah Nyai Demang bisa mengetahui asalusul
ilmu silat.
Sejauh yang didengar, segala sumber ilmu silat berasal dari tlatah Hindia, yang
dibawa mengembara oleh para pendeta. Yang sampai di tanah Cina adalah ajaran
Imam Besar Tat Mo yang perkasa. Di sanalah berkembang sumber dari segala sumber
yang disebut ilmu Jalan Budha. Dari tanah Cina sebelum dikuasai oleh bangsa Mongol
atau Tartar, ilmu yang sama sampai ke tlatah Jepun.
Bangsa Jepun mengakui bahwa yang membawa ilmu itu ke tanah mereka
adalah Mpu Bodidarma.
Di tanah Cina ilmu itu berkembang lebih termasuk ke dalam cara-cara
pernapasan dari ajaran Tao, seorang mahaguru yang sakti mandraguna. Sedangkan di
tanah Jepun ajaran tersebut mengalami perbedaan.
Inilah yang dibanggakan bangsa Jepun secara luar biasa. Ajaran Jalan Budha
tidak diterima sebagai ajaran latihan pernapasan dan cara pengabdian semata-mata.
Akan tetapi ditekankan kepada ilmu keras, di mana keunggulan dibuktikan dengan
kemenangan. Di mana mengalahkan dan dikalahkan adalah hal yang biasa untuk
menakar.
Menurut pandangan para empu dari Jepun, ilmu Jalan Budha para pendeta
Cina dianggap terlalu mengawang. Tidak berpijak di bumi. Para jawara Jepun
menganggap bahwa tujuan utama bukanlah hanya mencapai kebahagiaan abadi
sesudah mati, akan tetapi juga kejayaan semasa hidup. Dengan istilah yang mereka
pakai, “ilmu yang membenam dalam lumpur sawah, bukan yang tergantung di langit”
sebagai ajaran kosong.
Pertentangan tentang ajaran mana yang lebih unggul masih selalu terjadi.
Dimana para jawara saling mengunjungi negeri masing-masing untuk mengukur siapa
yang lebih mahir, siapa yang mumpuni, siapa yang lebih menguasai.
Di tanah Jawa, ajaran yang diterima bukan yang melalui negeri Cina ataupun
Jepun. Mereka percaya bahwa seorang pendeta Hindia sendiri yang membawa ajaran
ke tanah Jawa, dan tidak hanya sekali datang. Para ksatria menyebut mereka sebagai
Tamu dari Seberang, seorang tokoh yang sakti mandraguna. Pada zaman awal keraton
Singasari, konon Tamu dari Seberang itu menampakkan diri, juga sewaktu zaman
akhir.
Menurut perhitungan, hanya Eyang Sepuh yang berhasil menemui mereka
yang disebut Tamu dari Seberang. Eyang Sepuh-lah yang dikenal sebagai pendiri
Perguruan Awan.
Kalau dicoba diambil perbandingan, sumber yang sama memperlihatkan
perbedaan perkembangan di masing-masing negeri.
Dipadu dengan ajaran setempat di tanah Cina, norma-norma itu berkembang
menjadi pengabdian kepada raja yang tiada habisnya. Sementara di tanah Jepun
bahkan sebaliknya. Para pendekar berpedang panjang juga tumbuh di luar kalangan
Keraton, sehingga mereka lebih merupakan lawan. Sedangkan di Perguruan Awan
adalah campuran keduanya. Sebagian ada yang menjadi prajurit Keraton, atau bahkan
senopati, sebagian memisahkan diri, tak mau tahu urusan Keraton.
Contoh utamanya ialah Eyang Sepuh yang tidak memperlihatkan diri sama
sekali!
Dan kemudian Upasara Wulung yang lebih suka menghancurkan ilmunya!
Pertentangan-pertentangan ajaran Jalan Budha tumbuh di mana-mana. Di
tanah Cina, cara-cara membakar mayat dianggap bertentangan dengan ajaran
setempat. Demikian juga ajaran kesetiaan di tanah Jepun, yang bisa diartikan
kesetiaan kepada pedang, bukan kepada seorang raja.
Pertentangan demi pertentangan ini yang mengakibatkan tumbuhnya aliranaliran
dalam dunia persilatan. Di tangan masing-masing pimpinan aliran inilah gaya
dan jurus-jurus mengalami perubahan dan kematangan yang berbeda.
Sehingga dari sumber mata air yang sama terbentuk sungai yang berbeda aliran
airnya.
Akan tetapi kalau dilihat dari persamaannya, tetap mengingatkan kepada
sumber yang sama.
Bisa dimengerti kalau kedua Kama ini sangat penasaran ingin mengetahui
Kitab Bumi yang menjadi sumber ilmu Tepukan Satu Tangan. Karena intinya memang
sejenis dengan “bertepuk dengan satu tangan bakal memberikan suara lebih nyaring,
dibandingkan bertepuk dengan dua tangan.”
Dilihat dari sisi ini kecerdasan Nyai Demang memang mengagumkan.
Dalam dunia persilatan ia dipandang enteng. Karena memang tidak terlalu
unggul. Akan tetapi pengetahuannya yang luas membuat dua jagoan dari tanah Jepun
menunduk hormat dengan menekuk tubuh.
Sesungguhnya dari sedikit yang mengetahui Kitab Bumi, Nyai Demang
termasuk yang membaca kidungan secara tuntas. Baik yang disebut Dua Belas Jurus
Nujum Bintang, ataupun Kitab Penolak Bumi yang delapan jurus.
Bahwa penguasaan akan ilmu itu memang membuat Nyai Demang masih kalah
dibandingkan Galih Kaliki yang bahkan mungkin tak pernah membaca sendiri.
Namun dalam pembicaraan, jelas Nyai Demang jauh lebih unggul.
Mahapatih Nambi melihat dari sisi lain.
Keunggulan Nyai Demang bisa diartikan ancaman bagi dirinya. Karena sebagai
pimpinan telik sandi dan kini diangkat resmi sebagai mahapatih, perhitungannya
adalah demi keamanan dan ketenteraman Keraton sebagai yang utama. Kalau Nyai
Demang bisa menguasai kedua Kama ini, bukan tidak mungkin akan dipakai untuk
membalas dendam atas hancurnya Upasara.
Apalagi Nyai Demang secara mendadak muncul bersama Galih Kaliki!
Mahapatih Nambi tak mau memberi kesempatan.
“Kisanak, sebelum kalian lebih dalam menghormati wanita itu, perkenankan
saya menjajal sebentar. Hitung-hitung mencicipi kebodohan.”
Mahapatih Nambi meraih kelewang besar dan berat. Maju ke depan.
Kama Kalandara mendengus.
Tanpa ba atau bu, Kalandara menerjang maju. Kembali pedang panjangnya
menggores langit, membersit di langit sebelum lurus menyabet lawan. Mahapatih
Nambi menyambut dengan keras, hingga menimbulkan suara keras.
Kalandara ternyata menggempur. Tiga sabetan ditangkis, tanpa menggeser
kakinya, tiga sabetan dilanjutkan lagi. Ditangkis secara beruntun.
Mahapatih Nambi mencoba mencari terobosan. Sebelum lawan menyabet,
kelewang berat dan besar mendahului menyodet lambung lawan. Kalandara
mengeluarkan suara dingin. Pedang panjangnya menukik ke bawah. Membentur
keras disertai teriakan keras, dan kakinya menyabet keras.
“Bagus.”
Teriakan Galih Kaliki seakan menunjukan bahwa ia mengenal jurus itu.
Mahapatih Nambi tak ambil peduli. Tendangan ia tangkis dengan tendangan.
Mendadak saja debaran jantungnya seolah bertambah cepat.
Kakinya seperti membentur besi baja.
Yang terayun kedua, ketiga kalinya.
Sementara pedang panjang menyambar dari arah samping. Seakan memotong
tubuh Mahapatih dari pinggang secara miring.
Dua gempuran bagai ombak laut. Beruntun dengan gelombang yang makin
besar. Kalau Mahapatih mengerahkan tenaga ke kaki, berarti pedang Kalandara bisa
menerobos masuk. Kalau mengerahkan tenaga di atas, kaki lawan bisa meremukkan
tulang keringnya.
Mahapatih mengerahkan seluruh tenaganya. Ia memilih jalan keras. Tidak
mau menggeser kakinya atau menghindar.
Mendahului benturan kaki yang keras, Mahapatih menyentakkan
kelewangnya, sehingga membentur di tengah udara. Agaknya Kalandara tak menduga
bahwa kelewang bisa dilepaskan. Sehingga agak kaget karena pedangnya bisa
terdorong miring, sementara gempuran kaki lawan sama kerasnya.
Tapi justru dalam sekejap, posisinya menjadi unggul.
Kalandara berputar, tangan kanan melepaskan pedang panjang yang segera
ditangkap dengan tangan kiri, langsung memotong tubuh Mahapatih.
Kalau ingin menangkis dengan kelewang, jelas Mahapatih kalah waktu dengan
pedang yang memotong tubuhnya. Terpaksa membuang tubuh ke samping, sambil
menjentik kelewangnya. Dengan harapan bisa menyambar kembali. Akan tetapi
Kalandara dengan keras menyabet kelewang hingga terbuang ke luar arena
pertarungan.
Senopati Anabrang menangkap kelewang, dan dengan dingin melemparkan
kembali ke Mahapatih Nambi. Ia sendiri mengeluarkan kedua pedangnya sekaligus.
Kalacakra sudah langsung menggempur.
“Pedang Matahari Menutup Awan,” Kalacakra berteriak mengguntur dan
mendadak tubuhnya berputar kencang sekali sambil menubruk lawan. Kalandara
memakai gerakan yang sama!
Dua tubuh mereka saling sabet, bergulung, dan meluncur.
Kalacakra jadinya berhadapan dengan Mahapatih, sementara Kalandara
mencincang Anabrang.
Ini hebat!
Kama Kangkam, sang Guru
GALIH KALIKI belum sempat mengucapkan pujian “bagus”.
Segala perubahan terjadi sangat cepat.
Kalacakra dan Kalandara berjauhan tempatnya, tapi dengan satu serangan
langsung bertukar tempat. Padahal ini semua dilakukan dengan menggulung tubuh
dan tangan memainkan pedang panjang sambil bersinggungan.
Salah-salah bisa melukai teman sendiri!
Akibatnya memang parah.
Gempuran Kalacakra membuat Mahapatih merasa ubun-ubunnya didesiri
angin dingin, Segenap tenaganya hanya bisa dipakai untuk menangkis, Kelewangnya
tergetar, dan terlempar jauh. Dengan mengegos sedikit, Mahapatih merasa pundaknya
perih. Irisan angin sanggup membuat luka yang langsung membuat pundaknya
berwarna kemerah-merahan.
Hal yang sama dialami oleh Senopati Anabrang.
Begitu Kalandara menyerang dengan gerakan kilat, Senopati Anabrang
mengangkat kedua pedangnya. Satu dipakai untuk menangkis keras, satunya dipakai
untuk mencuri serangan,
Celakanya justru yang dipakai untuk menangkis terseret arus tenaga lawan dan
terpental ke tengah udara, Persis seperti kelewang Mahapatih, Bedanya sekarang tak
ada yang menyambar
Sementara tusukan ke dada lawan seperti mengenai karung berisi angin. Tanpa
merasa sungkan lagi, Senopati Anabrang menjatuhkan diri dan melindungi seluruh
tubuhnya dengan satu pedang.
Pada saat yang sama, Senopati Kuti sudah meloncat ke angkasa sambil
melemparkan senjata andalannya, yaitu tameng, atau perisai, Berbentuk seperti
ceping, perisai ini terlontar tiga buah berturut-turut mengeluarkan desingan suara.
Semua prajurit juga bersiap.
Tanpa memperlihatkan kecemasan dan juga rasa menang, Kalacakra dan
Kalandara saling merapatkan punggung Dengan pedang panjang di tangan masingmasing,
keduanya siap menghadapi keroyokan.
“Bagus ya, Kakang.”
“Bagus sekali, Nyai, Mereka bisa main bersama, Selama ini aku tak pernah
menjajal Nyai mau melatihku?”
“Sekarang pun bisa.”
“Betul? Nyai mau?”
Pertanyaan Galih Kaliki sebenarnya lebih merupakan keheranan karena
selama ini Nyai Demang tak pernah mau bersamanya. Makanya ia mengeluarkan
seruan heran. Sedangkan bagi Mpu Sora yang mendengarkan, menyadari bahwa
keheranan Galih Kaliki disebabkan karena Nyai Demang mau terjun ke gelanggang
pertempuran untuk membela Keraton.
Memang Nyai Demang mempunyai dendam kepada Keraton. Mpu Sora hanya
mempunyai dugaan bahwa hancurnya Perguruan Awan dan cacatnya Upasara
Wulung cepat atau lambat akan membangkitkan balas dendam. Makanya cukup
mengherankan bahwa Nyai Demang sekarang ini mau membela.
Bagi Nyai Demang masalahnya sederhana. Ia menyimpan dendam yang
membuat dadanya yang montok menjadi sesek. Akan tetapi karena kini ada ancaman
dari luar, ia tak bisa berpangku tangan, Biar bagaimanapun, ini soal kehormatan dan
keluhuran tanah air.
Maka Nyai Demang berniat maju.
Dendam urusan pribadi bisa dikesampingkan,
“Bagus, Nyai, Kita maju bersama. Kamu pilih yang mana dan aku yang mana?”
“Kakang bisa menghadapi sendirian.”
“Aku?”
Nyai Demang berdesis.
Suaranya sengaja dikeraskan, agar bisa terdengar telinga lain selain Galih
Kaliki
“Kedua Kama ini hebat kelihatannya, akan tetapi sebenarnya biasa-biasa saja
ilmunya.
“Kelihatan hebat karena dalam sekejap bisa membuat senopati agung
Majapahit yang sombong jadi panas-dingin keringatan. Mahapatih Nambi, Mpu Sora,
Senopati Anabrang, Senopati Semi, bahkan tameng Senopati Kuti tak berbuat banyak.
Besar atau kecil perhitungannya, mereka bisa dikalahkan.
“Dan kalau sekarang akan diadakan pengeroyokan hebat, hanya akan
memperbanyak korban berjatuhan.
“Padahal hanya kelihatannya saja hebat,
Ilmu yang mereka mainkan biasa-biasa saja, Mereka mulai dengan kidungan
Kitab Penolak Bumi yang kita miliki, Dalam kidungan itu selalu dimulai dengan
penolakan, dengan pengingkaran. itu tadi yang dimainkan Kalacakra dan Kalandara,
Sehingga lawan yang dihadapi bukanlah lawannya. Dengan cara begini saja, para
senopati perkasa jadi kelabakan.
“Kakang, maju saja sendiri.”
Galih Kaliki maju ke tengah.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:38 pm

“Dengan cara yang sama Kakang hadapi mereka. Yang menyerang berarti
bertahan, yang bertahan berarti tidak menyerang. Gunakan satu tangan
mengedepankan tongkat. Tak perlu diayun.”
Kalacakra dan Kalandara yang beradu punggung memutar begitu Galih Kaliki
mendekat. Satu pedang terayun. Galih Kaliki mengedepankan tongkatnya. Kalacakra
mendadak menghindar ke arah lain, sehingga Kalandara yang berhadapan.
Galih Kaliki tertawa.
“Bagus, Nyai. Mereka berputar bagai gasing.”
“Yang berputar itu ditentukan oleh yang diam. Gasing hanya berputar di
bagian pinggir. Kakang jangan pedulikan. Jangan bicara. Gerakan tongkat untuk
menjawab. Jangan pedulikan yang kiri atau yang kanan, yang bergerak atau yang
diam, berarti ia sendiri tak bergerak. Sementara yang diam tidak diam, karena ia bisa
bergerak bisa diam.”
Senopati Anabrang memuji keunggulan Nyai Demang. Ketika serangan datang,
lagi-lagi Galih Kaliki mengedepankan tongkat. Sambil terus maju. Mengetok,
menyodorkan, silih berganti.
Justru akibatnya kedua Kama jadi terdesak.
Senopati Anabrang melihat bahwa Galih Kaliki lebih banyak menunggu
serangan. Dengan cara menggerakkan jurus yang sama dan berulang!
Senopati Anabrang jadi ingat ketika berhasil mematahkan barisan sembilan
Gandring! Saat itu ia juga dalam keadaan sangat terdesak, dan mendadak tenaga dalam
yang disalurkan oleh Upasara yang tersarang dalam tubuhnya bagai magma melonjak
ke luar laksana lahar. Memancar begitu saja!
Sekarang ini kurang-lebih sama!
Meskipun kelihatan sekali perbedaan cara mengatur serangan. Kalau sembilan
Gandring mempersatukan tenaga dan kekuatan yang ada, kedua Kama ini
menyatukan diri tanpa masing-masing kehilangan kemampuannya. Seperti
ditunjukkan dengan serangan berlainan arah tadi.
Mahapatih memandang dengan mata menyipit.
Kalau tadi ia merasa pamornya bakal hilang kalau Nyai Demang yang bisa
menyelesaikan persoalan, sekarang pilihannya jadi lain. Ia tak merasa rendah kalau
Nyai Demang dan Galih Kaliki yang bisa mengenyahkan atau membuyarkan kedua
Kama itu. Setidaknya ini jauh lebih baik, daripada Keraton diobrak-abrik tanpa
perlawanan berarti.
“Jangan mendahului, Kakang, tetapi jangan menunggu. Pedang panjang
sebenarnya pendek seperti tangan. Pedang pendek tak pernah digunakan. Satukan
pikiran, jangan melihat lawan. Dengarkan kata-kata saja. Karena lawan di depan atau
di belakang, sebenarnya tak bisa menjauh.”
Galih Kaliki memapaki serangan, mengimbangi dengan kecepatan yang sama.
Kalacakra dan Kalandara makin terdesak. Berputar-putar, dan menjauh dari
Galih Kaliki yang dengan sangat mudah menyatukan pemusatan pikiran. Tanpa
diminta tanpa disuruh, Galih Kaliki sudah dengan sendirinya hanya memikirkan Nyai
Demang.
Mendadak terdengar suara pelan, tidak terlalu berat nadanya, namun cukup
jelas terdengar. Bukan semata-mata karena alun-alun sunyi dan hanya suara Nyai
Demang yang terdengar, akan tetapi karena suara itu dikeluarkan dari tenaga dalam
yang terlatih sempurna.
“Jangan bertanya kanan atau kiri, atas atau bawah, depan atau belakang, kalau
jawabannya akan selalu sama.
“Jangan mendengarkan yang bicara, karena lawan yang tidak berbicara lebih
berbahaya. Seekor burung bisa dilatih berbicara, akan tetapi tak bisa mengerti artinya.
“Jangan memaksa diri. Kalau kalah, kenapa tak mau mengakui?
Kedua Kama mengeluarkan teriakan keras, lalu keduanya duduk bersila di
tanah. Kedua pedang yang pendek yang tadi selalu tersembunyi, kami siap untuk
melakukan bunuh diri.
“Guru, kalau Guru tak mau tangan Guru kotor, biarlah murid yang melakukan
sendiri. Kami mohon petunjuk.”
Yang dipanggil Guru adalah seorang lelaki gagah, usianya lebih tua dan kedua
Kama. Alisnya lebat dan bola matanya sangat galak. Dialah yang memerintah kedua
Kama, yang membahasakan diri sebagai murid, untuk menyerah.
. .
“Kalau hidup pantas dinikmati, untuk apa menuju nirwana? Belum tentu di
sana ada pedang dan lumpur.”
Suara Nyai Demang membuat kedua Kama menunduk. Baru tegak setelah
Guru juga memberi hormat kepada Nyai Demang.
“Sungguh mulia hati wanita sejati. Aku Kama Kangkam atau disebut Benih
Pedang, guru kedua murid yang tidak becus ini berutang budi pada wanita berhati
mulia.”
Nyai Demang tergetar. Kalau muridnya saja begini hebat, apalagi gurunya.
Namanya saja sudah menggetarkan, Benih Pedang!
Pertarungan Garingan
KAMA KANGKAM membungkukkan badannya sekali lagi.
Nyai Demang balas membungkuk sedikit, dengan tangan kanan tertekuk.
“Kenapa begitu sungkan memberi gelaran wanita mulia segala? Di negeri ini
wanita tidak hanya bisa membasuh kaki seperti wanita Jepun.”
“Bolehkah saya mengetahui nama besar Putri?”
“Nama saya tidak memiliki. Hanya sebutan saja, yaitu Nyai. Karena saya sudah
mempunyai suami. Dan karena pangkat suami saya demang, maka saya terbiasa
dipanggil Nyai Demang.
“Kama Kangkam, bahasa yang kamu gunakan sangat bagus.”
“Agak lama berdiam di tanah Jawa, datang bersama pasukan Tartar. Akan
tetapi kemampuan saya sangat terbatas, Nyai. Apalagi ada huruf-huruf yang tak bisa
saya ucapkan dengan betul.
“Maaf, apakah Nyai masih ada hubungan dengan Perguruan Awan?”
“Ada atau tidak, tak ada gunanya ditanyakan. Karena kalaupun bukan dari
Perguruan Awan, saya tak akan membiarkan Keraton diobrak-abrik secara begini.”
“Dua kali maaf, Nyai.
“Kami datang untuk melacak kitab pusaka negeri kami yang hilang musnah.”
Nyai Demang mengibaskan tangannya.
“Kama Kangkam, kamu adalah seorang guru yang berilmu tinggi. Di negerimu
sendiri tingkatanmu bukan hanya ksatria, akan tetapi sejajar dengan pendeta. Untuk
apa berbasa-basi seperti itu?
“Aku tahu kamu datang ke tanah Jawa untuk menunjukkan bahwa kamulah
satu-satunya ksatria tanpa tanding. Di setiap tempat, pedang matahari ingin kamu
tegakkan. Kenapa beralasan Kitab Bumi segala macam?”
Kama Kangkam tegak berdiri.
“Kalau sudah tahu maksud kami sebenarnya, silakan bersiap. Kita akan
berhadapan.
“Silakan siapa yang akan maju.”
Senopati Kuti memberi aba peringatan. Tiga perisainya meluncur dengan
desingan tinggi, saling beruntun. Kama Kangkam mengeluarkan suara ejekan. Tanpa
menggeser kaki dan tubuhnya, tangannya justru menangkap perisai berbentuk caping
itu. Sedikit di bawah caping, dan dengan satu sentakan perisai itu terbang balik.
Tiga perisai terbang balik!
Seperti membalik tangan saja.
Yang luar biasa adalah perisai itu menghantam tiang sitinggil dan amblas ke
dalam bangunan bata. Yang pertama masuk ke dalam tiang, disusul yang kedua dan
ketiga. Semua masuk secara persis, berurutan, mengenai tempat yang sama. Akan
tetapi caping itu tidak sampai jatuh ke luar tiang.
Senopati Kuti mengeluarkan suara kagum.
Mahapatih pun menduga bahwa yang dihadapi memang tidak sembarangan.
Setidaknya satu atau dua tingkat di atas rata-rata mereka.
“Masih ada yang ingin menjajal?”
Galih Kaliki menjadi terbakar.
“Bagaimana, Nyai? Apakah saya maju sekarang ini?”
Nyai Demang tersenyum.
“Dalam Kitab Jalan Budha milik bangsa Jepun, dibenarkan memotong pohon
untuk membuat sawah. Dibenarkan menebas yang atas untuk membuktikan siapa
yang unggul.
“Di negeri ini bisa kita pakai membuka sawah tanpa menebang pohon.”
“Nyai Demang, katakan, aku Kama Kangkam ingin mengetahui.”
“Kita bisa bertanding garingan, tanpa ada yang perlu terluka atau mati. Sawah
siapa yang subur bisa diketahui tanpa harus ada pohon yang rebah.”
“Pengetahuan Nyai mungkin disamai oleh yang luhur.
“Baik, baik. Baru saja Kalacakra dan Kalandara terdesak ayunan tongkat. Boleh
saya tahu apa nama jurus itu dan bagaimana mungkin bisa terjadi?”
Nyai Demang memandang ke arah langit.
“Kama Kangkam, kenapa kamu begitu suka berpura-pura?
“Bukankah itu yang dikenal sebagai pengerahan tenaga ilmu Tepukan Satu
Tangan yang ada dalam Kitab Penolak Bumi} Yang juga kamu kenali dengan baik?
“Intinya adalah laku, pengertian bahwa tepukan satu tangan menjadi lebih
nyaring dari dua tangan. Bagian itu ada dalam Kitab Penolak Bumi. Kidungan yang
menceritakan itu adalah:
Ke mana air mengalir
jawabnya: tepukan satu tangan
ke mana angin bertiup
jawabnya: tepukan satu tangan
kalau hujan dari tanah ke langit
tepukan satu tangan
kalau sirna, tepukan satu tangan
ke depan…
“Galih Kaliki tak memedulikan apakah serangan itu dari Kalacakra atau
Kalandara. Tak peduli ‘angin bertiup ke mana’, tak peduli ‘air mengalir ke mana’,
karena jawabannya sama. Juga lawan tak mengubah ‘hujan dari tanah ke langit’, atau
juga tak ada serangan.
“Kama Kangkam, dengan jitu kamu bisa membaca jurus itu dan segera menarik
dua muridmu.
“Bukankah sebenarnya kamu yang unggul?”
Kama Kangkam menggelengkan kepalanya.
“Kami yang mundur, berarti kami yang kalah.
“Yang menjadi pertanyaan, kenapa Nyai gunakan jurus itu?”
“Gerakan Kalacakra dan Kalandara mengingatkan saya akan jurus dalam
kidungan yang bernama Sigar Penjalin.
“Sigar Penjalin adalah letak tanah yang dikepung dua air, baik keduanya
mengalirkan air ataupun salah satu. Kelihatannya Kalandara dan Kalacakra
menyerang bergantian, akan tetapi sebenarnya berarti menyerang keduanya. Dalam
Kitab Penolak Bumi, jelas-jelas diberikan untuk tumbal itu, yaitu kekuatan diambil
dari bumi, hanya dengan tenaga satu. Maka saya meminta Kakang Galih membuat
gerakan dengan sebelah tangan. Dengan demikian satu tangan bisa menyedot tenaga
dari dalam bumi. Sebenarnya kalau Kakang Galih menggunakan pedang, hasilnya
akan lebih bagus lagi. Karena sifat yang lebih tepat adalah mempergunakan tenaga
atau benda yang sifatnya tajam.”
Wajah Kama Kangkam sebentar-sebentar berubah antara putih dan pucat.
“Ada benarnya yang Nyai katakan. Tapi kenapa kamu tak melihat jurus
Pedang Matahari Menutup Awan?”
“Saya tak berhak memberitahukan kepada para senopati yang lebih hebat
daripada saya.”
Dengan kata-kata itu sekaligus Nyai Demang menampar para senopati yang
ada.
Kama Kangkam berteriak dalam bahasanya, dan dengan cepat Kalacakra dan
Kalandara bergerak seperti tadi. Masing-masing bergulung dan berpindah tempat
dengan sangat cekatan.
Nyai Demang mendehem.
Galih Kaliki berdiri di tempat yang agak jauh.
“Kakang, mainkan Sekar Sinom. Gabungkan dengan pembukaan yang serba
menolak.”
Galih Kaliki bergerak lambat, tongkatnya tegak berdiri di tengah, sementara
kedua tangannya membentuk seperti daun, dan mengarah ke selatan.
Kalau tongkatnya kukuh, tangannya membara!
“Hebat,” puji Kama Kangkam. “Apakah itu yang dinamakan Sekar Sinom?”
“Itulah jurus ketiga dalam Kitab Penolak Bumi. Jurus-jurus yang ada
diciptakan sedemikian rupa untuk memerintahkan, untuk menolak serangan, dengan
kerelaan menjadi tumbal andai keliru.
“Kangkam, jurus Sekar Sinom adalah jurus yang seharusnya dimainkan dari
awal, yaitu jurus-jurus sebelumnya. Sehingga kalau langsung dimainkan agak
berkurang tenaganya.”
“Apa artinya Sekar Sinom?”
“Aha, hitung-hitung kamu belajar dariku.
“Semua nama jurus—atau lebih tepat kidungan—yang ada dalam Tumbal
Bantala Parwa, sebenarnya menggambarkan keadaan tanah. Tanah yang kita injak ini
mempunyai watak. Mempunyai tenaga, mempunyai perasaan memiliki kekuatan.
“Letak tanah yang berbeda memberikan kekuatan yang berbeda pula.
“Melihat jurus Pedang Matahari Menutup Awan, sebenarnya serangan dari
dua arah yang berbeda. Lawan akan dijepit di tengah. Serangan ini sangat
menguntungkan secara tak terduga, akan tetapi ada kekurangannya, yaitu bahwa
pekerjaan yang dilakukan tak bisa sempurna.
“Dalam kidungan mengenai tanah yang disebut Sekar Sinom adalah tanah di
mana ada mata air di sebelah selatan, tanah itu dikepung oleh kampung.”
“Kalau tanah dalam keadaan seperti itu, apa yang menjadi tumbal,
penangkalnya?”
“Tenaga pohon asam di tengah sebagai pusat, dan bentuk pohon delima di
sebelah selatan.”
“Selatan, kenapa selatan?”
Nyai Demang tertawa bergelak.
“Kangkam, orang sebodoh kamu bagaimana bisa mengangkat diri sebagai guru?
Apakah tidak malu?”
Laku Itu Menerima
KAMA KANGKAM menjublak.
Matanya terbuka, wajahnya kosong.
“Kakang, rupanya mereka datang untuk berguru padaku. Bukan untuk tanding
garingan. Percuma saja.
“Mari kita tinggalkan mereka.”
Galih Kaliki mendekati.
“Apa kata Nyai.”
“Mohon Nyai Demang jangan meninggalkan tempat ini.
“Aku memang belum pantas menjadi guru. Sudilah menerangkan sebelum aku
benar-benar menjadi penasaran.”
“Kangkam, kamu bisa memakai kekuatan pedangmu untuk menghancurkan,
tetapi kamu tak akan pernah mengerti apa yang disebut Jalan Budha.”
Kama Kangkam berlutut.
Kepalanya menyentuh tanah berulang-ulang.
“Mohon Nyai Demang memberi petunjuk.”
“Kami hanya mengajarkan kepada anak murid.”
Di luar dugaan, Kama Kangkam mengangguk lagi dalam-dalam. Diikuti oleh
Kalacakra dan Kalandara.
“Terimalah kami sebagai murid.”
Sungguh luar biasa.
Galih Kaliki pun tak menyangka.
“Jika Guru bisa menerangkan, saya akan mengabdi seumur hidup. Jika tak bisa,
hari ini saya akan membunuh Guru.”
Siapa pun yang mendengarkan ancaman Kama Kangkam menyadari bahwa
sikapnya bukan hanya main-main. Dan boleh dikatakan tak terlalu sulit bagi Kama
Kangkam untuk membunuh Nyai Demang. Karena jelas lebih unggul Kama Kangkam.
Kalaupun beberapa ilmu Kama Kangkam bisa dipecahkan dengan jitu oleh
Nyai Demang, itu hanya secara teori.
Karena di dalam praktek, tenaga dalam dan cara memainkan pedang panjang
ketiga Kama guru dan murid ini jauh lebih tinggi.
“Kalau kamu berharap aku bisa memberi jawaban, kamu keliru memberikan
pertanyaan.
“Di bagian depan ilmu Jalan Budha negeri Jepun sudah jelas, seperti di bagian
pembuka Kitab Penolak Bumi.
“Aku tak biasa menerangkan kenapa justru tenaga adalah di selatan. Yang bisa
kujawab, karena kidungan berbunyi seperti itu.”
Kama Kangkam meloncat berdiri.
Bersama dengan itu pedang panjangnya lolos dari sarungnya, menebas sekitar.
Empat tombak putus seketika waktu turun ke tanah.
Memegang pedang di depan wajahnya, Kama Kangkam siap menghancurkan
Nyai Demang.
Galih Kaliki berdiri di depan Nyai Demang.
“Temyata kamu wanita pendusta!”
Nyai Demang meminggirkan Galih Kaliki.
Walaupun berat hati, Galih Kaliki menyingkir.
“Aku bisa jadi pendusta. Siapa yang percaya? Aku bisa mengatakan Kitab
Penolak Bumi adalah pendusta. Siapa yang percaya?
“Selama kita masih curiga, selama itu pula tak ada jawaban yang terdengar.
Karena sewaktu curiga, telinga kita penuh isinya. Kita tak bisa mengisi cangkir yang
tengah penuh airnya.
“Kangkam, kalau aku berdusta, kenapa kamu ragu-ragu?”
“Katakan padaku, kenapa harus di selatan?”
“Karena itulah yang ditulis di kitab!
“Karena kita harus menerima. Itulah laku, itulah penerimaan, tanpa harus
mempergunakan akal, ilmu, dan perasaan. Inilah koan dalam Kitab Jalan Budha.
“Kenapa ketika Mahaguru ditanya, ia hanya menjawab dengan mengangkat
satu tangan? Kenapa tidak dua tangan? Kenapa tidak satu kaki atau dua kaki?
“Kenapa bunga teratai yang dipetik untuk memberi jawaban? Kenapa kita
menganggap itu sebagai jawaban?”
Mendadak suasana menjadi sangat sunyi.
“Kamu berharap aku bisa menerangkan ‘kenapa selatan’. Padahal apa bedanya
selatan atau utara, barat atau timur? Itu hanya mata angin, tapi itulah jawabannya.
Dengan tenaga kanan dan kiri akan terdengar lebih luwes. Akan tetapi nyatanya
ditulis selatan.
“Selama kamu tak bisa menerima selatan, selama itu kamu akan bertanya.
Selama itu pula…”
Nyai Demang terbatuk.
Kama guru menunduk.
Kedua muridnya menunggu. Tersipu.
Galih Kaliki menghela napas.
“Ada ratusan Jalan Budha yang setiap kalimatnya mengandung pengertian
’selatan’. Kamu lebih tahu dariku, Kangkam.”
“Ada 248 Jalan Budha.”
“Seratus atau 248, apa bedanya? Lain guru lain jalannya.
“Dua Belas Jurus Nujum Bintang juga disebut Dwi Dasa Nujum Kartika.
Padahal harusnya dua puluh. Barangkali saja sisanya yang delapan jurus itu yang
disebut Tumbal Bantala Parwa. Sehingga secara keseluruhannya menjadi Dua Puluh
Jurus Bumi.
“Itukah Kitab Bumi atau Bantala Parwa yang utuh?
“Itukah?
“Itu bukan tidak mungkin kesalahan berat.
“Pandangan yang sesat.
“Kenapa tidak bisa kita terima bahwa Dwi Dasa Nujum Kartika itu Dua Belas
Jurus Nujum Bintang sebagaimana adanya dalam kitab itu?
“Kangkam, kamu menjadi murid pun tak pantas.”
Nyai Demang segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Diiringi oleh Galih Kaliki.
Sepeninggal mereka berdua, Kama Kangkam masih menunduk. Baru kemudian
berdiri.
Mendadak meloncat ke angkasa, sambil mengeluarkan pedang panjang yang
disabetkan keras.
Pedang itu mengenai tiang di mana perisai Mpu Kuti tersimpan. Yang segera
terlontar ke luar. Kama Kangkam menyambar pedangnya yang panjang. Ketiga perisai
itu disabet dengan satu gerakan.
Ketiganya terbelah.
Persis di tengah!
Pameran kekuatan dan kegesitan yang luar biasa.
Tak pernah ada yang mampu menunjukkan kemampuan begitu luar biasa,
hanya dengan satu sabetan.
Bisa dibayangkan kalau disabetkan kepada manusia!
Semua senopati yang menyaksikan nggragap dan tergetar. Karena ternyata
tiang di sitinggil itu perlahan-lahan rontok. Batu bata dan olesan putih telur yang
dipakai merekatkan bersama madu seperti berubah menjadi bubur kering.
Dengan Kalacakra dan Kalandara berdiri di belakangnya, mereka bertiga
seakan siap untuk menaklukkan seluruh senopati Majapahit.
Ketika itulah Halayudha masuk ke tengah ruangan. Diiringi dua prajurit yang
membawa peti kayu.
“Kisanak ksatria dari Jepun, terimalah Kitab Bumi sebagai tanda persahabatan
Majapahit dan Keraton Matahari.”
Mpu Nambi, sebagai mahapatih, mendesis!
Kemurkaan sudah sampai di tenggorokan.
Dengan menyerahkan Kitab Bumi, berarti Keraton tunduk kepada Kama
Kangkam! Itu tak boleh terjadi. Ini soal kehormatan Keraton. Soal tanah air. Tak
boleh begitu saja menyerah.
Darah boleh membasah jadi sungai, nyawa boleh melayang, akan tetapi untuk
menyerah, itu soal lain!
Bagi para senopati, tindakan Halayudha seperti juga tanda takluk. Tanda
bertekuk lutut!
Mpu Sora merasa terbakar wajahnya.
Senopati Anabrang bahkan segera meninggalkan ruangan.
Halayudha seperti tak terpengaruh sama sekali.
“Kisanak, terimalah persembahan kami.”
Halayudha memberi isyarat kepada prajurit yang membawa peti untuk
menurunkan dan membukanya.
Kama Kangkam menengok ke dalam peti. Dua muridnya maju ke depan,
mengambil klika yang berisi Dwi Dasa Nujum Kartika serta Tumbal Bantala Parwa.
Membaca sekilas, lalu menyerahkan kepada Kama Kangkam. Kama Kangkam
meneliti, untuk memastikan kitab itu asli atau hanya salinan.
“Sebenarnya kitab ini tak ada artinya. Ada yang lebih berharga dari kitab ini,
yaitu Nyai Demang. Akan tetapi sebagai tanda pengakuan kalian, aku terima.”
Kama Kangkam mengembalikan kitab itu kepada muridnya yang segera memasukkan
ke dalam peti.
Halayudha tersenyum.
Dengan mengibaskan tangannya, dua prajurit bergerak cepat. Tali yang tadi
digunakan untuk mengangkut peti sekarang digunakan untuk mengikat Kama
Kangkam, Kalacakra, dan Kalandara sekaligus!
Mata Kama Kangkam mendelik.
“Ksatria Jepun, kamu kira kami menyerah begitu saja. Sekarang ini tangan
kalian akan lemas dan tak bisa digerakkan. Maka terserah Dewa Matahari, apakah ia
bermurah hati padamu atau tidak. Sebelum tenagamu pulih, kami akan mendengar
suara Dewa Matahari-mu. Apakah kamu dibiarkan terikat tali seumur hidup atau
dibuat cacat.”
Mahapatih tak menduga bahwa Halayudha berlaku curang!
Kitab Penolak Bumi telah ditaburi racun sebelumnya.
Bantala Rengka
TINDAKAN Halayudha mengejutkan.
“Ksatria Jepun, terimalah nasibmu. Begitulah kalau merasa paling sakti di atas
bumi. Pohon bisa dikalahkan tingginya, gunung bisa diatasi, bahkan langit. Akan
tetapi manusia tak bisa dihina.”
Dengan memberi isyarat kibasan tangan, ketiga Kama digotong ke luar
sitinggil dengan tubuh terikat tampar, atau tali yang tebalnya sebesar jari.
Suasana masih senyap.
Setelah prajurit yang membawa lenyap dari pandangan, Halayudha mendekat
ke arah Mahapatih. Bersila dan menghaturkan sembah.
Semua yang hadir bertanya-tanya dalam hati.
Apa sebenarnya maksud Halayudha?
Baru saja dengan cara yang licik menjebak ketiga Kama yang beringas. Kini
seakan seluruh kegagahannya lenyap menguap.
Dan menyembah kepada Mahapatih Nambi.
Yang disembah pun tak menduga bakal menerima penghormatan seperti ini.
Meskipun Nambi adalah Mahapatih yang diangkat secara resmi oleh Baginda
Raja, tetapi tak menyangka akan menerima penghormatan semacam ini. Di depan
begitu banyak senopati dan prajurit, Halayudha begitu merendahkan dirinya.
Sebagai pemegang jabatan mahapatih, Nambi ibarat kata raja yang
melaksanakan perintah harian. Memegang kemudi pemerintahan sehari-hari.
Sehingga senopati dan para empu seangkatannya tunduk dan melapor kepadanya
tanpa kecuali. Dan itu memang dilaksanakan. Akan tetapi, karena riyawat dan
perjalanannya hampir sama, boleh dikatakan sembah-menyembah tak terjadi.
Bahkan Mpu Sora pun tak perlu menyembah seperti yang dilakukan
Halayudha.
Dalam posisi ini, Halayudha tak berbeda dari para senopati yang lain.
Pangkat hala sejajar dengan patih, ataupun patih amancanegara yang dijabat
Adipati Lawe.
Halayudha sedikit lebih istimewa karena dialah patih yang sehari-hari
berhubungan langsung dengan Baginda. Bahkan Mahapatih pun tak sesering
Halayudha menghadap Baginda Raja.
“Berdirilah, Paman Halayudha.”
“Duh, Mahapatih,” kata Halayudha tanpa menggeser duduknya. “Saya telah
melakukan kehinaan yang melukai kehormatan semua jiwa agung. Seumpama bumi
saya adalah bumi yang terbelah. Sayalah bantala rengka. Seumpama telur dalam
eraman, sayalah telur yang busuk.
“Saya telah melakukan kehinaan yang paling memalukan. Tak sepantasnya
saya meracuni kitab pusaka, sehingga yang memegang akan kehilangan rasa dan
kekuatan pada tangan dan tubuhnya.
“Saya melakukan semata-mata demi kehormatan kita semua, agar tak diinjakinjak
ksatria berkucir dari Jepun.
“Akan tetapi apa pun alasan saya, sepenuhnya saya bersalah. Hukuman apa
pun, saya siap menerima untuk meringankan dosa yang tak terampuni ini.
“Mohon Mahapatih menyebutkan hukuman apa.”
Cara berbicara Halayudha menunjukkan penyesalan yang dalam, sekaligus
mengakui kekuasaan Mahapatih untuk menjatuhkan hukuman. Sebagai tangan kanan
Baginda, Mahapatih Nambi memang berhak menjatuhkan hukuman.
Memang dalam hal ini Keraton Majapahit mempunyai beberapa perkecualian.
Karena sejarah berdirinya dan diangkatnya para senopati juga berbeda. Yaitu melalui
peperangan bersenjata dalam mengusir lawan-lawannya. Baik Raja Muda
Jayakatwang ataupun pasukan dari Tartar.
Sehingga ada beberapa senopati yang juga mendapatkan sebutan dharmaputra,
putra yang berbakti atau berjasa. Dengan demikian selain jabatan serta pangkat
pangalasan wineh suka atau prajurit yang mendapat hak-hak istimewa. Senopati Kuti,
Sora, Semi, Tanca, Pangsa, Wedeng, dan Halayudha termasuk dalam sebutan
dharmaputra. Sehingga walaupun berhak, Mahapatih juga memandang kekuasaan
Baginda.
Tak nanti sembrono main menghukum saja.
Ini tak mengurangi arti bahwa Halayudha memang bersalah! Berbuat hina!
Akan tetapi pertimbangan lain adalah bahwa Halayudha berbuat sesuatu yang
licik untuk menyelamatkan Keraton. Hanya dengan cara meracuni secara diam-diam,
Halayudha bisa menjebak Kama guru dan dua muridnya. Rasanya kalau bertempur
biasa, belum tentu bisa memenangkan, tanpa banyak korban. Bahkan bisa-bisa jatuh
korban dan tetap kalah.
Dilihat dari sisi lain, Mahapatih jadi ragu.
Menghukum tidak sepenuhnya benar.
Memberi ampunan begitu saja, juga tak bisa dibenarkan.
Sebab yang terutama sekali, kalau cara-cara Halayudha dibenarkan, nilai-nilai
kejujuran, nilai-nilai jiwa ksatria yang luhur yang ingin ditegakkan menjadi mencong
adanya.
Mahapatih menyadari bahwa di antara para senopati sendiri terjadi semacam
kebimbangan dalam hal ini. Terutama karena sikap ini menyangkut sikap Baginda!
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:38 pm

Raja yang menjadi satu-satunya pusat kekuatan dan kekuasaan untuk dianut.
Para senopati ada yang tidak sepenuhnya setuju sewaktu Baginda masih
menjadi senopati dan menggempur pasukan Tartar. Cara-cara yang digunakan tidak
sepenuhnya menumbuhkan jiwa ksatria. Bagi Mpu Sora hal itu diperjelas lagi sewaktu
Baginda menitahkan Permaisuri Rajapatni ke Perguruan Awan.
Bahkan semua manusia mungkin sekali-dua melakukan kesalahan, hal itu
wajar dan bisa diterima.
Akan tetapi tidak berlaku untuk seorang raja!
Baginda Raja tak boleh kelihatan salah atau meragukan sifat ksatria! Akibatnya
bisa hancur-hancuran seluruh tatanan yang ingin ditegakkan.
Kekeliruan Baginda ibarat kata bisa meruntuhkan langit dan membuat bantala
rengka.
Keraguan Mahapatih membuat suasana lengang agak lama.
Halayudha menyembah lagi.
Lalu mendadak mencabut keris dari pinggangnya dan dengan gerakan kilat
ditusukkan ke lambungnya sendiri.
Mpu Renteng yang melihat kemungkinan ini, menjulurkan ujung kainnya.
Sementara Senopati Pangsa yang berbeda tak begitu jauh, menyambar pergelangan
tangan Halayudha.
Keris itu hanya menyerempet perut bagian luar.
Mahapatih menghela napas.
Pikirannya berjalan cepat. Tindakan Mpu Renteng dan Senopati Pangsa ini
sekaligus menunjukkan bahwa mereka berdua tidak menyetujui hukuman bunuh diri
yang dilakukan Halayudha.
“Sudahlah, Paman Halayudha.
“Baginda Raja yang berhak menentukan hukuman atau pujian. Masih ada
waktu untuk sowan, menghadap Baginda.”
Mahapatih segera meninggalkan tempat.
Kembali ke tempat istirahatnya dengan pikiran yang penuh. Santapan yang
disediakan tak disentuh, istri utama dan para selir tak berani mendekat kalau
Mahapatih seperti beradu alisnya.
Rasanya setiap hari beban sebagai mahapatih bertambah berat di pundaknya.
Mpu Nambi masih belum begitu percaya, ketika suatu saat Halayudha datang
kepadanya dan menceritakan bahwa Baginda sangat terkesan akan pengabdiannya.
Terkesan akan cara-cara memimpin prajurit telik sandi.
Secara tidak langsung, saat itu Halayudha membisikkan bahwa kemungkinan
Nambi diangkat mahapatih sangat besar. Hanya saja mungkin banyak yang iri.
“Tetapi Baginda percaya, Senopati Nambi akan bisa mengatasi. Kalau perlu
dengan segenap ilmu yang ada.”
Bahkan saat itu pun, Nambi masih menduga-duga Halayudha seperti
menyimpan dan juga menyebarkan benih-benih permusuhan. Membangkitkan
kecurigaan dan permusuhan.
Namun nyatanya benar!
Dalam pasewakan agung, Baginda Raja mengangkat sebagai mahapatih.
Mahapatih Nambi, tangan kanan Baginda Raja. Saat itu pun telah terlihat bibit
permusuhan. Adipati Lawe segera meninggalkan pasewakan agung!
Tindakan yang secara terang-terangan menantang Baginda!
Bagi Mahapatih, bantala rengka bukan berarti perbuatan yang licik saja. Katakata
itu juga bisa berarti bahwa kini tanah telah terbelah. Ada lubang menganga. Ada
keretakan besar!
Persatuan yang utuh saat-saat merebut Singasari tak ada lagi!
Sesuatu yang sangat disayangkan.
Saat itu, selesai pelantikan, Halayudha datang lagi kepadanya.
“Mahapatih Nambi, kenapa Mahapatih justru berwajah sedih?”
“Paman Halayudha, rasanya banyak dharmaputra yang lebih pantas.”
“Mahapatih, hal yang paling tercela dalam hidup ini, kalau saya boleh lancang,
adalah meragukan kehormatan yang diberikan oleh Baginda.”
“Adipati Lawe meninggalkan pertemuan.”
“Adipati Lawe adalah putra Aria Wiraraja yang perkasa dan dihormati.
Keponakan Senopati Sora yang perkasa. Akan tetapi Adipati Lawe tetap seorang
adipati. Dan adipati di bawah perintah mahapatih. Banyak adipati, akan tetapi hanya
ada satu mahapatih! Tak pernah ada dua mahapatih, tak pernah ada dua pimpinan.”
Windu Kuntara
KALAU sudah tenggelam dalam pikiran yang tak bisa segera diatasi, Mahapatih tak
bisa segera tidur, walaupun mata sudah berat. Tak ada nafsu makan, walaupun perut
sudah kosong. Bahkan untuk menenggak minuman pun tak ada niatan, walau
semuanya telah tersedia.
Sejak resmi diangkat sebagai mahapatih, merasakan banyak perbedaan.
Sahabat eratnya menjadi menjauh, baik karena perbedaan kekuasaan atau sebab lain.
Selama ini dirinya masih bisa berbicara dengan Mpu Sora, Mpu Renteng, dan yang
lainnya. Akan tetapi sejak diwisuda menjadi patih amangkubumi, segalanya berubah.
“Menurut perhitungan setiap delapan tahun, saat ini disebut Windu Kuntara,
Mahapatih,” kata Halayudha. “Sejauh yang saya tahu, perhitungan setiap saat bakal
berulang dalam jangka waktu delapan tahun atau sewindu. Satu windu berarti
delapan tahun.
“Dan setiap satu windu mempunyai arti sendiri-sendiri. Windu Adi
mempunyai sifat berlebih. Itu adalah saat-saat banyak bangunan baru. Sedangkan
Windu Kuntara mempunyai sifat serba baru, serba mengada, baik gerak-gerik,
maupun sikap yang lebih mendasar. Windu Sangara membawa sifat berlebihan segala
yang cair. Saat hujan lebat, saat banjir besar, dan saat munculnya kelompok-kelompok
baru. Windu berikutnya ialah Windu Sancaya yaitu saat tumbuhnya persahabatan,
memitran sejati. Yang tadinya lawan jadi kawan, yang tadinya kawan jadi saudara.
“Begitulah yang saya ketahui, Mahapatih.
“Ini menurut perhitungan zaman yang bisa meleset dan bisa diabaikan saja.
Hanya kalau kita melihat kenyataannya, saat ini banyak hal yang baru, yang aneh,
yang sebelumnya tak pernah diketahui.”
Selama ini Mahapatih selalu mencoba menahan diri.
Karena justru Mahapatih mulai memperkirakan, di mana sesungguhnya posisi
Halayudha.
Selama ini kelihatannya serba remang. Itulah keuntungan Halayudha
dibandingkan dengan dirinya. Sebagai mahapatih, sebagai pemimpin prajurit telik
sandi, dirinya ibarat kata berada di tempat yang terang. Segala tindak-tanduk dan
gerak-geriknya bisa dilihat.
Kekuatan dan kelemahannya bisa diukur.
Dalam tata pemerintahan dan intrik-intrik yang masih mengusik, posisi berada
“di tempat terang” lebih banyak merugikan.
Mahapatih Nambi mencoret nama Mpu Sora sebagai lawan yang harus
diperhitungkan. Sebelum ini memang terasa persaingan yang kuat antara dirinya dan
Mpu Sora.
Akan tetapi Mahapatih mendengar sendiri bahwa Mpu Sora lebih setuju tidak
dipilih karena merasa tak pantas. Mpu Sora justru mengucapkan rasa syukur ketika
tahu Mpu Nambi yang terpilih.
Sebagai sahabat lama yang mengenal sifat Mpu Sora, Mpu Nambi mengetahui
kejujuran jago tua dari tlatah Madura ini. Di depan Baginda Raja, ketika dimintai
pertimbangan secara perorangan, hal-hal yang diinginkan tak akan disembunyikan.
Mpu Sora bahkan menyebut-nyebut kegagalannya sebagai pengawal Permaisuri
Rajapatni sebagai salah satu sebab ia merasa tak pantas.
Padahal jelas Mpu Sora akan mendapat dukungan lebih banyak dari kalangan
senopati. Mpu Renteng jelas. Adipati Lawe malah secara terang-terangan mengatakan
bahwa tak ada calon lain selain Mpu Sora.
Mpu Sora atau tak usah ada!
Cara berbicara dan sikap lugas Adipati Lawe membuat ia meninggalkan
pertemuan tanpa pamit.
Bagi Mahapatih sikap Adipati Lawe jelas.
Justru sikap yang tersamar seperti Halayudha ini yang membuatnya berpikir
beberapa kali. Jauh sebelum pengangkatan dirinya, Halayudha sudah mengetahui.
Berarti sudah diajak bicara secara pribadi oleh Baginda Raja. Berarti hubungannya
sangat dekat dengan Baginda, dan kata-katanya didengar.
Sewaktu badai mengancam dengan munculnya ketiga Kama dari Jepun,
ternyata Halayudha yang bisa menyelesaikan. Dengan caranya sendiri!
Lepas dari caranya yang licik, Halayudha bisa melepaskan diri dari ancaman
lawan secara licin.
Bahwa ia bisa membawa keluar Kitab Bumi secara lengkap yang disimpan
dalam kamar Baginda, membuktikan keleluasaan bergeraknya.
Ini bisa menjadi bahaya, karena kalau dilihat caranya, Halayudha tega untuk
melakukan apa saja.
Hanya saja Mahapatih tak melihat adanya bukti-bukti kuat untuk mencurigai
Halayudha.
Sebaliknya Halayudha justru memberi banyak keterangan yang terbukti
kebenarannya.
Jauh sebelumnya, Halayudha sudah memberi kisikan bahwa Mpu Sora akan
diangkat sebagai rakian patih di Daha. Sebagai penguasa di Dahanapura, yang secara
tata pemerintahan bertanggung jawab atas wilayah itu, akan tetapi tetap di bawah
Mahapatih.
Pengangkatan ini ternyata terbukti kemudian.
Dan karena Mpu Renteng masih tetap bertugas di Keraton, persekutuan
keduanya boleh dikatakan terpisahkan.
Satu demi satu para dharmaputra yang mendapat hak-hak istimewa akan
diberi wilayah yang dikuasai Keraton. Ini juga berarti bahwa mereka akan berada di
tempat yang jauh dari pusat kekuasaan.
Berarti juga, penguasaan atas Keraton lebih terpusat di tangannya.
“Kapan Senopati Sora diberangkatkan ke Daha, Mahapatih bisa menentukan
tanggalnya. Siang atau sore.”
Sesuatu yang luar biasa, karena kemudian apa yang disarankan Mahapatih
disampaikan ke Baginda Raja. Dan Baginda sendiri yang menentukan saat
keberangkatan.
Yang menyiksa Mahapatih ialah ia merasa curiga akan kehadiran dan posisi
Halayudha, namun setiap waktu justru Halayudha membantunya.
Seperti serbuan ketiga Kama!
Di depannya, Halayudha bahkan siap melakukan bunuh diri!
Prajurit telik sandi yang ditempatkan di kalahan, atau tempat tinggal
Halayudha, tak pernah menemukan bukti-bukti yang mencurigakan. Bahkan
sebaliknya, selalu memberi laporan yang baik. Bahwa Halayudha, di mana pun
berada, selalu mengatakan tugas utamanya adalah mengabdi. Mengabdi adalah
melayani secara total kepada yang berkuasa. Dalam hal ini Baginda dan Mahapatih.
Kalaupun saat ini diminta nyawanya, ia akan memberikan tanpa bertanya.
Yang lebih membuat Mahapatih merasa tersisih dan rumit adalah kenyataan
bahwa ia tak bisa membagi perasaan hatinya dengan para senopati yang lain. Bahkan
dengan Senopati Anabrang yang agaknya tak terlalu gembira dengan pengangkatan
Nambi sebagai mahapatih pun juga tak bisa. Akan tetapi Senopati Anabrang juga
kelihatan kesal.
Mahapatih berusaha menemui Mpu Sora sebelum berangkat ke Daha. Akan
tetapi pertemuan itu menjadi sangat kaku dan tak banyak pembicaraan yang berarti.
“Saya meminta maaf atas kelancangan keponakan saya, Mahapatih.”
“Kakang, jangan terlalu dipikirkan hal itu.”
“Kelancangan tetap kelancangan. Apalagi sebagai prajurit, tindakan Keponakan
Lawe tak bisa dibenarkan. Kalau Mahapatih menghendaki, saya bisa memberi
pelajaran.”
“Kakang Sora, saya kira saya mengerti perasaan Lawe. Sejauh ini tak menjadi
gangguan bagi saya. Selama ia menjalankan tugas Keraton dengan baik, selama itu
pula semua berjalan sebagaimana biasanya. Gaya masing-masing orang berbeda,
Kakang. Dan rasanya kita telah saling mengenal pada masa-masa dahulu.”
“Pandangan Mahapatih sungguh luas.”
Ucapan-ucapan tulus semacam itulah yang membuat Mahapatih justru
merasakan ada jarak.
Pada saat-saat seperti itu, Mahapatih lebih banyak mendengar dan Halayudha.
Yang meskipun sambil lalu, memberi kabar yang lebih menentukan.
“Baginda mengangkat Permaisuri Indreswari sebagai permaisuri utama,
Mahapatih.”
“Ya, aku mendengarnya, Paman.”
“Berarti putranya kelak yang akan mewarisi takhta.”
“Sudah dengan sendirinya.”
“Maaf, Mahapatih.
“Ini juga berarti keturunan langsung Baginda Raja Sri Kertanegara tidak
menitis ke putra mahkota.”
“Ya, padahal selama ini masih banyak sekali pendukung Baginda Raja Sri
Kertanegara. Terutama dari kalangan para ksatria yang malang melintang di
persilatan.”
“Begitulah, Mahapatih.
“Bahkan sebagian terbesar merasakan penghormatan yang tulus kepada
Baginda Raja, karena Baginda Raja mempermaisurikan keempat putri Singasari
terakhir.”
Dengan nada merendah, Halayudha melanjutkan,
“Sudah barang tentu Mahapatih telah melihat kemungkinan-kemungkinan
yang muncul dari kekecewaan yang bisa mencari tempat penyaluran.”
“Adakah kamu melihat jalan keluarnya, Paman?”
“Saya tak cukup mengetahui situasi sebenarnya, Mahapatih.
“Akan tetapi kalau Mahapatih bisa matur Baginda, mungkin akan lebih baik
jika putra Permaisuri Indreswari kelak langsung diangkat anak oleh Permaisuri
Tribhuana. Sehingga lebih aman.”
Hanya Halayudha yang bisa bersiasat begitu cemerlang!
Sora, Mahapatih Masa Datang
APA yang dirasakan Mahapatih Nambi, juga dirasakan oleh Mpu Sora!
Kebimbangan Mpu Sora mengenai kedudukan Halayudha yang sesungguhnya,
juga memberati pikiran. Ada kecurigaan yang muncul ke permukaan, akan tetapi
rasanya tak ada bukti nyata bahwa Halayudha sengaja berbuat jahat kepadanya.
Justru sebaliknya.
Secara hati-hati sekali Halayudha mengemukakan pendapatnya. Seperti ketika
Mpu Nambi akan diangkat sebagai mahapatih.
“Iya, yang saya dengar dari bisikan Baginda, Senopati Agung Sora yang
bijaksana. Pertimbangan Baginda semata-mata karena Senopati Agung Sora tidak
bersedia menjabat.”
“Saya tidak pernah bermimpi mendapat anugerah pangkat setinggi itu.”
“Maaf kalau saya boleh mengatakan bahwa kepala dan mata orang lain yang
bisa melihat diri kita lebih atau kurang. Kita sendiri hanya bisa melihat sebagian kala
berkaca. Tapi tetap tak bisa melihat punggung sendiri.
“Maafkan saya, Senopati Agung.”
“Pendapat Senopati ada benarnya.”
“Hanya kebetulan saja.
“Akan tetapi pasti bukan secara kebetulan kalau Senopati Agung, yang adalah
salah satu dari tujuh dharmaputra, sekarang ditunjuk menjadi patih di Daha.”
“Di mana pun saya ditempatkan, itulah bumi Majapahit.”
“Saya percaya sepenuhnya.
“Akan tetapi rasa-rasanya Baginda Raja mempunyai alasan tertentu, kenapa
Senopati Agung Sora yang ditempatkan di Daha. Dan bukan senopati atau patih yang
lain. Dan atau bukan di tempat yang lain. Begitu banyak tempat yang lain, begitu
banyak senopati yang ada, akan tetapi hanya Senopati Agung Sora yang dipilihkan
tempat di Daha!”
Mpu Sora menunduk.
“Saya tak mengerti maksud Senopati.”
Ganti Halayudha menunduk.
“Saya tidak berhak bicara lancang.”
“Katakan saja, jangan sungkan-sungkan.” Halayudha tetap menunduk.
Suaranya tetap merendah.
“Saya ini kadang merasa besar kepala. Hanya karena selalu berada di dekat
Baginda. Padahal saya ini tak lebih dari keset, alas kaki untuk membersihkan kotoran
di telapak Baginda.
“Maafkan saya, Senopati Agung Sora.
“Sesungguhnya ini kelancangan saya yang menduga bahwa Baginda
mempersiapkan jabatan yang sesungguhnya kepada Senopati Agung. Baginda tidak
ingin melepaskan pilihannya untuk kedua kalinya.”
“Alasannya?”
“Di Dahanapura sekarang ini berdiam Tarunaraja, raja muda dan juga putra
mahkota, Gusti Kala Gemet. Putra Permaisuri Indreswari dipondokkan di
Dahanapura. Sejak lahir ke bumi, sudah ditunjuk Baginda Raja sebagai putra mahkota.
“Sekarang ini, Senopati Agung diminta Baginda Raja mendampingi, mendidik,
melatih. Sejak masih bayi. Jauh sebelum bisa tengkurap, Senopati Agung telah
mendampingi.
“Apa lagi kalau bukan persiapan takhta yang akan datang dengan
mahapatihnya?
“Maafkan, ini perkiraan saya yang picik. Akan tetapi sesungguhnya, bukan
hanya saya yang bersyukur jika kenyataannya begitu.”
Mpu Sora menahan napas.
Dadanya membusung, tapi tetap menunduk.
“Saya sadari perkiraan Senopati Halayudha terlalu berlebihan.” .
“Saya sadari kepicikan saya. Akan tetapi, seperti saya haturkan, bukan hanya
saya yang akan merasa bahagia jika kehendak Baginda Raja seperti ini.
“Maaf, pastilah Baginda tidak sembarangan menunjuk pendamping Putra
Mahkota.
“Karena kalau berkenan, Baginda bisa menempatkan Putra Mahkota tetap
berada di Keraton dan langsung diasuh oleh Mahapatih Nambi.”
Mpu Sora tergetar dadanya.
Bisa saja Halayudha sengaja mengatakan hal itu sekadar untuk menyenangkan
hati yang mendengarkan.
Akan tetapi Mpu Sora juga mengakui, bahwa yang dikatakan Halayudha
mengandung kebenaran!
“Mudah-mudahan bukan itu yang direncanakan Baginda.”
“Waktu yang akan menentukan dan membuktikan kehendak Baginda yang tak
mungkin diutarakan terbuka. Baginda sangat tidak menginginkan kemungkinan
perpecahan. Saya percaya hati suci dan luhur Senopati Agung. Akan tetapi saya juga
sadar bahwa semua orang tidak mempunyai hati yang sama.”
“Ah, lupakan semua itu, Senopati.”
“Saya berusaha melupakan, akan tetapi dalam tidur mengiang di telinga.”
“Tutuplah lubang telinga.”
“Akan saya usahakan, Senopati Agung.
“Namun kalau saya boleh mengutarakan sesuatu—saya ini sudah telanjur
banyak omong—sesungguhnyalah apa yang diutarakan Adipati Lawe tepat sekali.”
“Ah!”
“Maaf.”
“Lawe keliru. Sangat keliru.”
“Saya sependapat.
“Saya kira semua sependapat bahwa Adipati Lawe keliru. Akan tetapi
barangkali alasan yang dikemukakan berbeda-beda.”
“Bagaimana pandangan Senopati Halayudha?”
“Saya menganggap keliru tindakan Adipati Lawe bukan sewaktu meninggalkan
pasewakan agung. Saya bisa menyadari darah panas dan sikap Adipati Lawe yang
berterus terang.
“Saya menganggap keliru karena sebenarnya Adipati Lawe tak perlu
mengutarakan hal itu!”
Mpu Sora menelan ludahnya.
Seakan menyangkut di tenggorokan.
“Tanpa diutarakan, semua senopati lain sudah merasa bahwa Senopati Agung
Sora-lah yang berhak menyandang pangkat agung itu.”
“Saya tidak percaya.”
“Maafkan sekali lagi, Senopati Agung.
“Saya mendampingi Baginda selama masa pemilihan. Satu per satu para
senopati dharmaputra dipanggil menghadap dan ditanyai pendapatnya.
“Jawaban yang saya dengar selama ini, memang Senopati Agung yang berhak.”
Mpu Sora menggeleng.
Gerahamnya menggertak.
Tangannya mengepal.
Dalam berbagai situasi Mpu Sora selalu bisa menguasai perasaan hatinya.
Namun sekali ini perasaannya bisa terlihat.
Mpu Sora menjilat bibirnya yang terasa kering.
“Saya berjanji tidak akan mengutarakan ini. Tetapi saya tak bisa menahan diri.
Saya sadar bahwa ini akan membuat Senopati Agung bersedih.”
Tangan Mpu Sora terkepal makin kencang.
Dadanya terguncang.
“Senopati Agung bukan sedih karena menolak penunjukan Baginda. Bukan
sedih karena kepercayaan yang diberikan para senopati yang lain.
“Melainkan karena secara tidak langsung menyadari bahwa bumi rengka ada
di Keraton. Bahwa sesungguhnya garis pemisah itu ada dengan diangkatnya Senopati
Nambi sebagai mahapatih.
“Bahwa selama ini bumi yang terbelah itu belum kelihatan benar, karena
kesetiaan dan pengabdian kepada Baginda Raja. Akan tetapi bisa berubah banyak di
waktu mendatang.
“Kalau Mahapatih Nambi tidak bisa menjalankan kewajibannya dengan adil
dan menyelesaikan perkara-perkara yang timbul, tanah yang terbelah itu akan
muncul.
“Bukankah ini yang menyebabkan Senopati Agung bersedih?”
Mpu Sora mengakui bahwa Halayudha bisa menebak jalan pikirannya!
Jauh-jauh dalam batinnya tak ada keinginan untuk mengiri kepada jabatan
yang begitu terhormat. Baginya mengalir darah seorang prajurit yang berdasarkan
pengabdian tunggal. Baginya mengalir darah ksatria yang bersikap jujur secara tulus.
Untuk dua hal ini Mpu Sora tak pernah bimbang serambut pun!
Itulah sebabnya Mpu Sora sama sekali tidak bisa membenarkan tindakan
Adipati Lawe yang meninggalkan pertemuan! Ini tindakan sangat tercela sebagai
seorang prajurit sejati!
“Saya mohon beribu maaf kalau kata-kata saya yang lancang ini menambah
beban pikiran Senopati Agung.”
Mpu Sora menggeleng lembut.
“Tidak, sama sekali tidak, Senopati Halayudha. Saya berterima kasih atas
pandangan yang dikemukakan secara terbuka. Saya tak akan pernah melupakan.”
“Ucapan saya tak ada artinya.
“Kalau ada, pasti Mahapatih tidak menunda-nunda keberangkatan Senopati
Agung ke Daha. Akan tetapi nyatanya sampai hari ini Mahapatih seperti sengaja
menahan agar Senopati Agung tidak segera mendampingi sang Putra Mahkota.
“Biarlah lidah saya kaku, kalau saya tidak mengatakan apa yang tidak berada
dalam hati saya yang paling dalam.”
Dwidasa di Samudra
HALAYUDHA juga mendatangi Senopati Anabrang.
Begitu datang langsung berlutut di depan Senopati Anabrang.
“Saya tak pantas bahkan untuk mencium kaki Senopati yang selama dwidasa
warsa menguasai samudra. Dua puluh tahun menguasai lautan, sungguh tak
terbandingkan dengan seorang yang hina seperti saya.
“Kedatangan saya yang pertama-tama untuk meminta hukuman karena telah
membuat malu seluruh senopati. Terutama telah melukai Senopati Mahisa Anabrang
yang kondang keperwiraannya.”
Senopati Anabrang tersentak.
Ia tak menyangka bahwa akhirnya Senopati Halayudha yang begitu dekat
dengan Baginda Raja datang kepadanya, mengakui kesalahannya.
Kekukuhan hatinya keras bagai baja. Akan tetapi seperti juga baja, justru
mudah patah.
Agaknya ini yang menjadi perhitungan Halayudha!
Dengan mendatangi, merendahkan diri, justru Halayudha bisa menempatkan
diri pada tempat yang tinggi, yaitu kemenangan. Tak ubahnya ketika menyikat ketiga
Kama!
Apalagi Halayudha sengaja membangkitkan kemenangan Senopati Anabrang.
Kemenangan sebagai senopati yang selama dua puluh tahun— meskipun kurang dua
tahun—mengarungi samudra luas. Menjalankan tugas dengan gemilang di tlatah
Melayu.
Halayudha bukan sekadar mengingatkan kebesaran itu, akan tetapi juga
menggunakan sebutan Senopati Mahisa Anabrang!
Ada kata Mahisa yang diucapkan secara mendasar. Diberi tekanan lebih dalam
ketika mengutarakan.
Cara yang sangat jitu!
Halayudha mengetahui dengan persis, bahwa pada kelompok tertentu masih
terbayangi kekuasaan besar Keraton Singasari. Hak yang tak akan bisa terhapus begitu
saja. Keraton Singasari memang pantas dibanggakan karena kebesaran Baginda Raja
Sri Kertanegara dalam memperluas cakrawala jagat raya. Di tangan kekuasaan Sri
Kertanegara-lah lautan mulai dikuasai, sampai ke negeri seberang. Dengan kata-kata
yang membakar semangat: “Di mana ada gunung berdiri, di mana ada sungai
mengalir, di situlah panji-panji Singasari akan berkibar.”
Semangat dan jiwa besar itu masih hidup dalam darah dan mimpi semua
senopati yang pernah mengenal atau mendengar kisah-kisah Baginda Raja Sri
Kertanegara.
Dengan menyebutkan nama Mahisa, Halayudha mengembalikan semua
gagasan Senopati Anabrang kepada masa Keraton Singasari. Di mana nama-nama
Mahisa masih banyak dipergunakan.
Sebagai senopati yang berpandangan luas, Senopati Anabrang tidak gampang
termakan pujian. Walaupun kata-kata Halayudha bisa masuk dan meresap.
Pertimbangan utama Senopati Anabrang adalah bahwa sifat licik Halayudha
pada akhirnya tertuju pada penyelamatan Keraton. Berarti suatu bentuk pengabdian.
Berbeda dari para senopati yang lain, Senopati Anabrang boleh dikatakan
hidupnya murni dihabiskan sebagai prajurit. Didikan sifat-sifat keprajuritan dihirup
bersama tarikan napas yang pertama. Dan dalam perjalanan hidupnya, Senopati
Anabrang hanya mengenal satu kata: pengabdian total kepada Keraton.
Senopati Anabrang tak begitu banyak bergerak dalam kehidupan para ksatria
atau para pendekar silat. Dunia persilatan cukup diketahui, akan tetapi tak digeluti
seperti senopati lain. Di saat dirinya tumbuh sebagai prajurit yang dipercaya menjadi
senopati, sudah langsung dikirim ke negeri seberang.
Praktis agak buta mengenai situasi dunia persilatan.
Karena ketika ia kembali lagi, pertarungan para ksatria sudah selesai. Bahkan
pasukan Tartar sudah berhasil diusir ke tengah laut.
Dan kemudian ia sendiri lebih banyak berdiam di sekitar Keraton. Hanya
muncul sebentar ke Perguruan Awan.
Perbedaan latar belakang inilah yang membuat Senopati Anabrang sedikit
canggung bergaul dalam dunia para ksatria. Baginya ada satu tugas yang terus dijalani:
mengabdi sepenuhnya kepada Keraton. Tanpa dibebani intrik-intrik, atau keinginan
menjajal ilmu silatnya.
Itu pula yang menyebabkan begitu kembali, Senopati Anabrang
mempersembahkan kepada Baginda Raja dua putri yang dibawanya sebagai tanda
pengakuan kekuasaan Keraton.
Baginya tak menjadi masalah kalau dulunya masih Singasari dan sekarang
Majapahit.
Toh ini sama artinya: Keraton!
Maka hati Senopati Anabrang menjadi berang dan terbakar kalau mendengar
sindiran bahwa dirinya hanyalah prajurit yang membawa pulang perempuan! Seperti
yang diteriakkan Adipati Lawe.
Sungguh tak masuk akal, telinganya mendengar cacian yang mungkin agak
terbiasa di kalangan persilatan.
Bagi Senopati Anabrang, hal itu diterima dengan perasaan terluka yang dalam.
Tak bakal dilupakan seumur hidup.
“Maafkan tindakan saya yang lebih rendah daripada anjing tanah busuk,
Senopati Mahisa Anabrang.”
Senopati Anabrang menunduk, mengangkat Halayudha.
“Kita masing-masing mempunyai cara untuk mengabdi kepada Keraton, jangan
terlalu dipikirkan hal itu.”
“Terima kasih atas penjelasan Senopati Mahisa Anabrang. Namun rasanya
berat bagi saya menghadapi Senopati. Setiap kali saya teringat kembali, saya merasa
bersalah dan sangat hina.
“Duh, Senopati, rasanya kalau saya mendapat hukuman dari Senopati, hati saya
akan terasa lebih ringan. Walaupun hukuman itu berupa kematian atau cacat anggota
badan.”
“Kita masing-masing bisa berbuat salah.
“Kalau kita menyadari kesalahan itu dan tak akan mengulang lagi, rasa tobat
itu lebih bermakna dari sekadar hukuman.”
Halayudha menunduk.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:39 pm

“Saya sadar bahwa saya sama hinanya dengan Adipati Lawe, akan tetapi
sungguh berat beban yang saya tanggung.”
Senopati Anabrang termakan kalimat yang menyebut-nyebut Adipati Lawe!
Darah samudra yang mengalir dalam dirinya adalah darah panas yang tak bisa
bersandiwara.
“Senopati Halayudha keliru kalau mempersamakan diri dengan Lawe!
“Lawe terlalu kurang ajar. Itu yang bisa dikatakan: perbuatan terkutuk dan
hina! Bukan yang Senopati lakukan.”
“Bukankah jatuhnya sama saja? Membuat malu semua Senopati?
“Duh, Senopati Mahisa Anabrang yang telah menaklukkan samudra, janganlah
hati saya diperingan oleh hiburan kosong.”
“Tidak,” Senopati Anabrang menggertak. “Tetap ada bedanya. Apa yang
dilakukan Lawe bisa merusak pengabdian murni kepada Keraton. Lawe bisa dikatakan
mbalela, membangkang perintah Raja. Itu sama saja dengan pembangkangan atau
pemberontakan!”
Halayudha membelalak.
Sama sekali tak menduga bahwa Senopati Anabrang menjadi galak.
Beringas pandangannya. Buas wajahnya.
“Seorang prajurit sejati adalah pengabdi tanpa ragu.
“Makin jauh saya mengembara, makin yakin akan bukti-bukti besar itu. Tak
ada keraton yang mencapai kebesaran tanpa pengabdian.
“Apa yang dilakukan Lawe bisa merontokkan citra prajurit sejati jika
dibiarkan.
“Baginda harus tegas.
Kalau tidak, saya sendiri yang akan bertindak.”
Halayudha terperangah.
Tubuhnya gemetar.
“Untuk pertama kalinya saya masih diberi anugerah Dewa yang Maha bijak
untuk mendengarkan suara lelaki sejati.
“Selama ini saya hanya mendengarkan tenggang rasa, timbang rasa untuk tidak
melukai hati yang lain.”
Senopati Anabrang tidak sadar bahwa ia masuk perangkap.
Perangkap gelap yang menyeret kemarahannya.
“Saya tidak dibesarkan dalam tradisi tenggang rasa yang akan meruntuhkan
ketegaran batin kita. Saya dibesarkan dalam tradisi kehidupan laut yang mengatakan
apa adanya.
“Saya tidak buta, bahwa Lawe adalah putra kandung Senopati Agung Aria
Wiraraja yang banyak jasanya dan besar wibawanya. Saya tidak buta, bahwa Lawe
adalah keponakan Senopati Sora yang perkasa dan bijaksana.
“Saya tahu itu.
“Tapi saya juga tahu, bahwa kewajiban prajurit sejati adalah mengatakan yang
benar dan berani pula mengatakan yang salah.
“Hanya Baginda Raja yang bebas dari penilaian. Tetapi, bahkan Mahapatih pun
harus diberitahu secara terus terang apabila keliru. Inilah jalan samudra! Inilah
hukum lautan yang perkasa, yang ksatria!”
Halayudha merunduk dalam.
“Perasaan semacam ini tentulah dirasakan senopati-senopati yang lain. Hanya
Senopati Mahisa yang berani mengemukakan secara terbuka. Sungguh luar biasa
tradisi Keraton Singasari.
“Sayang saya tak mengalami secara langsung.
“Ah, kalaupun saya mengalami, apakah saya yang pada dasarnya telah hina
bisa lebih baik?
“Maafkan saya.
“Beribu maaf saya minta dari Senopati Mahisa.
“Saya tahu di mana Lawe berada, akan tetapi satu kata pun saya tak berani
menghaturkan kepada Baginda. Duh, betapa nista.”
Pedang Panjang bagi Mahisa Taruna
HALAYUDHA tak menduga bahwa tangisnya, kekecutan wajahnya, bisa membuat
Senopati Anabrang meluap.
Dan kalap.
“Sejahat-jahatnya Senopati Halayudha, masih bisa meminta maaf. Akan tetapi
perbuatan Lawe sudah sangat keterlaluan. Hal ini tak bisa dibiarkan.”
“Duh, Senopati Anabrang, janganlah berbuat sembrono.
“Maksud baik belum tentu mendatangkan angin segar.”
“Saya tak peduli.”
“Akan lebih baik jika maksud Senopati Mahisa direstui Baginda Raja. Sehingga
kalau ada suara-suara sumbang, akan terbungkam karenanya.”
“Itu lebih baik.”
“Kalau Senopati Mahisa berkenan, saya akan sowan kepada Baginda dan
mengutarakan bahwa Senopati Anabrang ingin menghadap.”
Senopati Anabrang ragu.
Apakah orang laut seperti dirinya pantas meminta waktu khusus kepada Raja?
Halayudha bisa menebak jalan pikiran Senopati Anabrang.
“Saya hanya sekadar menghaturkan. Kalau Baginda menerima, itu bukan
karena saya. Karena Baginda melihat jasa besar Senopati Mahisa yang perkasa.”
“Jasa?
“Apa yang bisa dikatakan jasa? Semua prajurit mengabdi. Bukan
memperhitungkan jasa!”
“Saya tahu jiwa luhur Senopati Anabrang.
“Akan tetapi sesungguhnya jasa terbesar dari semua senopati yang mengabdi
diri, Senopati Anabrang-lah yang paling terpandang.
“Maaf ini bukan pendapat saya yang picik.
“Inilah yang hamba dengar dari para senopati lainnya. Inilah yang hamba
dengar dari Baginda.”
“Saya tak merasa melakukan jasa yang istimewa.”
“Inilah tanda jiwa besar.
“Tangan kanan berjasa, tangan kiri tak diberitahu. Bahkan kalau tangan kiri
bertanya, tangan kanan tetap tak menjawab.
“Tapi semua mencatat bahwa Senopati Mahisa-lah yang menjadi penerus
Keraton. Wibawa dan kebesaran Keraton akan berlanjut atas jasa besar Senopati
Mahisa.”
“Itu berlebihan.”
“Senopati Mahisa-lah yang membawa Permaisuri Indreswari. Dan Permaisuri
Indreswari-lah yang dipilih Baginda menjadi permaisuri utama, sehingga putranya
sekarang menjadi putra mahkota.”
Senopati Anabrang terbatuk.
Ia tidak biasa dengan pujian seperti ini.
“Saya hanya mengatakan apa adanya.
“Sehingga kalaupun Baginda berkenan, itu karena pribadi Senopati Mahisa.”
Senopati Anabrang tak menduga bahwa Baginda, melalui Halayudha, akhirnya
betul-betul memanggilnya.
Saat menyampaikan panggilan dari Baginda, Halayudha menyerahkan tiga
pedang panjang kepada Mahisa Taruna, putra Mahisa Anabrang.
“Saya tidak pantas menyerahkan ini pada Anakmas Taruna. Sebab pedang
panjang ini bukan milik saya. Akan tetapi karena saya melihat Anakmas Taruna
sangat giat berlatih, barangkali pedang dari Jepun ini bisa dipakai untuk latihan.”
Mahisa Taruna menyembah sebagai tanda hormat dan terima kasih.
Siapa yang tidak berharap mendapat pedang panjang pusaka Kama Kangkam,
Kama Kalacakra, dan Kama Kalandara?
Pemberian Halayudha juga sangat tepat. Karena Mahisa Taruna memang
berlatih mempergunakan pedang, seperti juga ayahnya.
“Terima kasih, Paman Halayudha.”
“Anggap ini hadiah Senopati Mahisa Anabrang dari tanah seberang, yang tak
sempat memikirkan untuk kepentingan sendiri.”
Setiap kata-kata Halayudha mengandung sayap-sayap pengertian yang menyeret ke
arah pemikiran tertentu.
Dengan mengucapkan itu, seakan Halayudha ingin menekankan bahwa selama
ini Senopati Anabrang memang tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Bahkan juga
kepentingan putranya. Dan Halayudha bisa menggantikan peranan itu.
Memang bagi Senopati Anabrang pengabdian sebagai prajurit sejati tanpa cacat
sedikit pun. Bahkan sedemikian banyak waktu dicurahkan untuk mengabdi,
pengawasan kepada putranya sendiri terlewatkan. Dibandingkan dengan dirinya,
Mahisa Taruna masih terlalu rendah ilmu silatnya.
Ini semua hanya karena ia menelantarkan.
Senopati Anabrang merasa bersalah. Maka dalam hati sangat berterima kasih
kepada Halayudha yang membesarkan hati putranya. Yang dengan tekun dan sabar
melatih Mahisa Taruna.
Kalau tidak mendampingi Baginda, Halayudha menyempatkan diri untuk
melatih Mahisa Taruna yang menjadi sangat giat. Belum pernah selama ini ada guru
yang secara khusus menangani.
“Saya tidak menganggap diri lebih pintar, Putra Senopati yang gagah. Akan
tetapi sedikit-banyak saya mendengar tentang kitab yang banyak diperebutkan.
“Mungkin kita akan berlatih bersama.”
“Sungguh, budi baik Paman tak akan saya lupakan.”
“Tak ada utang budi di sini.
“Kalau ayahmu begitu sibuk mengabdi, sudah semestinya saya menggantikan.
Meskipun saya tak bisa dibandingkan dengan kehebatan Senopati Mahisa Anabrang
yang perkasa.”
Mahisa Taruna terlalu polos menduga maksud-maksud Halayudha.
Jangan kata ia yang masih hijau, Senopati Anabrang pun termakan oleh
Halayudha.
Sehingga di depan Baginda, Senopati Anabrang mengatakan bahwa apakah
Baginda tidak perlu menegakkan tata tertib para prajurit yang terang-terangan
membangkang.
Dan Senopati Anabrang tidak mengetahui, bahwa sebelum ia dipanggil
menghadap, Halayudha telah menyampaikan hal ini kepada Baginda Raja.
“Begitu berani Anabrang meminta menghadapku?”
“Beribu maaf hamba meminta ke Baginda.
“Biar bagaimanapun, Anabrang dibesarkan di atas gelombang samudra,
sehingga adatnya berbeda dari yang mengenal kehalusan budi Keraton.
“Bisa dimengerti kalau Anabrang berani mengajukan diri menghadap
Baginda.”
“Apa maksudnya mengetengahkan soal Lawe?”
“Dengan diangkatnya Mahapatih Nambi, para senopati yang lain berlomba
merebut hati Paduka Baginda. Tak terkecuali senopati laut yang dibesarkan sisa
Keraton Singasari.
“Barangkali saja, Anabrang ingin menjajal kelebihan senopati Majapahit.
Kebetulan saat-saat pertempuran yang menentukan, Senopati Anabrang tidak ada di
tempat ini.”
“Apa pendapatmu?”
Halayudha menghaturkan sembah sambil mencium lantai.
“Hamba yang picik tak mampu berpikir serumit itu, Baginda.
“Namun sesungguhnya Anabrang ada benarnya. Ia hanya ingin agar Adipati
Lawe meminta maaf keharibaan Baginda.”
“Ini bisa menjadi salah paham.”
“Kalau Baginda berkenan, biarlah hamba yang mendampingi Anabrang.”
Anggukan Baginda berarti lebih dari segalanya.
Halayudha mengatur siasat. Dengan diam-diam ia melarikan kudanya ke
tempat peristirahatan Adipati Lawe sambil membawa tiga pedang pendek milik ketiga
Kama.
“Maaf, Adipati Lawe, senopati sejati yang gagah berani.
“Saya hanya bisa mengantarkan pedang yang pendek, karena Mahisa Taruna
telah mengambil pedang panjang.”
Adipati Lawe menggelengkan kepalanya.
“Ambil saja. Aku tak peduli pisau mainan seperti ini.”
“Saya sadar bahwa pedang kecil atau pedang panjang tak ada artinya bagi
Adipati. Akan tetapi sesungguhnya Adipati-lah yang lebih berhak menyimpan.
Karena pedang matahari ini pedang keberanian, pedang lelaki sejati, pedang para
ksatria utama, hanya pantas dimiliki yang memiliki sifat itu.
“Bukan yang sengaja mencari kesalahan.”
Dengan caranya yang tepat, Halayudha mengatakan bahwa Senopati Anabrang
dan para prajurit pilihan yang dulu ke tlatah Melayu sedang bersiap untuk menemui
Adipati Lawe. Untuk memaksakan kehendaknya agar Adipati Lawe meminta ampun
kepada Senopati Anabrang!
“Saya bisa membenarkan tindakan Adipati Lawe.
“Karena siapa pun bisa menyetujui pandangan Adipati Lawe yang terus terang.
Sesungguhnya pandangan Adipati Lawe mewakili pandangan semua senopati yang
ada di Keraton.
“Tetapi entah kenapa, Senopati Anabrang merasa tindakan Adipati
menentangnya.
Senopati Anabrang bahkan menyebut-nyebut bahwa Adipati hanya menguasai
pantai Tuban. Bukan samudra luas yang pernah ditaklukkan Senopati Anabrang.
“Sungguh tak pantas saya yang tua melaporkan hal-hal yang remeh seperti ini,
tetapi hati kecil saya tak bisa menerima cara-cara bicara di belakang punggung seperti
ini.”
Adipati Lawe tersentak.
“Anabrang tak perlu datang. Aku yang akan menemui. Sekarang.”
Persimpangan Jalan Budha-Syiwa
HALAYUDHA segera menyemplak kudanya.
Kembali ke Keraton tanpa berhenti sedikit pun. Di benaknya sudah tersusun
kerangka siasat yang bakal lebih ramai dari yang direncanakan.
Saat itu juga langsung menghadap Mahapatih Nambi, dan memberikan laporan
bahwa telah terjadi pertentangan terbuka antara Adipati Lawe dan Senopati
Anabrang.
“Yang membuat saya merasa sedih, duh Mahapatih perkasa, ialah bahwa kedua
senopati unggulan Keraton ini mulai mencampuradukkan masalah keagamaan.
“Kalau ini benar terjadi, bisa dibayangkan bahwa tanah yang terbelah makin
luas dan tak bisa diperkirakan kapan berhentinya.”
Mahapatih Nambi tersentak perhatiannya.
Sebagai penanggung jawab masalah keamanan dan ketenteraman Keraton,
Mahapatih mengetahui kabar yang paling kecil mengenai kemungkinankemungkinan
pertentangan yang bisa menyebabkan kekacauan. Semua hal yang bisa
menjadi ancaman Keraton boleh dikatakan dihafal, seakan berada dalam
genggamannya.
Justru dengan cara itu Halayudha masuk.
Kalau ia hanya mempersoalkan pertentangan Adipati Lawe dengan Senopati
Anabrang dari sisi keduanya sama keras, Mahapatih masih bisa berpangku tangan
dalam artian menganggap ini persoalan pribadi yang bersinggungan.
Akan tetapi kalau yang dikatakan Halayudha benar, ini ancaman
ketenteraman yang harus segera diatasi.
“Belum kering keringat saya dari tempat peristirahatan Adipati Lawe setelah
mencoba mendekati Senopati Anabrang. Akan tetapi semuanya sia-sia.
“Dari hal yang kecil dijadikan persoalan besar.
“Pertama, soal pedang ketiga Kama dari Jepun. Kedua Senopati menghendaki.
Terpaksa saya membagi dua. Tiga pedang panjang untuk Senopati Anabrang dan tiga
pedang pendek untuk Adipati Lawe.”
“Lawe tidak menghendaki yang pendek?”
“Sungguh tepat perhitungan Mahapatih.”
“Lawe menghendaki yang panjang?”
“Begitulah adanya. Walaupun sesungguhnya yang lebih berhak atas semua
pedang itu adalah Mahapatih.”
“Hmmm…”
“Yang membuat saya prihatin, duh Mahapatih… entah bagaimana saya harus
menceritakan ini semua. Saya tak melihat senopati lain untuk menceritakan hal ini.
Sebab kalau sampai Baginda Raja mendengar dan menitahkan suatu keputusan, kedua
senopati akan mendapatkan murka.”
“Apa yang membuat kuatir Paman?”
“Dalam memperebutkan pedang, Senopati Anabrang merasa lebih berhak.
Karena pedang panjang dari Jepun itu sesungguhnya adalah pedang dari ajaran Budha.
Ksatria Jepun ini dari aliran Budha. Maaf, Mahapatih, memang warisan yang agak
membingungkan dari Keraton Singasari di bawah Baginda Raja Sri Kertanegara adalah
rangkulan Baginda Raja Singasari kepada aliran agama Syiwa dan agama Budha.
“Dua-duanya dirangkul dan mendapat tempat dalam tata pemerintahan
Keraton Singasari.
“Sementara sejak awal, Baginda Raja Kertarajasa Jayawardhana menetapkan
ajaran Syiwa yang lebih bisa diterima. Semenjak Baginda naik takhta, sudah
dititahkan bahwa agama Budha tak boleh menyebar di arah barat Keraton, hanya
boleh di arah timur. Sementara agama Syiwa boleh menyebar ke mana saja.
“Menurut pandangan saya yang picik, jelas bahwa pilihan kepada Dewa Syiwa
sudah ditetapkan Baginda Raja, mengingat sejarah para leluhur Keraton sejak sebelum
Singasari adalah pemujaan kepada Dewa Syiwa.
“Yang membuat saya lebih prihatin lagi, duh Mahapatih, ialah kalau
pertentangan antara Dewa Syiwa dan Jalan Budha ini terbuka, akan membangkitkan
pertentangan yang lebih luas. Karena para pengikut yang menempuh Jalan Budha tak
sedikit jumlahnya.
“Menurut perkiraan saya, meskipun ajaran Dewa Syiwa yang terbesar, akan
tetapi pemeluk Budha yang nomor dua.
“Ini berarti peperangan habis-habisan yang bisa menjatuhkan pamor Keraton.
Hanya oleh sebab yang tak berarti.
“Kalau pertentangan ini pecah, berarti para pendeta agama Wisnu dan Brahma
juga merasa tidak aman.
“Jikalau keempat agama yang direstui Baginda Raja sampai terlibat dalam
pertikaian, sungguh tak ada lagi tanah damai yang tersisa di Majapahit.”
“Benar semua yang Paman katakan.
“Masalah agama adalah masalah yang bahkan Baginda Raja berpesan wantiwanti
agar tidak ditangani secara gegabah.
“Kadang ini menyenangkan di satu pihak. Karena Baginda memberi
kesempatan berkembang para pengikut Syiwa, Budha, Brahma, dan Wisnu. Akan
tetapi dari segi keamanan, saya ini yang paling kikuk.”
“Warisan Keraton Singasari akhir…”
“Itu salah satu sebab.
“Sesungguhnya, di antara para raja gung binatara, raja yang besar dan
berwibawa, Baginda Raja Sri Kertanegara satu-satunya raja yang mencoba
menggabungkan kekuatan Dewa Syiwa dengan Jalan Budha. Baginda Raja meraih
keduanya.
“Sampai ke dalam tata pemerintahan Keraton.
“Ada pendeta Syiwa, selalu ada pendeta Budha.
“Kini ketika peranan Dewa Syiwa lebih diberi angin, penganut Jalan Budha
sudah mulai memperlihatkan taringnya. Bahkan menurut dugaan saya, para ksatria
Jepun muncul untuk memperlihatkan bahwa sesungguhnya Jalan Budha adalah jalan
yang terbaik untuk dilalui.”
“Sungguh tepat penilaian Mahapatih.
“Saya tak mampu sekuku hitam pun memperkirakan hal itu.”
Mahapatih Nambi menggelengkan kepalanya.
Seakan menolak pujian Halayudha.
“Pertentangan pengikut Dewa Syiwa dengan penganut Jalan Budha akan
berakibat panjang. Karena ini seperti juga mempertentangkan Keraton yang sekarang
ini dengan sisa-sisa Keraton Singasari.”
“Sangat tepat, Mahapatih.”
“Ditambah munculnya ksatria dan pendeta pengikut Dewa Brahma dan Dewa
Wisnu, sempurnalah sudah kekacauan yang bakal terjadi.
“Jalan keluar terbaik barangkali…”
“Sungguh tepat, Mahapatih!”
Halayudha merasa terlalu cepat bicara.
Mahapatih belum mengeluarkan pendapatnya, ia sudah mengeluarkan pujian.
“Maaf, saya mengira Mahapatih akan menyempitkan persoalan ini menjadi
persoalan pribadi antara Senopati Lawe dan Senopati Anabrang.
“Bukan antara prajurit Tuban dan Keraton. Bukan antara pengikut Dewa
Syiwa dan pengikut Budha.”
“Kalau itu jalan yang kuambil, berarti juga membiarkan Lawe dan Anabrang
berhadapan muka.”
“Sungguh besar jiwa Mahapatih.
“Tetap memperhatikan para senopati bawahannya.
“Akan tetapi ini lebih baik bagi Keraton dibandingkan dengan tumpahnya
darah yang lebih banyak lagi.”
“Bagaimana dengan Kakang Sora?
“Apakah ia tak tergerak jika melihat pertentangan ini?”
Halayudha menghela napas.
Wajahnya menunjukkan rasa bingung.
“Dengan jujur saya haturkan, saya tak mengerti di mana Senopati Sora berdiri.
Karena agaknya Senopati Sora masih mencoba bertahan di Keraton. Masih ingin dekat
dengan pusat kekuasaan daripada menempati Dahanapura seperti yang telah
diisyaratkan oleh Baginda Raja.”
“Dengan kata lain ia tidak segera menjalankan perintah. Apakah ia akan
memata-matai diriku?”
“Saya tak mempunyai dugaan seburuk itu, Mahapatih.
“Walau mungkin itulah kenyataannya.”
Halayudha makin merasa bahwa caranya mengutarakan “tidak mempunyai
dugaan seburuk itu, walaupun itulah kenyataannya” termakan oleh Mahapatih.
Dengan berkata seperti itu Halayudha ingin menegaskan bahwa jalan pikiran
Mpu Sora memang buruk, bahkan tak terbayangkan pikiran biasa.
“Kakang Sora. Aku tak menduga bisa sepicik itu pikirannya. Padahal aku
termasuk yang hormat padanya.”
“Banyak yang terkelabui sikap Senopati Sora.
“Kita semua tak mengetahui sifat aslinya.”
“Agaknya teka-teki juga.
“Sewaktu mengawal Permaisuri Rajapatni, Kakang Sora juga justru
menyembunyikan serangan ganas Jurus Lebah. Aku masih bertanya-tanya apakah ini
disengaja sehingga Permaisuri Rajapatni dibiarkan terculik? Bahkan sampai sekarang
aku tak mendengar lagi jejak Klikamuka.”
“Segalanya akan menjadi terang, kalau pertarungan antara Lawe dan Anabrang
terbuka. Pada saat itu, sifat yang disembunyikan akan luntur.
“Maaf, Mahapatih.
“Barangkali malah lebih baik kalau pertarungan Lawe-Anabrang dibiarkan.
Kita bisa melihat kekuatan-kekuatan yang tak tampak selama ini.”
Enam Dharma Pendeta
MAHAPATIH NAMBI tak bisa menahan diri untuk memuji cara berpikir Halayudha.
Dengan mengorbankan kemungkinan ada yang kalah dan menang antara
Adipati Lawe dan Senopati Anabrang, peristiwa ini bisa memancing kekuatan yang
tersembunyi.
Kekuatan gelap yang selama ini kurang terbaca di mana berkiblat, akan dengan
mudah diketahui!
Berarti Mahapatih bisa menemukan peta kekuatan golongan yang sekarang ini
tersembunyi di bawah permukaan.
Memang patut disayangkan, karena ada kemungkinan terjadi pertumpahan
darah. Salah satu, atau dua-duanya senopati Keraton!
Memang benar, ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan campur tangan
para pengikutnya.
Kalau segera bisa diatasi sebelum menjalar, Mahapatih Nambi merasa
menemukan banyak hal yang perlu diketahui.
Luar biasa, pikir Mahapatih. Senopati Halayudha selalu menunjukkan cara
berpikir yang luar biasa hebat dan tepat. Ataukah barangkali karena ia tidak
mempunyai beban pikiran seperti diriku? Ataukah justru baginya pengabdian kepada
Keraton dan Raja adalah yang terutama dan satu-satunya?
Apa pun alasannya, Mahapatih seperti melihat suatu petunjuk.
Berdasarkan itu pula kemudian Mahapatih menyiapkan langkah-langkah
penjagaan yang tidak dianggap mengagetkan masyarakat.
Maka sewaktu diadakan upacara penyucian tirta di sumber air di desa Kudadu,
Mahapatih datang. Sesuatu yang tak pernah terjadi. Seorang mahapatih bersedia
menghadiri penyucian sumber air yang bukan merupakan upacara besar. Sangat
berbeda dari upacara penyucian candi atau makam.
“Saya datang sebagai utusan resmi Baginda Raja,” demikian Mahapatih mulai
memberikan kata pembuka.
“Ini untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya Baginda Raja selalu menaruh
perhatian utama pada setiap upacara keagamaan di wilayah kekuasaan Keraton
Majapahit.
“Hanya karena kesibukan Baginda Raja, tak bisa hadir di desa Kudadu yang
mempunyai riwayat panjang dalam mendirikan Keraton. Akan tetapi restu dan doa
Baginda datang selalu.”
“Semoga Baginda Raja bersama para Dewa, selamanya,” terdengar jawaban
serentak disertai sembah.
“Baginda mendengar doa yang tulus.
“Saya tak ingin menerangkan ulang mengenai kewajiban kita sebagai manusia
yang memilih jalan hidup seperti yang kita jalani sekarang.
“Saya merasa sangat kagum kepada para pendeta. Dari kelompok Syiwa,
Budha, Brahma, dan Wisnu. Sebab mereka inilah yang menjadi kekuatan batin,
menjadi tiang utama kehidupan Keraton.
“Para pendeta sangat dimuliakan oleh Baginda Raja, karena sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang mulia hidupnya. Orang yang dalam setiap tarikan
napasnya, dalam tidur dan terjaga, mendoakan kesempurnaan hidup dalam dunia
yang sementara maupun dalam keabadian di kelak kemudian hari.
“Para pendeta lebih dari para ksatria, para waisya, terlebih lagi dari kasta
sudra, adalah pilihan Dewa yang Mahabrahman.
“Para pendeta yang menjaga roh Keraton dengan melakukan enam dharma
utama.
“Mengajar, dan belajar.
“Melakukan persajian untuk dirinya dan untuk masyarakat.
“Membagi dan menerima derma.
“Enam dharma. Ketiga yang pertama mengajar, melakukan persajian bagi
masyarakat, membagi derma dari masyarakat yang halus budinya, merupakan sarana
hidup di dunia ini.
“Pendeta, dengan segala hormatku pada penjaga batin kita, sangat mulia. Saya
adalah Mahapatih Keraton Majapahit, tangan kanan Baginda Raja, akan tetapi untuk
menyucikan sumber air ini, saya tak mempunyai wewenang. Untuk membina tanahtanah
perdikan, tanah-tanah untuk pendidikan, tempat-tempat suci, saya terlalu kotor
untuk menangani.
“Saya dan para prajurit hanyalah kelompok ksatria. Kalau pendeta menjaga
roh, para ksatria menjadi badan wadag. Tugas utama para ksatria ialah mengabdi
kepada Raja, yang berarti juga mengabdi dunia, mengabdi tanah yang memberikan
kehidupan. Pengabdian kepada Raja adalah mutlak, tak peduli apakah ia prajurit
penjaga gerbang ataupun tingkat senopati. Karena tanpa pengabdian, yang ada adalah
kekacauan.
“Baginda Raja telah menggariskan tingkat di mana kita berada. Baik bagi para
pendeta, para ksatria, maupun para waisya.
“Golongan waisya adalah para pedagang dan petani. Mengerti tentang cara
berdagang mutu manikam, buah-buahan, serta bisa menanamnya dengan baik.
“Golongan yang tidak mempunyai kemungkinan untuk dwija adalah golongan
sudra. Mereka tak akan dilahirkan untuk kedua kalinya. Tugas golongan sudra yang
terutama ialah mengabdi kepada para brahmana, para pendeta, agar menemukan
kesempurnaan dunia dan nirwana. Para sudra yang mengabdi kepada ksatria dan
waisya hanya akan menemukan ketenteraman dunia saja.”
Suara Mahapatih makin meninggi.
“Semua telah mempunyai tempat sendiri-sendiri. Sehingga tak terjadi
kekisruhan. Sebab kalau kita semua bisa memahami kitab-kitab yang memuat aturan
dan tata krama itu, tak ada golongan waisya atau ksatria yang mencampuradukkan
dengan persoalan para pendeta.
“Saya sebagai pelaksana takhta mengingatkan bahwa di saat-saat tertentu kita
bisa lupa di mana kaki kita berdiri, dan terseret arus yang menyesatkan. “Saya tidak
mengada-ada.
“Ketika kami semua membuka sawah di desa Tarik, di desa Kudadu ini, dan di
tempat lain, kami sudah lahir sebagai ksatria, sebagai prajurit!
“Sekarang ini terasakan bahwa banyak tumbuh keinginan mengubah tata
krama peraturan yang sudah jelas dan gamblang. Ada sebagian kecil yang ingin
membuka perselisihan dengan menyeret golongan yang lebih sakti di atasnya.
“Saya akan mengambil tindakan tegas.”
Pandangan Mahapatih menyapu semua yang hadir.
“Dalam Kitab Kutara Manawa sudah jelas diuraikan. Itulah kitab yang
mengatur tata krama kita semua, tanpa kecuali. Termasuk saya, termasuk para
pendeta, para waisya yang sekarang ada di sini.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:39 pm

“Saya tahu, dari Perguruan Awan ditiupkan angin yang ingin mengubah
tatanan ini semua. Perguruan Awan pun, saya tegaskan, tak akan memperoleh
keistimewaan.
“Para pendeta lebih tahu, bahwa di Perguruan Awan tata krama itu sengaja
ditiadakan. Tak ada perbedaan guru dan murid, tak ada perbedaan ksatria atau waisya
atau sudra. Di sana ada ajaran bahwa sang guru juga belajar silat, berdoa, tetapi juga
menanam pohon dan memetik buahnya.
“Saya tak peduli jika itu terjadi di dalam hutan.
“Akan tetapi saya tak akan membiarkan jika mau ditularkan kepada kehidupan
di luar hutan.
“Saya dan seluruh senopati Keraton akan menghadapi.”
Kalimat Mahapatih meninggi dan menurun, akan tetapi dengan pandangan
yang galak, berwibawa.
Tanpa peduli apakah pendengarnya menyadari apa yang dikatakan, Mahapatih
melanjutkan,
“Di antara golongan-golongan ini, golongan ksatria yang paling ruwet dan
ribut selalu. Yang prajurit merasa dirinya senopati, yang senopati merasa bisa berbuat
semaunya. Dengan mengagungkan sikap ksatria, merasa menjadi pendekar, menjadi
jawara, menjadi yang tak perlu diatur.
“Kalau memang tak bisa diatur, jangan menganggap diri ksatria. Tempat yang
paling tepat ialah menjadi kawula, menjadi hamba.
“Mereka bisa memilih menjadi kawula di bagian mana.
“Mau disebut grehaja, yang berarti memang lahir sudah dalam masa
penghambaan. Mau disebut dwajaherta, kalau mereka menjadi tawanan perang.
Seperti ksatria Jepun, atau seperti ksatria mana pun yang kalah!
“Apa mau disebut bhaktadasa yang menghamba karena untuk mengisi
perutnya. Atau mau disebut dandadasa, menjadi hamba karena tak mampu membayar
pajak Keraton.
“Apa pun sebutannya, mereka adalah kawula, hamba yang mempunyai tuan,
dan tuannya inilah yang berkuasa.
“Ini peringatan pertama dan terakhir.”
Pidato Mahapatih pada upacara peresmian penyucian sumber air di Kudadu
bergema luas.
Halayudha memakai kalimat-kalimat Mahapatih untuk membakar Senopati
Anabrang.
“Jelas sekali, Mahapatih ingin menunjukkan kekuasaannya. Tak seharusnya
Mahapatih mengatakan itu. Kesempatan itu tidak sesuai. Lagi pula kesannya justru
menghalangi Senopati Mahisa Anabrang yang jelas-jelas mendapat restu dari Baginda
untuk memberi peringatan Adipati Lawe.”
“Saya tak akan mundur karena ada peringatan atau tidak.”
Jawaban Senopati Anabrang sama dengan Adipati Lawe.
“Aku tak pernah mencabut kata-kataku. Kalau Anabrang tak datang, aku yang
datang menjelang.
“Selama ini aku hanya merasa sungkan kepada Paman Sora yang kuhormati.
Bukan karena takut. Pun kalau Nambi berada di belakangnya.
“Paman Halayudha, sampaikan tantanganku. Aku menunggu di Brantas. Di
sana akan dibuktikan darah siapa yang lebih merah.”
Gema di Perguruan Awan
KETIKA Halayudha sibuk mengatur angin yang membesarkan bara di mana bisa
panas, saat itulah Nyai Demang dan Galih Kaliki kembali ke Perguruan Awan.
Jaghana yang menyambut mereka pertama.
“Angin gunung, betapapun jauhnya mengembara, pasti akan kembali juga.
Selamat tiba, Nyai Demang dan Galih Kaliki.”
“Bagus, aku sudah lama tidak mendengar suara seperti ini.” Galih Kaliki segera
mengambil tempat duduk di salah satu sudut, di atas rumput. Matanya mengawasi
keliling.
Wilanda sedang duduk bersemadi. Upasara Wulung nampak duduk
termenung, hanya memperlihatkan senyum tipis. Sementara Gendhuk Tri seperti tak
mau peduli.
“Banyak hal telah terjadi di luar, Paman Jaghana.”
“Angin Keraton tak bertiup ke tempat sepi ini, sehingga saya tak mengetahui
apa yang terjadi.”
“Paman Jaghana kenal dengan Kama Kangkam, dengan dua muridnya yang
bernama Kama Kalandara dan Kama Kalacakra?” Jaghana menarik napas dalam.
Dadanya yang telanjang nampak penuh berisi angin.
“Pernah saya dengar, mereka datang bersama pasukan Tartar. Apakah sekarang
sudah kelihatan, Nyai?”
“Sudah muncul untuk meminta Kitab Bumi di Keraton.”
Gendhuk Tri mengeluarkan suara dingin.
Lalu mempermainkan batang hidungnya. Seakan tak sengaja.
“Kitab itu lebih banyak diperebutkan daripada didalami isinya. Itulah takdir
yang buruk.”
“Ah, segala apa dipikirkan.
“Biar saja mereka rebutan Kitab Bumi atau Kitab Langit. Selama mereka tidak
mengganggu kita, biar saja jungkir-balik sendirian.”
Ucapan Gendhuk Tri membuat Nyai Demang tertawa.
“Anak kecil, kamu tahu apa tentang dunia ini?
“Kamu tak mendengar Mahapatih Nambi sudah menyinggung bahwa
Perguruan Awan adalah sarang para sudra yang membangkang?”
“Biar saja, ia punya mulut dan punya kuasa.”
“Kita tak bisa membiarkan begitu saja.
“Aku kembali hanya untuk menyampaikan dan melihat apakah gema itu
terdengar sampai di sini.
“Gendhuk, aku tak bisa seperti kamu yang bisanya hanya mengekor apa yang
dilakukan Adimas Upasara!
“Aku berkepentingan dengan nama Perguruan Awan, dengan Permaisuri
Rajapatni, dengan Kakang Dewa Maut!”
Upasara menahan gelora di dadanya.
Gendhuk Tri langsung berdiri.
Wilanda menyelesaikan semadinya.
Hanya Jaghana yang tenang seperti semula.
“Aku tak peduli dengan Gayatri! Aku tak peduli apa yang mereka katakan
tentang Perguruan Awan!
“Aku cuma mau tahu di mana Dewa Maut!”
Di balik kata-katanya yang keras dan patah-patah, nyata bahwa Gendhuk Tri
terusik hatinya. Terampas perhatiannya. Karena biar bagaimanapun juga Dewa Maut
paling dekat dengannya. Walaupun Gendhuk Tri selalu menunjukkan sikap jengkel
setiap kali bertemu, akan tetapi ini semua tak mengurangi perhatiannya.
“Sejak kapan kamu bisa memaksaku?
“Kalau aku mau cerita tentang Permaisuri Rajapatni lebih dulu, kamu bisa
apa?”
Gendhuk Tri menggerakkan selendangnya dengan kesal.
“Memangnya kalau kamu bercerita tentang Gayatri, apa kepentingannya?”
“Permaisuri Rajapatni adalah wanita, seperti aku.
“Kalau kamu mempunyai hati wanita pasti bisa merasakan yang sebenarnya.”
“Perasaan apa?”
Nyai Demang tertawa senang.
Bukan merasa menang. Melainkan merasa bisa mempermainkan Gendhuk Tri.
Setelah mengalami berbagai pengalaman yang menegangkan, bercanda dengan
Gendhuk Tri merupakan selingan yang menghibur.
“Sewaktu Permaisuri Rajapatni masih dipanggil Gayatri, ia pernah berkenalan
dengan Upasara Wulung. Hubungan ini terputus karena Baginda Raja mengatakan
bahwa Gayatri dan Sanggrama Wijaya diibaratkan Uma dengan Syiwa. Bahwa di
kelak kemudian hari, sesuai ramalan para pendeta, turunan Dewi Uma dan Dewa
Syiwa akan melahirkan raja yang meneruskan kebesaran Keraton.
“Akan tetapi nyatanya ini hanya siasat belaka.
“Nyatanya putri dari Permaisuri tak digubris. Malah putra dari seberang yang
diresmikan sebagai putra mahkota.”
“Lalu apa hubungannya?”
“Hati wanita mana yang tak tersentuh mendengar pengkhianatan ini?”
Upasara menggeleng lemah.
“Rasanya masih saja begitu banyak yang memperhatikan saya. Mbakyu
Demang, terima kasih atas pemberitahuan ini.
“Saya bisa mengerti kalau Tuanku Permaisuri bersedih. Akan tetapi
sebenarnya tak ada gunanya. Perjalanan hidup ini panjang. Kalau bukan putrinya,
bukankah masih ada cucunya? Kalau bukan cucunya, bukankah masih ada cicitnya?
Kalau memang keinginannya adalah meneruskan takhta?
“Kehidupan sungguh panjang.
“Kesedihan tak perlu ada.”
“Nah, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan Adimas Upasara? Jadi untuk
apa sedih kalau aku tidak bercerita mengenai Dewa Maut?”
“Baik, kalau tidak mau bicara.
“Paman Galih, di mana Dewa Maut?”
Galih Kaliki membelalak.
“Mana aku tahu?”
Gendhuk Tri mencibirkan bibirnya.
“Lelaki macam apa yang tak berani berada di luar bayangan wanita ini?”
Gendhuk Tri menduga bahwa Galih Kaliki tak berani membocorkan rahasia.
Padahal sesungguhnya Galih Kaliki tak mengetahui Dewa Maut masih berada di
kurungan bawah Keraton!
“Aku tak tahu.”
“Di mana dia, Nyai?” Suara Wilanda sangat rendah nadanya, akan tetapi kuat
rasa ingin tahunya.
Nyai Demang tak bisa memperlama menahan rahasia. Nyai Demang
menceritakan apa adanya. Bahwa ia berhasil menyusup ke kamar peraduan Baginda,
akan tetapi terkena Aji Sirep Laron Halayudha, dan akhirnya disekap dalam kurungan
bawah Keraton. Dan di situ bertemu dengan Dewa Maut yang tak mau diajak pergi.
“Aneh sekali. Bagaimana ia bisa sampai di tempat itu?”
“Mana kamu tahu, Gendhuk. Untuk masuk ke situ jalannya hampir tak
mungkin kecuali masuk ke dalam Keraton. Berarti ia ada hubungan dengan selir-selir
Baginda.”
Wajah Gendhuk Tri menjadi merah.
“Heran, bibir selalu nista begitu masih awet melekat di situ.”
“Begini-begini banyak yang memperebutkan, Gendhuk. Rajamu sampai
terpesona.”
“Siapa bilang rajaku?”
“Nyatanya ia menguasai kehidupan kita. Dan kita tak bisa apa-apa.”
“Omong kosong! Aku akan datang ke Keraton untuk menjemput Dewa Maut!”
Wilanda memberi tanda agar tidak tergesa.
“Kita masih bisa memikirkan cara yang baik, anak manis.”
Gendhuk Tri cemberut.
“Aku sudah tahu jalan pikiran Paman semua atau Kakang Upasara. Jalan
terbaik adalah berada di sini, bersemadi, melihat matahari terbit dan tenggelam.”
“Baru saja kamu bilang sendiri Keraton mau jungkir-balik tak peduli, sekarang
jadi sewot.”
Mendadak Nyai Demang berubah suaranya.
“Yang saya herankan, Dewa Maut bisa membaca lorong-lorong dalam tahanan
bawah Keraton. Bahkan saya tertolong dan bisa lolos karena kidungan dalam Kitab
Bumi.
“Itulah sebabnya saya kembali.
“Barangkali selama ini kita salah membaca kidungan. Tak ada yang
menunjukkan bahwa kita harus berdiam di dalam Perguruan Awan sampai jadi tanah.
“Barangkali menikmati matahari terbit bisa juga berarti memerangi ksatria
yang nakal, membungkam mulut Mahapatih yang ngawur, atau menggempur
Halayudha.
“Saya makin sadar ketika ketemu Kama Kangkam, guru dari Jepun, yang luar
biasa tinggi ilmunya. Yang mengaku pemilik sah ilmu Jalan Budha.
“Jepun bukan Negeri Cina.
“Jepun bukan Tartar.
“Jepun bukan Hindia.
“Jepun akan menghancurkan pohon untuk membuat sawah. Jepun akan
mencabut pedang panjang untuk menciptakan kebahagiaan. Kalau benar itu
persamaannya dengan Kitab Bumi, saya percaya sepenuhnya Eyang Sepuh selama ini
tidak pernah menyembunyikan diri! Tidak mengasingkan diri dan bunuh diri seperti
Adimas Upasara yang pengecut!
“Saya datang untuk pamit dari kalian.”
Tiga Langkah, Tiga Jagat
JAGHANA yang selama ini paling tenang, paling bisa menahan diri dari omongan
yang tak keruan juntrungannya, jadi mendongak.
Nada ucapan Nyai Demang berbeda dari biasanya.
Melengking dan sarat oleh kekesalan.
“Saya, Nyai Demang, mulai hari ini juga tak akan menginjak tanah Perguruan
Awan untuk menyembunyikan diri. Hari ini saya telah puas bisa mengatakan isi hati
saya.
“Paman Jaghana, Paman Wilanda, Kakang Galih, Adimas Upasara, dan juga
Gendhuk, kita tak mempunyai ikatan batin dengan Perguruan Awan. Kalau suatu hari
kelak kita bertemu, tak usah mengikat dan mengingat bahwa kita pernah bersamasama
di tempat ini.”
Galih Kaliki meloncat bangun.
“Nyai, aku boleh ikut kamu atau tidak?”
“Kakang Galih, di sinilah tempatmu.
“Sarang persembunyian yang empuk. Yang menganggap membunuh nyamuk
adalah melakukan dosa, yang membiarkan dunia jungkir-balik, yang menganggap
menikmati sinar matahari adalah jalan ke surga.”
“Tunggu.” Jaghana meloncat menghadang.
“Kalau Paman merintangi jalanku, jangan salahkan kalau aku main kasar.”
“Nyai, aku hanya ingin mendengar kenapa Nyai tiba-tiba berkata seperti itu.”
Nyai Demang menggeleng.
“Tak ada gunanya berteriak di depan orang tuli. Tak ada bedanya menembang
kidungan atau merintih.”
Tangan Nyai Demang terulur cepat.
Dada Jaghana terdorong.
Tenaga Nyai Demang seperti mengenai karung kosong. Tanpa peduli, Nyai
Demang menyusuli dengan pukulan kedua. Jaghana menghindar dengan
menjatuhkan diri secara berguling.
Di luar dugaan, Nyai Demang maju menerkam. Tubuhnya diayun, menjatuhi
tubuh Jaghana dengan cengkeraman langsung ke arah jakun.
Gendhuk Tri berteriak keras.
“Awas!”
Wilanda pun tak menduga bahwa Nyai Demang menyerang secara ganas.
Bahkan ketika tiba-tiba merentangkan tangan dan menghantam dada, Wilanda
menduga ini hanya sekadar pelampiasan kejengkelan saja. Sungguh tak terduga bahwa
Nyai Demang menyerang dengan jurus-jurus mematikan.
Jaghana bergulung bagai gasing. Kepalanya yang gundul pelontos seperti
membenam ke dalam dada. Namun tak urung, pipinya terkena serempetan
cengkeraman. Mengakibatkan luka panjang dan darah merah.
Sewaktu menubruk tadi, Nyai Demang menjatuhkan diri ke rumput. Namun
dalam seketika tubuhnya terayun kembali dengan kekuatan tangan, dan kedua
kakinya menggunting Jaghana yang mau tidak mau terpaksa menangkis.
Nyai Demang mendahului dengan tamparan telapak tangan terbuka, sehingga
Jaghana memiliki jalan mundur. Begitu kakinya menginjak tanah, membuat gerakan
cepat. Maju selangkah, mundur selangkah, dan maju lagi. Gerakan kaki yang
demikian ini tidak pada satu titik sumbu, sehingga meskipun kelihatannya seperti
maju-mundur di tempat, akan tetapi mengurung gerak Jaghana.
Dengan ilmu memutar tubuh bagai gasing, sebenarnya Jaghana tidak sekadar
bertahan, akan tetapi juga memberikan perlawanan. Karena dalam memutar tubuh
pada kecepatan tinggi, kemungkinan untuk mengatur tenaga serangan tak bisa
dikendalikan mana keras mana lunak.
Jaghana menyadari bahwa serangan Nyai Demang bukan serangan main-main.
Kaki kiri Nyai Demang mengurung maju satu langkah, Jaghana terpaksa
mundur, tetapi justru pada saat itu Nyai Demang mundur selangkah menjauh. Ketika
Jaghana ragu, gerakan kaki Nyai Demang sudah maju selangkah!
Secepat kakinya mematok, secepat itu pula tangannya menggaplok.
Jaghana yang berputar, menangkis serangan tangan dan kaki, jadi
mengeluarkan seruan tertahan. Kekuatan kaki Nyai Demang jadi luar biasa
mengagetkan. Seperti sepuluh tenaga yang biasa dikenalnya.
Jaghana tak bisa menahan tubuhnya untuk tidak melorot turun. Saat itulah
telapak tangan Nyai Demang mematok gundul Jaghana.
Galih Kaliki berteriak nyaring sambil mengangsurkan tongkatnya yang
disentakkan ke atas menahan getokan Nyai Demang. Tapi Nyai Demang hanya
mengeluarkan suara dingin. Tangannya berubah menjadi cengkeraman.
Menggenggam tongkat, saling tarik dengan Galih Kaliki. Sekali membetot,
merenggangkan, dan kemudian menyentak keras.
“Lepas!”
Gendhuk Tri masih menduga bahwa tongkat akan dilepaskan Galih Kaliki.
Karena tak mungkin Galih Kaliki bertahan dengan tetap memegangi, sebab ini berarti
adu tenaga dan akan membahayakan Nyai Demang. Dugaan Gendhuk Tri berdasarkan
perhitungan bahwa Galih Kaliki terlalu menyayangi Nyai Demang.
Justru dugaannya meleset!
Galih Kaliki tidak ingin melukai Nyai Demang, memang. Akan tetapi ia tak
melepaskan tongkatnya begitu saja, justru karena menyadari tenaga Nyai Demang
sangat besar. Bisa-bisa tongkat itu mengemplang kepala Jaghana yang gundul
pelontos.
Galih Kaliki lebih suka tetap menahan.
Dan hatinya mencelos, ketika terisap tenaga keras hingga tubuhnya terlontar
ke angkasa. Dan masih ngotot memegangi tongkat. Nyai Demang menggenjot
tubuhnya melayang. Satu pukulan tangan kanan dilemparkan, sebelum menyentuh
lawan ditarik kembali dan diganti dengan pukulan tangan kiri.
Buk!
Tubuh Galih Kaliki berdebuk di tanah.
Jaghana yang kini bisa berdiri tegak, berusaha melindungi. Akan tetapi untuk
kedua kalinya, dengan serangan yang sama, Jaghana kena tendang. Kali ini Gendhuk
Tri yang menerjang.
“Hati-hati, Gendhuk. Ini jurus Tiga Langkah Kresna.”
Suara peringatan Wilanda terlambat.
Siku Nyai Demang mengenai ulu hati Gendhuk Tri yang langsung
membuatnya melorot!
Nyai Demang berdiri garang!
“Dengan sepenuh hati kalian belum tentu menang. Apalagi kalau separuhseparuh
seperti ini.”
Dengan kaki terpincang-pincang, Jaghana menggulung kembali tubuhnya dan
maju menerjang.
Aba-aba peringatan dari Wilanda membuatnya berhati-hati menghadapi Nyai
Demang yang menjadi galak.
Tiga Langkah Kresna atau lebih lengkap disebut Tiga Langkah Kresna
Menguasai Tiga Jagat, juga disebut tiwikrama. Kata ini lebih dikenal dari sebutan
aslinya yaitu triwikrama atau tiga langkah.
Dalam pengertian dari kata-katanya memang bisa berarti tiga langkah.
Langkah maju, mundur, dan maju lagi menggempur. Akan tetapi sesungguhnya
artinya lebih besar dari itu. Tiwikrama bukan hanya berarti tiga langkah, akan tetapi
tiga langkah Kresna. Tokoh pewayangan titisan Dewa Wisnu yang ketika tiwikrama
tubuhnya berubah menjadi raksasa, yang kalau berbaring sanggup membendung Kali
Brantas. Digambarkan mempunyai kepala sepuluh yang siap menerkam.
Tiwikrama sebenarnya tak bisa disebut jurus, karena ini hanya bertumpu
kepada pengaturan tenaga dalam. Tiwikrama baru bisa memberikan tenaga bila
digabungkan dengan jurus lain. Konon, jurus yang sering digabungkan adalah jurus
garuda, sehingga menjadi Garuda Tiwikrama, yang pernah dipakai oleh Raja
Airlangga dalam menaklukkan tokoh misteri Mbok Randa Dirah.
Akan tetapi selama ini Jaghana tak pernah mendengar lagi latihan pernapasan
Tiwikrama. Hanya Eyang Sepuh pernah menyebut-nyebut sebagai cara berlatih napas
yang unggul. Akan tetapi juga berbahaya, karena pengaturan napasnya bertentangan
dengan irama yang wajar. Tidak dimulai dengan menarik napas, akan tetapi dengan
mengembuskan napas lebih dulu.
Menurut penuturan Eyang Sepuh, latihan pernapasan Tiwikrama sudah lama
ditinggalkan para ksatria karena banyak mengandung pertentangan di dalam otot dan
urat tubuh.
Agak mencengangkan juga bahwa Nyai Demang secara tiba-tiba memakai
pengerahan tenaga dalam Tiwikrama. Dan memainkan secara murni dengan tiga
langkah serangan. Tanpa digabungkan dengan jurus yang lain.
Hanya karena dasar-dasar tenaga dalam Nyai Demang tak terlalu istimewa,
pelipatan tenaga dalam tidak menjadi serangan maut. Karena kalau benar begitu,
Galih Kaliki maupun Gendhuk Tri pasti tak sempat merintih.
Peringatan Wilanda membuat Jaghana sangat berhati-hati.
________________________________________
Senopati Pamungkas I - 7
Karena sejauh ini ia masih ingat penuturan Eyang Sepuh: Barang siapa melatih cara bernapas Tiwikrama, jalan pikirannya pun bisa terbalik. Berbeda dari jalan pikiran manusia biasa. Menurut cerita, ini pula dulu yang menyebabkan Baginda Raja Airlangga meninggalkan takhta dan hidup menyepi di hutan sebagai pertapa!
Bisa dibayangkan akibatnya jika ini dipakai Nyai Demang yang tadinya hidup bersahabat!
Berarti kebalikannya. Berarti maut!
Tiga Mantra Syiwa
JAGHANA menggerung.
Badannya tergulung bagai kitiran, berputar cepat, dan meluncur bagai anak panah lepas dari busur. Mengepung Nyai Demang dalam gerak pusarannya, sehingga mau tak mau harus meladeni pertarungan jarak pendek.
Sebenarnya justru ini yang diandalkan oleh Nyai Demang.
Jaghana bukannya tidak mengetahui. Akan tetapi ia bertekad mengimbangi.
Jurus-jurus Jaghana yang berasal dari Perguruan Awan memang tak dikenal nama-namanya. Karena pemberian nama bertentangan dengan apa yang selama ini dianut dalam perguruan tersebut. Bagi mereka, pemberian nama termasuk kecerewetan yang berlebihan.
Meskipun demikian ada beberapa ciri tertentu.
Serangan berputar Jaghana termasuk serangan yang berbahaya. Karena dengan memutar tubuhnya bagai gasing, apalagi melayang di tengah udara, berarti Jaghana mengeluarkan asap beliung, yang bukan hanya mengurung tapi juga menggulung. Setiap saat akan menyeret Nyai Demang untuk ditindih. Dalam serangan bergulung, semua anggota badan Jaghana bisa dipergunakan. Tendangan, sikutan, pukulan, totokan, sodokan lutut, semua dipergunakan.
Jaghana menyadari walau serangan Nyai Demang berbahaya, akan tetapi karena kekuatan tenaga dalamnya terbatas, akan bisa ditindih dengan menekan ketat.
Wilanda yang menyaksikan sejak tadi merasa cemas.
“Nyai… kamu masih kena Aji Sirep Laron?”
Teriakan Wilanda tak terjawab.
Jalan pikiran Wilanda adalah perhitungan bahwa Nyai Demang masih terpengaruh Aji Sirep Laron, atau sejenis dengan aji sirep semacam itu. Yaitu aji sirep yang membuat orang kehilangan kesadarannya. Bukan tidak mungkin sekarang ini kesadaran Nyai Demang sepenuhnya dikuasai oleh ajian Halayudha.
Aji sirep semacam ini memang sangat berbahaya. Karena bisa menguasai seseorang tanpa disadari. Dan bisa datang serta bisa pula pergi. Sehingga tindakan Nyai Demang yang kasar bisa dimengerti dari segi ini. Agak masuk akal, mengingat Nyai Demang selama ini tak mengeluarkan pukulan-pukulan telengas dan ganas.
Teriakan Wilanda terdengar oleh Jaghana yang segera mengerahkan tenaga sepenuhnya. Kepalanya yang botak licin mengeluarkan asap semakin padat. Kedua tangannya meraup Nyai Demang dengan desisan lirih,
“A-u-ma.”
Kedua tangan Jaghana meraup kepala Nyai Demang. Akan tetapi karena tubuhnya berputar, bukan tidak mungkin kepala Nyai Demang seperti dipelintir.
Apa yang diteriakkan Jaghana adalah triaksara, atau mantra tiga kata Dewa Syiwa. Mantra ini merupakan seruan khusus bagi penganut Jalan Budha atau penganut ajaran Dewa Syiwa. Dalam banyak hal dikenal beberapa mantra. Seperti pancaksara atau mantra lima kata. Yang paling dikenal ialah ekasara, atau mantra satu kata dengan meneriakkan om.
Jaghana mempergunakan mantra tiga kata, karena yang dihadapi adalah Nyai Demang yang mempergunakan jurus Tiga Langkah Kresna. Kalau perhitungan itu cepat, pengaruh mantra ini akan mampu menghilangkan aji sirep yang menguasai Nyai Demang.
Galih Kaliki mencelos.
Ia kena dibanting hingga ambruk. Akan tetapi tenaga dalamnya masih tangguh. Sehingga bisa bangkit dan mengikuti jalannya pertempuran. Mengetahui bahwa serangan Jaghana sangat berbahaya, Galih Kaliki hanya bisa meneriakkan namanya.
“Nyaiiiii!”
Sementara Gendhuk Tri yang kena tendang bagian pinggang juga tak terlalu menderita. Ia bisa dijatuhkan, akan tetapi masih mampu bangkit kembali. Mampu membaca dengan jelas jalannya pertempuran.
Dan walaupun jengkel kepada Nyai Demang, Gendhuk Tri tak tega melihat Jaghana mengusap wajah Nyai Demang dalam putaran.
Akan tetapi ternyata Nyai Demang tidak berada dalam bahaya.
Justru tertawa bergelak. Satu sentuhan lagi kedua tangan Jaghana mengenai wajahnya, Nyai Demang malah maju menyongsong. Lalu mundur dengan cepat, sehingga Jaghana mengenai angin. Tangkapannya meleset, dan ketika itulah kedua tangan Nyai Demang menangkis!
Sangat sederhana gerakannya.
Bisa terbaca.
Akan tetapi Jaghana yang berputar, terlontar ke arah luar. Bagai diayunkan dengan keras. Tubuhnya terlempar ke ujung pohon.
Nyai Demang mengeluarkan suara dingin.
“Ayo keluarkan lagi mantra kalian!
“Aku masih menunggu di sini.”
Menyaksikan Jaghana terlempar sampai di pucuk pohon, Gendhuk Tri setengah tak percaya. Dalam pergumulan dan latihan sehari-hari, Jaghana adalah tokoh nomor dua setelah Upasara. Maka tak bisa begitu saja terlempar oleh Nyai Demang yang selama ini paling buncit kepandaiannya. Paling sejajar dengan Gendhuk Tri. Atau malah kurang.
Memang secara perhitungan, tubuh Jaghana bisa terlempar karena tenaga putarannya sendiri. Akan tetapi bahwa Nyai Demang mampu membalikkan tenaga putaran, itu yang luar biasa.
Upasara maju.
“Mbakyu, sadarlah.”
“Jangan halangi aku, Adimas.”
Jelas dari ucapannya bahwa Nyai Demang masih sadar. Masih bisa menyebut dengan sebutan Adimas, masih memberi peringatan.
Tapi Upasara tetap maju.
Tangan Nyai Demang bergerak, memukul udara di depan Upasara.
Wilanda meloncat cepat, mencoba memotong tenaga dorongan Nyai Demang. Demikian juga Gendhuk Tri. Akan tetapi terlambat! Tubuh Upasara terkena tolakan tenaga.
Bagai didorong angin kencang, Upasara mental ke belakang. Sementara Wilanda terdorong ke samping. Hanya Gendhuk Tri yang bertahan, meskipun getaran angin panas menyesakkan badannya. Galih Kaliki meluncurkan tongkatnya dengan tenaga lembek untuk menahan Upasara dari bantingan yang bisa merontokkan semua tulangnya.
Sejak Upasara kehilangan semua ilmunya, ia menjadi pusat penjagaan siapa pun.
Maka sungguh tak dinyana bahwa Nyai Demang akan menyerangnya.
“Nyaiiiii!”
“Makin kalian lindungi, makin lemah tubuhnya.
“Adimas Upasara, kalau kamu tidak mau dwija, kenapa tidak membunuh diri sekalian?”
Dwija mempunyai arti hidup kembali, terutama yang menganut kepercayaan ajaran aliran yang memberikan pengertian tentang kehidupan baru setelah kematian. Baik dalam pengertian secara wadag, maupun dalam pengertian rohani.
“Kalau kamu tidak berani, mari aku tolong mengantarkanmu.”
Nyai Demang maju menerjang.
Gendhuk Tri menggunakan empat helai selendang yang berkibar secara bersamaan, sementara Galih Kaliki juga menghadang. Sebagai ganti tongkatnya, kedua tangannya membentuk benteng bertahan dengan diputarkan. Wilanda mengeluarkan ilmu meringankan tubuh seperti capung yang selama ini belum tertandingi.
Dalam sekejap, Nyai Demang dikerubuti dari berbagai jurusan.
Tetap dengan gerak maju-mundur-maju, Nyai Demang bertahan. Dan tetap dengan tawanya yang bergelak, Nyai Demang meladeni.
“Tiwikridita.”
Jelas, Nyai Demang dalam keadaan sadar.
Tak mungkin dalam keadaan kena pengaruh aji sirep bisa melontarkan kata-kata ejekan dan yang mempermainkan lawan. Tiwikridita, jelas bukan istilah tertentu yang mengandung arti seperti tiwikrama. Tiwikridita mengandung pengertian tiga permainan.
Jadi sengaja bermain-main, atau mempermainkan lawan-lawannya.
“Sekarang kalian rasakan tiwilangon.”
Dengan menggoyangkan tubuhnya, bagian dadanya yang montok disorong ke depan, sementara perut dan pantatnya melenggok, Nyai Demang seperti membiarkan disentuh oleh Wilanda ataupun Galih Kaliki.
Tiwilangon bisa diartikan tiga berahi!
Seakan Nyai Demang sedang memancing berahi ketiga lawannya, atau mengajak permainan berahi.
Keruan saja Wilanda jadi serbasalah. Di samping hanya tenaga mengentengkan tubuh yang bisa diandalkan, kini harus menghindarkan serangan yang bisa mengenai bagian tubuh yang tak diinginkan. Sebagai ksatria adalah pantangan besar menyerang bagian tubuh seseorang yang terlarang. Apalagi menghadapi wanita!
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:40 pm

Padahal jelas-jelas justru Nyai Demang menyodorkan dadanya dan bagian tubuhnya yang lain!
Galih Kaliki pun jadi kelimpungan. Bingung tak tahu harus bersikap bagaimana. Ia sangat mengharapkan rasa cinta yang sesungguhnya. Bukan sekadar permainan berahi seperti sekarang ini.
Gendhuk Tri sendiri terperangah.
Nyai Demang justru mempergunakan untuk mencuri kesempatan. Sasarannya ternyata tetap Upasara Wulung!
Dua Belas Kedudukan Bintang
Nyai Demang berhasil mendesak ketiga lawannya.
Gendhuk Tri berusaha melindungi Upasara dengan tidak memperhatikan apakah ayunan selendang atau pukulan yang mengenai dada Nyai Demang yang diangsurkan padanya.
“Gasak saja, Paman Galih. Jangan pedulikan.”
“Mana mungkin?” kata Galih Kaliki bingung.
“Tidak apa. Senggol saja sedikit. Apa masih keras atau sudah lembek.”
Dengan cara yang kurang ajar, Gendhuk Tri mencoba memancing agar Galih Kaliki bisa menggempur tidak setengah hati. Ajakannya yang sembrono membuat Galih Kaliki yang tidak banyak akalnya jadi mengangguk. Kali ini menerjang seperti perintah Gendhuk Tri.
“Bagus,” kata Gendhuk Tri sengaja menirukan gaya Nyai Demang. “Ini baru mengasyikkan.
“Paman Wilanda, mari kita bermain. Jangan ragu.”
Wilanda melayani kembali, mencoba memecah perhatian Nyai Demang. Dikerubuti bertiga yang menyerang sepenuh tenaga, Nyai Demang nampak tidak leluasa menekan. Gerak maju-mundur-majunya jadi terbatas.
“Bagus, aku mau lihat.”
Nyai Demang menggeser pantatnya ke arah selatan, ke arah utara, seirama dengan gerakan tangannya. Dengan kecepatan tinggi, sehingga susah dipastikan apakah yang memberi tenaga panas dari pantat atau dari tangan yang mengancam.
“Awas, Lintang Sapi Gumarang,” teriak Wilanda keras, sambil berusaha menyebar ke arah kedudukan yang berbeda dengan Gendhuk Tri. Galih Kaliki pun segera mengambil sudut serangan yang berbeda.
Seperti diketahui jurus Lintang Sapi Gumarang adalah jurus untuk membuyarkan pemusatan tenaga lawan. Membuyarkan dengan siasat seolah Nyai Demang menjadi banyak sekali, atau samar.
Dengan memecah diri, pengaruh amun-amun, atau kekaburan itu bisa terpecahkan sedikit. Tidak begitu kuat pengaruhnya. Sehingga kalaupun Gendhuk Tri terpengaruh, Wilanda atau Galih Kaliki masih bisa awas dan berjaga.
Meskipun serangan terpecah, Nyai Demang tidak berusaha segera mengubah gaya serangannya. Masih terus melanjutkan, walau Galih Kaliki mulai mendesak dari arah kanan. Menyelusup masuk. Bahkan pukulannya mulai masuk, menyerempet pinggang Nyai Demang.
“Bagus!” teriak Gendhuk Tri.
“Bagus!” teriak Nyai Demang sambil menahan diri untuk melangkah maju. Gerak satu langkah maju, menjadi berada di tempat, dan gerak mundur tetap mundur. Berarti kalau maju selangkah kembali, tetap berada di tempatnya.
Berarti bertahan.
Baru kemudian berganti dengan memainkan jurus Lintang Tagih yang lebih dingin dan bertahan sifatnya. Pukulan tangan tetap ganas, akan tetapi tidak mendesak.
Sebelum lawan-lawan sadar, Nyai Demang telah mengganti atau meneruskan dengan jurus Lintang Lumbung, dengan kuda-kuda yang makin kokoh maju ke tiga penjuru. Galih Kaliki yang mundur pertama, sementara Wilanda memang tak bisa bertahan adu kuat. Gendhuk Tri mencoba menangkis dengan selendangnya yang bertenaga besar.
Nyai Demang menggertak dengan jurus Lintang Jaran. Sesuai dengan sifatnya bagai gelombang, tenaga dalam Nyai Demang mulai menggulung, menguasai, dan mencoba mempermainkan tenaga lawan. Dengan segera disusul jurus Banyak Angrem, serta jurus keenam yang disebut Lintang Gotong Mayit. Dengan gebrakan keras, Nyai Demang merenggut ketiga lawannya, siap merontokkan anggota tubuh lawan yang bisa tersenggol.
Berbeda dari jurus kedua, ketiga, keempat, dan kelima, jurus keenam ini dimainkan agak lama, bahkan lebih lama dari jurus pertama!
Seakan Nyai Demang yakin bisa mengalahkan dengan enam jurus!
Sebenarnya tidak persis begitu.
Gendhuk Tri mengetahui kehebatan Dua Belas Jurus Nujum Bintang yang dimainkan Nyai Demang. Galih Kaliki pun meski barangkali tidak mengetahui nama-nama secara persis, akan tetapi cukup maklum. Apalagi Wilanda yang sejak kanak-kanak mengenai ajaran jurus-jurus tersebut.
Bahwa dasar-dasar serangan Dua Belas Jurus Nujum Bintang sudah diketahui, memang bukan rahasia lagi. Akan tetapi berbeda dari tokoh yang lain, Nyai Demang bisa memainkan dengan tepat!
Bahkan tenaganya seperti berlipat!
Rasanya agak mustahil bahwa Nyai Demang bisa menindih ketiga lawan yang masing-masing sepadan dengannya, dengan ilmu yang sama-sama dikuasai.
Upasara yang berada di luar lingkaran jadi gemetar.
Ada keinginan yang dorong-mendorong dalam tubuhnya. Antara turut terlibat dan surut.
Ini lebih merupakan pergumulan batin.
Karena walaupun secara tenaga Upasara tidak memiliki kekuatan yang berarti, akan tetapi jalan pikirannya masih awas dan cerdik.
Upasara dapat membaca kenapa Nyai Demang bisa menindih lawan-lawan tarungnya.
Jurus-jurus yang dimainkan Nyai Demang adalah jurus-jurus yang diciptakan oleh seorang maha empu yang luas pengetahuannya. Nama-nama jurus yang diberikan adalah gambaran adanya bintang di langit. Disebut Lintang Lumbung, karena gugusan bintang ini biasa terlihat agak di tengah, makanya pusat kekuatan berada di akar, atau kaki. Gugusan bintang itu membentuk lumbung atau tempat menyimpan padi. Kekuatan utama adalah kekuatan akar yang sedang tumbuh. Penuh tenaga tapi tak terlihat!
Demikian juga jurus keempat yang disebut jurus Lintang Jaran atau Bintang Kuda. Karena gugusan bintang di langit itu memberi gambaran bentuk kuda. Biasanya gugusan ini terlihat di sebelah utara!
Tapi yang lebih luar biasa adalah cara pengaturan tenaga yang dipamerkan Nyai Demang.
Inilah yang tak dimengerti oleh Galih Kaliki, Gendhuk Tri, barangkali juga Wilanda.
Nyai Demang bisa menangkap intisari Dua Belas Jurus Nujum Bintang dengan tepat.
Seperti diketahui bintang-bintang yang membentuk gambaran tertentu itu tidak setiap saat bisa dilihat. Hanya pada bulan-bulan tertentu.
Lintang Sapi Gumarang bisa terlihat di arah utara dan selatan, akan tetapi hanya pada musim pertama atau bulan pertama atau juga disebut Kasa.
Memahami ini saja tidak cukup. Diperlukan pengertian yang lain, yaitu umur masing-masing musim. Bahwa semua dua belas bulan yang berarti satu tahun, akan tetapi tidak dengan sendirinya usia masing-masing musim adalah 30 atau 31 hari.
Di sini kelebihan Nyai Demang.
Nyai Demang tahu pada musim pertama yang disebut Kasa berusia 41 hari. Ini berarti serangannya lebih lama dibiarkan mengalir dibandingkan memainkan jurus kedua, ketiga, dan keempat yang disebut musim Karo, Katiga, Kapat, yang umurnya masing-masing 23, 24, dan 25 hari. Panjang atau pendek usia hari setiap musim mempengaruhi lama atau sebentar memainkan jurus-jurus tersebut.
Sehingga sampai jurus kelima, seakan pada jurus berikutnya Nyai Demang sudah kelihatan memetik hasil kemenangan. Padahal sebenarnya dalam jurus keenam yang disebut jurus Lintang Gotong Mayit, atau Bintang Menggotong Mayat, terjadi pada musim keenam. Bintang ini terlihat disebelah barat. Itu adalah saat petani memetik buah-buahan, memperoleh manfaat. Musim Kanem atau keenam ini dalam perhitungan berusia 43 hari.
Seperti juga musim ketujuh dalam jurus Lintang Bima Sekti, atau jurus Bintang Bima Sakti yang biasa terlihat di barat! Jika dihitung bulan ketujuh ini usianya 43 hari juga. Berarti serangan yang dilancarkan mempunyai waktu yang sama.
Namun demikian tetap ada bedanya.
Walaupun sama-sama tenaga barat, karena memang secara perhitungan bintang itu terlihat di sebelah barat, akan tetapi Lintang Gotong Mayit terletak di sebelah barat arah selatan. Sedang pada jurus berikutnya yaitu jurus Lintang Bima Sekti, meskipun sama-sama di barat, akan tetapi kedudukannya tidak persis di arah selatan. Sudah sedikit menggeser ke utara.
Pergeseran ini hanya mungkin diketahui oleh mereka yang mempelajari ilmu letak dan atau kedudukan bintang. Pergeseran yang sedikit inilah yang menentukan.
Seperti juga nanti pada jurus kedua belas yang disebut dengan jurus Lintang Tagih, yang sama dengan jurus kedua. Hanya pengerahan tenaga dan arah sasarannya serta lamanya memainkan berbeda. Karena Lintang Tagih yang dimainkan di jurus kedua hanya berusia 23 hari, sementara Lintang Tagih pada jurus kedua belas, sesuai dengan musim kedua belas atau Saddha, berusia 41 hari, arahnya pojok selatan! Kedudukan paling selatan, pantog selatan!
Dengan mengerti posisi bintang, umur bulan ketika bulan terlihat, pengaturan tenaga bisa sempurna. Memberikan hasil yang terbaik.
Dari sini ini, bisa dimengerti bahwa meskipun sama-sama mempelajari, Nyai Demang kelihatan unggul mencolok. Gerakannya bisa mengolok-olok. Dengan jurus yang sama!
Mengingat ini semua Upasara merasa cemas. Belum seluruh jurus Bintang dimainkan, sudah jatuh korban. Bisa ketiga-tiganya. Padahal jelas, Jaghana yang bisa menelanjangi cara-cara Nyai Demang masih tertengger di dahan.
Tak bisa diharapkan terjun ke medan pertarungan.
Tinarbuka
BAGIAN terpenting dalam mempelajari ilmu silat ialah ketika mencoba memahami tenaga sesungguhnya di balik setiap gerakan.
Bahwa sesungguhnya, gerakan dalam bersilat hanyalah pantulan dari suatu tenaga yang diatur. Baik dengan cara mengatur napas, maupun cara yang lain.
Seorang jago silat bisa saja melatih cara memukul, dan makin lama makin keras pukulannya karena latihan-latihannya makin berat dan ia sendiri giat. Akan tetapi tetap saja arti pukulan itu hanya keras. Hanya wadag atau bersifat lahiriah.
Akan tetapi bila betul-betul memahami asal mula tenaga, pukulannya tetap bertenaga, walau hanya digerakkan secara sederhana. Gerakan jari tangan bisa lebih membahayakan dibandingkan dengan jotosan keras. Seorang yang kelihatan tua dan loyo, bisa menjadi lebih jago dari seseorang yang kelihatan berotot sempurna.
Hal semacam ini mudah dipahami.
Hampir semua pendekar mendengar ini sebagai ajaran pertama kali.
Yang berbeda ialah cara pendekatan untuk mempelajari ilmu silat tersebut. Gerakan tangan, kaki, meloncat, bergulung memang bisa dipelajari dan kemudian dilatih. Akan tetapi, tetap saja seratus murid yang mempelajari, seratus tingkatan yang ada.
Bagi Upasara pendekatan itu bisa diresapi.
Selama dua puluh tahun sejak lahir pertama kali, Upasara sudah dimasukkan ke dalam Ksatria Pingitan, suatu tempat yang memingit, untuk menyendirikan, agar besoknya bisa menjadi ksatria yang tangguh.
Baginda Raja Sri Kertanegara mendirikan Ksatria Pingitan, karena berharap suatu ketika akan muncul ksatria-ksatria yang tangguh dan berbudi, yang membawa kebesaran nama Singasari, yang bisa menjaga ketenteraman, yang bisa mengalahkan kejahatan.
Gagasan luhur Sri Kertanegara ini dimulai dari bayi-bayi yang baru lahir.
Sejak masih menetek, sudah langsung digembleng. Dikenalkan dengan cara bernapas. Sebelum bisa berjalan, sudah bisa menghindar. Dalam tangisnya pun, bisa menolak sesuatu yang tak disukai.
Pendirian Ksatria Pingitan ini dulu diasuh langsung oleh Ngabehi Pandu, yang sekaligus guru tunggal Upasara Wulung.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika sejak masih bayi sudah dilatih oleh seorang tokoh yang memang sudah kelas utama pada masanya. Akan tetapi, juga terlihat bukti yang nyata.
Sama-sama dilatih sejak bayi oleh guru yang sama, di antara Ksatria Pingitan tetap ada yang lebih unggul, dan ada yang kalah. Ada yang menonjol, dan ada yang biasa-biasa saja.
Upasara menyadari, bahwa ucapan-ucapan almarhum gurunya baru bisa disadari belum lama.
“Upasara, kamu lihat sendiri.
“Begitu banyak yang kulatih sejak sebelum bisa apa-apa, dengan cara dan perhatian yang sama, akan tetapi hasilnya berbeda.
“Kamu tak bisa bangga, karena bukan kamu yang terbaik.
“Kamu ini baru pada tingkat yang tidak membuat saya malu melihat diri saya sendiri karena tak becus mengangkatmu.
“Ketahuilah, Upasara, bahwa sesungguhnya ilmu kanuragan, atau silat, yang kita pelajari bersama ini hanyalah kuku hitam. Kuku hitam ini perpanjangan dari kuku putih. Kuku putih ini hanya perpanjangan dari tangan dan kaki. Kaki bagian dari tubuh, dan tubuh tak bisa berdiri tanpa kepala, tanpa leher.
“Kanuragan hanyalah yang bisa terlihat dari sesuatu yang lebih besar. “Itu sebabnya aku mendidikmu menjadi ksatria, bukan menjadi jago silat.
“Dalam mempelajari ilmu kanuragan, kamu bisa menjajal, melatih dengan tekun. Bisa mengikuti petunjuk-petunjuk yang kuberikan. Tinggal menirukan.
“Akan tetapi itu hanya mempelajari kulit luarnya saja.
“Seumpama padi, itu hanya sekam saja.
“Seumpama manusia, itu hanya kuku hitam saja.
“Yang paling wigati adalah kamu menemukan sendiri. Kenapa kaki harus bergerak ke kiri atau ke kanan, ke samping, ke depan, ke belakang, tertekuk, lurus atau tetap berada di tempat.
“Tentu saja aku bisa mengatakan kenapa begini atau begitu yang berhubungan dengan gerakan itu. Dan kamu bisa menghafalkan serta melatih.
“Tetapi itu semua nantinya hanya akan menempel.”
“Jadi, bagaimana sebenarnya?”
“Temukan sendiri, anak bandel!”
“Bagaimana saya bisa menemukan, kalau Guru tidak bersedia mengajari?”
“Upasara, kamu dibesarkan dengan padi yang ditanam para petani.
Kamu dihidupi Keraton Singasari. Jadi kamu harus berbakti pada Keraton. Harus membela tanah di mana kakimu menginjak.”
“Guru, yang begitu sudah ribuan kali saya dengar.”
“Anak bandel.
“Siapa menyuruhmu mendengarkan?
“Pergi jauh sana. Lihat sendiri!
“Itu jawabannya.”
Upasara tak memahami sepenuhnya. Ia hanya lebih mengetahui bahwa untuk memakan nasi satu suap ke dalam mulutnya, diperlukan keringat yang menetes deras. Sejak memilih tanah, mengolah, menunggui, menanam, menjaga dari serangan tikus, menuai, memisahkan gabah, menyimpan, mencuci, merendam dalam air, dan memasaknya.
Baru kemudian bisa lebih mengerti sedikit-sedikit.
Bahwa dengan ikut menanam padi, Upasara tak akan pernah melupakan itu semua. Bahwa dengan menyelami, ia berada di tengahnya, dan bisa menemukan apa yang dikatakan Ngabehi Pandu, maupun yang tidak dikatakan.
Ini salah satu cara Ngabehi Pandu mengajar murid-muridnya.
Kemudian secara perlahan, Upasara bisa memahami gerakan-gerakan ilmu yang secara khusus diciptakan untuknya, yaitu jurus-jurus Banteng Ketaton, atau jurus-jurus Banteng Terluka. Bisa lebih menghayati.
Karena telah lebur di dalam proses pencarian.
Tak jauh berbeda dari yang terjadi pada Nyai Demang sekarang ini!
Letak dan posisi bintang pada waktu-waktu tertentu bisa dipelajari. Jumlah hari dalam setiap musim bisa dihafalkan, bisa dimengerti. Akan tetapi untuk memahami secara penuh, tak bisa hanya sekadar hafalan dan latihan belaka.
Tanpa keterbukaan hati, tak mungkin hubungan antara umur hari dalam setiap musim bisa dipahami dengan sempurna.
Kesimpulan yang diperoleh hanya bisa jika batin telah tinarbuka, telah terbuka.
“Hanya yang terbuka yang bisa dimasuki. Hanya yang kosong yang bisa diisi, Upasara.
“Kalau kamu tidak menganggap dirimu kosong, masih perlu belajar, perlu mendengar, telingamu seperti tersumbat. Pada saat itu kamu tak mendengar suara apa-apa.
“Jadikan dirimu seperti batok kelapa yang membuka dan kosong, agar selalu bisa diisi.
“Batok kelapa tak bisa menyimpan air yang memenuhi tanpa membuangnya, tapi hati manusia bisa. Sebab ilmu itu disimpan tidak mengambil tempat, dibuang tidak menimbulkan suara.
“Ilmu Banteng Ketaton dengan mudah bisa kukatakan seperti banteng terluka. Ilmu itu memang kuperoleh dari melihat gerakan banteng yang terluka. Tapi mengatakan itu saja tak bisa membuat batinmu terbuka. Tapi membayangkan saja tak bisa membuat tinarbuka.
“Kamu akan mengerti sendiri suatu hari nanti, Upasara, ketika kamu berubah menjadi banteng yang terluka. Ketika batinmu menerima bahwa dirimu adalah banteng terluka.
“Aku percaya, kalau kamu mempunyai batin bersih, kamu akan bisa menerima pencerahan. Hanya yang tinarbuka yang bisa menerima pencerahan, cahaya cerah tapi tidak menyilaukan.
“Itulah sesungguhnya wahyu.”
Yang membuat Upasara terheran-heran ialah ternyata Nyai Demang seperti mendapat pencerahan itu, justru dalam keadaan “terus bergerak”.
Berbeda dari Jaghana maupun Wilanda, Nyai Demang sangat jarang nampak bermenung diri. Justru sebaliknya. Menggebrak ke sana kemari. Tetap berbeda dari Gendhuk Tri yang walaupun banyak geraknya, akan tetapi pada saat-saat tertentu semadi secara khusyuk.
Upasara Wulung memang tidak mengetahui perjalanan hidup Nyai Demang.
Tidak mengetahui persis apa yang terjadi beberapa waktu belakangan ini.
Nyai Demang telah terkuras habis seluruh kemampuannya sejak dijebloskan ke dalam kurungan bawah Keraton. Bahkan boleh dikatakan telah hancur terkena aji sirep Halayudha.
Berkat pertolongan tak langsung Dewa Maut, Nyai Demang bisa bangkit kembali.
Dan menemukan dirinya merasa bisa melihat terang, bisa menerima lebih lapang apa yang terjadi. Semua ingatannya bisa muncul seketika.
Seperti ketika menghadapi Kama Kangkam.
Bedanya sekarang yang dihadapi adalah saudara seperguruan.
Penolakan Sebagai Penerimaan
NAPAS Upasara memberat.
Keganasan Nyai Demang berlangsung di depan matanya. Yang menjadi korban adalah orang-orang yang dikasihi, dan juga mengasihinya. Orang-orang yang bersedia berkorban baginya.
Napas Upasara makin memberat.
Tarikan antara keinginan untuk campur tangan berperang dan tekadnya untuk mengundurkan diri dari gelanggang persilatan.
Pertarungan itu sebenarnya telah terselesaikan ketika ia memutuskan untuk memusnahkan semua ilmu silatnya! Pada saat itu telah bulat tekadnya.
Bahwa satu-satunya jalan keluar dari kesesakan pikirnya ialah dengan membuang segala yang dimiliki.
Karena segalanya telah menjadi memberati. Orang tua angkat yang tak ikut sangkut-paut dengannya, Pak Toikromo, terseret ke dalam penderitaan. Hanya karena menjadi orang tua angkat.
Gayatri, permaisuri terkasih yang paling dicintai Baginda Raja, sampai tersuruk-suruk ke dalam hutan dan diculik. Hanya karena hubungannya dulu dengan dirinya.
Sementara ketenteraman Perguruan Awan menjadi genangan darah atas korban-korban tanpa dosa.
Saat itu Upasara merasa bahwa jalan yang ditempuhnya keliru. Lebih mengundang kepada kesengsaraan. Dan itu dialami oleh orang-orang yang dikasihi maupun mengasihi, juga orang-orang yang iri dan membencinya.
Kalau beban itu memberatkan dirinya sendiri, Upasara bisa menanggung.
Seperti juga ketika berusaha memahami Bantala Parwa secara utuh. Kidungan demi kidungan diselami. Dua Belas Jurus Nujum Bintang, serta Delapan Jurus Penolak Bumi.
Sejak mengasingkan diri di Perguruan Awan, siang-malam Upasara berlatih tanpa henti. Menjajal apa yang baru dilatih bersama dengan Jaghana, Wilanda, Galih Kaliki, serta Gendhuk Tri. Kadang Nyai Demang memang nimbrung untuk membacakan kidungan dan berlatih sekadarnya.
Semakin Upasara mempelajari, semakin hebat tenaga pukulannya, dan semakin Jaghana tak bisa bertahan. Wilanda yang paling unggul ilmu meringankan tubuhnya, bahkan bisa ditandingi loncatannya.
Namun kesemuanya itu membuatnya tersiksa. Bukan karena apa, akan tetapi semakin lama semakin terdorong untuk mempelajari. Membaca dari awal sampai akhir, diloncati, diteliti lagi, dipelajari lagi, dijajal, dan seperti terus dikejar-kejar.
Makin tenggelam Upasara mempelajari Kitab Bumi, makin terbakar seluruh keinginannya. Makin ingin terus menyelam, dan makin menemukan hasilnya. Sehingga ia tak bisa berlatih bersama-sama dengan yang lainnya.
Bahkan racun dalam tubuh Gendhuk Tri membuatnya merasa berubah. Upasara menjajal dengan cakaran Gendhuk Tri yang saat itu masih dipenuhi racun paling kuat. Hanya kulitnya yang tergores, menjadi hitam karena racun, akan tetapi tak lama kemudian darah hitam itu tumpah ke rumput.
Upasara makin terseret dalam latihannya.
Sendirian mengulak-alik mempelajari. Tanpa kenal istirahat, baik siang maupun malam. Baik dalam keadaan tertidur maupun sambil makan.
Semua tegur dan sapa dijawab sekenanya.
Ketika itulah Jaghana merasa bahwa ada sesuatu yang menguasai Upasara. Kehausan akan ilmu yang ingin ditelan seluruhnya. Yang sekaligus membuatnya kesepian karena tidak ada lawan latih.
Saat itu Dewa Maut berkelana keluar dari Perguruan Awan. Karena pada dasarnya tidak bisa dan tidak tahu rahasia. Dewa Maut bercerita bahwa sekarang Upasara Wulung sedang dalam keadaan yang menentukan. Berhasil mempelajari Kitab Bumi atau menjadi gila.
Memang aneh.
Dewa Maut yang selama ini dianggap kurang waras justru bisa menilai Upasara yang kurang waras.
Berita dari Dewa Maut ini menyebar, dan kemudian membuat Baginda Raja memutuskan saat yang tepat untuk memaksa Upasara!
Dengan berbagai cara. Seperti mengumpankan permaisurinya sendiri.
Seperti Senopati Nambi, juga memakai cara-cara sendiri!
Upasara seperti tersadar ketika ia terbangun suatu pagi setelah sekian lama mempelajari Kitab Bumi.
Masih diingat jelas. Saat itu ia terbangun dan melihat suatu pemandangan yang sangat indah. Luar biasa indah.
Cahaya matahari pagi yang masih tidak menyilaukan, embun-embun yang masih menggantung, sementara udara bau tanah, dan angin begitu ramah.
Tiba-tiba Upasara melihat bahwa keindahan yang sempurna ini telah dilalaikan ketika tenggelam dalam berbagai kidungan yang ternyata masih banyak bagian yang tak bisa terpahami sempurna. Dengan menguras seluruh kemampuannya pun ternyata tak membuatnya tenteram.
Upasara menebus kealpaan dengan membuang semua ilmu silatnya.
Bukan hanya tak sempat menikmati anugerah alam, akan tetapi Kitab Bumi telah membawa kepada suatu titik buntu, di mana ia justru menjadi penyebab penderitaan.
Siapa sangka sekarang ini pun tetap menjadi beban.
Kata-kata Nyai Demang membuat telinganya panas. Namun masih bisa ditahan. Upasara tak ingin terseret untuk mempelajari ilmu silat yang melemparkan ke jalan lebar, luas, tapi akhirnya buntu.
Namun sesungguhnya sekarang ini lebih membuatnya getun, sedih, dan menyesal.
Betapa tidak, kalau ia tak bisa berbuat apa-apa, ketika ia seharusnya bisa melakukan sesuatu.
Nyai Demang sendiri makin gencar mendesak.
Perhitungan Upasara benar!
Ketika sampai jurus kedua belas dan memainkan Lintang Tagih, Gendhuk Tri terjebak.
Lintang Tagih yang dimainkan Nyai Demang adalah jurus kedua belas yang namanya sama dengan jurus kedua. Lama penyerangannya juga sama. Hanya sifatnya yang berbeda.
Jurus terakhir dari Dua Belas Jurus Nujum Bintang ini mengunci semua jurus yang telah dimainkan. Kekuatan musim Saddha adalah kekuatan yang mencampur antara panas dan dingin. Antara menyerang dan bertahan. Kekuatan ketika daun-daun rontok dari pohon. Pohon masih berdiri, akan tetapi sesungguhnya telah mati. Pada musim yang sesungguhnya, ini hanya berarti pergantian daun. Akan tetapi dimainkan dengan tenaga dalam, ini benar-benar berarti kematian.
Upasara menggenggam tangannya keras-keras.
Gendhuk Tri masuk dalam pusaran tenaga Nyai Demang. Sia-sia sewaktu mencoba melepaskan diri. Ujung selendangnya bisa tertangkap Nyai Demang.
Dengan satu kedutan keras, dengan tenaga sendal pancing, seperti menyendal pancing yang termakan ikan, tenaga maju-mundur-maju Nyai Demang tersalur.
Gendhuk Tri mengeluarkan jerit kesakitan.
Selendangnya terlepas dari tubuhnya. Badannya terputar di angkasa, dan jatuh terlempar di mana Jaghana berada di atas pohon!
“Nyaiiiii!”
Alih-alih dari meneriakkan nama Gendhuk Tri, Galih Kaliki malah memanggil nama Nyai Demang.
Wilanda yang berada di kejauhan, menghela napas.
Begitu melihat Gendhuk Tri terlempar tepat ke arah Jaghana dan tak kelihatan jatuh ke tanah, Wilanda menghela napas.
Wajahnya mendongak ke angkasa.
“Nyai Demang, dalam kidungan Kitab Bumi dimulai dengan penolakan sebagai penerimaan. Semua dimulai dengan tiada. Jadi untuk apa takut menjadi sirna?
“Jangan salahkan dirimu, kalau aku berlaku kasar.”
Wilanda menotolkan kakinya, melesat ke angkasa.
Langsung menendang Nyai Demang dengan kedua kaki.
Nyai Demang hanya tertawa dingin. Kedua kakinya tertekuk, sehingga tubuhnya merendah. Punggungnya rata dengan tanah, tapi sekaligus berputar!
Injakan kaki Wilanda diterima dengan tangan terbuka, dan tubuh Wilanda terseret dalam putaran. Dengan tenaga maju-mundur-maju, tubuh Wilanda terputar lebih tinggi.
Ke arah di mana Jaghana dan Gendhuk Tri terbuang!
“Nyai, kamu kejam.”
Bagai kesetanan Galih Kaliki menubruk Nyai Demang. Serangan tunggal ke arah pinggang lawan untuk ditekuk dan dilipat habis. Terlihat sekali bahwa Galih Kaliki tak mempunyai rasa sungkan sama sekali.
Jaghana, Gendhuk Tri, serta Wilanda, bagi pikirannya yang polos cukup memberikan bukti bahwa Nyai Demang yang dipuja menjadi telengas.
Nyai Demang kaget.
Tak mengira bakal ditubruk dengan cara seperti itu.
Dalam kagetnya Nyai Demang memainkan jurus kedelapan yang disebut Lintang Wulanjar, atau gugusan bintang yang terlihat seperti janda muda belum mempunyai anak. Seperti tenaga petir tanpa hujan, tenaga terbagi rata. Kekuatan daun dan akar sama.
Galih Kaliki seperti berhasil memeluk tapi tak bisa mengerahkan tenaga. Tahu-tahu merasa ulu hatinya membeku.
Masih Ada Purnama
GALIH KALIKI bahkan tidak menduga telah kena sodok.
Sewaktu memeluk tubuh yang kosong, Galih Kaliki menduga bahwa Nyai Demang meloncat tinggi, atau menggelesot. Kalau masih berada di tempatnya, berarti memainkan tenaga dalam. Diperlukan satu jurus untuk dipakai menyerang.
Perhitungan Galih Kaliki tepat.
Tapi juga meleset.
Karena tidak memperhitungkan bahwa dalam sekejap jurus Lintang Wulanjar bisa bersambung ke jurus Lintang Wuluh, yang merupakan jurus kesembilan.
Lintang Wuluh juga disebut Lintang Puyuh, atau salah kaprahnya disebut Bintang Kartika. Pengerahan tenaga musim Kasangan atau Kesembilan ialah mempergunakan tenaga seperti ketika jengkerik berderik. Tenaga dingin. Serangan ini kena sekali untuk membarengi serangan lawan yang makin berbunga atau makin bernafsu. Semakin besar tenaga lawan terisap dalam perangkap Lintang Wulanjar semakin besar kemungkinan dada atau perut terkena sebagai sasaran. Karena serangan jurus Lintang Wuluh terutama sekali hanya mengarah ke dada atau perut.
Siku Nyai Demang berfungsi sebagai sayap jengkerik.
Kena serangan secara telak ulu hatinya, biar bagaimana jagonya, seperti dihentikan pusat pengerahan tenaganya. Galih Kaliki menjadi limbung.
Dan terjerembap kaku.
Matanya mendelik.
Pandangannya nanar.
Untuk pertama kalinya, Nyai Demang melihat bahwa Galih Kaliki bisa memandang ke arahnya penuh dendam! Pandangan yang membuat Nyai Demang tergetar. Itulah pandangan lelaki jantan, yang bisa membuatnya tertarik. Bukan pandangan lelaki merunduk seperti pak turut.
Dipandang mesra oleh Nyai Demang, Galih Kaliki jadi serbasalah.
Serbasalah karena tak bisa menjawab dengan senyuman. Rasanya untuk bernapas pun susah.
Akan tetapi jika saat itu dirinya mati, Galih Kaliki akan mati dengan bahagia!
Namun hati kecilnya ciut juga.
Semua lawan berhasil dirontokkan oleh Nyai Demang. Tinggal Upasara Wulung yang mendadak meraih tongkat galih asam. Hanya saja karena tenaga yang tertinggal adalah tenaga orang biasa, tongkat terlalu berat.
Bahkan untuk mengangkat saja tak bisa sempurna.
Apalagi untuk memainkan.
Nyai Demang menggerakkan kedua tangannya. Membuka ke arah samping, tubuhnya bergeser dengan langkah berat.
Tanpa memakai jurus tertentu pun, Upasara bisa dihajar habis-habisan.
Dalam keadaan tak berdaya, Galih Kaliki berharap bahwa tiba-tiba muncul seorang tokoh—siapa saja—yang bisa menunda penyerangan. Akan tetapi itu harapan yang diada-adakan. Karena letak Perguruan Awan jauh di tengah hutan, sehingga kalau ada seseorang yang datang, sejak tadi juga sudah bisa diketahui.
Atau setidaknya Jaghana atau Gendhuk Tri masih bisa melorot turun— entah bagaimana caranya.
Galih Kaliki mendesis.
Tak ada yang menghalangi Nyai Demang.
Berdiri berhadapan langsung.
Upasara Wulung berdiri gagah. Memegangi tongkat yang tak bisa diangkat dari tanah.
“Mbakyu Demang, terima kasih dan puji syukur saya ucapkan. Sungguh tak ternilai cara Mbakyu Demang menggugah hati yang sudah mati ini.”
“Hmmmmm.”
Upasara mendongak, ke arah pepohonan.
“Paman Jaghana, Paman Wilanda… silakan turun.
“Usaha Paman sekalian, apakah mempunyai arti kalau bahkan untuk menggerakkan tongkat ini saja saya tak mampu?”
Galih Kaliki melongo.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa Upasara berkata seperti itu?
Kenapa Nyai Demang jadi termangu?
Galih Kaliki terlalu polos. Ia tak tahu bahwa sejak kepulangannya kembali ke Perguruan Awan, Nyai Demang merasa menemukan jalan keluar untuk menggugah Upasara Wulung. Memang Nyai Demang sudah menyebut-nyebut rencana itu di depan Galih Kaliki. Tapi mana mungkin Galih Kaliki bisa mengerti dan menangkap cara-caranya?
Dibandingkan dengan Nyai Demang, Galih Kaliki lebih mirip anak kecil yang berdiri telanjang.
Galih Kaliki lebih heran melihat ketiga bayangan turun ke tanah. Jaghana masih gagah, Wilanda sedikit terpincang, dan Gendhuk Tri langsung menubruk Upasara sambil menangis.
Galih Kaliki ingin berteriak, akan tetapi ulu hatinya masih sakit setiap ia membuat gerakan sedikit saja.
“Apa yang Paman-paman, Adik, dan Mbakyu harapkan dari seorang seperti saya?
“Rembulan masih akan bersinar, masih bisa purnama. Kita tak akan terlambat menikmati. Tetapi apakah yang bisa diharapkan dari seorang buta untuk bisa menikmatinya?”
Suara Upasara mengandung keputusasaan yang dalam.
Menenggelamkan suasana.
Nyai Demang menghela napas.
Menunduk dan meraba dada Galih Kaliki.
Meskipun kini bisa bergerak agak leluasa, Galih Kaliki tetap belum mengerti. Dan juga tak akan cepat mengerti.
Bahkan Jaghana yang paling arif pun tadinya tidak menduga bahwa semua tadi akal Nyai Demang! Akal Nyai Demang untuk membangkitkan Upasara Wulung kembali ke dunia persilatan.
Sewaktu menyerang dengan menggulung diri tadi, Jaghana mencelos karena terjebak dan kalah. Akan tetapi waktu merasakan denyutan tenaga dalam maju-mundur-maju Nyai Demang, Jaghana merasa bahwa Nyai Demang tidak sepenuhnya menyerang habis-habisan. Apalagi ketika tubuhnya terlontar, Jaghana merasa bahwa tenaga lontaran Nyai Demang sama sekali tidak mengandung membinasakan.
Makanya ketika “dijatuhkan” di atas pohon, Jaghana tak segera turun. Mulai bisa membaca maksud tertentu Nyai Demang. Hal yang sama juga dirasakan Wilanda.
Wilanda segera bisa mengetahui, karena Jaghana terlempar ke pohon dan tidak segera turun. Dalam keadaan yang paling menderita pun, Jaghana tak akan begitu saja tersampir di rerimbunan dahan! Maka Wilanda mengambil sikap yang sama.
Sebelum menyerang ia justru meneriakkan, memberi peringatan agar Nyai Demang jangan ragu menghajarnya. Dengan harapan agar Upasara tidak mengetahui sandiwara ini.
Dan memang Nyai Demang benar-benar melontarkan.
Begitu sampai di pohon, Jaghana segera menangkap dan mengamankan.
Gendhuk Tri memang tak mengetahui. Ia benar-benar terlempar, dan Jaghana telah bersiap untuk mendekap. Agar Gendhuk Tri tidak segera turun. Karena ini berarti mengacaukan rencana.
Yang paling parah memang Galih Kaliki.
Ia menyerang dengan sungguh-sungguh, dan tubuhnya tidak dilemparkan ke atas, karena sifat serangan Galih Kaliki tidak dari udara.
Begitu sempurna rencana Nyai Demang. Justru karena Gendhuk Tri dan Galih Kaliki tidak bermain sandiwara.
Akan tetapi, toh Upasara mengetahuinya!
Berarti pandangannya masih tajam. Dan yang lebih membuat yang mendengarkan bahagia serta bersyukur ialah kenyataan bahwa Upasara sendiri berniat terjun kembali ke gelanggang.
Hanya saja, keadaannya memang benar-benar memelas.
Upasara mengumpamakan dirinya sebagai seorang buta yang diberi kesempatan kedua untuk melihat bulan purnama.
Inilah yang membuat tangis Gendhuk Tri meledak.
Galih Kaliki berdiri dan memandang bingung.
“Lho, jadi kita ini bagaimana, Nyai?”
Nyai Demang memandang dengan senyum kehampaan.
“Kakang, apakah kita harus tertawa atau menangis sekarang ini? Kakang yang paling jujur, mestinya bisa menjawab tepat.”
Galih Kaliki malah balik bertanya,
“Aku? Mana aku tahu?
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:41 pm

“Paman Jaghana gundul itu harusnya tahu.”
Jaghana mengembangkan senyumnya.
“Kita berusaha, bermain-main seperti anak-anak.
“Anakmas sudah mengetahui. Betapa malunya.
“Tetapi juga menyetujui. Betapa melegakan.
“Jadi seharusnya bagaimana?”
“Susah. Susah. Yang ditanya malah bertanya. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan Nyai Demang?
“Begini saja. Adimas Upasara, jadi bagaimana baiknya? Kita ini tertawa atau menangis?”
Upasara menyerahkan tongkat.
“Kakang lebih tahu.”
“Tidak.
“Aku tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Nyai Demang. Padahal aku ingin sekali bisa menjawab pertanyaannya.”
“Itulah jawabannya, Kakang.”
Suara Upasara tawar.
Kidungan Pambuka
SAMPAI menjelang senja, Upasara beberapa kali menjajal kembali.
Memang dengan mudah hafal gerakan-gerakan yang bisa dimainkan. Baik dari Dua Belas Jurus Nujum Bintang maupun Delapan Jurus Penolak Bumi. Ataupun jurus-jurusnya yang lama dalam Banteng Terluka.
Akan tetapi apa yang dipertunjukkan Upasara lebih menyayat hati.
Gerakannya sangat lamban dan tidak mempunyai tenaga sama sekali. Sebagai ksatria yang begitu menguasai, keadaan Upasara sangat mengenaskan. Gendhuk Tri memalingkan wajah ke arah lain. Rasanya tak tega melihat Upasara berusaha memaksa diri untuk berlatih. Nyai Demang sendiri agaknya tak mengira bahwa kondisi Upasara begitu lemah. Kalau persoalannya mengembalikan tenaga dalam, itu berani memerlukan latihan puluhan tahun. Bisa dimengerti kalau Upasara menjadi putus asa.
Sekarang terbukti walau itu ada, akan tetapi ternyata usaha pencapaiannya hampir mustahil.
Dan untuk Upasara jelas tak bisa dihibur dengan kata-kata kosong yang memberikan harapan. Upasara sadar akan keadaan tubuhnya.
Ketika malam datang, seluruh hutan Perguruan Awan menjadi sangat gelap. Seakan rembulan pun turut berkabung. Dan dalam gelap, yang terdengar hanyalah helaan napas Gendhuk Tri, Galih Kaliki, Wilanda, dan Upasara. Jaghana bersemadi sendirian, mengatur napasnya. Walaupun terguncang, akan tetapi Jaghana bisa segera mengatasi.
Nyai Demang tak tahu harus larut dalam kesedihan atau membebaskan diri. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mengidungkan, membaca kidungan.
Suaranya lirih, mengalunkan kidungan Tumbal Bantala Parwa dari bagian awal. Suaranya mendayu menyentuh angin malam:
Om, segala sembah dan puji menggapai ujung kaki
Dewa yang Maha dewa, tempat segala sembah dan bakti
inilah kidungan pambuka, kidung penyesalan
karma sesungguhnya kidungan ini tangisan
tanpa air mata, jeritan tanpa suara, keluhan tanpa guna
inilah kidung Tumbal Bantala Parwa
sebagian akhir dari segala mula
bagian penolak Bantala Parwa
karena kidungan utama itu
telah mengalirkan banyak darah
mengalahkan derasnya air sungai
menundukkan gelisah pantai
Beginilah bunyi pambuka
bahwa kalau ada bumi, ada langit
ada tanah, ada air
ada siang ada malam
ada Bantala Parwa
ada Tumbal Bantala Parwa
om, segala sembah dan puji
ada tanah kalah oleh air
itulah tanah tumbal
ada air kalah oleh tanah
itulah air tumbal
ada siang berganti malam
itulah siang tumbal
demikianlah kidung pambuka
berakhir ketika dimulai
sebab ia akan diawali dengan penolakan
sebab ia akan diakhiri dengan tiada
kidungkan kala tanah Jawa berduka
kidungkan kala rembulan sirna
agar sempurna…
Suara Nyai Demang terus mengalun tenang, bersambung dengan bagian di mana ditembangkan garuda kalah oleh prenjak, dan seterusnya. Lalu mulai dengan Delapan Jurus Penolak Bumi, dimulai dengan Manik Maya Sirna Lala, disambung kidungan kedua Sri Saddhana, dan berturut-turut Sekar Sinom, Glagah Kabungan, Kawula Katuban Bala, Sigar Penjalin, Asu Angelak, serta kidungan terakhir Singa Meta.
Lalu ditutup dengan:
Kidungan telah selesai, tanpa penutup
sebab penulisnya tidak mampu menebus
kesalahan dunia sampai nirwana
kekeliruan penulisan lalu dan kini
hanya memperpanjang dosa
sesungguhnya, inilah kebodohan itu
kehinaan yang tiada tepi
o, kidungan Tumbal Bantala Parwa
rembulan tak juga purnama
sedangkan duka dan luka
menjadi sempurna
yang sirna segalanya
kecuali menyembah tanah dan air
langit dan bumi
siang dan malam
bersatu dalam kidungan
bersatu dalam penolakan
kidung penolakan
penolakan kidungan…
Nyai Demang mencoba mengulang dari depan, akan tetapi tenaganya seperti lenyap. Antara sadar dan tidak, Nyai Demang masih mendengar desir angin. Sampai akhirnya ia terhanyut dalam lelap, larut dalam keletihan.
Ketika terbangun kembali, sinar surya hangat menyapa Nyai Demang. Galih Kaliki masih berada di tempatnya, seperti juga yang lain.
Kecuali Upasara Wulung yang melihat semburan sinar matahari, berdampingan dengan Jaghana dan Wilanda.
“Sudahlah, Anakmas, semalaman Anakmas hanya menunggu sinar matahari. Sekarang telah datang.”
Upasara menghela napas panjang.
“Kidungan Mbakyu Demang membuat saya bertanya-tanya kembali. Apa sesungguhnya yang dimaksudkan dalam pambuka itu? Apa yang diharapkan oleh empu yang sakti dengan menuliskan kitab pusaka itu? Kalau ingin menolak sesuatu, kenapa justru dituliskan?”
“Kenapa Raden jadikan pikiran?” Suara Wilanda terdengar tetap menghormat dan merendah. “Kenapa Raden Mas pikirkan terlalu dalam untuk mempelajari ilmu kanuragan lagi?”
“Paman, sesungguhnya sejak semula saya masih bingung. Masih belum bisa mengerti. Ada saat di mana saya merasa mengerti, dan mendapat pencerahan. Dengan melepaskan semua tenaga dalam yang ada. Itulah jalan keluar terbaik bagi saya.
“Akan tetapi ternyata ini tidak menyelesaikan perkara. Bahkan menjadi lebih membingungkan.
“Setiap kali saya mendengar kidungan, setiap kali pula saya berubah pendapat.”
“Barangkali seharusnya begitu,” jawaban Jaghana terdengar sangat sederhana.
“Pesan Eyang Sepuh dahulu adalah Tepukan Satu Tangan terdengar lebih nyaring dari dua tangan. Berarti kamu akan selalu mendengar gemanya.
“Itulah yang bisa saya mengerti.
“Eyang Sepuh sendiri tak pernah menjelaskan tuntas. Apakah penolakan itu berarti kidungan, apakah kidungan itu berarti penolakan. Hanya yang bisa saya mengerti, kidungan Kitab Penolak Bumi adalah suatu penyesalan yang dalam, suatu kemurkaan yang tiada tara kepada ilmu kanuragan yang ada. Suatu pengemohan segala jenis ilmu silat, ilmu melatih pernapasan, sejak awal dan akhir, karena hanya akan memperpanjang dosa dan kesalahan.”
“Paman, kalau pencipta kitab pusaka itu menolak segala jenis ilmu silat, ilmu melatih napas, dan menganggap sebagai kehinaan, mengapa justru Kitab Penolak Bumi itu dituliskan?”
“Kalau saja jawaban itu tersedia, kitab itu tak akan dituliskan.”
“Paman, ajarkan padaku sejak awal.
“Katakan apa yang harus kulakukan. Mempelajari lagi jurus-jurus dan melatih pernapasan lalu terjun ke gelanggang? Atau hidup dengan cara seperti ini?”
“Apa yang diusahakan Nyai Demang nampaknya bisa saya mengerti.”
Upasara menghela napas.
“Tetapi sampai kapan saya mampu berdiri sendiri?”
“Dewa yang Maha dewa mengetahui jawabannya.”
“Saya tak bisa lagi mendengar. Terbitnya matahari tak lagi indah, dan tak lagi membuat gelisah atau bahagia.”
“Sekurangnya Anakmas telah mau mengatakan hal ini, dan tidak memendam dalam hati.”
“Paman, sembah bekti saya buat Paman berdua dan kepada saudara Perguruan Awan. Saya minta kerelaan Paman untuk pamit. Saya tak ingin pergi dengan diam-diam. Saya minta pamit.”
Kembali ke Kewajaran
UPASARA membalik.
Memandang Nyai Demang. Memandang Gendhuk Tri, Galih Kaliki, disertai helaan napas berat.
Lalu menunduk.
“Saya telah mengambil ketetapan hati untuk tetap mengayunkan langkah, mengikuti suara hati. Langit sangat luas. Ke mana pun, kita masih akan tetap menemukan sinar sang surya.”
Gendhuk Tri memandang dengan sorot mata bergetar.
“Kakang…”
“Adik manis, ada saat-saat kita bersama, ada saat kita berpisah. Kita pernah bersama-sama, pernah dipisahkan, akan tetapi akhirnya kita bisa berkumpul kembali.
“Siapa menyangka setelah terkurung di Gua Lawang Sewu, adik manis bisa bersama-sama lagi?
“Kakangmu ini tak ingin membebani dirimu, meskipun kamu tak merasa dibebani.
“Biar saja kakangmu ini berjalan sendirian. Mencari yang tak diketahui, menemukan yang tak dicari.”
Suara Upasara terdengar gemetar.
Jaghana bisa merasakan sepenuhnya. Upasara Wulung masih berada dalam usia pergolakan. Barangkali belum ada 23 tahun. Selama usianya yang pendek, telah mengalami banyak hal yang berbeda dari manusia umumnya. Selama dua puluh tahun terkurung dalam Ksatria Pingitan. Begitu keluar, langsung terjun ke dalam pergolakan. Pertarungan jago-jago kelas utama. Sampai mencapai puncaknya dengan kedatangan pasukan Tartar. Saat itu Upasara mulai berkenalan dengan Gayatri. Mulai terguncang kehidupannya sebagai lelaki. Akan tetapi perkenalan yang pendek itu harus segera diputus. Karena Gayatri adalah calon permaisuri Baginda Raja, yang menurut perhitungan serta ramalan di kelak kemudian hari keturunannya bakal menjadi raja yang ternama, raja yang menguasai lautan dan membawa kedamaian serta kebahagiaan. Sebagai ksatria, Upasara Wulung menemukan intisari ilmu yang paling dicari-cari. Yaitu Kitab Bumi.
Dalam perjalanan untuk menguasai, Upasara telah melepaskan kesemuanya.
Guncangan demi guncangan menggoyahkan batinnya.
Sungguh perjalanan hidup yang luar biasa.
Suatu cobaan yang menggertak.
“Adik manis, biarkan kakangmu ini melepas beban batin dari ketergantungan rasa kasihan.
“Kakangmu tahu keikhlasan hatimu yang suci, akan tetapi secara pribadi saya tak mau hidup dalam dunia seperti ini.”
Wilanda menunduk.
Kadang merasa bahwa Upasara berbicara seperti Ngabehi Pandu, akan tetapi juga bisa seperti pemuda yang polos.
“Mbakyu Demang… saya akan lebih bahagia jika Mbakyu tak merasa perlu melindungi saya secara diam-diam. Sebab selama saya masih belum merasa lepas dari beban, selama itu pula saya tak sanggup menatap sinar surya.”
“Adimas, kalau itu membahagiakanmu, saya tak akan menentangnya. “Hanya saja, maukah Adimas mengabulkan permintaan saya? Satu permintaan saja?”
Upasara tersenyum. Wajahnya bersih.
Seakan memancarkan sinar berseri.
“Tanpa Mbakyu Demang katakan, saya akan menghindari sungai yang dalam. Akan menyingkir dari harimau buas, dan kalau kepepet akan melawan sepenuh tenaga.
“Saya pergi tidak mencari mati. Sebab di mana pun, kematian bisa diundang.”
Apa yang dikuatirkan Nyai Demang ialah jika Upasara membiarkan jalan hidupnya berjalan begitu saja. Tanpa memedulikan bahaya. Itu sama saja dengan bunuh diri!
Jaminan Upasara membuatnya lega. Meskipun dalam keadaan seperti sekarang bagi Upasara sangat berat. Terlalu banyak bahaya yang tak bisa diatasi.
“Kakang Galih…”
“Cukup, cukup. Aku tak mau menangis.”
“Kenapa Kakang malu meneteskan air mata, kalau memang bisa dan perlu? Tangisan tidak membuat Kakang berkurang kejantanan. Tidak mengubah Kakang sebagai ksatria.”
“Bagus. Itu juga benar.
“Tapi mestinya aku yang memberi nasihat. Cuma aku tak tahu bagaimana bunyinya.”
“Saya berpikir bahwa tadinya saya akan menyingkir diam-diam. Menjauh dan secara diam-diam mempelajari ilmu kanuragan. Dan muncul kembali sebagai ksatria tanpa tanding, yang akan bisa menghancurkan segala kehinaan dan penindasan.
“Ah, saya masih mempunyai mimpi buruk semacam itu!
“Tetapi saya sadar. Kalau saya pergi diam-diam, Kakang akan mencari-cari.”
“Memang iya.”
“Dan kalau tidak bertemu, berharap saya menemukan gua penuh ilmu ajaib yang akan mengubah Upasara menjadi ksatria hebat lagi.”
“Lho, kamu kok tahu?”
“Saya tak ingin menemukan gambaran yang salah tentang diri saya. Saya mungkin pergi dan akan bertemu Kakang dalam keadaan seperti ini. Tanpa malu, tanpa risi. Saya ingin bisa bersikap wajar, apa adanya.
“Seperti juga sinar surya. Ada keindahan waktu pagi, ada panasnya siang hari. Kembali ke kewajaran.”
Galih Kaliki mengangguk.
“Saya mengerti sedikit.”
Upasara memandang hormat kepada Jaghana dan Wilanda. “Paman…”
“Kalau kewajaran adalah keikhlasan, mengapa harus dikatakan lagi?” Upasara mengangguk.
Menundukkan kepalanya kepada semua yang mengelilingi. “Saya minta pamit, Paman.
“Selamat tinggal, Mbakyu Demang, Kakang Galih, dan adikku yang manis.”
Tak ada yang memberi jawaban.
“Lho, perpisahannya ya sekarang ini?”
Galih Kaliki menelan ludah berkali-kali.
“Lalu kapan kita bertemu lagi?”
“Kapan-kapan kalau Dewa mempertemukan kita.”
“Di mana?”
“Di bawah langit atau di atas langit.”
“Maksudmu kalau kita sudah mati?
“Wah, ini repot. Ya kalau sukmaku mengenalimu. Kenapa tidak? Begini saja, kita mengadakan pertemuan di tempat ini pada saat seperti ini, entah kapan. Bagaimana?”
Meskipun kata-katanya serba ke sana kemari, akan tetapi desakan Galih Kaliki seperti mewakili yang lainnya.
“Itu juga baik, Kakang.”
“Lho, kamu mau pergi sekarang?”
Upasara menghormat.
“Ke mana?”
Upasara tersenyum, memberi hormat dengan menundukkan wajah kepada Jaghana, Wilanda, Nyai Demang, Gendhuk Tri, Galih Kaliki, dan kemudian melangkah menjauh.
Gendhuk Tri memakai selendangnya untuk menutupi wajahnya.
Pundaknya terguncang-guncang seirama dengan isakan.
Agak lama sepi menguasai.
Sampai bayangan Upasara lenyap di antara dedaunan.
“Marilah kita berjanji untuk tidak berusaha mencari Upasara dan melindunginya secara diam-diam. Pilihan ini yang terbaik baginya dan bagi kita semua.
“Maafkan kalau saya meminta kerelaan semua yang ada di sini, betapapun kita menginginkan hal itu.”
Wilanda yang lebih dulu mengangguk dalam-dalam.
“Berjalan mengikuti kehendak hati, melangkah mengikuti ke arah mata memandang, adalah perjalanan seorang ksatria yang sejati.
“Akan tetapi karena saya bukan ksatria sejati, dan langkah serta pandangan saya sempit, saya hanya mengenal dedaunan di sini.”
Dengan halus Jaghana mengisyaratkan bahwa sekarang tak perlu ada ganjalan lagi untuk menahan diri di Perguruan Awan. Hanya karena Jaghana “tidak mengenal tempat lain”, ia memilih tetap di Perguruan Awan.
“Apa ini berarti kita diusir, Nyai?”
“Kakang Galih, kapan Kakang bisa menahan diri untuk tidak berkata sembrono?”
Galih Kaliki menggaruk-garuk kepalanya.
“Wah, makin lama aku ini makin bodoh, Nyai.
“Baiklah, kalau begini caranya, lebih baik aku berdiam diri saja. Pokoknya aku akan mengikuti kamu, boleh atau tidak boleh. Ketemu atau tidak ketemu.
“Sudah, begitu saja.
“Itu kan lebih baik, Nyai. Iya?
“Soalnya aku ini tidak punya sanak, tidak punya saudara, dan tidak tahu harus bagaimana. Paman Jaghana bisa aman di sini. Gendhuk Tri bisa mencari Dewa Maut. Kamu bisa berkiprah ke mana saja. Paman Wilanda bisa berlatih diri di mana saja.
“Lha aku?
“Wah, aku salah lagi, Nyai? Kok kamu cemberut?”
Banjir Darah di Pinggir Sungai
APA yang dikatakan Galih Kaliki memang benar-benar terjadi.
Keesokan harinya, Jaghana mulai bersemadi kembali. Sementara Wilanda mencari tempat yang berbeda untuk menghilangkan kegelisahannya dengan mencoba berlatih pernapasan untuk mengembalikan tenaga dalam. Meskipun beberapa kali pemusatan pikiran gagal karena batinnya masih gelisah, Wilanda bersikeras untuk melupakan atau setidaknya menindih.
Seakan bisa menerima kewajaran Upasara yang meninggalkan Perguruan Awan.
Dan Gendhuk Tri menyatakan tekadnya untuk pergi ke Keraton.
“Paman Galih tahu sendiri. Dewa Maut itu miring ke kanan isi kepalanya. Jadi hanya orang yang isi kepalanya miring ke kiri yang bisa mengajaknya.”
“Kamu bisa mengejek Dewa Maut dan sekaligus mengejek dirimu sendiri. Tapi kenapa kamu sendiri?”
“Wah, apa urusannya dengan yang lainnya? Toh tak ada gunanya juga. Tak bisa mengajak Dewa Maut.”
Gendhuk Tri membalik, bersila, dan menunduk.
“Paman Jaghana gundul, Paman Wilanda ceking, saya ikutan minta pamit. Jika suatu hari kelak saya diangkat menjadi permaisuri, pasti Paman berdua saya undang ke Keraton.”
“Kalau tak mau?”
“Kalau tak mau saya akan memindahkan Keraton ke sini.”
“Bagus. Eee, tunggu dulu…”
Gendhuk Tri telah meloncat pergi. Hanya kibaran selendangnya yang masih terlihat sebentar, sebelum akhirnya tubuhnya lenyap dari pandangan mata.
Gendhuk Tri sengaja memilih jalan lain dari yang ditempuh Upasara, karena tak ingin berjumpa atau mengenali di jalanan.
Bagi Gendhuk Tri, Upasara Wulung adalah segalanya!
Dalam usianya yang masih belasan tahun, Gendhuk Tri menaruh kekaguman yang luar biasa kepada Upasara Wulung. Ia merasa menjadi adiknya, tetapi juga bisa cemburu asmara bila melihat ada wanita yang mendekati Upasara. Itu sebabnya Gendhuk Tri tak bisa sepenuhnya berdamai dalam hati dengan Nyai Demang. Apalagi dengan Gayatri!
Upasara bukan hanya seorang lelaki, seorang kakak bagi Gendhuk Tri. Melainkan juga seorang yang telah menghidupkan kembali.
Betapa tidak, kalau sebelumnya di seluruh tubuhnya mengalir racun yang membinasakan, dan kini menjadi biasa kembali, karena pengorbanan tenaga murni dari Upasara.
Maka kepedihan hati Gendhuk Tri sedikit berbeda dari yang lainnya. Ditambah usianya yang masih bocah, perasaan galau bercampur aduk dalam kepalanya.
Bisa dimengerti kalau dalam berlari kencang, Gendhuk Tri seperti berputar-putar di dalam hutan. Baru setelah menyadari, Gendhuk Tri memilih jalan yang paling dekat ke Keraton.
Untuk tidak mudah dikenali Upasara, Gendhuk Tri menyamar sebagai lelaki desa. Ia menambahi dengan kumis yang dipotongkan dari sebagian rambutnya.
Barulah dengan begitu Gendhuk Tri merasa aman.
Kalau banyak orang, Gendhuk Tri berjalan sebagaimana biasa. Kalau sepi, baru melatih ilmu meringankan tubuh. Bergegas. Jalan yang ditempuh ialah meniti sepanjang Kali Brantas.
Walau tidak mau memikirkan, namun setiap kali Gendhuk Tri merasa Kakang Upasara-lah yang berada di sekitarnya. Kadang seseorang yang berjalan disangka Upasara, sehingga ia bersembunyi. Kadang bayangan pohon bergerak saja membuatnya berpikir bahwa itu adalah bayangan kakangnya!
Satu-satunya jalan bagi Gendhuk Tri ialah tidak mau menyendiri. Agar jalan pikirannya tidak menukik ke arah Upasara. Di keramaian pasar, Gendhuk Tri sengaja berlama-lama. Kalau ada kerumunan tertentu, ia akan memperhatikan dengan saksama. Walaupun berdandan sebagai orang tua, Gendhuk Tri sering lupa. Pernah ketika makan di warung, kumisnya terlepas ketika bersin. Terpaksa Gendhuk Tri segera melemparkan uang pembayaran dan kabur dengan cepat. Setelah memperbaiki dandanannya dan kini pura-pura menjadi wanita tua ia datang kembali.
Sekadar untuk mengetahui apakah kini ia masih dikenali.
Betapa gelinya ia mendengar kisahnya diceritakan kembali. Dan ia masih tetap dianggap aneh. Karena ternyata selama ini boleh dikatakan tak ada wanita yang datang ke warung. Peminta-minta pun tidak.
“Makanya kalau masih muda, kawin saja. Agar dirawat anakmu.”
Gendhuk Tri jadi panas.
Ingin segera menyabetkan selendangnya, menghajar omongan yang menyakitkan.
Tapi kalau itu dilakukan, berarti membuka penyamarannya. Dan bisa berarti Upasara, kakangnya, akan mengetahui!
Bukankah kakangnya tahu siapa yang mampu menggebrak dengan selendang?
Gendhuk Tri merasa sayu setiap kali mengingat bahwa pikirannya selalu tertuju ke arah Upasara Wulung. Makin lama makin sering. Juga dalam lamunan maupun impian.
Betapa berat tanggungan jiwa Gendhuk Tri. Ternyata perpisahan dengan Upasara lebih menyakitkan dari yang dibayangkan. Perpisahan bisa berjalan pendek. Tapi kerinduan sangat panjang.
Untuk melepaskan pikiran ke arah Upasara, Gendhuk Tri kembali mendatangi kerumunan.
Namun sekali ini hatinya bercekat.
Karena kerumunan kali ini bukan kerumunan biasa. Ada pertarungan di pinggir kali. Sewaktu Gendhuk Tri mendekat, darahnya berdebar sangat kencang sekali. Tubuhnya menggigil. Bukan karena pertarungan ini dilakukan jago kelas satu, akan tetapi terutama karena Gendhuk Tri mengenali siapa yang bertarung!
Agaknya kini telah memasuki saat-saat yang menentukan.
Rantai berat yang bergulung itu adalah senjata andalan Adipati Lawe. Gendhuk Tri tentu saja mengenali Adipati Lawe, sejak pertemuan habis-habisan dengan pasukan Tartar. Adipati Lawe saat itu ikut berada di atas benteng dalam pertempuran mati hidup! Dan juga ikut melabrak kembali ke Perguruan Awan.
Lebih mengejutkan lagi karena yang dihadapi adalah Senopati Anabrang. Dua pedangnya berusaha menangkis setiap tindihan yang datang. Senopati Anabrang sudah makin terdesak ke pinggir sungai.
Ditonton begitu banyak prajurit Majapahit yang mengelilingi medan pertarungan, Gendhuk Tri tadinya menduga bahwa kedua senopati ulung itu tengah berlatih.
Akan tetapi melihat jurus-jurus maut dari keduanya, jelas ini pertarungan mati-hidup.
Adipati Lawe bahkan tidak memperhitungkan tusukan dua pedang. Rantai berbandul dimainkan bagai bandringan, mainan kanak-kanak dari tali yang diberi beban ujungnya. Hanya saja ini adalah bandringan maut.
Gendhuk Tri tahu bahwa Adipati Lawe yang dikenal ini mampu memainkan berbagai jenis senjata, teristimewa senjata yang bobotnya berat.
Bola besi yang dimainkan bisa berputar bagai kitiran. Sebentar menyapu kaki, sebentar menyapu batok kepala. Kesiuran anginnya begitu panas menyayat.
Senopati Anabrang berusaha menghindar, akan tetapi ruang geraknya makin sempit!
Bandul Adipati Lawe yang menyerempet air sungai, seakan bisa menghentikan seluruh aliran untuk sementara. Benar-benar luar biasa.
Mendadak Gendhuk Tri merasa bahwa pertempuran mendekati titik yang menentukan. Gasakan Adipati Lawe makin tak tertahankan.
“Tongkring. Mati kamu.”
Bandul itu menghantam dengan sentakan keras. Dari bawah ke atas. Yang diarah dagu Senopati Anabrang yang kehilangan keseimbangan. Sentakan ini pasti di luar dugaan, karena nampak Senopati Anabrang justru menangkis dengan kedua pedangnya.
Gendhuk Tri menjerit.
Kedua pedang itu terjerat dalam rantai dan terlepas!
Akan tetapi meskipun demikian, Senopati Anabrang berhasil menyodok dada Adipati Lawe.
Adipati Lawe malah membusungkan dada.
Kini bandul rantainya berkibaran di angkasa. Menimbulkan angin yang siap mencabut nyawa. Senopati Anabrang berusaha mengambil keris sebagai usaha terakhir untuk mempertahankan diri.
“Tongkring!”
Teriakan menyayat Adipati Lawe.
Gendhuk Tri hampir tak percaya. Adipati Lawe yang dikenalnya, mendadak justru terhuyung-huyung. Keris Senopati Anabrang amblas ke dada Adipati Lawe sampai ke gagangnya.
Darah muncrat ke air sungai.
Gendhuk Tri menjerit.
Karena justru Senopati Anabrang mencabut keris yang sudah amblas, dan menusukkan berulang kali. Tubuh Adipati Lawe menggeliat. Setiap kali akan ambruk, ditusuk dengan genjotan yang keras.
Jeritan Gendhuk Tri bukan hanya karena Senopati Anabrang berlaku kejam kepada lawan yang telah kalah, akan tetapi sentakan tenaga mendadak Senopati Anabrang mengingatkannya pada tenaga Upasara Wulung. Itulah tenaga dalam Penolak Bumi. Yang muncul menggelora ketika terdesak.
Jeritan Gendhuk Tri menyayat hatinya. Betapa sedih andai Upasara mengetahui bahwa sebagian tenaga dalamnya maha telengas.
Keris Kebo Dendeng
KEKUATIRAN Gendhuk Tri sangat beralasan.
Ia sendiri merasakan ampuhnya tenaga dalam yang dipindahkan dari tubuh Upasara. Kalau yang maha racun saja dimusnahkan, apalagi dipakai untuk menambah tenaga!
Gendhuk Tri mendengar cerita dari Nyai Demang dan sebagian dari Wilanda. Bahwa Senopati Anabrang bisa membebaskan diri dari barisan Gandring karena terdorong oleh tenaga dalam pemberian Upasara.
Agaknya tenaga pemberian itu belum bisa menyatu sepenuhnya dalam diri Senopati Anabrang, sehingga penguasaannya belum sempurna. Kadang bisa dikerahkan, kadang tidak. Atau juga karena sifat tenaga itu sendiri.
Dalam Kitab Penolak Bumi, cara pengaturan napas dimulai dengan penolakan atau peniadaan. Sehingga sangat mungkin sekali tenaga itu melonjak sendiri di saat Senopati Anabrang sangat terdesak. Di saat tak mempunyai pilihan lain.
Ini yang tak disadari Adipati Lawe.
Justru di saat kemenangan sudah di tangan, mendadak ada tenaga panas yang menghalau, dan mendadak keris Senopati Anabrang menghunjam dadanya. Dengan tenaga penuh yang tak mungkin ditangkis! Akibatnya memang parah.
Lebih dari itu semua adalah kenyataan bahwa Senopati Anabrang sendiri seperti tidak yakin dengan tusukan pertama, kedua atau ketiga. Sehingga berulang kali keris pusakanya ditusukkan, sehingga tubuh Adipati Lawe seperti dicincang.
Gendhuk Tri hanya bisa menduga sepasang pedang, seorang yang biasa memainkan sepasang pedang, kepercayaannya kepada senjata andalannya lebih dari senjata lain yang digunakan. Seperti dirinya, Gendhuk Tri lebih mempercayai sabetan selendangnya dibandingkan menggunakan senjata lain.
Padahal keris yang digunakan Senopati Anabrang bukan sembarang keris.
Keris itu berlekuk lima, umumnya disebut keris Pandawa. Mengingatkan tokoh wayang dari Amarta yang lima ksatria bersaudara. Namun berbeda dari keris Pandawa, seperti Pandawa Lare atau Pandawa Bakung yang memakai banyak hiasan dan pernik-pernik, keris Kebo Dendeng adalah keris berlekuk lima yang lugas. Tanpa hiasan apa pun. Bahkan bagian sogokan, bagian tengah keris yang biasanya diisi dengan hiasan atau campuran besi tertentu, dibiarkan kosong. Nampak berlubang.
Keistimewaan keris Kebo Dendeng, terutama karena ketajamannya. Bentuk yang nyaris tanpa hiasan itu juga menunjukkan bahwa keris ini tidak memerlukan kerumitan dalam penggarapan dan pemakaian.
Keris Kebo Dendeng sangat cocok bagi Senopati Anabrang, karena sebenarnya ia banyak menggunakan pedang. Sejak berkelana ke tlatah Melayu, Senopati Anabrang boleh dikatakan selalu mempergunakan pedangnya.
Hanya saja, sebagai ksatria dari tlatah Jawa. Keris tak pernah ditinggalkan atau ditanggalkan. Memainkan keris hampir menjadi kemampuan pertama siapa pun yang terjun ke gelanggang atau bahkan ketika belajar ilmu kanuragan.
Ada yang menekuni—seperti Upasara—sebelum akhirnya lebih suka memainkan tangan kosong. Ada yang mengganti dengan senjata yang lain. Namun rata-rata bisa memainkan keris dengan baik.
Adipati Lawe pun bisa menangkis dengan baik.
Andai tidak dikagetkan dengan tenaga panas yang menyusup masuk!
Pekikan dan jeritan terdengar setiap kali Senopati Anabrang menghunjamkan keris Kebo Dendeng.
Gendhuk Tri merasa ngeri.
Karena di sekelilingnya adalah prajurit-prajurit dalam keadaan siaga perang. Karena menyadari bahwa prajurit Tuban yang berdarah panas dan sebagian prajurit dari tlatah Madura tak akan berdiam begitu saja melihat pahlawannya, melihat senopati agul-aguling jurit, senopati yang diunggulkan para prajurit, ditikam secara kejam di depan mata.
Ini juga berarti bahwa prajurit Keraton di bawah pimpinan Senopati Anabrang tak bakal tinggal diam.
Dengan kata lain, pertempuran ganas siap membuka.
Dan Sungai Tambak Beras, bagian dari Kali Brantas, akan berubah warna menjadi warna darah!
Ini hanya soal waktu saja.
Gendhuk Tri menggigil.
“Anabrang, cukup!”
Suatu bayangan mengeluarkan teriakan lolongan nyaring, seiring dengan tubuh yang melayang.
Gendhuk Tri merasa dadanya makin sesak.
Bayangan tubuh Mpu Sora yang perkasa melayang sambil mengeluarkan bunyi berdenging yang tinggi. Luapan kemurkaan akan tetapi juga pengerahan tenaga sampai puncak. Jurus Lebah Hantu menyerbu.
Mpu Sora sadar bahwa yang dihadapi adalah Senopati Anabrang yang sedang kalap. Mpu Sora juga mengetahui bahwa Senopati Anabrang seperti menyimpan kekuatan gaib pada saat terdesak.
Maka jurus Bramara Bekasakan yang ganas menyerbu tanpa memperhitungkan keselamatan diri.
Senopati Anabrang mendongak kaget.
Dengan tangan masih memegang keris Kebo Dendeng yang berlumuran darah segar, Senopati Anabrang meloncat ke angkasa. Menyongsong Mpu Sora!
Sambil menggertak nyaris kerisnya menembus ulu hati!
Mpu Sora meninggikan suara dengingannya, dan memutar tubuh, menyambut serangan Senopati Anabrang, berganti dengan jurus Bramara Braja, atau Lebah Topan, atau Topan Lebah, yang menyerbu dan mengurung bagai badai.
Dua, tiga, empat sengatan membuat Senopati Anabrang merasa kesemutan.
Menyadari bahaya, Senopati Anabrang meloncat ke tengah sungai untuk melepaskan diri dari kerubutan lebah. Sebab menurut cerita, lebah-lebah tak akan menerjang orang yang bersembunyi di sungai!
Sambil meloncat ke tengah sungai, yang pasti tak diperhitungkan Mpu Sora, Senopati Anabrang menyabetkan kerisnya ke arah belakang.
Inilah kesalahan utama!
Gendhuk Tri mengeluarkan pekikan sambil menutup mulutnya.
Gerakan Senopati Anabrang jelas mengundang bahaya maut.
Dalam keadaan membelakangi lawan, Senopati Anabrang berusaha menyerang. Padahal jelas yang dihadapi adalah lawan tangguh yang memainkan serangan maut. Dan Senopati Anabrang tidak terlalu mahir dalam serangan sambil membalik.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:41 pm

Dasar-dasar ilmu silatnya tidak memiliki kembangan, atau bunga-bunga hiasan semacam ini.
Kekuatan utama jurus-jurus Senopati Anabrang tak berbeda jauh dari ilmu silat Galih Kaliki.
Mengandalkan ketangguhan, bukan ketangkasan.
Gendhuk Tri sempat berpikir, apakah Senopati Anabrang terlalu menganggap enteng Mpu Sora? Ataukah karena yakin bahwa tenaga dalamnya masih dikuasai dan mendesak-desak?
Sebelum jawaban dalam hati Gendhuk Tri terasakan, apa yang dilihat di depan mata merupakan jawaban nyata!
Benar apa yang dijeritkan!
Menghadapi sabetan keris, Mpu Sora menangkis maju dengan meneruskan jurus Bramara Braja. Tangan kanan yang bergulung menangkis tangan Senopati Anabrang dengan keras.
Keris menjadi berbalik arah.
Amblas ke punggung Senopati Anabrang, dengan ujung mencuat dari dadanya. Teriakannya meninggi sebelum tubuhnya amblas ke Sungai Tambak Beras.
Anak sungai yang cukup deras itu seketika berubah warnanya. Dalam beberapa kejap tubuh Senopati Anabrang diapungkan kembali. Tanpa bergerak lagi.
Kejadian berlangsung sangat cepat sekali.
Mpu Sora turun ke tanah. Dan untuk beberapa saat tak bergerak. Seolah tertegun dengan apa yang terjadi.
Dalam sekelebatan terjadi pertarungan batin yang tak kalah serunya dengan apa yang baru saja terjadi.
Biar bagaimanapun ia adalah senopati unggulan Keraton. Mempunyai wibawa dan kehormatan. Mpu Sora juga ksatria yang menjunjung tinggi sifat-sifat luhur, pun dalam pertarungan. Sehari-hari ia mencoba berlaku adil. Bahkan keinginan-keinginan pribadi ditenggelamkan untuk ketenteraman dan keamanan Keraton.
Puncak pengabdiannya ialah ketika begitu banyak suara mendukungnya untuk menduduki jabatan mahapatih, Mpu Sora menolak secara tegas.
Pangkat, derajat, dan kehormatan seperti itu bukan yang dikejar mati-matian dalam hidupnya. Melainkan pengabdian.
Namun peristiwa yang baru saja terjadi, justru melumuri dengan kehinaan.
Apa pun alasan yang bisa dikemukakan sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya terjadi, tetap tak mengubah fakta bahwa Senopati Anabrang tewas oleh tangannya, dengan keris menancap di punggung!
Seolah serangan dari belakang.
Seperti mati karena dibokong!
Lebih menyulitkan lagi, karena dalam hal ini Mpu Sora adalah paman Adipati Lawe. Masih ada hubungan darah secara langsung. Salah-salah, dirinya dituduh mengeroyok!
Kemenangan yang sangat hina.
Tapi sesungguhnya, itulah yang terjadi.
Gerhana adalah Purnama bagi Durjana
PUNDAK Mpu Sora turun.
Tangannya lunglai.
Pandangannya menatap prajurit yang mengangkat tubuh Senopati Anabrang untuk dirawat di tepian. Sementara prajurit Tuban juga merawat tubuh Adipati Lawe yang tidak keruan wujudnya.
Kemelut dalam hati Mpu Sora makin berkabut.
Tarikan napasnya yang dalam tak segera diikuti oleh embusan. Mpu Sora masih tergetar dan berdiri luruh untuk beberapa saat.
Adalah di luar perkiraannya, bahwa Senopati Anabrang akan menerjang dengan ganas ketika mengundurkan diri. Sehingga berakibat fatal. Sejak semula Mpu Sora hanya ingin menghentikan Senopati Anabrang yang mencincang tubuh Adipati Lawe.
Darah ksatria tak bisa membenarkan itu.
Kalah dan menang dalam pertarungan adalah hal yang lumrah. Yang akan selalu terjadi. Karena dari sinilah diketahui siapa yang lebih unggul. Akan tetapi mencabik-cabik tubuh lawan yang sudah kalah, adalah di luar batas kemanusiaan yang bisa diterima Mpu Sora.
Mpu Sora tetap akan mencegah kalau itu terjadi pada musuh yang paling dibenci sekalipun. Tindakan ini semata-mata bukan karena yang diperlakukan secara kejam adalah keponakannya.
Tidak, Mpu Sora tidak menyesali apa yang terjadi.
Mpu Sora merasa siap dan merasa ikhlas menerima hukuman apa pun karena pembunuhan ini. Karena apa pun, ia bisa dianggap membunuh. Senopati Mahisa Anabrang tidak kalah dalam pertempuran.
Tuduhan kehinaan itu akan diterima.
Tak akan dibantah.
Mpu Sora tak akan membela diri.
Mpu Sora getun, menyesal dalam, karena ini bukan akhir yang diinginkan. Tak pernah terlintas sedikit pun bahwa akan berakhir seperti sekarang ini.
Dua senopati utama Keraton tewas.
Bukan dalam menghadapi pasukan Tartar. Bukan ketika mempertahankan Keraton, bukan ketika berbakti kepada tanah dan air yang menghidupi. Melainkan dalam pertarungan dengan pamrih pribadi. Dan ia terlibat di dalamnya.
Tangannya sendiri ikut berlumuran darah!
Sungguh tragis.
Mpu Sora telah menempati kedudukannya di Dahanapura. Dengan kesetiaan pengabdian, tanpa rasa penyesalan atau meremehkan pekerjaan. Mengabdi kepada Bagus Kala Gemet, sang Putra Mahkota. Saat itu Mpu Renteng mengadakan kunjungan.
Setelah berbicara mengenai keadaan masing-masing, Mpu Renteng menyinggung mengenai kabar yang telah tersiar luas.
“Kakang Sora pasti sudah mengetahui.”
“Daha sekarang ini adalah dusun yang kecil. Tetapi saya merasa tenteram di sini, karena tidak mendengar kabar-kabar yang membuat tidur tak nyenyak, makan tak enak.”
“Kakang jangan salah tampa.
“Saya tidak ingin mengusik batin Kakang Sora. Lahir-batin saya mengerti perasaan Kakang.
“Hanya saja saya mendengar dan melihat sendiri, bahwa Senopati Anabrang membawa para prajuritnya untuk menemui Adipati Lawe.”
“Ah, itu soal lama. Kenapa tak jemu-jemu mempersoalkan nasi yang telah basi?”
“Kakang, saya kuatir bahwa pertentangan ini memuncak. Pertanda yang buruk bakal terjadi. Beberapa hari lalu saya bermimpi ada gerhana di Keraton kita. Bulan tak bersinar karena tertutup bayangan hitam.
“Bayangan itu menutupi Anakmas Lawe, juga menutupi Kakang.”
“Aku tak mau menceritakan, tetapi aku mengalami impian yang sama. Aku cemas.
“Cemas karena dalam gerhana, merupakan purnama bagi yang berhati durjana. Justru saat gelap, para pengkhianat melihat kesempatan terang untuk melihat.”
Untuk tidak terlalu mencolok dan meninggalkan kesan yang kurang tepat mengenai hubungan mereka berdua, Mpu Renteng pamit kembali ke Keraton.
Mpu Sora masih termenung.
Baru kemudian meminta izin Putra Mahkota Kala Gemet untuk pergi ke desa Tampak Beras. Bersama dengan rombongan kecil, Mpu Sora akhirnya berangkat.
Yang pertama ditemui adalah keponakannya.
“Kata-kata telah diucapkan, Paman.
“Tantangan telah dilantangkan. Saya tak mempunyai lidah yang panjang untuk menelan kembali ludah yang sudah jatuh ke tanah.”
“Lawe, keponakanku yang gagah.
“Jangan kamu lihat diriku. Tetapi lihatlah ramamu. Yang akan prihatin sekali dan makin mengasingkan diri di dalam Keraton kalau melihat ini semua.
“Kemenangan apa yang kamu cari?
“Kekalahan apa yang belum kamu hindari?”
Adipati Lawe menyembah.
“Bahkan andai Baginda Raja yang datang, saya tak akan mundur. Hanya kalau Anabrang sendiri datang dan meminta maaf, saya akan kembali ke Tuban dengan tenang.”
Mpu Sora mengetahui tabiat keras keponakannya yang tak bisa ditekuk sedikit pun.
Masih ada sedikit harapan ketika Mpu Sora menemui Senopati Anabrang dan mengutarakan maksudnya. Agar pertarungan lebih baik diurungkan.
“Saya datang untuk meminta ampunan.”
Senopati Anabrang menggeleng.
“Paman Senopati Sora yang budiman.
“Adalah kehormatan besar bagi saya Paman sudi mengunjungi saya. Kita ini sudah sama-sama tua, sudah kenyang makan asam gunung dan garam laut.
“Yang bertindak kurang ajar bukan Paman Senopati Sora. Tidak layak Paman Senopati datang meminta maaf.”
“Paman Senopati Anabrang, saya datang sebagai pengganti Lawe yang kurang ajar.”
“Maafkan saya.
“Senopati Lawe mempunyai mulut sendiri untuk mengatakan hal itu. Satu patah kata saja bagi saya sudah cukup untuk memberi laporan yang baik kepada Baginda Raja.
“Akan tetapi justru Senopati Lawe memastikan waktu dan tempat pertarungan.
“Maaf, Paman Senopati, saya ini sudah tua. Tidak bisa membiarkan anak muda berbuat kurang ajar.”
Mpu Sora menarik diri.
Dan bersiap kembali ke Daha untuk menenteramkan hati. Akan tetapi sorak-sorai para prajurit membuat langkahnya tertahan. Pada saat itu pun Mpu Sora masih mempunyai harapan bahwa pertarungan bisa dihindarkan. Setidaknya dihentikan di tengah jalan.
Akan tetapi semua telah terlambat.
Buah yang terlalu masak akhirnya memang busuk. Buah yang busuk hancur ke tanah, tak berharga.
Adipati Lawe tak menyadari kekuatan Senopati Anabrang yang tersimpan. Dan Senopati Anabrang tak memperhitungkan bahwa Brahmara Braja tak bisa dihadapi dengan membelakangi.
Terlambat!
Gerhana ini telah menutupi sebagian dari wajahnya. Gerhana yang berarti purnama bagi para durjana.
Akan tetapi siapa sesungguhnya yang mengobarkan permusuhan ini? Bagi Mpu Sora masih serba gelap.
Sama sekali tak terpikir bahwa Halayudha memainkan peranannya dengan baik.
Sama sekali tak terduga, karena Senopati Halayudha kemudian datang bersama Mpu Renteng untuk mengucapkan belasungkawa atas mangkatnya Adipati Lawe.
“Baginda Raja menyampaikan belasungkawa yang dalam. Baginda bersabda, sebaiknya hal ini tak perlu terjadi. Yang penting lagi, tak perlu terulang kembali.”
“Senopati Halayudha, tolong sampaikan rasa syukur saya ke hadapan telapak kaki Baginda. Saat ini saya tengah menunggu hukuman dari Baginda. Apa pun hukuman itu, akan saya jalankan dengan rasa syukur.”
Halayudha memperlihatkan wajah sangat muram.
Suaranya menjadi terbata-bata.
“Duh, Senopati Agung Sora, kepercayaan Baginda Raja.
“Kenapa Paman Senopati berkata seperti itu? Bukankah itu hanya akan menyuburkan pertengkaran yang selama ini ada?
“Duh, Gusti Dewa Batara!
“Cobaan apa yang sedang terjadi di Keraton yang kita muliakan ini?
“Sebelum saya sowan, menghadap Senopati Agung, saya rerasanan dengan Senopati Renteng. Bahwa kejadian ini bisa digunakan sekelompok durjana untuk menyebarkan berita buruk, untuk menjelek-jelekkan Senopati Sora yang perkasa.
“Bahwa sesungguhnya utang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Sesuai dengan kitab Kutara Manawa, Senopati Sora hanya bisa menebus kematian ini dengan nyawa yang sama.
“Duh, Gusti!
“Apakah begitu banyak mata yang buta tak bisa membedakan antara membela diri dan membunuh? Kenapa kitab luhur keagamaan itu dibawa-bawa? Bukankah ini berarti menghendaki kematian Senopati Agung Sora sebagai suatu keharusan keagamaan suci?”
Kitab Kutara Manawa
CULAS, bergetah, licik, serta menyakitkan.
Itulah inti kata-kata Halayudha.
Apa yang diutarakan secara tidak langsung, justru membungkam Mpu Sora serta Mpu Renteng, dan mendudukkan sebagai pesakitan yang berkhianat kepada tata krama Keraton. Tata krama masyarakat yang ditulis dalam kitab Kutara Manawa.
Halayudha sangat sadar ketika menyebut kitab Kutara Manawa.
Halayudha sadar bahwa Mpu Sora sangat menyadari kitab yang telah dimaklumatkan Baginda Raja sebagai satu-satunya sumber utama untuk menjaga ketenteraman tata krama dalam pergaulan masyarakat.
Sewaktu menjadi raja, Baginda Raja pun disumpah dengan kitab yang sama dengan kesaksian bahwa kitab yang mulia Kutara Manawa adalah sumber untuk memutuskan pertikaian. Dengan kitab yang mulia Kutara Manawa, seorang raja yang menguasai dunia, harus menjalankan isinya tanpa pandang bulu kepada siapa pun. Sebab hanya dengan menaati apa yang tertulis, seorang raja menjadi bijaksana dan Keraton akan makmur sentosa sepanjang masa. Sebaliknya seorang raja akan tidak adil kalau mengetahui isi kitab akan tetapi hanya menjalankan separuh-separuh. Alamat Keraton dan pemerintahan akan kacau-balau, karena tak ada yang ditaati secara hati suci.
Halayudha tahu bagaimana bunyi sumpah yang diikrarkan Baginda Raja. Halayudha tahu bahwa Mpu Sora yang arif juga tahu.
Bahkan lebih dari itu, Halayudha merasa bahwa Mpu Sora mengetahui kedudukan kitab Kutara Manawa, sebagai sumber perundang-undangan dasar, yang juga disebut-sebut sebagai Kitab Agama. Begitu tinggi kedudukan moral kitab pusaka itu, karena menjadi panutan bagi semua masyarakat, tanpa membedakan darah-keturunan serta pangkat-kedudukan.
Begitu luhurnya isi kitab itu, bukan hanya karena penyebutannya dengan istilah Kitab Agama, melainkan karena sumbernya konon berasal dari tlatah Hindia, dari kitab Manawa Dharma Sastra.
Meskipun jelas banyak sekali perubahan di sana-sini yang lebih disesuaikan dengan tradisi penduduk setempat. Bahkan nama lengkapnya kitab Kutara Manawa Dharma Sastra, menunjukkan sedikit kemiripan. Sekurangnya menunjukkan kesucian isi kitab yang harus dijunjung tinggi.
Karena telah dibuktikan dipakai sebagai pegangan oleh beberapa raja dalam beberapa keturunan.
Melanggar isi kitab itu, berarti juga menentukan seluruh kekuasaan yang telah diatur dan disepakati dari 275 pupuh atau pasal yang telah mencakup semua persoalan.
Baik mengenai pencurian, pembunuhan, paksaan, jual-beli, gadai, mahar perkawinan, mencaci, mewarisi, perkelahian, memfitnah, semua ada aturan dan bentuk-bentuk hukumannya.
Dalam posisi ini Mpu Sora bisa termasuk melanggar pupuh mengenai pembunuhan, yaitu pupuh astadusta. Atau bab yang menjelaskan delapan macam pembunuhan.
Dalam Kutara Manawa sudah dijelaskan bahwa delapan macam pembunuhan itu adalah: membunuh orang yang tidak berdosa, menyuruh bunuh orang tak berdosa, melukai orang yang tidak berdosa. Ini tiga macam pembunuhan dari delapan macam yang ada. Tiga macam ini yang dianggap sangat berat, karena hukuman yang tertulis adalah: hukuman mati!
Apalagi tindakan Mpu Sora termasuk pupuh bagian pertama, yaitu membunuh orang yang tak berdosa.
Dalam kasus Senopati Anabrang tertusuk keris di bagian punggungnya, bisa diartikan sebagai pembunuhan orang yang tak berdosa.
Inilah yang disodokkan ke ulu batin Mpu Sora!
“Bukankah itu sangat kejam sekali, duh, Senopati Agung Sora? Bukankah Keraton akan makin lemah, kalau justru para senopati yang gagah perwira dan banyak jasanya dihukum dengan kitab perundangan yang suci?
“Duh, Dewa, kenapa bukan aku, Halayudha yang tak ada jasanya yang menerima hukuman itu?”
Halayudha kemudian menyebut-nyebut bahwa kelima macam kejahatan yang berhubungan dengan pembunuhan yang menjadi satu dalam astadusta seperti makan bersama pembunuh, mengikuti, melindungi, bersahabat, memberi tempat, memberi pertolongan, tetap ada hukumannya.
“Kalau karena menemui Senopati Agung Sora ini saya harus dihukum, saya rela sepenuhnya. Karena selama ini, walau saya tidak melihat sendiri, saya tidak menganggap Senopati Agung Sora adalah pembunuh. “Sama sekali tidak.” Mpu Renteng menggeleng keras.
“Tidak banyak mengubah keadaan dengan menyalahkan. Karena sayalah yang sebenarnya bersalah menganjurkan Paman Sora melerai pertarungan. “Hanya Baginda Raja yang bisa mengubah hukuman itu.” Senopati Halayudha menunduk mantap.
“Akan saya usahakan menemui Baginda Raja.”
“Terima kasih…” Ucapan Mpu Renteng terpotong oleh gelengan kepala Mpu Sora.
“Terima kasih atas perhatian Senopati Halayudha untuk melindungi saya.
“Akan tetapi saya tak bisa meminta pengampunan seperti ini. Saya akan menerima dengan tulus dan ikhlas hukuman yang lebih berat dari kematian sekalipun.”
Suara Mpu Sora terdengar lantang, namun tidak menantang.
Mpu Renteng mengakui kekeliruannya.
Halayudha merasa bahwa sikap ksatria Mpu Sora tak perlu diragukan lagi. Bahkan di saat ada kesempatan untuk memohon ampunan, hal itu tak dilakukan. Karena bertentangan dengan sikap hidupnya!
Bagi ksatria, sikap atas kehormatan dan jiwa yang besar mampu mengatasi ancaman maut!
“Duh, Senopati Agung Sora, kalau saya diberi izin Senopati Sora, saya akan mengatakan kejadian yang sebenarnya. Bahwa kejadian meninggalnya Senopati Anabrang bukanlah suatu pembunuhan seperti yang disebut pupuh-pupuh itu.
“Peristiwa ini sama sekali tidak berdiri sendiri.
“Bahwa sesungguhnya Senopati Agung Sora berniat melerai kekejaman Senopati Anabrang yang sesungguhnya tidak pantas dilakukan.” Mpu Sora menggeleng. Mpu Renteng terkesiap.
Halayudha melihat kekukuhan sikap Mpu Sora tak tergoyahkan.
“Maafkan. Saya tak ingin merepotkan Senopati Halayudha. Saya mengucapkan terima kasih atas budi baik ini.
“Akan tetapi secara pribadi, saya tidak meminta Senopati Halayudha melakukan hal ini.”
“Bagaimana kalau saya melaporkan sendiri?”
Mpu Sora tersenyum dingin.
“Itu kehendak Senopati, bukan kehendak saya.
“Saya tak bisa menghalangi, tak bisa mendorong.”
Mpu Sora bangkit dari tempat duduknya. Pandangannya tajam menerawang.
“Bagi saya semua telah jelas. Terang benderang seperti sinar surya tengah hari.
“Tak perlu merepotkan hati.”
Bagi Mpu Renteng sikap Mpu Sora memang sangat jelas. Apa pun yang terjadi, semua akan dihadapi dengan terbuka dan ikhlas.
Sewaktu kembali ke Keraton Majapahit, Mpu Renteng memang tak bisa menjelaskan bahwa gugurnya Senopati Anabrang semata-mata karena kekeliruan, bukan kesengajaan. Posisinya yang rapat hubungannya dengan Mpu Sora, melemahkan pembelaannya. Apalagi ia sendiri tak berada di tempat kejadian.
Hanya yang membuat Mpu Renteng ragu ialah bahwa berita itu tersebar luas ke masyarakat dan dengan satu penilaian akhir: Mpu Sora harus dihukum mati, sesuai dengan pupuh dalam astadusta. Kini tinggal apakah Baginda Raja akan segera bertindak atau tidak.
Kegelisahan ini telah menyebar luas.
Menjadi hangat dalam pembicaraan para senopati.
Bahkan Mahisa Taruna, putra Senopati Mahisa Anabrang, secara terbuka mengatakan bahwa kalau Baginda Raja tetap tidak turun tangan, ia sendiri yang akan datang ke Dahanapura untuk menyelesaikan utang pati ini.
Nyata sekali pertentangan telah meluas.
Karena dengan mudah Mahisa Taruna memperluas persoalannya. Kini bukan sekadar hukuman kepada Mpu Sora, melainkan juga menyangkut masalah yang lain.
“Aku ditinggal Rama Anabrang menjelajah Melayu selama dua puluh tahun. Hanya aku yang bisa merasakan kehilangan seorang rama yang mestinya mendidikku.
“Semua ini dilakukan demi kejayaan Keraton.
“Rama pulang kembali dengan kemenangan gemilang, akan tetapi dibunuh secara hina oleh Mpu Sora. Dan kini Mpu Sora dibiarkan saja, hanya karena beliau Senopati Keraton Majapahit.
“Apa banyak bedanya antara Senopati Singasari dan Senopati Majapahit?
“Apakah bukan suatu dusta jika tadinya dikatakan Majapahit adalah kelanjutan dari Singasari?
“Apakah kitab Kutara Manawa selama ini hanya untuk pajangan bagi senopati. Hanya berlaku untuk penduduk dan senopati yang tidak berasal dari prajurit Baginda?”
Membuka Kedok Klikamuka
SUARA Mahisa Taruna terdengar lantang. Garang.
“Sejak semula aku sudah curiga itikad baik Mpu Sora. Ia senopati yang paling tidak pantas menyandang gelar empu.
“Disiarkan kabar secara sengaja ia menolak jabatan mahapatih, bahkan juga pura-pura murka kepada Adipati Lawe. Akan tetapi sekarang terbuka kedoknya. Terlihat apa sebenarnya isi hatinya.
“Aku ragu apakah jabatan senopati yang dipegangnya diraih karena jasa-jasanya atau hanya merupakan jasa anugerah? Yang diberikan karena belas kasihan belaka karena selama ini mengintil Baginda Raja.
“Aku tak pernah mendengar kepahlawanannya. Yang kudengar selama ini hanyalah untuk mengawal Permaisuri saja bisa dikalahkan oleh seseorang yang tak bernama, yang menutupi wajahnya dengan kulit kayu.
“Senopati macam apa itu?”
Bagi Mpu Renteng itulah kata-kata pertama yang didengarnya menyinggung mengenai Klikamuka. Tokoh sakti yang selama ini tak diketahui asal-usulnya.
Agak menjadi pertanyaan bagi Mpu Renteng bahwa kata-kata itu diucapkan oleh Mahisa Taruna. Selama ini hanya beberapa prajurit yang pernah melihat pemunculan Klikamuka. Dan hanya beberapa kepala saja yang mengetahui bahwa Permaisuri Rajapatni pernah diculik oleh Klikamuka.
Yang agak jelas mengetahui duduk perkara adalah Senopati Nambi, yang sekarang menjadi Mahapatih Nambi.
Mpu Renteng bercekat sendiri.
Selama ini ia berusaha menekan kecurigaan yang selalu mengusik. Kecurigaan kepada sesama senopati seangkatan. Perasaan yang selalu diredakan oleh Mpu Sora, sobatnya yang sangat dihormati.
Akan tetapi dalam beberapa hal Mpu Renteng tak bisa menghilangkan kesan kecurigaan yang muncul.
Terutama kepada Mahapatih Nambi.
Bukan tidak mungkin yang memberi kisikan mengenai kegagalannya mengawal Permaisuri Rajapatni adalah Mahapatih Nambi. Alasan yang masuk akal kalau diingat bahwa sekarang ini Mahisa Taruna begitu berani berkata secara kasar. Tanpa pendukung di belakangnya, tak akan mungkin senopati muda seperti Mahisa Taruna berani menghujat.
Siapa lagi orang kuat di belakang Mahisa Taruna kalau bukan Mahapatih?
Kalau dugaannya benar, berarti Mahapatih sedang memaksakan suatu rencana yang lebih luas. Yaitu berusaha menyingkirkan Mpu Sora yang masih tetap dianggap klilip atau gangguan di matanya. Tak ada alasan lain yang lebih kuat, selain bahwa Mpu Sora tetap merupakan ancaman di belakang hari.
Hanya Mpu Sora yang bisa mengancam kedudukannya sebagai mahapatih. Sekarang ataupun di belakang hari.
Sesuai dengan tindak-tanduknya yang serba tersembunyi sebagai pimpinan utama prajurit telik sandi, liku-liku intrik ini sangat masuk pikiran.
Sekarang saatnya Mahapatih Nambi menyingkirkan Mpu Sora!
Dengan caranya yang tetap bisa menyembunyikan tangan untuk menyentil telinga lawan. Menonjolkan Mahisa Taruna. Sungguh pilihan yang tepat!
Mahisa Taruna masih berdarah muda, sehingga mudah terpancing untuk menunjukkan kebolehannya. Apalagi kini merasa memiliki dua pedang panjang dari ksatria Jepun. Ditambah dengan kematian ramanya, Mahisa Taruna muncul ke permukaan. Mengibarkan bendera sendiri. Seakan menggugat Baginda Raja, akan tetapi tujuannya jelas. Menghukum Mpu Sora. Atau mendesak pelaksanaan hukuman bagi Mpu Sora.
Dan Mahapatih Nambi akan mendesakkan hal ini kepada Baginda Raja.
Nyatanya Baginda Raja tergerak hatinya untuk mendengarkan keluhan Mahisa Taruna.
Sungguh pengatur siasat yang ulung, kata Mpu Renteng dalam hati. Dengan cara seperti ini Mahapatih Nambi bisa meluruskan jalan dan mengamankan kepangkatan yang kini disandang tanpa perlu turun tangan sendiri. Sesuai dengan rencana prajurit telik sandi.
Hanya saja Mpu Renteng tak menemukan bukti-bukti yang bisa menguatkan dugaannya. Satu-satunya jalan ialah mencoba menempatkan prajurit yang setia kepadanya, untuk mencari tahu sejauh mana hubungan antara Mahapatih dan Mahisa Taruna.
Namun justru yang terlihat, Mahapatih seakan tak pernah mengunjungi Mahisa Taruna. Bahkan ketika upacara pemakaman Senopati Anabrang, Mahapatih hanya mengirimkan wakilnya. Ia sendiri tidak muncul.
Kenyataan ini justru membuat Mpu Renteng berpikir dua kali. Pertama, memang tak ada hubungan. Kedua, Mahapatih sengaja menutupi hubungannya dengan pura-pura tidak memedulikan Mahisa Taruna. Sehingga tak ada kesan bahwa Mahapatih mendalangi keberanian Mahisa Taruna.
Bahwa ada dugaan Klikamuka masih ada hubungan dengan Keraton bisa dimengerti dari gerak-gerik serta ucapan Klikamuka yang ketika itu menyebut nama Permaisuri Rajapatni dengan hormat. Rasanya justru agak janggal kalau dari kalangan ksatria atau pendekar menyebut dengan hormat seperti itu.
Agak masuk akal kalau itu prajurit atau senopati. Yang memang sudah terbiasa menghormat.
Dan diperhitungkan dari segi kemampuan ilmu silatnya serta ketidakmauan diketahui wajahnya, jelas sekali orang dalam. Siapa lagi orang dalam Keraton yang begitu sakti dan mengetahui begitu banyak lika-liku Keraton?
Mpu Renteng memusatkan dugaan pada Mahapatih.
Bukan tidak mungkin Klikamuka adalah senopati yang dekat hubungannya dengan Mahapatih. Atau bahkan Mahapatih sendiri! Hal ini tetap bukan mustahil, andai pada suatu kesempatan baik Mahapatih maupun Klikamuka muncul secara bersamaan. Justru untuk menghilangkan jejak!
Bukankah saat pemunculan pertama pun, Klikamuka ini berdua? Dan sewaktu Mahapatih Nambi muncul, Klikamuka yang satunya tidak kelihatan? Bukankah Dyah Pamasi dan Dyah Palasir, yang merupakan senopati kepercayaan Mahapatih, dibunuh secara tidak langsung? Untuk menghilangkan jejak? Bukankah yang menunjuk kedua senopati Dyah untuk menyertai dan untuk menyeret Toikromo hanya mungkin berasal dari alam pikiran prajurit telik sandi?
Semakin diperhitungkan, Mpu Renteng makin yakin bahwa Mahapatih mempunyai hubungan dengan Klikamuka.
Menyadari bahwa kalau dugaannya benar dirinya berada dalam bahaya, Mpu Renteng bersiap siaga. Dipasangnya mata dan telinga dengan awas untuk mengamati semua kejadian yang berkaitan dengan Mahapatih. Bahkan Mpu Renteng tak segan-segan untuk langsung mengamati secara sembunyi-sembunyi.
Mpu Renteng mulai mengingat-ingat jurus-jurus yang digunakan Klikamuka sehingga bisa menjatuhkan dirinya dalam satu gebrakan. Bagaimanapun hebatnya, Mpu Renteng tak bisa dikalahkan begitu saja. Kecuali kalau bukan orang yang sangat mengenal jurus-jurus Bujangga Andrawina yang diandalkan.
Serangan mengarah ke tengkuknya dulu, pasti bukan hanya dari membaca gerakan. Tapi juga didasari pengertian bagaimana memainkan jurus tersebut.
Sepanjang pengetahuan Mpu Renteng, yang mengetahui keunggulan ilmu Bujangga Andrawina bisa dihitung dengan jari. Terbatas Adipati Lawe, Mpu Sora, dirinya sendiri, dan… Mahapatih Nambi!
Dari kemungkinan ini memang akhirnya bermuara kepada Mahapatih Nambi.
Mpu Renteng membuat suatu langkah yang berani.
Dengan diam-diam ia memahat tulisan di tiang Keraton bagian dalam.
Kenapa masih menyembunyikan wajah di balik klika,
jika kita masih bersaudara
Kenapa menggoda penculikan
jika kita hanya mempunyai satu pengabdian

Perhitungan Mpu Renteng ialah hanya yang merasa bersembunyi di balik topeng kulit kayu itu yang bisa mengartikan. Dan sengaja tulisan itu diguratkan di tiang Keraton sebelah dalam, karena tulisan itu hanya mungkin terbaca oleh mereka yang biasa lalu-lalang di dalam Keraton. Dan itu bukan sembarang senopati.
Sekarang yang dilakukan Mpu Renteng tinggal menunggu reaksi. Siapa yang menambahkan jawaban pada guratan itu bakal terjebak. Namun nyatanya beberapa hari Mpu Renteng mencoba mengawasi, tak ada sesuatu yang mencurigakan.
Karena tak tahan dengan apa yang diperkirakan, Mpu Renteng memutuskan secara diam-diam akan melaporkan kepada Mpu Sora. Maka dengan diam-diam Mpu Renteng meninggalkan kediamannya.
Adalah di luar perhitungannya bahwa justru dalam perjalanan bakal dihadang oleh seseorang. Yang memakai topeng kulit kayu.
“Akhirnya kamu muncul juga, Klikamuka.”
“Kepalamu cukup keras menantangku.”
“Aku tahu sarangmu, dan aku tahu siapa kamu sebenarnya. Untuk apa sesama kita saling sembunyi?”
Mpu Renteng langsung menerjang maju. Ujung kainnya menggebrak bagai lidah ular raksasa. Hanya saja kini tidak memainkan Bujangga Andrawina secara persis. Mpu Renteng tak ingin terjegal dengan cara yang sama. Sabetan ujung kainnya adalah tipuan untuk mengalihkan perhatian. Begitu Klikamuka terjebak menyerang kuduk, ia menyentakkan tali topeng. Terlepas.
Bumi Terbelah
MPU RENTENG sangat bernafsu untuk membuka kedok Klikamuka, sehingga tidak menyadari bahwa agaknya Klikamuka justru secara sengaja memancingnya.
Mpu Renteng bisa membuka kedok, akan tetapi ulu hatinya kena sodokan siku.
Sambil menahan ngilu, Mpu Renteng tersurut langkahnya.
“Kamu…”
Tubuh Mpu Renteng berkelojotan sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Klikamuka membetulkan penutup kepalanya, memakainya, dan berdiri gagah.
“Renteng, kamu tahu siapa aku, akan tetapi tak ada gunanya. Kamu tetap akan mati penasaran.”
Satu tendangan keras mengenai perut Mpu Renteng yang dalam sisa-sisa tarikan napasnya merasa dirinya sungguh tidak berguna. Dalam pertemuan pertama dengan Klikamuka ia bisa dikalahkan.
Kini dalam pertemuan kedua pun, ia bahkan dihabisi!
Kesimpulan dari pertempuran pertama, yang dipakai untuk menjebak, ternyata justru dipakai sebagai jebakan yang sama. Topeng yang diincar sengaja dipasang, dan sebagai gantinya sodokan ke arah ulu hatinya. Serangan yang mematikan.
Mpu Renteng merasa bumi yang diinjaknya terbelah, ketika tendangan Klikamuka tepat mengenai sasarannya. Lamat-lamat masih terdengar tawa dingin memamerkan keangkuhan dan kemenangan, sebelum akhirnya hilang gelap dari pandangannya. Bumi yang terbelah telah menelannya.
Mpu Sora tak bisa berbuat sesuatu ketika mendengar kabar kematian Mpu Renteng. Hanya dugaannya mengatakan bahwa Mpu Renteng telah menemukan rahasia yang berarti, yang ingin disampaikan kepadanya, mengingat tempat terbunuhnya merupakan jalan utama menuju Dahanapura.
Kini Mpu Sora benar-benar merasa sendirian.
Tak bisa mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Sampai sejauh ini, Baginda Raja belum memutuskan hukuman tertentu. Masih menunda.
Utusan yang dikirim langsung menghadap kepada Mahapatih Nambi, sebagai atasan langsung para adipati, pulang tanpa membawa keputusan yang berarti.
“Mahapatih tak ingin diganggu, Yang Mulia Senopati Sora,” lapor prajurit utusannya.
“Sedemikian pentingnya hingga pengunduran diriku menjadi tak berharga?
Prajurit itu menyembah ketakutan.
“Hamba hanya menjalankan perintah Yang Mulia.
“Akan tetapi hamba melihat sendiri bahwa di Keraton ada kesibukan luar biasa. Yang Mulia Aria Wiraraja menghadap Baginda Raja.”
Bagi Mpu Sora, ini semua hanya berarti bahwa gerhana itu kini meluas. Menghitamkan seluruh Keraton.
Mpu Sora bisa mengerti bahwa saudara tuanya yang masih dekat hubungan dengannya sangat terpukul hatinya dengan kematian Adipati Lawe.
Senopati Sepuh Aria Wiraraja, yang cerdik dengan perhitungan pengaturan siasat perang tanpa tanding ini, tetap saja seorang ayah yang tak tega melihat putranya tewas dalam pertarungan.
Adipati Lawe adalah putra kebanggaan Senopati Sepuh Wiraraja. Bahkan sejak kecil Adipati Lawe telah diberi nama kecil Aria Adikara, nunggak semi alias sama dengan nama kecil Senopati Sepuh.
Mpu Sora melihat bahwa jagat di depannya makin gelap.
Kalau sampai Senopati Sepuh Wiraraja menemui Baginda Raja, pastilah ada sesuatu yang sangat berarti. Ini bukan hanya menyangkut soal mati dan hidup nyawa seseorang atau dua orang saja. Ini bisa berarti kehidupan kenegaraan dalam arti yang luas.
Mpu Sora mengenai sangat baik saudara tidak sekandung ini. Dibandingkan dengan dirinya, Wiraraja sungguh memperlihatkan kearifan yang mulia.
Sejak pembukaan pertama desa Tarik, Wiraraja yang turun tangan mengerahkan para prajurit yang menjadi petani pembuka ladang. Wiraraja tidak segan-segan untuk turun tangan sendiri, dan memerintahkan putranya yang paling dibanggakan untuk turut serta. Sampai dengan siasatnya yang jitu untuk pura-pura mengabdi kepada Baginda Jayakatwang.
Sejarah Keraton tak bisa dilepaskan dari jasa Wiraraja.
Akan tetapi selama ini, Senopati Sepuh yang sangat dihormati ini boleh dikatakan tak pernah menonjolkan diri. Tak pernah mencoba untuk tampil.
Walau berdiam di dalam Keraton, namun seperti tak meninggalkan bekas yang mengganggu. Suasana bisa berjalan lancar tanpa terganggu kehadirannya.
Inilah yang sungguh luar biasa.
Sikap yang manjing ajur ajer, hadir tanpa mengganggu, bercampur tanpa menghambat.
Sudah barang tentu Baginda Raja sangat hormat dan menghargai sikap Senopati Sepuh.
Maka cukup mencengangkan bahwa pada akhirnya Senopati Sepuh Wiraraja meminta bertemu langsung dengan Baginda Raja.
Baginda Raja sendiri merasa canggung. Sungguh tidak enak dibuatnya. Maka begitu mendengar niatan Senopati Sepuh menghadap kepadanya, malam itu juga Baginda Raja datang ke kasepuhan.
“Sungguh kurang ajar kalau sampai Pamanda harus meminta izin untuk menemui saya,” suara Baginda Raja mencoba menerobos kekakuan sikap hormat Wiraraja yang menyembah sambil bersila.
“Marilah duduk bersama saya, Paman Sepuh Wiraraja.”
Wiraraja menghaturkan sembah ke kaki Baginda Raja.
“Hamba sudah bersyukur bisa menghadap Baginda. Bersyukur kepada Dewa yang Maha agung masih diperkenankan menyembah Paduka.”
“Paman Wiraraja adalah pamanku sendiri. Jangan menambah beban pikiran dengan basa-basi yang berkepanjangan. Saya adalah raja yang menguasai bumi. Akan tetapi saya juga yang dulu datang kepada Paman untuk meminta pertolongan.
“Saya tak akan melupakan jasa baik Paman Wiraraja.”
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:42 pm

“Dewa bermurah hati memberi raja yang bijaksana.
“Hamba ingin menghadap untuk mengukuhkan kebesaran Paduka, yang dulu pernah menjanjikan bumi belah kepada hamba. Rasanya, karena hamba makin tua, ingin rasanya menikmati sisa-sisa usia dengan ketenangan.”
Lama Baginda Raja termenung.
Mahapatih yang mendampingi dengan bersila di lantai kasepuhan, menunduk tanpa bergerak. Halayudha yang berada agak jauh di belakangnya juga tak menimbulkan suara.
Bumi belah adalah kata-kata janji yang telah diucapkan ketika merebut Keraton Singasari dan juga ketika mengusir pasukan Tartar.
Baginda Raja menjanjikan suatu ketika kelak jika kemenangan bisa diperoleh, Baginda akan memberikan separuh dari wilayah yang dikuasai.
Bumi belah sigar semangka adalah membagi bumi menjadi dua bagian yang sama besar, seperti juga buah semangka yang dibelah. Potongan yang satu dan potongan yang lain sama besarnya.
Janji itu pernah diucapkan.
Dan tak akan dilupakan.
Baik sebagai ksatria maupun kini sebagai raja.
Kata yang pernah diucapkan seorang raja, atau juga seorang pendeta, adalah kata yang tak bisa dicabut lagi. Inilah sifat ksatria yang sejati.
Mengingkari janji adalah hal yang lebih hina daripada seekor cacing tanah!
Ksatria yang mengingkari janji tak akan pernah lahir kembali sebagai manusia tujuh turunan.
Janji atau ucapan seorang raja tak berubah, pun kalau langit runtuh.
Itu yang membuat Baginda termenung. Sesaat.
“Paman Sepuh, kalau itu menjadi keinginan Paman Sepuh, hari ini juga saya akan mengumumkan dalam pasewakan agung. Agar ditulis dalam kitab-kitab perundangan, disaksikan para pendeta, dan direstui Dewa yang Mahakuasa.
“Bahkan tlatah sebelah timur menjadi milik Paman Sepuh. Berikut dengan Kadipaten Lumajang sebagai pusat pemerintahan. Bantuan apa yang Paman perlukan untuk membangun akan saya sediakan.”
“Sungguh Baginda Raja berada dalam cahaya Dewa yang Maha Bercahaya.
“Hamba mengucapkan doa syukur diperkenankan mendengar sabda Baginda Raja.
“Mohon perkenan Baginda…”
“Sebentar, Paman Sepuh.
“Apakah Paman Sepuh akan segera meninggalkan Keraton?”
Wiraraja menyembah tiga kali hingga tubuhnya bagai digulung karena dalamnya tekukan punggungnya.
“Hamba ingin merasakan sisa-sisa usia hamba untuk bertani.”
Baginda Raja menghela napas dan segera beranjak pergi.
Cepat datangnya, cepat pula perginya.
Sejak kembali ke Keraton, Baginda Raja seperti tak berkenan melangkah keluar dari kamar.
Bahkan Mahapatih yang ingin menghadap tidak segera dijawab.
Pembagian bumi Majapahit ini bukan hanya berarti pembagian buah semangka. Ini juga berarti bahwa kejayaan yang ingin ditegakkan, terganggu kesentosaannya.
Seakan tiang Keraton ditanam di bumi yang terbelah.
Gangguan di Peraduan
BAGINDA merasa gundah.
Bumi Majapahit telah terbelah. Bagian timur telah diserahkan ke tangan Senopati Sepuh Aria Wiraraja. Untuk sementara satu masalah tuntas sudah.
Walau dihitung secara perimbangan kekuatan dan atau kekuasaan, wilayah timur bukan bahaya, akan tetapi bagi Baginda Raja ini merupakan langkah kalah.
Pembagian wilayah ini mempunyai arti bahwa keutuhan dan kebesaran Keraton yang sedang diangkat terasa goyah.
Baginda makin gelisah.
Satu demi satu bata yang disusun sebagai bangunan megah seperti lepas. Atau menunjukkan tanda-tanda keretakan yang parah.
Adipati Lawe, senopati unggulan yang diakui darma bekti dan kepahlawanannya telah tewas. Juga Senopati Mahisa Anabrang yang telah mempersembahkan dua putri dari tlatah Melayu. Yang lebih membuat parah ialah kenyataan bahwa dalam hal ini menyangkut Senopati Lembu Sora yang dihormati. Senopati andalan yang banyak jasanya semasa merebut Singasari dan mendirikan takhta.
Baginda merasa tak bisa tinggal diam.
Cepat atau lambat, Mpu Sora harus ditindak.
Akan tetapi juga berarti keretakan dari dalam akan makin menganga. Makin banyak bata-bata pondasi yang menulangi kebesaran Keraton terangkat.
Dalam keadaan demikian, Baginda Raja mengurung diri dalam kamar peraduannya. Satu-satunya yang bisa menemani adalah Permaisuri Tribhuana yang datang tidak hanya menghibur Baginda, akan tetapi bisa diajak bicara.
“Yayi Ratu, aku adalah suamimu. Aku juga rajamu yang harus kausembah. Tetapi aku juga manusia seperti yang lainnya. Aku juga lelaki yang bisa bingung dan membutuhkan pendapat.
“Di antara sekian banyak permaisuriku, kamu satu-satunya yang mengerti tata cara Keraton. Cobalah katakan, apa yang seharusnya kulakukan pada saat seperti sekarang ini?”
Permaisuri Tribhuana menghaturkan sembah.
“Hamba tak pantas memberikan pendapat, duh, Junjungan Seluruh Keraton Majapahit.
“Bukan hanya karena pengetahuan hamba terbatas, akan tetapi sesungguhnya hamba tak mengetahui apa yang terjadi di luar dinding kamar kaputren dan kamar peraduan ini. Hanya dua tempat inilah yang bisa hamba lihat.”
“Kamu keliru, Yayi Ratu.
“Aku tak akan memanggil permaisuriku yang lain, kalau ingin mendengarkan pendapat. Kamulah satu-satunya yang bisa dan berani mengutarakan.
“Katakan, Yayi Ratu.”
Permaisuri Tribhuana menyembah lagi.
Duduk bergeming di lantai.
Apa yang bisa dilaporkan?
Memang ia mengerti tata cara Keraton. Ia mengenal dan bisa menangkap suasana yang menghangat tapi berkabut. Ia bisa cepat merasakan dan melihat bayangan di belakang suatu peristiwa. Akan tetapi yang dihaturkan adalah hal yang sebenarnya.
Apa yang diketahui hanyalah seputar kamar kaputren—tempat para putri, serta kamar peraduan. Makin lama makin tidak mengetahui perkembangan di luar.
Ini semua berbeda dari zaman ketika Baginda Raja Ayahanda Sri Kertanegara dulu. Kalau ia banyak diajak bicara, ia merasa bisa memberi jawaban. Karena Sri Kertanegara membiarkan mengetahui dan atau mendengarkan pembicaraan-pembicaraan yang menyangkut peristiwa yang terjadi.
Sementara Baginda Raja yang menjadi suaminya sekarang ini lebih banyak mengurungnya.
Namun anggapan bahwa dirinya mahalalila atau luwes dalam bertutur kata masih belum tanggal.
“Yayi Ratu, aku memanggilmu kemari tidak untuk membisu.”
Permaisuri Tribhuana menyembah lagi.
Apa yang diketahui sekarang ini hanyalah peristiwa yang dilaporkan oleh Halayudha. Hanya Senopati Halayudha-lah yang leluasa menemui di kaputren untuk menyampaikan undangan Baginda. Dalam waktu yang pendek, Halayudha berbaik hati menceritakan apa yang terjadi.
“Hamba merasakan kegelisahan dan udara sangat panas di sekitar Keraton, sampai terasa gemanya dalam kamar peraduan yang biasanya tenteram ini.
“Bisa jadi karena bau amis keris Kebo Dendeng belum sepenuhnya terusir. Karena keris itu masih bau darah.”
Permaisuri Tribhuana hanya mengulang apa yang dikatakan Halayudha.
Yang mengatakan bahwa kegelisahan di antara para senopati makin meninggi, karena Baginda Raja tidak segera mengambil tindakan terhadap Senopati Sora. Ini membuat kepatuhan kepada Baginda Raja bisa bergoyang. Karena Baginda dianggap berbuat pilih kasih dalam menjalankan perundang-undangan Keraton yang sudah ditulis secara jelas.
Adalah sangat mustahil seorang muda seperti Mahisa Taruna sampai berani mengasah pedang sambil sesumbar.
Halayudha sempat pula membisikkan bahwa hal yang terbaik memang Baginda menghukum Mpu Sora. Sesuai dengan tata krama dalam kitab Kutara Manawa.
“Kamu pun berpikiran seperti itu?
“Aku bisa memerintahkan hukuman sekarang ini juga. Tetapi aku akan dianggap buta kalau harus menghukum mati Mpu Sora.
“Yayi Ratu, sedangkan pohon maja tahu membalas budi luhur kebaikan tanah. Walaupun pohon maja hanya bisa memberikan buah yang pahit dan memabukkan, akan tetapi itu diberikan kepada bumi sebagai balas budi.
“Menghukum mati Mpu Sora ibarat kata seperti memutuskan salah satu jariku sendiri.”
Permaisuri Tribhuana ingat bahwa Halayudha pun pernah menceritakan keberatan Baginda. Menurut kata-kata Halayudha,
“Duh, Permaisuri yang paling dicintai dan dihormati Baginda, sesungguhnyalah Baginda Raja berhati luhur dan mulia. Akan terasa beban berat bila Baginda sampai menjatuhkan hukuman seperti dalam pupuh astadusta. Ibarat kata memutus jari sendiri. Akan tetapi barangkali lebih baik kehilangan satu jari daripada satu tangan.
“Maaf, hamba berkata lancang. Akan tetapi sesungguhnya hamba hanya mencoba membayangkan betapa berat hati Baginda yang Mulia. Yang pasti hal ini akan mengganggu ketenteraman dan kenyamanan ranjang peraduan.”
“Senopati Halayudha, kenapa kamu ceritakan ini semua padaku?”
“Maaf, Gusti Permaisuri.
“Menurut pikiran hamba yang picik, hanya Permaisuri Tribhuana-lah satu-satunya yang dimintai pertimbangan oleh Baginda. Karena Gusti Permaisuri yang paling arif dan dewasa.
“Hamba menghaturkan ini semata-mata ingin sedikit—kalau mungkin— mengurangi kegelisahan Baginda, karena di saat seperti sekarang ini Baginda membutuhkan seseorang yang berani dan bisa mengutarakan secara tepat.
“Tak ada orang lain, selain Gusti Permaisuri.
“Mahapatih Nambi pun tidak diajak bicara mengenai hal ini. Apalagi senopati yang lainnya. Apalagi hamba yang hanya alas kaki Baginda.”
“Aku bisa mengerti maksudmu, Halayudha.”
“Sungguh luhur dan luas pandangan Gusti Permaisuri.”
Halayudha menyembah, menunduk, dan melanjutkan kembali,
“Minggatnya—maafkan istilah hamba yang kasar, akan tetapi begitulah sesungguhnya—Senopati Sepuh tak bisa dibiarkan berlanjut. Membawa pengaruh yang buruk bagi kebesaran Keraton. Karena Mahapatih Nambi akan merasa berkuasa. Mahapatih lupa perkataan Baginda bahwa anak kucing tak akan menjadi harimau di kelak kemudian hari.
“Memang dengan tersingkirnya Senopati Sora, Mahapatih makin kuat kedudukannya, karena merasa tak ada orang kedua di belakangnya.”
“Apakah Mahapatih Nambi merasa tersaingi oleh Senopati Sora?”
Halayudha menunduk.
Menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah.
“Ini buah pikiran hamba yang sangat picik. Semata-mata dugaan yang bisa salah, Permaisuri Tribhuana.
“Akan tetapi nyatanya, sejak kematian Senopati Renteng, Mahapatih tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mengusut tuntas masalah ini. Bahkan agaknya sengaja mendiamkan saja. Padahal sebagai pimpinan telik sandi, seharusnya Mahapatih mengetahui segala sesuatu yang terjadi.
“Ibarat kata seekor nyamuk pun dikenali kalau masuk ke dalam Keraton.”
“Saya bisa merasakan bahwa Baginda sangat berat menentukan pilihan.” “Sesungguhnya yang hamba sesalkan ialah justru kasih sayang dan keluhuran budi Baginda Raja disalahgunakan sebagai tepa selira, tenggang rasa yang melemahkan Baginda.
“Hamba percaya bahwa Baginda Raja sangat kuat dan dipayungi oleh kebijakan Dewa Agung dan tak akan goyah, akan tetapi bara yang mulai meletik tak bisa dibiarkan.”
“Menurut pendapatmu, apa yang sebaiknya Baginda lakukan?”
Halayudha bersorak dalam hati.
Tapi kepalanya menggeleng.
“Hamba tak berani mengutarakan, Gusti Permaisuri.”
Lepas Busana Senopati
SEWAKTU Permaisuri Tribhuana mendesak, Halayudha menjawab lirih,
“Pikiran hamba sangat pendek. Tak lebih jauh dari batang hidung hamba yang pesek ini.
“Tapi sesungguhnya memang hanya ini yang bisa hamba haturkan.”
Akan cukup menenteramkan kegelisahan bilamana Senopati Sora dihukum lepas busana senopati.”
Dengan kata lain, Senopati Sora dicopot segala pangkat dan derajatnya sebagai senopati. Diturunkan pangkatnya ke titik yang paling rendah!
Dalam keprajuritan hal itu bisa diterima.
Juga Permaisuri Tribhuana bisa menerima. Setidaknya ini lebih baik daripada dihukum mati. Dengan hukuman “lepas busana senopati”, masih ada kemungkinan untuk diberi ampunan. Berarti masih ada kesempatan memperbaiki diri, dan ada kemungkinan diterima pasuwitan atau pengabdiannya. Sehingga pangkat dan derajatnya bisa disandang kembali.
Masuk akal sebagai jalan tengah.
Permaisuri Tribhuana memuji buah pikiran Halayudha.
Barangkali akan terbalik ucapan Tribhuana andai mengetahui bahwa sesungguhnya Halayudha sedang mengusulkan hukuman yang jauh lebih kejam.
Hukuman yang paling hina!
Yang akan membuat Senopati Sora malu seumur hidupnya!
Tribhuana, walaupun jauh jangkauan pikirannya, akan tetapi tidak merasakan kehidupan sebagai senopati, atau kehidupan prajurit yang sesungguhnya. Pengetahuannya selama ini diperoleh dari berbagai kitab.
Inilah justru yang dimanfaatkan Halayudha.
Karena biar bagaimanapun, Senopati Sora adalah ksatria sejati. Julukan empu menunjukkan gelar yang terhormat sebagai tetua.
Bagi seorang ksatria sejati, dicopot dari jabatannya secara tidak hormat lebih menyakitkan daripada dihukum mati. Lebih memalukan dan membuatnya hina.
Bukan hanya seumur hidupnya. Sampai ke anak-cucunya!
Sama saja artinya menguliti Senopati Sora secara hidup-hidup.
Permaisuri Tribhuana, yang tak melihat liku-liku keculasan pikiran Halayudha, menyampaikan hal ini kepada Baginda. Dan Baginda tak menaruh curiga sedikit pun, bahwa Halayudha berada di belakang saran ini.
Maka Baginda kemudian memerlukan bertanya langsung kepada Halayudha.
Berpura-pura tidak mengetahui apa yang dibicarakan dengan Permaisuri Tribhuana, Halayudha menyembah hingga hampir menyentuh lantai di mana kaki Baginda berada.
“Kalau hamba boleh mengutarakan kepicikan, duh, Baginda Raja yang dipilih Dewa yang Maha bijak, hamba tidak ingin melihat Senopati Sora menjalani hukuman mati.
“Hamba mengerti bahwa Senopati Sora sangat terburu nafsu dan tidak mematuhi Kitab Agama yang dijadikan sumber pengatur tata krama.
“Namun, perkenankanlah Baginda tidak terbawa hawa panas.”
“Lalu?”
Halayudha menyembah makin rendah.
“Perkenankan Baginda memberi kesempatan Senopati Sora menebus semua dosa dan kesalahannya seperti manusia biasa.”
Baginda Raja mengangguk.
“Dua suara yang sama maksudnya.
“Mungkin kalau kutanyakan kepada yang lain, akan sama juga jawabannya.
“Baik, kelihatannya ini jalan keluar yang baik, Aku tak ingin tindakan Senopati Sepuh ataupun Senopati Lembu Sora menjadi contoh.
“Dalam pasewakan yang akan datang, akan kuambil keputusan. Terima kasih, Halayudha, tidak percuma aku mengangkatmu sebagai senopati pendamping.”
Begitu keluar dari kamar peraduan, malam itu juga Halayudha menemui Mahapatih.
Merasa bahwa Halayudha adalah orang dekat Baginda, Mahapatih memerlukan untuk menerima secara berdua saja.
Setelah menyampaikan sembah dan tata pergaulan sebagaimana biasanya, Halayudha menceritakan apa yang didengar dari pembicaraan Baginda Raja dengan Permaisuri Tribhuana.
“Baginda begitu murka, duh, Mahapatih yang perkasa. Begitu murkanya Baginda, sehingga malam ini juga sebenarnya ingin segera melepas pakaian senopati yang dikenakan Senopati Sora.
“Tapi sesungguhnya Baginda masih menyimpan suatu keluhuran budi, dan berharap Senopati Sora yang terang bersalah melakukan sendiri hal ini.”
Mahapatih diam tak bereaksi.
“Saya mendengar bahwa besok atau lusa Mahapatih akan dipanggil menghadap Baginda untuk mendengar penjelasan hal ini.
“Maafkan kalau saya berbuat lancang, akan tetapi sesungguhnya ini muncul dari niatan hati saya yang paling dalam, meminta Mahapatih untuk bertindak tidak ragu dalam mengemban titah Baginda.
“Bukannya saya meragukan Mahapatih yang mahapatuh, akan tetapi karena dalam hal ini bukan tidak mungkin terjadi sedikit ketegangan. Bahkan mungkin sampai perlu mengasah senjata.”
“Halayudha, Paman Senopati yang penuh perhitungan. Alasan apa Paman Senopati mengatakan perlu mengasah senjata?”
“Maaf, ini semata-mata hanya dari perhitungan, bahwa Senopati Sora agaknya sangat terikat erat dengan pangkat dan jabatannya yang sekarang ini, ataupun nanti sebagai pendamping Putra Mahkota.
“Dalam pikiran saya, kalau jelas mengakui kesalahan yang bisa dibuktikan semua orang, kenapa Senopati Sora tidak melepaskan busana senopati atau setidaknya mengundurkan diri secara terhormat?
“Kenapa justru berdiam diri, sambil menyiapkan pengikutnya yang setia, seperti juga memanggil Mpu Renteng yang tewas dalam perjalanan?”
Mahapatih mengangguk.
Bisa mengerti pikiran Halayudha.
“Paman Senopati Halayudha, saya pribadi akan menghadap Baginda. Sampaikan dan atur waktu. Saya ingin menegaskan bahwa putusan apa pun yang diberikan Baginda, akan saya junjung tinggi.
“Dengan mendahului sowan sebelum pertemuan atau dipanggil nanti, saya hanya ingin menguatkan pendapat, bahwa kami para senopati berada di belakang Baginda Raja.”
Halayudha mengangguk.
Sorot matanya menggambarkan kekaguman dan pemujaan.
“Mahapatih sungguh luar biasa.
“Sebisa mungkin saya akan mencoba menyampaikan kepada Baginda Raja pada saat yang tepat. Karena saat ini Baginda Raja sedang bermuram durja di kamar peraduan, saya akan menunggu saat yang baik untuk menyampaikannya.”
“Terima kasih atas kunjungan Paman Senopati.”
Kembali ke dalam Keraton, Halayudha segera masuk ke kamarnya. Disusunnya sebuah nawala, surat-surat yang menerangkan kejadian di dalam Keraton. Surat itu dikirim langsung ke Senopati Sora dan dibawa salah seorang prajurit yang dipercaya.
Halayudha menjelaskan kepada Senopati Sora bahwa sesungguhnya Baginda Raja tak berkenan menjatuhkan hukuman kepada Senopati Sora mengingat jasa-jasa Senopati, dan mengingat bahwa kejadian yang membawa kematian Senopati Anabrang bukan kesengajaan.
Akan tetapi karena desakan Mahisa Taruna yang didukung sepenuhnya oleh Mahapatih, Baginda tak bisa bertindak lain.
Halayudha menjelaskan bahwa ia sangat tidak setuju dan sangat menentang hukuman “lepas busana senopati”, akan tetapi ia malah dipencilkan dan dianggap mendukung Senopati Sora. “Duh, Senopati Sora, padahal niatan Mahapatih sudah jelas. Hanya ingin menyingkirkan Senopati Sora dengan cara yang sangat menjijikkan, dengan cara yang paling tidak terhormat.
“Nawala, surat keterangan, ini saya tulis seperti juga memasang tali jerat ke leher saya. Akan tetapi saya melakukannya karena saya tak bisa mendustai isi hati saya yang sejati.
“Bahwa dalam hal ini ada usaha-usaha yang ditutupi kabut tetapi mudah diterka. Seekor serigala memakai bulu kambing, tetap tercium bau busuknya.
“Saya sendiri barangkali tak bisa menatap matahari esok karena tindakan ini. Akan tetapi saya tak menyesal kalau sampai nawala ini terbaca selain oleh Senopati Agung Sora. Karena saya telah mengeluarkan apa yang ingin saya sampaikan.
“Sampai saat saya menuliskan ini semua, Baginda masih mengingat jasa Senopati Agung Sora. Akan tetapi gerak-gerik Mahapatih yang memakai tangan Mahisa Taruna yang bau kencur sesungguhnya perlu diwaspadai.
“Semoga Dewa yang Maha tahu selalu melindungi Senopati Agung Sora, karena sesungguhnya hal ini juga berarti melindungi Keraton, bumi yang dihuni leluhur.”
Halayudha kaget sewaktu selesai menitipkan surat kepada Dyah Embang, prajurit kepercayaannya, merasa ada angin lain dalam Keraton.
“Siapa kamu?”
Halayudha bersiap. Kedua tangan menggeletar, menyimpan tenaga yang siap dimuntahkan. Siapa yang berani mati menyusup ke Keraton?
Sarang Naga yang Sesungguhnya
HALAYUDHA mengawasi sekitar dengan cermat.
Sebagai senopati yang lahir dan dewasa dengan segala intrik dan tipu muslihat, kecurigaannya sudah lahir dengan sendirinya. Seperti juga napas atau denyut jantungnya. Segala sesuatu penuh perhitungan untung-rugi sekecil-kecilnya. Perubahan alis mata menjadi lebih sedih atau kagum, termasuk gerakan yang disadari dan diperhitungkan.
Maka kalau ada sesuatu yang sedikit berbeda, Halayudha tanggap.
Seperti sekarang ini
Begitu memerintahkan Dyah Embang, Halayudha merasa ada bayangan bergerak entah di mana. Tidak, ia tidak sepenuhnya melihat. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada suatu bayangan.
Mungkinkah ini bayangan yang ada dalam isi kepalanya yang lagi penuh?
Bisa jadi, jawab Halayudha dalam hati.
Karena nyatanya tak ada yang lain sedikit pun. Lagi pula ruangan ini berada dalam lingkungan Keraton. Di bagian dalam.
Bukan hanya prajurit, bahkan senopati pun tak sembarangan melewati ruangan ini. Kalau ada jalan yang lain—dan selalu ada—pasti akan memilih jalan bukan ruangan ini. Seseorang yang berada di ruang ini bisa dicurigai dan bisa dihukum mati karena alasan mengancam dan atau mengganggu Baginda Raja.
Dyah Embang pun akan mendapat hukuman yang sama jika berada di ruangan ini.
Hanya tiga orang yang bisa secara mendadak muncul di ruangan ini tanpa dicurigai.
Yang pertama Baginda Raja sendiri. Rasanya tidak mungkin Baginda Raja muncul begitu saja dan berjalan-jalan di tengah malam seperti sekarang ini.
Yang kedua adalah Mahapatih. Sebagai pelaksana harian yang bertanggung jawab atas masalah keamanan dan ketertiban Keraton, Mahapatih bisa berada di mana saja. Namun, kalau Mahapatih berada di ruangan ini secara pribadi, agak kurang masuk akal. Ataukah Mahapatih mulai mencurigainya? Apakah Mahapatih mulai mengendus bau tidak sedap yang dilakukan? Halayudha merasa keringat dinginnya membanjir. Jika benar begitu, ia bagaikan sedang mengalungkan jerat ke leher sendiri seperti yang dituliskannya kepada Mpu Sora. Tapi Halayudha tidak kuatir kalau sampai suratnya jatuh ke tangan Mahapatih. Dalam perhitungannya, yang tersirat dalam surat itu, Mpu Sora pasti akan menghancurkan surat itu. Mpu Sora terlalu luhur budinya untuk membocorkan rahasia karena ini sama juga dengan mengadu domba. Dan itu bukan sifat Mpu Sora!
Yang ketiga adalah dirinya sendiri.
Halayudha merasa yakin bahwa yang terasa lain tadi adalah bayangannya sendiri. Karena terlalu tegang dan terlalu banyak rencana yang sedang dijalankan.
Akan tetapi bukan Halayudha kalau ia melupakan begitu saja.
Begitu membelok ke ruangan lain, ia segera bersembunyi ke balik tiang. Menunggu terus sambil mengerahkan kemampuannya kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Kesiuran angin sedikit saja, pasti membuatnya waspada dan tahu apa yang terjadi.
Namun sampai waktu yang bisa digunakan untuk menghabiskan makanan, tak ada angin tak ada bau lain.
Halayudha melintasi ruangan yang agak terbuka itu, kembali ke dalam kamarnya.
Menunggu lama.
Baru setelah yakin tak ada sesuatu apa, Halayudha masuk ke bawah ranjang tidurnya. Membuka papan di situ, dan masuk ke lubang terowongan.
Menyusuri gelap.
Halayudha meyakinkan dirinya kembali bahwa terowongan bawah Keraton ini tak ada yang mengetahui. Karena ia yang membuat sendiri, dibantu para prajurit setia, yang setelah menyelesaikan pekerjaan langsung dibunuh dengan tangannya sendiri. Tak beda dari Dyah Embang yang kini sedang menjalankan tugas. Begitu tugas selesai, tamat pula riwayatnya.
Terowongan bawah Keraton ini dibuat berdasarkan gua bawah Keraton di mana ia menyimpan Nyai Demang serta ketiga Kama dari Jepun.
Memang lolosnya Nyai Demang merupakan teka-teki terbesar baginya. Karena dalam alam pikirannya tak mungkin ada yang bisa meloloskan diri. Sehingga selama beberapa waktu Halayudha sengaja berada dalam kamar Nyai Demang untuk menemukan cara-cara Nyai Demang meloloskan diri.
Betapa kaget ketika Halayudha menemukan Dewa Maut yang diringkus dengan mudah.
Dari Dewa Maut yang bicaranya ngacau, Halayudha memperoleh gambaran bagaimana Nyai Demang lolos. Sejak itu bagian dapur Keraton ditutup rapat. Hanya ada satu jalan yang dikuasai sepenuhnya oleh Halayudha.
Di dalam gua kurungan bawah Keraton, ia menahan Dewa Maut bersama ketiga Kama dari Jepun. Halayudha belum bisa memastikan akan diapakan keempat tawanan itu. Namun rasanya masih bisa diperas sesuatu dari mereka.
Itu akan dilakukan suatu hari.
Toh tak ada bahayanya, selama pintu masuknya dikuasai.
Mengenai ruangan di bawah ranjang tidurnya, bahkan Baginda Raja sendiri tidak mengetahui. Karena saat itu dibuat bersamaan pembangunan Keraton. Sehingga gundukan tanah yang berlebih tak akan menimbulkan kecurigaan siapa pun.
Halayudha merasa bahwa dalam soal kecermatan dan ketelitian, ia lebih jago daripada siapa pun yang ditemui. Hampir semua rencananya yang semula kelihatan hampir tak masuk akal nyatanya bisa terlaksana. Boleh disebut sempurna, kecuali lolosnya Nyai Demang yang akan segera dibereskan jika suasana sudah mengizinkan.
Untuk semua ini, Halayudha sering memuji dirinya sendiri.
Selama ini ia belum pernah menemui orang lain yang bisa berbuat seperti dirinya.
Bahkan Naga Nareswara, yang akan didatangi sekarang ini, tak menduga rencananya yang utuh.
Halayudha merasa bahwa di atas bumi dan di bawah langit ini tak ada yang mampu menyamainya, apalagi menandinginya!
Keyakinan mutlak kepada kemampuannya yang sempurna dalam mengatur dan mengarahkan suasana ini menyebabkan dirinya sedikit alpa.
Bahwa sesungguhnya masih ada yang tak sepenuhnya bisa diatur.
Yaitu takdir.
Inilah yang terjadi pada diri Gendhuk Tri. Bayangan yang menimbulkan suasana angin agak berbeda tadi sebenarnya adalah imbasan dari gerakan tubuh Gendhuk Tri!
Dalam perjalanan berkelana, Gendhuk Tri akhirnya sampai ke dalam Keraton. Dengan keinginan masuk ke kurungan bawah tanah untuk membebaskan Dewa Maut.
Bagi Gendhuk Tri, menyusup ke dalam Keraton tak menimbulkan gangguan suatu apa. Ia pernah mengenai keadaan Keraton, yang boleh dikatakan sangat banyak kemiripannya dengan Keraton Singasari yang dikenalnya.
Hanya saja Gendhuk Tri mengalami kesulitan mencari jalan masuk. Beberapa hari berada di ruangan dalam Keraton, masih saja tak menemukan sumur di kaputren atau bagian dapur. Namun Gendhuk Tri tidak putus asa. Ia terus mengawasi Halayudha, sebisanya. Karena menurut Nyai Demang, Halayudha-lah yang membawanya masuk.
Dalam pikiran Gendhuk Tri, hanyalah mencari saat yang tepat untuk menawan Halayudha dan memaksanya membebaskan Dewa Maut. Ia tak mempunyai rencana lain yang lebih muluk.
Namun rencana Gendhuk Tri menjadi berantakan, karena Halayudha ternyata sangat sibuk dan berpindah tempat yang terjaga sempurna.
Ini semua tidak membuat Gendhuk Tri kehilangan akal.
Ia akan melawan dengan kesabaran.
Rencananya hampir berhasil sewaktu Halayudha sendirian. Namun justru saat itu Halayudha seperti mengenali. Maka Gendhuk Tri segera menyembunyikan diri.
Menyelinap masuk ke kamar peraduan Halayudha!
Cerdik seperti seratus kancil, licik seperti seribu buaya, Halayudha tak akan pernah menduga ada orang yang memilih persembunyian di kolong ranjang peraduannya!
Padahal pikiran Gendhuk Tri sederhana.
Dalam kamar peraduan, seperti diceritakan Nyai Demang, ia bisa memaksa lebih leluasa.
Dalam kamar peraduan, siapa yang mengira bisa dipakai sebagai tempat persembunyian? Dan kebiasaan para senopati, selalu sendirian di dalam kamar peraduannya.
Seperti juga Baginda Raja. Hanya saat diperlukan, permaisuri atau wanita yang lain dipanggil datang menghadap. Sesudah itu kembali lagi ke kaputren.
Terang saja waktu Halayudha menunggu di tempat persembunyiannya, tak ada yang muncul.
Karena Gendhuk Tri sudah berada dalam kamarnya.
Dan tempat persembunyian yang paling aman adalah di bawah kolong ranjang. Sewaktu menyusup masuk ke bawah kolong, Gendhuk Tri tidak merasa sesuatu yang aneh. Baru kemudian menyadari ada bagian bata yang bersih. Ternyata papan kayu yang dibentuk seperti lantai. Ketika Gendhuk Tri membuka, saat itu tubuhnya terjeblos ke bawah dan papan lantai itu menutup sendiri.
Dalam gelap, Gendhuk Tri terkesiap.
Ternyata Halayudha masuk ke bawah juga!
Raja Segala Naga
DALAM kagetnya Gendhuk Tri berjalan ke depan, mengikuti lorong.
Ada kejadian yang boleh dikatakan kebetulan bagi jalan hidup Gendhuk Tri. Dirinya pernah terkurung dalam Gua Lawang Sewu dalam jangka waktu yang cukup lama. Sehingga tak terlalu kaget.
Maka begitu ada bagian cekungan, Gendhuk Tri segera masuk ke dalamnya.
Harap-harap cemas menunggu langkah Halayudha yang ringan.
Perhitungannya hanya satu.
Gendhuk Tri akan menyergap Halayudha lebih dulu. Pasti Halayudha tak menduga.
“Tikus celurut kenapa membuat langkah ganda?”
Gendhuk Tri merasa jantungnya copot!
Bukan karena ternyata di dalam gua di bawah kolong ranjang ada manusia lain, akan tetapi ditilik dari suaranya jelas memiliki tenaga dalam yang luar biasa penguasaannya. Gendhuk Tri hanya bisa membandingkannya dengan Upasara Wulung.
Upasara Wulung di saat jaya.
Ah, dalam soal mati-hidup seperti sekarang ini pikirannya masih saja ke arah Upasara!
Darah Gendhuk Tri berdesir kencang.
Kini, walaupun sifatnya yang sradak-sruduk masih terlihat, akan tetapi Gendhuk Tri sudah jauh berbeda. Pikirannya mulai banyak terbuka sejak dirinya menyimpan racun yang maha berbahaya. Pikirannya mulai berhati-hati dan penuh pertimbangan.
Seperti seruan yang baru saja didengar tadi.
Dengan menyebut langkah ganda, berarti bisa diketahui bahwa setidaknya lebih dari satu orang yang masuk!
Kalau gema dan getaran bisa diketahui secara persis, itu sungguh luar biasa.
Bahkan Halayudha sendiri tadi hanya berhenti sejenak ketika Gendhuk Tri melintas sambil mengentengkan tubuhnya!
Tapi yang satu ini jauh di atas Halayudha.
Mendengar panggilan namanya, Halayudha segera mendekat. Melewati tempat persembunyian Gendhuk Tri. Lurus ke arah depan.
Baru sekarang Gendhuk Tri bisa melihat segalanya lebih jelas. Halayudha menuju ke salah satu tempat di ujung terowongan yang luas. Di depan Halayudha yang duduk bersila sambil menyembah, nampak sesosok bayangan yang seolah menyatu dengan tanah sekitarnya.
Gendhuk Tri hampir tak percaya pada apa yang dilihat.
Sosok itu duduk bersila, akan tetapi pantatnya tidak menyentuh tanah di bawahnya. Seolah ada tenaga dalam yang mengganjalnya. Baru setelah berbicara untuk kedua kalinya, perlahan-lahan tubuhnya turun menyentuh tanah.
“Kabar apa yang kaubawa sehingga kamu bolak-balik kemari?”
Gendhuk Tri menahan napas.
Ini benar-benar sarang naga yang sesungguhnya. Sumber segala sumber bahaya. Tokoh yang ditemui Halayudha mengetahui bahwa tadi sudah ada langkah kaki mendekat. Hanya barangkali menduga tadi adalah langkah Halayudha.
“Sembah saya kepada yang mulia Naga Nareswara, Raja Segala Naga di jagat raya ini.
“Saya datang guna memberikan laporan mengenai Mpu Sora yang sekarang tinggal menunggu pelaksanaan untuk disingkirkan.”
Sementara Halayudha menceritakan pertentangan yang berhasil diracunkan dalam diri Mahapatih-Sora-Taruna-Baginda Raja, Gendhuk Tri mencoba memeras seluruh kemampuannya untuk memastikan siapa yang dipanggil dengan Naga Nareswara.
Sudah jelas bagai siang hari, Naga Nareswara tokoh yang sakti mandraguna. Akan tetapi selama ini ia tak pernah mengenai atau mendengar namanya.
Paman Jaghana juga tidak menyebut.
Kangmas Upasara juga tidak.
Ah, kenapa pikirannya ke Kangmas lagi?
Tapi memang selama ini tak pernah disinggung nama Naga Nareswara, yang diulangi Halayudha sebagai Raja Segala Naga. Nareswara memang bisa berarti raja. Akan tetapi selama ini, itu hanya sebutan untuk mengatakan raja. Tidak dipakai untuk orang yang jelas bukan Baginda Raja.
Kalau ketiga Kama dari Jepun seperti bisa diketahui oleh Paman Jaghana ketika Nyai Demang bercerita, sekarang ini boleh dikatakan belum pernah disinggung sama sekali.
Raja Segala Naga?
“Tikus celurut, aku tak mau mendengar rencana-rencanamu yang busuk. Kalian semua manusia yang busuk hatinya tapi lembut senyumnya.
“Aku hanya mau tahu apakah ksatria Jepun itu tidak membawa sesuatu.
“Ambillah Kitab Bumi, aku sudah muak membacanya.
“Kalian hanya memakai gaya berbeda yang lebih memusingkan.”
Sambil mengerahkan kemampuannya untuk mengatur pernapasan, Gendhuk Tri masih bertanya-tanya.
Raja Segala Naga?
Begitu kasar memaki Halayudha sebagai tikus celurut, tikus kecil yang baunya busuk. Mengatakan Kitab Bumi tak ada apa-apanya.
Raja Segala Naga?
Rasanya…
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:43 pm

“Tikus celurut, aku tak peduli apakah Lawe mati, Anabrang mati, atau siapa lagi yang mati, atau siapa lagi yang hidup. Bagiku mereka sama saja. Akan mudah kutaklukkan.
“Kalau kamu ingin menjadi mahapatih, itu urusanmu sendiri.
“Aku hanya ingin mengenal hati tikus celurut yang sesungguhnya. Supaya aku bisa memenggal kepalanya, dan menunjukkan kepada Kaisar, bahwa tidak seluruh anak buahku gagal menjalankan tugas.
“Bahwa masih ada aku, Raja Segala Naga.
“Kamu paham?”
“Sepenuhnya saya mengerti.
“Tapi di Keraton saat ini sedang kisruh, sedang banyak persoalan. Terserah Naga Nareswara, apakah Paduka yang Mulia ingin bergerak sekarang atau menunggu waktu.
“Sebab jika Yang Mulia memenggal kepala raja kami, Yang Mulia Raja Segala Naga akan tersita waktunya untuk memenggal kepala seluruh penduduk yang tak akan membiarkan Yang Mulia pergi.
“Saya percaya Yang Mulia Raja Segala Naga bisa mengatasi, akan tetapi ini pekerjaan yang merepotkan. Kalau saya sudah menjadi mahapatih, segalanya akan lancar.
“Yang Mulia Naga Nareswara telah menunggu sekian lama, kenapa tidak mau menunggu sebentar lagi, saat purnama segera tiba?
“Bukankah purnama pasti tiba?
“Bukankah saya tak mungkin lepas dari Yang Mulia?”
“Sungguh merdu kata-katamu. Kalian bangsa tikus celurut yang pandai menyusun kata-kata merdu di telinga.”
Gendhuk Tri menggigil.
Belum pernah ia mendengar hinaan begitu membangkitkan semua bulu tubuhnya.
Gendhuk Tri menggigil.
Karena kini muncul kesadaran baru. Naga Nareswara mengaku sebagai gegeduging para Naga. Ini berarti Naga Nareswara yang bisa duduk di tengah udara ini guru dari ketiga Naga yang perkasa. Ketiga senopati perang Tartar yang sungguh menggetarkan. Mereka bertiga adalah Naga Kembar, Naga Wolak-Walik, serta Naga Murka. Yang diketahui Gendhuk Tri, ketiga senopati perang Tartar itu pemegang pucuk pimpinan tertinggi utusan yang datang ke tanah Jawa. Ternyata masih ada gembongnya. Yang bersembunyi. Yang menyebut dirinya Raja Segala Naga.
Masuk akal kalau mengaku sebagai Raja Segala Naga. Karena kalau ketiga Naga itu saja sudah membuat seluruh ksatria mengerahkan tenaga, apalagi gurunya!
Gendhuk Tri bisa mengerti karena secara jelas mengetahui kehebatan mereka. Dirinya pernah ditawan.
Hanya jago-jago kelas satu yang mampu mengimbangi mereka. Bahkan Ngabehi Pandu, guru Upasara Wulung—lagi-lagi Kangmas terucapkan— gugur bersama Kiai Sangga Langit. Salah seorang pendeta yang datang bersama Naga Murka, Naga Wolak-Walik, serta Naga Kembar.
Dan selama ini menurut sejarah yang terdengar adalah pujian bahwa senopati Tartar adalah senopatinya para senopati. Karena mereka terbukti bisa menaklukkan seluruh jagat. Dari tempat matahari terbit sampai tempat matahari terbenam.
Gendhuk Tri menggigil.
Karena ternyata Naga Nareswara masih menyimpan dendam dan akan membawa kepala Baginda Raja, sebagai persembahan bagi Kaisar Tartar.
Karena ternyata Halayudha berada di bawah pengaruh total Naga Nareswara. Bisa jadi ada semacam aji sirep yang luar biasa yang bisa dipakai Naga Nareswara untuk mengendalikan Halayudha.
Bukan tidak mungkin, kalau mengingat Halayudha juga banyak menggunakan aji sirep. Termasuk ketika menguasai Nyai Demang.
Sumber dari semua intrik, asal semua kebusukan diketahui. Akan tetapi Gendhuk Tri juga menggigil karena praktis tak ada gunanya.
Kepada siapa ia melaporkan?
Apa mungkin bisa lolos?
Di sarang Raja Segala Naga, neraka mungkin masih terasa dingin.
Gendhuk Tri menggigil.
Kiai Sambartaka
Samar-Samar Gendhuk Tri bisa melihat lebih jelas.
Naga Nareswara mempunyai wajah bulat. Seperti Jaghana. Hanya saja alis matanya tumbuh sangat panjang. Yang membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya ialah ternyata alis itu berbeda warnanya. Sebelah kiri seluruhnya putih, sebelah kanan seluruhnya hitam legam. Pakaian yang dikenakan seperti dikerudungkan begitu saja, warnanya kuning pucat dengan sulaman naga di bagian ujung lengan. Bagian tengah diikat oleh kain yang juga bersulamkan naga yang tengah menelan matahari.
Daun telinganya sangat lebar.
Begitu juga jidatnya, karena rambutnya diikat ke belakang. Kedua tangannya seperti sikap tengah bersemadi. Ada tongkat keemasan yang di ujungnya tergambar pula naga.
Raja Segala Naga, dengan tongkat emas.
“Tikus celurut, kamu mempunyai kesabaran yang tak dimiliki bangsa lain. Kenapa tidak kamu gebuk saja Nambi, kalau kamu sudah bisa mengimbangi ilmunya?”
Halayudha tidak segera menjawab.
“Kalau hanya bersandar pada ilmu kanuragan, saya telah lama bisa mengalahkan Mahapatih Nambi. Akan tetapi kemenangan tidak akan berada di tangan saya.
“Yang Mulia Raja Segala Naga tahu sendiri, tiga Naga dari Tartar ditambah Kiai Sangga Langit tak dapat dikalahkan para ksatria dari mana pun.
“Nyatanya bisa dipecundangi dan didepak ke laut.
“Dalam perbendaharaan budaya kami, ada suatu kata untuk bersabar. Aja nggege mangsa, jangan mempercepat musim. Semua ada saatnya.
“Buah maja tetap pahit, baik ketika masih muda ataupun sudah tua. Akan tetapi sepahit-pahitnya saat buah itu tua, lebih pahit saat muda.
“Buah kelapa tetap bisa dimakan, baik ketika masih muda ataupun sudah tua. Akan tetapi kalau mengharap isi buah yang putih lebih banyak, kita tunggu sampai tua. Kalau menginginkan air buahnya, kita petik selagi muda.
“Buah cabe, tetap pedas, baik ketika muda maupun tua. Tetapi sepedas-pedasnya yang muda, masih tetap pedas yang tua. Alam sendiri memberi warna, tanda masak.
“Yang paling tepat adalah menuai di saat yang tepat, untuk mengambil apa yang dibutuhkan.
“Untuk meraih kemenangan, Yang Mulia Raja Segala Naga hanya menghadapi satu lawan utama. Upasara Wulung. Tapi untuk menjadi yang nomor satu, benar-benar Raja Segala Naga dan binatang hutan yang lain, harus bisa memenggal kepala.
“Memenggal kepala pun, ada saat yang tepat.
“Memetik buah maja pun, ada saat yang tepat. Agar bisa mengambil buahnya, tanpa mengotori tangan terkena getah.”
Gendhuk Tri bisa mendengarkan dengan jelas.
Luar biasa culasnya Halayudha ini. Secara sengaja memakai nama Upasara Wulung untuk menghalangi niatan Naga Nareswara. Di samping memakai bahasa yang muluk-meliuk dengan segala pengertian mengenai waktu dalam tata budaya.
“Aku suka omonganmu, tikus celurut.
“Tetapi kamu keliru kalau hanya menganggap Upasara Wulung satu-satunya lawanku.
“Sebentar lagi pasti akan muncul orang Hindia yang akan meramaikan perebutan gelar ksatria lelananging jagat.”
Gendhuk Tri lagi-lagi bercekat.
Istilah yang digunakan Naga Nareswara dalam banyak hal tidak tepat. Akan tetapi pengertian dan maknanya bisa dimengerti.
Selama ini memang tidak ada gelar ksatria lelananging jagat, yang bisa diartikan sebagai ksatria yang paling jantan di seluruh jagat. Akan tetapi bahwa dalam dunia persilatan ada perebutan sebutan pendekar paling sakti, adalah hal yang lumrah.
Gendhuk Tri mempertajam pendengarannya.
“Di tanah Jawa ini sebentar lagi akan terjadi pertemuan puncak dari segala puncak ksatria yang datang dari berbagai arah mata angin.
“Kamu, tikus celurut, tak tahu hal ini. Kamu hanya tahu bagaimana mengadu domba orang dan merebut pangkat serta anak-istrinya.”
Halayudha menggeleng lemah.
“Untuk apa saya mengikuti perebutan itu, kalau menyentuh Raja Segala Naga saja tak bisa?”
“Kata-katamu sungguh berbisa.
“Tapi itu urusanmu.
“Uruslah sendiri.
“Saat ini kita masih bisa bekerja sama. Kamu mencukupi kebutuhanku, dan aku menyiapkan pertarungan sakti yang akan datang. Saat itu seluruh jagat akan mengakui siapa sesungguhnya lelananging jagat ini. Dan Kaisar akan menganggapku sebagai senopatinya yang sejati. Yang telah menaklukkan seluruh mata angin.”
“Dan keraton ini, di bawah pimpinanku, akan mengibarkan panji-panji Tartar.”
“Aku tak peduli.
“Aku telah menunggu sekian lama. Kalau Kama Kangkam telah muncul, pasti sebentar lagi Kiai Sambartaka akan muncul. Karena kalau Kama Kangkam sudah menampakkan diri, berarti ia telah mengetahui aku ada di sekitar sini.”
Lagi-lagi nama yang tak dikenal Gendhuk Tri.
Tetapi kalau hanya didengar dari namanya, dan disebut dengan keseganan tertentu, pasti mempunyai ilmu yang setara. Nama Sambartaka bisa diartikan semua hancur-hancuran atau juga kiamat!
Kalau sebutan Raja Segala Naga saja sudah nampak aneh karena tak biasa dipongahkan, kini ada lagi sebutan Kiai Kiamat!
Gendhuk Tri juga menyadari bahwa Naga Nareswara adalah nama yang dipakai di tanah Jawa. Sehingga terdengar agak janggal. Kiai Sambartaka, kalau benar dari tlatah Hindia, pasti juga nama yang disesuaikan dengan sebutan di tempat ini.
Tidak sepenuhnya tepat. Akan tetapi cukup memberi gambaran dan bagaimana kira-kiranya.
“Aku juga heran, kenapa justru di tanah yang selalu kehujanan dan matahari bisa menghilangkan bayangan tubuh kita saat tengah hari dipilih sebagai tempat pertemuan.
“Ini memang akal tersembunyi dari mulut manis Eyang Sepuh.”
Kalau saat itu Gendhuk Tri tengah menelan ludah, mungkin akan tersedak.
Bagaimana tidak, kalau tokoh pepunden, tokoh pujaan yang dihormati, disebut-sebut?
“Sewaktu Kaisar Tartar ingin menguasai dunia, waktu itulah kami semua ingin membuktikan bahwa sesungguhnya ilmu yang sejati itu berasal dari kami.
“Para pendeta dari tlatah Hindia sesumbar sumber segala ilmu silat berasal dari negerinya. Barangkali ada benarnya. Tetapi di negerikulah ilmu itu menjadi ilmu yang sejati.
“Kami menyebutnya sebagai ilmu Jalan Budha, sedangkan ksatria Jepun di bawah pimpinan Kama Kangkam juga menyebut nama itu dengan tambahan Zen ataupun laku, atau juga koan. Kiai Sambartaka menyebut dengan Tepukan Satu Tangan, dan Eyang Sepuh mengatakan hal yang kurang-lebih sama, dengan embel-embel dari Kitab Bumi.
“Aku bisa menyebutkan kitabku sendiri.
“Kama Kangkam bisa menyebutkan kitabnya sendiri.
“Kiai Sambartaka bisa menyebutkan kitabnya sendiri.
“Sekarang saatnya membuktikan ilmu siapa yang paling murni, yang harus diakui.
“Kami sudah merencanakan suatu pertemuan bersama, dan Eyang Sepuh yang akan mewakili tanah Jawa. Jauh sebelum secara resmi sebagai tamu negara rombonganku datang, aku sudah berada di tanah ini. Seperti juga Kama Kangkam dan Kiai Sambartaka. Semua terpikat omongan manis Eyang Sepuh yang mengatakan telah membandingkan semua kitab dan menganggap, untuk tanah Jawa, Kitab Bumi yang tak bisa ditandingi.
“Kami datang untuk membuktikan.
“Tapi sudah kukatakan, kalian hanya bisa pamer bermulut manis. Begitu kami semua datang, Eyang Sepuh menghilang. Tak adakah yang lebih pengecut dari semua itu?
“Kini yang dimajukan adalah bocah ingusan yang bernama Upasara Wulung. Tapi karena ia menjadi pemimpin Perguruan Awan dan telah mempelajari Kitab Bumi untuk menggasak Naga-Naga dari Tartar, aku tak berkeberatan menghadapinya.”
Lain yang dipikir Gendhuk Tri, lain pula jalan pikiran Halayudha.
Kalau Gendhuk Tri gusar karena Upasara dikatakan anak ingusan, Halayudha berpikir tentang imbangan kekuatan.
Jelas Upasara Wulung tak bisa dijagokan.
Masih ada Kama Kangkam, dan kedua muridnya. Kalau kemudian juga muncul Kiai Sambartaka, ia juga akan mengatur agar pertarungan antar mereka berhasil memusnahkan ketiganya!
Ini jelas tidak mudah, karena yang dihadapi adalah jagonya jago.
Kama Kangkam bisa ditekuk dengan tipu muslihat. Akan tetapi bukan tidak mungkin akan dicarikan saat yang tepat untuk menggasak Naga Nareswara.
Tapi di mana Kiai Sambartaka?
Dan apakah adatnya tidak lebih gawat dari Kama Kangkam atau Naga Nareswara?
Kalau semua ini bisa dipusatkan, jalan terang di depannya!
Senja Kala Dini Hari
GENDHUK Tri hampir tak bisa menahan keperihan.
Menggurat luka di batinnya.
Alangkah bedanya keadaan sekarang ini. Tak ubahnya perbedaan sinar matahari. Sama-sama hangat dan tidak panas, akan tetapi hangatnya sinar pagi menandai lahirnya hari panjang yang gemilang. Sementara hangatnya sinar matahari senja akan bersambung dengan kegelapan.
Belum pernah sepanjang hidupnya Gendhuk Tri merasa bahwa ia begitu mencintai bumi yang diinjak seperti sekarang ini.
Belum pernah ia begitu prihatin dengan tanah kelahirannya seperti sekarang ini.
Inilah yang membuatnya makin berduka.
Ketika Eyang Sepuh memimpin Perguruan Awan, wawasan dan jangkauannya meliputi ke segala tempat di mana matahari bersinar. Seiring dengan Baginda Raja Sri Kertanegara yang memperluas cakrawala, Eyang Sepuh juga mengangkat derajat para ksatria dan pendeta. Bukan hanya kekuatan Keraton yang menggema, tetapi juga kekuatan batin para ksatria dan pendeta yang luhur budinya.
Dengan kehadiran Eyang Sepuh di Perguruan Awan, Tepukan Satu Tangan ternyata bisa menggema dan diakui oleh para ksatria di belahan bumi yang lain, baik dari Negeri Cina yang menguasai pasukan Tartar, Jepun, maupun Hindia. Dan termasuk sangat diperhitungkan, karena untuk membuktikan siapa yang paling murni mempelajari kitab yang disengketakan itu, mereka perlu datang sendiri.
Sungguh masa yang gemilang.
Eyang Sepuh telah mengawali dengan langkah-langkah besar dengan pandangan yang jauh.
Gendhuk Tri merasa bangga menjadi salah seorang murid Perguruan Awan.
Lepas dari adat Naga Nareswara, Kangkam, maupun Sambartaka yang tak bisa diterima, Gendhuk Tri menganggap mereka semua tokoh yang menjadi tempat di mana para ksatria memandang.
Ngenesnya, atau tragisnya, justru Upasara Wulung yang menjadi pewaris Tepukan Satu Tangan, yang bisa mewakili pertemuan tokoh sakti mandraguna dari berbagai penjuru jagat, sedang dalam keadaan cacat.
Karena pertikaian dari dalam.
Karena intrik-intrik dan cara-cara yang culas. Seperti juga yang dilakukan Halayudha.
Di saat kebesaran dan keksatriaan diuji, Halayudha justru mengemukakan keinginan menjadi mahapatih dengan menjegal saudara-saudaranya sendiri. Dan tak segan-segan mengabdi kepada Naga Nareswara.
Kalau tubuhnya masih dipenuhi racun ganas, Gendhuk Tri saat itu juga sudah meloncat dan menantang.
Tapi itu seperti juga menyerahkan nyawa.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, tanah kelahirannya akan menjadi ajang pertarungan laki-laki mancanegara. Sementara para ksatria hanya bisa bertikai di antara mereka sendiri.
Betapa mengerikan seorang Adipati Lawe berbunuhan dengan Senopati Anabrang. Apa pun alasannya!
Betapa mengerikan seorang Jayakatwang memberontak dan menghancurkan Sri Kertanegara yang mengibarkan panji kebesaran.
“Apa yang kamu pikirkan, tikus?”
“Saya ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri Yang Mulia Raja Segala Naga tetap saya hormati setelah pertarungan nanti.”
“Ya. Tetapi aku tidak suka dengan caramu menawan Kama Kangkam. Aku merasa malu kalau menang melawan seseorang yang telah menjadi tawanan dan mengalami penyiksaan. Aku malu dengan diriku sendiri.”
“Saya akan segera melepaskan begitu keadaan memungkinkan. Karena ketiga Kama itu muncul untuk mengaduk Keraton, saya terpaksa membungkamnya.”
“Itu percuma, Kama Kangkam telah mengetahui aku berada di tempat ini.
“Cepat atau lambat akan terjadi penentuan ksatria lelananging jagat.
“Aku makin tidak sabar.”
“Tinggal dua langkah.
“Satu langkah sudah terayun, yaitu tersingkirnya Mpu Sora. Langkah berikutnya, Mahapatih Nambi.
“Sekali lagi saya harus mengatakan bahwa saya tak ingin menyalahi tata budaya tanah ini. Tak mungkin begitu saja saya diangkat menjadi mahapatih.
“Saya sedikit terlambat mengikuti perjuangan merebut Singasari. Dan saya tak bisa menipu pasukan Tartar. Sungguh tak pantas saya mendesak Baginda Raja.
“Kalaupun Baginda Raja bisa saya paksa, tidak penduduk yang lain. Saya akan dianggap mbalela atau kraman, atau memberontak. Memberontak kepada tata budaya yang ada.
“Yang Mulia Raja Segala Naga, saya minta sedikit kesabaran. Saya akan mengusahakan semua yang diminta. Semua kitab pusaka telah saya serahkan kepada Yang Mulia.”
Naga Nareswara tak menjawab.
Bersemadi.
Perlahan tubuhnya naik kembali.
Berhenti di tengah udara.
Halayudha menyembah, lalu berjalan kembali.
Gendhuk Tri menunggu. Ia bisa menyergap Halayudha. Tapi apa gunanya? Jelas musuh yang harus dihadapi ada di depannya, kenapa mereka harus saling bunuh?
Bukankah sikap menghindari saling bunuh, saling tarung ini yang dipilih Kakang Upasara?
Ah, Kakang lagi!
Tapi nyatanya memang begitu. Upasara mengorbankan dirinya, menghancurkan tenaga dalamnya untuk menghindari pertumpahan darah di antara saudara sendiri.
Dan menyelamatkan dirinya. Gendhuk Tri terbelit dengan pikirannya sendiri.
Sementara Halayudha sudah menjauh.
Dan tak kelihatan lagi.
Karena begitu keluar dari bawah peraduannya, Halayudha segera menuju ke gua bawah tanah. Menemui Kama Kangkam, dan kedua muridnya.
Halayudha berdiri dari jarak yang cukup jauh, memandang Kama Kangkam yang terikat seluruh anggota tubuhnya.
“Aku tahu, kamu ksatria Jepun pastilah mendendamku, membenciku, dan menghinaku.
“Aku terima semua hinaan dan cacian.
“Akan tetapi aku sesungguhnya ingin menyelamatkan kalian dari tipuan busuk yang direncanakan Naga Nareswara.”
Kama Kangkam mengerutkan keningnya.
“Aku tahu rencananya. Sebenarnya aku tahu sejak kalian datang mau menghancurkan Keraton. Karena kalian telah mengetahui bahwa Naga Nareswara bersembunyi di dalam Keraton.
“Dengan salah seorang muridnya yang kini menjadi mahapatih.
“Begitu banyak rencana busuk untuk mencelakakan kalian.”
Kama Kangkam tertawa.
“Aku kenal siapa Naga Nareswara. Seperti juga aku mengenal Eyang Sepuh. Tak nanti mereka kotor ujung kukunya.”
“Kamu salah mengerti, Kama Kangkam. Tak bisa disalahkan karena kamu sesungguhnya ksatria sejati. Kalau Eyang Sepuh bisa dilenyapkan tanpa bekas, kenapa kalian tidak?
“Justru karena takut menghadapi kalian, menghadapi Eyang Sepuh, takut menghadapi Kiai Sambartaka, maka Naga Nareswara melakukan siasat licik.”
Halayudha melihat perubahan di mata Kama Kangkam.
Hatinya bernyanyi.
Meskipun wajahnya tak berubah.
“Selama ini aku menahan diri untuk tidak mengatakan kepadamu, bahkan aku berlaku kejam pada kalian bertiga. Ini hanya untuk mengupayakan agar Naga Nareswara mendapat laporan dari Mahapatih bahwa kalian benar-benar disiksa, dan kehilangan ilmu.
“Pada saat itulah kalian membalas dendam.
“Terserah siapa yang lebih unggul. Apakah yang berada di langit atau yang berada di tanah.
“Aku hanya ingin mengatakan ini, dan kamu tetap bersabar sedikit, sampai saatnya datang.
“Maafkan aku, Kama Kangkam, kalau aku bersikap jahat padamu.”
Dengan pendekatan itu, Halayudha merasa mendapat sedikit jaminan ketenangan dalam hatinya. Kalau suatu hari nanti Kama Kangkam lepas dan berhadapan dengan Naga Nareswara, siapa pun yang keluar sebagai pemenang, nasibnya tetap terjamin.
Karena kedua calon pemenang itu tak melihat sesuatu yang perlu dimusuhi. Bahkan Halayudha bisa dianggap bersahabat.
Seperti yang saat ini dilakukan untuk menjerumuskan Mpu Sora!
Taruna, Mahapatih, bahkan Sora sendiri tak mencurigainya. Malah sebaliknya.
Demikian juga Baginda Raja.
“Mahapatih barangkali ingin menunjukkan kekuasaannya dengan menghadap Paduka Baginda Raja. Namun tidak akan mengurangi kebesaran Paduka yang dilindungi Dewa Maha Pelindung, sekadar memuaskan Mahapatih dengan memberi kesempatan sowan.”
Dengan cara ini Halayudha akan dinilai Mahapatih bisa memberikan jalan untuk menghadap Baginda Raja.
Bagi Halayudha, langkah berikutnya adalah menggarap Mpu Sora!
Memancing Raja Segala Raja
GENDHUK. Tri keluar dari persembunyiannya.
Lalu menunduk dengan hormat sambil merangkapkan kedua tangan di atas kepala.
“Hari ini saya, cucu murid, datang menghadap.”
Terdengar tarikan napas dingin.
Bagi Gendhuk Tri memang tak ada pilihan lain. Biar bagaimanapun, Naga Nareswara tetap akan mengetahui persembunyiannya. Cara mengatur napasnya masih kalah jauh. Sebelum diketahui, Gendhuk Tri lebih dulu memunculkan diri.
“Cukup cerdik kamu segera keluar, kalau tidak kamu akan mati lemas terkena tenaga dalamku yang mengisap udara dalam gua ini.”
Gendhuk Tri tersenyum.
Adalah sesuatu yang luar biasa bahwa dalam keadaan begitu genting, Gendhuk Tri masih bisa tersenyum. Seseorang yang memiliki hati baja pun tak akan bisa lentur seperti yang ditunjukkan Gendhuk Tri.
Padahal Gendhuk Tri bukannya tidak mengetahui bahwa apa yang dikatakan Naga Nareswara bisa terbukti. Dengan kemampuan tenaga dalam yang dimiliki, Naga Nareswara bisa saja mengatur sedemikian rupa sehingga semua udara bersih terisap olehnya. Dengan demikian Gendhuk Tri bisa mati lemas.
“Mati atau tidak, bukan hanya karena tak bisa bernapas. Sekali berkedip Kakek Guru bisa mengambil nyawa saya.
“Tetapi saya akan mati dengan puas karena telah bertemu dengan Kakek Guru.”
“Bangsa tikus celurut, kalian memang pintar memainkan lidah memutar kata. Muslihat apa lagi yang akan kamu mainkan?”
“Kalau bukan karena pesan Guru Kiai Sangga Langit, tak nanti saya menyusup kemari dan membahayakan diri. Kalau bukan mengingat itu semua, saya tak akan peduli siapa yang sok suci berada di sini.”
Naga Nareswara bergelak.
“Sungguh baru pertama kalinya aku mendengar suara yang sombong. Aku suka mendengarnya.”
“Maaf kalau saya kurang ajar, Kakek Guru.”
“Tidak, tidak apa. Selama ini aku hanya menemui tikus yang merunduk. Tak ada yang berani menatap mataku. Siapa namamu?”
“Saya biasa dipanggil Gendhuk Tri.
“Secara kebetulan saya pernah ditolong oleh Kiai Sangga Langit, dan mendengar cerita bahwa…”
Terdengar tarikan napas dingin.
Walau hatinya bercekat, Gendhuk Tri tetap tenang.
Ini adalah satu-satunya cara untuk meloloskan diri dari cengkeraman Raja Segala Naga. Dengan nekat Gendhuk Tri mengatakan diri sebagai salah seorang murid Kiai Sangga Langit.
Seperti diketahui, Kiai Sangga Langit adalah pendeta yang berkelana di Keraton Singasari. Pendeta Tartar yang perkasa, yang pernah jatuh hati untuk mengajarkan sebagian dari ilmunya kepada Upasara Wulung, yang dianggap bisa menyerap ajaran Budha. Kiai Sangga Langit sendiri telah gugur bersama dengan Ngabehi Pandu, guru Upasara Wulung.
“Sepanjang yang kuketahui, Sangga Langit tak pernah punya murid.”
“Saya tak cukup kurang ajar untuk mengaku sebagai muridnya. Akan tetapi saya pernah diajari ilmu congklak yang dikenal sebagai Sembilan Jalan Budha. Apakah perlu saya mainkan untuk membuktikan?”
Gendhuk Tri masuk ke tengah perhatian Naga Nareswara.
Dengan menyebutkan Sembilan Jalan Budha atau juga Sembilan Langkah Budha yang dikaitkan dengan permainan congklak, Naga Nareswara menjadi terpengaruh.
Permainan congklak dengan sembilan lubang memang merupakan permainan khusus jika ingin memenangkan dalam langkah pertama. Dulu Kiai Sangga Langit membuat sayembara. Barang siapa bisa menang lawan tanding main congklak dengannya, akan diberi seluruh ilmunya. Kunci dari permainan itu ialah, jika dalam satu langkah pertama bisa mendapatkan seluruh biji yang dimainkan.
Dengan demikian akan berarti menang!
Dalam sayembara itu, Upasara Wulung bisa memecahkan cara bermain. Dalam pandangan Kiai Sangga Langit, ini sungguh pencerahan yang luar biasa. Selama ia melanglang dunia, belum pernah ada yang mematahkan. Akan tetapi ternyata dalam sekali gebrak Upasara bisa membuyarkan ilmu congklaknya.
Gendhuk Tri sendiri tak cukup cerdas untuk bisa memainkan seperti Upasara Wulung. Akan tetapi dengan menggertak seperti itu, Naga Nareswara jadi manggut-manggut.
“Untuk apa kamu masuk kemari?”
“Untuk memberi laporan.
“Apa yang dikatakan Halayudha banyak dustanya. Yang disebut lawan tangguh, Upasara Wulung, sekarang ini tak ada apa-apanya. Ia telah menjadi orang biasa, karena semua ilmu dan tenaga dalamnya telah musnah.”
Tarikan napas dingin terdengar kembali.
“Apa mungkin ada yang bisa menggempurnya?”
“Tak ada yang mampu mengalahkan, kecuali dirinya sendiri. Yang gagal memahami Kitab Bumi.”
“Itu mungkin sekali.
“Tapi untuk apa kamu katakan?”
“Saya tak cukup tahu apa rencana Halayudha yang sesungguhnya. Akan tetapi jelas ia berdusta. Ada sesuatu yang disembunyikan. Pertama, soal Kakang… soal Upasara Wulung. Kedua, soal Kama Kangkam dengan dua muridnya yang dicelakakan.
“Begitu nistanya, sehingga bukan tidak mungkin dengan cara yang sama liciknya akan mencelakai Kakek Guru. “Itu saja yang ingin saya katakan.
“Sekarang saya lega. Mati pun tak akan menyesal. Entah Kakek Guru mau percaya atau tidak.”
“Kalau tidak?”
“Kiai Sangga Langit menurunkan ilmunya tanpa berharap sesuatu. Memberi sesuatu yang baik. Itu yang saya lakukan sekarang.”
“Kamu pintar sekali atau jujur sekali.
“Aku tak bisa menentukan penilaian sekarang.
“Kalau aku percaya?”
“Ada kesempatan keluar dari persembunyian. Untuk membuktikan diri sebagai lelananging jagat, sebagai Raja Segala Naga dan binatang lainnya.”
Bagi Gendhuk Tri, kalau ia berhasil memancing Raja Segala Naga ini keluar dari sarangnya berarti bisa mengubah jalan sejarah. Termasuk sejarah hidupnya sendiri!
“Bagaimana kamu tahu aku di sini?”
Meskipun pertanyaan ini angin-anginan, akan tetapi jelas menyelidik. Sekali terdengar jawaban yang keliru atau janggal, nyawa Gendhuk Tri bakal lepas tanpa sempat pamitan.
“Halayudha selalu menyembunyikan sesuatu dalam gua bawah tanah Keraton. Baik ketiga Kama, atau seseorang yang bernama Dewa Maut. Saya menduga kalau Kakek Guru sudah datang, pasti disembunyikan dalam satu gua. Saya berusaha menyusup.”
“Rasanya aku percaya yang kamu katakan.”
“Terima kasih, Kakek Guru.”
“Akan tetapi aku akan membunuhmu lebih dulu.”
Gendhuk Tri mengeluarkan tarikan napas dingin.
“Karena ini berarti kamu mengetahui sesuatu yang rahasia tentang diriku. Aku sudah bersumpah tak mau percaya kepada semua tikus celurut, semua tikus celurut yang menjijikkan, kalau ingin menang dan menguasai.
“Kematian cara apa yang kamu pilih?”
“Kematian yang Kakek Guru tentukan sendiri.
“Kenapa mesti repot-repot menentukan kematian? Apa bedanya mati berdiri atau mati duduk bersila?”
“Siapa yang mengajarimu kurang ajar?”
Naga Nareswara nampak begitu gusar, sehingga tubuhnya naik ke tengah udara, dan tongkat emas di sampingnya ikut tertarik tenaga menjadi tegak.
“Kalau untuk kurang ajar saja mesti diajari, apa gunanya guru dan belajar?”
“Sebelum ketemu Kiai Sangga Langit, siapa yang mengajarimu?”
“Kakek Guru akan kaget kalau saya sebutkan bahwa yang mengajari saya adalah Mpu Raganata, pendeta agung dari Keraton Singasari yang mempunyai ilmu Weruh Sadurunging Winarah.”
“Apa itu ilmu Tahu Sebelum Terjadi?”
“Ah, mana mungkin Halayudha tak pernah menyebutkan selama ini? Berarti ia berdusta lebih banyak lagi dengan mengatakan bahwa semua kitab telah diberikan kepada Kakek Guru.”
Gendhuk Tri berhasil mendekatkan kailnya.
Dan Raja Segala Naga telah mengendus umpan.
Walau sebenarnya Gendhuk Tri tak sepenuhnya berdusta. Ia memang murid Mpu Raganata yang mempunyai ilmu Weruh Sadurunging Winarah. Ajaran ilmu kanuragan yang tiada duanya bagi yang telah menguasai.
Karena ilmu tersebut lebih mengandalkan kepada ketajaman rasa. Gerakan lawan yang belum dilakukan seakan sudah bisa ditebak maksudnya. Arah gerakan bisa terbaca sebelum dilakukan.
Ilmu Weruh Sadurunging Winarah sedemikian saktinya, sehingga disejajarkan dengan Tepukan Satu Tangan. Hanya saja bedanya ialah ilmu Mpu Raganata itu tak dikenal secara luas. Karena Mpu Raganata sendiri mempelajari secara diam-diam. Bahkan muridnya tak mengetahui siapa dan apa yang diajarkan.
Jurus Gender dan Rebab
GENDHUK Tri sadar bahwa setiap kalimat yang diucapkan bisa membuatnya mati seketika atau sebaliknya. Bisa mempengaruhi Naga Nareswara.
“Coba terangkan, tikus celurut.”
“Saya akan menerangkan, asal Kakek Guru tidak menggunakan istilah tikus celurut kepada saya.” “Kalau aku tak mau?”
“Mati sebagai manusia lebih baik daripada hidup sebagai tikus celurut.” Raja Segala Naga tertawa dingin.
“Aku makin sadar. Kalian di tanah Jawa ini jauh lebih mementingkan kehormatan semu di atas segalanya. Sebutan tikus bukanlah sebutan yang paling hina. Tikus termasuk binatang yang kami hormati.”
“Kalau begitu, kenapa Kakek Guru tidak bergelar Raja Segala Tikus?” “Bagus, mulutmu sangat tajam.
“Aku suka itu. Baik, aku tak akan menyebutmu tikus celurut. Naga Alit, apa itu ilmu Weruh Sadurunging Winarah atau ilmu yang mengembangkan jurus Tahu Sebelum Terjadi?”
Ganti Gendhuk Tri yang menghela napas.
“Ini ilmu leluhur kami. Tapi karena sejak semula saya menjadi anak murid Kiai Sangga Langit, rasanya tidak terlalu jauh kalau saya menjelaskan. Toh Kakek Guru akan segera mengatakan bahwa jurus-jurus seperti ini telah lama diketahui.”
Gendhuk Tri bersila. Kedua selendangnya menutupi lututnya.
“Pada saat Baginda Raja Sri Kertanegara berkuasa, ada empu yang sakti mandraguna. Bernama Mpu Raganata. Berada di pusat kekuasaan, beliau tidak selalu berarti mengiya kepada Baginda. Terutama dalam soal mengumbar keliaran nafsu berahi.
“Dengan diam-diam Mpu Raganata menculik gadis-gadis belia yang secara sengaja disiapkan untuk diambil selir Baginda Raja. Dengan diam-diam pula Mpu Raganata mendidik para calon penari dan pesinden untuk menjadi jago silat.
“Saya salah satu yang pernah diselamatkan.”
“Aku bisa mengerti dari nada suaramu yang menghormat, Naga Alit.”
“Mpu Raganata tak banyak dikenal dunia persilatan, karena berada di dalam Keraton. Namun semua pendekar dan para ksatria mendengar bahwa Mpu Raganata mempunyai ilmu Weruh Sadurunging Winarah, ilmu yang melatih diri sehingga bisa tahu sebelum terjadi.
“Bahkan pemberontakan Raja Muda Jayakatwang jauh-jauh hari sudah bisa diramalkan.”
“Aku mendengar hal itu.”
“Inti ilmu Weruh Sadurunging Winarah adalah cara melatih pikiran untuk memecah perhatian menjadi dua bagian. Satu bagian mengamati apa yang terlihat, satu bagian mengamati apa yang berada di balik yang terlihat.
“Jika kita melihat sebuah tarian, mata kita bisa melihat gerakan tangan dan selendang. Akan tetapi pada saat yang sama, kita bisa melihat apa yang menyebabkan tangan itu bergerak. Tenaga dan alam pikiran apa yang membuat penari itu menekuk lututnya, sikunya, atau menggeser kakinya.
“Sejauh yang saya tahu, inti ilmu Weruh Sadurunging Winarah seperti juga memainkan alat gamelan yang bernama gender. Tangan kiri dan tangan kanan lain geraknya, lain iramanya, akan tetapi dua pukulan yang bersamaan ini membentuk irama yang laras. Yang serasi. Yang seimbang.
“Atau seperti memainkan alat gamelan yang bernama rebab. Tanpa ada aturan karena nada-nada yang dihasilkan berdasarkan perasaan semata. Tebal atau tipis tekanan, keras atau lembut gesekan yang lebih menentukan.”
“Aku mengerti, aku mengerti.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:44 pm

“Alat gamelan semacam itu juga ada di tanah kelahiranku atau tanah kelahiran Kiai Sambartaka. Meskipun memang jauh berbeda perkembangannya.
“Naga Alit, bagiku ilmu Weruh Sadurunging Winarah jauh lebih menarik daripada ilmu Tepukan Satu Tangan. Karena ilmu Mpu Raganata lebih berpijak pada Bumi Jawa yang sesungguhnya. Seperti juga buah maja yang hanya tumbuh di tanah ini.
“Sementara Tepukan Satu Tangan bisa diperebutkan keunggulannya.”
“Kakek Guru keliru menduga.
“Bagi Mpu Raganata ataupun Eyang Sepuh atau saya sendiri, tak ada persoalan apakah Tepukan Satu Tangan lebih berasal dari Tartar, Hindia, atau Jepun. Semua toh berada di bawah matahari. Semua milik semua. Kami tak merasa asing.
“Kakek Guru akan menduga bahwa bagi kami kemurnian tidak penting. Akan tetapi sesungguhnya inilah inti Weruh Sadurunging Winarah. Sungai-sungai akhirnya bermuara di samudra, jadi untuk apa mempersoalkan dan memperebutkan sungai yang satu lebih jernih airnya daripada sungai yang lain?”
Naga Nareswara mengangguk.
“Kecil tubuhmu, pendek umurmu, akan tetapi bayanganmu begitu dewasa. Naga Alit, sungguh kamu berwawasan jauh ke depan.
“Aku mau lihat, apakah kamu mengetahui apa yang akan kulakukan jika kedua tanganku turun ke lutut? Bagian mana yang akan kuserang?”
Gendhuk Tri mendongak.
“Kedua mata saya akan mengamati dua tangan yang bergerak. Kedua mata batin saya mengatakan bahwa tenaga dalam akan lebih berbicara di sini. Dalam posisi duduk berlutut, dua tangan di lutut akan mengembang ke depan. Bisa dua tangan terbuka telapaknya dan mendorong, bisa satu menarik dan satu mendorong.”
“Apa yang kamu lakukan?”
“Sebelum tangan itu lepas dari lutut, saya akan mendahului mengambil udara yang diisap, dengan cara mengebutkan selendang ini. Sebab inilah tenaga utama yang menjadi kekuatan. Tanpa tenaga dalam, serangan yang bagaimanapun dahsyatnya, tak akan mencelakakan saya.
“Dua sabetan dengan selendang untuk mengusir jauh angin sekitar hidung Kakek Guru, sementara dua helai selendang yang lain akan membuat tangan Kakek Guru kembali ke lutut.”
Naga Nareswara mengeluarkan suara pujian.
“Hebat. Hebat.
“Naga Alit, kamu telah mementahkan dan sekaligus mematahkan jurus pertama.
“Tapi apa kamu mampu merebut udara di hidungku?” “Semua tenaga berasal dari bumi. Terisap di hidung, masuk tenggorokan, tertahan di pusar, sebelum disalurkan. Kenapa menjaga yang di hidung kalau bisa merampas yang berada di pusat bumi?” “Itulah tenaga bumi!”
“Itulah tenaga yang kita mainkan, Kakek Guru.”
“Kalau aku meraih tongkat?”
“Kenapa tidak dijajal saja?”
Gendhuk Tri memberanikan diri. Karena sebenarnya ia melihat gerakan Naga Nareswara yang luar biasa cepatnya meraih tongkat emas di sampingnya. Atau tongkat itu sendiri yang mendekat ke tangannya karena tenaga tarikan.
Dan nyatanya, tongkat itu terayun.
Gendhuk Tri mengepakkan keempat selendang ke tanah, tubuhnya terangkat ke atas. Tangannya yang lentik menyusup maju.
“Tongkat Raja Segala Naga adalah tongkat emas dan pusaka yang diunggulkan, tak nanti menyerang dengan lingkaran. Pasti dengan pantat. Pasti tak akan menyodok bagian yang lemah seorang wanita. Sehingga hanya akan menggertak. Biarlah selendang retak, asal bisa menjentik jakun.”
“Jurus apa ini namanya?”
“Mpu Raganata tak pernah memberi nama untuk jurus-jurus yang diciptakannya. Ini hanya disesuaikan dengan gerakan tari.”
Dalam sekejap, Gendhuk Tri telah mengeluarkan semua ilmunya. Melayang, menjentik, mencakar, dan menghindar. Dalam hati Gendhuk Tri tak habis pikir, karena setiap kali tangannya mendekat, seperti terhalang tenaga yang tak terlihat. Bahkan selendangnya mental kembali, seakan menyentuh gua berasap kuat.
“Tangan kiri ke arah jakun, tangan kanan ke arah mata. Telinga kiri pasti akan miring. Dan kaki…”
Buk!
Tubuh Gendhuk Tri jatuh ke tanah.
Sewaktu kakinya menendang ke arah ulu hati, ketika itulah seolah ada tenaga yang mengisapnya. Gendhuk Tri tak mampu bertahan sehingga ambruk. Sementara tongkat emas Naga Nareswara sudah berada di atas jidat Gendhuk Tri.
Tapi justru Gendhuk Tri terus menjatuhkan diri, merosot, dan berada di belakang Naga Nareswara. Hanya saja sebelum kedua tangannya bisa menyentuh telinga, terasa ngilu. Gendhuk Tri menjerit kecil, dan ganti lututnya yang terangkat. Menyentuh punggung Naga Nareswara.
Lagi-lagi Gendhuk Tri berteriak kecil. Lututnya jadi beku karena seperti menyentuh gundukan es!
“Hebat, kamu hebat, Naga Alit.
“Selama ini tak ada yang mampu menyentuh tubuhku. Halayudha pun tak mampu. Kamu sungguh luar biasa. Sungguh sayang kalau tulang yang begini bagus harus dimusnahkan.
“Kamu memiliki bakat kelewat hebat.
“Hmmm.”
Sembilan Lubang dalam Tubuh
GENDHUK Tri masih meringis.
Sekujur tubuhnya seperti kena sengat binatang berbisa. Hawa dingin dari tubuh Naga Nareswara menyelinap ke dalam ulu hatinya. Hingga Gendhuk Tri megap-megap mengatur napasnya.
“Kelemahan Kakek Guru bisa saya baca.”
“Kamu tahu apa yang kupikirkan?”
“Inilah Weruh Sadurunging Winarah. Tahu Sebelum Terjadi, tahu bahwa Kakek Guru pasti tak menduga bahwa dari suatu tarian, penari perempuan bisa menaikkan tangan lebih tinggi daripada pundaknya. Bahwa penari perempuan tak diduga akan mengangkat tinggi lututnya.
“Karena Kakek Guru berpikir bahwa gerakan tarian bukanlah gerakan yang membuka kedua kaki dan mengangkat tangan lebih tinggi daripada pundak, saya menyelinap dari itu.
“Dan nyatanya berhasil, meskipun tenaga Im Kakek Guru lebih dahsyat.”
“Siapa yang mengajarimu mengenali tenaga Im segala macam?”
“Siapa lagi kalau bukan Kiai Sangga Langit?
“Bukankah tenaga Im adalah tenaga dingin, yang tak bisa dilawan dengan tenaga panas. Yang hanya bisa diungguli dengan tenaga lebih dingin lagi? Kalau tak mungkin, tenaga dingin Kakek Guru harus dipancing menjadi tenaga lebih terasa dingin?”
“Kamu tahu cara melatih tenaga dingin?”
Gendhuk Tri menggeleng.
“Saat itu dan sekarang ini, saya tak ingin mempelajari tenaga dingin. Itu sama saja dengan mempelajari Penolak Bumi. Saya lebih suka mempelajari tenaga Bumi, dibandingkan dengan tenaga Penolak Bumi.”
“Aneh, kenapa kamu menolak, Naga Alit?”
“Karena saya tak mau menjadi kakek-kakek seperti Kakek Guru. Saya tak tahan harus bersabar berada di gua seperti ini menanti menerobos ke luar sekarang juga.”
“Kamu keliru, Naga Alit.
“Mari kuajarkan tenaga Im padamu.”
Empat selendang Gendhuk Tri mengembang, menolak tangan Naga Nareswara yang terjulur. Akan tetapi sia-sia.
Ujung jari Naga Nareswara telah menyentuh pundak. Gendhuk Tri menjadi menggigil.
Seolah ada serpihan air gunung yang murni, maha dingin, menyelusup ke dalam tubuh Gendhuk Tri.
Gigi Gendhuk Tri sampai bergemeletuk.
“Jangan menolak, jangan memperkirakan apa yang kulakukan, Naga Alit. Berpuluh tahun aku melatih tenaga ini, baru sekarang kusalurkan. Dewa di langit tak seberuntung kamu.”
“Saya tidak menolak, Kakek Guru,” jawab Gendhuk Tri gemetaran. “Tetapi Kakek Guru keliru menyalurkan tenaga dalam.” Naga Nareswara melengak. “Kamu tidak bergurau, Naga Alit?”
“Kalau nyawa saya rangkap tujuh, saya tetap tak berani bergurau dengan Kakek Guru. Kakek Guru menyalurkan lewat satu tenaga saluran.”
“Apa itu?”
Naga Nareswara menarik kembali tangannya.
“Dalam tubuh manusia ada sembilan lubang, dan Kakek Guru hanya menyalurkan lewat satu lubang.”
“Sembilan?”
“Hawa sanga, atau sembilan udara bisa mengalir masuk ke dalam tubuh. Lewat dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, dua lubang di bagian bawah tubuh.”
“Ah.”
“Dalam ilmu Weruh Sadurunging Winarah, kita bisa memecah perhatian, membagi perhatian antara yang kita lakukan dan yang kita pikirkan.
“Satu tangan membuat lingkaran, satu tangan lagi membuat kotak, satu kaki membuat segi tiga, satu kaki lagi…”
“Hebat.
“Kita coba.”
Gendhuk Tri makin menggigil!
Kalau tadi hanya satu tenaga, sekarang seperti kerasukan sembilan kali lipat!
Kalau saja Halayudha mengetahui hal ini, ia bisa mati berdiri!
Siapa nyana Gendhuk Tri bakal menerima tenaga murni dari Naga Nareswara?
Inilah perjalanan nasib yang susah diterka!
Gendhuk Tri sejak lahir selalu mengalami pergolakan batin dan terlihat dalam berbagai peristiwa yang menggetarkan. Menjadi anak-murid Mpu Raganata tanpa disadari. Kemudian berkelana dengan Jagaddhita yang tenar. Terkurung dalam Gua Lawang Sewu sehingga tubuhnya dipenuhi racun maha ganas. Dan akhirnya berhasil ditawarkan lewat tenaga murni oleh Upasara Wulung.
Dan sekarang dijejali lagi dengan tenaga dingin dari Naga Nareswara.
Memang, penyaluran tenaga Naga Nareswara berbeda dari penyaluran tenaga Upasara Wulung. Yang terakhir ini sengaja memberikan tenaga dalamnya untuk menguras tenaganya sendiri. Sedangkan Naga Nareswara tidak sepenuhnya begitu.
Meskipun memang dengan menyalurkan tenaga dalam, kekuatannya sendiri menjadi berkurang untuk sementara.
Dalam hal ini kecerdikan Gendhuk Tri tiada tandingannya. Bahkan Halayudha yang sangat licik tak mampu berpikir seperti Gendhuk Tri.
Dengan segala kepolosan dan kenakalannya, Gendhuk Tri bisa menyudutkan Naga Nareswara sehingga ia harus rela dipanggil sebagai “raja segala tikus celurut”, atau terpaksa memanggil Gendhuk Tri dengan sebutan Naga alit.
Dengan segala akalnya, Naga Nareswara terpancing mengetahui ilmu Weruh Sadurunging Winarah, dan sekaligus menganggap Gendhuk Tri sebagai cucu-muridnya.
Dan yang penting, dengan mengatakan babakan hawa sanga, Gendhuk Tri memperkenalkan cara mengatur pernapasan yang baru. Setidaknya bagi Naga Nareswara. Adalah tepat perhitungan Gendhuk Tri bahwa kemudian Naga Nareswara benar-benar menjajal. Ini berarti memberikan tenaga dalam lipat sembilan kali!
Sebenarnya memang ada sesuatu yang berlebih dalam diri Gendhuk Tri. Secara tak terterangkan dalam artian dimengerti oleh Gendhuk Tri, ia telah mempelajari Weruh Sadurunging Winarah sejak awal. Sehingga sebenarnya ia bisa mempelajari ilmu lawan, kelemahan lawan, tanpa disengaja. Pancaindranya bekerja seperti yang selama ini dilatih.
Dalam kaitan dengan Naga Nareswara, secara tidak sadar Gendhuk Tri mengetahui bahwa lawan yang dihadapi adalah tokoh kaliber Eyang Sepuh atau Upasara Wulung di masa jayanya. Tokoh yang sakti mandraguna dan selalu haus ilmu kadigdayaan.
Lebih dari semua itu, Naga Nareswara memang sangat asing dengan lingkungan. Entah sejak kapan berada dalam gua di bawah tanah ini. Barangkali sejak dibangunnya Keraton Majapahit.
Ini berarti tak mengetahui banyak kejadian di luar.
Dan Gendhuk Tri dianggap Naga Nareswara memberikan banyak hal yang tak diketahui, yang sangat diperlukan dalam rangka membalas dendam atas kekalahan semua panglima perang dari Tartar.
Begitulah yang terjadi.
Tubuh Gendhuk Tri membeku seperti es di pucuk gunung. Baru kemudian Naga Nareswara beristirahat. Menunggu sampai Gendhuk Tri sadar, dan kemudian sambil menjajal ilmu silat lagi. Gendhuk Tri memberikan apa-apa yang diketahui. Beberapa gerakan, rahasia dari gerak dan tarian yang dimengerti.
“Kiblat papat lima pancer adalah arah yang selalu dituju dalam gerakan silat maupun gerakan tari. Empat mata angin dan menjadi lima dengan yang berada di pusat.
“Begitulah yang diajarkan kepada saya, Kakek Guru.”
“Aku mengerti, Naga Alit.
“Kenapa Mpu Raganata sejak semula tak memberi nama pada jurus-jurus yang kamu mainkan? Apakah mungkin seorang tokoh menciptakan jurus tapi tidak memberi nama?”
Gendhuk Tri menghela napas.
“Pasti ini bukan sekadar keanehan. Naga Alit!
“Kitab Bumi saja dengan jelas-jelas merinci semua jurusnya, dan ada kidungannya.”
Gendhuk Tri menghela napas lagi.
“Eyang Guru Mpu Raganata pada saat itu setara dengan Eyang Sepuh. Ilmu kedua tokoh itu telah mencapai puncak dari pengolahan diri sejati.
“Tak bisa dibedakan mana yang lebih sakti. Tak bisa dibedakan mana yang lebih unggul.
“Yang bisa diketahui hanyalah, inti dasar kedua ilmu linuwih ini ada bedanya, tapi banyak miripnya.
“Saya sadar kenapa saya tak bisa meresapi Tepukan Satu Tangan. Karena pada dasarnya ilmu ini masih mempercayai pemberian nama, meskipun isinya penolakan.
“Sebenarnya Weruh Sadurunging Winarah lebih dekat dengan Jalan Budha. Karena gerakan dalam jurus-jurus ini intinya adalah gerak. Bukan menirukan gerakan burung, belalang, atau harimau. Kibasan selendang tidak mencoba menciptakan tenaga seperti sesuatu. Akan tetapi murni sebagai gerakan.
“Tarian itu adalah gerak.
“Gamelan itu adalah bunyi.
“Gambar itu adalah coretan.”
Naga Nareswara mengangguk. Dalam sekali. Menghela napas lega,
Kuburan Tujuh Turunan
HELAAN napas Naga Nareswara terdengar kembali.
Kali ini memberat.
“Sungguh tepat ungkapan yang kudengar. Di atas gunung masih ada gunung, di atas awan ada awan. Dalam rimba persilatan, selalu ada pendekar yang lebih lihai. Ilmu tak mengenal pantai sebagai batas.
“Di tanah yang begini banyak tikus celurut ternyata tersimpan berbagai ilmu kanuragan yang merupakan ilmu sejati.
“Sungguh luar biasa.
“Naga Alit, begitu jauh aku mengembara. Begitu lelah aku melangkah. Akan tetapi baru sekarang ini aku menyadari bahwa gerak adalah inti ilmu silat yang tak menirukan sesuatu. Bahwa bunyi adalah irama. Bahwa coretan adalah gambar.
“Hmm, ada benarnya kamu mengatakan bahwa Weruh Sadurunging Winarah dekat dengan Jalan Budha. Karena keduanya mengetahui apa yang akan terjadi. Jalan Budha menuju nirwana, kesempurnaan yang sejati.
“Naga Alit, dalam usiamu yang begitu muda, kamu mengenal ilmu yang sejati. Ini nasib yang luar biasa bagus. Akan tetapi aku sudah bertekad untuk membunuh siapa pun yang nampak berbakat. Karena akan menjadi lawan yang menyulitkan di belakang hari.
“Cepat atau lambat aku akan membunuhmu.”
Gendhuk Tri mendongak.
“Kakek Guru belajar dari pengalaman semua Naga yang kalah dan tertipu. Itu cara mengambil pengalaman yang baik.
“Kakek Guru salah melihat. Membunuh saya sekarang ini ibarat kata tinggal membalikkan telapak tangan. Lebih mudah menarik napas atau mengedipkan mata.
“Kakek Guru tak pernah memperhitungkan Halayudha.”
“Tikus itu tak seberapa bahayanya.”
“Di sini Kakek Guru salah duga.”
“Tidak mungkin.”
“Halayudha adalah senopati biasa. Tanpa jasa kepada Keraton. Akan tetapi pangkat dan derajatnya sekarang ini paling penting. Bisa menjadi pendamping Baginda. Bukankah ini menunjukkan akal muslihat yang licin?
“Kakang Upasara bisa diakali, secara langsung atau tidak.
“Para senopati terpilih bisa diadu satu sama lain.
“Bahkan ketiga Kama dari Jepun bisa diperdaya.
“Apakah ini kurang membuktikan kelicikannya? Dengan aji sirep, Halayudha mampu menjungkirbalikkan peristiwa yang ada.”
“Itu hanya sepersepuluh dari ilmu sirep yang kumiliki. Tak bakal menyejajari diriku.”
“Seekor raja segala Naga bisa dikalahkan oleh seekor tikus karena kesombongannya.
“Dan kalau sudah begitu yakin, untuk apa menunda waktu untuk membunuh saya?”
Naga Nareswara nampak menyesal.
Untuk pertama kalinya Gendhuk Tri melihat kekecewaan.
“Tenaga Im dalam tubuhmu akan membunuhmu, cepat atau sangat cepat sekali. Kamu tak akan tahan.
“Tenaga dalam itu bisa kaugunakan selama kau bisa mengatur pernapasan. Akan tetapi kalau tak tahu caranya, tenaga itu akan menghancurkanmu.
“Itulah yang dikatakan takdir, Naga Alit!”
Itulah takdir, pekik Gendhuk Tri dalam hati.
Sejak semula sudah dirasakan bahwa tenaga dalam Naga Nareswara yang dingin membuatnya tersengal-sengal, dan napasnya menjadi tidak teratur. Hidungnya seperti berair-beku terus-menerus. Kadang menjadi longgar sendiri, akan tetapi jika beristirahat atau tertidur terasakan betul gangguannya.
Beberapa kali Gendhuk Tri berusaha mengatasi, akan tetapi tenaga dingin-beku itu malah membuatnya menggigil.
Ujung jari dan ujung kaki malah membiru.
Hanya dengan terus menggerakkan tubuh, warna biru lebam itu terusir. Akan tetapi mulai terasa menggigit-gigit jika berdiam diri.
Naga Nareswara memang tak bisa diakali!
Tenaga dalamnya terpancing, akan tetapi tidak diberikan percuma.
Naga Nareswara menjadi sangat curiga dan hati-hati semua sepak terjangnya. Karena tak ingin mengulangi kegagalan para senopati Tartar yang gagah tapi bisa dipecundangi.
Bagi Naga Nareswara, tak ada orang lain yang bisa dipercaya. Tidak juga bayangan tubuhnya sendiri!
Untuk perintang waktu, Gendhuk Tri berlatih gerakan-gerakan silat yang diketahui, sementara Naga Nareswara memberi petunjuk di sana-sini untuk memperkuat gerakan. Mereka berdua berlatih sesaat. Jika Gendhuk Tri kelihatan makin bersemangat, makin menggebrak kian-kemari, Naga Nareswara akan menyalurkan tenaga dalamnya kembali.
Gendhuk Tri menggigil kembali.
Tersiksa hawa dingin lagi.
Tapi inilah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Sampai Naga Nareswara turun tangan membunuhnya. Atau, kesempatan kecil yang membersit dalam pikiran Gendhuk Tri adalah saat Halayudha muncul. Ia bisa memakainya sebagai cara untuk meloloskan diri.
Inilah yang membuat Gendhuk Tri terus bertahan.
Tapi dugaannya keliru. Naga Nareswara menyalurkan tenaga dalam berlebihan, sehingga tubuh Gendhuk Tri membeku. Tak bisa menggerakkan ujung jari atau berteriak.
Saat itu Halayudha datang!
Sehingga Gendhuk Tri yang disembunyikan di belakang punggung Raja Segala Naga hanya bisa mendengar dengan mata berkedip.
“Tikus celurut Jawa, kenapa kamu dustai aku?”
Halayudha menyembah dengan hormat.
“Biarlah langit dan bumi mengimpit tubuh saya, kalau ada satu kata yang saya dustakan.”
“Hmm.
“Kenapa kamu katakan Upasara masih mempunyai kekuatan kalau nya-tanya kini telah menjadi cacat seumur hidup? Kenapa ketiga Kama yang kamu akali…”
Gendhuk Tri masih sempat melihat Halayudha menarik napas dalam. Tapi mendadak tubuhnya terayun ke belakang, dan serta-merta kakinya mengentak tanah sementara kedua tangannya mengeluarkan pukulan keras sekali ke arah tepi dinding gua.
Luar biasa!
Gendhuk Tri tak pernah membayangkan bahwa Halayudha ternyata mempunyai ilmu silat yang begitu tinggi. Caranya melemparkan tubuh ke belakang, dan dalam satu gerakan yang sama kaki menjejak tanah dan melontarkan dua pukulan bertenaga sungguh luar biasa. Pengerahan tenaga bersamaan dalam gerak yang bertentangan!
Lebih luar biasa lagi akibatnya.
Terdengar bunyi gemuruh. Seakan bumi dijungkirkan, atau ada gempa besar melanda. Batu-batuan dan tanah yang basah ambruk ke bawah.
“Kuburan ini cukup untuk tujuh turunan.
“Cukup aman untukmu, Naga siluman.”
Suara Halayudha terkalahkan bunyi bebatuan dan tanah longsor yang berjatuhan terus-menerus.
Gendhuk Tri melihat Naga Nareswara meraih tongkat emasnya dan menggempur. Batu dan tanah lebur menjadi debu. Akan tetapi sia-sia belaka. Karena guguran tanah makin banyak, makin terus-menerus, makin mengurung. Sehingga hanya tersisa tempat di mana Naga Nareswara berdiri sambil menggerakkan tongkatnya.
Agak lama baru guguran tanah dan batu berhenti.
Dalam gelap, Gendhuk Tri menyadari betapa kecewanya Raja Segala Naga. Jawara utama dari Tartar yang merencanakan segala sesuatu dengan cermat, dengan teliti, akhirnya terkubur hidup-hidup secara sia-sia. Dikalahkan dengan kelicikan.
Oleh lawan yang paling dibenci dan dicurigai sebagai tikus celurut!
Gendhuk Tri mengerti bahwa setelah terbuka kedoknya, Halayudha tak mau mengambil risiko sedikit pun. Ia meloncat mundur dan menutup gua, yang memang sudah direncanakan bisa ditutup secara mendadak. Persiapan kelicikan yang tiada taranya. Bahkan batu-batuan dan tanah itu sudah dioles dengan tetes gula serta putih telur—yang pasti jumlahnya sangat banyak sekali. Sehingga bisa membeku dalam waktu tertentu.
Sepandai apa pun, Naga Nareswara tak bisa menembus dinding runtuhan. Karena Halayudha telah mempersiapkan dengan saksama.
Sesaat Gendhuk Tri lupa akan dingin tubuhnya.
Kalau ia menggigil, itu karena soal lain.
________________________________________
Senopati Pamungkas I
Episode 8

Gendhuk Tri pernah terkubur dalam Gua Lawang Sewu yang menyesakkan napas, akan tetapi tetap tidak seseram kenyataan yang dialami sekarang ini.
“Naga Alit, inilah takdir.”
Tangan Naga Nareswara menyentuh tubuh Gendhuk Tri, menghilangkan kebekuan urat-urat tubuh dan bibirnya.
“Percuma. Lebih enak beku, Kakek Guru. Bergerak juga susah.”
“Nyalimu gede.”
“Lebih baik tetap bernyali Naga, daripada bergelar Naga tapi nyalinya lebih kecil dari tikus. Setidaknya Kakek Guru masih bisa hidup lebih lama dari saya. Tubuh saya bisa dimakan untuk memperpanjang usia.”
Naga Nareswara menggelengkan kepalanya.
“Hebat. Kamu ini hebat. Sekali tarik napas, aku bisa membunuhmu. Tapi kamu tak gentar. Hebat. Oho, ternyata tanah Jawa ini penuh dengan tikus licik dan Naga hebat. Kenangan akhir yang kubawa ke kehidupan nanti.”
Pengembaraan Bersahaja
KETIKA itu, Upasara Wulung sudah jauh meninggalkan Perguruan Awan.
Berjalan tanpa tujuan di awalnya. Mengikuti suara hatinya. Baru kemudian sadar, bahwa masih ada yang ingin dilakukan dalam hidupnya. Masih ada dharma yang bisa dilakukan.
Yaitu membalas budi Pak Toikromo.
Seorang penduduk biasa, yang dalam perjalanan takdir dipertemukan dengannya. Seorang kusir pedati bersahaja dengan keinginan yang membuat Upasara merasa begitu mulia. Mengangkat sebagai menantu.
Akan tetapi justru dari keinginan yang begitu sederhana, Pak Toikromo terseret sampai ke Perguruan Awan, sebagai tawanan.
Selama ini Upasara merasa sangat berdosa kepada Pak Toikromo. Maka keinginannya adalah menemui Pak Toikromo untuk meminta maaf.
Setidaknya ini akan membuat hatinya lebih ringan.
Upasara merasa banyak kekeliruan yang dilakukan dalam hidupnya, akan tetapi kekeliruan yang membuatnya menyesal adalah menyeret kehidupan Pak Toikromo.
Dengan mengandalkan ingatan masa lampau, dan bertanya kiri-kanan, Upasara berusaha mencari tempat tinggal Pak Toikromo yang belum diketahui.
Maka cukup melegakan bahwa akhirnya rumah itu bisa ditemukan. Sebuah rumah yang sangat sederhana.
Rumah dari tanah, dengan atap daun kelapa. Di kesunyian rimbunan pepohonan. Upasara berdebar ketika mencoba masuk ke halaman.
Rumah itu tertutup.
Pedati yang dulu ada di pekarangan sebelah. Tanpa sapi.
Upasara ragu.
Termangu.
“Nak Upa…”
Suara bersahaja yang mampu menggetarkan sukmanya.
Upasara menoleh ke arah datangnya suara.
Wajah seorang lelaki tua, sebagian tertutup caping daun kelapa kering yang sobek-sobek di bagian pinggir. Dada telanjang, hitam oleh cahaya matahari, dengan urat-urat yang mirip tanah tanggul di persawahan.
Wajah penduduk biasa.
Wajah sangat sederhana.
“Bapak…”
Entah dari mana datangnya kemampuan Upasara untuk mengucapkan kata itu. Sesuatu yang tidak dimengerti. Terlontar begitu saja. Meluncur begitu saja.
Dan membuat Upasara seperti dirobek ulu hatinya!
Seumur hidupnya, ia belum pernah mengucapkan sebutan “Bapak”. Tidak juga kepada Ngabehi Pandu yang mendidik dan mengajarinya ilmu silat!
Ucapan yang biasa itu mempunyai makna yang dalam, justru karena Upasara tak mengenal siapa bapak kandungnya yang sesungguhnya. Apakah Ngabehi Pandu, atau Baginda Raja Sri Kertanegara!
“Akhirnya kamu datang juga, Nak Upa.
“Masuklah, duduklah di dalam. Rumah ini sejak lama tak pernah dibuka.”
Upasara menunggu.
Pak Toikromo membuka pintu dari dalam. Upasara masuk. Duduk di bambu tua yang sudah kehilangan warna. Tertutup debu.
Entah berapa lama pintu depan tak dibuka. Entah berapa lama bambu ini tak diduduki.
“Saya datang untuk ngabekti.”
“Saya terima pangabektenmu, Nak Upa.
“Ya, begini ini gubuk bapakmu. Gubuk paling gagah di dusun ini. Bapak sudah tua, tak bisa memanjat pohon kelapa.”
Napas Upasara tersengal.
Air matanya menggumpal.
Inilah tangisnya yang pertama yang disadari. Dan Upasara merasa ikhlas, lega, meneteskan air mata.
Apa lagi yang akan dikatakan atau akan didengar? Yang dialami sekarang ini lebih jelas dari segala kata, lebih nyata dari segala penjelasan.
Sebuah rumah sederhana. Di tengah pedusunan sederhana. Jauh dari intrik Keraton. Udara, tanah, yang sederhana, seadanya.
Seorang lelaki, penduduk Majapahit atau Singasari yang tak pernah terlibat langsung dengan pergantian kekuasaan, tak pernah terikat dengan ayunan pedang siapa lebih tajam, keris siapa yang lebih mengiris. Tetapi yang tak bisa melepaskan diri dari terkaman kejadian.
Inilah gambaran kenyataan!
Apa artinya ilmu segala ilmu yang dipelajari, kalau ternyata seorang seperti Pak Toikromo—yang jumlahnya banyak sekali—tak pernah merasakan artinya?
Apa artinya pembangunan Keraton yang megah dan dahsyat, kalau ternyata Pak Toikromo tak menikmati?
Apa artinya peperangan demi peperangan bagi seorang Toikromo selain memperpanjang penderitaan?
Apa artinya disesali, kalau bagi Toikromo sendiri ini semua bukan sesuatu yang harus disalahkan?
Tak ada tuduhan. Tak ada pertanyaan yang menggugat dalam penampilan Pak Toikromo. Wajah itu, di mata Upasara, tak menyembunyikan apa-apa.
Bersahaja.
Seperti juga ceritanya, yang disuarakan dengan sikap menerima, dan bahagia.
“Sapi bapakmu ini sudah tak ada, Nak Upa. Diambil yang punya. Anak bapakmu yang dulu saya janjikan untuk dikawini Nak Upa, sudah ketemu jodohnya.
“Anggota keluarga juga sudah tak ada.
“Tinggal bapakmu ini. Makin tua.” “Bapak…”
“Syukur, kamu tetap mau memanggil dan mengakuiku sebagai bapakmu.
“Tenangkan hatimu di sini, Nak Upa.”
Tak ada pertanyaan apa-apa dari Pak Toikromo. Tidak juga mengenai peristiwa di Perguruan Awan dulu itu. Hanya Pak Toikromo merasakan ada kegelisahan dalam diri Upasara. Itu sebabnya ada kata untuk “menenangkan”.
Itu yang kemudian dirasakan Upasara.
Upasara mengatakan kepada dirinya sendiri, bahwa inilah akhir pengembaraannya. Batinnya telah berkelana begitu jauh, melewati puncak-puncak yang menegangkan, pertarungan mati-hidup.
Inilah muara.
Inilah rumah.
Upasara mulai dalam kehidupan yang biasa, menemani Pak Toikromo. Menengok tegalan, melihat tanaman singkong, pepaya, mencari kayu bakar. Mencari air dari sungai untuk menyirami tanamannya. Memberi makan ayam-ayam.
Tiba-tiba semua menjadi bermakna bagi Upasara.
Jauh lebih berharga dari berbagai pengalaman hidupnya selama ini. Baik semasa di Keraton, ataupun pengembaraan sampai ke Perguruan Awan.
Cara hidup yang sesungguhnya, kata Upasara dalam hati.
Di Perguruan Awan, ia bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam. Akan tetapi itu dari sudut pandang yang berbeda dari sekarang ini. Betapa sesungguhnya perjalanan hidupnya selama ini kosong!
Kelelahan malam membawa tidurnya pulas.
Embun dan sinar pagi membangunkan, membuatnya bergegas mencari air ke sungai, melihat tanaman di tegalan, mencari kayu bakar kembali, dan merebus ubi.
Pergi ke kandang ayam sambil menghitung telur.
“Bapak ini sengaja memelihara ayam, karena percaya suatu hari kamu akan datang kemari, Nak Upa.”
“Barangkali doa Bapak yang menuntun langkah saya.”
“Juga tebat di dekat sungai. Di sana ada ikan yang sudah gemuk-gemuk. Bapakmu ini yang memelihara.
“Kalau mencari ikan di sungai, bapakmu ini akan menyimpan di tebat itu. Bisa untuk makan Nak Upa nanti.
“Ada saatnya banjir selalu datang, dan tebat itu tergenang. Ikan-ikan kembali ke sungai. Tebat itu kosong. Tapi bapakmu ini akan mencarinya lagi di saat air sungai surut. Beberapa ikan yang dulu, yang sekarang bertambah gemuk, masih bisa bapakmu kenali dengan baik. Meskipun pandangan mata mulai lamur, tapi bapakmu ini masih mengenali, Nak Upa.
“Akhirnya kamu datang juga, Nak Upa. Dewa yang Mahaagung sungguh murah dan maha welas asih. Baginda Raja sungguh melindungi doa penyembahnya.
“Kamu datang, Nak Upa.”
Upasara makin tenteram, makin kerasan, makin bahagia. Serasa menemukan apa yang selama ini dicarinya. Rasa bersyukur yang dimiliki Pak Toikromo. Mengumpulkan ikan dari sungai yang setiap banjir lepas kembali. Rasa syukur kepada Dewa, dan juga kepada Raja, seolah kemuliaan dan kebajikan Rajalah yang membuat Upasara datang padanya.
Betapa remuk hati Upasara ketika suatu siang sepulang dari sungai, Upasara mengetahui rumah yang dihuni Pak Toikromo sudah rata dengan tanah! Pedati yang telah rongsokan itu pun dihancurkan. Hanya tinggal bulu ayam bertebaran.
Duka Pun Tak Tersisa
SESAAT Upasara seakan tanpa sukma.
Pandangan bengong tak percaya.
Dadanya seolah disodok dengan tonjokan yang membuat seluruh perasaannya tumpul seketika. Mimpi yang buruk pun tak terbayangkan seperti ini kejadiannya.
Baru dalam napas berikutnya, Upasara sadar bahwa sesuatu yang mengerikan baru saja terjadi.
Sesaat berikutnya Upasara masih menduga bahwa ini semua ulah Nyai Demang untuk memancingnya. Seperti dulu juga. Akan tetapi kemudian sadar bahwa dugaannya adalah dosa yang sempurna. Sejahat apa pun, tak nanti Nyai Demang tega menghancurkan rumah Pak Toikromo rata dengan tanah. Tak nanti bakal memorakporandakan kandang ayam!
Harapan Upasara hanyalah bahwa kejadian itu untuk mengagetkan jiwanya, akan tetapi bukan keselamatan Pak Toikromo. Nyatanya itu harapan yang sia-sia belaka.
Setelah pandangan Upasara bisa melihat lebih jelas, matanya menemukan tubuh yang sangat dihormati rebah di bawah roda yang hancur. Tangannya masih menggenggam erat bulu-bulu ayam, yang agaknya berusaha dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Bagian leher dan dada teriris dengan bekas luka yang dalam dan lebar. Tiga atau empat tulang iga tersayat putus.
Iblis laknat mana yang begitu kejam?
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:44 pm

Apa kesalahan Pak Toikromo sehingga harus dihancurkan secara begitu mengenaskan?
Ini peristiwa macam apa lagi yang harus dihadapi?
Upasara jongkok. Memangku kepala Pak Toikromo seperti dulu memangku kepala Ngabehi Pandu. Dengan perasaan pilu yang pekat. Air matanya bahkan tak bisa menetes lagi. Tangannya yang gemetar dan dadanya bergerak-gerak terseret oleh getar emosi yang tak bisa dikuasai.
Ngabehi Pandu, guru dan yang dianggap pengganti ayahnya, gugur dalam pertarungan yang jujur. Pertarungan para ksatria. Sedangkan Pak Toikromo, meninggal karena perlakuan semena-mena. Kematian karena kekalahan dalam pertarungan yang tak seimbang! Kematian karena perbedaan kekuatan. Jelas lawan menggunakan senjata yang berat dan mempunyai kemampuan ilmu silat. Sedangkan Pak Toikromo hanyalah penduduk biasa.
Upasara mengutuki dirinya!
Jarak antara rumah dan sungai tak begitu jauh. Ia datang dan pergi ke tegalan untuk mengairi. Tapi toh tetap tak bisa mendengar sesuatu yang mencurigakan. Sedikit pun tidak. Padahal robohnya rumah tua, hancurnya gerobak, serta jeritan terakhir Pak Toikromo pastilah cukup jelas terdengar.
Dirinya patut dikutuk!
Dirinya adalah manusia cacat! Tak bisa mendengar apa-apa lagi. Bahkan juga tak mendengar jeritan kematian ayah yang begitu dihormati.
Tiga hari tiga malam Upasara menunggui di pinggir makam Pak Toikromo. Tiga hari tiga malam Upasara mencoba merenungkan semua kejadian yang menghancurkan pribadinya. Sejumlah pertanyaan tak terjawab. Apa sebenarnya kesalahan Pak Toikromo? Apa sebabnya sampai dibunuh dengan begitu mengenaskan? Kalau karena perampokan, kenapa begitu keji? Kalau bukan perampokan, apakah kematian Pak Toikromo karena dirinya?
Upasara makin merasa sesak dadanya.
Tumpat padat berdesakan berbagai macam perasaan. Apakah ia mendiamkan saja peristiwa ini? Ataukah membalas dendam? Kepada siapa? Apakah ia mampu?
Betapa sengsaranya menjadi rakyat jelata. Di tangan perampok atau jago silat, ia hanyalah alat permainan belaka. Tanpa bisa membela diri sedikit pun.
Duka pun tak tersisa ketika Upasara terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu, setelah berdoa untuk terakhir kalinya. Di sekelilingnya tak ada tempat untuk bertanya. Kalaupun ada rumah-rumah lain, letaknya sangat jauh. Akan tetapi Upasara mencoba mendapatkan berita yang bisa dijadikan titik pangkal membalas dendam atau menyelesaikan perkara.
Sebab ini berbeda dari pertarungan para jago silat, berbeda dari ketika secara sengaja ia melepaskan tenaga dalamnya. Ini adalah kesewenang-wenangan yang tak bisa dimaafkan. Upasara tak akan mati tenteram sebelum mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Betapa kecewanya ia ketika mengetahui bahwa rumah terdekat pun mengalami hal yang sama. Rata dengan tanah, tak ada lagi yang ditemui selain mayat suami-istri dengan anak kecil, dengan bekas luka yang sama. Dan pada dua rumah berikutnya, kejadiannya persis sama.
Dengan penuh hormat, Upasara menguburkan semua jenazah yang ditemui. Walau kini tenaga dalamnya tak ada lagi, Upasara masih bisa mengetahui bahwa si pembunuh pastilah orang yang mempunyai tenaga dalam cukup kuat, dan mampu mengangkat senjata berat. Semua korban terkena satu kali sabetan!
Walau Pak Toikromo dan korban lain bukan jago silat, akan tetapi bukan tak mungkin mengadakan perlawanan seadanya. Akan tetapi dari bukti-bukti yang dilihatnya, perlawanan itu tak terlihat sedikit pun. Atau sebelum ada perlawanan mereka telah menjadi korban Pembunuh Bergolok Berat!
Dalam kobaran nafsu membalas dendam, Upasara mulai menyadari kembali kemampuannya untuk berlatih pernapasan. Dengan kemampuan yang tersisa, Upasara berusaha mengalirkan udara lewat hidung dalam satu tarikan kuat, menyalurkan udara ke atas ubun-ubun, ke bawah lewat tulang belakang, dan dikumpulkan sekuat mungkin dalam perut. Untuk diempaskan lewat lubang-lubang kulit tangannya yang mengentak ke depan.
Dengan cara seperti ini Upasara mulai berlatih dari awal lagi. Akan tetapi, setiap kali mencoba memusatkan pikiran, yang muncul dalam bayangannya adalah wajah Pak Toikromo. Yang begitu bersahaja. Yang memandang tanpa dendam, tanpa curiga. Yang pasrah tanpa perlawanan. Atau kadang berganti dengan wajah seorang lelaki yang berjanggut lebat, membawa golok, matanya merah dan siap membabat kepala Upasara. Atau tulang iga Upasara.
Sehingga pemusatan pikiran Upasara menjadi buyar.
Makin dipaksa, makin kacau.
Hingga napasnya menjadi tersengal-sengal, terbatuk-batuk, dan dadanya terasa sakit sekali. Akan tetapi Upasara tak mau menyerah. Semakin sakit, semakin dipaksanya. Semakin tersengal, semakin bengal ia mengulang kembali. Sampai peningnya sempurna, dan Upasara seperti terseret dalam lamunan tak menentu. Dan baru terbangun sendiri dengan pikiran dan raga yang letih.
Upasara memaksa terus.
Baginya hanya ada satu cara. Mengembalikan tenaga dalam sebisanya dan membuat terang siapa Pembunuh Bergolok Berat atau dirinya menjadi korban karenanya.
Jalan kedua ini dianggap lebih baik daripada jalan pertama!
Mati pun tak percuma, karena sudah berusaha!
Maka Upasara kembali berlatih.
“Betul-betul edan. Kalau tempayan sedang penuh air, bagaimana mungkin akan bisa mengisinya?”
Walau kini Upasara bagai orang cacat dan sedang linglung, akan tetapi jalan pikirannya masih bisa bekerja dengan baik. Apalagi yang berkaitan dengan dasar-dasar ilmu kanuragan. Bukan sesuatu hal yang luar biasa mengingat sepanjang hidupnya selalu bergumul dengan hal itu.
Kalimat yang didengarnya adalah bagian dari dasar-dasar ilmu silat. Bagian dari cara mengosongkan pikiran kalau mau mempelajari ilmu silat.
Kalau tempayan penuh berisi air, tak ada gunanya menambah air ke dalamnya. Hanya akan tumpah belaka.
Kalau tempayan itu perumpamaan tubuh Upasara, saat ini sedang penuh dendam dan panas oleh secepatnya mengembalikan tenaga dalam. Jadi tak ada gunanya kalau mencoba mempelajari pernapasan.
“Kalau cara seperti itu mau dipamerkan, aku sudah tahu sebelum kamu mengenal dunia.”
Jawaban Upasara membuat tawa bergelak.
Yang tertawa adalah seorang lelaki yang wajahnya tertutup caping. Hanya tangannya yang memegang tongkat, yang biasanya digunakan untuk menggiring itik, bergerak-gerak.
“Itu yang namanya edan. Sudah tahu tempayan penuh masih nekat dijejali air.
“Anak muda, siapa namamu dan apa maumu dengan berlatih cara pernapasan yang sudah tak diajarkan karena sudah kuno itu?”
Upasara mendongak.
Ganti tertawa.
“Orang tua, siapa namamu dan apa maumu sok pamer ilmu pernapasan, yang tak bisa dibedakan mana yang kuno dan mana yang baru? Selama masih mengisap udara dan mengatur tenaga di dalam tubuh, apakah itu bisa disebut kuno atau baru?”
“Edan, kamu tahu tentang cara-cara melatih pernapasan. Tapi tenagamu kalah kuat dibandingkan seekor itik.”
“Seekor bebek bisa menggerakkan ekornya untuk mencari tenaga. Seekor kumbang bisa menggerakkan sayapnya untuk terbang. Itulah tenaga utama. Akan tetapi seribu ekor itik, seribu ekor kumbang, akan bergerak dengan cara yang sama sejak diciptakan pertama kali. Tak nanti seekor itik atau bebek bisa menarik seekor kuda.”
Caping lelaki itu bergerak, berputar di kepalanya.
Menimbulkan kesiuran angin tajam.
“Kerahkan tenaga memutar ke kanan.”
Bik Suka Bintulu
CAPING yang tadinya berputar ke arah kiri serta-merta berubah ke arah kanan, sesuai permintaan Upasara. Hanya saja karena gerakannya mendadak, caping itu jadi terangkat ke atas.
Namun Upasara tak bisa melihat dengan jelas, karena geseran angin dari tutup kepala itu membuat matanya pedih.
“Itu namanya tenaga separuh yang kamu gunakan,” kata Upasara gagah. “Tempayan yang berisi air separuh, bisa digerakkan lebih mudah.”
“Edan. Anak kemarin sore malah mengajari seorang bik suka.”
Upasara membuka bajunya.
“Aku tak tahu kalau Paman seorang bik suka. Maaf, terimalah pemberian milikku seadanya.”
Upasara mengerti bahwa yang dihadapi adalah seorang bik suka, atau wiku, atau biksu, atau pendeta yang meminta-minta. Maka sebagai tanda penghormatan, Upasara memberikan bajunya, karena tak mempunyai sesuatu yang bisa diberikan.
Bik Suka sekali lagi memutar capingnya, dan baju Upasara tersangkut. Akan tetapi dengan sekali putaran, baju itu kembali menutupi wajah Upasara.
Walau telah berusaha menangkis, akan tetapi tenaga dan kecepatan Bik Suka mengatasinya. Sehingga tubuh Upasara bergoyang.
“Apakah Paman Bik Suka Bintulu?”
“Aneh. Kamu ini aneh dan edan. Bagaimana mungkin pengetahuanmu begitu hebat, akan tetapi kemampuanmu begitu hina?”
Bik Suka Bintulu, atau Biksu Bintulu adalah istilah untuk menyebut seorang pendeta dari kelompok yang suka menyebut dirinya Bintulu. Istilah ini sebenarnya mempunyai arti poleng atau kotak-kotak seperti papan permainan catur berwarna biru dan putih. Kelompok ini memang sebagai pendeta, akan tetapi menolak pemberian.
Tentu saja Upasara mengetahui, karena selama dalam Ksatria Pingitan, boleh dikatakan segala pengetahuan dan adat diajarkan.
“Maafkan saya, Paman Bintulu.”
“Kamu sudah menghinaku sebagai peminta-minta, bagaimana mungkin aku memaafkan begitu saja? Kalau setiap kesalahan bisa diakhiri dengan maaf, untuk apa ada pembunuhan dan kebajikan?”
Upasara berdiri gagah.
“Kalau memang ingin pamer kegagahan, untuk apa bicara soal maaf segala macam?
“Paman Bintulu, saya, Wulung, meminta maaf. Tetapi tidak berarti meminta ampunan soal pembalasan penghinaan.”
“Anak ayam seperti kamu berani mengaku elang?”
Upasara menjadi gondok. Nama Upasara Wulung adalah namanya yang sebenarnya. Yang berarti Banteng Hitam. Wulung berarti hitam kebiru-biruan. Tapi wulung juga bisa berarti elang. Arti terakhir ini yang tertangkap oleh Bintulu.
“Sekali pengemis tetap pengemis.
“Mana ada di jagat ini pengemis memberikan sesuatu, walau hanya maaf?
“Edan!”
“Mana ada seorang mengaku wiku selalu mengeluarkan kata-kata kotor?”
“Edan.
“Eh, Wulung, siapa dirimu sebenarnya?”
“Saya adalah lelaki yang ingin membalas dendam kematian orangtua saya yang dibunuh secara kejam.”
“Majulah.
“Akulah yang membunuh penduduk desa ini.”
Tanpa pikir panjang, Upasara menggertak maju. Kedua tangannya terentang. Kedua kakinya membuka kuda-kuda. Akan tetapi Bintulu hanya menudingkan tongkat penggiring bebek. Ini saja sudah membuat Upasara menjadi ngilu. Kakinya yang terangkat seperti kaku. Tak bisa digerakkan.
Karena nekat maju, tubuh Upasara jatuh ke tanah.
“Aku bilang maju, bukan tiduran!”
“Kalau menyalurkan tenaga lewat tongkat, masih harus mengerahkan tenaga di pusar, kenapa berlagak?”
“Dari mana kamu tahu, Wulung?”
“Karena dada Paman Bintulu digerakkan lebih dulu. Tenaga yang disalurkan ke tongkat akan menjadi lebih cepat jika disalurkan dari telunjuk. Tongkat itu bagian dari telunjuk, yang tidak ditentukan keuntungannya dari panjangnya.”
Kaki Bintulu mengentak tanah.
Hebat tenaganya.
Getarannya membuat Upasara bangkit kembali, seolah dilontarkan tenaga tak terlihat.
“Nah, ini baru namanya tenaga kaki yang sesungguhnya. Padahal kalau jari dilatih, kekuatannya tidak kalah dari telunjuk. Tetapi dasar pendeta gunung, lebih bisa menggerakkan kaki daripada tangan.”
Apa yang dikatakan Upasara membuat Bintulu mendehem kecil.
Apa yang dikatakan Upasara memang benar. Tenaga kaki lebih bisa digerakkan dari tenaga jari. Kekuatan memainkan kaki memang menjadi ciri utama para pendekar dari daerah pegunungan. Karena keadaan medan yang tidak rata, dengan sendirinya latihan gerakan kaki menjadi lebih terlatih. Dengan salah satu cirinya, tubuh bisa bergerak lebih enteng dan permainan kuda-kuda juga kokoh.
“Setan mana yang mengajarimu, Wulung?”
“Apakah Paman Bintulu hanya bisa menyebut setan dan edan saja?”
“Sudahlah, jangan banyak ngomong. Kalau mau menuntut balas, cepatlah.” “Paman Bintulu, kenapa Paman membunuh Pak Toikromo?”
“Sudah menjadi adat dunia. Yang kuat membunuh yang lemah. Untuk apa menanyakan alasan?”
“Bapakku tak bersalah.”
“Memang tidak.
“Aku hanya ingin membunuh saja. Sekali sabet, selesailah sudah. Kalau kamu ingin menyusul, majulah. Aku tak akan membedakan cara membunuh.”
“Coba saja. Apakah Paman Bintulu bisa merontokkan tulang iga dengan meninggalkan luka menganga.”
Upasara menerjang. Dengan jurus Banteng Ketaton atau Banteng Terluka. Kedua tangannya terkepal dan menyeruduk maju. Tanpa menggerakkan tubuh, Bintulu menggerakkan capingnya. Angin berputar yang muncul melibat tubuh Upasara dan membantingnya ke tanah dengan putaran.
Pandangan mata Upasara berkunang-kunang.
Tapi segera berdiri.
“Saya ingin dada saya dibelah, bukan dibanting dengan ilmu gasing anak-anak seperti ini.”
Gertakan Upasara hanya untuk meyakinkan bahwa Bintulu pembunuh Pak Toikromo atau bukan.
Melihat bahwa Bintulu tetap termangu, Upasara jadi kurang yakin.
“Kenapa Paman mengaku sebagai pembunuh?”
“Apa bedanya aku yang membunuh orangtuamu atau bukan? Aku sudah banyak membunuh orang tanpa mengetahui nama dan anak-anaknya. Kenapa itu kaurisaukan benar?
“Majulah lagi, kalau ingin kubelah dadamu.”
Upasara berputar.
Tubuhnya berbalik menjauh. Tiga langkah kakinya menjadi berat, dan tubuhnya terseret. Kembali terbanting.
“Wulung, jawab yang benar. Siapa nama gurumu?”
“Baik, Paman dengar baik-baik.” Upasara berdiri dengan gagah. Walau seluruh tubuhnya ngilu-ngilu tapi digigitnya bibirnya untuk menahan rasa sakit.
“Guruku adalah Ngabehi Pandu.”
“Siapa itu?”
Upasara mengentakkan kaki ke tanah.
“Bagaimana mungkin Bintulu yang berilmu tinggi ini tak mengenal Ngabehi Pandu?
“Kalau tak kenal nama besar guruku, buat apa bertanya?”
“Segala macam Ngabehi saja diunggulkan. Tapi… edan… memang sebenarnya Ngabehi Pandu membekalimu dengan ilmu yang benar, akan tetapi ternyata kamu anak ayam yang kerdil.”
“Seorang senopati agung dari Keraton Singasari lebih pantas dikagumi.”
“O, Ngabehi-mu itu wong Keraton? Siapa lagi yang jadi wong Keraton yang bisa main silat?”
“Mpu Raganata.”
Upasara mulai bisa menebak-nebak bahwa tokoh yang dihadapi ini adalah seorang tokoh yang belum begitu lama muncul dari pengasingan yang cukup lama. Maka ia menyebutkan nama Mpu Raganata.
“Apakah ia prajurit baru?”
“Paman Bintulu, Paman sangat keterlaluan!”
Upasara bergerak kembali, akan tetapi sekali ini terasa udara panas membeset tubuhnya! Dan darah mengucur dari dadanya. Luka melintang! Seperti yang dialami Pak Toikromo dan beberapa korban yang lain.
Dengan geram Upasara berdiri kembali.
Akan tetapi kakinya makin sempoyongan.
“Ayo majulah. Akan kususul bapakku. Akan kutemani di alam sana.”
“Edan!”
Sekali ini tongkat kecil penggiring bebek bergerak cepat.
Bejujag, Tokoh Paling Kurang Ajar
UPASARA berkeringat dingin.
Dalam detik-detik terakhir, tubuhnya meringkuk dengan kedua tangan berusaha melindungi. Kesiuran angin sangat tajam merobek. Gerakan Upasara adalah gerakan seadanya, sebisanya seperti perlindungan diri terakhir.
Bahkan kedua matanya tertutup.
Terdengar suara keras, dan pohon mangga di sebelahnya roboh, terpotong melintang dari satu sisi kanan ke kiri bawah!
Pohon mangga saja terbelah terkena kesiuran angin tongkat penggiring bebek Bintulu!
“Ilmu iblis apa yang kamu mainkan, Wulung?”
Dalam nada geram, terdengar juga kesan kagum.
Upasara sendiri tak bisa menjawab segera. Tak bisa menerangkan dengan jelas. Bahwa dari tubuhnya masih bisa keluar tenaga murni Bantala Parwa. Tenaga dalam yang sudah dimusnahkan itu ternyata masih tersimpan, dan secara tiba-tiba muncrat keluar, berhasil menangkis kesiuran angin maut Bintulu.
Bahwa inti tenaga murni Penolak Bumi adalah bersifat tenaga tumbal, tenaga yang muncul untuk mementahkan dan mengenyahkan serangan yang mengancam, Upasara sadar. Akan tetapi ternyata tenaga itu sekarang ini tak sepenuhnya bisa dikuasai. Tenaga murni itu mengalir dengan sendirinya!
Karena sebelum keluar, Upasara telah sungsang-sumbel dan hampir saja binasa. Toh tak bisa keluar.
Upasara bercekat.
Tubuhnya basah oleh keringat.
Sesaat tadi, ia merasa kematian telah datang menjemput secara paksa. Untuk pertama kalinya, Upasara merasa enggan menerima kematian. Saat ini berbeda dari saat ia membuang tenaga dalamnya, berbeda dari ketika Nyai Demang mengamuk. Upasara merasa masih ada ganjalan untuk meninggal.
Masih ingin membalas dendam kematian Pak Toikromo!
Ataukah perasaan ini yang membuat tenaga murni muncul tak terduga? Rasanya tak mungkin juga. Karena kini, ketika Upasara mencoba mengerahkan kembali, malah dadanya yang terasa sakit.
Kalau tenaga murni macet, kematiannya hanyalah soal waktu. Maka Upasara menjadi bercekat, tubuhnya berkeringat, seolah sedang menghadapi malaikat maut.
“Ilmu bisa menjadi iblis bisa menjadi dewa, tak perlu ditanyakan.”
“Siapa gurumu?”
“Sudah saya katakan, saya adalah murid Ngabehi Pandu yang terhormat, senopati Keraton Singasari. Teman baik yang terhormat Mpu Raganata, sahabat erat Eyang Sepuh.”
Upasara sengaja menyebut nama tokoh-tokoh besar, agar Bintulu tak menjadi ganas karenanya. Karena dengan mendengar nama-nama besar itu, bisa mengingatkan akan sesuatu. Perhitungan Upasara, sekali lagi, berdasarkan dugaan bahwa Bintulu adalah tokoh sakti angkatan tua yang kembali.
Dugaan itu benar, akan tetapi Bintulu tetap menggelengkan kepala.
“Mana aku kenal nama cecunguk-cecunguk itu?
“Tapi aku bisa memaksamu mengatakan siapa sebenarnya.”
Bintulu menggenggam tongkat kurusnya.
“Begitu sombong Paman Bintulu menyebut dengan kata kotor pada pendiri Nirada Manggala!”
Kali ini upaya Upasara menemukan hasilnya. Kalau nama Eyang Sepuh, Mpu Raganata maupun Ngabehi Pandu tak dikenali, nama Perguruan Awan ternyata membuat Bintulu menahan napas sejenak.
“Apa hubunganmu dengan si Bejujag itu?”
Upasara tak tahu siapa yang dimaksudkan dengan si Bejujag, yang bisa diartikan sebagai seorang yang kurang ajar. Jangan-jangan salah satu nama yang bisa dihubungkan dengan pendiri Perguruan Awan. Dan itu bisa berarti…
“Kalau memang kamu murid si Bejujag dan sengaja mau mengintip ilmu Tongkat Penggiring Bebek, inilah kesempatan terbaik. Aku akan membunuhmu dalam satu gerakan.”
Ternyata tetap saja niat Bintulu untuk membunuh!
“Tak perlu main sembunyi.”
Belum Upasara mengerti sepenuhnya, sesosok bayangan telah muncul sambil mengertakkan gigi dan mengayunkan tongkatnya secara keras.
“Kakang Galih!”
Teriakan Upasara lebih mencerminkan nada kuatir dibandingkan kegembiraan.
Karena Upasara menyadari bahwa Galih Kaliki yang suka menyerang secara sembrono bisa menghadapi bahaya melawan Bintulu yang mampu memainkan tongkat kurusnya.
Gebukan tongkat galih asam ke arah caping Bintulu tak dihiraukan. Hanya tongkat penggiring bebek disebatkan untuk menangkis.
Tongkat kurus bagai bambu yang sedang tumbuh menghadapi tongkat perkasa dari hati pohon asam.
Luar biasa!
Upasara seakan tak percaya pada matanya.
Bahkan Galih Kaliki melongo.
Tongkat galih asam terpotong di bagian ujungnya. Terpotong dengan goresan miring!
Inilah yang tak dinyana tak disangka.
Tongkat galih asam sudah lama malang melintang di dunia persilatan. Puluhan atau ratusan kali diadu dengan segala senjata tajam pilihan. Akan tetapi selama ini tak pernah mengalami lecet sekali pun. Maka sungguh tak terbayangkan, hanya dengan sekali sabetan, tongkat perkasa itu somplak!
Tenaga ajaib macam apa yang dimiliki dalam diri Bintulu dengan tongkat penggiring bebek, yang kelihatannya terayun-ayun terguncang angin?
“Kakang Galih… tahan “
Jeritan Upasara terlambat. Galih Kaliki telah mengeprukkan tongkat ke arah caping Bintulu untuk kedua kalinya. Kali ini dengan tenaga penuh.
Bintulu menggenggam tongkat penggiring bebek dengan dua tangan dan tubuhnya berputar keras. Cepat sekali. Upasara sampai mundur terdesak oleh angin.
Tongkat galih asam membentur tongkat penggiring bebek untuk kedua kalinya. Upasara menahan getaran dalam tubuhnya.
Tongkat galih asam somplak, terlempar ke udara dan jatuh di dekat tubuh Galih Kaliki yang juga ambruk. Pada sebelah kanan dadanya terlihat goresan yang dalam hingga ke pangkal paha sebelah kiri. Luka menganga dan seakan terlihat tulang-tulang tubuh Galih Kaliki yang dilewati sabetan tongkat kurus itu terputus.
Ajal Galih Kaliki telah sampai sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Sebelum sempat bertegur sapa dengan Upasara!
Alis mata Upasara bersatu. Seluruh darahnya seakan mengalir ke wajah. Darah dendam kesumat membahana. Tangannya gemetar meraih tongkat galih asam yang telah somplak.
“Hmmm, jadi si Bejujag itu menyembunyikan kangkam dalam galih?” Baru sekarang Upasara sadar bahwa tongkat yang selama ini dipergunakan oleh Galih Kaliki adalah sarung pedang! Pedang hitam yang tipis. Kangkam Galih yang agaknya dikenali oleh Bintulu!
Seumur hidupnya Galih Kaliki tak pernah mengetahui hal ini. Bahkan tak akan percaya andai diberitahu bahwa tongkat andalannya ini sebenarnya hanyalah sarung pedang! Warangka.
Upasara tak banyak berpikir. Kedua tangannya menggenggam Kangkam Galih dengan pandangan bulat.
“Apa pun yang kamu katakan, aku siap menuntut balas kematian orangtua dan kakangku.”
“Edan. Hari ini aku membunuh dengan perasaan senang.”
Bintulu bergerak. Upasara tak melihat gerakan, hanya merasakan angin tajam menerjang keras ke arahnya. Dengan sepenuh tenaga, Upasara mengangkat tongkat Kangkam Galih—pedang yang tersimpan dalam galih— untuk menangkis dan menerjang.
Akan tetapi karena tenaganya kurang tersalur sempurna, di samping pedang tipis hitam itu sangat berat, Upasara menjadi sempoyongan. Tanpa bisa ditahan lagi, tubuhnya justru terbanting sebelum langkah ketiga!
Bintulu mengeluarkan teriakan dingin sambil meloncat tinggi!
Agaknya tak menduga bahwa Upasara melakukan gerakan yang tak sepenuhnya dikuasai dan disadarinya. Nyatanya memang begitu.
Sewaktu menangkis tadi, Upasara menggerakkan pedang dengan serangan yang masih bisa dihafal dan diketahui. Hanya karena tenaga dalamnya tak terkuasai, tenaga membawa pedang hitam itu membuatnya terhuyung jatuh. Akan tetapi di luar dugaannya, justru sewaktu tubuhnya akan menyentuh tanah ada tenaga menolak yang membuat Upasara tegak.
Begitu tegak, Upasara berniat menyerang kembali. Akan tetapi kejadian berulang. Tubuhnya terseret oleh tenaga Kangkam Galih. Sehingga makin limbung.
Agaknya justru ini yang membuat Bintulu kaget dan meloncat tinggi.
Kalau tadi bisa membunuh Galih Kaliki tanpa mengubah posisi kaki dari tempatnya berdiri, sekarang perlu menghindar!
Dodot, Kain Panjang untuk Hamba Sahaya
MENGETAHUI ada tenaga yang memberontak dari tubuhnya, Upasara tak mau menahannya. Ia memusatkan pikirannya, dan membiarkan tenaganya tersalur ke arah Kangkam Galih.
Dalam sekejap, Upasara telah memainkan jurus-jurus Dwidasa Nujum Kartika secara lengkap dan sempurna. Angin berkesiuran memancar dari tubuhnya, mengepung Bintulu yang berloncatan. Karena agaknya Bintulu tak ingin tongkat penggiring bebek bersentuhan dengan Kangkam Galih. Ini yang membuat dalam sekejap Upasara bisa mendesak mundur.
Bintulu meloncat mundur sekali lagi, akan tetapi kali ini Upasara menyabet dengan ganas.
Caping Bintulu terayun ke atas!
Barulah Upasara bisa melihat Bintulu.
Dan cemas dengan sendirinya.
Yang berada di depannya ternyata lelaki yang sudah tua, dengan rambut putih beberapa helai. Selebihnya adalah wajah yang tanpa bentuk sama sekali! Hanya ada semacam lubang untuk hidung—ataukah mulut?— selebihnya gumpalan daging. Bahkan Upasara tak bisa menemukan mana bagian matanya.
Begitu banyak peristiwa ditemui Upasara, akan tetapi sekali ini tak terjangkau oleh akal sehatnya.
Bintulu, jelas tokoh sakti mandraguna dari suatu masa yang telah lewat. Dilihat dari usianya, bukan tidak mungkin lebih tua dari Mpu Raganata. Kemampuan dan ilmu silatnya sungguh tiada tara. Galih Kaliki saja bisa disabet dalam dua gerakan!
Hati kecil Upasara terusik rasa iba.
Bintulu pastilah mengalami sesuatu yang sangat kejam di masa lalu. Sehingga wajahnya hancur lumat. Tak tersisa mata atau mulut! Neraka iblis macam apa yang telah terjadi?
Kalau dilihat dari sisi ini, Bintulu perlu dikasihani. Akan tetapi Bintulu pula yang telah menewaskan orangtuanya, Pak Toikromo! Dan juga Galih Kaliki!
Dan Upasara telah bersumpah untuk membalas dendam.
“Edan!
“Sungguh edan. Apakah si Bejujag itu mampu menyimpan dan mengembalikan nyawa manusia? Apakah ia telah menjadi Maha wiku seperti yang diinginkan?
“Edan.
“Wulung, apakah yang kamu mainkan barusan ilmu Menyimpan Nyawa si Bejujag?”
Biar bagaimanapun, Upasara masih mempunyai jiwa ksatria. Hatinya tergetar melihat penderitaan Bintulu. Maka dengan hormat, Upasara melakukan sembah. Setelah mengembalikan caping untuk menutupi wajah Bintulu, barulah Upasara mundur dan menjawab.
“Paman Sepuh Bintulu, yang baru saja saya mainkan adalah jurus-jurus Dwidasa Nujum Kartika, atau Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Yang kalau diteruskan dengan Delapan Jurus Penolak Bumi, dikenal sebagai ajaran Kitab Bumi.
“Apakah Paman Sepuh mengenali?”
“Edan.
“Bagaimana mungkin kamu tanyakan aku mengenali atau tidak, kalau aku yang menciptakan?”
Ganti Upasara yang menjublak. Berbagai perasaan datang-pergi silih berganti.
“Aku tidak tanya nama jurus mainan anak-anak. Yang kutanyakan apakah si Bejujag itu telah mampu melatih tenaga dalam Menyimpan Nyawa!”
“Maaf, Paman Sepuh, yang saya latih adalah pernapasan seperti yang diajarkan dalam Bantala Parwa.”
“Ngawur!
“Aku tidak menciptakan cara berlatih napas semacam itu. Itu pasti akal-akalan si Bejujag yang suka main gila.
“Wulung, kamu ini manusia macam apa sehingga begitu beruntung dalam hidupmu?”
Kembali Upasara terguncang.
Apa maksud omongan Bintulu yang seperti berusaha menjelaskan sesuatu ini?
“Kamu beruntung mempelajari cara pernapasan Menyimpan Nyawa. Itulah latihan pernapasan yang dikembangkan oleh si Bejujag, padahal ilmu yang murni, akulah yang menemukan. Akulah yang menciptakan apa yang kamu sebut sebagai Bantala Parwa atau Kitab Bumi.
“Tapi Bejujag itu memang nasibnya selalu lebih baik. Kami bertiga sama-sama manusia berkain dodot, kain panjang dan lebar, sebagai tanda hamba sahaya. Tanda pengenal kaum paminggir, kaum yang tak diperhitungkan secara resmi. Kaum pinggiran, kaum dodot.
“Edan.
“Bejujag percaya bahwa cara berlatih napas Menyimpan Nyawa adalah cara berlatih yang sempurna. Karena tenaga murni latihan ini adalah tenaga yang tak akan pernah bisa hilang. Tenaga yang kekal abadi.
“Aku tak percaya di jagat raya ini ada cara berlatih pernapasan seperti itu. Tapi baru saja kurasakan bahwa Bejujag kampungan itu berhasil.”
Terdengar helaan napas berat.
Upasara seperti tersadar. Bahwa Paman Sepuh Bintulu mengatakan apa adanya tentang cara pernapasan yang disebut Menyimpan Nyawa. Semacam latihan pernapasan, di mana setiap kali dilakukan dua kali dari biasanya.
Dalam Bantala Parwa yang dipelajari, hal inilah justru yang membuatnya bingung dan putus asa. Karena seolah latihan pernapasan mengulang, dan selalu dimulai dengan penolakan! Ternyata justru inilah intisarinya!
Tenaga murni Upasara telah dikeluarkan hingga habis tuntas. Akan tetapi, sebenarnya dalam dirinya masih tersimpan penuh tenaga murni itu. Hanya saja, tenaga murni semacam ini tak bisa dipergunakan secara langsung. Harus diubah lebih dulu. Diubah menjadi tenaga murni yang bukan cadangan. Tenaga murni yang bukan simpanan.
Itu pula sebabnya, seakan tenaga murni itu hanya bisa keluar pada saat maut nyaris merenggut! Karena pada saat seperti itu, secara tidak sadar tenaga dalam Menyimpan Nyawa bisa keluar. Dan mengetahui bahwa tenaga murni itu harus diubah lebih dulu, membuat Upasara sadar sepenuhnya.
Bahkan kini tenaga dalamnya yang dulu bisa dihadirkan kembali!
Tenaga murni yang tersimpan itu diubah menjadi tenaga murni yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Dengan demikian tenaga murni yang sebenarnya tetap terjaga utuh. Ini yang disebut Paman Sepuh Bintulu sebagai cara melatih pernapasan Menyimpan Nyawa.
Satu kata kunci saja, membuat Upasara bisa menemukan kembali tenaga dalamnya.
Dan yang memberitahu, justru musuh besarnya. “Terima kasih atas penjelasan Paman Sepuh.”
“Edan.
“Selama ini aku mempelajari, menciptakan, ternyata sia-sia belaka. Bejujag itu masih bisa mengatasi.”
Upasara menyembah dengan hormat dan tulus.
“Maafkan saya, Paman Sepuh, siapakah tokoh sakti yang selalu Paman Sepuh sebut sebagai Manusia Kurang Ajar?”
“Siapa lagi kalau bukan Bejujag yang paling kurang ajar?”
“Apakah… apakah… yang Paman Sepuh maksudkan Eyang Sepuh yang mendirikan Perguruan Awan?”
Caping Bintulu bergoyang-goyang.
“Bejujag itu menyukai nama kosong. Untuk apa kalian begitu menghormatinya dengan memakai sebutan Eyang Sepuh dengan nada begitu hormat? Ia tak lebih dari si Kurang Ajar yang tak tahu malu, mengakali ilmuku.”
Kali ini Upasara yang menghela napas berat.
Seluruh tokoh di tanah Jawa begitu menghormati nama agung Eyang Sepuh—mulai dari penduduk biasa, para ksatria, pendeta, sampai dengan Raja—akan tetapi kini dengan enteng saja disebut Bejujag yang mencuri ilmu!
“Paman Sepuh, tadi Paman Sepuh menyebut bertiga. Siapa tokoh yang bertiga?”
“Edan.
“Wulung, kenapa kamu memaksa aku mengingat nama manusia yang tak berbakat itu? Manusia yang lebih mementingkan duniawi daripada yang rohani. Manusia yang lebih mementingkan raga dibandingkan nyawa? Manusia yang lebih mementingkan nata atau kebangsawanan daripada dodot sebagai asal-usulnya sendiri?”
Bagi Upasara, kini segalanya lebih jelas.
Pada masa yang telah lama, ada tiga kaum dodot yang menjadi ksatria. Mereka bertiga ini kelak kemudian hari terkenal dengan nama yang harum. Yang paling kurang ajar, kemudian menjadi Eyang Sepuh, tokoh yang paling dihormati. Yang dianggap mementingkan keragaan, menjadi Mpu Raganata. Yang ketiga, atau yang pertama, adalah yang tak pernah dikenal selama ini. Yang sekarang dipanggil Upasara sebagai Paman Sepuh Bintulu.
Ada benarnya, kalau diingat bahwa Eyang Sepuh yang kemudian mendirikan Perguruan Awan, dan Mpu Raganata yang mengabdi kepada Baginda Raja Sri Kertanegara.
Agaknya Paman Sepuh Bintulu yang terus-menerus mempelajari dan menciptakan ilmu.
Kalau benar begitu, kenapa sekarang muncul dari pertapaannya? Apa yang mampu menggerakkan?
Janji di Tepi Kali Brantas
Upasara gegetun sekali.
Menyesal karena kini berhadapan dengan Paman Sepuh Bintulu, yang dalam sesaat membuatnya berada dalam posisi yang berlawanan. Sebagai tokoh tua yang dihormati, yang ternyata adalah tokoh seangkatan dengan Eyang Sepuh. Akan tetapi juga seorang tokoh ganas yang telah menewaskan Pak Toikromo serta Galih Kaliki.
Upasara gegetun karena mau tidak mau ia akan berhadapan dengan Paman Sepuh.
Namun agaknya Paman Sepuh seperti tak memedulikan itu semua.
“Wulung, aku ingin menjajal ilmu Menyimpan Nyawa.”
“Maaf, Paman Sepuh.”
“Cuma aku sudah berjanji kepada si Bejujag dan kepada orang Keraton yang sebenarnya lebih pantas memakai dodot. Kami bertiga berjanji akan bertemu di tepi Kali Brantas sambil menunggu datangnya tetamu yang akan meramaikan pertemuan.
“Edan.
“Kalau murid Bejujag seperti kamu, apa murid-muridku bisa menghadapimu?”
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:45 pm

Upasara berpikir cepat.
“Paman Sepuh juga mempunyai murid-murid?”
“Bukan murid,” suara Paman Sepuh menyesak. “Mereka orang edan tujuh turunan yang akan kusabet wajahnya!”
“Maaf, bolehkah saya lancang bertanya, siapa murid dan sebutan Paman Sepuh?”
Caping Paman Sepuh Bintulu bergoyang kembali.
“Tadi kamu sudah memanggil Bintulu. Itu juga namaku. Kamu panggil Paman Sepuh, itu juga namaku.
“Kenapa kamu meributkan nama?
“Murid, aku tak tahu namanya. Aku cuma ingat kumisnya licik.”
“Apakah yang mempunyai gelar Ugrawe?”
“Edan.
“Bisa jadi.”
Sangat pantas sekali. Ugrawe sakti mandraguna dengan ilmu dan jurus-jurus Banjir Bandang Segara Asat, atau Banjir Bah Laut Kering. Ilmu yang menyedot tenaga dalam lawan. Selama ini asal-usul Ugrawe sangat gelap. Ternyata ia murid Paman Sepuh.
Akan tetapi kalau disebutkan murid-murid, berarti ada yang lain.
“Siapa murid Paman Sepuh yang lain?”
“Edan.
“Mana pernah aku mengingat nama?”
Upasara menggigit bibirnya.
Lalu dengan satu tarikan napas berat, Upasara berusaha menerangkan. Bahwa Eyang Sepuh kini telah tidak ketahuan kabar beritanya sejak menghilangkan diri. Bahwa Mpu Raganata telah gugur sewaktu pasukan Gelang-Gelang yang dipimpin Ugrawe dan Raja Muda Jayakatwang menyerbu Keraton Singasari. Dan Ugrawe sendiri telah gugur.
“Tak mungkin.
“Bejujag itu pasti akan muncul. Raga itu sudah jadi bangsawan, tapi masih akan datang. Kami sudah saling berjanji. Lagi pula akan datang ksatria lain. Mana mungkin mereka ingkar atau mati lebih dulu?
“Wulung, kamu pikir kami belajar dan melatih diri untuk apa kalau tidak untuk pamer?”
Berkelebat gambaran masa lampau tentang tiga pemuda, tiga ksatria yang sangat gandrung ilmu kanuragan. Masing-masing kemudian menciptakan ilmu yang menjadi tonggak seluruh ilmu silat yang ada.
Paman Sepuh Bintulu .menciptakan apa yang kemudian dikenal sebagai Bantala Parwa. Sementara Eyang Sepuh lewat Perguruan Awan mengembangkan sebuah perguruan yang tetap memperlihatkan ciri-ciri kaum dodot, kaum hamba sahaya yang hidup larut bersama alam. Tonggak yang ditancapkan Eyang Sepuh adalah cara melatih pernapasan yang disebut oleh Paman Sepuh sebagai Menyimpan Nyawa. Ada banyak persamaan antara ilmu Bantala Parwa dan ilmu Menyimpan Nyawa.
Sementara itu, Mpu Raganata lain lagi. Jalan hidupnya menjadi pengabdi raja, dan tetap mempunyai jarak dengan kekuasaan Keraton. Tonggak ciptaannya dalam ilmu kanuragan ialah ilmu Weruh Sadurunging Winarah.
Dibandingkan dengan ilmu Bantala Parwa, memang dasar-dasar ilmu Weruh Sadurunging Winarah mempunyai perbedaan. Barangkali karena memang perjalanan nasib tokoh-tokoh yang menciptakan berlainan.
Mestinya pada suatu hari mereka saling berjanji akan bertemu di tepi Kali Brantas. Untuk saling menguji. Dan di samping itu juga akan diundang datang para ksatria dari negeri seberang.
Kalau Mpu Raganata secara jelas terlihat kehadirannya, dan Eyang Sepuh terasakan kehadirannya lewat Perguruan Awan, Paman Sepuh Bintulu mengasingkan diri dan terus melatih ilmu secara murni.
Dan tak cukup tahu apa yang telah terjadi.
Kalau dipikir-pikir, ketiga ksatria ini sangat aneh. Ilmu mereka begitu tinggi, pencarian mereka begitu mendalam, akan tetapi perjalanan hidup mereka sangat berbeda satu dari yang lain. Toh begitu akan saling bertemu.
Upasara yakin, jika Eyang Sepuh masih ada, entah di mana, pasti akan muncul lagi!
Apa pun keadaan dan tingkat keresiannya sekarang ini, Eyang Sepuh tak akan ingkar janji kepada sahabatnya di masa lalu.
Upasara bisa mengerti kalau Paman Sepuh Bintulu menjadi orang yang mempunyai perangai aneh. Wajahnya yang hancur menjadi satu petunjuk hidupnya yang sengsara. Ditambah sekian puluh tahun tak pernah bergaul—dan mungkin sekali malah dikhianati oleh muridnya yang bernama Ugrawe—Paman Sepuh Bintulu menjadi tak begitu pedulian. Apa atau kenapa main bunuh saja.
Kebetulan dua di antara korbannya adalah Pak Toikromo dan Galih Kaliki!
Hal ini yang tak bisa dibiarkan oleh Upasara.
Upasara tak meragukan sedikit pun bahwa Bantala Parwa adalah ciptaan Paman Sepuh Bintulu. Sekurangnya beliaulah yang menyusun dan menuliskan dalam klika. Dan kitab itu yang dicuri begitu saja oleh Ugrawe! Karena dunia luar mengetahui Kitab Bumi itu dari Ugrawe.
Upasara sendiri mengenal Kitab Bumi dari Kawung Sen, yang mencuri dari Ugrawe. Sangat mungkin sekali Kitab Bumi ciptaan Paman Sepuh Bintulu mirip dengan yang dikembangkan Eyang Sepuh yang kemudian dikenal dengan jurus-jurus Tepukan Satu Tangan. Dengan perbedaan pokok pada cara pengaturan napas yang disebut Menyimpan Nyawa.
Upasara juga gegetun karena sebab lain.
Ilmu membuka tempat Menyimpan Nyawa diketahui justru setelah korban berjatuhan. Bukan sebelumnya!
Inilah yang membuat gegetun. Nyawa Pak Toikromo tak bisa kembali lagi. Galih Kaliki tak mungkin hidup kembali.
Upasara tenggelam dalam renungannya.
Siapa yang mengatur ini semua? Siapa yang meletakkan pada situasi yang menyayat ini?
Apa sebenarnya yang dikehendaki Dewa Segala Dewa dengan jalan hidupnya sekarang ini?
Ini masih harus ditambah dengan sejumlah pertanyaan lain. Siapa murid Paman Sepuh Bintulu yang setara dengan Ugrawe, yang selama ini tak dikenali? Apakah ia sama jahatnya dan malang melintang di dunia persilatan, ataukah masih menyembunyikan diri? Apa yang akan terjadi di tepi Kali Brantas jika ternyata yang muncul ksatria-ksatria dari tanah seberang? Menjadi pertarungan terakhir?
Satu hal yang membuat Upasara terusik.
Paman Sepuh Bintulu, Eyang Sepuh, maupun Mpu Raganata mengatakan berasal dari kaum dodot. Dari kelompok paminggir, yang juga berarti bukan anak-cucu langsung para raja. Sebenarnya dalam hal ini bisa disamakan dengan dirinya, dengan Paman Jaghana!
Sekilas ingatan Upasara kembali ke Perguruan Awan.
Dengan peraturan yang tegas, tak ada anak buah Perguruan Awan yang direstui menjadi prajurit atau senopati. Paman Wilanda adalah contoh utama. Ketika masuk sebagai prajurit, tidak dianggap sebagai warga Perguruan Awan lagi. Hanya karena suatu peristiwa yang memperlihatkan jiwa luhurnya dan keinginannya menjadi warga Perguruan Awan, Paman Wilanda bisa diterima kembali.
Upasara sendiri bisa melihat dirinya berada dalam posisi yang berada di sisi sana dan di sisi sini sekaligus. Ia dibesarkan dalam lingkungan Keraton sejak lahir. Akan tetapi ia tetap dianggap kaum dodot, kaum hamba sahaya. Seumur-umur berada di Keraton, darahnya tetap tak bisa menjadi biru.
Dan ini salah satu kegagalannya untuk mempersunting Gayatri yang sekarang menjadi permaisuri Raja Majapahit.
Upasara baru menyadari bahwa Paman Sepuh Bintulu sudah lenyap entah sejak kapan.
Ia menghela napas, bersemadi.
Mengubah tenaga murni yang tersimpan menjadi tenaga murni yang bisa digunakan. Agar semua tenaga murni cadangan bisa semuanya secara leluasa dipergunakan. Dan ini berkat jasa petunjuk Paman Sepuh Bintulu, yang akan dilawannya!
Mbalela, Dosa Utama
PENGEMBALIAN tenaga murni Upasara tak mengalami kesulitan sedikit pun. Dengan memusatkan pikiran, Upasara mulai menjalin tenaga murni yang tersimpan.
Semua urat tubuh dan lubang kulitnya meregang, seakan mengeluarkan asap putih. Mula-mula seperti dog amun-amun atau uap air di kejauhan, seperti fatamorgana. Makin lama makin tebal, menyelimuti tubuh Upasara.
Dari jidat, seakan terlihat cahaya menurun ke sepanjang hidung, melebar ke arah samping. Pipinya merona, kemudian daun telinga, bibir, dan akhirnya seluruh wajah.
Sementara dadanya tetap naik-turun dengan teratur.
Semburat warna itu terus menurun dan menyebar ke seluruh anggota tubuh, hingga ke ujung jari tangan serta kaki. Kembali menggumpal, terpusat di pusar. Dan dengan mengendalikan jalan pikiran, tenaga itu bisa dikendalikan. Ke arah tangan, kaki, tersimpan di punggung. Aliran tenaga itu mengikuti kemauan Upasara. Ke mana pikirannya ditujukan, ke arah itulah tenaga tersalurkan.
Selesai bersemadi, Upasara merasa rongga dadanya sangat lega. Perasaan segar seakan kembali dilahirkan dari kegelapan yang mengimpit.
Apa yang dilakukan kemudian ialah menguburkan Galih Kaliki dengan rasa hormat, berdoa di depan gundukan tanahnya.
“Kakang Galih… harap Kakang bisa tenang, untuk sementara Dewa yang Maha Menentukan. Saya akan selalu mengenang jiwa Kakang yang luhur dan jujur. Saya tak akan hidup tenteram sebelum membalas sakit hati Kakang.
“Maafkan, saya akan meninggalkan Kakang untuk sementara. Untuk menyusuri Kali Brantas. Di sana semua dendam akan tuntas.”
Baru kemudian dengan perasaan sedikit lega, Upasara melanjutkan perjalanan. Agar tidak terlalu menarik perhatian, Upasara membungkus Kangkam Galih dengan tongkat yang telah pecah. Disatukan kembali dengan getah pohon. Meskipun tidak sempurna, akan tetapi untuk sementara terlihat seperti tongkat biasa.
Dalam perjalanan kali ini, Upasara merasakan betapa bedanya sebagai manusia biasa dan sebagai pendekar silat. Jarak jauh tidak terlalu menjadi masalah. Perjalanan bukan sesuatu yang melelahkan. Bisa sekaligus melatih dan memperlancar tenaga pernapasan.
Lebih dari itu semua, keadaan sekitar seperti dengan mudah bisa terjaga, bisa diawasi dengan sempurna. Dengan mudah Upasara bisa mengetahui pada jarak tertentu ada sepasukan prajurit atau setidaknya beberapa ksatria sedang melakukan perjalanan. Langkah dan tarikan napas mereka bisa dirasakan Upasara.
Sungguh berbeda ketika tenaga simpanannya belum diubah.
Saat itu bahkan tak mengetahui pertempuran-ah, tak bisa disebut pertempuran-lebih tepat pembunuhan atas diri Pak Toikromo. Upasara menyadari bahwa Paman Sepuh Bintulu bisa melakukan satu gerakan untuk menghancurkan rumah, pedati, dan menyobek tubuh Pak Toikromo. Jarak kemampuan dalam kanuragan antara Pak Toikromo dan Paman Sepuh Bintulu kelewat jauh.
Kalau saja semua pemulihan tenaganya terjadi lebih awal!
Kalau saja Paman Sepuh Bintulu bertemu dengannya lebih dulu!
Akan tetapi dalam kehidupan ini, ada yang tak bisa bersandarkan kepada kalau saja. Justru karena sejak awalnya serba tak terjadi tanpa kalau saja.
Bukankah Paman Sepuh Bintulu bisa bersikap manis kepada Pak Toikromo, misalnya meminta makanan? Kalau saja perjalanan hidup Paman Sepuh Bintulu tak begitu pahit, ia tak akan main bunuh seenaknya.
Tak lebih dua puluh kali tarikan napas, Upasara merasakan bahwa suara prajurit makin terdengar jelas. Upasara berusaha menghindar. Mencari jalan lain, karena tak ingin mengganggu dan terganggu. Pikirannya hanyalah mencari tepi Kali Brantas untuk mengadakan perhitungan, dan barangkali bisa lebih terbuka mengenai siapa-siapa yang akan datang.
Akan tetapi, langkahnya tertahan.
Karena telinganya mendengar suara Mpu Sora yang menyayat.
“Sejak lahir, aku dialiri darah prajurit. Bagiku, pengabdian adalah yang terutama. Kalau memang Baginda ingin menghukumku, kenapa harus ditunda?
“Bagi seorang prajurit, pengabdi negara, menerima hukuman dan atau menerima hadiah dari Raja adalah hal yang biasa. Tolong Senopati Halayudha menyampaikan hal ini kepada Baginda.”
Halayudha menunduk.
“Duh, Senopati Sora yang perkasa.
“Jiwa besar merupakan semangat keprajuritan yang tak bisa diubah. Gunung karang bisa hancur, akan tetapi jiwa yang mulia akan abadi selamanya.
“Saya hanyalah pesuruh. Saya hanya menyampaikan titah Baginda, bahwa Senopati Sora dititahkan memangku tugas di Tulembang. Bukan hukuman mati seperti tertulis dalam kitab Kutara Manama.”
Suara Mpu Sora makin menyayat.
“Kematian adalah kebahagiaan, bila itu diperintahkan seorang raja.
“Senopati Halayudha… sekarang ini semua orang menganggap saya wajib terkena hukuman mati karena telah membunuh Senopati Anabrang dari belakang.
“Dan saya akan menerima hukuman itu.
“Kalau Baginda menghendaki keris Mahisa Taruna bersarung di dada saya yang tua ini, saya akan menerima dengan bahagia, sebagai penerima titah.”
“Duh, Senopati Sora, bagaimana mungkin saya menyampaikan hal ini?”
Mpu Sora bergerak pelan. Tangannya menarik kain putih dengan satu sentakan terobek rapi. Lalu dengan satu sentakan memotes ranting pohon, dan dengan getah yang menetes mulai menuliskan. Baik caranya menyobek kain, memotes ranting, dan memencet agar getahnya terus mengalir, memperlihatkan kemampuannya yang tinggi.
“Mohon Senopati Halayudha menyampaikan hal ini kepada Baginda.”
Halayudha menerima dengan hormat.
“Agar tidak terlalu memberatkan Senopati Halayudha, setelah selesai keramas, saya akan sowan kepada Baginda.”
Halayudha bergerak cepat.
Karena tak ingin membuang waktu sedikit pun, agar semua rencananya tidak kedaluwarsa. Semenjak meninggalkan gua kurungan bawah tanah, Halayudha merasa bahwa cepat atau lambat tokoh-tokoh tangguh kelas dunia akan bermunculan. Jika ia tak bisa memanfaatkan, berarti semua rencana yang diatur dengan saksama akan sia-sia.
Maka kini Halayudha langsung menemui Mahapatih Nambi, dan menceritakan apa yang telah terjadi, menurut pandangannya sendiri.
“Senopati Sora malah berani menulis nawala langsung kepada Baginda. Mahapatih Nambi yang paling berkuasa bisa membacanya. Akan tetapi secara terang-terangan Senopati Sora menolak hukuman menjadi penguasa di Tulembang. Baginya lebih baik menerima hukuman mati.”
“Kenapa itu yang ditempuh?”
“Ini hanya gertakan Senopati Sora, dengan mempergunakan keluhuran dan kebaikan hati Baginda. Karena merasa berjasa, Senopati Sora yakin Baginda tak akan menghukum mati.
“Senopati Sora lupa, bahwa Baginda bisa menjadi iba, tetapi di Keraton masih ada Mahapatih Nambi yang setia kepada Baginda dan tidak mau melihat anak buahnya mbalela?
Mahapatih Nambi tersulut.
Dengan memakai istilah mbalela, Halayudha berhasil membakar Mahapatih.
Mbalela adalah ungkapan untuk prajurit yang melawan kepada atasan, ungkapan bagi pemberontak!
Bagi prajurit sejati, dosa yang utama dan satu-satunya ialah mbalela.
“Aku akan turun tangan langsung.”
“Semua prajurit, para senopati Keraton, akan berada di belakang Mahapatih. Sikap Senopati Sora sudah melewati batas yang ada. Bersama dengan seluruh pengikutnya yang setia ia akan datang ke Keraton untuk menentang titah Baginda yang begitu baik dan luhur.”
Mahapatih Nambi tegang rahangnya.
“Senopati Halayudha, mohonkan kepada Baginda, saya yang akan menjemput Senopati Sora bila ia datang bersenjata nanti, atau kapan pun ia datang.”
Dengan bahasa yang lain lagi, Halayudha berhasil mengutarakan langsung kepada Baginda.
“Hamba mengetahui betapa risaunya Baginda Raja yang luhur dan agung jiwanya, yang ingin mengayomi, melindungi seluruh warga Majapahit.
“Akan tetapi alangkah pahit kenyataan yang sesungguhnya. Karena Sora ternyata menentang kebaikan Baginda, dan lebih suka bermandikan darah di Keraton.
“Kalau Baginda menanyai hamba yang picik, hamba tetap tak berani mengusulkan. Biarlah Mahapatih yang menemui Sora. Sehingga tangan Baginda tak perlu menjadi kotor karenanya.”
Baginda tak menjawab.
Tangannya bergerak, mengusir Halayudha.
Yang ketika keluar dan menemui Mahapatih, mengatakan bahwa Baginda menyerahkan persoalan Senopati Sora ke tangan Mahapatih Nambi.
“Mahapatih-lah atasan langsung yang harus menangani.
Dua Cundhuk dari Dua Putri
UPASARA sendiri sebenarnya ingin segera meninggalkan tempat persembunyian dan melanjutkan perjalanan begitu Halayudha pergi. Akan tetapi sekali lagi, langkahnya tertahan.
Karena Mpu Sora mengeluarkan dua cundhuk, dua hiasan rambut yang mengingatkan Upasara kepada putri yang pernah menghiasi mimpinya. Siapa lagi kalau bukan Gayatri atau Permaisuri Rajapatni!
Hiasan cundhuk itu pernah dipakai Gayatri!
Mpu Sora memandang dua cundhuk sambil menghela napas berat. Berat sekali.
“Juru Demung dan Gajah Biru, kalianlah prajuritku yang paling mengetahui isi hatiku. Majulah mendekat kemari.”
Juru Demung dan Gajah Biru menunduk.
Mereka tidak mendekat.
Dan memang tak perlu.
Karena apa yang dimaksudkan Mpu Sora bukanlah pengertian yang wadag, yang lahiriah sifatnya.
“Hari ini aku sudah memutuskan untuk tidak kembali ke Daha lebih dahulu. Aku akan menghadap langsung ke Keraton Majapahit. Sowan untuk pasrah seluruh jiwa-ragaku. Pembuangan, hukuman mati, atau apa pun, akan lebih melegakan hatiku daripada suasana menggantung tak menentu.
“Kalian berdua yang paling mengetahui, bahwa bagiku pengabdian adalah nilai utama dan satu-satunya.
“Demung dan Gajah Biru, aku tak bisa memaksa kalian ikut ke Keraton. Aku juga tak bisa menahan kalian turut serta. Semua kuserahkan kembali kepada pilihan hati kalian. Sebab apa yang terjadi di Keraton masih tak bisa diketahui.
“Begitu banyak senopati yang menghendaki nyawaku yang tak berharga ini.”
Juru Demung dan Gajah Biru menyembah secara bersamaan.
Keduanya mengeluarkan suara bersamaan, dengan nada menggeletar.
“Senopati Sora, sesembahan hamba, tempat pertama dan terakhir hamba mengabdi.
“Betapa sedih hamba mendengar pertanyaan Senopati Sora, seakan menanyakan apakah hamba masih setia atau tidak.”
Mpu Sora menggeleng.
Menghela napas berat.
“Demung dan Gajah Biru, jangan sampai kita salah paham karenanya.
“Sebenarnya aku lebih berharap kalian berdua tidak mengikuti ke Keraton. Karena aku ingin menitipkan barang ini kepada kalian.”
Untuk beberapa jenak, suasana menjadi sunyi.
“Aku tak tahu apakah aku bisa menyampaikan titipan ini kepada yang bersangkutan atau tidak, mengingat hari esok tak bisa diperhitungkan.
“Demung dan Biru, prajuritku yang sejati.
“Dua cundhuk ini adalah titipan Permaisuri Rajapatni yang mulia. Titipan untuk disampaikan kepada seorang ksatria sejati di jagat raya ini, Upasara Wulung.”
Mata Upasara bersinar.
Dadanya terguncang.
Hanya karena penguasaan cara mengatur napas yang sempurna, sehingga Mpu Sora tak mengetahui ada yang mencuri dengar pembicaraannya.
“Aku dan Mpu Renteng, yang telah tenang di dunia tanpa kerisauan, pernah mengawal Permaisuri Rajapatni. Barangkali karena itulah Permaisuri menaruh kepercayaan kepadaku.
“Menitipkan dua barang ini.
“Yang pertama diberikan kepadaku ketika putri pertama Permaisuri, yaitu Putri Tribhuana Tunggadewi, lahir ke dunia. Cundhuk pertama ini minta disampaikan kepada Upasara Wulung.
“Cundhuk kedua diberikan lagi ketika putri kedua, yaitu Putri Dyah Wijah Rajadewi, lahir.
“Aku sedih karena tak bisa menyampaikan titipan ini. Pada saat Permaisuri Rajapatni menitipkan cundhuk kedua, aku sudah menghaturkan bahwa yang pertama pun belum bisa disampaikan, karena tak tahu di mana adanya Upasara Wulung.
“Akan tetapi Permaisuri Rajapatni tersenyum dan bersabda, ‘Paman Sora lebih mungkin menyampaikan daripada saya. Kalau Kakang Upasara telah meninggal, tancapkan di kuburannya. Tanpa Paman Sora katakan, sukma Kakang Upasara sudah tahu bahwa cundhuk ini dariku.’
“Betapa ringan tugas ini.
“Betapa berat melaksanakan.
“Demung dan Biru, itu sebabnya aku menginginkan kalian menyimpan dengan baik-baik kedua barang berharga ini. Kalau aku tak bisa melaksanakan tugas Permaisuri Rajapatni, kalian berdua yang berkewajiban menyampaikan.
“Aku tidak meminta kalian berdua merawat anak-istriku. Aku tak meminta kalian berdua merawat pusara atau menjaga abu mayatku.
“Aku minta kalian melaksanakan tugas ini, karena ini sesuatu yang berarti bagi Permaisuri Rajapatni, dan tugas yang diberikan adalah kepercayaan.”
Upasara berusaha menenteramkan dirinya.
Guncangan dalam dadanya makin riuh berdebur.
Tak bisa dihindari lagi, munculnya bayangan seorang putri yang mampu mengguncangkan dunianya. Mampu menjungkirbalikkan perasaan-perasaan paling dalam.
Pengalaman yang tak akan terlupakan.
Itu adalah saat pertama Upasara tertarik kepada wanita. Kebetulan wanita itu adalah Gayatri, putri Baginda Raja Sri Kertanegara yang menjadi penunjuk perjalanan ketika Upasara ingin menyusup ke Keraton Daha.
Jadilah perjalanan yang menumbuhkan daya asmara paling hebat melanda Upasara. Puncak dari daya asmara yang membahana itu adalah ketika justru Gayatri yang mengatakan bersedia bersanding dengan Upasara selamanya.
Dalam pertempuran mati-hidup, Upasara berusaha membebaskan Gayatri yang ditawan. Ia bahkan mengukir kidung asmara di dinding Keraton yang terjal.
Akan tetapi, perjalanan daya asmara kandas.
Karena Gayatri dan Raden Sanggrama Wijaya, dalam perhitungan ramalan para pendeta, adalah pasangan Dewi Uma dengan Dewa Syiwa. Yang di kelak kemudian hari akan menurunkan raja yang paling besar dari semua raja yang pernah memerintah.
Saat itulah Upasara mengundurkan diri.
Bahkan ketika semua pengikut Sanggrama Wijaya memperoleh pangkat dan derajat yang tinggi, Upasara menolak. Bahkan jabatan sebagai mahapatih pun ditolaknya.
Baik secara langsung atau tidak, penolakan ini ditafsirkan sebagai pertanda kekecewaan yang tak bisa ditawar.
Bahkan Baginda juga mengetahui hal ini. Karena dengan terbuka Baginda mengatakan: Hadiah apa pun bisa diminta Upasara, kecuali Putri Gayatri, karena ia sudah ditakdirkan bersanding dengan Baginda.
Putri Singasari bukan hanya Gayatri. Ada tiga yang lain yang tak kalah elok dan rupawan, malah boleh dikatakan lebih jelita. Akan tetapi Upasara lebih suka mengundurkan diri.
Mengurung diri di Perguruan Awan.
Sampai kemudian Permaisuri Rajapatni dikirimkan untuk memancing Upasara keluar.
Akan tetapi saat itu pun Upasara memilih tidak mau menemui.
Upasara telah memutuskan bahwa semua hubungan asmara dengan Gayatri telah selesai. Demi kebahagiaan dan ketenteraman putri yang mencuri hatinya.
Upasara menganggap telah tamat.
Meskipun diakui, diam-diam daya asmara itu tak bisa padam sepenuhnya. Bagai bara yang masih meletik, manakala Gendhuk Tri atau Nyai Demang menyindirnya.
Mimpi pun Upasara tak menduga bahwa Gayatri masih memperhatikan.
Masih mengingatnya!
Masih menyempatkan diri untuk memberitahu lewat cundhuk! Betapa sesungguhnya Gayatri juga tak pernah melupakan. Justru di saat-saat yang paling bahagia dengan kelahiran putrinya, Gayatri menitipkan sesuatu yang mengingatkan kembali hubungan mereka.
Daya asmara yang tak bisa musnah.
Daya asmara yang tak: berkurang panasnya.
Bahkan makin terasa terus membara.
Upasara menutup matanya. Mencoba memusatkan pikiran, agar tidak mengikuti kenangan yang tiba-tiba merobek kenyataan yang ada.
Merajam luka di hatinya yang telah dirapatkan.
“Aku tidak tahu sejauh mana benda ini memberikan makna yang sesungguhnya. Sebuah atau dua buah cundhuk semacam ini bisa ditemukan di mana saja.
“Akan tetapi barangkali bersangkut-paut dengan kesia-siaan yang dirasakan Permaisuri Rajapatni. Karena nyatanya yang diangkat sebagai putra mahkota adalah Pangeran Muda Kala Gemet, dan bukan keturunan Dewi Uma-Dewa Syiwa.
“Bukankah ini pengorbanan yang sia-sia?
“Demung dan Biru, prajuritku.
“Apa pun alasannya, sebagai prajurit sejati kita menjalankan tugas dan pengabdian. Aku akan menyampaikan, menjalankan tugas Permaisuri. Kalau umurku terlalu pendek, aku memohon kalian berdua yang menyampaikan. Terimalah, seorang satu.”
Nujum Pendeta
Juru DEMUNG dan Gajah Biru nampak ragu menerima.
“Demung… Biru, apakah kalian mulai berani membantah?”
Keduanya menjawab bersama setelah menyembah.
“Hamba berdua akan berada di sisi Senopati Sora, dalam keadaan hidup dan mati.”
Keduanya menerima cundhuk dan menyimpan di dalam ikat kepala dengan hati-hati.
“Demung, Biru, itu yang tidak kuinginkan.
“Hari ini aku memanggilmu, justru untuk memberimu tugas, agar kalian berdua tidak mengikuti langkahku. Agar kalian berdua menjauhi bayanganku.
“Sebentar lagi udara akan terasa sangat gerah. Makin santer berita akan munculnya tokoh-tokoh jagat dari tanah seberang yang jauh. Sejak munculnya Kama Kangkam dengan kedua muridnya, kita sudah bisa membaca tanda-tanda akan adanya gegeran.
“Sejak Baginda kelihatan gamang dan ragu, akan ada orang kuat yang muncul merebut kesempatan.
“Demung dan Biru, aku sudah terlalu tua. Sejak Lawe tiada, sejak Kakang Aria Wiraraja mundur ke Lumajang, semangatku telah hilang.
“Sebentar lagi udara akan bertambah gerah.
“Saat ini Kitab Bumi sudah menyebar. Semua ksatria, ibarat kata bisa mempelajari dengan leluasa. Pasti akan menimbulkan gelombang pasang yang besar.
“Hal lain ialah nujuman para pendeta akan datangnya raja yang paling besar dari keturunan Syiwa-Uma. Akan tetapi sekarang ini momonganku Raja Muda Kala Gemet yang menjadi putra mahkota. Kalau Raja Muda naik takhta, berarti semua pendeta tak ada gunanya. Kalau nujuman para pendeta benar, akan terjadi pergantian pemegang utama kekuasaan.
“Demung dan Biru, sadarkah kalian berdua, kenapa aku meminta kalian tidak mengikuti langkahku?”
Demung dan Biru sekali lagi menyembah secara bersamaan.
“Kami berdusta besar jika menyanggupi kata-kata junjungan sekarang ini untuk meninggalkan Senopati Sora.”
“Akulah yang keliru mendidik kalian.
“Seharusnya kalian lebih mengabdi kepada Keraton dan bukan kepadaku. Keraton tak bisa salah, sedang aku manusia biasa. Hmmm, masih ada waktu untuk keramas dan membersihkan diri.
“Esok pagi-pagi benar, kalian berdua memintakan pamit kepada Raja Muda. Kalau mau, tinggallah di Dahanapura. Kalau tidak, susullah aku.”
“Terima kasih, Senopati Sora, atas perkenannya mengikuti langkah yang
benar.”
Upasara sebenarnya ingin melangkah keluar.
Akan tetapi merasa bersalah karena telah mencuri dengar beberapa bagian yang seharusnya tidak perlu didengarkan.
Bagian di mana ada keruwetan mengenai tidak segeranya Baginda menjatuhkan hukuman. Yang bisa menjadi pertanda kelemahan atau diartikan begitu. Yang berarti mengundang munculnya seseorang untuk mengambil alih kepemimpinan.
Hal yang kedua ialah Upasara yakin bahwa seperti yang disebutkan Paman Sepuh Bintulu, akan ada pertemuan para ksatria nomor satu di jagat. Itu yang membuat Paman Sepuh Bintulu merasa perlu keluar dari sarangnya.
Hal yang ketiga, lebih merupakan masalah pribadi Upasara Wulung. Yaitu mengenai putri-putri Permaisuri Rajapatni yang akhirnya tersisih dari pencalonan putra mahkota. Yang tidak pribadi adalah kemungkinan terpecahnya kekuasaan Keraton dengan kekuatan batin para pendeta. Perhitungan nujuman dan kenyataan bisa menimbulkan bibit-bibit perpecahan di kelak kemudian hari.
Raja Muda Kala Gemet pasti tak akan membiarkan adanya perkiraan akan segera muncul Raja Digdaya yang segera mengalahkannya. Ini bisa berarti membatasi kekuasaan putri-putri Permaisuri Rajapatni.
Atau bisa lebih buruk lagi!
Raja Muda bisa berbuat lebih jahat pada kedua putri Permaisuri Rajapatni.
Barangkali inilah yang membuat keesokan harinya, diam-diam Upasara mengikuti perjalanan Mpu Sora ke Keraton. Upasara terpaksa mengambil jarak agak jauh agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Baru setelah sampai di alun-alun Keraton, Upasara bisa bergabung dengan penduduk biasa yang banyak berjajar di kejauhan.
Walau keadaan berlangsung dengan tenang, Upasara bisa merasakan ketegangan tengah berlangsung. Karena rombongan Senopati Sora tidak diterima langsung oleh prajurit Keraton!
Ini sama juga berarti Baginda menolak kedatangannya!
Ini sama juga malapetaka!
Karena umbul-umbul atau bendera Mahapatih yang terlihat berkibar ketika ada rombongan muncul dari Keraton.
Dan memang Mahapatih Nambi yang muncul.
Tanpa turun dari joli. Tanpa membuka tirai penutup.
Senopati Sora berdiri tegak. Juru Demung dan Gajah Biru berdiri agak jauh di belakang. Sementara beberapa prajurit yang mengiringkan berada di kejauhan. Walau nampak biasa, akan tetapi kalau diperhatikan benar, genggaman pada tombak dan perisai sangat kuat.
“Mahapatih Nambi yang perkasa, izinkanlah saya sowan ke Keraton.”
“Senopati Sora,” terdengar jawaban dari dalam joli. “Kita sama-sama berteman sejak lama. Sebelum menjadi senopati pun kita telah bersama-sama. Kamu pun mengetahui bahwa hari ini tidak ada pasowanan. Baginda tidak berkenan menerimamu.”
“Baiklah.
“Kalau begitu saya akan menunggu di pintu gerbang.” Sejenak Mahapatih Nambi bimbang.
Ia tak akan begitu saja menerjang Senopati Sora. Karena Senopati Sora dan pengikutnya tidak berbuat suatu kesalahan. Mau menghadap Baginda. Dan karena tidak ada izin, mereka mau menunggu. Tak bisa disalahkan.
Mendadak dari arah timur muncul rombongan beberapa lelaki yang menerjang maju sambil berteriak-teriak.
“Bunuh yang bersalah!”
“Keadilan harus ditegakkan.”
“Kitab Kutara Manawa. harus dihormati.”
Sekilas saja Upasara Wulung mengetahui bahwa rombongan yang datang bukanlah masyarakat biasa. Dari langkah dan gerakan tubuhnya, jelas mereka adalah prajurit-prajurit yang terlatih dalam olah keprajuritan.
Caranya berteriak juga menunjukkan sikap yang sangat mencolok. Penduduk biasa tak akan meneriakkan kata-kata semacam itu. Hanya akan berkumpul di alun-alun sambil melepaskan baju. Sampai ada yang menanyai!
Bukan seperti sekarang ini.
Jelas bahwa kehendak mereka sudah diatur lebih dulu.
Kemarahan yang sudah dipersiapkan.
Dan mendadak saja terjadi perubahan. Begitu rombongan mendesak maju, gegeran tak terhindarkan. Dalam sekejap saja, terjadi pertempuran tak terduga. Semua senjata lepas dari sarungnya, bergemerincing di angkasa, disimbah oleh banjir darah.
Upasara terkesima.
Baru sekarang ini disaksikannya sesama prajurit Keraton saling bunuh dengan kejam dan telengas. Upasara menyeruak maju. Akan tetapi beberapa kali terhalang oleh prajurit yang saling bunuh di depannya.
Terpaksa Upasara melayang ke atas, menuju ke tengah pertempuran. Mpu Sora berdiri gagah dengan kedua tangan terangkat ke atas, sebagai tanda tidak melawan, ketika tiba-tiba sebatang tombak amblas ke dalam dadanya.
Tubuhnya bergoyang-goyang.
Gajah Biru dan Juru Demung meloncat maju, akan tetapi Mahapatih Nambi dan sebuah bayangan menggebrak memapaki. Keduanya terjungkal dalam satu gerakan.
Agaknya, baik Gajah Biru maupun Juru Demung tidak bersungguh-sungguh mengadakan perlawanan. Sekadar ingin menolong Mpu Sora. Sehingga keduanya bisa ditusuk seketika.
Upasara menggerung keras.
Kedua tangannya berputar cepat. Puluhan senjata yang ditujukan kepadanya ditangkis keras. Dengan gagah, ia berdiri di tengah.
Mahapatih Nambi menghentikan serbuan prajuritnya.
Senopati Halayudha berdiri mendengus.
“Upasara…”
Upasara berlutut ke tubuh Mpu Sora yang terbaring di rumput.
“Ada titipan…”
“Saya tahu, Paman Sora yang perkasa. Terima kasih atas budi baik Paman Sora.”
Upasara tak tahu apakah ucapannya masih terdengar oleh Mpu Sora atau tidak. Karena kemudian tubuh Mpu Sora mengejang sebentar dan kemudian tak bergerak.
Halayudha menyambar dua tombak. Dan dengan gerakan melayang kedua tombak menusuk lambung Upasara dari arah yang berbeda. Sebat, cepat, dan menghunjam tepat.
Upasara menangkis dengan tangannya.
Terdengar suara keras.
Dua tombak patah.
Upasara merasakan pergelangan tangannya pedih. Adalah di luar perhitungannya bahwa tenaga dalam Halayudha sangat besar.
Sabetan Satu Tangan
Upasara merasa tangan kanannya ngilu.
Sampai ke ujung kuku. Di bagian tertentu berubah warnanya menjadi biru. Legam, seakan darahnya membeku.
Halayudha memang hebat.
Kembali Ke Atas Go down
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: SENOPATI PAMUNGKAS I (sambungan...)   Wed Jul 21, 2010 2:46 pm

Tak pernah diperhitungkan oleh Upasara bahwa tenaga dalamnya begitu ganas menerobos serta merontokkan urat dan pembuluh darah Upasara, yang seakan dipaksa menahan beban yang lebih berat dari kesanggupannya.
Dalam hati Upasara menggelegak darah yang mendidih.
Ternyata Halayudha sangat ganas-telengas dalam menyerang. Tanpa sedikit pun mempunyai pertimbangan bahwa yang digempur adalah sesama senopati Keraton. Seakan Halayudha secara sengaja menumpahkan dendam kesumat!
Upasara membalik tubuhnya.
Tangan kanannya terkulai. Masih mendenyut rasa sakit yang menggigit sampai ulu hatinya. Akan tetapi, Halayudha tak memberi kesempatan sama sekali. Begitu tombaknya kena disampok lawan, dua keris sudah di kedua tangannya, dan dengan gerakan kilat serta bertenaga, dua keris langsung menusuk ke arah dua mata Upasara! Dibarengi dengan sapuan kaki, yang masuk dari sebelah dalam. Ini berarti Upasara tak bisa mundur. Dengan kata lain, kedua biji matanya bakal menjadi sasaran.
Upasara mencium bau amis dari kedua ujung keris yang menusuk lurus, akan tetapi mendadak membelok bagai hendak mencongkel.
Tangan kiri Upasara berputar di pergelangan. Dan dengan berani memapaki serangan. Satu tangan mencoba merampas dua tangan berkeris.
Halayudha tak menduga bahwa tenaga yang mementahkan kerisnya begitu besar. Menggulung dan seakan memusnahkan. Halayudha memindahkan tenaganya ke kaki. Bukan hanya menahan, kali ini berusaha mengait keras.
Satu congkelan berkait!
Bersamaan dengan itu tangan kiri melemparkan keris! Dan tangan yang kini kosong masih mencoba menusuk telinga Upasara dari arah yang berbeda dari lemparan kerisnya.
Mahapatih Nambi menahan napas.
Apa yang diperlihatkan Halayudha bukan hanya luar biasa dari segi gerak. Serangan secara berantai dan beruntun. Lebih dari itu, seakan tak terguncangkan untuk menyerang secara tidak ksatria.
Walau tak ada peraturan yang resmi, seorang ksatria tak akan begitu saja melemparkan kerisnya secara licik. Ia akan mempertahankan di tangan.
Bukan membidikkan. Apalagi dalam pertempuran jarak dekat. Kemenangan semacam ini tak membuat namanya menjadi harum.
Akan tetapi Halayudha memang tidak memakai pertimbangan ksatria atau tidak. Apa yang ingin dilakukan adalah meringkus Upasara secepat mungkin. Makin awal, makin tak terduga, makin besar kemungkinannya berhasil.
Seperti ketika tangan kanan Upasara yang bisa dilumpuhkan!
Upasara masih tetap tak menduga keganasan Halayudha.
Akan tetapi kini lebih waspada. Hanya dengan menarik mundur dan miring menyamping, tusukan bisa terhindarkan. Dan serangan ke arah kuda-kuda, juga bakal membuat Halayudha kecele. Halayudha tak memperhitungkan bahwa sejak dulu ilmu andalan Upasara adalah jurus-jurus Banteng Ketaton atau Banteng Terluka. Dengan sendirinya peranan kuda-kudanya sangat kuat. Apalagi sekarang, dengan tenaga dalam yang lebih kuat!
Tapi tusukan jari ke lubang telinga memang tak sempat dihindarkan. Upasara menekuk tangannya, dan dengan sikunya mencoba menangkis tangan Halayudha.
Yang mendadak mengubah lagi gerakannya dengan menarik diri sambil menjauh. Sementara kerisnya disabetkan keras. Dibidikkan ke arah dada.
Sebat-kelewat-cepat.
Sebelum suara desisan angin, ujung keris telah siap mengiris.
Dengan kuda-kuda yang kukuh, Upasara tak bisa menggeser tubuhnya.
Tapi Upasara yang sekarang bukan Upasara yang tak mempunyai tenaga dalam. Juga bukan Upasara yang masih berada dalam Ksatria Pingitan. Upasara yang sekarang adalah Upasara yang bangkit kembali semangatnya, yang berkobar dendamnya, dengan latihan pernapasan dari Kitab Bumi.
Cepat sambaran keris, lebih cepat lagi tubuh Upasara menekuk secara melengkung. Seakan dari bagian atas pusar dibuang ke belakang, dengan kaki tetap bertumpu.
Keris itu hanya lolos sedikit di atas tubuh Upasara.
Tak lebih dari dua jari.
Dalam tarikan napas yang sama, Upasara telah berdiri tegak kembali dengan tangan kiri mendorong ke depan.
Halayudha sudah meloncat jauh. Sehingga Mahapatih Nambi yang terkena gempuran hawa panas memberat. Sebagai mahapatih yang dibesarkan dalam dunia kanuragan, Nambi berusaha memapaki. Akan tetapi tubuhnya terdorong mundur, hingga menabrak joli yang bergulingan.
“Kepung! Sikat!”
Dua kata dari Halayudha cukup membuat seluruh prajurit Majapahit mengurung dan mengamuk. Walau sebagian besar para prajurit Keraton yang setia tak mengerti persoalan yang terjadi, itu tak menjadi halangan bagi mereka untuk langsung mencincang Upasara.
Tubuh Mahapatih yang terdorong mundur hingga membuat joli bergulingan sudah merupakan aba-aba buat menggempur si penyerang.
Bagi Upasara, keroyokan para prajurit tak ubahnya lalat-lalat kecil yang hanya menimbulkan gangguan ringan. Dan sama sekali tidak membahayakan jiwanya. Akan tetapi bagi para prajurit yang mengiringi Senopati Sora menjadi tarian maut. Karena mereka yang kena digempur secara serentak dari pelbagai penjuru.
Pertempuran antara sesama prajurit tak terhindarkan.
Darah Upasara makin mendidih karena tak ada aba-aba memundurkan dari Mahapatih Nambi maupun Halayudha. Sementara prajurit dari Dahanapura, karena tak mempunyai pemimpin, juga tak mungkin menahan diri dari gasakan yang makin merapat.
Merasa tangan kanannya masih tak bisa digerakkan, Upasara meraih pedang hitam, Kangkam Galih. Dipegang erat di tangan kiri, Upasara memutar di atas kepala satu sebatan, sebelum menghalau para prajurit yang tengah bertempur.
Ayunan pedangnya ternyata berakibat seperti membelah banjir. Serta-merta para prajurit jadi terdorong mundur. Senjata-senjata yang terkena sampokan angin Kangkam Galih jadi terlepas. Yang tersentuh, langsung jatuh.
Satu tangan kanan menggantung, Upasara memainkan pedang dengan tangan kiri.
Ke arah mana Kangkam Galih terayun, ke arah itu prajurit berlarian dan bubar.
Mahapatih Nambi merasakan getaran yang kuat sedang melanda ke arahnya. Dengan memberi aba-aba, ia maju memapak. Langsung menghadapi Upasara.
Mahapatih cukup berhati-hati. Walau Upasara hanya melawan dengan satu tangan dan seorang diri, ternyata tetap tak bisa dikurung. Senjata yang mendekat ke arahnya terlempar atau kutung seketika.
Mahapatih menggerakkan kedua tangannya, dan dua pengawal pribadi menyerahkan dua tombak pusaka. Dengan sepasang tombak Mahapatih mencoba mengimbangi Upasara.
Dua tombak di tangan Mahapatih berubah bagai gunting, yang siap melipat tubuh Upasara menjadi dua. Dalam satu gerakan juga bisa berubah menjadi tusukan yang berbeda arah dan sasarannya.
Upasara justru masuk ke arah tengah guntingan.
Kangkam Galih dipegang secara terbalik.
Dengan ujung menuding ke bawah, dan digerakkan ke atas, Upasara mendobrak maju. Ini berarti adu tenaga. Tenaga dua tangan lawan satu tangan. Sementara beberapa senopati muda juga mencecar dari berbagai
arah.
Upasara mengeluarkan desisan, sebelum tubuhnya berputar kencang. Bagai baling-baling, dengan Kangkam Galih menjadi pelindung, Upasara menggasak maju.
Cara Upasara merangsek maju membuat satu-dua senopati muda yang
ayal-ayalan menjadi korban.
Halayudha mengibaskan salah satu bendera dan dengan serentak semua prajurit pemanah mengurung seluruh alun-alun. Dengan anak panah dibidikkan, siap dilepaskan!
“Mahapatih, mangga mengker.”
Seiring dengan teriakan yang mengharap Mahapatih mengker atau memunggungi atau menjauhkan diri, Halayudha menebarkan jerat ke arah tubuh Upasara. Sehingga Mahapatih bisa sedikit longgar.
Bersamaan dengan tebaran jala yang memayungi tubuh Upasara, satu tangan yang lain memberi komando.
Ribuan anak panah bagai hujan mengarah ke Upasara.
“Beras Wutah!”
Perintah Halayudha bisa diartikan sebagai serangan seumpama beras yang tumpah. Mengucur ke satu arah, dan seakan anak panah itu bersambungan! Padat!
Sehingga bagi Upasara dan para prajurit yang tersisa, seakan tak merasakan panasnya sinar matahari yang tertutup anak panah. Akan tetapi akibatnya sungguh parah.
Kedok Klikamuka
MENGERIKAN, karena hujan barisan anak panah yang mengurung dengan siasat perang Beras Wutah ini bukan hanya mengenai Upasara. Melainkan juga prajurit pengikut Senopati Sora. Dan sebagian dari prajurit Keraton Majapahit sendiri!
Mereka tak sempat mundur.
Dibiarkan dihujani anak panah oleh sesama prajurit.
Hanya karena perintah Halayudha.
Puncak kemarahan Upasara sampai ke ujung rambut.
Putaran Kangkam Galih-nya makin kencang. Kini bukan hanya sekadar sebagai payung, akan tetapi sesekali menyentak keras, sehingga sebagian anak panah berputar arah. Menancap di dada pemanah!
“Habiskan semua panahmu!
“Aku, Upasara Wulung, tak akan lari.”
Upasara malah melesat maju. Mengarah ke tempat Halayudha dan Mahapatih yang kini berada dekat sitinggil.
Apa yang dilakukan Upasara memang tidak mencerminkan sikapnya yang sedikit tenang selama ini. Setidaknya sifat yang dikenal oleh sebagian ksatria.
Untuk pertama kalinya sejak mengasingkan diri, Upasara menunjukkan kemurkaan dan mengumbar nafsunya. Dengan gagah ia terus maju, mengibaskan anak panah yang terus berhamburan ke arah penyerang. Upasara tak peduli yang terkena adalah prajurit Majapahit yang dihormati.
Kekesalan Upasara memang membludak bagai bendungan yang jebol. Semenjak berada di Perguruan Awan yang sunyi, ia telah mengalami beberapa kejadian yang membuatnya sangat kesal. Makin kesal karena tak mampu berbuat apa-apa.
Dan secara berturut-turut ia telah kehilangan Pak Toikromo, Galih Kaliki, dan baru saja menyaksikan Mpu Sora terluka dengan cara yang keji. Ditambah lagi dengan cara Halayudha mengorbankan anak buahnya sendiri.
Jerat yang menutup tubuhnya rantas-terobek oleh sabetan Kangkam Galih. Anak panah tak berarti banyak, walau sedikit merepotkan. Karena kemudian, dengan satu loncatan tinggi, Upasara melayang masuk ke dalam sitinggil.
Mahapatih berusaha memapaki dengan meloncat terbang, akan tetapi kemudian terbanting ke bawah.
Tubuhnya sedikit menggigil karena hawa dingin menempel di lehernya. Kalau Upasara sedikit tega, barangkali kepala itu sudah menggelinding di lantai sitinggil.
Sungguh ilmu yang luar biasa tinggi.
Baru sekarang Mahapatih mengalami sendiri apa yang selama ini diributkan kalangan persilatan. Apa yang dikuatirkan Baginda. Bahwa dengan menguasai ilmu Tepukan Satu Tangan, Upasara bagaikan banteng yang tumbuh sayap dan keluar taringnya!
Mahapatih Nambi bukannya tidak mengenai siapa Upasara.
Pada saat berhadapan dengan pasukan Tartar, Upasara telah diangkat sebagai Senopati Pamungkas oleh Baginda. Namun saat itu, kemampuan Upasara tidak terlalu luar biasa. Setidaknya Mahapatih Nambi masih mampu mengimbangi.
Bahkan di saat-saat pertarungan yang menentukan dengan senopati Tartar, Upasara sudah memperlihatkan beberapa bagian dari latihan Tepukan Satu Tangan. Yang nyatanya bisa mempecundangi Naga-Naga Tartar.
Akan tetapi, walaupun hebat, tidak terlalu luar biasa. Masih bisa terbayangkan. Pikiran Mahapatih masih bisa menjangkau. Dan setelah pertarungan itu, praktis Upasara tak terdengar kabar beritanya lagi.
Selain bahwa sekarang makin menguasai Tepukan Satu Tangan, sebagai inti dari Bantala Parwa. Akan tetapi sejauh ini belum dialami sendiri oleh Mahapatih.
Pemunculan Upasara di Perguruan Awan ketika itu hanyalah dalam menyalurkan tenaga dalam.
Setelah itu malah seperti orang biasa yang cacat.
Yang tak bisa mengelak serangan paling sederhana dari prajurit sembarangan.
Sekarang Mahapatih terbuka batinnya.
Bahwa nama besar Upasara Wulung selama ini bukan nama yang dilebih-lebihkan. Bahkan agaknya pujian dan kekaguman masih perlu ditambahkan.
Berdiri di tengah sitinggil, Upasara mengangkat tangan kirinya yang memegang Kangkam Galih.
“Siapa yang menghendaki kematian lewat pedang hitam ini, silakan maju.”
Suaranya bergaung dalam ruangan besar.
Tak ada yang berani bergerak.
“Senopati… terima kasih atas kebaikan Senopati padaku.”
Suara Mahapatih yang terdengar merendah membuat para prajurit terkesima. Bahwa seorang dan satu-satunya mahapatih Keraton Majapahit, memberi penghormatan begitu mendalam, pasti ada apa-apanya. Apalagi Mahapatih masih menyebut dengan sebutan senopati. Tidak dalam artian mendudukkan Upasara pada tingkat di bawah kekuasaan Mahapatih, melainkan sebagai tanda pengakuan akan pangkat anugerah dari Baginda.
“Mahapatih yang mulia, maafkan kalau aku berlaku kasar di depan Mahapatih.
“Aku tak bisa membiarkan kekejian terjadi di depan hidungku.”
Dibandingkan dengan Mahapatih, usia Upasara masih seperti anak kemarin sore. Upasara lebih menunjukkan wajah seorang perjaka dibandingkan dengan Mahapatih Nambi. Akan tetapi nada bicara Upasara menunjukkan ketinggian hati.
Atau kekerasan hati yang kecewa.
“Akulah yang telah berlaku kasar, karena tidak mengetahui Anakmas Senopati di antara pengiring Senopati Sora.”
“Mahapatih, kedatanganku kemari tak ada hubungan dengan Senopati Sora. Kebetulan kami berjalan bersama, berkumpul bersama, karena alun-alun milik semua kawula.
“Akan tetapi, kekejian seorang senopati yang seharusnya dihormati membuat…”
Kalimat Upasara belum selesai ketika Halayudha meloncat maju, sambil melemparkan dua ekor ular. Sekali bergerak, Upasara mengayunkan Kangkam Galih. Dan dua ekor ular berbisa itu terpotong menjadi delapan bagian!
Dengan satu tangan.
Dalam satu gerakan.
Dengan tangan yang sama dalam gerakan berikutnya, ujung Kangkam Galih menyobek pundak baju Halayudha, yang ketika mencoba mundur tubuhnya tersungkur.
Ujung Kangkam Galih satu jari di atas jidat Halayudha.
“Hmmm, ternyata kamulah Klikamuka!”
Kalimat Upasara cukup keras.
Kalau saja Mpu Sora dan atau Mpu Renteng mendengar, langsung hatinya tak akan penasaran.
Sebab kedua empu itulah yang selama ini telah berhasil dipermainkan Halayudha.
Halayudha-lah yang bisa mematahkan serangan Mpu Renteng dalam sekali gebrak, dan juga mengecoh Mpu Sora. Sangat mungkin sekali itu bisa terjadi, sebab Halayudha mengetahui dengan baik jurus-jurus andalan kedua empu yang tak sedikit pun menyangkanya.
Itu semua terjadi ketika Halayudha memakai kedok klika atau kulit kayu. Ketika itu Klikamuka berhasil menculik Permaisuri Rajapatni!
Tak banyak yang mengetahui bahwa Upasara bertemu dan berhasil bertarung, sebelum Klikamuka menjauhkan diri sambil menjatuhkan Permaisuri Rajapatni. Meninggalkan begitu saja!
Hanya karena saat itu Upasara mencoba menghindari pertemuan dengan putri yang menggerakkan daya asmara, maka Upasara tidak memperpanjang persoalan.
Tapi Upasara tak mungkin melupakan semua peristiwa yang berhubungan dengan Gayatri.
Maka tadi bisa segera mengenali Klikamuka dari gerakannya menghindar.
Halayudha tak nyana bahwa kedoknya bisa terbuka dengan cara yang sangat sederhana!
Lebih dari itu, Upasara sebenarnya mengetahui bahwa Halayudha atau Klikamuka lebih banyak bersandiwara. Dulu ketika melemparkan cundhuk hingga menancap di ubun-ubun prajurit, sebenarnya cundhuk itu diberi tali halus dari rambut. Sehingga seolah-olah dirinya tokoh yang sakti mandraguna. Juga ketika melemparkan tombak hingga amblas ke dalam pohon. Sebelumnya memang telah disiapkan pohon yang dilubangi.
Hingga sekilas nampaknya seperti mempunyai kekuatan tenaga dalam yang dahsyat. Sekali bisik, tombak bisa amblas ke tengah pohon.
Yang lebih luar biasa liciknya juga ditunjukkan. Ketika meremas ujung tombak dan seolah menjadi tanah liat. Hancur berkeping-keping dalam remasannya!
Betapapun hebatnya ilmu yang dipelajari, tak begitu saja suatu campuran baja dan besi bisa diremas menjadi pasir!
Seperti yang lainnya, hal ini memang sudah disiapkan oleh Halayudha. Agar rahasianya tidak terbongkar, prajurit yang membawa tombak dengan bagian ujung dari tanah kering dibunuh seketika itu juga!
Upasara mengetahui kemudian, karena Jaghana memeriksa semua rumput dan tanah di Perguruan Awan. Akan tetapi sesuai dengan sifat-sifat Jaghana, hal itu tidak dibicarakan kepada banyak telinga lain.
“Kelakuanmu menjijikkan!”
Titipan Asmara
“TAHAN!”
Seruan tertahan terdengar secara serentak. Mahapatih Nambi maju setindak. Sementara Senopati Kuti, Senopati Semi, Senopati Banyak, yang sejak tadi tak bergerak, juga mengelilingi dari arah yang berbeda.
Kalau ketiga senopati tadi berdiam diri, karena merasa ada semacam jarak yang menghalangi. Bagaimana posisi Senopati Sora yang sebenarnya masih belum jelas tuntas. Mereka bertiga mengetahui kabar bahwa Senopati Sora datang untuk menyatakan sikap mbalela. Akan tetapi, ketiganya merasa tak perlu turun tangan. Pertama, karena Mahapatih sudah mengambil alih persoalan; kedua, karena masih kurang tega dengan kawan seperjuangan.
Sewaktu Upasara muncul dan mengobrak-abrik prajurit Keraton, ketiga senopati masih menahan diri.
Akan tetapi sekarang ini tak bisa lagi.
Karena kejadiannya berlangsung di sitinggil, yang jelas merupakan wilayah kekuasaan Keraton. Siapa pun yang membuat keonaran di situ, jelas-jelas menantang Baginda. Dan adalah tugas utama prajurit untuk membela rajanya! Kalaupun Upasara menjadi sepuluh kali lebih sakti, mereka tetap akan maju.
Bagi Mahapatih alasan serupa juga yang dirasakan. Dengan tambahan, ia tak bisa membiarkan begitu saja salah seorang senopati yang dekat hubungannya dengan Baginda dalam ancaman bahaya.
Sebagai mahapatih, Nambi merasa bertanggung jawab!
Maka kini, kesiagaannya adalah merupakan jawaban. Yang bisa berubah menjadi pertarungan.
Karena Senopati Semi, Kuti, dan Senopati Banyak, secara bersamaan meloloskan keris dari sarungnya.
Upasara Wulung menoleh dingin.
“Betapa makin tampak tingkah yang menjijikkan kalau dilihat masih begitu tinggi setia-kawan yang dikhianati.”
Senopati Banyak mendekat.
Upasara membalikkan tubuhnya.
Senopati Kuti menggebrak dengan dua keris, di tangan kanan dua-duanya. Senopati Semi meskipun tidak langsung menyerang, melindungi dalam posisi kuda-kuda menutup kemungkinan serangan balasan. Mahapatih Nambi mengambil pedang, untuk mengimbangi pedang hitam tipis Upasara.
Upasara tidak menunggu terlalu lama. Dalam perhitungannya, senopati-senopati yang mengepung adalah ksatria pilihan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi kini ia harus melayani dengan satu tangan. Tangan kiri yang mempergunakan pedang tipis, yang selama ini tak pernah dilatih.
Gerakan Senopati Kuti, diikuti dengan kibasan angin dari pedangnya. Upasara cukup mengerti bahwa serangan Senopati Kuti bukan serangan maut. Lebih merupakan peringatan, atau serangan pendahuluan.
Namun begitu Upasara mengelak, Senopati Banyak mengayunkan kerisnya, menutup ruang gerak. Bersamaan dengan itu Mahapatih Nambi pun memotong dengan gerakan menyabit rumput. Dada ke atas terkuasai oleh tebasan.
Upasara tidak mempunyai pilihan lain kecuali mulai memainkan Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Dimulai dengan jurus Lintang Sapi Gumarang, yang di tengah jalan disambungkan dengan jurus Lintang Tagih.
Benturan senjata tak terhindarkan lagi.
Pedang Mahapatih seperti tersingkir. Kalah sentakan dan kalah tenaga dorongan. Akan tetapi hanya sesaat, karena kemudian kembali maju menebas, sementara Senopati Kuti, Senopati Semi, dan Senopati Banyak, berganti menyerang.
Sampai jurus ketujuh, Lintang Bima Sekti, pertarungan masih terus berlangsung seru. Di sitinggil, para prajurit terpaksa minggir, karena kesiuran angin makin lama makin tajam. Seolah empat keris dan dua pedang menyentuh kulit mereka.
Sampai di jurus ketujuh, Upasara tetap bisa mengungguli. Bahkan dengan memainkan jurus Lintang Bima Sekti, atau jurus Bintang Bima Sakti, tenaga dalam yang besar dan datang secara bergelombang membuat keempat senopati yang paling diandalkan terdorong mundur.
Jurus Lintang Bima Sekti memang lebih mengandalkan tenaga serangan secara berulang dan besar. Ibarat kata membuat pohon melengkung tapi tidak roboh, membuat akar-akar pohon terguncang tapi pohon tidak
terangkat.
Dengan menyambung jurus kedelapan, Lintang Wulanjar, kelihatannya tekanan serangan berkurang. Karena dalam permainan jurus ini sebagian besar tenaga serangan ditarik kembali. Bahkan tekanan di atas dan di bawah diatur seimbang. Sehingga lawan yang terpancing dengan pengenduran penyerangan akan berbalik menjadi ganas.
Saat itulah Upasara menggunakan jurus kesembilan yang disebut Lintang Wuluh, atau tenaga dingin yang menggempur. Seumpama kata tenaga yang digunakan jengkerik menggerakkan sayapnya. Lembut gerakannya, akan tetapi nyaring bunyinya. Lembut gerakan Upasara, akan tetapi pengaruhnya lebih menekan. Sifat dasar serangan ini sama dengan sifat musim Kasanga atau musim kesembilan, yaitu saat bunga berguguran dari pohon.
Kalau lawan masih bisa bertahan, jurus kesepuluh, Lintang Waluku akan cepat menyambung. Jurus ini mengandalkan tenaga cepat dalam menyerang, membalikkan tenaga lawan seperti waluku atau bajak membalik tanah. Seperti tenaga seorang ibu menyerap ke dalam kandungannya.
Dalam keadaan pertarungan semacam ini, Upasara seolah bisa memamerkan kebolehannya.
Akan tetapi, kenyataannya tak semudah itu.
Sampai jurus kedua belas yang disebut jurus Lintang Tagih dengan tenaga musim kedua belas yang mengguncangkan, Mahapatih Nambi masih bisa bertahan. Bahkan beberapa kali mencuri dengan sabetan yang makin menukik ke arah dada. Sementara tusukan keris dari samping, atas, bawah, semakin gencar.
Beberapa kali Upasara terpaksa mengadu tenaga dalam. Hingga pedang hitamnya berbenturan secara keras. Satu keris Senopati Kuti terlepas, akan tetapi tetap bukan pertanda kemenangan atau keunggulan.
Sebaliknya, justru tekanan lawan makin kuat.
Upasara dipaksa berada di tengah sitinggil. Gerakannya ke satu sisi saja, berhasil dimentahkan.
Sewaktu Upasara melanjutkan dengan jurus-jurus Tumbal Bantala Parwa, hasilnya juga tak mengubah jalannya pertarungan. Memang dalam hal ini lawan tidak berada dalam posisi yang lebih baik. Lawan tidak mampu menekan. Namun setidaknya untuk jarak waktu tertentu tidak berada dalam bahaya.
Upasara mengerti bahwa jurus-jurus yang dimainkan bukan jurus yang asing lagi bagi lawan-lawannya. Sejak Bantala Parwa diserahkan, sejak saat itu pula para ksatria secara luas bisa turut mempelajari secara bebas.
Dalam hal ini semua gerakan Upasara bisa terbaca!
Yang menyebabkan keunggulan Upasara, karena tenaga dalamnya masih lebih tinggi. Sehingga setiap kali benturan dengan pedang atau keris atau pedang dan keris lawan yang digabung, Upasara masih unggul.
Namun ini berarti juga pertarungan yang panjang.
Tidak menentu.
Kalau saja Upasara bisa memainkan tangan kanannya! Pikiran itu membersit dalam benaknya. Akan tetapi usahanya untuk menggerakkan tangan kanan malah membuatnya makin ngilu.
Mendadak Upasara menarik pedang hitam tipis ke depan dada. Pikirannya dipusatkan ke arah pusar. Mengira lawan mulai kendor, Mahapatih menebas keras.
“Awas!”
Ini hanya semacam peringatan sesama ksatria. Kalau mau licik sedikit, teriakan peringatan ini tak usah diucapkan. Atau diganti dengan “kena!” setelah serangan berhasil. Akan tetapi Mahapatih tak serendah itu jiwanya.
Peringatan itu tak ada gunanya.
Karena justru Upasara tidak ingin mendengar. Upasara menyatukan tenaga dalam pusar dengan Kangkam Galih di tangannya. Ketika tebasan Mahapatih masuk, Upasara membiarkan pergolakan tenaga yang menggerakkan pedangnya!
Seperti pengaturan tenaga melawan Paman Sepuh Bintulu!
Justru karena itulah terdengar kerontangan yang keras. Pedang Mahapatih terpotong menjadi dua bagian. Sementara Upasara Wulung terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya. Gerakan sempoyongan ke arah Kuti ini yang menyebabkan benturan kedua, dan keris Senopati Kuti pun kutung!
Terkejut yang melihat. Apalagi yang mengalami.
Senopati Semi mencoba meraih perisai dan Senopati Banyak yang ingin memasang kuda-kuda tahu-tahu diserang. Rasanya pedang hitam itu sudah berada di depan hidungnya. Digerakkan dari bawah ke atas. Benturan dengan kerisnya membuatnya melepaskan pegangan. Keris Senopati Banyak tidak kutung karenanya, akan tetapi terlepas dari tangannya!
“Upasara, bunuhlah aku lebih dulu!
“Sebelum kamu bunuh, biarkan kusampaikan titipan ini padamu.”
Meskipun Upasara tidak membagi pemusatan pikirannya, akan tetapi suara Halayudha terdengar jelas. Dan pandangan Upasara bersinar, matanya terbuka lebih lebar, manakala melihat di tangan Halayudha tergenggam sepasang cundhuk!
Itu pasti dari Gayatri.
Kalau Tak Bisa Hidup Bersama, Kenapa Tak Mati Bersama
RANGKAIAN serangan Upasara terhenti.
Sitinggil menjadi sunyi.
Seekor nyamuk terbang pun barangkali akan terdengar bunyinya.
Tidak terlalu berlebihan, karena semua yang berada di sitinggil terpaku tanpa gerak.
Seluruh prajurit dan juga yang berada di alun-alun bahkan menyatu dengan pepohonan besar yang diam tanpa angin.
Mahapatih, Senopati Kuti, Senopati Semi, dan Senopati Banyak terdiam karena menyadari bahwa dalam satu serangan mendadak, mereka semua tanpa kecuali bisa ditundukkan. Setelah dua puluh jurus lebih mereka bertarung dalam keadaan imbang, mendadak Upasara mengubah serangannya dan berhasil.
Ini sungguh luar biasa.
Bahkan untuk tingkat para senopati, apa yang dilakukan Upasara tetap menimbulkan kekaguman.
Bahwa seorang ksatria mengubah cara bersilat, hal itu sangat lumrah. Makin luas pengalaman dan makin banyak gerakan yang dikuasai, kemungkinan itu bisa terjadi sendirinya.
Namun yang diperlihatkan Upasara berbeda dari kebanyakan para jago silat. Upasara tidak terlalu mengubah gerakannya. Seakan masih bisa dikenali gerakan-gerakan jurus Dwidasa Nujum Kartika. Hanya pengaturan tenaganya yang berbeda.
Pengaturan tenaga memang merupakan kunci utama.
Pengaturan tepat, tenaga akan berlipat. Seseorang yang sedang meloncat mundur, dengan sedikit tenaga mengait kaki lawan, akan menyebabkan kejatuhan yang lebih keras dan berdentam. Pengaturan tenaga ini berhubungan dengan keseimbangan tubuh. Baik tubuhnya sendiri maupun tubuh lawannya.
Pengetahuan dasar ini diketahui semua ksatria yang belajar ilmu kanuragan.
Yang membuat kagum ialah bahwa Upasara dalam seketika bisa menemukan cara pengaturan yang cepat dan tepat. Di tengah pertarungan lagi!
Upasara sendiri tak menduga sebelumnya bahwa dengan cara menyatukan tenaga dalam dan Kangkam Galih akan menundukkan keempat lawan yang mengepung.
Ia lebih mendasarkan pada usaha untuk mengubah serangannya yang terjadi menjadi pertempuran yang bertele-tele tak menentu. Satu-satunya jalan yang terlintas dalam benak Upasara adalah mencoba menyatukan Kangkam Galih sebagai bagian tubuhnya. Bukan sebagai senjata.
Hal ini sebenarnya juga sesuatu yang luar biasa.
Karena juga diajarkan sejak pertama memasuki perguruan yang mana pun. Bahwa senjata adalah bagian tubuh yang bisa digerakkan secara leluasa seperti menggerakkan jari atau kaki. Bahkan semua anggota tubuh bisa dipakai sebagai senjata. Tak terkecuali rambut yang panjang, ujung kain, ataupun siku.
Yang nampak menjadi istimewa hanyalah karena Kangkam Galih agaknya justru lebih cocok dimainkan dengan tenaga yang terpadu dari pusat tenaga, yaitu sedikit di atas pusar.
Ini menunjukkan bahwa Kangkam Galih memang senjata pusaka yang tepat bisa dipakai untuk menyalurkan tenaga!
Dan karena penguasaan tenaga dalam Upasara boleh dikatakan di atas lawan-lawannya, maka dalam satu rangkaian gebrakan pedang keris menjadi buntung dan keris yang lain terpaksa dilepaskan pemiliknya kalau tidak ingin kehilangan tangan.
Hanya penguasaan Upasara belum sempurna benar.
Belum menjadi ilmu yang sejati. Kalau ia tertegun, karena memang tidak seketika bisa mengatur gelombang tenaga yang seakan masih bergolak mencari penyaluran. Direm secara mendadak, Upasara merasa gempuran tenaga itu mengguncangkan dadanya.
Hingga diperlukan beberapa kejap untuk menormalkan, untuk menyeimbangkan kembali.
Kalau saat itu diserang, perlawanan Upasara tak akan berarti.
Tetapi para senopati yang mengepungnya tak melakukan itu. Tetap tidak, andaipun tahu pergumulan yang dihadapi Upasara. Kecuali barangkali Halayudha.
Cerdik dan licik jalan pikiran Halayudha, akan tetapi tetap tak bisa mengetahui kelemahan tenaga dalam Upasara. Halayudha terpengaruh dengan kemunculan Upasara yang mendadak dan ternyata tetap lebih unggul.
“Bunuhlah aku, Upasara.
“Akulah yang bersalah. Tetapi terimalah titipan benda ini.”
Halayudha mengangsurkan dua cundhuk ke tangan Upasara. Sekilas Halayudha ingin membokong Upasara saat menerima cundhuk. Akan tetapi pikiran itu dibuangnya jauh-jauh.
Terlalu mengundang risiko apabila ia mencuri kesempatan. Karena sedikit meleset perhitungan tenaga membokong, akibatnya kepalanya bisa terpenggal oleh Kangkam Galih yang dengan mengeluarkan deringan kecil sudah mampu membuat keris dan pedang menjadi buntung karenanya.
Halayudha lebih percaya taktiknya dengan mempermainkan perasaan Upasara pada kenangannya!
Sebagai orang yang bisa menyusup ke sana-kemari, Halayudha mengetahui Permaisuri Rajapatni menitipkan cundhuk kepada Mpu Sora. Sejak itu Halayudha sudah mempersiapkan sesuatu yang sama. Karena akal liciknya membisiki hatinya bahwa suatu saat pasti ada gunanya.
Nyatanya perhitungannya benar.
Upasara berhenti sejenak, menerima cundhuk dan menyimpan di balik kain yang disumpalkan di pinggang.
“Bukan hanya aku yang dititipi benda ini, karena pengirimnya berharap salah satu akan sampai ke tanganmu.”
Halayudha tetap memainkan kecerdikannya. Dengan sengaja tidak menyebut nama Permaisuri Rajapatni. Kalau di kemudian hari Upasara mengetahui bahwa cundhuk itu bukan berasal dari Gayatri-nya, Halayudha tak bisa disalahkan.
Halayudha tak pernah menyebut nama itu.
“Sekarang, kalau kamu menganggap pembunuhan Senopati Sora karena aku, bunuhlah aku. Kumohon, jangan kamu campur adukkan dengan Maha-patih dan para senopati yang lain.
“Akulah yang bersalah. Dan biarlah aku yang menanggung.
“Lakukan sekarang juga. Aku tak perlu menyesali lagi, karena semua pesan dan tanggungan telah kusampaikan. Kalau tak bisa hidup bersama, kenapa tidak mati bersama?
Halayudha tak pernah kehilangan akal untuk menyelusupkan segala kemampuan akal bulusnya.
Dengan kata-katanya yang diucapkan cukup keras terdengar Mahapatih, Halayudha seakan hanya menanggung satu dosa, yaitu terbunuhnya Senopati Sora. Dengan pengakuan ini, Halayudha malah akan mendapat dukungan dan pengayoman dari sekalian yang hadir. Di samping berhasil memancing rasa hormat, karena seolah Halayudha yang mengambil alih tanggung jawab.
Kening Upasara sedikit berkerut.
Bagi Upasara, Halayudha tetap licik. Karena membelokkan pembicaraan mengenai Mpu Sora dari segi yang lain. Di samping menyembunyikan masalah Klikamuka!
Upasara sesaat bertanya-tanya dalam hati. Bahwa Halayudha adalah Klikamuka, Upasara tak ragu sedikit pun. Akan tetapi bahwa Halayudha ternyata mempunyai ilmu yang begitu tinggi, itu tak diduganya sama sekali. Justru karena sewaktu menyamar sebagai Klikamuka, yang lebih dimunculkan adalah tipuan-tipuan.
Jadi di mana posisi Halayudha sebenarnya?
Kenapa agaknya hal ini tidak disadari oleh senopati yang lain? Atau justru oleh Mahapatih sendiri?
Upasara berusaha keras mengesampingkan pikiran yang dianggapnya terlalu mencampuri masalah Keraton. Hanya kaitan dengan Gayatri membuatnya terguncang lagi.
Cara berpikir Upasara yang jujur dan lurus memang tak pernah menduga bahwa Halayudha hanya mempermainkan saja. Upasara merasa bahwa Gayatri benar-benar ingin membuktikan adanya daya asmara, lewat berbagai cara. Dan kalau dititipkan pada Halayudha juga masuk akal. Mengingat Halayudha paling bisa berhubungan dengan Permaisuri. Paling bebas bisa masuk kaputren.
Bahkan karena jujurnya, Upasara menduga bahwa penculikan yang dilakukan Klikamuka atas Permaisuri Rajapatni dulu juga cara yang direncanakan Gayatri!
Sedikit-banyak perasaan ini membuat niatan Upasara untuk mengobrak-abrik sitinggil menjadi reda.
“Dosa mengenai pembunuhan Mpu Sora, bukan wewenangku. Yang kutanyakan ialah disimpan di mana adikku Gendhuk Tri dan Dewa Maut sahabatku.”
Nada bicara Upasara terdengar kaku.
“Akulah yang bersalah menghukum mereka.
“Upasara, kalau kamu ingin mengetahui keadaan mereka berdua, aku akan mengantarkan.”
Halayudha memberi sembah kepada Mahapatih, lalu menyilakan Upasara berjalan masuk ke dalam Keraton. Setelah menyilakan, Halayudha berjalan lebih dulu.
Mahapatih akhirnya mengetahui bahwa ada yang ditahan dalam kurungan bawah Keraton. Dan kalau sekarang Halayudha mengantarkan ke dalam kurungan, hal itu tak bisa ditahan. Itu masih lebih baik daripada melanjutkan pertarungan.
Mahapatih tak menyadari bahwa Halayudha sudah menyiapkan rencana yang tak mungkin diatasi oleh Upasara. Ilmu yang tinggi masih bisa dikalahkan oleh akal.
Kalau Tak Bisa Hidup Bersama, Kenapa Tidak Salah Satu
KALAU Mahapatih saja tak bisa menduga, apalagi Upasara!
Setitik pun tak ada bersitan dalam bawah sadar perasaan Upasara, bahwa Halayudha menyiapkan rencana busuknya yang paling akhir-jika rencana sebelumnya gagal.
Halayudha merasa sebagian rencana kurungan bawah Keraton gagal sejak diketahui bahwa Nyai Demang ternyata bisa lolos. Dan kurungan di bawah kamarnya juga bisa diterobos Gendhuk Tri. Maka satu-satunya jalan yang terbaik adalah menutup gua bawah tanah. Dengan mengubur hidup-hidup Gendhuk Tri maupun Raja Segala Naga atau Naga Nareswara.
Hal yang sama akan dilakukan Halayudha.
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: SENOPATI PAMUNGKAS I   Today at 6:38 pm

Kembali Ke Atas Go down
 
SENOPATI PAMUNGKAS I
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 2 dari 3Pilih halaman : Previous  1, 2, 3  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY :: KHARISMANIA LIBRARY :: “ Romance “ House-
Navigasi: