IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
saran buat acara gewanshow
Tue Jul 13, 2010 1:10 pm by Anonymous
buat kak Abeth yang handle ni acara please adakan acara satu jam khusus TVXQ~~ Surprised and lo bisa jam siarnya ditambah~~ gomawoooo flower Very Happy

Comments: 1
Social bookmarking
Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY on your social bookmarking website

Share | 
 

 Ir.Soekarno - Presiden RI 1 Bag.1

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
mahaputra99



Posts : 413
Join date : 02.07.10

PostSubyek: Ir.Soekarno - Presiden RI 1 Bag.1   Fri Jul 16, 2010 12:16 pm

Bagian 1. Sukarno dan sepak bola

Jangan banggakan Team Sepak bola yg pernah mengikuti Piala dunia thn 1938... itu bukan team NKRI bung..., itu team Hindia Belanda.
Anda suka sepakbola? Bung Karno juga! Sayang, beda sekarang beda dulu…. Beda Anda, beda Bung Karno. Jika Anda bisa bermain sepakbola kapan saja (bahkan di mana saja), tidak demikian dengan Bung Karno. Jika sepakbola membangkitkan gairah luar biasa pada diri Anda, sebaliknya bagi Bung Karno. Mendengar dan menyaksikan sepakbola, akan melukai hati Sukarno. Mengapa?

Ini erat terkait dengan diskriminasi di era penjajahan. Orang bumiputera jangan harap bisa bermain sepakbola bersama-sama anak-anak bule. Bung Karno kecil, harus memendam rasa dendam luar biasa. Hatinya berontak demi merasakan ketidak-adilan. “Bagaimana pun, ada permainan di mana seorang anak bangsa Indonesia dari zamanku tidak dapat menunjukkan keahiannya. Misalnya Perkumpulan Sepakbola,” begitu tutur Bung Karno kepada Cindy Adams, penulis biografinya.

Sepandai apa pun Bung Karno menggocek bola, tidak sekali pun ia diberi kesempatan menjadi ketua perkumpulan. Sekali-kalinya diizinkan bermain bersama, ia tak lebih menjadi bulan-bulanan anak-anak Belanda. Dilecehkan, dimaki, dicerca… bahkan diludahi. Karenanya, Bung Karno tidak pernah lama bergabung dalam Perkumpulan Sepakbola pada zamannya.

Bung Karno ingat betul, bagaimana anggota Perkumpulan Sepakbola di sekolah ILS (Inlandsche School) Mojokerto itu menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Bung Karno. Maklumlah, sebagian besar anggota Perkumpulan Sepakbola memang anak-anak Belanda, yang merasa bermain lebih baik dan memandang rendah kemampuan para bumiputera, termasuk Bung Karno. Pendeknya, anak-anak inlander tidak ada yang bertahan lama di Perkumpulan Sepakbola itu.

Karenanya, sepakbola selalu mengingatkan Bung Karno pada pengalaman lahit yang membekaskan luka yang dalam di dalam hati. Anak-anak Belanda dengan pongahnya berdiri di kedua sisi pintu masuk lapangan sambil berteriak, “Hei… kauuu… Bruine… Hei, anak kulit coklat goblok yang malang… Bumiputera… inlander… anak kampung…. Hei, kamu lupa memakai sepatu…..”

Sedangkan, bayi-bayi pirang pun sudah tahu cara meludah kepada inlander…. Begitu mereka lepas dari kain-bedong orok, itulah pengajaran pertama yang diberikan para orangtuanya. Meludah kepada inlander… mencemooh… menganggap rendah… menilai hina-dina…. kepada bangsa Indonesia!

Karena tumbuh di masa penjajahan itu, barangkali yang membuat Bung Karno kurang bisa memaksimalkan kemampuan bermain sepakbolanya. Tapi yang jelas, ia tahu betul bagaimana membentuk tim sepakbola nasional yang mampu berprestasi di tingkat dunia.

Tim PSSI pada era Bung Karno sangat membanggakan. Contoh, pada lawatannya tahun 1954 ke berbagai negeri Asia (Filipina, Hongkong, Thailand, Malaysia) PSSI hampir menyapu seluruh kesebelasan yang dijumpai dengan gol menyolok. Dari 25 gol (dan PSSI hanya kemasukan 6 gol) 19 di antaranya lahir dari kaki Ramang.

Indonesia masuk dalam hitungan kekuatan bola di Asia. Satu demi satu kesebelasan Eropa mencoba kekuatan PSSI. Mulai dari Yugoslavia yang gawangnya dijaga Beara (salah satu kiper terbaik dunia waktu itu), klub Stade de Reims dengan si kaki emas Raymond Kopa, kesebelasan Rusia dengan kiper top dunia Lev Jashin, klub Locomotive dengan penembak maut Bubukin, sampai Grasshopers dengan Roger Vollentein.

Sejumlah pemain sepakbola kita waktu itu adalah Ramang sanga penyerang lincah, Maulwi Saelan, Rasjid, Chaeruddin, Ramelan, Sidhi, Tan Liong Houw, Aang Witarsa, Thio Him Tjiang, Danu, Phoa Sin Liong, dan Djamiat. Ramang dikenal sebagai penyerang haus gol. Ramang memang penembak lihai, dari sasaran mana pun, dalam keadaan sesulit bagaimana pun, menendang dari segala posisi sambil berlari kencang.

PSSI bahkan pernah mengalahkan RRC dengan 2-0 di Jakarta. Kedua gol itu lahir dari kaki Ramang, satu di antaranya tembakan salto. Itu pertandingan menjelang Kejuaraan Dunia di Swedia, 1958. Pertandingan kedua dilanjutkan di Peking, Indonesia kalah dengan 3-4, sedang yang ketiga di Rangoon (juga melawan RRC) dengan 0-0. Sayang sekali lawan selanjutnya ialah Israeal (yang tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia) maka PSSI terpaksa tidak berangkat.

Klimaks prestasi sepakbola Indonesia juga terjadi di era Bung Karno, yakni PSSI menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956.
Kembali Ke Atas Go down
 
Ir.Soekarno - Presiden RI 1 Bag.1
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
KHARISMA 95.5 FM COMMUNITY :: KHARISMANIA LIBRARY :: Ruang “ Sejarah “-
Navigasi: